UNPAD BERULAH, KEMA BERTINDAK!!

BANDUNG, (PRLM) – Sekitar 200 mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Universitas Padjadjaran (Kema Unpad), menggelar aksi unjuk rasa di halaman gedung rektorat Unpad, Jln. Dipati Ukur Bandung, Senin (4/8). Mereka menolak kebijakan kampus yang telah menaikkan SPP bagi mahasiswa baru menjadi Rp 2 juta per semester, dari sebelumnya Rp 650.000,00.

Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Kema Unpad, Gena Bijaksana mengatakan, kenaikan SPP juga terkesan aneh sebab diberlakukan kepada semua fakultas dan berlaku flat sepanjang tahun. “Katanya itu disatukan dengan biaya praktikum, tapi kalau disamaratakan seperti ini, jatuhnya jadi mahal. Sebelumnya biaya praktikum ini disesuaikan dengan fakultas, sehingga fakultas yang praktikumnya sedikit, biaya praktikumnya juga murah,” katanya.

Selain itu, kata Gena, Kema Unpad menuntut rektorat untuk selalu melibatkan mahasiswa dalam setiap pengambilan keputusan. Terutama keputusan menyangkut mahasiswa seperti kenaikan SPP. “Kami meminta kampus memberikan keringanan dan pembebasan biaya mahasiswa tidak mampu,” tuturnya.

Usai menerima perwakilan mahasiswa, Rektor Unpad, Ganjar Kurnia mengatakan, kenaikan SPP mau tidak mau harus dilakukan, menyusul kenaikan berbagai komponen pendidikan.

Menurut Ganjar, jika merunut pada standar yang dikeluarkan Diknas, setiap mahasiswa setidaknya memerlukan biaya Rp 30 juta setiap tahunnya. “Unpad masih jauh dari jumlah tersebut. Apalagi sudah lima tahun Unpad tidak menaikkan SPP. Kenaikan ini juga hanya berlaku bagi mahasiswa baru. Tidak untuk mahasiswa lama,” ungkapnya.

Mengenai tuntutan mahasiswa tidak mampu yang dilontarkan mahasiswa, Ganjar juga mengaku Unpad sudah berupaya untuk membantu mereka yang tidak mampu, baik melalui jalur talent scouting atau pembebasan SPP kepada mahasiswa. “Setiap tahun, saya mengeluarkan SK Pembebasan SPP kepada 1.000 sampai 1.500 mahasiswa. Itu dilakukan setiap tahun,” katanya.

Dalam aksinya, mahasiswa yang merupakan perwakilan dari 16 fakultas dan lembaga setingkat fakultas ini juga mempertunjukkan aksi teatrikal. Mereka juga membaca puisi berisi kritik terhadap pimpinan universitas. Selain itu, mereka meminta rektor untuk menandatangani surat perjanjian, yang isinya akan melibatkan mahasiswa dalam setiap pengambilan keputusan. (A-157/A-37)

CURAHAN ANAK BANGSA

suka cita kini telah ku raih

telah ku nanti 14 tahun lamanya

untuk duduk, beramalkan universitas

kerja keras, mengais ilmu ku lewati

sebagai langkah awal menuju ilmu tinggi

tapi…

langkah ku kini terhenti..

lemas tak berkutik

tak sanggup diri ini

melihat rangkaian rupiah selangit

ya, bagiku selangit.

karna aku hanyalah alif yang punya cita ..

bukan mereka yang punya harta..


wahai kalian pemegang toga

inikah cara kalian mencerdaskan bangsa?!

ah, tidak!!

ini pembodohan anak bangsa !!

ini luka anak bangsa

luka ku, dia, dan mereka

yang punya cita.

7 Tanggapan ke “UNPAD BERULAH, KEMA BERTINDAK!!”

  1. Waktu saya dan beberapa teman sedang berdiskusi dengan seorang dosen, tiba-tiba beliau menunjukkan amplop gajinya. Jumlahnya kecil, tidak sampai satu juta. Miris rasanya hati saya waktu melihatnya.
    “Teh, ngga ada tunjangan lagi gitu?”, tanya saya
    Sambil tertawa kecil beliau menjawab, “Adalah, dari Tuhan”

    Apa berpikir kritis berarti berpikir parsial?
    P.S Terserah komentar ini mau diartikan seperti apa. Btw, salut buat program PAUD-nya. Semoga dapat kemudahan dalam melaksanakan programnya

  2. alwayskantry009 Berkata

    menurut saya, post yang telah saya kabarkan ini, bukan menunjukan pemikiran kritis mahasiswa yang menjurus ke arah parsial. Dapat dikatakan sebagai wujud kepedulian kami sebagai mahasiswa unpad.

    kami hanya menawarkan, bentuk audiensi layaknya bapak dan anak dalam menentukan suatu kebajikan.

    saya sadar, pendidikan itu mahal. Pendidikan tidak bisa gratis, akan tetapi menjadi gratis apabila diperuntukan bagi mereka yang “tidak mampu”.

  3. Oww… saya kira inti demonya: “Mereka menolak kebijakan kampus yang telah menaikkan SPP bagi mahasiswa baru menjadi Rp 2 juta per semester” (Soalnya ada di paragraf awal)

    Eh, berarti BEM TIDAK menolak kenaikan SPP? Bagaimana? Saya bingung…

    Gimana kalau BEM juga membentuk pola audiensi baru?

  4. alwayskantry009 Berkata

    Hm…sebelum melakukan aksi ke rektorat, kema sudah melakukan audiensi dengan lembaga kampus. hingga dua kali.

    didapet deh 4 keputusan :
    1. Pembatalan kebijakan kenaikan SPP

    2. Menuntut keterlibatan mahasiswa dalam pengambilan kebijakan kampus

    3. Memberikan jaminan kepada mahasiswa yang kurang mampu agar tetap bisa berkuliah

    4. Rektor memberikan pernyataan resmi ke media agar mahasiswa baru yang kurang mampu “Tidak Takut Masuk Unpad”

    nah..sampai di rektorat, kebetulan banget, saya ikut nimbrung ke ruang audiensi. pak ganjar, bilang bahwa kenaikan SPP sudah tidak mungkin dibatalkan. karena distrategikan untuk subsidi bagi mereka yang tidak mampu. memang sih, Unpad sendiri kan utangnya banyak tuh, itu juga dijadikaniin alasan.

    cuman, yang jadi kami sesalkan, mengapa universitas tidak mensosialisasikan terlebih dahulu kepada kami selaku lembaga keorganisasian kampus.

    alasan tidak tersedianya, undang2 atau peraturan kalau mahasiswa diikutsertakan dalam menentukan kebijakan.

    cuman, sangat disayangkan, TIDAK goal tuntutan kami point 1.

    kalau menurut saya, point 1 masih bisa di goal-kan dengan menyinggung masalah segmentasi kenaikan SPP, tapi entah mengapa, setiap orang yang hadir dari perwakilan lembaga, tidak kepikiran untuk argumen yang kuat di alasan itu,, tanpa konstan dalam tuntutan..

    saya tau gajih seorang pengajar anak bangsa sangat murah di indonesia, saya yakin teman2 yang datang pada waktu itu sadar akan hal tersebut,

    untuk menjawab apakah, Kema mendukung kenaikan SPP atau sebaliknya bisa dilihat lah, secara tersirat..

    pola audiensi baru?
    sperti?

  5. hi..hi…

    kamu akan belajar banyak, sekali…

    ardi hanya mengingatkan untuk struggle for value…

    perjuangkan nilai2 yang kamu percaya…bukan kepentingan golonganmu yang sempit…

    jangan terjebak sama bungkus…

    “ilmu qabla amal”

    ilmu sebelum mengamalkan…insya allah kamu berhasil..

    bergerak lah dari how to react…

    jadi how to understand…

    bahkan how to solve….(jangan minder)

    belajar tanpa membaca, omong kosong…
    berfikir tanpa menulis, sama juga boong…
    elamt berpetualang,,,

  6. Ardi… kenapa kita lebih sering ketemu di dunia maya daripada di kampus?

    He… he…

    Setuju ma ardi di atas. Sebagai eksekutif tampaknya akan lebih baik jika mulai berpikir pragmatis dalam tataran DMP. Mengutip filsuf utilitarian, Jeremy Bentham, “the best public policy is the one that produce the greatest hapiness”.

    Sekarang, jika kebijakan kenaikan SPP berhasil dihilangkan, mari pikirkan implikasinya. Pertama, tentang penambahan dan pemeliharaan infrastruktur. Setahu saya, Unpad adalah penerima sumbangan dari OI-OI seperti IDB… tapi, tentu saja kita tidak dapat selalu mengharapkan bantuan dari mereka. Dan, tanpa ada keberlanjutan dana, akibatnya kampus-kampus yang tidak “semenarik” FK, FIKOM, atau FKG akan selalu ketinggalan di belakang. Tentu, ini masalah prioritas, apa pemberian infrastruktur itu penting atau tidak (dan saya tidak menulis tentang penambahan AC dan kemewahan lainnya, saya berbicara tentang bantuan bagi, katakanlah, penelitian mahasiswa yang susah sekali didapat)

    Kedua, kesejahteraan dosen. Gaji PNS kecil, kita semua setuju. Bagi beberapa orang, hal ini bisa disiasati melalui proyek tambahan. Tapi hal ini memiliki masalah berlipat. Apa yang terjadi dengan fakultas yang kurang menjual untuk proyek-proyek eksternal, seperti fakultas sastra? Apa yang terjadi jika dosen-dosen terlalu sibuk dnegan proyek? Tentu, poin kedua ini hanya masuk hitungan jika rektorat berniat menunjang peningkatan kesejahteraan dosen melalui peningkatan SPP (pertanyaan tambahan: apa mereka berniat demikian? Mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang)

    Poin ketiga adalah poin yang saya simpulkan setelah bergumul dalam jurusan HI selama empat tahun terakhir. Poin ini berbicara tentang persaingan antar universitas. Sebenarnya, poin ini dapat diintegrasikan ke dalam poin pertama dan kedua, namun saya menganggapnya cukup penting untuk diberi poin sendiri. Kebutuhan mayoritas mahasiswa adalah untuk bekerja bukan? Tapi, kebutuhan ini tidak dapat langsung dipenuhi jika alma mater-nya bobrok atau tidak terkenal di kalangan luar (para pemberi kerja maksudnya). Cara untuk membuat suatu jurusan/fakultas terkenal adalah menciptakan pencitraan yang baik bagi jurusan tersebut. Percayalah, diajar oleh dosen yang memiliki gaung nasinal atau bahkan internasional akan memberi kita sedikit bantuan saat mencari kerjaatau beasiswa. Sialnya, ini butuh uang (jumlahnya relatif tentu saja)… Kalau tidak salah, bahasa yang tepat digunakan di sini adalah: marketing (mix?).

    Bagaimana jika prioritas advokasi utama saat ini adalah memajukan subsidi bagi yang kurang mampu? Tampaknya hal itu bisa menjadi lebih efektif…

    Selamat bertualang juga..
    Mohon maaf jika tersinggung. (Dan, akan lebih baik jika ucapan ardi lebih didengar daripada tulisan saya yang panjang dan bertele-tele ini… )

    P.S: Indonesia lagi inflasi dua digit lho…

  7. alwayskantry009 Berkata

    Hahahahahahhahahahhaa…

    Well, nice discussion n nice opinion !!

    kenaikan SPP unpad yang sebenarnya menurut saya adalah fenomenal. sebab, dimana kebijakan tersebut dapat menghasilkan opini yang pro dan kontra dari setiap elemen di unpad. Status yang dialami unpad saat ini ialah belum BHMN laykanya UI,UGM,taupun ITB. jadi cukup ironis memang, mengapa harus naik ” SELANGIT ” setara dengan mereka yang BHMN, sedangkan disamping itu, kuota penerimaan mahasiswa baru lewat jalur mandiri ( SMUP ) ditingkatkan, secara otomatis pemasukan untuk unpad pun semakin besar. belum Ladi, pemasukan dari berbagai jalusr khusu atau proyek tadi di berbagai fakultas, yang mungkin biayanya setara dengan kelas internasional di UI.

    sedangkan, balerung untuk wisuda saja kita tidak punya, ( mungkin slah satunya)

    apalagi, nominal yang dipilih, ternyata disama ratakan setiap fakultas. secara logika, mengapa harus disamakan, kami yang sosial megapa harus disamakan dengan kebutuhan mereka yang Eksak. Yang kenyataannya berbeda jauh.

    Hmm..setuju sangad saia, dengan perspektif di setiap point yang disebutkan, masuk akal juga kalau itu causalitas yang harus ditanggung oleh Unpad sendiri. sebagaimana niat sang rektor untuk menjadikan unpad sebagai world class University, tapi sayangnya, ketika ditanya, kapan post test dari keinginan itu, akan terwujud, beliau hanya tersenyum…

    saya pikir, Unpad sendiri belum dapat melihat realita yang ada, untuk menciptakan cita-cita pak ganjar tsb, kami dan saya tentunya setuju akan rencana mulia itu,

    sayangnya, saya dan kami yang hadir saat itu bukanlah untuk menerima semua kebijakan sepihak.

    advokasi tentang subsidi bagi mereka yang kurang mampu, itu memang menjadi loncatan kami setelah tidak diterimanya tuntutan pertama, dan ini masih dalam bentuk pengawasan oleh teman2 lembaga di tiap fakultas. sekedar informasi saja nih, rektor yang satu itu, sempat tidak setuju dengan keikut sertaan mahasiswa dalam me-audit “jalannya” subsidi bagi mereka yang tidak mampu. mengapa demikian???!!!

    setelah didesak, beliau me-amini,,,

    wallahuallam seperti apa nanti akhirnya.

    Buat Kang Ardi, boleh juga tuh, saran nya..
    Insya Allah, kantry bisa bergerak atas ” Rhythm Of My Soul “..( hahhahahahahaha..udah kayak kampanye capres aja gue!! )

    Buat Kang Adiwena,
    Santai aja kale..,,saia bukan orang yang menutup diri dari orang laen,,
    jadi apapun itu impuls dari luar, saia akan menyaring sesuai dengan kebutuhan saia..So, insya allah gag ada tuh kesinggung anyway..:-)

    lucu memang, seorang mahasiswi yang ” kemaren ” masuk Unpad, kini melihat sebuah realita kehidupan mahasiswa yang penuh dengan teka-teki..

Tinggalkan Balasan