Siluman Air dan Relawan Banjir

” Jangan Tunggu Tenggelam “.

” Walau Surut Semangat Membantu tidak Boleh Surut “.

daaaaaaaan.. masih banyak lagi jargon – jargon pendorong donatur dan relawan yang peduli untuk banjir di Jakarta ( 14/1 ).

But, Anyway sebenarnya sih enggak masalah juga harus dibuat jargon – jargon semacam itu. Toh juga nantinya untuk soal kemanusiaan. Apalagi, kondisi kemarin jakarta dan beberapa kota mengalami banjir yang cukup dahsyat dan membuat cetar membahana para strata sosial mana pun, rendah, sedang, tinggi. Bagaimana enggak cetar, Jakarta adalah jantung ibu kota negara Indonesia yang mana tingkat perekonomiannya cukup tinggi. Belum lagi, banyak banget lah ya, pekerja-pekerja dari luar kota yang mengadu nasib di Jakarta.Kebayang dong, kalau Jakarta tenggelam, apa kabar dengan keluarga mereka yang ada di Jawa, Bandung, Depok, Sumatera, dan beberapa wilayah yang cukup jauh dari Jakarta.

Bentar dulu, jangankan di Indonesia, ternyata kondisi banjir ( Kemarin ) ternyata bertengker di urutan pertama World Trending Topic loh. Antara bangga atau miris ya, seharusnya kita. Satu sisi memang ini adalah faktor alam. Tapi kalau kondisi di Jakarta, Hm….ya….. enggak bisa 100% persen harus bilang, ini adalah faktor alam.

Ya, sekali lagi hujan yang menyebabkan kebanjiran di Jakarta bukan kesalahan alam. Tapi celakanya, masih banyak orang-orang yang menganggap bahwa alam lah penyebab banjirnya itu semua. Mau tau buktinya apa?

Berikut, adalah beberapa jenis pemberitaan media kita ( Indonesia punya ) tentang hujan :

Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memerkirakan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih akan terus terjadi di wilayah Jabodetabek. 

Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Mulyono Prabowo menyatakan awan hujan masih melimpah di atas Jabodetabek, terutama Jakarta, dengan konsentrasi cukup tinggi di wilayah barat.

Kemudian ada kecenderungan awan untuk berpindah ke timur lalu selatan hingga satu minggu ke depan.

Datangnya hujan tersebut biasanya terjadi pada sore dan malam hari. Bila intensitas awannya cukup tinggi, durasi hujan bisa semakin memanjang hingga pagi.”Karena dinamika atmosfer terkait kondisi cuaca lokal dan global, hujan kemungkinan akan terjadi malam hari dan ada kemungkinan untuk terus turun hingga pagi,” papar Mulyono saat dihubungi, Minggu (20/1).

Limpahan awan hujan di atas wilayah Jakarta tersebut disebabkan adanya monsun Asia dengan udara dingin bertekanan tinggi yang kaya uap air saat ini sedang berembus ke tenggara. Monsun kemudian bertemu udara hangat bertekanan rendah yang mengalir dari Benua Australia.

“Terjadi tarik-menarik sebabnya awan hujan yang melimpah tersebur manggon atau tertahan di Jakarta,” paparnya. Tak hanya Jakarta. Awan hujan turut melimpah dan meluas di sepanjang Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.

Selama dua hari ke belakang hingga saat ini, monsun sedang pada pasang minimum atau melemah. Tapi, gejala pasang surut ini merupakan hal yang wajar dan kemungkinan besar akan kembali aktif pada dua hingga tiga hari ke depan.

“Jadi ada kalanya akan hujan sepanjang waktu selama dua hingga tiga hari, lalu kemudian break sebentar selama masa pasang minimum sekitar dua hingga tiga hari, kemudian hujan lagi. Kebetulan saat ini dan dua hari kemarin sedang masa break,” jelas Mulyono.

Pola periodik hujan semacam ini diprediksi BMKG berpotensi terus terjadi hingga akhir Februari 2013. Intensitas curah hujan juga akan meningkat pada awal pekan ini, terutama Jakarta Barat dan Jakarta Timur dengan sedikit melebar ke bagian utara lalu Depok dan Bogor. “Intensitas hujan ringan hingga berat antara 20 mm-100 mm,” papar Mulyono.

Di wilayah Jakarta, curah hujan tertinggi dicatat BMKG hingga Kamis (17/1) di Kedoya 125 milimeter, Cengkareng 103 mm, dan Tanjung Priok 95 mm. Wilayah lain turut diguyur hujan ringan hingga sedang dalam durasi cukup lama yakni Kemayoran 81 mm, Pantai Indah Kapuk 80,5 mm, Ciledug 59 mm, dan Pakubuwono 57 mm

Menurut Kepala Bidang Bina Observasi Meteorologi BMKG Ahmad Zakir, intensitas curah hujan tahun ini sebenarnya biasa saja jika dibandingkan dengan intensitas curah hujan pada 2007. “Saat itu, intensitasnya mencapai 340 mm,” ujar Zakir.

Namun, lanjut Zakir, secara metereologis curah hujan yang jatuh di puncak penghujan tahun ini memang cukup memberi dampak kerusakan yang cukup besar lantaran turun secara merata dengan durasi yang luar biasa. “Tahun 2007 itu, hujan besar terkonsentrasi di satu wilayah saja,” jelas Zakir. (YA/OL-5).

Dari kesimpulan di atas secara tidak langsung, bahwa manusia menyalahkan kodrat alam, yang Allah SWT berikan. 

Huaa.. saya jadi inget obrolan dengan teman saya, Luthfan Jatnika. Doi sekarang masih menyelesaikan thesis di Teknik Lingkungan ITB. Obrolan mengenai lingkungan Jakarta yang sebenarnya adalah kesalahan dari manusia. Terlebih faktor banjir yang menimpa Jakarta. Penyebabnya antara lain :

1. Jakarta banjir karena infrastruktur drainase tidak memadai.

2. Kondisi DAS yang beralih fungsi.

3. Reklamasi pantai membuat kemiringan lahan berkurang.

ketiga point tadi udah pasti terlihat ya, rendahnya tanggung jawab masyarakat terhadap lingkungan menjadi penyebab utama. Terutama di wilayah Jakarta Utara, ” Banyak manusia tajir yang bikin usaha hotel, resort, dan macem-macem. Semacam setiap orang pengen banget punya lapak di pantai “. 

Padahal ulah mereka itu menyebabkan pengurugan tanah di pantai, yang otomatis lahan datar di pantai itu jadi panjang. Kalau udah panjang air akan susah ngalir. Inget dong, sifat air yang berbunyi, MENGALIR DARI YANG TINGGI KE YANG RENDAH. Nah itu dia akibatnya arus air menjadi lemah, sedangkan volume air dari daerah hulu itu banyak. Jadinya ketahan di daerah kota ( Baca : Banjir ).

KAMI MELIHAT, KAMI PEDULI

Well, jauh dari bencana karena ulah kita sendiri, patut disyukuri karena masih banyak masyarakat yang baik dan rela meolong satu sama lain. Posko bantuan banjir bejubel di pinggir-pinggir jalan. Masyarakat dari semua kalangan sama-sama membuat hash tag SAVEJAKARTA.

Bahkan si pemilik blog ini bersama pasukan pemuda depok giat bener mendirikan posko #depokpeduli. Sedikit cerita nih kawan, ide gerakan #depokpeduli itu spontan banget terlintas di pikiran. Dan ternyata ide ini menyebar dengan hangat di hati pemuda pemudi depok. Bermodalkan jaringan, kerabat, dan kemauan, Kami pun yang terdiri dari beberapa pemuda wilayah depok mengumpulkan dana sebesar 3.850.000 dan beberapa bantuan sembako, pakaian, obat-obatan,dan keperluan sanitasi terkumpul 1 mobil pick up penuh.

DEPOK DAN JAKARTA, LIKE SON LIKE FATHER

Satu senjata kami untuk tetap nekat membuat posko #depokpeduli adalah, kami memiliki pemikiran bahwa Depok dan jakarta itu, Like Son, Like Father. Sebagai kota yang berbatasan langsung dengan Jakarta, sangatlah andil dalam merasakan nasib jakarta. Toh Depok pun senantiasa mengirimkan debit volume air juga ke Jakarta. Selain itu, hampir seluruh warga depok mengadu nasib di Jakarta. Banyak yang akhirnya libur karena banjir. Jadi, sudah seharusnya deh, kita sebagai warga Depok ikut membantu nasib Jakarta. 

Kerja sama yang satu padu, tanpa melihat agama, ras, dan apapun. Kami pun bersama mendistribusikan bantuan logistik ke tempat bencana. Dengan analisis keterjangkauan dan kebutuhan kami membidik 4 titik banjir antara lain Karet Tengsin, Petamburan, Kampung Melayu, dan Bidara Cina.

BELAJAR DARI BANJIR

Pengalaman baru saya dapat selama #depokpeduli. Mulai dari pendirian posko, survei titik banjir, dan pendistribusian logistik. Hampir selama 24 tahun ini mungkin fenomena banjir udah enggak asing di mata dan telinga saya. Tapi baru kali ini saya tergerak untuk peduli.

Satu dari kegiatan yang tidak akan saya lupakan adalah, ketika saya harus survei titik banjir sekaligus menjadi relawan di titik banjir itu. Ceritanya, saya lagi ada di daerah Karet Tengsin. Bagi yang belum tau letak Karet Tengsin, coba deh jalan-jalan ke daerah Sudirman Park atau ke London School. Nah, Karet Tengsin itu tepat di samping perukoan dan apartemennya.

Geografinya, Karet Tengsin ini memang pada dasarnya adalah pemukiman padat penduduk. Bahkan untuk banjir pun tidak terlihat dari jalan raya. Padahal, pada kenyataanya, di pemukiman itu sudah banjir setinggi 2 meter.

Waktu saya dan teman-teman mencari lokasi pengungsian, kami sempat melihat ketinggian air. Rumah-rumah penduduk sudah tak terlihat dari tempat saya berdiri.

Kami pun berjalan sambil berbincang dengan warga. Kondisi yang dialami masyarakat Karet. Ternyata terdapat 3 titik pengungsian. Pertama di Masjid, Kedua di Apartemen, dan ketiga di gang samping Sudirman Park.

Ada yang unik, kami sambangi satu persatu. Lokasi pertama kami menuju ke dalam Masjid. Untuk menuju ke sana, ternyata cukup sulit. Dibutuhkan kendaraan perahu untuk menuju ke sana atau memanjat pagar yang di dihubungkan dengan kayu penyebarangan seadanya.

Bagi saya ini cukup menegangkan. Intinya sih, saya takut jatuh ke dalam air yang ketinggiannya 2 meter. Entah mengapa ketakutan itu nihil di saat saya melihat sejumlah anak usia 9 tahunan berlalu lalang melewati jembatan itu sambil membawa makanan. Akhirnya saya singkirkan ketakutan dalam diri saya, dan saya pun berjalan menuju Masjid dengan cara memanjat pagar dan menyebarngi jembatan.

Jembatan yang saya lalui ini, hanya dibuat dari 4 bambu yang dipotong panjang sekitar setengah meter dengan 1 bambu sebagi pegangannya. Jembatan ini baru dibuat ketika banjir di karet meluas. Kondisi jembatan ini tidak begitu kuat. Sesekali saya harus menahan keseimbangan ketika jembatan bergeser – geser. Wow.. Horor

Dengan susah payah saya dan teman-teman melawan rasa takut. Tidak lama, kami pun sampai di pekarangan masjid. Dengan perlahan, kami berjalan menelusuri genangan air setinggi betis orang dewasa. Terlihat jelas di mata kami, bagaimana binatang-binatang kecil ( cacing, tikus, dan ikan ) bermain-main di genangan itu. Sempat salah satu teman yang spontan meloncat karena ketakutan. Pemandangan itu sungguh membuat perut tiba-tiba bergejolak karena geli melihat tingkah lakunya.

Kejadian tadi kami anggap sebagai bumbu perjalanan yang bisa mencairkan suasana. Terimakasih Fuji. ^^

Lanjut kepada kunjungan di area masjid. Setibanya di sana, ada hal menakjubkan. Masjid itu terdiri dari 2 lantai. Di mana lantai kedua dipakai untuk ditempat pengungsian para lansia, sedangkan lantai pertama, tidak dipakai.

Jumlah pengungsi di tempat itu sebanyak 150 orang. Angka itu masih terbilang tentatif. Karena beberapa pengungsi sering berpindah tempat, dari masjid ke tempat ungsian lain, seperti di Apartemen.

Mendengar kabar bahwa masih ada tempat pengungsian, setelah melakukan pendataan jumlah pengungsi dan logistik yang dibutuhkan di Area Masjid, kami pun segera bergegas menuju lokasi kedua yakni Apartemen.

Awalnya agak terkejut tempat pengungsian kedua berada di dalam Apartemen. Sekilas, antara Masjid dan Apartemen terbilang jauh secara fasilitas. Tapiiiii……….

Akhirnya kami menyadari bahwa, TIDAK ADA TEMPAT YANG MENGENAKAN DI TEMPAT PENGUNGSIAN SEKALIPUN ITU DI APARTEMEN.

kondisinya seperti ini, seluruh pengungsi disatukan dalam ruangan yang besar berukuran 7 x 10 meter. Semula ruangan ini disewakan pihak apartemen apabila ada acara-acara.

Bau amis, dan tidak sedap lainnya bercampur menjadi satu sepanjang jalan kami menuju aula. Lantai yang kotor, ruangan yang pengap mungkin menjadi faktor tidak adanya udara bersih yang berputar. Tampak sejumlah balita mengisi ruangan itu. Tidak hanya itu sejumlah anak usia sekolah dan orang dewasa lebih banyak di tempat ini.

Sebagian teman saya, tidak kuat untuk masuk ke dalam ruangan, akibat bau tidak sedap yang semakin memasuki ruangan itu, semakin kuat baunya. Mau tidak mau saya dan Sandi ( Salah satu teman ) memasuki ruangan dan mendata jumlah pengungsi serta kebutuhan logistik.

Di ruangan itu, terdapat 1 televisi berukuran 20 inci tanpa remote yang ditonton sejumlah 250 pengungsi . Suara tangisan balita serta hirup pikuk pendistribusian saling beririma satu sama lain.

Ya, bantuan di tempat ini terbilang makmur. Menurut sumber yang kami temui, Ibu Teti selaku kordinator pengungsi di sana, bahwa bantuan ini semua berasal dari manajemen Apartemen dan penduduk Apartemen itu sendiri. Walau demikian, dalam hal sanitasi tubuh, kesehatan, dan kebutuhan pakaian dalam sangat dibutuhkan. Kondisi jumlah kamar mandi yang tidak banyak, kebersihan yang seadanya, menjadikan tempat pengungsian ini jauh dari kenyamanan.

Tidak lama data kami peroleh, saya dan teman-teman kemudian bergegas menuju lokasi pengungsian  ketiga yakni di samping Sudirman Park. Untuk sampai ke sana, kami harus berjalan sekitar 100 meter ke arah Sudirman Park. Lokasi kali ini sulit terdeteksi. Mengapa?!.

Kondisi jalan yang sempit, dan terdapat di dalam gang, tentu sulit ditemui orang banyak. Setibanya di sana, kami bertemu dengan beberapa relawan dari Dompet Dhuafa dan IMZ. Jika dibandingkan dengan kedua lokasi pengungsian ini, tempat ini jauh dari beruntung. Dapur umum, kesehatan, air bersih, pakaian, serta lampu masih tersedia.

Di sana, saya bersama tema-teman membantu menjadi relawan Therapy Healing kepada seluruh anak usia sekolah. Kegiatan ini bertujuan untuk menghibur pengungsi anak kecil, sekaligus memberikan edukasi. Belajar sambil bermain, bernyanyi sukses besar membuat mereka melupakan sejenak atas bencana banjir yang mereka alami.

Sejumlah 30 orang berkumpul di dalam masjid. Awalnya kami dibuat kewalahan dengan ulah mereka. Maklumlah, mereka cukup hiperaktif. Tapi Alhamdulilah nih, Therapy Healing berjalan lancar selama 3 jam. Sejumlah dongen ” Siluman Air ” menjadi senjata utama kami sebagai relawan. “Siluman Air” bersifat edukasi yang menjelaskan bagaimana, mengapa, dan seharusnya apa mengenai banjir disampaikan dengan metode audio teaching berbentuk pembacaan dongen.

Tak terasa waktu senja menyongsong, kami berempat pun segera pulang menuju rumah masing-masing.

Ketika itu, Sabtu Malam (18/1) saya dan teman-teman berkumpul melakukan kordinasi terkait rencana teknis pendistribusian logistik. Bertempat di Aula RW O8 komplek mampang indah 1 sejumlah pemuda depok berkumpul. Hingga akhirnya kami putuskan untuk mendistribusikan keesokan harinya.

Keesokan harinya….

PENDISTRIBUSIAN LOGISTIK

Minggu (19/1) pendsitribusian pun tiba. Sejumlah 30 orang pemuda #depokpeduli berkonvoi menyampaikan logistik ke 4 titik banjir, dengan mekanisme sebagain logistik ada yang kami drop untuk disumbangkan di posko Sekre Fakultas Teknik UI. Di sana, saya berkordiasi dengan teman satu perjuangan di BEM SI, Rani. Disusul bertemu dengan Maman dan Dicky. Kami membantu bantuan logistik untuk penduduk Bidara Cina dan Petamburan. Alhamdulilah wasyukurillah.. silaturahmi masih terjalin.

Setelah drop beberapa logistik dan sejumlah uang tunai, pendistribusian kami pun melaju menuju Karet Tengsin, Kampung Melayu, dan Manggarai. Jakarta sore itu berjalan dengan sangat cepat, tidak terasa matahari pun terbenam dengan tanpa rasa lelah yang kami alami.

Pendistirbusian kami, di daerah Tengsin, berlangsung secara teratur dengan bantuan adik-adik kecil penduduk setempat untuk saling estafet membawa logistik sampai ke pengungsian. Ya.. banjir di sana sudah surut. Ketika kami melakukan pendistribusian, saya sangat terkejut. Karena kontur tanah di sana menerusuk ke dalam. Ada pemukiman dalam pemukiman.

” Pantesan banjir “. Guman saya dalam hati.

Banjirnya pun cukup dalam ternyata. Bahkan perumahan dan tempat parkir yang kami lihat saat itu adalah, danau yang terlihat jelas ketika kami survei. Kebayang dong dalamnya banjir di Tengsin?!.

Sampah-sampah menumpuk pasca banjir, masih ada di pinggir-pinggir jalan dan pemukiman. Sejumlah penduduk masih mengungsi di dalam Masjid. Muda mudi setempat tampak duduk-duduk sambil menggoda pejalan kaki.

Lain halnya Tengsin, lain halnya dengan Kampung Melayu dan Manggarai. Banjir memang sudah tidak menggenang jalan raya. Akan tetapi banjir masih menggenangi rumah-rumah warga yang ada di pinggir kali ciliwung. Pemukiman itu benar-benar pinggir kali. Kondisi listrik mati total.

Di sana, kami tidak lama. Setelah drop logistik, kami pun segera bergegas pulang. Seluruh logistik habis. Rasa lelah kini menggerogoti tubuh kami. Namun walau demikian, rasa kepuasan diri akan niat tulus membantu terlaksana sudah.

Hm..ya begitulah cerita saya terkait #depokpeduli banjir Jakarta. Banyak pengalaman yang saya dan tema-teman rasakan.

Harus kita syukuri dalam hidup, bahwa dapat hidup di pemukiman yang bersih tidak banjir, Makan tanpa rasa hambar, mandi tanpa bau, badan tanpa penyakit kulit, itu semua adalah anugerah yang harus kita syukuri.

Sebagai rasa syukur itu semua, Ayo.. guys, kita ubah pola hidup dari diri kita sendiri. Pola hidup sehat dan menjaga hidup sehat itu sendiri. Hujan memang fenomena alam, tapi bencana alam, mungkin berasal dari ulah kita.

Semoga banjir kali ini menjadi pembelajaran untuk seluruh korban banjir maupun penyumbang bantuan.

Adios

*Galeri

Banjir Tengsin Tanggerang

Banjir Tengsin Tanggerang

#depokpeduli

#depokpeduli

Therapy Healing

Therapy Healing

Adik-adik pengungsi lagi makan bersama

Adik-adik pengungsi lagi makan bersama

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s