Pujangga Cilik, Tersenyumlah untuk Bangsa

Pagi-pagi ini kembali saya mencari inspirasi untuk pelajaran pertama untuk adik-adik ORCID. Puisi. Ya, materi puisi dan segalanya tentang puisi itu adalah kesempatan saya mengajari adik-adik di komunitas peduli pendidikan di Depok ini. Awalnya memang saya tidak ada ilmu mengenai puisi, karena saya bukanlah mahasiswi sastra ataukah pelaku seni ulung negeri ini. Saya hanyalah penikmat karya seni, dan sempat mencicipi indahnya membaca puisi di berbagai kompetisi. Alhamdulilah saya menang… hehehe..

Oke, balik ke cerita saya. Dengan segelas cokelat panas, pagi ini pun saya berhasil mendapatkan metode pengajaran mengenai puisi. Okey, saya tau bahwa mengajar itu sangat sulit. Terlebih ORCID adalah bentuk sekolah informal, dimana tentu saja cukup berbeda dengan sekolah-sekolah formal lainnya yang bersifat profit oriented. Komunitas ini adalah menjunjung tinggi kebebasan dan kepedulian.

Saya pun berpikir metode apa yang tidak membuat mereka tidak bosan ya??

akhirnya saya mencoba membuat sketsa atau alur penyampaian materi versi saya tentunya. hehe..

pukl 15.00 pun tiba. Saya dengan sigap dan semangat berangkat menuju kampung pendidikan di bilangan Depok lama. Setibanya di sana, gerombolan calon pujangga cilik sudah menhampiri saya sambil berteriak, ” Kakak Kantri…!! Aku kangen.. !! “. 

Dengan suara bising lajuan kereta, saya pun memulai memberikan materi mengenai puisi. Oh iya, saya menyebut mereka sebagai pujangga cilik, karena saya percaya bahwa setiap orang bisa membuat puisi dan membaca puisi.

pujangga cilik itu berjumlah 25 orang. Mereka berbagai usia, tingkat ekonomi, jenis kelamin, dan karakteristik tentunya.

Dengan sedikit ilustrasi dan imajinasi saya, saya mencoba mengajak mereka untuk membentuk diri mereka seperti apa yang mereka inginkan. Apapun yang mereka inginkan.

Jadinya, unik ternyata, mereka menyebut diri mereka tidak lagi berupa nama, melainkan sesuatu yang mereka inginkan. Seperti, Bintang, Langit, Air, Udara, Presiden, Putri, Raja, Buaya, bahkan ada yang unik loh, ada yang menyebutnya sebagai Mata pelajaran. Unik kan??.

Setelah perkenalan, saya pun memulai perkenalan dengan apa itu puisi. Membuat mereka melatih olah vokal, berteriak, menari, hingga pada mencurahkan isi hati berupa tulisan. Kemudian tulisan yang sudah mereka buat dibacakan satu persatu di depan pujangga cilik lainnya.

Walau masih banyak yang malu, tapi akhirnya mereka menunjukkan keberaniannya berkat ‘sentuhan’ impuls yang membuat mereka gerah juga, akhirnya mau enggak mau maju juga. hahaha…

Alhasil mereka semua bisa loh membaca puisi dengan gaya mereka sendiri. hm..itu belom final ya, karena akan ada materi puisi lainnya di hari Minggu. Ada hal yang membuat saya mengaharu biru, ketika di akhir kami belajar.

Saya mencoba menanyakan apa yang mereka inginkan ketika mereka bisa berpuisi. Ada yang bilang, mereka ingin menjadi seniman, ada juga yang ingin ikut lomba, ada yang ingin masuk televisi, dan dianatara mereka ternyata ada yang mau membuat bangsa tersenyum. Kebayang enggak tuh, ucapan itu terlontarkan dari anak usia 9 tahun. Saya aja mungkin tidak memiliki pemikiran itu seusianya.

Akhirnya saya menyimpulkan, apapun bisa kita perbuat demi membuat bangsa tersenyum. Mungkin tidak serumit dan sejelimet hal besar untuk bangsa, akan tetapi dengan hal yang kecil dan mungkin saja, dengan tidak terpikirkan oleh kita.

Oke.. ceritanya bersambung ya,, lain kali saya akan menulis apapun yang menarik tentang pujangga cilik itu ya ..

Adiooos…!!^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s