Kisah Mahasiswa Tingkat Akhir Yang Belum Beakhir

Judul tulisan ini sedikit provokatif, dilematis, dan galauis. Tapi sekali lagi maaf – maaf nih, bukan untuk menyinggung atau membuat sensitif tingkat dewa buat kamu-kamu yang lagi bejibaku dengan masalah akhir ( red : Skripsi ) enggak kelar-kelar. hehe..

be honest, tulisan ini sebenarnya adalah curhatan sang pemilik blog yang mana saat ini masih belum kelar tuh menanggalkan status mahasiswa S1. Dibilang curhatan sebenernya enggak juga sih, ini lebih kepada cerita “pembelajaran” yang saya temukan selama menikmati hari-hari perjuangan menuju kemerdekaan ( red : lulus ).

Well, udah enggak kerasa gue udah lima tahun kuliah di unpad. And you know what, Juli akhir ini aja udah mulai ospek. Yeaah..mahasiswa baru ( Maba ) angkatan 2012 bro sist, sedangkan gue, gue adalah maba 2007. Maba juga sih judulnya, tapi Mahasiswa Baheula. hihihi…

Oke, lupakan apa itu disparitas kesenjangan angkatan, yang penting sama-sama mahasiswa unpad <— ” Ngeeleees teruus “

Bicara kelulusan itu, gue akuin lah pasti menjadi moment/titik/keadaan yang bikin semua terharu membiru. Kalau gue liat-liat nih mereka yang udah lulus, ketika yudisium dan ketuk palu dinyatakan lulus, itu rasanya macem-macem. Ini dia opini dari temen gue :

” Ketika dinyatakan lulus itu, rasanya seperti bebas hutang “. ( Menurut Mr. X yang sering ngutang di kantin atau sama temen gue.

ada lagi yang berkomentar, tentang kelulusan, menurutnya  ” kelulusan itu rasanya lega kayak habis hijab qabul ” ( Menurut Mrs.Y yang ternayta udah menikah ).

intinya macem-macem kan makna dan perspektif kelulusan. Masuk kuliah di Unpad itu enggak mudah, apalagi ternyata jalan hidup gue berlabuh di Fikom Unpad. Mulai dari diterima di UGM ( Teknik Elektro – via Jalur Ujian Mandiri ), diterima di UIN ( Hubungan Internasional – Jalur Mandiri ), hingga akhirnya gue diterima di SPMB Fikom Unpad.

Nah kayak gini nih, gue selalu flash back kalau lagi galau tingkat dewa meratapi hidup “Kapan gue lulus”. hehe..

ya..sekedar untuk menyemangati diri sendiri kalau jalan hidup gue harus tuntas. Kalau udah starting, berarti harus Finish.

Oh ..iya terkait penyemangat hidup, ini juga yang menarik. Di kampus gue pasti ketemu sama angkatan atas yang deadline “cuci gudang” ( baca –  Drop out ). Banyak cerita yang gue dapet dari mereka. Mulai dari kenapa mereka lulusnya lama, sampe kepada tantangan-tantangan yang mereka hadapi.

Banyak dari mereka yang menyepelekan transkip nilai, administrasi, dan bla..bla..bla.. alhasil ketika udah deadline mereka kelabakan. Mau enggak mau mereka harus ketemu dosen yang bersangkutan agar mendapatkan perbaikan nilai. Masalahnya enggak semudah itu ternayat. PR terbesar adalah bagaimana menghadapi dosen, artinya di sini mental.

Wah..pokoknya compicated lah, tapi gue banyak belajar dari mereka. Bahwa musuh terbesar diri lo ya .. diri kita sendiri.

Dari sejumlah senior yang deadline DO, ternyata mereka ada juga yang semangat untuk mengakhiri strata satu hingga tuntas. Katakanlah ia bernama Mawar. Angaktan 2005 yang sudah memiliki 1 anak. Ia bercerita ke gue, bahwa salah satu penyemangat terbesat adalah suaminya. Kalau bukan suaminya yang kasih semangat, mungkin gue udah DO, katanya.

Dan bener aja, gue salut lah sama perjuangannya. Hm..tapi kali ini gue ga bisa ambil buat diterapkan ke diri gue. haha..doi udah nikah, lah gue, happy single.

Cerita-cerita membuat gue sadar dan kembali mengingat, ada berapa banyak temen yang udah kasih semangat ke gue.

” Ayoo..kantry!! pasti bisa “

” Ayoo..kapan lagi bimbingan?? “

” Gimana tadi bimbingannya ?? “

dan masih setumpuk kalimat seru dan tanya memenuhi pesan singkat telepon genggam gue.

Itu belum seberapa kawan, kalau waktunya gue pulang ke rumah, itu yang namanya nyokap, enggak pernah berhenti absen nanyain gimana SKRIPSI gue.

Jujur, rasanya itu muak bagi gue. Entahlah, mungkin ini terpaan yang terus menerus gue dapat, dan akhirnya gue bosen dan muak dengan itu semua.

maaf ya sedikit heroik dan antagonis. Tapi boleh dong gue jujur sama apa yang gue rasa. Saking muaknya pernah gue sempet cekcok sama nyokap, bahkan pake istilah bunuh diri segala. hahaha..

itu Konyol banget, dan gue sangat amat sadar. Kesabaran gue bener-bener diuji dan ternyata gue memang belom sabar menjalankan ini sebagai dari bagian jihad fiisabilillah.

Belum lagi nih, kalau udah ketemu saudara-saudara. Pasti yang ditanya,

” Eh..kantry udah lulus ya? “

atau kalau enggak,

” Gimana kuliahnya? “

aaargh…itu rasanya gue pengen banget bikin name tag gede di dada, bertuliskan

” ATTENTION, GUE BELOM LULUS. PUAS LO!!! “.

itulah ide gila gue muncul secara heroik.

di sela-sela gue berpikir heroik kayak gitu, hati kecil yang di diri gue selalu membisikan,

” Tenang kant !!. Enggak usah mikirin orang lain. Lo fokus sama diri lo. Dan percaya apa yang lo alami saat ini, adalah paitnya dari manisnya masa depan lo nanti pasca kampus “.

Yeah..untung gue masih punya malaikat di diri gue. Cuman itu yang enggak gue dapet dari kata-kata penyemangat orang lain. Sekalipun Nyokap gue.

Dan disitu juga, gue selamanya menganggap bahwa diri gue adalah motivasi untuk diri gue sendiri. Hm..bukan berati gue enggak menganggap orang lain bukan berati buat gue, tapi 90% penyemangat hidup itu cuman ada pada diri lo sendiri, sisanya adalah orang tua dan orang lain.

Gue nulis cerita gue ini, bukan sebuah cerita yang belum terbukti benar, karena saat ini toh gue blom lulus. Tapi..gue nulis cerita ini karena gue yakin, dengan hari ini, pasti akan berwujud manis.

inget kalimat yang oke banget nih,

” Optimism Is The Faith That Leads To Achievement. Nothing Can Be Done Without Hope Or Confidence “

( Helen Keller )

Iklan