Analisis Pemberitaan : “Wah, Pidato Michelle Obama Bikin Heboh di Twitter, Mengapa?” >> Politik Virtual berbasis Komunikasi Massa.

Dunia mungkin bisa berbangga. Pasalnya, hampir seluruh hidup dapat diselesaikan dengan teknologi, khususnya Internet. Media yang dapat menjangkau seluk beluk lain negara bahkan benua itu, kini hadir sebagai strategi komunikasi politik yang cukup elegan dan efektif. Dalam tulisan ini penulis mencoba sedikit mengomentari strategi  tersebut yang dapat kita kaitkan dengan fenomena yang menarik saat ini.

Pada tanggal 6 September lalu itu Tanah Paman Sam, kembali digegerkan oleh pidato Ibu Negara, Michelle Obama di North Carolina, Amerika Serikat, seperti yang dilansir oleh www.republika.co.id  ( 7/9 )

bahwa sang Ibu negara cukup memberikan kesan positif di mata masyarakat dari Pidatonya yang secara disengaja diketik ulang pada salah satu akun Partai Demokrat.

Hal ini memiliki daya tarik untuk dibahas karena, Amerika lagi-lagi menunjukkan kepiawaian dalam berkomunikasi politik masa kini. Pidato kebangsaan ataukah pidato apapun jenisnya, mungkin tidak kepikiran oleh kita bagaimana komunikasi satu arah itu dapat dikemas menjadi komunikasi dua arah yang dapat diukur keberhasilannya.

Komunikasi dua arah identik dengan komunikasi interpesonal, dimana masing-masing komunikator dan komunikan memiliki struktur pesan yang dapat disesuaikan oleh keinginan masing-masing. Umpan balik yang diinginkan bahkan dapat dirasa secara langsung tanpa delay .

Namun dalam dunia virtual, komunikasi dua arah itu dapat dikemas menjadi komunikasi masa elektronik, yakni internet. Walaupun Internet masih dipertanyakan keabsahannya sebagai jenis komunikasi massa, namun asumsi itu dapat dikukuhkan dari aspek khalayak yang menyebar dan serempak. Alhasil menurut beberapa pakar Internet kini telah menjadi semi media massa-interpersona.

Internet kini semakin menjadikan dunia begitu dekat, dengan adanya media sosial seperti Twitter, Facebook, Myspice, dan lain-lain. Internet sukses besar membuat yang jauh menjadi dekat, yang dekat menjadi jauh. Karakteristik inilah yang kemudian membuat komunikator politik berlomba-lomba membuat media ini menjadi salah satu strategi komunikasi politiknya.

Masih inget kan kita dengan fenomena kemenangan Barack Obama pada pemilu Presiden Amerika Serikat, beberapa tahun lalu?.

Kemenangannya bukanlah kemenangan personal semata yang menawan, namun kemenangan dunia virtual yang membawa dirinya sebagai pesan yang akan disampaikan. Tanpa adanya media tersebut, tentu sangat mustahil Obama dapat meraih jumlah suara hampir 90% warga Amerika Serikat.

Kali ini apa yang dilakukan oleh suaminya, sang Ibu Negara pun mengikuti jejak sang perubah ( red-Obama). Amerika Serikat adalah negara yang tercatat sebagai negara pengguna Twitter terbanyak, yakni 140 juta akun. ( sumber : Semiocast, 2012 )

Tidak heran jika para komunikator politik menggunakan media sosial sebagai sarana paling efektif demi menjangkau 140 juta akun tersebut sebagai asumsi 140 juta masyarakat Amerika Serikat. Selain itu analisis demografi yang lain ialah, Amerika Serikat merupakan negara maju yang memiliki tingkat ‘melek teknolgi yang tinggi.

Selain alasan demografi tersebut, ternyata berdasarkan geografis, sebagai penganut district, tentu tidak mungkin dapat dijangku dengan tatap muka. Hal ini lah yang kemudian menjadikan Twitter sebagai sarana komunikasi yang ‘informatif-interaktif’ oleh Obama kepada masyaraktnya.

Ide menarik ketika sebuah pidato ikut dijadikan produk propaganda yang ditulis kembali dalam bentuk kicauan tidak lebih dari 140 karakter. Hanya mencatat yang perlu dan penting, dengan sukse besar menghasilkan Trending Topic peringkat pertama sebagai bentuk umpan balik.

Daya tarik Michelle Obama yang dijuluki #FirstLady ini, memang cukup memukau. Kekuatan personalitas yang dibentuk sebagai citra perempuan masa kini jelas tergambar dari citra karakteristik media virtual saat ini, sesuai karakteristik Amerika.

Secara teori, pemilik blog berusaha mengkaitkan dengan teori komunikasi massa yakni teori agenda setting, yang memusatkan perhatian pada efek media massa terhadap pengetahuan. Sebuah akun twitter menyebarkan isi pidato berupa potongan kalimat melalui twitter secara berkesinambungan, maka jalinan komunikasi pada twitter itu akan seperti roda estafet yang akan meneruskan kepada khalayak lainnya. Dari individu ke individu lainnya, dari komunitas ke komunitas lainnya berjalan simultan.

Perkembangan itulah yang kemudian patut kita contoh sebagai strategi komunikasi politik di Indonesia. Sebagai negara yang menjungjung tinggi keterbukaan publik serta keterjangkauan akses publik sudah selayaknya para penasihat-penasihat komunikasi politik mencipatkan metode penyampaian pesan yang dapat menjangkau kepada segala lapisan masyarakat.

Iklan

Pujangga Cilik, Tersenyumlah untuk Bangsa

Pagi-pagi ini kembali saya mencari inspirasi untuk pelajaran pertama untuk adik-adik ORCID. Puisi. Ya, materi puisi dan segalanya tentang puisi itu adalah kesempatan saya mengajari adik-adik di komunitas peduli pendidikan di Depok ini. Awalnya memang saya tidak ada ilmu mengenai puisi, karena saya bukanlah mahasiswi sastra ataukah pelaku seni ulung negeri ini. Saya hanyalah penikmat karya seni, dan sempat mencicipi indahnya membaca puisi di berbagai kompetisi. Alhamdulilah saya menang… hehehe..

Oke, balik ke cerita saya. Dengan segelas cokelat panas, pagi ini pun saya berhasil mendapatkan metode pengajaran mengenai puisi. Okey, saya tau bahwa mengajar itu sangat sulit. Terlebih ORCID adalah bentuk sekolah informal, dimana tentu saja cukup berbeda dengan sekolah-sekolah formal lainnya yang bersifat profit oriented. Komunitas ini adalah menjunjung tinggi kebebasan dan kepedulian.

Saya pun berpikir metode apa yang tidak membuat mereka tidak bosan ya??

akhirnya saya mencoba membuat sketsa atau alur penyampaian materi versi saya tentunya. hehe..

pukl 15.00 pun tiba. Saya dengan sigap dan semangat berangkat menuju kampung pendidikan di bilangan Depok lama. Setibanya di sana, gerombolan calon pujangga cilik sudah menhampiri saya sambil berteriak, ” Kakak Kantri…!! Aku kangen.. !! “. 

Dengan suara bising lajuan kereta, saya pun memulai memberikan materi mengenai puisi. Oh iya, saya menyebut mereka sebagai pujangga cilik, karena saya percaya bahwa setiap orang bisa membuat puisi dan membaca puisi.

pujangga cilik itu berjumlah 25 orang. Mereka berbagai usia, tingkat ekonomi, jenis kelamin, dan karakteristik tentunya.

Dengan sedikit ilustrasi dan imajinasi saya, saya mencoba mengajak mereka untuk membentuk diri mereka seperti apa yang mereka inginkan. Apapun yang mereka inginkan.

Jadinya, unik ternyata, mereka menyebut diri mereka tidak lagi berupa nama, melainkan sesuatu yang mereka inginkan. Seperti, Bintang, Langit, Air, Udara, Presiden, Putri, Raja, Buaya, bahkan ada yang unik loh, ada yang menyebutnya sebagai Mata pelajaran. Unik kan??.

Setelah perkenalan, saya pun memulai perkenalan dengan apa itu puisi. Membuat mereka melatih olah vokal, berteriak, menari, hingga pada mencurahkan isi hati berupa tulisan. Kemudian tulisan yang sudah mereka buat dibacakan satu persatu di depan pujangga cilik lainnya.

Walau masih banyak yang malu, tapi akhirnya mereka menunjukkan keberaniannya berkat ‘sentuhan’ impuls yang membuat mereka gerah juga, akhirnya mau enggak mau maju juga. hahaha…

Alhasil mereka semua bisa loh membaca puisi dengan gaya mereka sendiri. hm..itu belom final ya, karena akan ada materi puisi lainnya di hari Minggu. Ada hal yang membuat saya mengaharu biru, ketika di akhir kami belajar.

Saya mencoba menanyakan apa yang mereka inginkan ketika mereka bisa berpuisi. Ada yang bilang, mereka ingin menjadi seniman, ada juga yang ingin ikut lomba, ada yang ingin masuk televisi, dan dianatara mereka ternyata ada yang mau membuat bangsa tersenyum. Kebayang enggak tuh, ucapan itu terlontarkan dari anak usia 9 tahun. Saya aja mungkin tidak memiliki pemikiran itu seusianya.

Akhirnya saya menyimpulkan, apapun bisa kita perbuat demi membuat bangsa tersenyum. Mungkin tidak serumit dan sejelimet hal besar untuk bangsa, akan tetapi dengan hal yang kecil dan mungkin saja, dengan tidak terpikirkan oleh kita.

Oke.. ceritanya bersambung ya,, lain kali saya akan menulis apapun yang menarik tentang pujangga cilik itu ya ..

Adiooos…!!^^

Behind The Scene of “Reunion”

Lemme Sing a Song,

” Don’t You Worry Just Be Happy, Teman mu Di sini..

Kamu sangat berarti, Istimewa di Hati Selamanya Ra..sa ini…

Jika Tua nanti kita telah hidup masing-masing ..

Ingatlah hari ini…”

Lirik lagu Project Pop ini juara banget loh bikin diri ini selalu bersyukur menjalani kehidupan. Karena apa, Karena saya punya teman, saudara, dan sahabat yang senantiasa mencintai dan menyayangi karena Allah SWT.

Kalau kata salah satu lirik lagu yang lain, Persahabatan itu bagaikan kepompong

atau Sheila On 7 yang percaya bahwa Kisah Klasik Untuk Masa Depan

mau liriknya kayak gimana, tapi tetep ya.. pertemanan, persahabatan, dan persaudaraan itu sangat Indah. Apalagi ternyata ikatan itu dilandasi oleh ketulusan hanya karena-Nya. Itu yang namanya hati, Insya Allah deket. Walaupun jarang ketemu, jarang interaksi karena jarak tempuh yang lumayan jauh.

Kali ini, si pemilik blog lagi pengen review seputar makna persahabat yang terjalin cukup lama, yang akhirny bertemu kembali dalam sebuah waktu yang bernama ” Halal bihalal “.

Moment nya memang rata-rata terjadi ketika lebaran. Jadi maksudnya adalah biar menyelam minum air gitu. Halal Bihalal plus Reunian. Kalau dilihat dari momentnya, si pemilik blog ini cukup antusias untuk dateng bertemu temen lama. Sederhana, karena cuman setahun sekali, dan masih ada umur, kayaknya temu kangen itu asik juga.

Jadilah niat untuk me-istimewakan mereka untuk dimasukan ke agenda saya selama syawalan. Reunian saya dimulai dengan pertemuan para mantan aktivis kampus ( Red – BEM’ers Unpad ). Reunian ini cukup eksklusive memang, karena sangat disayangkan yang hadir tidak semua mantan anak bem unpad, terlebih mayoritas dari kami adalah angkatan ( lebih ) tua dari saya, kisaran lima tahun lah ya. Jadilah saya yang paling muda dalam pertemuan itu.

hingga pada suatu ketika bertemu lah saya dengan mereka semua. Lepas temu kangen yang udah lama enggak ketemu. Hal itu pun terbukti yang dateng ternyata ada yang belum saya ketahui loh. Walaupun berasa paling muda, saya bersyukur bisa belajar banyak dari mereka. Mulai dari mengejar impian kuliah ke luar negeri atau bahkan sampai pada profesi sebuah pengusaha, atau mungkin mencari inspirasi nikah muda,hahaha…maklum diantara mereka ada yang udah menikah, atau bahkan sedang proses menuju pernikahan.

Bener kata pribahasa, kalau kita berteman dengan penjual parfume, maka kita akan terkena imbas bau dari si ‘ penjual ‘ . Dan kali ini saya di bulan syawal ini, harapan besarnya sih, bisa ketularan sama mereka. Aamiin….

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.