PERKEMBANGAN KASUS BANK CENTURY

Agenda besar pemberantasan korupsi di Indonesia kembali menghadapi tantangan besar terkait kasus Bank Century. Hal ini disebabkan kasus century melibatkan tokoh penting di pemerintahan, sektor keuangan dan jajaran penegak hukum. Agenda pemberantasan korupsi adalah bagian terpenting dari agenda reformasi 1998 yang sampai hari ini belum terlihat titik terang perbaikannya. Inilah alasan kenapa kita, mahasiswa tidak boleh tinggal diam dan menunggu kehancuran bangsa ini disebabkan praktek korupsi yang semakin menggila!

MEKANISME HUKUM DAN MEKANISME POLITIK
Kasus Bank Century telah menjadi polemik besar bangsa saat ini, ditengah geramnya bangsa Indonesia terhadap praktek korupsi yang telah melenyapkan uang para pembayar pajak, tiba-tiba dengan mudahnya Rapat KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan) menetapkan kebijakan Bailout Bank Century yang mengizinkan LPS menggelontorkan 6.7 triliun rupiah, uang yang berasal dari para pembayar pajak, tanpa disertai prinsip-prinsip objektivitas yang patut.
Dalam catatan Laporan BPK, Ditetapkannya Bank Century sebagai Bank gagal yang berdampak sistemik tidak memiliki kriteria terukur (Hal 13 Laporan Hasil Pemeriksaan Investigasi atas Kasus PT Bank Century BPK RI 20 November 2009). Bahkan hal ini diakui sendiri oleh Boediono, saat itu adalah Gubernur BI yang terdesak dalam rapat KSSK (21 November 2008), ketika ketidaksetujuan terhadap asumsi BI mengemuka, “Sulit untuk mengukur apakah dapat menimbulkan resiko sistemik atau tidak karena merupakan dampak berantai yang sulit diukur dari awal secara pasti. Yang dapat diukur hanyalah perkiraan cost/biaya [penyelematan century]…… Mengingat situasi yang tidak menentu, maka lebih baik mengambil kebijakan kehati-hatian dengan melakukan penyelamatan….. Keputusan harus diambil segera dan tidak dapat ditunda sampai Jumat sore [ini]…..” (Notulen Rapat Konsultasi KSSK, 21 November 2008 seperti dikutip dalam Ringkasan Eksekutif BPK RI atas Kasus Bank Century, 20 November 2009)
Sangat wajar kemudian bila masyarakat mendesak KPK dan Parlemen untuk mengusut kasus bank century ini, mengingat dana untuk bailout tersebut didasarkan pada asumsi subjektif tanpa didukung data-data valid yang menyakinkan.
KPK telah memulai pengusutan kasus bank century dengan mendalami 9 temuan BPK, namun gerak KPK sangat tergantung pada data PPATK tentang dana masuk dan keluar bank Century. Penghilangan data-data transaksi keuangan dapat dengan mudah terjadi ketika komitmen pemberantasan korupsi di tubuh PPATK sendiri dipertanyakan. Untuk mengingatkan kita, PPATK adalah lembaga financial intelligence unit yang dapat menelusuri aliran dana perbankan dan transaksi keuangan lainnya yang terjadi di Indonesia. Kekuatan PPATK adalah kemampuannya untuk mengakses data transaksi yang paling rahasia sekalipun. Karena itu PPATK harus mendapatkan pengawalan yang baik oleh kelompok civil society dan akademia bila menginginkan kasus century ini terkuak dengan transparan.

PANSUS CENTURY
Mekanisme politik juga telah dijalankan para politisi di parlemen, walaupun lahirnya angket Century atas inisiatif kelompok oposisi parlemen (PDIP, Hanura dan Gerinda) akan tetapi partai lainpun pun ikut mengamininya. Masyarakat akan melihat apakah pansus ini digunakan untuk mencari kebenaran atau sekedar transaksi politik. Harapan kita semua, para wakil rakyat menjalankan janjinya dalam kampanye legislatif silam yaitu komitmen memberantas korupsi diseluruh lini kehidupan termasuk disektor perbankan dan keuangan.
Wewenang Pansus
Panitia khusus (Pansus) Bank Century terdiri dari 30 orang anggota yang disusun berdasarkan proporsionalitas (persentasi jumlah anggota asal fraksi) sehingga FPD dan FPG memperoleh jumlah anggota terbanyak masing-masing 8 orang (27%) dan 6 orang (20%), diikuti PDIP 5 orang (17%), PKS 3 orang (10%), PAN 2 orang (6.7%), PKS 2 orang (6.7%), PPP 2 orang (6.7%), Hanura 1 orang (3.3%) dan Gerindra 1 orang (3.3%). Dalam tata tertib DPR disebutkan bahwa panitia pansus bertugas melaksanakan tugas tertentu (pencarian fakta) dalam jangka waktu tertentu (dua bulan sampai Februari 2010) yang ditetapkan oleh rapat paripurna dan dapat diperpanjang oleh badan musyawarah apabila panitia khusus belum dapat menyelesaikan tugasnya. (dpr.go.id)

Metodologi Kerja Pansus
Pansus Century menyepakati metodologi pemanggilan ahli dalam pengusutan skandal Century. Pansus mengelompokkan 9 kategori ahli yang akan dipanggil. Nama-nama dalam 9 kategori itu bisa diubah sewaktu-waktu di tengah perjalanan pengusutan perkara. Meraka adalah jajaran pejabat Bank Indonesia, termasuk mantan Gubernur BI Boediono, Mantan Kabeskrim Mabes Polri Susno Duadji, Menkeu Sri Mulyani dalam kapasitas Ketua KSSK saat peristiwa bail out Rp 6,7 triliun kepada Bank Century, Pejabat dan jajaran LPS, Direksi Bank Century dan Bank Mutiara, Deposan atau nasabah Bank Century atau masyarakat yang berkaitan dengan Century, Mantan Wapres Jusuf Kalla sebagai ahli yang berkaitan dan dianggap tahu tentang persoalan Century, Ahli perbankan, hukum, atau ahli auditor, dan Kesembilan, pihak-pihak lain yang dianggap perlu untuk menunjang pengusutan ini.
(Dari Berbagai Sumber)

Iklan

Akankah Kasus Century Terbongkar?

Masyarakat boleh berbangga karena hipotesis KPK juga ada “setan korupsinya” terbantahkan dengan berhentinya kriminalisasi KPK dan kembalinya pimpinan KPK dengan 4 formasi awal sebelumnya (Bibit, Chandra, Yasin, Haryono) meskipun ketua lama KPK antasari merupakan anomali dari pimpinan KPK lainnya. Beruntunglah masyarakat Indonesia karena masih memiliki Tumpak Hatorangan Panggabean yang kini menjadi plt ketua KPK menggantikan Antasari.
Meskipun demikian, belumlah terdapat jaminan bahwa agenda pemberantasan korupsi akan terselesaikan dengan kembalinya pimpinan KPK, Bibit dan Chandra. Setidaknya kasus century akan menjadi batu loncatan bagi KPK sebagai institusi pemberantasan korupsi, apakah kasus yang melibatkan banyak pihak ini akan diselesaikan dengan mekanisme hukum yang transparan ataupun sebaliknya.
KPK dan Kasus Century
Walaupun KPK cukup terlambat dalam menangani Kasus Bank Century pada akhirnya KPK telah membentuk tim khusus yang mulai pada Rabu, 16 Desember 2009 bekerja untuk mendalami pidana korupsi skandal century. KPK telah melakukan pengkajian terhadap audit BPK dan menemukan Sembilan pelanggaran yang bisa dikategorikan sebagai:
1. Pidana Perbankan
2. Pidana Pencucian Uang
3. Pidana korupsi
4. Pelanggaran Administrasi
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), berdasarkan hasil audit akhir atas kasus Bank Century, menyatakan, pengucuran dana bantuan terhadap Bank Century tidak memiliki dasar hukum bahkan dalam audit tersebut disinyalir telah terjadi suatu pelanggaran, di mana SSB macet, dinilai lancar , termasuk pelangggaran-pelanggaran pada waktu proses merger dan pengawasan Bank Century (BC) oleh Bank Indonesia (BI). Demikian penjelasan Ketua BPK Hadi Purnomo dalam konferensi pers di Gedung DPR/MPR Senayan Jakarta, Senin (23/11) pagi.
Pelanggaran berikutnya, ketika dalam proses akuisisi dan merger Bank Century, BI bersikap tidak tegas dalam menerapkan aturan dan persyaratan yang ditetapkannya sendiri, BI pun dinilai tidak tegas atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan BC selama 2005-2008, disitu BI tidak menempatkan BC sebagai bank dalam pengawasan khusus, meskipun CAR BC telah negatif, 132,5 persen. BI pun tidak menerapkan sanksi pidana atas pelanggaran batas maksimum pemberian kredit.
Berkaitan dengan pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP). BI patut diduga melakukan perubahan persyaratan CAR agar BC dapat memperoleh FPJP. Itu terlihat pada saat pemberian fasilitas, CAR BC sebenarnya sudah negatif 3,53 persen. Itu pada akhir Oktober 2008.Dan ini sudah memenuhi kriteria kriminalisasi penyalah gunaan jabatan & keuangan negara..Hal ini melanggar ketentuan PBI (Peraturan BI) nomor 10/30/PBI/2008 yang menyatakan bank yang dapat FPJP dengan CAR positif. Selain itu, jaminan FPJP yan diperjanjikan hanya berkisar 83 persen. Itu pun melanggar ketentuan PBI 10/30/PBI/2008 yang menyebutkan bahwa jaminan dalam bentuk aset kredit minimal 150 persen dari plafon FPJP.

Jenis Kategori Pelanggaran Kasus Bank Century Sumber: Kompilasi Audit BPK
1. Pidana Perbankan
a. Pelanggaran BMPK (batas maksimum pemberian kredit) Century yang dibiarkan oleh pengawas Bank (BI)
b. Kepemilikan Surat-Surat Berharga fiktif (tidak berkualitas)
c. Kesengajaan BI tidak memberikan data akurat kepada KSSK dalam rapat pengambilan kebijakan Bailout
d. Informasi tidak benar tentang pengakuan kerugian (PPAP) oleh Century
2. Pidana Pencucian Uang
a. Pemecahan deposito milik Boedi Sampoerna masing2 Rp. 2 Miliyar oleh pemilik Century dengan tujuan menguntungkan nasabah besar
3. Pidana korupsi
a. Pencarian dana Bailout tahap kedua oleh LPS melanggar ketentuan LPS NO.3/LPS/2008 sebesar Rp. 2.2 triliun
b. Dugaan dana bailout digunakan untuk kampanye pilpres 2009 lalu
4. Pelanggaran Administrasi
a. Pemberian izin merger bank century oleh rapat dewan gubernur BI padahal pemilik tidak pernah melaporkan keuangan 3 tahun terakhirnya
b. Pemberian fasilitas FPJP oleh BI sementara kecukupan modal century dibawah ketentuan (negatif)

Proses Hukum KPK
Mekanisme hukum akan berlangsung selama 6 bulan kedepan (Des-Mei 2010), fasa rentan dalam proses ini adalah ketersedian data dan alat bukti, bila bukti yang diperoleh KPK tidak lengkap atau telah dihilangkan dalam PPATK maka proses hukum akan terhenti dan kasus ini akan terkubur selamanya. Penting bagi gerakan anti korupsi mengawal KPK, PPATK, termasuk kejaksaan dan polisi untuk menjalankan perannya dengan baik. Political will dari Pemerintahan juga diperlukan demi pemberantasan korupsi dalam kasus bank Century ini.
Maka apa yang bisa kita lakukan MAHASISWA????

TUGAS ANGKET CENTURY

Pertama, mengetahui sejauh mana pemerintah melaksanakan peraturan terkait keputusan untuk pencairan dana talangan Rp 6,7 trliliun. Adakah indikasi pelanggaran UU selain pidana maupun perdata?
Kedua, mengetahui secara transparan komplikasi yang menyertai kasus pencairan talangan Bank Century, termasuk kenapa bisa terjadi perubahan peraturan BI secara mendadak dan dugaan keterlibatan Kepala Bareskrim Polri dalam pencairan dana Bank Century serta kemungkinan terjadinya konspirasi antara pemegang saham Bank Century dengan otoritas perbankan dan keuangan pemerintah.
Ketiga, menyelidiki kemana sajakah aliran dana Bank Century mengingat sebagian dana tersebut oleh Direksi justru ditanamkan dalam surat utang negara dan dicairkan bagi nasabah besar sementara kepentingan nasabah kecil diabaikan. Adakah faktor kesengajaan melakukan pembobolan uang negara demi kepentingan tertentu untuk politik misalnya?
Keempat, menyelidiki kenapa bisa terjadi pembengkakan dana talangan menjadi Rp 6,7 triliun bagi Bank Century padahal Bank Century adalah bank swasta kecil yang sejak awal bermasalah bahkan pada saat menerima pada status pengawasan khusus. Rasionalkah alasan pemerintah bahwa bank itu patut diselamatkan karena mempunyai dampak sistematik bagi perbankan Indonesia seluruhnya?
Kelima, mengetahui sebesar apakah kerugian negara sebenarnya yang ditimbulkan kasus bailout Bank Century. (KOMPASIANA.COM)
TAHUKAH ANDA????
Ketua Pansus Century, Idrus Marham dipilih berdasarkan suara terbanyak dalam voting (19 suara dari 30 Suara). Berikut adalah analisa asal suara para pimpinan pansus century
Asal Suara Idrus M(Sekjen Golkar) Gayus L (PDIP) Mahfudz S(PKS) Yahya S(Demokrat) Total Suara
FPD 7 0 0 1 8
FPG 6 0 0 0 6
FPDIP 0 5 0 0 5
FKS 0 0 3 0 3
PAN 2 0 0 0 2
PKB 2 0 0 0 2
PPP 2 0 0 0 2
Hanura 0 1 0 0 1
Gerinda 0 1 0 0 1
Total Suara 19 7 3 1 30

Dalam table diatas, sangat terlihat jelas bahwa ketua Idrus Marham adalah hasil kompromi antara Golkar dan Demokrat serta partai koalisi pemerintahan lainnya selain PKS. Mahfudz Shidiq mencoba menjadi jalan tengah antara koalisi dan oposisi, walaupun kemudian Mahfudz didukung hanya dari anggota pansus PKS saja. Sementara Gayus didukung penuh oleh oposisi pemerintahan dari PDIP, Hanura dan Gerindra. Yang sangat ironis adalah Yahya Sacawiria (Demokrat) tidak mendapat suara partai Demokrat sendiri, selain satu suara yang diduga hak suara dari yahya sendiri. Dari pemilihan pimpinan pansus ini, Demokrat merasa penting untuk mendukung Golkar sehingga bersama golkar, PD merasa aman terkait kepentingan politiknya. (HASIL ANALISIS)

30 ANGGOTA PANSUS CENTURY
Fraksi Partai Demokrat= 8 orang
1. Anas Urbaningrum
2. Yahya Sacawiria
3. Benny K. Harman
4. Achsanul Qosasi
5. Radityo Gambiro
6. I Wayan Gunastra
7. Agus Hermanto
8. Ruhut Sitompul
Fraksi Partai Golkar = 6 orang
1. Idrus Marham
2. Ade Komaruddin
3. Ibnu Munzir
4. Bambang Soesatyo
5. Melkiyas Mekeng
6. Agung Gunanjar
Fraksi PDIP = 5 orang
1. Maruarar Sirait
2. Eva Kusuma Sundari
3. Ganjar Pranowo
4. Hendrawan Supratikno
5. Gayus Lumbuun
Fraksi PKS = 3 orang
1. Andi Rahmat
2. Mahfudz Siddik
3. Fahri Hamzah
Fraksi PAN = 2 orang
1. Asman Abnur
2. Tjatur Sapto Edy
Fraksi PKB= 2 orang
1. Anna Mu`awanah
2. Marwan Ja`far
Fraksi PPP = 2 orang
1. Romahurmuziy
2. Ahmad Yani
Fraksi Hanura= 1 orang
1. Akbar Faisal
Fraksi Gerindra= 1 orang
1. Ahmad Muzani

Dikarenakan Pansus adalah proses politik yang seringkali diselesaikan dengan lobi-lobi kepentingan maka penting bagi gerakan mahasiswa tercerahkan untuk mengawal dan mengkritisinya agar semua proses-proses ini transparan dan objektif sehingga dinilai patut oleh publik. Mari kita kawal pansus untuk agenda pemberantasan korupsi di Indonesia!!!

Apakah Benar Bank Century Berpotensi “Dampak Sistemik”?

Pihak yang bertanggungjawab dalam pengucuran dana kepada BC selalu beralasan bahwa penyelamatkan BC karena bank ini ‘berpotensi sistemik’ dalam merusak sistem perbankan nasional. Karena berpotensi ‘resiko sistemik’ maka negara melalui ini LPS bertanggung jawab untuk menyuntikkan dana 6,7 triliun rupiah ke bank tersebut. Tanpa data yang lengkap, argumen ini saja masih layak diperdebatkan. Dari segi ukuran dan networking, apakah hipotesis bahwa kalau Bank Century tidak diselamatkan (langsung ditutup) akan mengalami kerusakan sistemik?
Fakta : BI Ragu Apa itu Sistemik!
Berdasarkan catatan rapat tanggal 21 November 2008, penyelamatan Bank Century sempat ditolak sejumlah pejabat tinggi Departemen Keuangan yang dihadiri Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati selaku ketua KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan) dan Gubernur BI Boediono. Para pejabat Depkeu tersebut mempertanyakan dan tidak setuju dengan argumentasi dan analisis Bank Indonesia (Boediono) yang menyatakan bahwa persoalan Bank Century ditengarai berdampak sistemik.
Menanggapi penolakan tersebut, pihak Bank Indonesia sulit untuk mengukur apakah masalah Bank Century dapat menimbulkan risiko sistemik karena hal tersebut merupakan dampak yang sulit diukur dari awal secara pasti. Yang dapat diukur menurut BI hanyalah perkiraan biaya yang timbul apabila dilakukan penyelamatan mengingat situasi. Dengan mengingat situasi yang tidak menentu, maka BI melakukan penyelamatan dengan meminimalisasi biaya.
Sumber: Kompas
Bergerak!: Disinilah BI tidak mampu menjelaskan secara ilmiah wajar apa itu sistemik yang dimaksud

AKU LAH JAGOAN NEON

“ Pernahkah kamu paham dengan konsep diri ? “.

Pertanyaan itu, membuat saya berpikir lagi dan lagi. Berulang-ulang saya pahami pertanyaan dari seorang trainer, yang pernah mengisi acara “ Trainning Menatap Masa depan “. Acara itu,adalah acara ketika saya duduk di kelas tiga Sekolah Menengah Pertama ( SMP ). Acara yang diselenggarakan oleh kakak-kakak nurul fikri daerah depok, itu dibuat, untuk memberikan motivasi para murid SMP yang ketika itu, akan bersiap – siap menghadapai ujian akhir nasional.
Saya ingat sekali, di acara itu, saya datang terlambat. Namun, saya lupa, alasan apa yang membuat diri saya telat dalam acara tersebut, yang saya ketahui adalah, jujur saya sangat malas untuk datang ke acara tersebut. Kebetulan acara tersebut, diadakan pada hari Minggu. Hari dimana, setiap insan yang ada, merasa malas jika harus melakukan berpergian di hari libur. Karena ketika itu, saya memegang amanah sebagai ketua rohis SMP 85 jakarta, akhirnya seorang kakak alumni, membujuk saya dengan susah payah, untuk hadir pada acara tersebut. Akhirnya dengan langkah berat, saya menuju tempat pelatihan tersebut. Mungkin, alasan tadi yang menjadikan saya bisa telat mengahadiri training itu.
Ketika itu, semula saya kira, acara tersebut membosankan. Selain itu, peserta yang hadir pun, pasti sangat sedikit. Tentu, orang yang datang, tidak lain adalah mereka aktivis rohis di sekolah masing-masing. Gambaran tersebut,membuat saya merasa semakin tidak bergairah untuk mengikuti training. Sampai di sana, sontak, saya terkejut. Hipotesis yang sudah ada di angan-angan bayangan, terbang tanpa sisa. Keadaan yang ada, berbalik seratus enam puluh drajat. Peserta yang hadir sangat banyak. Peserta memang berasal dari berbagai macam jenis SMP Jakarta dan sekitarnya. Satu orang yang pertama kali saya temukan adalah, kak Ridwan. Kakak Alumni saya. Dan beliau lah, yang memberikan kode kepada saya, seraya berkata, “ Akhirnya Datang Juga!! “. Sedangkan saya, saya hanya tertawa kecil tidak ikhlas.
Setelah acara registrasi, saya segera memasuki ruangan yang penuh dengan peserta. Karena saya, peserta yang datang terlambat, saya duduk di tempat duduk paling belakang. Tidak lama, ketika saya ingin duduk, kakak trainer, menunjuk saya, dan mengajak saya untuk maju ke depan. Benar-benar terkejut saya dibuatnya. Mengapa harus saya yang maju, padahal kepala yang ada, sudah tidak bisa dihitung dengan jumlah jemari tangan. Akhirnya mau tidak mau,saya pun maju dengan langkah-langkah malu ala Anak Baru Gede ( ABG ).
Di depan audience, saya disuguhkan pertanyaan, “ Siapakah dirimu?? ‘. Mendengar pertanyaan si kakak manis bertubuh tinggi itu, saya hanya tersenyum, kemudian saya menjawab, nama saya dengan suara yang berusaha untuk tenang. Sok tenang tepatnya. Kemudian, kakak trainer itu, bertanya lagi, “ Siapakah dirimu? “. Mendengar kembali pertanyaan darinya, saya pun mengulang jawaban saya. Tidak lama, trainer itu, bertanya lagi pertanyaan yang sama. Benar-benar bingung dibuatnya, sayapun memandangi trainer itu, dengan mengernyitkan dahi, sambil berpikir, kakak ini, apakah Tuhan?, sok-sok nanya tiga kali, “ Siapa Tuhan Mu? “. Dan kali ini, saya menggaruk bingung. Melihat kebingungan yang dipancarkan wajah anak setengah ingusan di depannya, trainer itu, memberikan instruksi,
“ Jawab saja, yang ada dipikiranmu!! “ .
akhirnya saya, menjawab dengan sesuka hati saya. “ Saya, Kantry Maharani, kelas 3 di SMP 85 Jakarta. Saya, tinggal di depok, saya anak ke dua dari tiga bersaudara, hobi saya jalan-jalan, baca buku, dan nulis. Saya ke sini bareng papah saya. Tadinya saya malas sekali datang ke acara ini, tapi karena kak ridwan…”, saya menunjuk ke arah Kak Ridwan yang sedang duduk di samping.
“ Karena kak Ridwan, menyuruh saya untuk datang ke sini, saya nanti bisa dipanjamkan CD PS, jadi saya datang ke sini. Maaf ya kak!! “. Semua yang ada saat itu, tertawa geli mendengar perkataan saya. Trainer itupun, ketawa. Kemudian trainer itu, memberikan instruksi kembali.
“ Ada lagi yang mau dijawab? “.
Saya pun menjawab, “ Walaupun terpaksa datang ke sini, saya senang. Udah gitu aja “. Entah mengapa, yang datang, bertepuk tangan. Saya melihat ekspresi kak Ridwan, ia menggeleng mungkin merasa malu, dengan adek kelas yang lugu, berasa polos lebih tepatnya, berani membongkar rahasia dapur. Hahahaha..
Balik ke acara, trainer itu kemudian memberikan saya spidol. Ia menyuruh saya, untuk menggambarkan, sesuatu yang mencerminkan diri saya. Hitungan ketiga saya diharuskan untuk menggambar. Sama sekali tidak ada waktu untuk berpikir. Jujur, saya menjadi panik. Karena pada dasarnya, saya tidak bisa gambar. Gambar yang saya bisa adalah gunung, sawah, rumah, perahu, laut-lautan, pohon, ikan, dan gambar dasar lainnya. Akhirnya, saya gambar kotak, dari gambar itu, saya mengingat bahwa dahulu, papah saya mempunyai lampu neon, berbentuk kotak. Kemudian, saya pun menggambarkan lampu neon di papan tulis. Lengkap dengan kabel-kabelnya.
Selesai, menggambarkan lampu neon itu, saya ditanyakan kembali. “ Kantry, kenapa kamu gambar lampu neon? “.
Sesegera mungkin saya menjawab, “ Lampu neon itu, lampu kesayangan saya kalau mati lampu, lampu neon itu yang membantu saya ngerjain PR, belajar buat ulangan, makan, tidur, macem-macem kak “.
Kemudian, kakak trainer itu, menyuruh saya untuk kembali ke tempat duduk. Kakak itu, kemudian menjelaskan, apa itu konsep diri. Sebelumnya, kakak trainer itu, bertanya kepada salah satu peserta, “ Pernahkah kamu paham dengan konsep diri? “. Entah mengapa peserta yang ditanya, hanya celingak-celinguk, seraya mengepulkan sinyal S.O.S kepada teman yang duduk di sampingnya. Tidak lama, peserta yang panik itu, menggeleng, antara menjawab tidak pernah ataukah tidak paham dengan pertanyaan trainer tersebut hampir sama, yang penting biar cepet menggeleng saja dulu. Ckckckckc..( hahaha..itu mah gue..)
Balik ke cerita lagi. Kakak trainer melihat keputus asaan para pesertanya, ia pun mengakhiri sistem komunikatif dengan kami semua. mungkin dalam hatinya, ia berkata, “ Nih panitia salah kirim undangan kali ya??!!,,anak-anak kayak begini diundang “. ( Mulai deh, bayangan saya saat itu, mulai kacau, hehe..)
Kakak trainer segera menjelaskan arti sebuah konsep diri. Bla..bli..blu..ble..blo…dengan segala gambara visual yang mungkin menarik buat sebagian kalangan, trainer itu suguhkan. Namun sayang, saya justru menilai, kenapa harus ada teori gajah mulu yang ditonjolkan. Dari beberapa pelatihan yang saya ikuti, pasti saja, tidak jauh-jauh dengan visualisasi gajah. Hello..!!, We are not stupid kids, You Know..!!, Hippiew mengenal para binatang lagi..??!!, heran Deh..!!.
Tapi, yasudahlah, saya ketika itu, masih menjadi ABG yang labil ( Ababil ). Jadi apa yang dibicarakan trainer, tidak serta merta saya telan begitu saja, perlu penyaringan, namun sayangnya penyaringan yang salah besar. Hehehe..
Lanjut yaa..
Percaya atau tidak, sebenarnya, saya tidak begitu paham dengan apa yang dibicarakan trainer muda nan manis itu. Justru yang sedang saya pikirkan, “ Kok Bisa Saya, menggambar neon yang udah gag tau, sakarang ada di mana, itu? “. Kalau mendengar setengah-setengah dari kakak trainer itu, bahwa konsep diri, itu sangat penting untuk merefleksikan masa depan. Kok jadi horror juga ya, mendengar pernyataan kakak trainer tersebut. Artinya apa, bahwa konsep diri, itu benar-benar penting. Dan efek dari konsep diri itu, membawa pengaruh yang sangat jauh, yang nanti akan dilihat beberapa tahun kemudian. Alhasil, konsep diri dalam bentuk lampu neon, yang saya gambar, memiliki makna apa ya??. Itu dia, yang membuat saya berpikir sampai tidak bisa tidur, tidak bisa makan, tapi anehnya bisa maen playstation ( Nah loh?! ).
Akhirnya, saya menemukan, makna sebenarnya tentang lampu neon. ( Ehem..kali ini serius euy..)

Lampu Neon, jika kita amati, Lampu Neon, itu terdiri dari beberapa rakitan elemen-elemen listrik yang terangkai ke dalam sistem elektromanika dan unsur kimia. Lampu Neon, dibuat, Karena atas dasar, kebutuhan. Namun, jika diteliti, Neon terkadang dianggap sebelah oleh banyak orang, Neon hanya sebagai pengganti, karena Neon sewaktu-waktu dapat dinyalakan dan dapat juga dimatikan. Selalu kontra dengan malam, dan siang hari.

Akan tetapi…
Saya sadar itulah saya. Saya adalah makhluk yang diciptakan dari senyawa kimia dan tanah liat hingga membentuk sisem elektromanika dan unsur kimia yang membentuk metabolisme. Neon akan menjadi penerang bagi setiap kegelapan, namun, neon akan tetap menyala jika sudah tidak gelap. Saya pun demikian, saya ingin menjadi penerang dikala kegelapan, namun saya juga dapat diperlukan walaupun terang menderang. Saya ingin membantu orang dengan kapasitas daya yang saya miliki. Karena Neon dapat menyala dengan mencolokkan kabel ke pusat listrik. Sebuah tenaga besar di luar diri Neon. Ataukah Neon juga bisa dipasang baterei. Itu membuat saya semakin sadar, bahwa Neon adalah saya, saya tidak bisa berfungsi apabila tidak ada bantuan dari orang lain. Saya pikir, ini sangat penting untuk dipahami, bahwa tanpa orang tua, kakak, adik, saudara, guru, sahabat, suami, anak, bahkan yang sangat penting adalah Allah, karena saya, saya hanyalah manusia biasa, yang memiliki kemampuan terbatas.
Biarkan saya menjadi Neon. Walaupun dianggap sebelah mata, saya akan tetap menjadi Neon, tetap menyala dikala gelap ataupun terang, dan hanya dapat mati tak berfungsi jika kekuatan elemen saya rusak.