Aktivis dulu dan Sekarang

Iklan

ColdPlay – Paradise

Gue pernah denger ya, kalau beberapa hewan-hewan di hutan udah banyak yang “nyasar” ke kota. Entah monyet yang mengganggu pemukiman penduduk lah, macan yang nyerang pemukiman pendudukan lah, atau bahkan gajah yang mengamuk pemukiman penduduk. Fenomena itu membuat gue miris.

simplenya, bahwa tempat yang sebenarnya diperuntukan untuk mereka, ternyata diambil alih fungsinya sehingga mereka tidak punya tempat. Jangan pernah harap deh, mereka bisa move on cari tempat hidup yang lebih oke. Manusia aja susah buat Move on apalagi binatang.

Makanya, waktu gue liat video klip ColdPlay yang paradise, ternyata video ini sedikit mengkritik fenomena tadi. Video klip yang dibuat oleh Hype Williams ini menggunakan gambaran ‘gajah’ . Dimana gajah itu berusaha membebaskan diri dari kebun binatang demi bertemu dengan teman-temannya.

Video ini juga detail menggambarkan ketika terdapat scene menghitung jumlah dalam bentuk romawi di awal video, ini menunjukkan bahwa setiap hari akan ada gajah yang punah. Pada Faktanya menurut http://www.wwf.or.id/tentang_wwf/upaya_kami/forest_spesies/tentang_forest_spesies/species/gajah_sumatera/ populasi gajah menurun sebesar 84 persen. Angka yang dramatis dan tragis kan.

Ada lagi nih, dalam video klip ini si gajah akhirnya bebas dari ancaman manusia, namun ia menyadari kelinglungan pada dunia luar. Alhasil gajah itu berkelana ke tempat-tempat umum seperti stasiun, kereta, dll. Sambil memberikan isyarat “pertolongan”. Namun banyak dari mereka yang acuh.

Akhir dari video ini adalah akhirnya mereka ( gajah ) bisa bertemu dengan teman-temannya. Background nya menggambarkan padang rumput yang gersang.

Well, dapat disimpulkan bahwa populasi binatang sudah begitu sangat memprihatinkan. Binatang akan tetap seperti binatang. Manusia sebagai makhluk pemilik hati nurani paling ulung dibanding makhluk Tuhan Lainnya, udah selayaknya memperlakukan mereka seperti binatang pada umumnya. Karena secara tidak langsung, dengan merubah habitatnya, silus kehidupan mereka pun akan mengalami perubahan yang signifikan.

Save Our Planet, Save us !

Master Chef Wanna Be !!

Pasti udah pada tau kan, acara reality show di RCTI tentang masak-masak itu?.

Yes, itu dia The Master Chef Indonesia udah tahun kedua acara itu menayangkan bagaimana kompetisi memasak dengan beragam cerita manis dan pahitnya menjadi koki. Bagi gue terlepas katanya itu “Reality Show” , acara ini paling edukatif dan passionate.

Kenapa?,

Dalam acara ini  secara total dititik beratkan kepada keahlian memasak, akan tetapi tidak hanya seputar teknik memasak, namun juga dilatih bagaiman etika memasak yang akan dijalankan oleh seorang Master Chef  . Makanya tidak heran program ini selalu menimbulkan konflik yang disusun secara testruktur ( red : Manajemen Konflik ).

Sekali lagi program ini cerdas. Belum lagi kesannya yang diperankan oleh para juri yang kridibel dalam hal kuliner. Memang harus diakui terkadang komentar yang disampaikan sangat pedas. Namun komentar itu memiliki nilai koreksi yang tidak hanya untuk kontestan, tetapi untuk para mereka yang menyaksikannya di televisi. Termasuk gue.

Korban dari program Master Chef Indonesia itu adalah diri gue sendiri. Lumayan mupeng kalau liat pada masak-masak. Kayaknya Gampang ye, masak itu !!
.

Atas dasar itulah, tiba-tiba aja gitu gue jadi senang melihat resep-resep makanan mulai dari western sampai asian, eiits enggak cuman liat doang, tapi langsung aksi kongrket loh, dengan kata lain Memasak.

Awalnya gue adalah perempuan yang tidak familiar dengan alat-alat dapaur dan sekumpulan bumbu-bumbu masakan itu. Maklumlah besar dengan kondisi tomboy. Jadi sedikit sensi sama yang namanya masak. Dulu gue masih mengira bahwa masak itu adalah kerjaan para perempuan lemah, yang enggak punya masa depan. Apalagi bau, kotor, and bla..bla..bla..

Ternyata jauh dari pemikiran kolot gue itu, Memasak itu adalah TASTE FULL. Jauh dari perspektif lahannya para perempuan lemah dan enggak punya masa depan, jauh dari yang namanya bau dan kotor yang sifatnya tidak melulu bau dan kotor. Itu semua dapat dilihat pada pesan yang disampaikan oleh MCI. Pesertanya enggak semua perempuan, enggak harus ibu rumah tangga,and most of them are camera face. Ya..walaupun itu faktor komersialisasi, tapi MCI sukses besar merubah sikap para penonton yang mungkin memiliki pemikiran yang sama dengan gue.

Dan bonusnya adalah, penonton bisa liat juri-juri MCI yang juga seorang Chef terkenal pun enak dipandang. Kurang cakep apa coba Chef Juna sama Chef Degan, terus kurang Imut apa coba Chef Marinka?.

Itu semua sampel icon pesan yang sukses besar diterima oleh penonton. Gara-gara itu semua, gue jadi sedikit obses mau ikut audisi Master Chef Indonesia loh.. hahhaa..

konyol sih, tapi inti dari segala inti adalah gue jadi seneng banget masak. Alhasil, gue pun membuat beberapa jenis makanan seperti Spaghetti, Scottel, Kwitiaw, Cumi Saus Nanas, balado kentang, Opor Ayam, sama bikin salad buah.  Sangat di luar dugaan lah, ternyata rasanya enak.

Setelah gue coba masak ini itu, akhirnya gue menemukan kebenaran dari teori para juri Master Chef Indonesi :

Memasak itu adalah seni, imajinasi dan kreatifitas yang sangat tinggi pada saat mengolah makanan..kali ini saya menantikan seorang kontestan yang mampu menciptakan master piece yang luar biasa..    – Chef Rinrin Marinka

 

Buat saya masak itu perlu keseriusan dan ketekunan, kita lihat saja siapa kontestan yang bisa menghasilkan masakan bercita rasa tinggi tanpa komentar pedas dari saya   – Chef Degan –

 

Cookery is Not Chemistry. It’s an Art. It Requires Instinct and Taste rather than Exact Measurements  – Chef Juna –

 

Dari Makanan kita bisa membuat orang sekitar menjadi sehat, tersenyum karena kenyang, dan yang paling penting ternyata ketika memasak, bisa langsing loh, kita jadi males banget makan makanan yang kita buat. Karena apa, kalo gue ngerasain sih, kepuasan itu sudah tertuang pada makanan itu sendiri. Bahkan makanannya harus di makan dengan bener, jangan sampe ada yang rusak, hahaha..agak lebay sih memang.

Frankly, Food Is One of Necessary For The Life, As well as We Made of Them As Possible,We have Save people for their Life.

Makanya salut deh sama orang Indonesia yang mau jadi koki. Itu profesi yang menyenangkan, menggairahkan, dan bermanfaat.

 

Balada Romadlon Part 2 ” Puasa Terus, Timbang Terus ”

Timbangan Berat Badan Di Rumah gue

Pernah denger kan, kalau kita puasa di Bulan Romadlon itu ucapan menjadi doa, dan segala perbuatan menjadi ibadah?.  Gimana keberkahan berlipat ganda yang akan Allah berikan. Rezeki tanpa kita sadar akan terus membanjiri setiap umat Islam yang berpuasa. Buktinya nih, banyak yang enggak kelaparan kalau waktu berbuka tiba atau bahkan ketika sahur sekalipun. Toh banyak masjid-masjid yang dengan ikhlas memberikan makanan bagi mereka yang berpuasa.

selain itu, dalam kehidupan sosial sehari-hari, di lingkungan permahan misalnya, yang biasanya acuh tak acuh dengan tetangga di samping, ketika berbuka tiba ada aja kiriman makanan untuk berbuka entah itu ta’jil ataukah makanan berat. Luar biasa berkah kan?

keberkahan itu juga ternyata menjadi dua persepsi yang tertuang menjadi harapan atau bahkan menjadi sebuah ketakutan loh. Bagi anak-anak kosan, banyak makanan melimpah ruah sih itu kesenangan tiada tara. Akan tetapi lain halnya dengan mereka yang memiliki pola makanan teratur sebelumnya, dan memiliki dogma bahwa menjaga badan agar ideal itu adalah wajib hukumya ( baca : diet ) memakan makanan dengan kadar gula atau minyak yang berlebihan malah membuat bahaya tubuhnya.

Tidak dipungkiti lah ya, setiap berbuka makanan minuman manis dan berminyak itu lebih dominan dari sayuran atau serat. Hal itulah yang terjadi pada keluarga gue. Balada Romadlon kali ini gue akan bercerita gimana ritual atau kebiasaan yang dilakukan selama berpuasa.

Romadlon kali ini cukup berkah menurut keluarga kami, alhamdulilah kami masih diberikan rejeki sehingga kami tidak kelaparan. eiits bukan hanya berkah dalam hal makanan aja loh, personil keluarga kami lengkap berjumlah 5 orang. Bokap, Nyokap, abang, adek, dan gue. Padahal biasanya gue jarang banget ada di dirumah, karena harus bajibaku di nangor. Sedangkan adek gue ( Nada ) biasanya dia baru ada di rumah 5 hari menuju lebaran, karena dia harus mengikuti peraturan asrama bulutangkisnya. Tapi kali ini gue dan adek Romadlon ini kita ada di rumah.

Kisah ini cukup unik bagi gue. Bermula dari cerita Nada yang harus terkena degradasi dari pusdiklat Jaya Raya karena dinilai “kegendutan ” untuk ukuran seorang atlet bulutangkis. Kondisi adek gue itu sebenernya cukup membuat terkejut keluarga. Karena ketika dia didegrasasi secara otomatis Nada harus pulang ke rumah, membawa seluruh barang-barangnya dari asrama, selain itu juga mau tidak mau orang tua gue harus memikirkan langkah selanjutnya untuk adek gue yang katanya tetep mau jadi atlet bulutangkis itu agara bisa merubah pola hidup, mulai dari mental dan jasmani. termasuk memecahkan masalah “Kegendutan” yang telah menjadi akar penyebab degradasi itu.

Akhirnya segala program pun dijalankan adek gue itu. Termasuk latihan fisik setiap hari. Oh iya, walaupun adek gue latihan terus setiap hari, dia tetep diwajibkan puasa. Hm..sebenernya ini cukup memprihatinkan bagi gue, si Nada itu jarang puasa loh selama dia tinggal di asrama Jaya Raya. Menurut adek gue itu, malahan klub bulutangkisnya itu melarang para atletnya untuk berpuasa. Bahkan sampai dibilang, ” Kalian mau jadi atlet apa mau jadi ustad? “.

Sedih kan?. Ya..maklum lah, mayoritas dr klub itu adalah Non-Muslim, jadi mereka tidak tau hakikat berpuasa itu apa, dan positifnya untuk tubuh. Nah..kembali lah gue dan keluarga gue ketika adek gue didegradasi itu. Karena akhirnya dia bisa puasa juga.

dari latar belakang itulah yang kemudian membuat adek gue bertekat untuk “Balas dendam ”  dengan cara menunjukkan bahwa dia masih layak menjadi atlet dengan tanpa menanggalkan keimanannya, dengan cara berpuasa.

Hal itu yang dikuatkan dengan statement nyokap ke adek gue, ” Da, kamu harus puasa. Biar kamu kurus. Percaya deh sama mamah “.

gue sempet denger tuh wejangan nyokap. Ya..gue sih percaya bahwa ” Suara Nyokap, Suara Tuhan ”
dan gue pun mengamini.

akhirnya dengan kepercayaan penuh serta pola makanan seimbang, adek gue pun berpuasa dengan tanpa meninggalkan rutinitas latihan fisik dan latihan bulutangkis setiap hari.

Awalnya euforia itu berjalan lancar, namun selanjutnya godaan demi godaan muncul. Bokap gue setiap pulang dari kantor selalu aja bawa makanan yang over calories, macam pizza, kebab, martabak, tahu isi, gorengan, dan bla bla bla..

Dasar adek gue ini hasrat biologisnya meninggi ketika maghrib, maka makanan-makanan itu “dsikat” nya penuh dengan gejolak. Hingga suatu ketika tubuhnya terlihat membesar. Ya..bayangin aja, makan-bbm an sambil duduk-tidur. itu dia aktifitas yang sering dilakukan.

akhirnya adek gue yang kembali insaf, meminta bokap untuk membelikan alat ukur berat badan. Hal itu dengan tujuan agar adek gue bisa mengontrol berat badannya setiap hari.
Dan, dibelilah alat ukur berat badan itu.

Tapi nih, yang ada ternyata alat itu menjadi candu bagi Nada bahkan seluruh keluarga kami. buktinya nih, setiap kami makan berkalori banyak setiap itu pula kami mengukur berat badan. Inilah yang menurut gue sangat lucu, Makan..makan..makan..ukur..ukur..ukur.. hahaha.. ditambah siangnya puasa, jadi nya kontrol berat badan jadi makin optimal.
dengan adanya itu, alhasil makanan yang berkalori tinggi hanya menjadi penghuni lemari es dan hanya sesakali dimakan jika tidak ada makanan di rumah. Enggak cuman itu aja, kakak gue yang awalnya cuek sama urusan badan, jadi ikut-ikutan ngukur berat badan, bahkan dia sampai-sampai mengikuti program fitness supaya badannya ideal.

Kalo udah kayak gini, mitos yang bilang dengan berpuasa tubuh akan menjadi langsing itu benar adanya. Berat badan Nada samapi bokap gue jadi turun hanya beberapa hari saja. haha..Dahsyat dah..

Jadi gimana dengan berat bada mu di saat Romadlon?? ^^

Balada di Bulan Romadlon Part 1- ” Gara-gara Tarawih Bersama, Mukena Sajadah pun Sama “

Hoalaaah…..sekarang udah hari keberapa Bulan Romadlon nya ya??

ini dia yang bikin gue bingung sendiri kalau tiba-tiba kepikiran buat mengetahui “Udah Hari Keberapa Puasa Kali Ini” ??

pertanyaan itu yang bikin gue selalu grasak-grusuk nanya orang samping kiri kanan. Bahkan banyak dari mereka yang selalu bilang,

” Duuh..elo puasa enggak sih, sampai-sampai enggak tau udah puasa keberapa!! “.

Nah kalau udah begitu, rasanya mau Istighfar aja gitu, Ya..kali gue enggak puasa. Masalahnya nih, gue tuh paling males ngitungin atau inget-inget sisa hari yang masih ada, ataukah jumlah hari yang sudah dilalui selama Bulan Romadlon. Ya..niatnya sih, puasa kali ini mau menjalankan ibadah secara konstan, dimana tiap harinya merasa Romadlon terakhir. Jadi enggak kayak ngejar setoran yang melejit bak roket di hari-hari 10 malam terakhir.

ehem..itu mukadimah tulisan Sensasi Bulan Romadlon kali ini. Jangan heran ya, mukadimahnya enggak sembarangan mukadimah ini. Biasanya itu mukadimah diisi dengan dalil al-Quran tentang puasa, tapi kali ini. LANGSUNG AJE PAKE BAHASA GUE.. hehehe..biar cepet gitu. Kali ini gue pengen cerita bagaimana rasanya sensasi sholat tarawih di masjid.

Sholat berjamaah di masjid itu adalah kegiatan yang luar biasa banyak pahalanya. Apalagi Sholat tarawih. Biasanya orang-orang itu di awal romadlon memenuhi masjid untuk tarawih berjamaah. lain halnya dengan gue. Di Awal susah banget bisa sholat tarawih berjamaah di masjid, alhasil baru bisa sholat di masjid di tengah-tengah bulan. Sekalinya sholat di masjid, eeeeh…dapetlah gue sensasi luar biasa yang cuman di masjid gue dapatkan. So, begini ceritanya.

Hari ini dengan senangnya gue pulang cepet dari kantor. Rekor baru, sampe rumah jam 5 tepat. wohow..rekor ajaib yang enggak pernah gue alamin. Karena pulang cepet, gue udah membara untuk sholat tarawih di mesjid. Di rumah gue yang ternyata nyokap lebih cepat tiba, langsung mengajak meracik masakan buat buka dan makan berat untuk sahur. Maklum, asisten rumah cuman sampe jam 10 pagi doang, selebihnya untuk masak dan lain-lain selelu nyokap dan gue ( ngikut bantu dikit-dikit ).

Kegiatan memasaknya ya biasa lah ya, mulai ngulek, oseng-oseng, rebus, dan cuci piring. Enggak lama kok, cuman setengah jam ritual masak-masaknya kelar. Seudahnya, gue dengan asik nonton tipi yang ternyata isinya tausyiah semua. hihi..maklum, 15 menit pengen buka pasti isnya begitu semua. Enggak lama, nyokap manggil gue.

” Kantri, ini bagus enggak? “.

nyokap menunjukkan mukena putih yang berencana dipakai untuk ibadah Haji tahun ini. Dan gue segera menghampiri dekat ke nyokap sambil bilang, ” Oh..ya, mayan..jahit dimana mah? ”

” Beli di Jatipadang” Jawab nyokap.

terus nyokap tiba-tiba minta pendapat lagi tentang gamis barunya, yang juga berencana buat dipakai pergi haji. ” Ini Gimana? ”

” Ho..oh..”, jawab gue santai. Ternyata nyokap udah menyiapkan setumpuk plastik persiapan buat ke  haji, hingga suatu ketika gue melihat ada setelan mukena putih lain yang sepertinya baru dibeli juga oleh nyokap.

” Ini mukena juga buat ke mekah mah? “. tanya gue.

” Enggak ini mah buat sehari-hari aja”. lugas nyokap dengan santai.

wuih..denger mukena itu buat sehari-hari gue jadi semangat.

” Kantri pake buat tarawih ya mah” Pinta gue dengan semangat.

” Ya..pake aja”. Dan nyokap pun membolehkan gue untuk memakai perdana itu mukena.

Menjelang sholat Isya dan tarawih berjamaah, gue dengan necis berdandan di cermin sambil bilang, ” Hm..ni mukena enak banget dipake. adem. bakal Sholat Ied ah.. ”

Ketika mendengar adzan Isya, gue dan nyokap segera pergi ke masjid. Ternyata Masjid udah penuh. wow subhanallah kan, penuhnya stabil. Akhirnya mau enggak mau harus memenuhi di belakang. Tiba-tiba ada yang menempuk pundak sambil bilang, ” Eh..Bu Syamsudin. ”

What, Bu Syamsudin, maksudnya nyokap gue gitu?.

yes, ternyata ada iBu-Ibu yang salah tepok pundak. Maksudnya dia, gue disangka nyokap. oke kali ini gue masih maklum, karena kata kebanyakan orang, gue itu sebelas duabelas sama nyokap. Mirip bener.

eits..tapi ternyata bukan itu, yang bikin gue kaget adalah tiba-tiba, ketika qomat Isya dikumandangkan, semua jamaat bangun dan bersiap sholat, eeeh…gue kaget ternyata itu sebaris isinya Mukenanya samaan semua. and you know what, itu barisan termasuk gue. Oh No.. gue langsung membisik ke nyokap gue.

” Mah, kok mukenanya banyak yang sama sih? “.

mendengar pertanyaan gue, nyokap malah ketawa sambil bilang, ” Itu kan mukena yang dikasih bu haji ( tokoh ulama di komplek buat ibu-ibu pengajian ) “.

ah….asem..pantesan.

Enggak lama, gue liat ada orang yang telat sambil bawa sajadah yang sama kayak gue.

” Mah, jangan – jangan sajadah juga dari bu haji? ”

nyokap gue sengan santai ngejawab, ” Hm..kalo sajadah dari bu Oki buat Ibu-ibu pengajian ”

Mamam gue !!. Jackpot Jackpot Jackpot !!!!

Entahlah bingung mendeskripsikan rasanya samaan sama orang lain. Udah mah, jarang ketemu sholat tarawih di masjid, sekali dateng langsung diliatin banyak orang, karena mukena samaan.

udah gitu, gue langsung di sms lah sama temen masa kecil gue ( tetangga gue ), Dinda namanya.

” Wah..elo jadi geng ibu-ibu ta’liman sekarang, subhanallah ”

GONJREEEENG !!!

sebenernya sih, kalau dipikir-pikir gue harusnya cuek aja mukena sajadah sama dengan orang lain. Toh bikinnya juga pasti dipabrik yang memproduksi dalam jumlah banyak. Tapi enggak sebaris juga kaleeee…samaanya.  *sketsa mode On

hahahaha…..

Dengan demikian rasanya gue akan mengurungkan niat untuk mengenakan mukena itu di Sholat Idul Fitri. Mending pake yang laen sajalah, dari pada bikin enggak konsen mata orang lain. hahahaha…

Mukena yang dipakai

sajadahnya

SISTEM KOMUNIKASI KELOMPOK

  • Para psikiater mendapatkan komunikasi kelompok sebagai wahanan untuk memperbaharui kesehatan mental.
  • Para ideolog juga menyaksikan komunikasi kelompok sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran politik – ideologis.
  • Para manajer menemukan komunikasi kelompok sebagai wadah yang tepat untuk menemukan gagasan – gagasan kreatif.

Kesimpulan : Komunikasi kelompok dapat dipergunakan untuk menyelesaikan tugas, memecah persoalan, membuat keputusan, atau melahirkan gagasan kreatif, membantu pertumbuhan kepribadian seperti dalam kelompok pertemuan, atau membangkitkan kasadaran sosial politik.

 

KLASIFIKASI KELOMPOK

Noted : “ Tidak Setiap himpunan orang disebut kelompok. Orang-orang yang berkumpul di terminal bus, yang antri di depan loket bioskop, yang berbelanja di pasar, semuanya disebut agregat – bukan kelompok. “

Supaya agregat menjadi kelompok diperlukan kesadaran pada anggota – anggotanya akan ikatan sama yang mempersatukan mereka. Kelompok mempunyai tujuan dan organisasi ( tidak selalu formal ) dan melibatkan interaksi di anatara anggota-anggotanya. Jadi dengan perkataan lain, kelompok mempunyai dua tanda psikologis :

  1. Pertama, anggota-anggota kelompok merasa terikat dengan kelompok – ada sense of belonging – yang tidak dimiliki orang yang bukan anggota.
  2. Kedua, nasib anggota – anggota kelompok saling bergantung sehingga hasil setiap orang terkait dalam cara tertentu dengan hasil yang lain ( Baron dan Byrne, 1979 : 558 ).
  • Para psikologi – ahli sosiologi, telah mengembangkan berbagai cara untuk mengklasifikasi kelompok. Ada empat dikotomi : Prime – sekunder, ingroup-outgroup, rujukan-keanggotaan, deskriptif-preskriptif.
  1. Prime – sekunder :

Kelompok primer adalah kita terikat secara emosional pada beberapa kelompok saja. Hubungan kita dengan keluarga kita, kawan-kawan sepermainan, dan tetangga-tetangga yang dekat ( di kampung kita, bukan di real estates ), terasa lebih akrab, lebih personal, lebih menyentuh hari kita.

“ By primary group I mean those characterized by intimate face to face assosiation and coorperations “ ( Cooley – Klasik Social Organization ).

Kelopok sekunder, secara sedehana, adalah lawan kelompok primer. Hubungan kita dengannya tidak akrab, tidak personal, dan tidak menyentuh hati kita. Contohnya : organisasi massa, fakultas, serikat buruh, dan sebagainya.

Perbedaan Utama Antara KeduaKelompok

Kelompok Primer

Kelompok Sekunder

Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas. Dalam artinya menembus kepribadian kita yang paling tersembunyi, menyingkapkan unsur-unsur backstage ( perilaku yang hanya kita tampakkan dalam suasana privat saja ). Meluas artinya sedikit sekali kendala yang menentukan rentangan dan cara berkomunikasi. Lambangnya, verbal maupun non-verbal. Kualitasnya bersifat dangkal ( hanya menembus bagian luar dari kepribadian kita ) dan terbatas ( hanya menembus dengan hal-hal terntenu saja). Lambang komunikasi umumnya verbal dan sedikit sekali non-verbal.
Komunikasi bersifat personal. Sifatnya unik dan tidak dapat dipindahkan ( non-tranferable )Keyword : Siapa dia?. Komunikasi bersifat impersonal.Keyword : Apakah dia?.
Komunikasi lebih menekankan aspek hubungan daripada aspek isi.

Komunikasi lebih menekankan aspek isi daripada hubungan

Ekspresif instrumental
Informal formal
  1. Ingroup-Outgroup ( Sumner )

Ingroup : kelompok-kita, Ingroup dapat berubah kelompok primer maupun sekunder. Perasaan ingroup diungkapkan dengan kesetiaan, solidaritas, kesenangan, dan kerja sama.

Outgroup: kelompok-mereka.

  1. Kelompok keanggotaan kelompok rujukan ( Theodore Newcomb, 1930-an )

Kelompok rujukan sebagai kelompok yang digunakan sebagai alat ukur ( standard ) untuk menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap.

Kelompok rujukan memiliki 2 fungsi : fungsi komparatif dan fungsi normatif.

  1. Kelompok deskriptif dan kelompok preskriptif ( John F.Cragan & David W.Wright 1980:45 )

Kategori deskriptif menunjukkan klasifikasi kelompok dengan melihat proses pembentukannya secara ilmiah.

Kategori preskriptif mengklasifikasikan kelompok menurut langkah-langkah rasional yang harus dilewati oleh anggota kelompok untuk mencapai tujuannya.

PENGARUH KELOMPOK PADA PERILAKU KOMUNIKASI

Social influence occurs whenever our behavior, feelings, or attitudes are altered by what others say or do “ – Baron dan Byrne ( 1979: 253 )

  1. Konformitas

Menurut kiesler dan kieser ( 1969 ), konformitas adalah perubahan perilaku atau kepercayaan menuju ( norma ) kelompok sebagai akibat tekanan kelopok – yang real atau yang dibayangkan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Konformitas, paradigma utama konformitas dalam buku ini, konformitas adalah produk interaksi antara faktor-faktor situasional dan faktor-faktor personal.

Faktor situasional : kejelasan situasi, konteks situasi, cara menyampaikan penilaian, karakteristik sumber pengaruh, ukuran kelompok, dan tingkat kesepakatan kelompok.

  1. Fasilitas sosial

Fasilitas sosial : fasilitas berasal dari bahasa prancis facile, artinya “mudah” ) menunjukan kelancaran atau peningkatan kualitas kerja karena ditonton kelompok. Kelopok mempengaruhi pekerjaan sehingga tersa menjadi lebih “mudah”.

  1. Polarisasi ( tendensius ke negatif )

Risky shift adalah gejala menuju Polarisasi. Ada juga yang mengatakan bahwa polarisasi disebabkan pada porporsi argumentasi yang menyokong sikap atau tindakan tertentu.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEEFEKTIFAN KELOMPOK

Faktor Situasional
  1. Ukuran Kelompok
  2. Jaringan Komunikasi
  3. Kohesi kelompok erat hubungannya dengan kepuasan. Kelompok yang sangat kohesif mempunyai suasana yang mempertinggi umpan balik, dan karena itu mendorong komunikasi yang lebih efektif.
  1. Kepemimpinan : komunikasi yang secara positif mempengaruhi kelompok untuk bergerak ke arah tujuan kelompok ( Craguan dan Wright, 1980 : 73 ). Ada 3 klasifikasi kepemimpinan ( White dan Lippit, 1960 : otoriter, demokrasi, dan laissez faire.
Faktor Personal Ada 2 dimensi interpersonal : kebutuhan interpersonal dan proses interpersonal.

  • Proses interpersonal meliputi : keterbukaan ( disclosure ), percaya, dan empati.
  • Kebutuhan interpersonal ( teori FIRO, Fundemental Interpersonal Relations OrientationWilliam C.Schultz ) : inclusion ( ingin masuk, menjadi bagian dari kelompok) ; control ( ingin mengendalikan orang lain dalam suatu tatanan hierarkis ) ; dan affection ( ingin memperoleh keakraban emosional dari anggota kelompok yang lain.
Peranan, seperti tindakan komunikasi, peranan yang dimainkan oleh anggota kelompok dapat membantu penyelesaian tugas kelompok, memelihara suasana emosional yang baik, atau hanya menampilkan kepentingan individu saja.
  1. Peranan pertama disebut peranan tugas kelompok ( group task roles )
  2. Peranan kedua, peranan pemelihaaan kelompok ( group building and maintenance roles )
  3. Peranan ketiga, peranan individual ( “ individual “ roles )