Bayang Sore ( Aku dan Mereka Part I )

Gambir 12 Desember 2011

Sore ini Jakarta mendung, awan kelabu bergerak kiri kanan seraya mengikuti irama angin yang berhembus berat. Pandangan sayup cukup lama gue terperangah ke atas langit, sambil bergumam, ” Kapan gerimis ini berhenti ya?? “. maklum, udah 2 hari berturut-turut keujanan dengan sengaja.ya, dengan sengaja, bagaimana otak gue ini melupakan desember bulan “air”, tapi kok enggak bawa payung. Jadilah kehuhajan dengan sengaja. Entahlah lamunan saya, menjurus kepada calon gubernur Jakarta selanjutnya. Walaupun gue bukan pendudukan ber-KTP-kan DKI Jakarta, cukup mengakui bahwa Jakarta adalah jantung Indonesia. Gue, adalah satu dari mereka yang berdiri menunggu kereta ini adalah contoh kongkret bagaimana kami berlomba mengais rejeki. Jakarta dengan masalah banjirnya, masalah transportasinya, masalah budayanya, dan masih banyak lagi. Perubahan, gue sendiri sih merasakan ada perubahan dalam hal transportasi, ya..sebut saja busway. Bagi gue yang tidak memiliki kendaraan, Transjakarta membantu mobilisasi muter-muter jakarta. Jangankan gue, mahasiswa unpad yang bukan asli jakarta aja, bersyukur banget ada busway, kalo enggak mungkin udah nyasar karena ditipu sama preman pasar. kali ini sepakat dong???

Lain busway lain juga dengan kereta listrik. Ini kali pertama gue harus berkenalan dengan transportasi “panjang i”ini. Awalnya, girangnya enggak ketolongan tau akan bolak balik naek kereta. Dibayangan gue tuh ya, mereka yang naek kereta adalah orang keren, enerjik, dan menyimpan segudang cerita. Tau akan menjadi seperti mereka, Woow..Seneng bangeet !!

and..Surprise lah gue di hari pertama, harus bolak balik Jakarta-Depok. Ternyata rasanya seperti ini. Mumet, Runyam, Demeuk, Sesak, Keras. Yeaah..itu dia, Jakarta Keras.

Sekeras itulah hidup di Jakarta. Walaupun besar di Jakarta, gue merasa aneh dengan kultur yang terbangun, BARBAR PARAH !.

sedikit beda dengan kultur Kota Kembang. Ramah, Hangat, dan statis. Well, bukan untuk menjelek-jelekkan satu sama lain nih ya, dan engga berharap ini jadi pembenaran juga. Ya, mungkin aja ini kecenderungan gue yang lumayan sering berkomunikasi dengan masyarakat Kota Kembang, Jadi sedikit terbaca caovinisme. Tapi sekali lagi dari hati gue nun paling jauh dalam ini, merasa kaget dengan kultur yang terbangun di Jakarta.

Jakarta Dulu dan Kini

Jakarta, kota di mana engkong, nenek, dan bokap dilahirkan. Senen, itulah daerah di mana mereka membentuk sebuah keluarga shakinah, mawadah, dan warahmah. Si Engkong ( baca : Pa dede ) sering banget curhat kalau dia maen ke rumah gue. Bagaimana masa mudanya, bagaimana masa jaman penjajahan, bagaimana mencari uang di perusahaan kereta api milik negara ( kala itu ).

” Senen, dulu itu kebon “, ungkapnya dengan semangat ’28. Engkong juga menambahkan bahwa rumah-rumah jaman dulu itu, jauh-jauh jaraknya. Bahkan Engkong juga bilang kalau jarak rumah kediamannya dulu dengan tempat kerja itu jauh banget. Pengen tau jauh kayak gimana??,—->> ” Jatinegara – Senen “.

Dan itu ditempuh dengan sepeda atau bahkan jalan kaki. Makanya perjuangannya itu, 2 jempol deh. Karena perjalanan yang  jauh, petani karet ( kebon karet ) sering banget, kasih makan atau minum kepada pejalan kaki atau mereka yang kecapek’an menempuh perjalanan. Dari situlah, seringnya interaksi ketika bertemu di jalan, persaudaraan dimulai. Tukar Informasi apapun, mulai dari pekerjaan, sampai gosip ibu kota pun di transfer. hayaah..

Insight ———->>>>>> Gosip yang menjadi Trending Topic kala itu ialah, None Pluit Nyari Laki !!.

entahlah..siapa itu none pluit, sepertinya none bohay nan cantik. Tapi kok enggak masuk sejarah Kesenian Jakarta ya??. #mikir haha..

lanjutt ke cerita awal ah..

dari situlah, engkong gue mendapatkan pekerjaan. dan Tinggalah beliau di Senen. Segala pekerjaan di cobain sama beliau, banting tulang demi merubah hidup susah menjadi sedikti dipandang oleh orang lain. Di cerita ini engkong gue cukup menghayati. Dan gue pun tersayat mendengar cerita itu.

Geloran ’45 membakar api sang engkong muncul heroik ketika menceritakan masa pacaran sama emak. ihhiieey..senen daerah teduh. banyak puun. tebar senyum sumringah sering dilihat kala ada di sudut kota. Tegur sapa, kerja keras, toleransi, menjadi warna kota kala itu.

” Tapi sekarang?? “. Tanya Engkong secara tiba-tiba.

dan gue cuman bisa diem.

” Kayak gimana ya Senen itu?? “. GUBRAK..!!

ternyata si engkong enggak tau senen itu seperti apa rupanya semenjak diugusur ke depok.

mendengar engkong berkata itu, sekali lagi gue hanya tertegun tanya, sambil berkata, ” Ya..begitulah Senen !!, Kuitang “. #eeh..

hahaha..haduuh..cuman kuitang yang gue tau, padahal disanalah bokap gue dilahirkan. Dan gue enggak tau banyak tentang senen. Mungkinkah bokap lahir langsung berjibaku dengan tumpukan buku-buku usang??. ah..sekali lagi, gue hanya tau kuitang. Kuitang yang banyak preman pasar, bau, kotor, panas, 21 Senen. Kalo dikorelasikan, hm..sepertinya jauuh ya dari deskripsi engkong. Ingin rasanya gue ajak engkong ke Senen, pengen tau respon doi kayak gimana. Someday, gue akan ajak doi muter-muter Senen.Insya Allah..

huuf..enggak kerasa lamunan gue dalem juga tentang kota ini. Pandangan gue kini tertuju kepada mereka yang berdiri lesu menunggu kereta datang. Mereka sibuk dengan dinamika perasaan masing-masing hari itu. Perasaan yang berusaha dihibur dengan dua untai headset menempel di kedua telinga mereka masing-masing. Ada yang terpejam matanya walaupun dengan kondisi berdiri, ataukah membaca buku, ah..tapi kalo yang ini jumlahnya hanya sedikit. Tunggu sebentar !!. Coba lihat, ternyata kebanyakan dari mereka memandang kosong tanpa bicara, tertuju pada rel kereta, ataukah lurus entah menerobos siapa.

Sekali lagi, cukup ironis. Bertolak belakang dengan yang diceritakan engkong. Bukankah lebih baik melihat orang di samping dengan senyum hangat ?? .

Mungkinkah senyum hangat sudah sangat sulit sekali dilakukan  karena urat wajah yang sudah mulai mengeras  sekerasnya kota Jakarta ???.

I don’t Know..

Iklan

One comment on “Bayang Sore ( Aku dan Mereka Part I )

  1. jakarta dulu dan sekarang, sulit di deskripsikan. sudah terlalu banyak degradasi pola kehidupan yang kemudian berdampak pada stabilitas budaya yang dicita-citakan oleh pendahulu.

    nice story ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s