2013 untuk Saya di 2014

Tidak terasa, hari ini tepat hari terakhir di tahun 2013. Bagi saya, tahun 2013 merupakan tahun bersejarah dalam kehidupan saya. Penuh makna dan perjalanan jati diri luar biasa dari setiap kejadian yang terjadi di tahun ini. Bagaimana mendaki setiap bulan, dan meresapi hari, jam dan menit hidup saya berjalan seperti skenario cerita-cerita drama. Tapi sayang, drama ini tidak semua mengetahui. Hanya segelintir mereka yang mampir dalam hidup saya. Ayah, Ibu, Kakak, Adik, Sepupu, dan mereka dosen, teman dan sahabat. Mereka yang ditakdirkan menjadi saksi hidup melihat Kantri di tahun 2013.

Mungkin bagi mereka, dua belas bulan lamanya, begitu cepat. Bagi saya, dua belas bulan ini sangat lambat. Tidak urung, terasa berat untuk dijalankan. Semua cita dan target hidup yang biasa kita sebut sebagai resolusi terbang melayang dengan senyum. Ya, dengan senyum, mereka meninggalkan saya dengan takdir lain yang jauh lebih indah dari resolusi itu sendiri.

Pada hakikatnya, hidup adalah perjuangan diri untuk tetap ada. Sebaik apa pun teman dan sahabat yang saya miliki, saya masih memerlukan kebutuhan berupa pengenalan diri sendiri jauh lebih dekat. Siapa saya, untuk apa saya ada, mengapa saya, dan bagaimana saya bisa bertahan. Mungkin, bentuk pertanyaan-pertanyaan itulah yang terjawab di tahun 2013.

Jujur, saya sangat salut dengan mereka yang paham dengan diri mereka sendiri. Itu tidak mudah bagi diri ini untuk mengenali saya sesungguhnya. 2013 mengajari bagaimana menyadari diri dengan semua kekurangan dan kelebihan yang dimiliki. Walau sebelumnya, saya menepis semua kelemahan yang ada di diri saya. Ternyata alasan menepis kelemahan itulah yang membuat saya terjelembab dalam jurang kehinaan luar biasa.

Jiwa perfectionist, keras kepala, dan tinggi hati nyaris membutakan hati. Rasanya sangat sakit, apabila apa yang kita harapkan ternyata jauh dari apa yang diharapkan sebelumnya. Seolah kiamat sedang menghampiri untuk diri seorang. Hanya untuk saya seorang.

Memang setiap orang memiliki mimpi setinggi langit. Saya pun demikian. Tapi sayang, kaki ini tidak kuat melompat untuk lebih tinggi. Bukan karena tidak mampu. Tetapi karena saya tidak berusaha sekuat tenaga yang mungkin dapat saya keluarkan. Akhirnya saya paham, semua membutuhkan mindset di diri saya untuk fokus berusaha sekuat tenaga. Di lain sisi, Perfectionist, keras kepala, dan tinggi hati sudah ada dalam diri sebelumnya, yang jauh lebih dominan. Sehingga menutup mindset saya untuk fokus melompat lebih tinggi.

Saya tidak sendiri. Itulah yang akhirnya saya syukuri dalam hidup. Saya memiliki kedua orang tua yang sangat sayang kepada saya. Mereka adalah cinta nyata tanpa syarat yang diberikan oleh Allah untuk saya. Di saat dunia menolak saya, di saat saya sakit hati, di saat kepercayaan diri menghilang, di saat saya dihianati, di saat saya harus merasa bersalah ke dalam diri saya, hanya mereka yang senantiasa menerima saya dengan tanpa syarat.

Semula, saya berpikir bahwa hidup saya dapat terselesaikan dengan diri saya sendiri. Tapi, 2013 mengajari saya bahwa, manusia bukan makhluk super yang mengatasi masalah mereka dengan diri mereka sendiri. Kita tidak akan tahu, bagaimana kondisi hati ketika merasa bahwa jiwa bagaikan tercerai berai tanpa sisa. Hati mu mengambang, jantungmu terhenti sejenak, dan air mata mengalir dengan sendirinya. Dunia ini tidak hanya dihuni oleh diri saya seorang. Inilah yang akhirnya saya sadari.

Di antara mereka adalah utusan Allah sebagai penolong. Termasuk kedua orang tua.

Sebagai manusia, saya juga pernah berharap dan percaya terhadap orang lain. Dengan hati yang tulus ikhlas tanpa memikirkan hal negatif apa pun, saya berusaha berteman dan berkawan. Mereka yang sudah menjadi sahabat, tetap meneduhkan setiap ingatan. Kegembiraan, kesedihan, dan suluh motivasi selalu tertularkan begitu hangat. Banyak teman baru yang saya kenal. Di lingkungan yang baru dan kehidupan yang baru. Teman lama, teman kecil walau beribu-ribu jarak tak pernah kami jumpai, di tahun ini jarak begitu dekat hingga silaturahmi terjalin.

Sakit hati dan kebencian terhadap orang lain, mungkin terbesit dalam pikiran saya kepada sebagian orang. Tapi 2013, kembali meyakinkan saya, bahwa mungkin perasaan sakit ini adalah karena diri saya. Tidak ada alasan mengapa saya membenci mereka yang sudah menghianati kepercayaan saya. Karena, hati ini begitu halus. Dan biarlah, meluas tanpa sekat. Allah yang memiliki kendali untuk semuanya. Hanya pasrahkan kepada-Nya, dan iklhaskan atas apa yang terjadi sebagai introspeksi diri.

Maka dari itu aneh memang 2013 yang berat dijalankan itu harus berganti. Bagaimana saya dapat melupakan 2013 dengan segala pelajaran dan kisah hidup saya?. 2013 yang berat dijalankan dan berat ditinggalkan.

Manis, pahit, getir, dan muak adalah ceirta hidup saya. Mereka terasa begitua kuat menyentuh hati dan ingatan. Bagaimanapun, itu adalah variasi hidup yang berperan sebagai pesan hidup untuk diri kita. Sebaik apa pun ataukah sebaliknya, harus tetap saya pahamkan ini refleksi hidup yang sudah saya jalankan.

Hanya menghitung jam saja, pergantian tahun masehi ini berlangsung. Setiap orang memiliki resolusi untuk 2014. Tapi bagi saya, resolusi itu tidak untuk ditulis. Akan tetapi dijalankan. Terkadang peluang mimpi mu akan muncul dengan tanpa tidak sengaja. Itulah takdir dari Allah. Menjadi pribadi yang senantiasa memperbaiki diri adalah tomgkat estafet yang akan saya pegang di tahun 2014.

Penyesalan selalu datang terakhir, ungkapan itu benar adanya. Tapi, jika sudah terjadi, maka tancapkan dalil bahwa tidak akan mengulangnya kembali. Dan di tahun 2014, saya pun bersumpah, tidak akan mengulang atas kesalahan-kesalahan serta kehilafan – kehilafan saya. Perjuangan hidup akan terus berlangsung. Kepercayaan diri kian meningkat karena saya memiliki cinta di sekitar saya. Terlebih cinta Ayah dan Ibu.

Semoga di tahun 2014 saya tetap lebih baik, bahkan jauh lebih baik dari tahun ini. Apa pun takdir yang Engkau kasih kepada saya, saya akan berusaha ikhlas menerimanya, apabila memang itu jalan yang terbaik untuk hidup dan mati saya.

Selamat datang 2014..

Iklan

Ulasan Film TKVDW : Cinta Mati di Kapal Van Der Wijk

tenggelamnya-kapal-van-der-wijck

Pertama, sekilas melihat poster film itu, bagi saya seperti membelah ingatan terhadap film Titanic yang sempat merajai box office jaman saya sekolah dasar kala itu. Kedua, menonton trailer di awal masuk bioskop, saya membayangkan kisah romi and juliet. Ketiga, akhirnya saya putuskan untuk menonton film yang katanya didasari karya sastra novel Buya Hamka. Sebenarnya saya belum membaca novel itu. Namun, aktor dan aktris yang tengah naik daun itulah yang membuat saya yakin ingin menyimak cerita tersebut. Dengan tulisan ini, saya mencoba membahas isi film dengan konsep pendekatan value atau nilai yang dominan ditunjukkan sebagai wujud pesan sang sutradara untuk penonton.

Film ini luar biasa kental dengan isu sosial budaya yang terjadi di Indonesia. Dua suku yang begitu kuat dengan karakteristiknya membawa penonton untuk bertanya, ada apa dengan budaya Minangkabau dan Makassar?.

Pertanyaan itulah yang saya catat sebagai asumsi dasar pertama. Kemudian, cerita mulai mengalir dengan begitu syahdu dan romantis. Bahasa Minangkabau yang halus dan sarat dengan aroma kesastraan tinggi tertangkap jelas, hingga mulut saya atau bahkan orang di kiri kanan saya dengan tanpa sengaja mengikuti setiap ucapan yang dilontarkan oleh sang pelaku peran.

Sampai kepada kisah perjalanan tokoh Zainuddin yang diperankan oleh Herjunot Ali, dimana Zainuddin ingin belajar agama, ini terlihat konflik yang kedua yang ingin saya garis bawahi. Tanah minangkabau merupakan tanah bagian Indonesia yang sangat menjunjung tinggi nilai keislaman. Penduduknya terkenal taat dalam menjalankan ajaran agama.

Konfliknya adalah, ternyata tanah yang ditujukan sebagai penimbaan ilmu agama bagi Zainuddin justru membawa perubahan dua hidup anak manusia yang saling mencintai. Mencintai karena kebaikan masing-masing. Mencintai karena, kesholehan dari Zainuddin. Begitu juga bagi Zainuddin yang sangat terkesan dengan kecantikan serta kesederhanaan tokoh Hayati yang diperankan oleh Pevita Pearce. Cinta mereka jauh dari kesan materi dan garis keturunan.

Namun, kondisi adat istiadat Minangkabau berkata sebaliknya, yang menjadikan mereka terpisah. Zainuddin dianggap sebagai orang seberang bahkan buangan yang akan membawa keburukan bagai Hayati sebagai ponakan ketua adat setempat. Scene berduanya Hayati bersama Zainuddin itulah scene yang romantis bak film-film Eropa klasik.  Mereka saling menegaskan kecintaan masing-masing. Bahkan saling berjanji untuk setia menunggu “walaupun bukan jodoh di dunia, tapi jodoh di akhirat”. Kemudian, Hayati meminta semacam jimat dari Hayati, dan Hayati memberikan kerudungnya. Dan merekapun berpisah.

Dalam waktu dan jarak yang jauh, mereka tetap mengirimkan kabar melalui untaian kata pada sepucuk surat. Kekuatan sastra yang indah lagi-lagi terlantun begitu nyaman di dengar.

Pada kesempatan lain, akhirnya Hayati dan Zainuddin bertemu dalam sebuah pacuan kuda. Sebelumnya, Hayati pergi bersama keluarga sahabatnya, yang ternyata jauh dari kesan budaya konvensional. Lebih trendi. Akulturasi budaya Belanda sangat terlihat. Mulai dari cara berpakaian, cara berbicara, hingga kebiasaan negatif seperti berjudi, mabuk-mabukan, dan bermain perempuan penghibur. Hayati yang datang dengan keluguan sontak mengalami perubahan yang dipaksakan. Baju kurung lengkap dengan kerudung lepas begitu saja. Berganti dengan baju renda transparan putih serta terbuka. Sedangkan Zainuddin masih menggunakan pakaian kesholehan ala orang melayu.

Di pertengahan cerita, ternyata ada tokoh lain bernama Aziz yang diperankan oleh Reza Rahardian yang ternyata menyukai Hayati. Menyukai Hayati dengan wujud berbudaya Londo.

Akhirnya dengan kekuatan materi serta status sosial Aziz yang terpandang menjadi pertimbangan kelompok suku lingkungan Hayati. Di waktu yang bersamaan, Zainuddin pun mengajukan lamaran terjadap Hayati. Namun sekali lagi, Zainuddin ini masih kalah saing dalam hal materi dan status sosial (garis keturunan).  Atas petimbangan asumsi yang terkesan paksaan itu, Hayati tidak ada pilihan lain, kecuali memilih Aziz untuk dijadikan suami.

Aziz sendiri digambarkan sebagai sosok yang gemar berjudi, gemar mabuk, gemar bermain perempuan, dan hura-hura. Mengetahui latar belakang Aziz yang jauh dari kesan baik, Zainuddin pun memberitahukan kepada Hayati, bahwa pernikahan yang akan dijalanin semata-mata implementasi Uang dan Kecantikan saja. Namun entahlah dalam film itu, Hayati terlihat menerima dengan ikhlas sosok lelaki yang akan menjadi suaminya itu.

Tidak lama, Hayati dan Aziz pun menikah. Sedangkan, Zainuddin jatuh sakit dan depresi. Melihat kondisi itu, Zainuddin mencoba bangkit memperbaiki diri ke pulau Jawa untuk mengembangkan bakat sebagai penulis beberapa hikayat dan karya sastra lainnya. Benar saja, setiba di Jakarta sosok Zainuddin berubah 180 derajat. Ia tumbuh menjadi penulis yang hebat, seniman ulung, dan pengusaha yang hebat. Pakaian yang dahulu hanya katun kurung panjang dan sarung serta kopiah, berubah menjadi safari blazzer lengkap dengan topi.

Tulisan serta hikayat-hikayat yang dituliskan merupakan kisah yang menceritakan sosok Hayati. Berkat tulisan itulah, yang membawa Hayati dan Zainuddin bertemu. Ketika bertemu, kondisi berbalik. Aziz yang dahulu dikenal sebagai orang kaya, merongrong lemah di hadapan Zainuddin karena terlilit hutang akibat berjudi.

Kebaikan Zainuddin dalam menolong orang lemah, patut diacungkan jempol. Tidak ada kebencian di hatinya. Di kondisi lain, di hati Hayati terpancarkan kebersalahan diri atas yang dialami Zainuddin. Dibalik keangkuhan Aziz, terpesankan sosok lemah di balik uang dan kekuasaan. Ia memilih mengakhiri hidupnya dengan meminum racun, karena merasa malu oleh orang-orang di kampungnya.

Pada kondisi itulah Hayati yang merasa bersalah dan kesedihan atas jalan hidup yang sudah dipilihnya itu harus mengakui bahwa pernikahan yang dialami dirinya hanyalah pernikahan Uang dan Kecantikan saja. Walaupun di hati paling dalam, Hayati masih merasakan cinta terhadap Zainuddin. Namun sayang sekali perasaan itu ditepis tegas oleh Zainuddin sendiri. Zainuddin sendiri yang mengantarkan kematian kekasihnya pada sebuah jalan takdir. Jalan takdir itu digambarkan dengan tenggelamnya kapal besar buatan belanda bernama Van Der Wijk. Kapal yang terkenal dengan kemegahan tiada tara itu, tenggelam ketika menuju Padang.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk ini jauh dari kesan Titanic atau kisah julie and romeo. Menurut saya, jika dilihat dari filosofi cerita, Kapal Van Der Wijk lebih kepada pesan kemegahan yang kasat mata, kekokohan luar yang ternyata dapat tenggelam dengan gelombang laut yang begitu luas.

Saya sepakat dengan pesan film ini, bahwa kisah cerita ini bukanlah cerita kisah percintaan dua manusia. Tetapi satu manusia yang berjuang bangkit dari segala ketidak mungkinan serta intimidasi hidup oleh kondisi sosial. Zainuddin sosok yang tidak mati karena cinta duniawi. Hati yang lapang, menjadi modal untuk mengalahkan keangkuhan dunia, kesombongan materialistis, dan peliknya hukum adat.

Tetapi jauh dari itu, sebenarnya saya tidak begitu mencium perjalanan sisi relijius. Padahal, makna pertama yang penonton tangkat sebagai simultan alur cerita. Jika dilihat hanya pada aspek film saja, tentu secara tidak langsung pesan bahwa moder-isasi akan mengalahkan kultur lokal yang sarat dengan sisi keagamaan. 

*Sepertinya memang harus, membaca buku yang bersangkutan untuk lebih komprehensif. 

Walau demikian, ada yang sangat menggelitik jika kita mengamati akting pemeran pertama. Herjunot Ali dapat dikatakan berhasil menirukan gaya bahasa orang bugis. Buktinya, ketika saya melihat gaya bicaranya, saya jadi teringat gaya bicara bapakak Yusuf Kalla. 😀

Tetapi, sangat disayangkan, mimik atau ekspresi wajah justru membuat penonton tertawa. Mengapa, karena penonton masih terngiang-ngiang dengan akting Herjunot Ali pada film 5 cm yang memerankan Zafran yang sangat kocak. Penonton yang semula menangis, berubah menjadi meledak berbahak-bahak dibuatnya (Termasuk saya).

Latar pada film ini secara visual, cukup memberikan kesan tanah Minang di era jaman dulu. Terlebih beberapa pelaku yang berucap khas Minang, menjadikan film ini menambah wawasan budaya bagi penonton. Soundtrack film sebagai pengiring pun nyaris menambah nuansa tidak kantuk ketika menyaksikan film yang berdurasi kurang lebih 3 jam itu.

Jadi jika boleh saya memberika rate untuk film ini, saya akan kasih 4 Bintang untuk Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk.

Adiooss..!!

Interlude 4 : Wahai Hati yang Terluka

 

Apa kabar dunia mu?

Ku tau, tanpa kau sebut apa kiranya dalam diri hingga kau muram.
Tulisan itu yang kau buat, menyapa ku dalam diam.

Perih, ku baca.
Lantas, begitu kau nikmati sayatan makna dalam kata yang kau tulis sendiri.
Dunia ini luas, kawan !

Layar pun tak kunjung lelah berlayar di malam dan sore.
Demi, dunia yang luasnya tak sanggup dicapai.

Jika terasa perih, biarlah itu mengering dengan waktu.

Jadikan hati berlayar kawan !
Walau mungkin kau akan mati diterjang ombak.

Tapi, tak apa !
Setidaknya kau berjuang hidup.

Biarlah hati mu mati di saat yang tepat.
Bukan kemarin, bukan saat ini, atau besok.

Tapi nanti,
Saat hati, melebur dalam cangkangnya yang kokoh.

By alwayskantry009 Posted in Apa sih?

Pengakuan di Hari Ibu untuk Ibu Ku

Tepat di Hari Ibu, hari Minggu di Bulan Desember berubah menjadi sendu oleh rintikan air hujan yang tak kunjung reda, saya memandang beberapa tampilan foto-foto dan gambar-gambar di media sosial. Banyak dari mereka tak urung untuk menunjukkan sisi kemesraan dengan sosok Ibu.  Kalimat terimakasih dan ucapan sayang untuk Ibu mendampingi makna dalam foto-foto tersebut. Mungkin ini pertanda bahwa memang waktunya kita sebagai anak, sekali-kali merenung atas hubungan Ibu dan Anak pada kehidupan kita masing-masing Ya, merenung hubungan dua insan manusia yang terjalin dari kekuatan batin secara alamiah.

Kita mulai dengan pertanyaa, sudah berapa lama kita hidup di dunia?,

Saya, yang tahun ini sudah 24 tahun, menyadari bahwa sudah 24 tahun lebih 9 bulan, Mamah (Sapaan manis untuk Ibu bagi saya) menemani dengan segala cerita di dalamnya. Dengan perjuangan yang tidak ringan harus dilaluinya ketika mengandung janin bayi yang tentu diharapkan atas Cinta. Harapan dan doa terus mengalir di setiap makanan yang masuk ke dalam plasenta, atau aliran darah yang memompa denyut nadi sang janin membungkus hanggat dunia rahim yang melindungi diri saya untuk bersabar menyambut sebuah dunia yang fana.

Seorang perempuan yang sedang mengandung, tentu biasanya mengalami gangguan fisik. Seperti mual, pusing, pegal-pegal, kaki keram, tidak bisa tidur, susah buang air besar, dan masih banyak lagi kendala yang disebabkan oleh kami yang kala itu masih menjadi jabang bayi. Saya dapat memaparkan semua itu, memang bukan karena empiris pribadi, akan tetapi pengamatan pada segelintir para rekan yang sedang menjalani masa kehamilan. Bagaimana ia tidak bisa tertidur tenang, disebabkan seluruh punggung begitu terasa sakit dan pegal. Belum lagi harus terbangun di tengah malam, karena harus meregangkan betis kaki yang tiba-tiba tertarik keram.

Kejadian unik itu, membawa bayangan semu sebuah analogi yang saya buat sendiri mengenai nasib mamah saya ketika harus menjalani kehamilan. Apakah saya begitu menyusahkan?, menyengsarakan tubuhnya?, apakah saya membuanya muntah?, apakah saya selalu membuat keram pada betisnya?, apakah mamah saya menikmati masa kehamilan itu?, atau jangan-jangan justru membenci masa kehamilam itu?.

Jika dilihat dari gambaran rekan-rekan yang sedang hamil, saya sangat takjub atas apa yang mereka alami dan mereka rasakan. Segala kesakitan mendera selama sembilan bulan itu sontak resesif hanya karena Cinta yang ikhlas. Sesekali ketika harus merasakan kelelahan, sang Ibu turut mengusap-usap perut seraya berkontak bathin menyampaikan pesan, “Tumbuhlah menjadi anak yang sabar ya Nak, sesabar Ibu mu yang mengandung mu saat ini”

Bulan demi bulan dilalui, hingga pada waktu melahirkan tiba, percayalah Ibu akan lebih mempersiapkan mental lebih kuat dibanding masa kehamilan. Bak, akan berdiri pada dua keputusan hidup dan mati, atau semacam menjemput maut dengan begitu sadar, Sang Ibu jauh dari rasa gentar dan takut. Perjuangan yang membuat saya merinding ketika harus membayangkan cerita-cerita dari mamah, bagaimana proses persalinan itu adalah hidup dan mati.  Lantas, apa yang membuat mereka berani?, sekali lagi Mamahku menyampaikan, demi kamu.

Hingga takdir, melahirkan diri ini ke dunia, Seorang Ibu, dengan tangis haru akan bersyukur. Bahkan, kesakitan proses persalinan konon katanya tiba-tiba menghilang tidak terasa lagi. Air susu dari puting payudara mengalir deras untuk kesuburan sang bayi. Tangan halus Ibu dengan wajah pucat, ia tepis demi pesan moral bermakna yang tidak lain tidak bukan, “Tumbuhlah menjadi anak yang kuat ya Nak, sekuat Ibu mu yang berjuang melahirkan mu”

Tubuh mungil kian meranjak tumbuh besar. Hingga tidak terasa sudah 24 tahun lebih 9 bulan kebersamaan saya dan Ibu saya tertanam dalam balutan beragam cerita. Menurut kebanyakan cerita, Ibu bagi anak perempuan adalah sahabat. Ternyata memang benar adanya. Bagi saya pun demikian. Walaupun terkadang, sesekali berbeda pendapat, kami tetap sahabat. Pertengkaran adalah bumbu introspeksi kedewasaan yang harus dijalani. Meskipun, pada kenyataannya memang seorang anak yang selalu banyak kesalahan dan melakukan dosa dengan menyakiti hati sang Ibu.

Kekesalan demi kekesalan yang muncul justru menjadikan sang anak menyadari bahwa dibalik kekesalannya, ada rasa syukur atas perlakuan sang Ibu untuknya. Maka sering kita dengar ucapan sakti sang Ibu yang mengatakan, “Percaya sama Mamah/Ibu !. Karena, omongan Mamah adalah benar”

Memang terdengar seperti keputusan dewa rahwana, ucapan itu walau menyakiti sebuah kenyataan yang tidak kita inginkan, tetapi ternyata terbaik untuk diri kita. Sudah selayaknya kita bersyukur dengan pertengkaran-pertengkaran kecil antara anak dan Ibu, yang akhirnya membuat diri kita sebagai anak menyadari kebenaran dan kebaikan untuk diri kita.

Sampai kapan pun, Ibu tidak akan meminta balas budi dari anak-anaknya. Itu lah yang ia sampaikan kepada saya. Karena satu, baginya kebaikan dan kebahagiaan untuk anaknya lah yang terpenting. Melihat anak-anak mereka tumbuh menjadi orang yang sukses yang dapat mengangkat harkat dan martabat keluarga, itu kesan yang akan diadukan kepada Malaikat.

Terkadang, ego anak memang lebih besar dari pada orang tua mereka. Dengan ke-Akua-an yang dimiliki seorang anak, membutakan hati kecil sang mamah yang sudah mendoakan kita untuk sukses. Inilah yang selalu saya khawatirkan. Jangan sampai, ketika ditimpa kesedihan saja, saya kembali pada pelukan sang Mamah. Sebaliknya, dalam kesenangan saya lupa dengan dirinya.

Momen hari Ibu, memang hanya sekedar hari selebrasi saja. Meskipun sebenarnya, sudah seharusnya setiap hari adalah hari Ibu. Cinta untuknya sudah seharusnya terjadi setiap hari. Tapi di momen ini, dapat kita manfaatkan dengan renungan atas apa-apa yang sudah kita lakukan, terlebih atas perbuatan yang sempat menyakiti hati sang Ibu. Ucapan-ucapan kasar yang tidak sengaja kita lontarkan. Atau bahkan waktu-waktu yang tertutup rapat baginya untuk bersenda gurau dengan kita para anak-anaknya karena kesibukan pribadi. Dan masih banyak lagi yang mungkin akan kita temukan alasan mengapa ada peringatan hari Ibu. Jika sudah terkumpulkan, maka yuk sama-sama kita songsong perubahan lebih baik lagi. Selagi masih ada kesempatan melihat dan merasakan sentuhan cinta dari Ibu untuk kita.

Selamat hari Ibu, Mamah..

You’re the best trully love one !

 

Hai, pengantin baru dengarlah curahan hati ‘kami’

Tiba-tiba seorang perempuan berusia 29 tahun datang ke meja saya sambil menggebu-gebu. Tampak tangan yang bergetar membawa telepon pintar bermereck ternama dunia, ia mengoceh tanpa tanda baca yang biasanya. Jika dilihat dari kondisinya, perempuan ini sedang begitu kalut dengan kondisi dirinya yang tidak kunjung menikah. Namun sebenarnya bukan permasalahan tidak kunjung menikah kali ini, tetapi kondisi sosial di dunia media sosial yang menyebabkan perempuan ini tampak pitam.

Segala permasalahan dan prahara hidup tumpah ruah di ruangan kantor saya. Hingga akhirnya saya menjadi tahu, bagaimana sebuah dampak media sosial online membawa dosa yang luar biasa tanpa disaadari kebanyakan orang. Facebook, yang biasa digunakan untuk menukar informasi dan memajang eksistensi pribadi itu kian merajalela menjelma racun HIV yang merogoti  tubuh orang yang sehat. Begitu jahat.

Perempuan ini, begitu risih ketika harus membuka facebook, yang kemudian terlihat status-status rekannya yang menjamur di timeline miliknya. Dia pun menunjukkan beberapa update status-status tersebut.  Isi kalimat itu, tidak lain mencirikan curahan hati sang pengantin baru, atau terkadang ada juga berisi sapaan manja untuk isteri/suami mereka. Ada lagi, bahkan terdapat tulisan semacam motivasi bagi para lajang untuk segeralah melepas lajang. Seperti, “Ayo Segerelah Menikah, Tunggu apa lagi !!”.

Satu lagi, beberapa dari orang-orang itu, mengunduh foto-foto mesra dengan muhrimnya. Walaupun sebelumnya ternyata tidak pernah memamerkan sosok diri di tengah publik.

Perempuan di depan saya kembali, merongrong kesal. Menanyakan kesalahan pada dirinya, kenapa tidak bisa seperti mereka yang dipertemukan dengan pasangannya. Apa ada yang salah dengan dirinya?, dan lain-lain..

Mendengar curahan hati perempuan ini, saya hanya memasang telingan, mencoba menjadi pendengar yang baik. Toh, ini mengingatkan saya dengan fenomena serupa pada laman facebook milik saya sendiri . Banyak dari mereka yang berlomba mengunggah atau menulis status seperti menulis panjang sebuah karangan essay. Bedanya, dengan perempuan itu, saya sangat acuh dengan hal-hal serupa seperti itu. Ah, sayangnya, ternyata tidak semua orang seperti saya. Inilah fatalnya.

Menemukan fenomena ini, saya pun mencoba berdiskusi dengan salah satu teman yang sudah menikah hampir setahun lamanya. Ia menyatakan bahwa, pada sudut pandang memamerkan kemesraan dengan muhrim di sosial media adalah hak masing-masing. Terlebih bagi mereka yang tidak mengalami proses berpacaran. Maka salah satu media untuk me-ekspresikan kebahagiaan tiada tara itu salah satunya melalui sosial media, seperti facebook. Akan tetapi jika ditanya, apakah setuju dengan perilaku seperti ini?, teman saya pun menganjurkan untuk tidak seperti itu seharusnya. Karena mungkin maksud mereka adalah memotivasi sesorang untuk menikah. Namun sayang, jatuhnya menjadi demotivasi. Demotivasi inilah, yang mungkin dialami perempuan ini.

Sahabat yang baik, kebebasan bermedia sosial online memang tidak memiliki konsekuensi pidana yang kuat, tetapi saya sepakat jika dampak media sosial online lebih kepada konsekuensi psikologis kelas berat dibanding jika harus bertarung dengan kekuatan tubuh (berantem), terlebih tidak memiliki gatekeeper di sana. Islam pun mengajarkan untuk tidak mengumbar-umbar kemesraan dengan muhrim di depan publik. Di balik dari kesenangan tiada tara itu mungkin ada hati yang terluka. Sedih. Dan meratapi nasib yang tidak sama seperti kalian. Tentu kita semua paham, bahwa jodoh adalah rahasia Allah yang sangat menguji kesabaran dan keikhlasan dalam hal beribadah hanya karena Allah.  Tidak bisa dipaksakan dengan kalimat “Ayo segera menikah. Tunggu apa lagi??”. atau bahkan kalimat “Tidak ada kata menunda menikah”

Jika kondisinya adalah, bukan menunda waktu menikah, tetapi karena memang belum dipertemukan oleh Allah orang yang sangat baik baginya, bagaimana?. Bagaimana kalian menjawab kondisi ini?.

Tulisan ini, sengaja saya sampaikan, karena saya sangat prihatin dengan fenomena ini. Mohon maaf jika ada yang merasa tersakiti dengan tulisan ini. Semoga tidak menjadi suluh pertengkaran atau alasan ketidak sukaan atas kebahagiaan orang lain. Melainkan semoga fenomena ini menjadikan ajang pertimbangan bagi diri kita untuk berperilaku sesuai keadaan sosial yang mungkin tidak bisa kita jamah dengan hanya melalui sosial media online seperti facebook.

Semoga bermanfaat.

Adioos..

Bertemu Dia yang Tidak Saya Kenal

Pernakah kamu merasakan yang berbeda ketika bertemu dengan seseorang yang tidak pernah kamu kenal?

Jika jawabannya pernah, saya harus ucapkan aduan kejadian ini kepada kalian, wahai pemuja love at first sight !!.

Harus saya akui, kejadiannya itu menimpa malam itu, di sebuah transportasi publik di Jakarta. Ketika itu, saya bersama dua orang rekan saya yang kebetulan keduanya adalah laki-laki. Kami menaiki TJ di daerah FX Senayan. Karena kondisinya penuh oleh calon penumpang TJ, kami pun mencoba meraih keuntungan mendapatkan bus kosong di halte sebelumnya. Di perjalanan menuju Masjid Agung Al-Azhar, kami bertiga saling berbincang. Kebetulan bus arah balik menuju Blok M sangat kosong. Hanya ada tidak lebih tujuh orang penumpang di sana. Dan kejadian itu di sini..

Perjalanan singkat ini sangat aneh. Di depan saya berdiri, terdapat sosok laki-laki berpakaian kemeja batik merah bata dengan celana panjang berbahan blus hitam, lengkap dengan sepatu pantofel kerja yang mengkilap. Sosok itu bertubuh tegap, berkulit cokelat asia, berambut cepak tipis, beralis tebal. Tingginya, kira-kira dua jengkal dari kepala saya, dia berdiri menghadap pintu keluar. Namun, di suatu ketika, saya pun mengalami eye contact dengan laki-laki itu. Dia menoleh ke arah saya ketika pada saat saya sedang berbincang dengan kedua teman saya.

Eits, tidak hanya sekali dia menoleh ke arah mata saya. Kami bertabrakan mata sebanyak tiga kali. Dan ketiga kali itu, dia tersenyum. Anehnya, saya pun balas tersenyum. Hahaha… ini aneh sekali kawan !!

Ketika saling memandang, hati tiba-tiba tersentak hebat. Entahlah semacam ada yang membisikkan ke dalam diri, “Ini dia orang yang gue cari!!”

Setiba di Masjid Agung, ternyata sosok orang itu pun menepi di halte yang sama. Ketika menunggu TJ yang kosong, kami terpisah karena peraturan “Perempuan-laki” yang memisahkan bagian depan dan belakang bus ini. Setelah itu, saya benar-benar tidak bisa melihat orang itu dalam kepadatan penumpang bus. Tidak lama tiba di halte dukuh atas untuk transit, saya dan teman-teman saya berjalan menelusuri tangga penyebarangan yang cukup terbilang panjang. Dan di perjalanan itulah, saya berpapasan kembali dengannya. Kami berjalana sejajar tepatnya. Kamu tau, dia menoleh ke arah saya. Saya pun sempat menoleh ke arahnya. Namun, karena kedua rekan saya memanggil untuk memperlambat langkah kaki, laki-laki itu justru mempercepat langkahnya, saya pun melambat. Dukuh atas 1  membuat saya benar-benar terpisah dengan sosok laki-laki itu. Di tengah kerumunan yang senyap oleh malam yang larut, Dia pun menghilang.

Kejadian malam itu, sebenarnya sangat lucu bagi saya. Dahulu saya sangat tidak percaya dengan kesan pertama. Namun, kali ini saya harus akui, kesan pertama itu memang benar adanya. Jika ingin mengikuti rahasia hati, tentu saya akan sangat penasaran dengan sosok laki-laki itu. Walaupun, kenyataan sangat sulit untuk digapai. Terlebih di Jakarta yang luas ini. Berjuta orang berlalu lalang di Ibu Kota ini. Bagaimana saya bisa bertemu lagi dengan sosok seperti itu?. Tiba-tiba jadi tertawa hebat jika memikirkan sosok orang asing itu.

Well, apa pun kejadiannya, saya hanya menikmati proses ini. Proses yang Allah kasih kepada saya dengan segala tanda-tanda yang ia kasih di setiap waktu. Kalau mengutip lagu Afgan, toh Jodoh Pasti Bertemu. Mau seluas apa dunia, mau serumit apa sekat duniawi, mau se-pelik apa politik internasional di luar sana, Mau saya ada di kutub utara sekali pun, Jika berjodoh, pasti akan bertemu di waktu yang terbaik. Ejiiiieeeee… 

Udah lah ya, ambil hikmahnya aja. Bahwa, dengan tersenyum kita dapat memberi aura positif kepada orang lain, sekalipun kita tidak pernah mengenal orang itu. Mungkin itu kali ya, hikhmah yang dapat saya petik dari kejadian ini.

Adioss..

Menyapa Mr. Colombus

 

“Perjalanan ini masih panjang ataukah sudah dekat, Kapten?”

Tanya seorang awak kapal berpakaian abu-abu, lengkap dengan celana pensil berbahan parasut, dan paling penting ikat kepala tanpa motif yang selalu digunakan untuk menutupi kening dari terik matahari.

Pelit jawaban, laki-laki yang selalu dipanggil Kapten itu, hanya menatap lurus hamparan samudera di depannya.

Tanpa teropong, hanya mata telanjang Sang Kapten begitu khusyuk menyelami makna hamparan luas samudera yang dilihatnya kali ini. Sesekali ia berdecak. Sesekali ia menggigit bibir bawah berwarna kecokelatan.  Atau sesekali ia menghentak-hentakkan kaki kirinya yang tak terlihat mulus layaknya kaki manusia. Telapak daging berubah menjadi topangan kayu jati seperti corong, berbentuk pipa tabung di betis hingga mata kaki dan ujungnya memipih tajam, tidak setajam ukuran jarum, namun masih bisa digunakan untuk berjalan tegak mengimbangi topangan tubuh oleh tongkat.

“Kapten, apa maksudnya itu?’, Awak kapal kembali bertanya dengan pensaran.

“Daratan. Daratan. Daratan”. Ucapnya kemudian.

Awak kapal itu hanya mebatu tidak paham ucapan Sang Kapten. Ingin rasanya ia bertanya ketiga kalinya, namun apa daya awak kapal ini sudah terlanjur paham karakter Sang Kapten yang terkenal dengan membenci kebodohan. Dengan artian, jika seroang awak bertanya berkali-kali kepadanya, dia akan dibunuh secara paksa dengan cara diceburkannya ke dalam kerumunan ikan Hiu ganas yang kelaparan.

Pernah suatu ketika, seroang awak berkulit matang bertanya kepada Sang Kapten tentang arah rasi bintang sebagai laju perahu mereka. Kemudian Sang Kapten hanya memandang lurus dan berteriak , “Terjaaaaang !!”

Merasa jawabannya sulit dipahami, awak kapal pun kembali bertanya, dan Sang Kapten tetap menjawab dengan demikian. Hal itu terjadi selama tiga kali. Hingga pada keempat awak itu bertanya, Sang Kapten hanya menjawab “Lemparkan !!”, Bak mimpi di siang bolong, awak itu pun diceburkan ke dalam lautan.

Semenjak kejadian itu, seluruh awak kapal tidak akan pernah bertanya berkali-kali sebanyak tiga kali. Menurut mereka tiga kali adalah keberanian yang mempertaruhkan nyawa.  Pun Sang Kapten yang terkenal dengan raut wajah seram dan sedikit berbicara ini akan asik dengan cara dirinya menyampaikan perintah bagi awak kapal mereka.

Kapten ini bernama Colombus. Ia tidak pernah memperkenalkan nama kepada siapa pun. Colombus hanya sebutan yang tercetuskan begitu saja. Sebutan yang keluar dari mulut dirinya ketika acap kali mengarungi badai ombak kejam di lautan. Ia berkali-kali berkata “Coloooooombuuuuuuuss!”. Alhasil hingga seterusnya, Kapten dijuluki sebagai Kapten Colombus. Berkat kepiawaiannya mengarungi ombak ganas, ia dan sejumlah awak kapal selamat dari monster samudera.

Tidak hanya sampai di situ, Kapten Colombus juga sering menemukan daratan berisi tumbuhan serta harta karun. Entah ada apa dengan Colombus, di jiwa yang serba misterius, justru ia mensejahterakan awaknya.

Colombus dengan sejuta tanya dalam diri dunia. Dunia banginya adalah cembung yang nyata tanpa harus kita lihat bentuk aslinya. Yeah..hanya mencoba mendekat, tanpa menjadikan dirinya sebagai sosok nyata. Dunia akan terlihat mengecil jika terus menjauh, dan membesar jika mendekat. Begitu apik ia selami makna lautan dan isinya. Bumi, tepatnya.

Laju perahu semakin terbakar ketika teriakan “Daratan. Daratan. Daratan” keluar dari mulutnya. Bahkan ada sebagian awak bersorak dan menari kegirangan. Dan benar, tidak lama daratan begitu terlihat jelas. Perjalanan ini sudah ke-50 kali mereka lalui.

Hingga pada sebuah daratan pulau hijau dengan bunga-bunga serta air yang mengalir jernih, nyaris membuat kebosanan bagi awak kapal.

“Keindahan ini, adalah tipuan Kapten!. Tidak ada harta karun di sini”. Ucap seorang awak kapal dengan sinis.

Mendengar ucapan awak kapal tersebut, Colombus hanya tertegun lurus sambil berjalan menelusuri setiap semak-semak dan memandang setiap pohon-pohon rindang. Ada yang berbeda dari sorot matanya kali ini. Ada keteduhan. Ada rasa takjub. Ada rasa kagum. Kupu-kupu yang menari berwarna warni seolah berdialog dengan dirinya. Semilir angin menyejukkan setiap pori-pori wajah Sang Kapten. Ia terlelap dalam berdiri. Tanpa sadar, seluruh awak kapal memandang heran terhadap dirinya. Semacam tidak percaya bahwa Sang Kapten, Colombus yang terkenal kejam benar-benar terlelap.

Dalam jangkauan angan seorang Colombus ada makna tersirat, yang tidak bisa dibahasakan dengan sebuah kebengisan dan kebencian. Alam telah merubah segalanya. Karena, baginya setiap perjalanan terdapat akhir pemberhentian, yakni ketenangan.

By alwayskantry009 Posted in Apa sih?

Harmoni Mata Hati

Sebuah Minggu pagi (8/12) di sebuah per-empatan Jalan Komplek DDN Pondok Labu Jakarta Selatan yang ramai dengan kendaraan roda dua dan empat, terdapat seorang laki-laki usia 30-an berbaju cokelat lusuh dan celana seper-empat berwarna yang sama, sedang menunggu di trotoar jalan. Saya yang baru turun dari angkutan umum tergesa-gesa menyebrangi jalan yang bercabang. Bagi kamu yang mengetahui persis jalan ini, kamu akan mengetahui bagaimana jalan raya bercabang dengan volume kendaraan yang ramai dan ukuran jalan yang kecil tentu saja menuntut kewaspadaan setiap pejalan kaki yang ingin menyebrang atau berjalan di tepi jalan. Tidak mudah memang untuk menyebrang dan berjalan di jalan ini. Kecepatan para pengendara belum bisa diprediksi. Belum lagi, kondisi angkutan umum yang kerap parkir sembarangan (baca-ngetem) nyaris membuat jalan ini tanpa tepi untuk pejalan kaki yang ingin menyebrang.

Ketika itu, saya berasal dari arah Depok (Pangkalan Jati) ingin menuju arah Cilandak. Secara bertahap sudah seharusnya saya menyebrangi sebanyak tiga kali untuk mencapai angkutan kedua menuju Cilandak. Hingga pada penyebrangan pertama, saya ingin melanjutkan nyebrang kedua, pandangan yang tadinya hanya kiri dan kanan serta kaki yang siap menghadang kendaraan, tiba-tiba mematung seperti terpaku oleh dorongan iba melihat laki-laki yang semula berdiri di samping saya pada penyebrangan pertama, berjalan sambil meraba menggunakan tongkat berwarna silver. Dia Tuna Netra.

Sekitar kurang lebih 15 detik saya mengamati, yeah mematung hanya mengamati. Di situ, ada gejolak peduli dan tidak peduli. Satu kondisi harus mengejar ketepatan waktu sampai di kantor, satu kondisi lain saya merasa iba. Melihat laki-laki itu berjalan di jalan raya, dengan cepat saya langsung menarik tangan laki-laki itu ke tepi jalan. Kendaraan terlihat merayap, dan motor yang menyalip licin bak tubuh belut membuat kecemasan tersendiri bagi saya ketika melihat kondisi laki-laki ini. Akhirnya saya menanyakan arah tujuannya. Dia menjawab, ingin menuju Pasar Minggu.

Mendengar tujuan yang sama, saya langsung semangat. “Oh kalau gitu kita satu arah. Naik 61 Pak. Kalau gitu kita siap-siap nyebrang ya Pak”. Walau, di tengah perjalanan ketika menyebrang, samar saya dengar, ia berkata, “saya ingin naik 506”. Namun, saya sedikit tidak memikirkan perkataan itu, yang penting naik angkot yang sama.

Lalu bagaimana ketika menyebrang?, Nah ini dia yang unik. Saya harus memegang lengan tangan sebelah kanan laki-laki itu. Entahlah eratan tangan ini apakah kekencangan ataukah terlalu lembek. Karena jujur saja, saya sedikit cemas jika posisi kakinya berbeda dengan posisi pijakan kaki saya, ataukah tegapan badan ketika ingin menyebrang, hm.. lebih kepada kecondongan tubuh dalam antisipasi halauan kendaraan, terutama motor yang acap kali menyalip tanpa dosa.

Mungkin bagi kami yang dapat melihat, antisipasi itu perlu, pun kecelakaan kerap terjadi karena serobotan kendaraan yang tiba-tiba tanpa permisi. Akhirnya satu solusi, saya berusaha memandang dengan tajam tepat di kaca pengemudi pada kendaraan roda empat. Tangan, sebagai aba-aba STOP nyaris kokoh seperti satpam sekolahan yang akan menyebrangi anak sekolah dasar. Tidak ada papan bertuliskan STOP, baju putih biru dongker, lengkap dengan atribut priwitan dan topi bertuliskan SATPAM, saya melaju dengan Bismillah..

Di tengah garis batas ruas kiri dan kanan, saya sedikit bimbang terkait apakah harus tukar posisi atau tidak. Karena kali ini kendaraan dari arah berlawanan. Namun kondisi jalan yang sempit, saya berusaha pastikan posisi kaki saya dengannya sama sehingga tidak terserempet kendaraan. Banyak yang menonton adegan dramatis ini. Tapi sayang, mereka hanya menonton.

“Kendaraannya ada di sebelah kiri. Jadi hati-hati ya pak. Kalau saya bilang jalan, baru jalan”. Itulah instruksi yang saya berikan kepadanya. Syukurlah.. penyebarangan kedua berjalan lancar. Lanjut penyebarangan ketiga, kami pun harus berjalan menelusuri sisa tepi jalan yang mana hanya perbatasan kali dan jalan raya. Bayangkan, sungguh jalanan yang tidak layak digunakan. Saya berusaha membimbing laki-laki itu di depan. Terdengar suara tongkat berwarna silver miliknya masih bergerak meraba sisi jalan kiri dan kanan. Ketika ingin melanjutkan untuk menyebrang, kondisi jalan macet. Di suatu sisi terdapat motor yang ingin menyalip. Saya langsung mengangkat tangan memberi isyarat ingin menyebrang, namun apa yang terjadi, pengendara motor itu terus menghadang jalan kami, sehingga kami sulit berjalan. Dengan sedikit pitam, saya menegur pengendara itu. Ada sedikit cek cok di situ. Tapi sudahlah..akhirnya kami yang mengalah. Saya harus menuntun laki-laki tuna netra itu langkah demi langkah, agar tidak terinjak roda motor atau panasnya knalpot motor. Miris memang lagi-lagi pejalan kaki yang mengalah.

Allah memang bersama kami, alhamdulilah penyebarangan ketiga lancar dan selamat hingga akhirnya kami melanjutkan menaiki angkutan umum rute Cinere-Pasar Minggu. Di perjelanan saya dan laki-laki itu berbincang terkait arah tujuan yang ternyata ia tidak ingin menuju pasar minggu. Namun menuju Kampung Rambutan. Maka dari itu, ia berkata “506”.

Hanya itu perbincangan kami. Selebihnya saya hanya mengamati sosok laki-laki ini. Mulai dari cara duduk, hingga aturan pergeseran penumpang sepertinya dia sudah hafal dengan posisi angkutan umum. Dia seperti mendekat kepada letak pintu keluar angkot. Sehingga setiap angkot berhenti, dan mendengar bunyi kaki menaiki angkot, dia mencoba bergeser ke kanan. Jika tidak ada, bergeser sedikit ke kiri.

Di saat saya mengamati laki-laki ini, ada yang membuat saya bertanya dalam hati paling dalam. Ketika, Angkutan umum sudah melaju hingga daerah Cilandak KKO, laki-laki ini tertunduk dengan tangan kanan memegang dahi. Ini seperti tertidur layaknya orang yang memiliki indera penglihatan. Cukup lama ia seperti itu. Lalu, saya berpikir, apakah ia tertidur?, lalu apa bedanya tertidur saya dengan dirinya yang tertidur?. Jika saya tertidur adalah meredakan kantuk karena lelahnya urat-urat saraf mata, lalu bagaimana dengan laki-laki ini?.

Angkutan umum pun melaju hingga daerah Trakindo. Lagi-lagi saya memperhatikan laki-laki ini. Ada yang menarik dari sosok dia. Ketika mobil angkot berhenti karena lampu merah, semula ia tertunduk bak orang tertidur, tiba-tiba seperti terbangun. Wajahnya kembali menegak. Kemudian, ia merogoh tas untuk mengambil uang. Bukan merogoh, tepatnya. Namun meraba angka nominal uang itu. Ketika uang sudah ia siapkan, gesture tubuh sedikit bergeser ke kiri, seolah memberikan ‘kuda-kuda’ ingin turun.

Lampu merah kembali hijau, angkot pun melaju membelok jalan TB Simatupang. Tidak lama, laki-laki itu dengan lantang berkata, “506 Kiri bang!”. Dia pun menuruni angkot dan menepi di pinggir jalan, seolah menunggu angkutan umum 506. Terlihat, ia hanya berdiri, tanpa bertanya. Walau sebenarnya, mobil 506 itu ada tidak jauh dari tempat ia berdiri. Namun, ketika sang kondektur berteriak “Kampung Rambutan..kampung Rambutan !” sambil mengetok-ketok an koin pada kaca mobil,  laki-laki itu menoleh tertuju letak mobil itu. Perlahan langkahnya meraba untuk mendekat. Ia pun menaiki “506” (Akhirnya).

Sepanjang jalan, saya jadi berpikir dalam. Mencoba merekam setiap apa yang dilakukan olehnya. Terkadang, kita berpikir iba terhadap mereka (tuna netra) dan berpikir sinis kenapa harus tuna netra berjalan sendiri di jalan sebesar dan se runyam seperti di Jakarta ini???. Kemana keluarganya??. Apakah menelantarkannya?!. Malu, punya sanak keluarga yang tuna netra?! . Begitulah segelumit prasangka buruk yang berkembang biak di otak saya.

Namun, segala perasangka buruk atas penilaian negatif yang saya buat sendiri, perlahan menemukan jawabannya sendiri. Apa yang membuat dia berjalan dengan meraba, apa yang membuat dia berkata rute tujuan angkutan umum, bukan rute tujuan akhirnya, apa yang membuat ia tertidur, apa yang membuat ia terbangun di waktu yang tepat, meraba uang yang pas, mengucapkan pemberhentian yang tepat, apa yang membuat dirinya dapat mengetahui letak angkutan umum 506, lalu apa semua itu??.

Dia terlatih, itulah jawabannya. Ia memiliki kepekaan perasaan yang luar biasa. Dalam gelap dan bunyi ia mencoba menggambarkan dunia ini dengan caranya sendiri. Saya baru ingat, bunyi atau suara bising jalan raya terkadang mudah dideteksi. Sama halnya ketika saya sedang tertidur pulas, tiba-tiba terbangun apabila sudah mendekat tempat tujuan. Kebiasaan yang terlatih akan membiasakan diri kita mengenal sebuah tempat yang biasa kita lalui. Kuncinya berlatih. Untuk itu dirinya sudah sangat paham dengan tatak rama berkendara dan segala urusannya.

Kejadian ini, sangat memberikan pelajaran berharga. Bahwa, terkadang rasa iba dapat menjerumuskan dalam hal negatif. Karena, stigma iba itu kasihan. Megasihani orang lemah. Namun, dalam kondisi ini, justru rasa iba itu adalah musuh. Salah-salah justru me-kerdilkan manusia itu sendiri. Tidak mandiri, tidak berkembang. Akan tetapi, bukan berarti ketika kita tidak iba, maka timbulah acuh tak acuh. Sama sekali tidak ada korelasinya. Selebihnya, tentu kita harus sadar bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Namun, dibalik ketidak sempurna itulah ada kesempurnaan bagi diri kita sendiri.

Minggu pagi, dengan rangkaian rencana Allah untuk saya renungkan sangat bermanfaat. Semoga bagi yang membaca lebih mesyukuri segala nikmat dan keberkahan yang sudah diberikan. Terlebih untuk diri saya sendiri.

Adios..

Interlude 3 : Untuk Kamu, yang Menangis di Hari Kamis

Jujur, bagi ku, ini sangat sulit untuk menanyakan tentang rasa di hatimu hari ini.
Namun, yang ku tau, kamu menangis dalam sepi hingga air mata mu mengering dan megerak.
Kehilangan, ya.. kejadian itu tentu menyedihkan. Aku tau.
Harapan mu sangat penuh untuk sesuatu yang kamu anggap berarti dalam hidup mu. Aku tau.
Kini hilang, ada yang mengambil dari mu. Aku tau.
Bingung, kenapa aku tau?.
Ah, tak usah kau tanya itu kepadaku.
Kau tau aku, aku tidak akan menunjukkan wujudku kepadamu.
Barang wajahku, tubuhku, ataukah suaraku,
Satu yang harus kamu tau, bahwa kehilangan adalah determinasi atas kedapatan yang akan muncul.
Ia baru. Baru bagimu lebih tepatnya.
Pegang janjiku, Ia akan lebih baik untuk mu.
Jadi tidak usah terus membatu seperti mayat hidup ini.
Apa?, kamu masih bertanya kenapa aku menyampaikan ini?,
Kamu tau, aku tertawa lepas mendengar pertanyaamu kali ini.
Baiklah, akan ku sampaikan siapa diriku sebenarnya.
Aku adalah maya, yang terbentuk karena pantulan cahaya secara teratur.
Aku adalah makhluk simetris pada cermin datar.
Aku adalah Kamu.

Perfekto : “Perjodohan Tanpa Batas Waktu” – Part 2

Lantunan lagu dengan sedikit sentuhan country soul melambaikan perasaan sang Ibu dalam dekapan sore. Tumpukan kertas penilaian urung ia koreksi, walau sebenarnya ingin ia lakukan demi sebuah akreditasi perusahaan konsultan pendidikan yang sudah berdiri selama 3 tahun itu.

“Haruskan Aku mencarikan jodoh untuk anak ku?”, pikirnya dalam-dalam tentang niat perjodohan yang ingin ia lakukan untuk ankanya. Dengan pandangan lurus memecah kemelut hatinya yang begitu mempedulikan nasib sang anak yang tak kunjung menikah di usia mapannya.

Sorot mata yang tajam, tiba-tiba mengendur seolah menunjukkan kelelahan atas aktifitas kali itu. Segera ia lepas tangkai kacamata rabun dekat yang kerap ia pakai selama beraktifitas. Sesekali tangannya memijit pangkal hidup mancungnya sambil terus berpikir.

“Ah, Yona.. mau mu apa nak?”, Ucapnya seraya menghembuskan nafas berat sambil membasuh wajahnya dengan kedua tangannya. Pikirnya, anak perempuan pertamanya sudah begitu dewasa. Sudah layak baginya untuk menentukan suami yang terbaik untuk masa depannya. Namun, apa daya, bayangan atas  masa lalu serta bawaan kisah sang anak kian menjelma roh makhluk halus yang meminta pertanggung jawaban dari dirinya.

“Oh Ya.. Tuhan.. dia tidak metahu, tentang masalah itu”. Ucapnya dengan lirih sambil memandang ke atas seolah berharap dengan keberadaan Tuhan di ruangan itu.

Keesokan harinya, Yona dan Ibunya bertemu dalam sebuah kebiasaan pagi, olah raga yoga. Ibu dan anak ini, kerap menjaga kesehatan tubuh dengan kebiasaan sehat, yang rutin mereka lakukan. Kebiasaan yang kian membuat mereka begitu dekat. Karena dengan beryoga, mereka dapat santai atas kepenatan hari-hari yang sudah mereka lalui di kantor. Satu lagi, berdialog menjadikan ajang tukar pikiran, yang terkadang menimbulkan sebuah inspirasi ataukah hanya sekedar melaps tawa karena cerita lucu dari pengalaman satu sama lain. Komplit roti gandum isi dan secangkir teh hijau kian mengisi pagi yang manis.

“Yona, mamah ingin kasih sesuatu untuk kau pertimbangkan”.  Ucap sang mamah setelah menyerumput teh dalam cangkir porselain hitam.

“Lelaki itu?”. Tanya Yona seolah menebak ajuan sang Mamah untuk dirinya. Yona melihat sang Mamah berjalan menuju kamarnya. Tidak lama, kembali menuju dirinya sambil membawa map surat berwarna cokelat. “Is He The Lucky One?”, Tambahnya dengan tersenyum sinis.

“Kamu baca dulu biodatanya. Mamah, enggak akan nge-intervensi-kan kamu atas keputusan mu selanjutnya”, Sekiranya perkataan sang Mamah kali ini cukup serius dan tegas, bahwa ini pilihan hanya ada di tangan Yona, bukan dirinya.

“Oke, Mam.. Yona akan baca lelaki ini dengan teropong colombus”. Ledek Yona sambil memperagakan jenaka ala bajak laut. Dan tawa mereka pun pecah di tengah susana pagi.

Bersambung..

Hey, Ini adalah ‘Sokola Rimba’

Sokola Rimba

Sudahkah kamu menonton film Sokola Rimba?, Atau masih ada yang menimbang-nimbang, memikir ulang, untuk mencari dorongan apa yang bisa membuat tertarik untuk menonton?.

Ya, kali ini saya mencoba berbagi pandangan saya terkait film garapan Riri Riza ini. Jadi bagi kamu yang belum menonton, yuk disimak.

Pernahkah kita berpikir bahwa ada kehidupan di dalam rimba belantara sana?, kalau saya sih, tidak terpikirkan bahwa ada kehidupan manusia di dalam sana. Karena, tanpa cahaya lampu atau bahkan bangunan semi permanen yang dapat melindungi dirinya (manusia) tentu menjadi alasan utama, manusia enggan hidup di sana. Namun, setelah menonton film ‘Sokola Rimba’ saya menjadi terkekeh bahwasanya memang sebenarnya ada kehidupan di dalam rimba.

Film yang juga diambil dan didasari dari buku ‘Sokola Rimba’ yang dituliskan oleh Butet Manurung, menceritakan kisah sekelompok anak-anak Rimba Hutan di Jambi yang hidup secara nomaden, namun bertekad kuat untuk menuntut ilmu pendidikan. Butet Manurung yang diperankan oleh Prisia Nasution begitu apik memerankan untuk sebagai Ibu Guru Butet yang bersahaja dan beridialisme tinggi. Selain Prisia Nasution, para pemain Sokola Rimba ini juga diperankan oleh sebagian kelompok rimba sesungguhnya.

Konsep penyampaian film ini cukup provokatif. Karena, pada beberapa adegan, Riri Riza selaku Sutradara dan Mira Lesmana sebagai produser membuat seolah-olah penonton merasa tersulut realita menyedihkan atas kondisi penjajahan yang nyata di negeri sendiri dengan orang pribumi sendiri. Terlihat ada beberapa aksen ‘jawa’ yang mencerminkan sebagai penduduk pendatang yang berburu nasib di tanah Sumatera dengan merelakan penduduk aseli itu sendiri. Namun, bukan Miles namanya jika tidak mengemas amarah menjadi pesan moral atas pentingnya pendidikan untuk semua kalangan, terutama di kalangan Hutan Belantara. Seperti, sosok seorang penduduk Rimba bernama Nyungsang Bungo yang mengikuti sosok Ibu Guru Butet walau dengan jarak yang begitu jauh dari kediamannya. Hal itu dilakukan demi belajar membaca, menulis, dan berhitung. Melihat kegigihan Bungo, sang Ibu Guru Butet mencoba membujuk keluarga Bungo untuk membolehkan mengikuti belajar bersamanya.

Cerita ini juga memiliki konflik yang sangat menyentuh sisi emosional. Kamu harus tau, bagaimana alasan seorang anak rimba ingin pintar membaca, menulis, dan berhitung. Di adegan itulah, Miles mencoba memberi pesan moral bahwa ada kepintaran untuk sebuah makna keberlangsungan hidup sebuha komunitas. Kebutuhan pendidikan yang hampir punah karena kerakusan feodal kota yang tanpa batas puas, akan tersingkirkan dengan kegigihan niat kepeduliaan dari seorang Ibu Guru Butet. Pesan yang disampaikan dengan gaya bahasa Jambi Dalam dan musik latar yang dikemas oleh Wong Aksan pada film ini , membuat cerita begitu kental dengan nuansa etnik Indonesia.

Jadi, tunggu apa lagi, kamu harus nonton film ini bersama keluarga. Saya rekomendasi 4 bintang untuk film ini. Selamat menonton…

Adioossss..