Kemarin, hari Rabu, tanggal 25 November 2009, saya mendapat teguran yang luar biasa. Teguran yang memiliki sejuta makna, tentang arti sebuah hidup. Siang hari yang entah mengapa, kota Jatinangor begitu teduh. Matahari yang katanya memancarkan kekuatan maha panas dari Sang Pencipta, ketika itu berubah menjadi damainya gumpalan awan, di sore hari. Begitu bersahabat.
Pukul 13.00 WIB, setelah menenunaikan amanah saya sebagai mahasiswa, saya mengingat bahwa ada agenda yang sama – sama memiliki bobot amanah luar biasa lainnya. Untuk itu, sesegera mungkin, saya menuju rumah rakyat. Saya sering menganggap rumah itu adalah rumah impian. Impian bagi semua jiwa yang peduli dengan nasib bangsa ini. Sekilas terdengar sangat idealis, akan tetapi saya yakin, impian kecil yang bermula di rumah itu, adalah impian untuk masa depan.
Sesampaianya di sana, rumah itu sepi oleh penghuninya. Hanya ada saya, dan seorang teman baik, Luthfan. Ada rasanya saya segan untuk menunggu hingga pukul 14.00 WIB, sehingga ada keinginan untuk menuju kosan dahulu. Namun, hati kecil saya, berkata, tidak ada salahnya saya menunggu di rumah itu, dan melakukan hal-hal yang bermanfaat. Ya, searching data untuk acara Sekolah Anti Korupsi.
Selang lima belas menit, Luthfan, berpamitan untuk kuliah. Akhirnya, hanya saya yang mengisi kekosongan di rumah itu. Ada beberapa kejadian, yang terjadi selama saya searching data di suatu ruang kerja di rumah itu. Pertama, datang dua orang bapak dengan kisaran umur empat puluhan, lebih muda dari Bapak saya tentunya. Kemudian, seorang dari mereka, menyatakan, untuk kesediaan agar dinding di rumah rakyat itu, dipoles kembali dengan cat berwarna krem. Mengetahui hal tersebut, saya bimbang. Akhirnya, saya berkata, bahwa polesan yang sudah terlihat, masih bagus, dan tidak usah kembalidipoles dengan warna yang berbeda. Kerendahan hati sang bapak, luar biasa, akhirnya mereka berdua, pun menerima pernyataan saya.
Setelah kedua bapak tadi menghilang dari pandangan saya, saya melanjutkan kembali duduk di depan layar komputer. Selang sepuluh menit, samar-sama saya,mendengar ada suara salam dari arah luar. suara itu, lama-lama menjadi jelas. Demi mengetahui kebenaran sapaan itu, saya menuju pintu. Benar saja, di hadapan saya, berdiri seorang bapak tua. Kali ini, saya yakin, bapak itu, lebih tau dari bapak saya. Kira-kira bapak itu berumur lebih dari setengah abad. Bapak itu, menggunakan pakaian layaknya seorang pegawai negeri. Berwarna hijau, dengan menggunakan sepatu pantofel, dan mengenakan topi.
Saya melihat, tangannya gemeteran. Kemudian saya pun, menanyakan keperluan beliau dating ke rumah rakyat tersebut. Dengan suara yang parau, bapak itu, berkata, “ Ada Neng Indri nya? “. Mendengar ucapan bapak itu, saya langsung mengingat seorang teteh baik hati, di organisasi yang saat ini saya jalani. Teteh itu, sudah lulus setahun yang lalu, tentu saja, sudah tidak memegang amanah lagi di rumah rakyat ini. Saya segera memberitahukan kabar bahwa teh iin yang dimaksud sudah tidak memegang amanah lagi di sini.
Mendengar kabar yang saya lontarkan, saya melihat ekspresi wajah sang bapak, pucat, lemas, dan tangannya semakin bergetar. Lalu saya, tanyakan kembali, apa gerangan yang membuat bapak itu mencari teh iin. Dengan rasa ragu-ragu, bapak itu, mengeluarkan dua kertas resep obat. Ada hipotesis di benak saya, “ apakah bapak ini akan meminta sumbangan??,,”, jawabannya bias jadi. Sebab, sudah beberapa kali ada orang yag datang ke rumah rakyat ini, untuk meminta belas kasihan, dengan dalih apapun.
Kembali ke bapak itu, bapak itu, kemudian cerita, bahwa beliau sering dibantu oleh anak-anak bem. Terutama teh Iin dan Jikun ( Baca : Jimmy Kuncoro ), Kemudian, bapak itu juga menceritakan, bahwa teh iin sering menebus obat istrinya. Kang Jikun, juga sempat datang ke rumah beliau, dan melihat kondisi istrinya. Suara bapak itu semakin parau. ada statement yang membuat saya semakin bertanya, “ Apakah benar dengan cerita yang diucapkan bapak itu? “, beliau berkata, bahwa, “ Biarkan saya, dianggap minta-minta, ini demi istri saya, saya sudah tahu harus bagaimana, untuk menebus obat spray asma, saya tidak mampu membayar obat itu, uang hasil saya kerja sebagai tukang bambu tidak cukup. Hanya Allah yang tahu. Dan bapak itu menunduk lesuh. Saya juga menanyakan, apakah beliau sudah melakukan advokasi dengan kartu kesehatan miskin?, bapak itu menjawab, pihak puskesmas tidak menerima kartu itu, dan ahrus membeli obat tersebut.
Jujur, ketika itu, saya bingung harus seperti apa, satu sisi berhati-hati dengan segala kejahatan dengan modus apapun. Namun di satu sisi, saya melihat ada kejujuran berujung harapan besar di mata bapak itu. Saya ingin membantu, saya menyadari bahwa uang di dompet saya, hanya ada dua puluh ribu. Saya yakin, untuk menembus obat itu, tentu ada hal urgensi yang melatarbelakangi bapak itu untuk mencari teh iin. Tak lama, bapak itu pergi dari pandagan saya.
Kejadian itu “menampar” diri saya. Pertama, ini menyadarkan saya bahwa, jumlahan rupiah, yang masih terkadang saya keluarkan untuk sesuatu hal yang tidak bermanfaat. Padahal dalam kenyataannya di belahan kehidupan lain, ada orang yang sangat susah mencari uang. Kedua, ini menyadarkan saya, tentang Kontribusi apa yang sudah saya lakukan selama ini?, artinya ketika itu juga, saya mempertanyakan apa yang sudah saya lakukan untuk orang lain.
Jika selama ini saya bangga dengan segala dinamika organisasi yang saya jalani, ternyata saya sebenernya, saya hanya melakukan sedikit untuk orang lain, sudah sedikit, tidak menyentuh mereka. Setiap aksi-aksi demonstrasi turun ke jalan, kerap kali saya lakukan dengan dalih “ Untuk Kaum Miskin “, apakah ini kontribusi saya??. Hingga hal sekecil ini, kejadian bapak tua itu datang, saya tidak bias melakukan apapun.
Ingin rasanya saya, mengejar bapak tua itu, kemudian saya menangis di telapak kaki beliau, dan mengucapkan maaf, dengan beribu kata maaf. Walaupun hanya maaf.
Semua kegiatan yang berusaha saya evaluasi. Di dunia politik, yang katanya benar-benar memperjuangkan kepentingan rakyat, itu harus di evaluasi. Percuman jika kita piawai dengan segala strategi dan retorika, jika itu bukan untuk rakyat miskin.
Ya, Rabb, saya ingin, menjadi orang yang dapat membangkitkan senyum mereka, yang selalu tertindas di atas tirani. Saya sadar, saya memang lemah, hanya itu yang saya dapatkan katakan.
Semoga apa yang saya dapatkan kali ini, menjadi bahan renungan utnuk diri saya, untuk perubahan masa depan yang lebih baik. Amin.


















