TERKIKISNYA MENTAL DEMOKRATIS BANGSA INDONESIA

Hati siapa yang tak tertekan rasa iba dan terkikis ketika melihat keadaan bangsa ini. Bangsa yang mendapat nobel perdamaian serta acungan jempol dari presiden Amerika Serikat, Bush dengan predikat sebagai negara yang lancar menyelenggarakan pemilihan umum pertama dengan menggunakan sistem pemilihan langsung dari rakyat. Benar-benar dari rakyat. Jika kita mengingat beberapa tahun yang lalu. Keadaan perpolitikan di Indonesia mengalami diintegrasi yang cepat. Ada kalangan yang mengatakan fase yang dialami Indonesia adalah Revolusi. Namun ada yang berkata hanya perubahan ” tanggung “, sebab sampai detik ini belum ada akar permasalahan yang ‘dibasmi’ sehingga tidak menyisakan kerusakan lainnya.

Untuk lebih jelasnya, mari kita mencoba menerka sejarah perubahan perpoltikan di Indonesia. Dimulai dengan sebuah keinginan besar dari adanya kemerdekaan. Merdeka dengan arti sempit, yakni bebas memperoleh pendidikan sebuah organisasi Boediotomo memberikan semangat baru baru kebangsaan yang memacu adrenalin pemuda saat itu, untuk senantiasa mengecam pendidikan yang sifatnya kerakyatan. Kemudian organisasi berhasil menjadi stimulus para pemuda Indonesia ketika itu, dan muculan organisasi lain seperti Sarekat Islam, Sarekat dagang Islan, dan yang paling penting adalah Taman Siswa. Dari organisasi itu semua, timbula amarah yang memuncak ketika pergerakan pemuda berubah menjadi politis yang sarat dengan pembebasan diri menuju merdeka secara de jure, sebagai negara yang bebas dari negara manapun. Bahkan perjuangan tersebut tidak luput dari pertumpahan darah yang sudah menjadi santapan pagi para media untuk menyebarkan propaganda kemerdekaan saat itu. Tepat di waktu yang diarasa tepat Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Di kepemimpinan Soekarno lah, mulai dikenal istilah landasan negara serta lambang negara. Semua pemilaian tersebut mengindikasikan identitas negara. Negara yang berdaulat dan negara yang mandiri.

Sistem politik ditunjukan dengan bagaimana sang pemimpin mempraktekan keliahaian dalam membenahi kondisi negara. Jika kita mengenal istilah kerakyatan, Ya sudah barang tentu Soekarno lah otaknya. Hanya saja, pemilihan umum ( Pemilu ) dalam masa itu berakhir dengan aklamasi. Guncangan kemudian terjadi di saat malari. Tokoh mendiang Soeharto mucul sebagai perwira yang kokoh dan tangguh dalam mengatasi permsalahan bangsa. Hingga akhirnya ia tumbuh menjadi tokoh yang disegani dan akhirnya proses pemilihan pun pindah ke dirinya. Benar-benar disegani, makanya tidak heran jika ia ‘ melakukan pembenahan ” untuk negara ini selama tiga puluh dua tahun lamanya.Proses pemilihan Umum sudah mulai dikembangkan melalui pemilihan yang diwakilkan kepada infrastuktur negara yaitu Partai Politik. Hanya saja, optimalisasi pemilihan umum tersebut tidak transparant, hal tersebut ditunjukan dengan adanya pemenang pemilu dengan partai 4L ( Lu Lagi Lu lagi ). Eufaria kemarahan masyarakat yang diwakili oleh mahasiswa memuncak, hingga akhirnya mendobrak untuk menurunkan Soeharto dengan cara memaksa ” mengundurkan diri “. Tuntutan itu, dilatarbelakangi oleh adanya kondisi perekonomian yang semakin hari semkain memburuk, kemudia disebut dengan istilah krisis moneter.

PASCA REFORMASI

Tuntutan mahasiswa mendesak agar Indonesia segera melakuka reformasi. Tentu masih ingat dalam ingatan kita, proses menuju reformasi itu tidaklah mudah. Tentu selalu harus ada pertumpahan dara dan memakan korban yang tidak sedikit. Segerombolan mahasiswa masuk dan menduduki gedung Dewan Perwakilan Rakyat ( DPR ) sambil membawa misi agar Majelis Perwakilan Rakyat senantiasa menurunkan Soeharto. Hingga Reformasi itu pun terjadi. Reformasi yang digalakkan, kini masih diwariskan oleh para kaum intelektual muda bernama mahasiswa.

Banyak mahasiswa yang masih berteriak ” REFORMASI ” ketika mereka turun aksi ke jalan, pasca moment itu. Pertanyaan mendasar, apakah ada yang salah dengan status reformsi Indonesia saat ini?

sebuah catatan besar ketika kita memahami arti reformasi adalah, adanya perubahan struktur maupun sistem. Hasil dari teriakan reformasi tadi membuahkan hasil yakni dengan adanya pemilihan umu ( pemilu ) secara terbuka dan langsung, dimana sebuah pemilu yang terbuka dan langsung adalah ciri dari sebuah negara bertingkatkan demokrasi. Maka tidak heran jika Indonesia mendapat penghargaan dari pemerintah Internasional untuk memuji proses pemilu secara langsung.

DEMOKRATIS YANG MERANGKAK

Perlu kita ketahui, perkembangan asas demokrasi yang selalu menjadi jargon kuat saat ini, faktnya harus tercoreng malu di depan khalayak. Mulai dari kelakuan menyamapikan pendapat di rumah rakyat yang ” semrawut” bahkan sering terjadi adegan pertunjukan ‘tarik urat’ di layar televisi.

Apakah seperti ini Indonesia negara yang bangga dengan jargon ‘ DEMOKRASI’ nya??

kita bisa lihat ambil sample di proses pemecahan kasus Century. Hasil Panitia Khusus ( Pansus ) yang menyimpulkan adanya kesalahan dalam prosedur bailout, ternyata tidak diterima secara ksatria oleh anggota legislatif yang kalah dalam perhitungan suara.

Dampak itu terlihat dari ketidak ikut sertanya dalam menyampaikan Hak Menyatakan pendapat. Kondisi terkahir masih ada 106 jumlah anggota dewan yang menyatakan pendapat mereka. Selebihnya ada yang masih berpikir, ada juga yang lari dalam hal tersebut. Memang sih, dalam kenyataanya tidak ada hirarki dalam menggunaan hak istimewa yang diberikan konstitusi kepada anggota dewan. Hak istimewa tersebut yakni, Hak Angket, Hak Interplasi, dan Hak Menyatakan Pendapat. Kondisi lah yang mendukung perubahan hirarki tersebut.Akan tetapi, kondisi yang seperti apakah yang menentukan seorang dewan tidak menyatakan pendapatnya??.

alih-alih dengan alasan mereka masih konsisten dengan pilihan suara untuk memelih opsi A, yakni ” tidak ada masalah atau kesalahan dalam prosedur kebijakan bailot “.

Analisisnya adalah, memang konsistensi itu perlu, hanya saja, keputusan yang sudah di ‘ ketuk palu ‘ haruslah dilaksanakan dengan sebijak mungkin.Kondisi rumah rakyat saja sudah tidak mencermikan demokrasi, apalagi masyarakatnya. Maka tidak heran jika kondisi perpecahan adu domba masih saja terjadi di Indonesia.

Bangsa besar adalah bangsa yang berdiri dengan filosofi dan hasrat yang tumbuh dari dalam dirinya. Ibarat bangunan yang terlihat di dalamnya seperti bangunan indah dengan berwarna-warni cerah, tetapi ternyata dalamnya bangunan itu berkomposisikan bahan bangunan yang berkualitas rendah. Akankah negara Indonesia akan tetap diam dalam sunyi ketidakberdayaanya?. pertanyaan itu hanya dapat dijawab mulai dari hati nuarani kita semua.

3 Tanggapan to “TERKIKISNYA MENTAL DEMOKRATIS BANGSA INDONESIA”

  1. luthfan Berkata

    Beuh,,,kagak salah lw jadi dirjen KPN dah,,,

    gw lagi cek blognya c chagie,,,isinya bahasa sastra yang melangit,,gak ngerti…

    cek punya fae,,,curhat kebanyakan…

    eh pas buka blog lw…?????beuh,,,
    gw kagak ngemeng2 ape2 deh,,langsung gw tutup aja tuh blog,,hehehehe

  2. alwayskantry009 Berkata

    eh..maksud lo paan dah??

    awas lu yaa..

  3. markotoplah,,
    tapi kritisnya jangan cuma di awal2, apalagi cuma slama jadi dirjen.

    keep posting
    karena melalui tulisan k4ntri bisa melakukan perubahan^_^

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.