KU BERPISAH KEMBALI!!

<!– @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

HARI ITU MEMBUAT SATU LANGKAH KE DUA KU, UNTUK MENCARI SEBUAH MAKNA HIDUP. TEPAT PUKUL 15.00 DIRI INI BERJALAN LANGKAH DEMI LANGKAH SERAYA MENGHIRUP UDARA, SORE ITU PENUH DENGAN SEMANGAT PERMULAAN HIDUP. Hm,WALAUPUN DIRI INI, TAK KUASA MELIHAT PENUHNYA KUDA BAJA YANG MELINTAS DI HIRUP PIKUKNYA KOTA YANG TERKENAL DENGAN MAHASISWANYA ITU. MENGAPA HARUS SEPERTI INI?,Gumamku dalam hati. Bukankah tanah ini lahan pendidikan?!, mengapa harus menjadi lahan pemerintah, yang sebenarnya membuat kerusakan di sekitarnya.

TIBA-TIBA TERDENGAR UCAPAN SALAM KE ARAH KU,DARI ARAH SAMPING. SEKTIKA ITU PULA, KEDUA ANUGERAH SANG MAHA KUASA PUN MENOLEH KE ARAH KUMPULAN MANUSIA MESIN, YANG SEDANG MENOPANG BAHAN PEMBUAT JALAN.

“ Wa’alaikum salam!! “. Sapa ku kemudian.

Tak lama, segera mungkin, kaki ini, kembali meneruskan niatku untuk bertemu dengannya. Jarak ku dengannya, tak begitu jauh. Waktu untuk bertemu dengannya hanya menghabiskan 20 menit saja. Namun, sungguh diri ini masih saja mengeluh. Well, aku sadar akan kekurangannku ini, syukurlah ku teringat dengan cerita darinya, akan kisah sebuah pengorbanan seorang yang mencari “Nutrisi Qalbu” hingga mengorbankan waktu selama tujuh jam. Sungguh luar biasa orang itu. Imajinasi ku kini bermain, dengan me-analogikan betapa bersyukurnya diri ini, untuk meraihnya dengan sangat mudah. Hingga ku cepatkan langkah kaki, dan akhirnya sampai juga di tempat tujuan.

Sungguh senangnya, luar biasa, ketika melihat dengannya. Hari itu pun, kami saling bercerita. Entah pengalamanku di tujuh hari yang lalu, atau cerita seputar kegiatanku. Dia hanya terdiam, dan mendengarkan ku berbicara. Ketika ku bercerita seputar keluhan-keluhan ku menjalankan OSPEK JURUSAN, dia hanya, tersenyum. Tanpa mengeluarkan satu kata pun.

Cerita ku pun terhenti. Setelah, dia memulai perkataan dengan lembutnya.

“ INI JUMPA KITA YANG TERAKHIR “. Ucapnya.

“ Maksudnya? “. Tanyaku kemudian.

“ Iya, ini terakhirnya aku ketemu kamu “. Jawab dia tegas.

Tak lama, dia menyodorkan secarik kertas bertuliskan sebuah keputusan, yang mengharuskan hal yang aku tak mau terjadi. Dan aku hanya terdiam. Perpisahan itu, kini kembali hadir. Namun, anehnya mataku sudah mati rasa untuk mengeluarkan ungkapan sedih seorang manusia.

“ Ini, buat kebaikan kita! “. Jelasnya.

Aku hanya tertunduk, mencoba untuk menahan perihnya hati, yang mungkin, tidak diketahuinya. Kemudian, dia memeluk tubuh ini. Sungguh rasa sayang menebar jiwaku, saat itu. Rasa yang pernah kudapatkan dari kedua orang tuaku.

Sekilas, ingatan ku kembali kepada orang yang sangat berjasa membuat ku hingga seperti ini. Orang yang selalu sabar dalam menangani tingkah laku yang menurut banyak orang, sangat sulit diatur. Tapi dia, dia orang ketiga yang selalu mendengarkanku ketika ku mengalami kegundahan, setelah allah dan ibuku.

Dia yang selalu, memberiku canda tawa dengan cerita-ceritanya yang membuat ku semangat, ketika aku putus asa. Dia yang paham akan sifatku. Sungguh keikhlasan yang tak tertandingkan. Dan ketika aku harus berpisah dengannya, sempat hati ini, berprasangka buruk terhadapnya. Karena dia sudah tidak sudi denganku.

Dan kini, aku harus mengalami kembali. Apa ini, yang disebut pembelajaran untuk dewasa?!. Jika ini yang disebut dengan pendewasaan, dan apabila aku disuguhkan sebuah pilihan, maka aku tak mau menjadi dewasa. pikirku saat itu.

Dia pun berkata,

“ Aku, sayang kamu!, karena aku sayang kamu, aku mau kamu lebih baik dari sekarang, perpisahan ini, bukan semata-mata perpisahan yang hanya hilang tanpa bekas begitu saja. Ingat, hidup ini pasti berpisah. Karena, suatu saat nanti, pasti aka ada pertemuan di kehidupan yang lebih baik “.

Mendengar ucapan itu, air mataku keluar membasahi hati yang terhanyut dengan perkataan penuh dengan makna tersebut. Kini aku harus ikhlas, dan percaya, bahwasanya perpisahan ini, akan membawa aku ke arah yang baik dari sekarang.

Dan mulai, saat ini, aku mau memilih untuk melatih menjadi seorang wanita yang dewasa.

Iklan

bagaimana mengatasai hambatan komunikasi dalam Multi Etnis di Indonesia

Benar kata Edward T.Hall (1995) bahwa “ Culture is Communication “ dan “ Communication is Culture “, jika dikaitkan dengan fenomena yang terjadi dalam perkomunikasian saat ini. Mengapa tidak, dalam kehidupan dunia, terdiri dari lima benua, maka sangatlah jelas, di setiap belahan tersebut memiliki kebiasaan yang berbeda.

            Sebagai contoh, jika Anda berjalan menjelajahi sudut-sudut dunia, anggaplah Anda seorang berdarah Indonesia yang ingin menuntut ilmu di Amerika. Dan ketika Anda ingin meminjam buku kepada teman Anda yang berkebangsaan Negara tersebut, Anda merasa sakit hati akan perlakuan teman Anda yang memberikan buku dengan tangan kiri.

            Atau ketika Anda berjalan menuju ke belahan Negara lain, seperti Prancis. Bagi Anda yang Muslim, pasti akan beristighfar, ketika melihat tingah laku muda-mudi Prancis melakukan France Kiss. Sebaliknya, bagi mereka yang Non-Muslim, akan merasa “ ngeri “ ketika bertemu seorang berdarah Arab, atas saling cium pipi satu sama lain.

            Budaya-budaya yang berbeda memiliki sistem-sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda pula. Dengan kata lain, cara kita berkomunikasi sangat bergantung pada budaya kita : bahasa, aturan, dan norma kita masing-masing (Berdasarkan kutipan Komunikasi Antarbudaya, Elvinaro Adrianto).

            Maka tak heran, di studi kasus sebelumnya, Orang Indonesia merasa sakit hati dengan perlakuan American yang memberi buku dengan kanan kiri, sebab orang Indonesia sudah menanamkan suatu pijakan tata krama, bahwasanya memberi dengan tangan kiri, merupakan bentuk ketidaksopanan. Padahal dalam kenyataannya, orang Amerika tidak bermaksud demikian.

            Hal yang seperti itu, dinamakan Etnosentrisme. Etnosentrisme menurut Sumner, ialah “ memandang segala sesuatu dalam kelompok sendiri sebagai pusat segala sesuatu itu, dan hal-hal lainnya diukur dan dinilai berdasarkan rujukan kelompoknya “ ( dalam Gudykunst dan Kim, 1985 : 5 ). Pandangan-pandangan etnosentrik itu antara lain berbentuk stereotip, yakni suatu generalisasi atas sekelompok orang, obyek, atau peristiwa yang secara luas dianut suatu budaya.

            Itulah yang juga terjadi di Indonesia. Indonesia terdiri dari berbagai macam etnis, sehingga menimbulkan permasalahan kegiatan komunikasi satu sama lain. Jangankan dengan yang berbeda etnis, bahkan yang satu etnis pun terkadang terjadi misunderstanding.

            Sangat disayangkan, proses Komunikasi yang memiliki pesan yang akan disampaikan, ternyata menimbulkan effect yang berbeda. Sehingga terjadilah komunikasi yang tidak efektif.

            Yang menjadi pertanyaa ialah, Apakah kondisi etnosentrisme di Indonesia sangatlah begitu besar, hingga menimbulkan stereotip yang tidak dapat diganggu gugat akan kehabsahannya ?.

            Ternyata dilihat dari sejarahnya, perkembangan peradaban yang terjadi di Indoensia sangatlah berbeda diantara Negara-negara yang lain. Contoh, penyampaian tuntutan meraih ilmu pendidikan baru masuk di Indonesia ketika dipelopori oleh cendikiawan-cendikiawan di masa kemerdekaan. Sebelumnya, masyarakat Indonesia hanya mengandalkan tradisi turun temurun, yang sebenarnya belum tentu benar, dan ternyata hal itu, berdampak sampai saat ini.    

            Dan sayangnya, mereka tidak mau merubah paradigma yang sudah tertanam barabad-abad lalu.  Inilah permasalahannya. Sebenarnya, mengatasi permasalahan – permasalah demikian, haruslah dilakukan dari hal yang fundamental. Yakni, bahasa. Harus menyatukan persepsi satu sama lain.

            Tetapi sayangnya, Indonesia sudah memiliki standart bahasa, yaitu bahasa Indonesia. Namun sangat disayangkan, penguasaan bahasa di Indonesia tidak begitu tinggi. Sehingga hal yang fundamental tadi, benar – benar menjadi akar permasalahan.

            Untuk itu, stereotip tadi harus kita hapus. Seperti, pendekatan Antarbudaya. Yaitu salah satu bentuk pembelajaran lebih dalam di satu budaya. Karena semakin kita mengenal budaya orang lain, semakin terampillah kita memperkirakan ekspektasi orang itu dan memenuhi ekspetasinya tersebut. Artinya, ekspetasi ini dan cara kita memenuhinya didasarkan pada apa yang telah terjadi sebelumnya.

SEJARAH PUBLIC RELATIONS di INDONESIA

 

Public Relations (PR) secara konsepsional dalam pengertian “State of Being “ di Indonesia baru dikenal pada tahun 1950-an, Setelah kedaulatan Indonesia diakui oleh Kerajaan Belanda pada tanggal 27 Desember 1949. Dimana pada saat itu, Indonesia baru memindahkan pusat ibu kota dari Yogyakarta ke Jakarta. Tentu saja, proses pembenahan struktural serta fungsional dari tiap elemen-elemen kenegaraan baik itu legislatif, eksekutif, maupun yudikatif  marak dilakaukan oleh pemerintah pusat. Pemerintah menganggap penting akan adanya badan atau lembaga yang menjadi pedoman dalam mengetahui“ Who we are, and what should we do,first? “. Oleh sebab itu, dibentuklah Departemen Penerangan. Namun, pada kenyataannya, departemen tersebut hanya berdedikasi pada kegiatan politik dan kebijaksanaan pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah. Dengan kata lain, tidak menyeluruh.

            Dengan alasan demikian, pada tahun 1962 , dari Presidium Kabinet PM Juanda, menginstruksikan  agar setiap instansi pemerintah harus membentuk bagian atau divisi Humas (PR), ditahun itulah, periode pertama cikal bakal adanya Humas di Indonesia.

            Namun, tidak berhenti disitu saja, PR berkembang sesuai dengan keadaan yang terjadi. Dimulai dengan pengambilan kata “Humas” yang merupakan terjemahan dari Public Relations. Maka tak heran, kita sering menemui penggunaan sebutan “ Direktorat Hubungan Masyarakat” atau “Biro Hubungan Masyarakat” bahkan “ Bagian Hubungan Masyarakat “ sesuai dengan ruang lingkup yang dijangkau.

            Jika dikaitkan dengan state of being, dan sesuai dengan method of communication, maka istilah Humas dapat dipertanggung jawabkan. Tetapi, jika kegiatan yang dilakukan oleh Kepala Hubungan Masyarakat itu, hanya  mengadakan hubungan dengan khalayak di luar organisasi, misalnya menyebarkan press release ke massa media, mengundang wartawan untuk jumpa pers atau wisata pers, maka istilah hubungan masyarakat tersebut tidaklah tepat apabila dimaksudkan sebagai terjemahan dari public relations.

            Itulah yang dialami oleh Indonesia, yang ternyata lupa akan aspek secara hakiki dari PR itu sendiri. Seperti, Pertama, Sasaran PR adalah public intern (internal publik ) dan  public ekstern (Eksternal Publik). Internal Publik adalah orang-orang yang berbeda atau tercakup organisasi, seluruh pegawai mulai dari staff hingga jendral manager. Eksternal Publik ialah orang-orang yang berada di luar organisasi yang ada hubungannya dan yang diharapkan ada hubungannya.  Seperti Kantor Penyiaran, PR harus menjalin hubungan dengan pemerintah, asosiasi penyiaran Indonesia, sebagai organisasi yang berhubungan, selain itu dengan berbagai macam perusahaan, biro iklan, LSM, dan masyarakat luas, sebagai calon pembuatan relasi kerja sama.

            Kedua, kegiatan PR adalah komunikasi dua arah( reciprocal two ways traffic communications ). Artinya, dalam penyampaian informasi PR diharapkan untuk menghasilkan umpan balik, sehingga nantinya dapat menjadi bahan evaluasi perusahaan agar lebih baik.

             Ternyata, orientasi PR Indonesia belum seutuhnya dapat dikatakan sebagai “ PR Sejati “. Sebab berbeda dengan konsep yang diterapkan oleh bapak PR, Ivy L.Lee, yakni mempunyai kedudukan dalam posisi pemimpin dan diberi kebebasan untuk berprakarsa dalam meyiapkan informasi secara bebas serta terbuka.

            Maka tidak heran, di periode pertama tersebut, PR di Indonesia secara struktural belum banyak yang ditempatkan dalam top management. Ironis memang, dalam kenyataannya pemimpin perusahaan sering meminta kepala humas untuk mendampingi ketika menghadapi publik eksternal. Selain itu kegiatan masih banyak bersifat penerangan satu arah ke publik eksternal semata-mata.    

            Namun, perkembangan PR di Indonesia semakin maju, sehingga kini dapat dikatakan sebagai “PR Sejati”. Hal ini, dikarenakan perkembangan teknologi yang sangat pesat, sehingga membawa perubahan zaman.

Terbukti di periode kedua, pada tahun 1967-1971, terbentuklah Badan Koordinasi Kehumasan (Bakohumas). Tata kerja badan ini antara lain ikut serta dalam berbagai kegiatan pemerintah dan pembangunan, khususnya di bidang penerangan dan kehumasan, serta melakukan pembinaan dan pengembangan profesi kehumasan.

            Di periode ketiga tahun 1972 dan 1987, munculnya PR kalangan profesional pada lembaga swasta umum, yakni didirikannya Perhumas ( Public Relations Associations of Indonesia ) pada tanggal 15 Desember 1972. Konvensi Humas di Bandung tahun 1993, telah menetapkan Kode Etik Kehumasan Indonesia ( KEKI ). Perhumas tercatat sebagai anggota International Public Relations Associations (IPRA) dan Forum Asean Public Relations Organizations ( FAPRO ).

            Pada tanggal 10 April 1987 di Jakarta dibentuk suatu wadah profesi PR lainnya yang disebut Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia ( APPRI ), yang bergerak dalam konsultan jasa kehumasan.

            Di periode keempat, tahun 1995 hingga sekarang, perkembangan PR sangat pesat. Ternyata perkembangan PR tumbuh dikalangan swasta bidang professional khusus (spesialisasi) Humas bidang idustri pelayanan jasa. Ditandai terbentuknya Himpunan Humas Hotel Berbintang (H-3) pada tanggal 27 November 1995. Berdirinya Forum Humas Perbankan (Forkamas) pada tanggal 13 September 1996.

            Sehingga kini, dapat sinkron dengan rumusan Fungsi PR dari Departemen Penerangan R.I, yaitu :

          Melaksanakan Hubungan ke dalam, yaitu pemberian pengertian tentang segala hal mengenai Departemen Penerangan terhadap “Internal Public” yaitu para karyawan.

          Melakukan hubungan ke luar, yaitu pemberian informasi tentang segala hal mengenai Departemen Penerangan terhadap “External Public” yaitu masyarakat pada umumnya.

          Melakukan pembinaan serta bimbingan untuk mengembangkan Kehumasan sebagai medium penerangan.

          Meyelenggarakan Koordinasi Integrasi dan Sinkronisasi serta kerjasama kegiatan Hubungan Masyarakat untuk penyempurnaan pelayanan penerangan terhadap umum.

Kakak,AWAS PORTAL!!

hADuh, Malu banget deh kalau inget tadi pagi.
tadi, pagi gw langsung beres-beres rumah. Biasa jadi pembataian di lebaran deh, abis para pembataian khan lagi pada mudik tuh,yasuwlah gw deh penggantinya.heehe..

mama sama papa masih nginep di Sukabumi, kalau gw sama adek gw gag nginep, biasa anak muda!!huidih..
udah macet,naek mobil umum yang full. mending full AC, lah ini full asep rokok..huleh..kebayang kan bagaimana BT nya?!!,

pagi mejelang, dan tiba-tiba adek gw ketok-ketok kamar gw..sambil miscall gw via ponsel. (Jah gaya banget yak nih anak!!)
Adek gw : ” Kakak!! ”
Gw : ” Apaan si Da? ”
Adek gw : ” Ka, kita harus ke Centro, baju aku kekecilan. mau tuker!!
Gw : Iya, ntar aja tunggu mama yak, dah ah..gw mo beres-beres tmpat tidur!!
Adek gw : ” Gag bisa kak!!, batasnya hari ini!!
Gw : ” iya, hari ini, bukan bearti pagi-pagi jam 7 kan??? “.
Adek gw : ” Iya sih, tapi harus sekarang!! ”
Gw : ” Yaudeh, ntar kakak anter lo ke sono, tapi, lo ngepel ya da!! “.
Adek gw : ” Huhh..!!,yaudah deh!! ”
gw : hahahahahahahahaha!!!!!,ke…..na de…!!

( Ketika jam 11 )
gw dan adek gw semua udah siap untuk langsung ke Centro. Pas pengen cao, tiba-tiba adek gw udah ada di garasi. trus dia memanaskan mobil.
gw : ” Da, lo ngapain manasin mobil?? , emang aa mo pergi??
Adek gw : ” Ya..buat kita ”

ngek!!,spontan gw terkejut,ternyata tuh bocah suruh gw supirin dia, gw aja gag punya SIM, ada-ada aja tuh bocah!!
Gw : ” Da, kakak kan gag ada SIM, udah naek mobil umum aja, lagian margo ini, deket!!
Adek gw : ” Ha..kakak, naek mobil aja,polisi khan gag ada ini, entar dari margo, kita ke CIM,”

busyeh!!,awalnya gw berpikir, adek gw lagi kesambet makhluk aneh, makanya otaknya agak gag beres!!, tapi, ini juga jadi pertama buat gw untuk nyetir mobil sendiri tanpa bokap gw,hehehe..ya..yang penting berani dulu, jalanan sepi ini..hahahhaa..

dengan modal nekad, gw akhirnya nya naek mobil. semua mulus sampe margo. yang namanya depok, wuidih..sepi banget..!!,dasyat bener dah..

pas pengen balik dari margo,gw segera mungkin mengeluarkan mobil dari tempat parkir, tiba-tiba dari arah luar, ada mobil yang ingin masuk, dan gw mentok, gw berusaha puter stir, eh yang ada kagak jalan..hua..panik berat gw tadi..
adek gw : ” Kak, mobil depan nya udah klakson-klason tuh!!,cepetan kak!! ”
ucap adek gw panik.
gw : ” Iya, kakak tau, ”
ucap gw yang ikut panik.
ada kali 10 menit, gw gag gerak-gerak. akhirnya satpam menghampiri kita berdua.
eh belum sempat tuh satpam, negur gw, mobilnya gerak. dan bisa dijalanin. dan
TAPI…tiba-tiba adek gw teriak,” Kakak,awas portal!! ”

yang ada gw nabrak portal, Perkara nomor 2!!
tuh portal sampai copot, mobil gw malah fine-fine ajah..LUAR BIASA!!,gw langsun keluar, dan minta maaf sama satpam margo city. dia cuman bilang,
satpam : ” Hati-hati ya mbak!! ”
semua orang ngeliatin gw, haduh..malah depan mobil gw, ketwa-ketawa gitu, haduh..maluu…gw malu..
di jalan, kita berdua malah terdiam. dan kemudian ” HAHAHHAHAHAHAHA..” kita berdua ketawa lebar!!

Adek gw : ” Oon banget sih kak!! ”
gw : ” Au ah..”
eh adek gw ketawa!!..Huu..cumi!!
adek gw : ” Ke CIM nih kita?? ”
gw : ” Hua..pokoknya kagak ada CIM-CIM an!!, gw gag mau ber-urusan ma portal lagi!!,
tawa adek gw tambah gede!!
ha..BT gw!!

NO PORTAL!!!

Lebaran Without Our GrandMa..!!

” KANTRY,LU BELAJAR YANG BENER YA!!,KASIANAN NOH BABEH LU,KERJA BANTING TULANG,BIAR ANAKNYA PADA SEKOLAH,LU JANGAN KAYAK GUE,YANG CUMAN LULUS KELAS 1 SD,JADI SARJANA YANG BENER!! “

itu kutipan pesan dari Emak (Said, “Emak” panggilan “nenek” di keluarga gw,Sang d Big Batavia’s Familiy,hehe..) setiap gw berkunjung ke rumah nenek gw. dan pada saat itu, kondisi gw ialah baru kuliah di tahun pertama. Celotehan yang ringan,namun dalam. Tapi sekarang, beliau udah gag ada. sudah 5 bulan, beliau gag ada di tengah-tengah keluarga besarnya. Hmm…kepergiannya membawa sedih buat semuanya. termasuk gw. gw ngerasa, lebaran ini kurang tanpa beliau. Biasanya, di lebaran pertama, keluarga gw langsung menuju rumah emak di Cimanggis, trus..sungkeman gt deh,trus..beliau menyiapkan makanan kesukaan cucuk-cucuk nya. bayangkan, beliau harus menyiapkan makanan kesukaan dari 17 cucu-cucunya. Subhanallah,betapa baiknya beliau.

trus yang lebih penting,beliau sering ngasih angpau ke cucu-cucunya. hehehe…

Enggak tau kenapa, padahal angpau dari beliau lah yang jumlahnya paling kecil, tapi gw dan seluruh saudara-saudara gw menunggu-nunggu “salam tempel ” darinya. rasanya, Gag karuan deh kalau dah dapet..

sekarang, suasana lebaran di rumah emak, berubah total. Berubah bukan karena dari makanan atau hidangannya, tapi..suasananya..

adek-adeknya papah terlihat raut wajah yang kosong, jarang gw melihat canda tawa dari mereka. Bahkan papa sama mama pun ikutan bengong, waktu itu hujan Mengguyuri hari kemenangan. semuanya merindukan kehadiran emak ditengah-tengah kami.

biasanya, keluarga besar sanak saudara yang paling jauh kumpul loh, tapi ternyata hari itu, enggak kompak. alhasil, di hari pertama gw gag dapet angpau lengkap donk!!,,Ups..!!hehehe..

bukan deng, tapi, ketemu mereka semua. So, semua harus muter berkunjung ke rumah satu sama lain lagi. kalau dulu, dalam sehari kita bisa ketemu semua. Jadi besoknya bisa langsung gantian ke saudara Mama. kali ini bener-bener beda..Hyuh…!