Perfekto : “Perjodohan Tanpa Batas Waktu” – Part 2

Lantunan lagu dengan sedikit sentuhan country soul melambaikan perasaan sang Ibu dalam dekapan sore. Tumpukan kertas penilaian urung ia koreksi, walau sebenarnya ingin ia lakukan demi sebuah akreditasi perusahaan konsultan pendidikan yang sudah berdiri selama 3 tahun itu.

“Haruskan Aku mencarikan jodoh untuk anak ku?”, pikirnya dalam-dalam tentang niat perjodohan yang ingin ia lakukan untuk ankanya. Dengan pandangan lurus memecah kemelut hatinya yang begitu mempedulikan nasib sang anak yang tak kunjung menikah di usia mapannya.

Sorot mata yang tajam, tiba-tiba mengendur seolah menunjukkan kelelahan atas aktifitas kali itu. Segera ia lepas tangkai kacamata rabun dekat yang kerap ia pakai selama beraktifitas. Sesekali tangannya memijit pangkal hidup mancungnya sambil terus berpikir.

“Ah, Yona.. mau mu apa nak?”, Ucapnya seraya menghembuskan nafas berat sambil membasuh wajahnya dengan kedua tangannya. Pikirnya, anak perempuan pertamanya sudah begitu dewasa. Sudah layak baginya untuk menentukan suami yang terbaik untuk masa depannya. Namun, apa daya, bayangan atas  masa lalu serta bawaan kisah sang anak kian menjelma roh makhluk halus yang meminta pertanggung jawaban dari dirinya.

“Oh Ya.. Tuhan.. dia tidak metahu, tentang masalah itu”. Ucapnya dengan lirih sambil memandang ke atas seolah berharap dengan keberadaan Tuhan di ruangan itu.

Keesokan harinya, Yona dan Ibunya bertemu dalam sebuah kebiasaan pagi, olah raga yoga. Ibu dan anak ini, kerap menjaga kesehatan tubuh dengan kebiasaan sehat, yang rutin mereka lakukan. Kebiasaan yang kian membuat mereka begitu dekat. Karena dengan beryoga, mereka dapat santai atas kepenatan hari-hari yang sudah mereka lalui di kantor. Satu lagi, berdialog menjadikan ajang tukar pikiran, yang terkadang menimbulkan sebuah inspirasi ataukah hanya sekedar melaps tawa karena cerita lucu dari pengalaman satu sama lain. Komplit roti gandum isi dan secangkir teh hijau kian mengisi pagi yang manis.

“Yona, mamah ingin kasih sesuatu untuk kau pertimbangkan”.  Ucap sang mamah setelah menyerumput teh dalam cangkir porselain hitam.

“Lelaki itu?”. Tanya Yona seolah menebak ajuan sang Mamah untuk dirinya. Yona melihat sang Mamah berjalan menuju kamarnya. Tidak lama, kembali menuju dirinya sambil membawa map surat berwarna cokelat. “Is He The Lucky One?”, Tambahnya dengan tersenyum sinis.

“Kamu baca dulu biodatanya. Mamah, enggak akan nge-intervensi-kan kamu atas keputusan mu selanjutnya”, Sekiranya perkataan sang Mamah kali ini cukup serius dan tegas, bahwa ini pilihan hanya ada di tangan Yona, bukan dirinya.

“Oke, Mam.. Yona akan baca lelaki ini dengan teropong colombus”. Ledek Yona sambil memperagakan jenaka ala bajak laut. Dan tawa mereka pun pecah di tengah susana pagi.

Bersambung..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s