Ada yang Hilang

Berjalan menelusuri komplek Mampang Indah Depok 1 di malam hari sepulang kantor itu rasanya langka. Alih-alih menghindari argo taksi yang tak serasi dengan nominal uang di dompet, mau tidak mau sebelum sampai tepat di depan pagar rumah, saya cukup antisipasi dengan angka digital yang bergulir tiap menit. Hingga di nominal 30.100 rupiah saya turun di depan gang komplek yang benar saja, bukan gang rumah saya.

Komplek kami, khususnya Mampang Indah 1 Depok ini sangat mungil. Apabila kita menelusuri masuk ke dalam komplek, kita akan melihat jalan aspal nan apik menjadi penengah rumah-rumah di kiri kanan. Lampu-lampu neon ataupun bohlam kian menyorot terang seakan melindungi sunyi gelapnya malam. Pohon-pohon beraneka ragam jenisnya, akan menjadi hijau damainya wilayah bekas rawa ini. Yeah, kami hanya 5 Rumah Tangga dengan jumlah penduduk kurang lebih 300 jiwa. Memang tidak banyak. Walau demikian, dengan One Step Closer ini kamu akan disuguhkan harmonisasi nuansa keluarga yang tumbuh di sini. Jika setiap pagi, banyak warga berolahraga entah jogging, jalan santai, ataupun ber sepeda harmonisasi itu kian lengkap dengan senyum hangat dan tegur sapa. Belum lagi, jika ada kegiatan kewarga-aan yang bersifat sosial seperti peringatan kemerdekaan ataupun hari raya, komplek ini kembali menyuguhkan kerinduan tiada tara dengan beragam kejadian dan perhelatan yang berasal dari kami dan untuk kami, yang tidak terlalu meriah, namun cukup hangat dan memorable.

Tidak terasa sudah lebih 20 tahun saya hidup, tumbuh dan kembang di komplek penuh cerita ini. Seperti malam ini, malam di mana saya terpaksa berjalan menelusuri jalan menuju rumah. Di pertigaan, saya memilih untuk melalui jalan ini. Terus berjalan, angin sedikit menusuk namun saya sadar ini adalah malam. Tentu saja, pukul 23:10 adalah waktu yang tidak sore lagi. Mereka pun sudah mulai dengan alur cerita bunga mimpi yang berputar-putar dengan harapan atau ketakutan.

Sekali lagi, langkah ini tetap cepat. Namun, tepat di depan rumah seorang kawan, saya hanya melirik seraya mengucapkan salam dan mengucapkan selamat beristirahat. Rumah itu kosong. Gelap. Saya berfikir seisi rumah sudah tertidur. Begitu juga dengan rumah teman-teman saya yang lain, karena ternyata jika memasuki arah masuk depan komplek mampang indah, rumah saya masuk dalam jajaran rumah terakhir. Maka dari itu, dengan tergopoh-gopoh mulut saya tetap mendikte dan menoleh rumah mereka. Dan seterusnya tetap menjadi kebiasaan saya ketika sedang menelusuri jalan komplek ini.

Suatu ketika, pada suatu malam saya ingin bermain pada sebuah rumah sahabat yang letaknya cukup jauh dari rumah saya, saya menemukan sesuatu kejanggalan. Rumah itu kembali terlihat sepi. Rush hitam yang biasa terparkir di depan rumah, ternyata beberapa hari ini tak kunjung menunjukkan di indera saya. Pecah, ketika saya mengetahui bahwa sahabat saya dan keluargnya sudah pindah rumah. Bukan di depok. Ya, akhirnya mereka keluar dari dunia mampang ini.

Mengetahui itu, saya benar-benar menjadi melankolis. Rasanya ada yang hilang ketika mengetahui mereka sudah pindah. Tika dan keluarganya, sudah begitu hangat di kehidupan saya. Kami (Saya dan Tika) tumbuh bersama semenjak taman kanak-kanak. Walaupun, setelahnya kami tidak sekelas lagi, namun komplek ini mempertemukan kami dalam keluarga bernama Karang Taruna. Suka duka kami lalui. Saling bercanda, dan mendukung satu sama lain menjadi sumbu ingatan terindah bagi saya.

Tika adalah perempuan seusia saya, 24 tahun. Perempuan muda dengan segala talentanya. Kegigihan, keoptimisan, dan sosok teman yang menyenangkan tentunya membuat hubungan persahabatan ini tumbuh subur dalam sangkar mampang indah. Bagaimana saya menceritakan semua isi hati kepadanya, ataupun bermain-main melepas penat, dan eksperimen make up yang belum pernah saya jamah dalam keseharian pribadi, semua dilakukan bersama Tika. Kesedihan ini kian klimaks ketika saya mencoba menerowong jauh ke masa di mana mengisi hari-hari pesantren kilat di mampang indah. Campur aduk tumpah ruah isi kepala bernama ide memberikan warna tak tergantikan.

Apakah saya mencari?, ya saya mencari. Rasanya ada yang hilang. Walau saya sadar, hidup harus berjalan lebih baik ke depan. Mungkin kali ini Tika, esok bisa jadi mereka teman-teman karang taruna lainnya. Karena usia kami tidak selalu muda dan kecil. Kami akan dewasa, dan akan berjalan dengan rel kehidupan masing-masing. Tapi, hanya satu yang tidak bisa berpindah, yakni kenangan indah semasa di Mampang Indah. Mampang Indah akan menjadi “kampung halaman” kami setelah ini. Jadi, biarlah air mata yang menangisi kenangan indah mengalir yang tidak hanya membasahi pipi, melainkan mengalir hingga kehidupan setelah ini. 

ps : Semoga di rumah yang baru, elo dan sekeluarga jauh lebih baik dari kemaren, ya tik* :))

Adioss..

Iklan

Dokter Juga Manusia

Malam hari di sebuah obrolan warung kopi berisi para mantan aktivis berucap, membahas mengenai kabar mogoknya para dokter hari ini. Berawal dari kasus pelaporan oleh keluarga pasien yang tidak terima dengan penanganan pasien oleh dokter bersangkutan yang ketika itu akan melahirkan ( Berita Selengkapnya ). Hingga akhirnya sudah ada putusan MA bahwa dokter Ayu bersalah dan harus dipenjara selama 12 bulan. Namun, ternyata pelaporan malpraktek lah yang menjadikan masalah ini, berujung pada aksi solidaritas para dokter untuk kasus dokter Ayu.

Semula, sahabatku menanyakan, “Apa sih, yang membuat para dokter kian solid hingga rela mendukung sesama se-profesi yang ternyata melanggar hukum?”. Pertanyaan yang sedikit sinis, adalah bentuk ketidak yakinan bahwa mungkinkah dokter benar-benar akan mogok praktik demi kasus dokter Ayu yang mungkin tindakan ceroboh di bidang kesehatan yang mengakibatkan kematian. Semula, saya tidak tertarik dengan kasus ini. Namun, mendengar bahwa para dokter akan mogok kerja, saya menjadi tertarik untuk melihat dan mengamati pemberitaan dari media massa.

Kejadian yang dialami di daerah Manado itu, mungkin kejadian yang bukan terjadi pertama di Indonesia. Terutama alih-alih dugaan malpraktek yang dilakukan oleh dokter dalam hal diagnosis, penanganan, dan pengobatan. Pertama, saya mencoba mencari definisi malpraktek itu sendiri. Malpraktek adalah praktek kedokteran yang salah atau tidak sesuai dengan standar profesi atau standar prosedur operasional. Untuk malpraktek dokter dapat dikenai hukum kriminal dan hukum sipil. Malpraktek kedokteran kini terdiri dari 4 hal : (1) Tanggung jawab kriminal, (2) Malpraktik secara etik, (3) Tanggung jawab sipil, dan (4) Tanggung jawab publik. Malpraktek secara Umum, seperti disebutkan di atas, teori tentang kelalaian melibatkan lima elemen : (1) tugas yang mestinya dikerjakan, (2) tugas yang dilalaikan, (3) kerugian yang ditimbulkan, (4) Penyebabnya, dan (5) Antisipasi yang dilakukan.

Sekilas pengertian malpraktek cukup sederhana. Akan tetapi jika kita pahami satu persatu, ternyata Malpraktek itu sangat rumit. Terutama rumit dalam hal indikator pembuktian bahwa sebuah tindakan tersebut adalah indikasi malpraktek. Bagi saya masyarakat awam yang tidak mengetahui banyak mengenai dunia kedokteran dan peraturannya, bahwa dalam kenyataannya, ketika dalam keadaan genting dan terdesak manusia akan eksplosif. Bagaimana masyarakat mengetahui prosedur penanganan atau tindakan operasional, atau bagaimana masyarakat mengetahui tanggung jawab seorang dokter atas diri pasien, terlebih bagaimana masyarakat mengetahui adanya defensive medicine yang dilakukan oleh dokter. Itu semua yang masih dialami masyarakat Indonesia, yang belum mengetahui apa-apa terkait dunia kesehatan.

Pemberitaan ini mengingatkan saya dengan tulisan yang pernah saya tulis sebelumnya Dokter Tolong Yakinkan Saya. Tentu fenomena yang saya alami jauh dari masalah yang sama dengan kondisi yang terjadi di Manado. Sisi ketidaktahuan masyarakat akan membawa kemelut keadilan yang hanya dilihat dengan satu dimensi. Ketika sakit, manusia modern akan menjawab solusi, harus pergi ke dokter. Karena kami tahu, bahwa profesi dokter lah yang sangat nyata saat ini yang bisa menyembuhkan penyakit. Mereka yang berjiwa kemanusiaan tinggi, dan lebih mengedepankan kepentingan pasien dibanding kehidupan mereka sendiri sebagai manusia yang sama. Begitulah sedikit gambaran paradigma dasar mengenai korelasi sakit dengan dokter.

Dahulu, jika kondisi SEMBUH adalah menjadi tanggung jawab DOKTER. Lain cerita jika kondisinya adalah MATI. MATI bukanlah tanggung jawab DOKTER. Namun sayang, sekali lagi kita harus berhadapan dengan sekat idialisme dengan realita yang ada. Sehingga, ketika pasien tidak sembuh bahkan tidak dapat tertolong, maka itu adalah kesalahan dokter. Karena dokter dituntut untuk menyembuhkan manusia. Sekali lagi, kondisi tersebut adalah kondisi dahulu, ketika masih terdapat dogma-dogma pariji di perkampungan.

Lalu siapakah dokter sebenarnya??

Apakah semacam makhluk bersayap putih dengan lingkaran di kepalanya??

Ataukah ia manusia setengah roh yang diutus Tuhan untuk melawan kesakitan yang dialami manusia bumi??

Saya mencoba mengirimkan bbm pada kawan saya yang juga seorang dokter, “Hei, what are you doin, Now?”.

Tidak lama, dia mejawab, “Lagi makan. Kenapa?”.

Kali ini saya yakin, bahwa dokter adalah makhluk yang butuh tenaga, maka dari itu mereka makan. Tadinya saya mengira, seorang dokter sedang bergelantungan di langit sambil membawa kaca pembesar dan alat deteksi kuman penyakit serta tidak lupa alat sensor detektor emerjensi. Ah, ternyata sedang makan.

Ada teman saya, yang sempat bertanya, “kenapa ya kalau aku ditanya, kuliah ambil jurusan apa, aku bilang kedokteran, rata-rata respon mereka langsung bilang WAAAH. Apa yang hebat dengan anak kedokteran?”

Dengan santai saya menjawab, You are a lucky one!

Kamu tau, betapa sulit masuk ke ranah kedokteran??. Tidak hanya kemampuan isi otak melainkan finansial dan mental. Jarang anak kedokteran yang miskin. Kalaupun ada, itu sedikiiiiiiiiiiiiiiiiit dan jarang sekali. Biaya pendidikan yang mahal dan waktu tempuh pendidikan yang lama, itu menjadi pertimbangan yang terkadang menjadi penghalang bagi mereka yang berkeinginan menjadi dokter.

Bayangkan betapa profesi dokter itu sangat mulia (sebenarnya). Mereka merelakan keluarga demi orang sakit. Merelakan waktu bermain demi belajar. Itu semua hanya untuk bernama kemanusiaan. Ya, bagi saya dokter adalah profesi kemanusiaan. Terlepas dengan kompensasi gaji yang diterima terbilang besar, namun jika sesuai dengan kualitas kesehatan yang bermutu dan terjangkau diterima oleh pasien (Service Satisfaction) tidak menjadi masalah. Tapi faktanya, orientasi saat ini Service Satisfaction lebih diutamakan sebagai tujuan akhir. Maka banyak sekali keluhan beragam mengenai pelayanan yang tidak baik.

Memang sangat naif, jika kita menuntut dokter untuk melakukan yang baik. Toh, pada dasarnya mereka tetap manusia. Lalu bagaimana, dengan nasib pasien?, apakah mereka harus terdiam dengan tanda tanya besar?. Semua terkandung dalam Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran

Pada undang-undang tersebut, tertera hak pasien atas tindakan medis yang dilakukan oleh dokter. Nah, ini menjadi menarik bukan, untuk kita pelajari??.

Seharusnya masalah ini tidak harus dibesar-besarkan oleh tenaga medis (red-dokter). Kenapa, bagaimanapun profesi dokter adalah profesi kemanusiaan. Lebih mengedepankan kepentingan kemanusiaan dibanding hal-hal lain. Sangat disayangkan, jika harus berdemo mogok praktek. Apalagi harus adu argumentasi dengan pasien yang sedang sakit di rumah sakit.

Akan tetapi dengan demikian, akhirnya saya benar-benar menyadari, bahwa dokter juga benar-benar manusia. Memiliki emosi. Dan memerlukan keadilan di hadapan hukum.

 

 

By alwayskantry009 Posted in my soul

Perfekto : “Perjodohan Tanpa Batas Waktu” – Part 1

Perempuan setengah baya itu terus membujuk anak perempuan pertamanya di tiap waktu senggang antara dia dan anaknya. Baginya waktu adalah kesempatan, kesempatan yang harus digunakan sebaik-baiknya. Keinginan untuk memiliki seroang menantu dan menimang cucu, menjadi pertimbangan baginya untuk terus membujuk sang anak untuk menikah sesegera mungkin. Lingkungan yang mendorong dirinya untuk bergegas menyongsong takdir Tuhan yang sudah tertuang dalam kitab Lauh Mahfudz untuk anak perempuannya itu.

Perjodohan ini, bukan keli pertama dilakukan oleh sang Ibu. Mungkin bukan dikatakan sebagai perjodohan, hanya perkenalan, akan tetapi sang anak mempercayai bahwa tindakan itu adalah tendensius perjodohan secara tidak langsung. Mungkin sang Ibu cemas dan khawatir karena sang anak tidak menunjukkan ketertarikan dengan seorang pria manapun. Layaknya kehidupan abad 21 ke atas, seorang Ibu akan senang, jika anaknya sudah memperkenalkan lawan jenis kepada Ibunya. Kemudian, dipertegas dengan label “Calon Suami”  sang anak. Ah, namun sayang, sang anak jauh dari sterotype tersebut. Baginya, jodoh sudah diatur oleh Tuhan. Cara membawa dan memperkenalkan seorang laki-laki yang bukan suaminya, adalah cara yang kurang baik di benaknya. Itulah prinsip yang terus ia pegang.

Usia 24 tahun untuk saat ini masih tergolong muda. Dengan sejumlah target-target impian dan cita-cita masih sangat jauh untuk diraih dengan kerja keras. Kerja keras identik dengan pribadi mandiri yang menjunjung tinggi sebuah idialisme, yang mungkin acap kali bergeseran dengan keinginan orang tua. Terlebih adalah anak perempuan, yang mana budaya mengatakan bahwa jika sudah gadis jangan disimpan lama-lama. enggak baek. Mungkin maksudnya adalah baik untuk menunaikan ibadah, namun sang anak lagi-lagi masih menganggap bahwa jodoh akan datang di waktu yang tepat tanpa dikejar.

Hingga pada suatu ketika, sang anak mengajukan keinginan untuk melanjutkan sekolah strata 2 di luar negeri tahun depan, namun sang Ibu tidak memberikan izin jika harus berada di negara asing dengan waktu lama tanpa berstatus sudah menikah. Ini yang kemudian menjadikan sang anak begitu galau gulanda. Pada suatu malam sang Ibu dan anak perempuan pergi makan malam bersama di sebuah rumah makan sunda di daerah Jakarta. Mereka berdialog dari hati ke hati dengan model komunikasi horizontal antara Ibu dan anak. Persahabat lebih tepatnya.

Tidak lama, sang Ibu menjelaskan maksud untuk memperkenalkan seorang laki-laki yang ternyata anak dari temannya. Laki-laki itu berusia 27 tahun. Sudah mapan. Pengusaha muda. Dan lulusan dari sebuah jurusan Teknik Informatika di sebuah perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia. Menurutnya, laki-laki itu sangat cocok untuk anaknya. Jiwa entrepreneur yang menjadi dominan, terbilang cocok untuk anaknya dan laki-laki tersebut. Terlebih, ternyata sang laki-laki itu memiliki prinsip yang sama dengan anak perempuannya, yakni tidak mau berpacaran. Dengan kata lain, seumur hidup mereka belum pernah berpacaran. Prinsip yang menganggap bahwa jodoh terbaik akan datang di waktu yang tepat menjadi persamaan antara laki-laki yang akan dikenalkan dengan anak perempuannya.

Mendengar penjelasn sang Ibu, ternyata membuat anak perempuannya berpikir dewasa. Kali ini ia tidak memberontak atau nyinyir jika mendengar maksud baik Ibunya. Akhirnya, dengan lapang, anak perempuannya menyetujui untuk mengikuti keinginan Ibunya itu. Sang anak menyatakan bahwa ia akan membalas mengirim biodata dirinya setelah laki-laki yang ingin dikenalkan sudah  mengirimkan biodatanya kepada dia melalui Ibunya. Tidak ada pertemuan, sebelum ada persetujuan dari anak perempuannya.

Anak perempuan itu menyadari dunia ini cukup luas. Mudah dijangkau dengan sebuah sistem media sosial yang menyelimuti hari-hari manusia kapan pun. Dengan demikian, sangat mudah untuk melacak atau stalking seorang yang ingin kita ketahui. Ada yang berbeda dengan anak perempuan kali ini. Semual dia berpikir bahwa media sosial sangat bersifat personal. Untuk itu, semenjak ia mengetahui akan ada kejadian perkenalan maka ia semakin menjadikan media sosial lebih personal. Karena ia tau, kapan pun dirinya akan di stalking oleh laki-laki tersebut. Maka dengan prinsip menjadi diri sendiri, ia mencoba menunjukkan bahwa dirinya adalah sosok perempuan yang akan dilihat sebagai sosok media sosial sebenarnya.

Malam menyudahi obrolan Ibu dan anak yang sarat dengan bumbu pendewasaan. Di akhir obrolan, sang Ibu bertanya dengan berbisik, Apakah kamu sudah menyukai seseorang ?

Dengan santai anak perempuannya menjawab, Sudah.

*bersambung*

Berdoa untuk Mamah ‘Fia’

Sekumpulan sahabat sewaktu masa Sekolah Menengah Pertama (SMP) berkumpul dalam sebuah forum sosial media bernama WhatsApp. Ada banyak obrolan yang berkembang biak, dari sana. Banyak topik permasalahan, gosip, bahkan humor saling ejek di antara pecah di forum ini. Maka tidak heran, jika hampir berdelik ‘merah’ di notifikasi telepon.

Lacto girl, itulah nama forum yang kami anggap sebagai nama kesatuan kelas 3 SMP di 85 Jakarta angkatan 2004. Lacto kepanjangan dari Lactobacillus, yang sebenarnya memiliki arti, Hm.. astaga, saya lupa. Entahlah, yang pasti, lactobacillus adalah nama kelas 3.7 di SMP Negeri 85 Jakarta. Di antara kami sejumlah murid kelas itu, adalah beberapa perempuan yang bersahabat, berteman, hingga saat ini. Iffah yang biasa disebut ipeh, Fia, Mita dengan sebutan Midun, dan miss yang tidak mau disebutkan namanya, Hani dengan sebutan hanoy, dan saya, Kantri dengan kantroy. Haha.. alay ya?. biarlah..dengan alay kami bertema dan bersahabat tertawa lepas bersama di kehidupan masa kini.

Awalnya kami dipertemukan dengan kondisi kerja kelompok yang mengharuskan kami berlatih bersama tiap hari. Alhasil, kami pun keterusan untuk melanjutkan pertemanan yang identik dengan pesta pora makan-makan ini. Maklumlah, kami semua memang menyukai makanan.

Hingga pada suatu ketika, di tengah obrolan perempuan meranjak dewasa, kami saling memberikan kisah masing-masing. Mulai dari masalah kerjaan, masa depan, hingga masalah rahasia rumah tangga. Maklumlah, ipeh adalah perempuan yang sudah menikah di antara kami. Sehingga kerap menjadi sorotan ledekan kami mengenai permasalahan rumah tangga. Hehe..

Sore hari obrolan kami masih maya dengan celotehan miss dengan perkembangan gebetan kantornya yang bernama mr.x. Hingga pada suatu ketika Muncul fia, yang sudah lama tidak muncul dalam forum itu, Telisik punya telisik ternyata dia harus menjaga ibunya di rumah sakit karena harus dioperasi usus buntu. Mengetahui kabar tersebut, saya dan teman-teman berinisiatif menjenguk Nyokap (red-ibu) di rumah sakit Puri Cinere.

Sampai di sana, kami mencoba menjenguk, melihat wanita berusia 60 tahun dengan lemah sedang tertidur pulas, dengan selang yang terlihat dalam saluran kerongkongnya. Fia, mencoba menceritakan kronologis penyakitnya. Radang usus buntu yang sudah memecah. Dan, pankreas yang sudah membusuk sehingga harus diangkat. Di ruangan exklusif ruang 505, terlihat fia bersama kakak dan tantenya yang sedang menunggu di sampingnya. Wajah tabah, sabar, dan tawakal terlihat di pusara raut wajah yang terlihat sore itu.

Menjelang malam, kami pun menemani fia untuk makan di rumah makan cepat saji yang tidak jauh dari rumah sakit. Menghibur fia lebih tepatnya. Karena kami tau, sebelumnya Papahnya Fia, Om Amir mengalami serangan jantung ringan. Untu itu kesehatannya pun, sangat rentan. Tapi lagi-lagi, saya melihat fia tegar. Usia orang tua yang tidak muda lagi, dan kondisi anak yang mungkin belum sepenuhnya dewasa (red-menikah) itu mungkin tidak mudah bagi kami sang anak yang mencoba menapaki setiap kesempatan dalam kesempatan untuk lebih baik.

Kedekatan kami, sebagai sahabat, tentu membuat kami dekat dengan keluarga masing-masing. Sehingga, jika ada yang sakit atau terkena musibah, di antara kami akan berempati. Tiap pagi, kami selalu menanyakan perkembangan nyokapnya fia, seperti, “Fi, gimana nyokap?, udah boleh makan apa aja hari ini?, kapan dibolehin pulang kata dokter?”. Dan lain-lain..

Semoga Mama ‘Fia’ diberikan kesehatan oleh Allah SWT, dan dilimpahakn rejeki setelahnya… Aamiin..

Adioss..

Dokter, Tolong yakinkan saya.

November itu bulan pancaroba yang sangat sensitif untuk stamina tubuh. Saya, adalah orang yang mendapat kesempatan untuk sakit. Udara yang tidak menentu ditimpa rutinitas kegiatan dan pikiran yang memuncak, sontak membuat saya terkapar di Unit Gawat Darurat di sebuah rumah sakit di Jakarta. Di hari Jumat, pada malam hari, tiba-tiba badan saya sedingin air es. Pusing. Muka memucat, Perut mual. Dan nyaris semua makanan yang saya konsumsi terbuang sudah di pelimbahan. Itu berlangsung secara radikal dan saporadis. Pandangan menjadi samar. Dan saya pun lemah tak berdaya.

Melihat keadaan saya yang memprihatinkan, akhirnya saya dilarikan pada ruangan UGD. Di sana, saya mendapat pertolongan pertama. Termasuk cairan infus, yang ternyata sudah dua botol dihabiskan. Tukak lambung itulah nama penyakitnya. Mendengar itu, jujur tidak terkejut. Karena, sejarahnya, tubuh ini sangat berlangganan dengan penyakit satu itu. Lambung saya sangat sensitif. Pola makanan yang tidak teratur, Jenis makanan yang tidak disorter, dan tingkat stress yang tanpa sadar tergolong meningkat merupakan penyebab dari asam lambung meningkat. Menyebabkan nyeri yang luar biasa. Saking luar biasa sakitnya, memejamkan imaji dalam sokhratul maut.  Sangat sakit. Namun, berkat pertolongan Allah melalui dokter, saya pulih hingga saat ini.

Keesokan harinya, ketika menjalani masa-masa pemulihan, saya merasa gatel di kaki sebelah kanan. Semula saya kira hanya gatal akibat serangga nyamuk atau semut. Alhasil garukan nikmat dari kuku membuat saya melakukan berkali-kali tindakan tersebut. Tidak lama, pusat garukan saya berubah. Semula hanya bentol kecil. Namun, karena garukan yang semakin kerasa, membuat bulatan bentol merah itu berubah membesar dan mengembung seperti ada selaput berisi air. Sentuh sebagian sisi, ternyata di sekitar gelembungan itu, muncul 2 bentol merah berisi cairan juga. Saya mulai panik.

Saya perhatikan baik-baik bentuknya. Tindakan pertama saya lakukan adalah tidak menggaruknya lagi. Mengatasi gatal adalah dengan menaburkan bedak salicyl dan relakan mengeram grasak gurusk menahan gatal. Tidak hanya gatal ternyata perih, dan sakit. Asumsi saya, mungkinkan ini bisul?. Karena penasaran, saya menelisik kembali rupa fenomena ini. Oh tidak ada mata bisul di situ. Tidak lama saya, langsung merinding gatal seluruh kujur tubuh. Ketika berasumsi, jangan-jangan ini cacar. Karena saya belum pernah cacar sebelumnya.

Parno setengah mati, iya itu yang saya rasakan. Saya tidak mandi. Saya hanya menaburkan bedak di sekujur tubuh. Kemudian saya mencoba mengambil foto yang bertujuan untuk saya share ke tema-teman yang pernah terkena cacar. Sebagian dari mereka menilai mungkin bisa jadi cacar. Saya mulai panas dingin. Kebetulan hari itu adalah hari Minggu. Dokter spesialis yang sering menangani penyakit kulit saya tidak membuka praktek di hari Minggu. Kocar kacir saya dibuatnya.

Tanpa putus asa, saya mencoba browsing asal usul penyakit cacar yang biasa disebut chicken pox atau varicella itu membuat saya makin merinding. Sekilas gambarnya sama. Namun ada yang aneh, cacar dimulai dengan demam tinggi. Sedangkan saya, dingin es. Gambar-gambar yang disajikan di google membuat saya HAMPIR membeli salep cacar dari rekomendasi teman saya. Tapi sekali lagi, saya pikir kita enggak boleh gegabah dengan penyakit yang ilmunya kita tidak tau. Akhirnya saya menahan bulu kuduk yang berdiri, dan gatal yang tiba-tiba datang bak sugesti.

Keesokan harinya, tepat Senin, hari ini. Saya putuskan segera ke rumah sakit. Langsung pada dokter spesialis kulit dan kelamin. Setiba di sana dan berkonsultasi kepada dokter, saya menunjukkan fenomena pusara gatel di kaki saya kepadanya. Dengan santai, beliau melihat dan segera menulis di data pasien sembari bertanya “Sudah dari kapan?, gimana rasanya?, punya alergi atau tidak?”.

Mendengar pertanyaan darinya, saya langsung menjawab. “Infeksi” itulah yang ia utarakan. Jadi penyakit saya katanya itu adalah infeksi. Infeksi dari garukan, beliau menambahkan. Tidak lama beliau mengambil foto di telepon canggihnya. Entah buat dokumentasi atau untuk riset pendidikan, so what ever..

Karena saya tidak puas, dengan jawaban, saya kembali bertanya, “Apakah ini menular?, Apakah ini turunan?, Apakah ini karena serangga?”

Beliau menjawab,”Tidak menular ke orang lain, tapi kalau kamu garuk dia akan melebar. Tidak turunan. Bisa jadi karena serangga”.

Tidak lama, saya ditanya “Mau obat generik atau bukan?”.

Sekali lagi, saya bingung harus jawab apa, saya kembali bertanya. “Apa bedanya obat generik dan obat lain untuk kulit saya dok?”

Beliau menjawab,”Kalau obat generik sembuh bisa 2 minggu, kalau obat lain bisa cepat 5 hari atau seminggu. lebih cepat”.

Mendegar itu, saya tidak menjawab, saya hanya menjawab, “Saya ikutin saran terbaik dokter yang terbaik untuk kesembuhan kulit saya”

Dan resep pun saya dapat. Sampai pada di depo obat, saya iseng bertanya, apa bedanya obat generik dan obat lain?, Kamu tau dengan jutek petugas farmasi itu menjawab “Harganya murah”.

Well, kejadian saya berobat hari ini sangat berharga bagi pengetahuan saya. Bahwa kesehatan adalah hal yang tidak main-main. Kesehatan adalah hal yang harus dijaga secara kuratif atau preventif. Mengobati dan mencegah adalah saling berkaitan dengan satu sama lain karena pengetahuan kita yang mendorong kita untuk peduli. Orang sakit adalah hanya pihak yang berharap untuk sembuh. Mungkin pada saat itu berita baik dengan singkat serta penjelasan tanpa bertele-tele adalah surga bagi kami untuk melanjutkan istirahat . Tapi itu hanya mengobati, bukan mencegah. Karena tidak ada transfer pengetahuan di sana. Saya kira komunikasi terapeutik sangat dibutuhkan untuk kalangan medis. Mau itu dokter, suster, farmasi, bidan, tabib, mantri, dan lain-lain.

Setidaknya yakinkan kami, bahwa segala penyakit adalah musuh raga yang sehat. Dan kami tidak akan mengulangi kembali. Tidak bisa disandingkan dengan murah, singkat, dan cepat. Tapi jauh dari itu semua, edukatif yang baik sangat dibutuhkan dalam kondisi ini.

Dulu, saya kenal sekali dengan dokter spesialis kulit dan kelamin Almarhum Dokter Kuswaji. Beliau memerika penyakit kulit saya dengan kaca pembesar, dengan lampu penerangan yang cukup sorot. Tidak hanya itu, Almarhum menjelaskan kepada saya penyakit saya, mulai dengan nama latin, sampai kepada musabab penyakit ini. Ia juga sedikit humor di sana. Sangat hangat. Beliau memberikan saya pesan, “Dokter terbaik adalah diri kita sendiri”. Pulang dari sana, jiwa saya sangat termotivasi untuk sembuh dan menjaga tubuh sebaik-baiknya.

Bayangkan, jika dunia kesehatan di negeri kita ini demikian?!.

Satu lagi, bagi pasien pun wajib kritis bertanya hal-hal yang berkaitan dengan tubuh kita. Apa pun. Ilmu kesehatan juga bisa diakses melalui buku atau internet. Bukan lagi yang hanya mematung menerima resep ataukah hasil analisis penyakit. Karena tubuh kita adalah aset kesatuan utama sebagai media menuju kehidupan yang hakiki.

Semoga Indonesia makin sehat…

adioss..