Menyapa Mr. Colombus

 

“Perjalanan ini masih panjang ataukah sudah dekat, Kapten?”

Tanya seorang awak kapal berpakaian abu-abu, lengkap dengan celana pensil berbahan parasut, dan paling penting ikat kepala tanpa motif yang selalu digunakan untuk menutupi kening dari terik matahari.

Pelit jawaban, laki-laki yang selalu dipanggil Kapten itu, hanya menatap lurus hamparan samudera di depannya.

Tanpa teropong, hanya mata telanjang Sang Kapten begitu khusyuk menyelami makna hamparan luas samudera yang dilihatnya kali ini. Sesekali ia berdecak. Sesekali ia menggigit bibir bawah berwarna kecokelatan.  Atau sesekali ia menghentak-hentakkan kaki kirinya yang tak terlihat mulus layaknya kaki manusia. Telapak daging berubah menjadi topangan kayu jati seperti corong, berbentuk pipa tabung di betis hingga mata kaki dan ujungnya memipih tajam, tidak setajam ukuran jarum, namun masih bisa digunakan untuk berjalan tegak mengimbangi topangan tubuh oleh tongkat.

“Kapten, apa maksudnya itu?’, Awak kapal kembali bertanya dengan pensaran.

“Daratan. Daratan. Daratan”. Ucapnya kemudian.

Awak kapal itu hanya mebatu tidak paham ucapan Sang Kapten. Ingin rasanya ia bertanya ketiga kalinya, namun apa daya awak kapal ini sudah terlanjur paham karakter Sang Kapten yang terkenal dengan membenci kebodohan. Dengan artian, jika seroang awak bertanya berkali-kali kepadanya, dia akan dibunuh secara paksa dengan cara diceburkannya ke dalam kerumunan ikan Hiu ganas yang kelaparan.

Pernah suatu ketika, seroang awak berkulit matang bertanya kepada Sang Kapten tentang arah rasi bintang sebagai laju perahu mereka. Kemudian Sang Kapten hanya memandang lurus dan berteriak , “Terjaaaaang !!”

Merasa jawabannya sulit dipahami, awak kapal pun kembali bertanya, dan Sang Kapten tetap menjawab dengan demikian. Hal itu terjadi selama tiga kali. Hingga pada keempat awak itu bertanya, Sang Kapten hanya menjawab “Lemparkan !!”, Bak mimpi di siang bolong, awak itu pun diceburkan ke dalam lautan.

Semenjak kejadian itu, seluruh awak kapal tidak akan pernah bertanya berkali-kali sebanyak tiga kali. Menurut mereka tiga kali adalah keberanian yang mempertaruhkan nyawa.  Pun Sang Kapten yang terkenal dengan raut wajah seram dan sedikit berbicara ini akan asik dengan cara dirinya menyampaikan perintah bagi awak kapal mereka.

Kapten ini bernama Colombus. Ia tidak pernah memperkenalkan nama kepada siapa pun. Colombus hanya sebutan yang tercetuskan begitu saja. Sebutan yang keluar dari mulut dirinya ketika acap kali mengarungi badai ombak kejam di lautan. Ia berkali-kali berkata “Coloooooombuuuuuuuss!”. Alhasil hingga seterusnya, Kapten dijuluki sebagai Kapten Colombus. Berkat kepiawaiannya mengarungi ombak ganas, ia dan sejumlah awak kapal selamat dari monster samudera.

Tidak hanya sampai di situ, Kapten Colombus juga sering menemukan daratan berisi tumbuhan serta harta karun. Entah ada apa dengan Colombus, di jiwa yang serba misterius, justru ia mensejahterakan awaknya.

Colombus dengan sejuta tanya dalam diri dunia. Dunia banginya adalah cembung yang nyata tanpa harus kita lihat bentuk aslinya. Yeah..hanya mencoba mendekat, tanpa menjadikan dirinya sebagai sosok nyata. Dunia akan terlihat mengecil jika terus menjauh, dan membesar jika mendekat. Begitu apik ia selami makna lautan dan isinya. Bumi, tepatnya.

Laju perahu semakin terbakar ketika teriakan “Daratan. Daratan. Daratan” keluar dari mulutnya. Bahkan ada sebagian awak bersorak dan menari kegirangan. Dan benar, tidak lama daratan begitu terlihat jelas. Perjalanan ini sudah ke-50 kali mereka lalui.

Hingga pada sebuah daratan pulau hijau dengan bunga-bunga serta air yang mengalir jernih, nyaris membuat kebosanan bagi awak kapal.

“Keindahan ini, adalah tipuan Kapten!. Tidak ada harta karun di sini”. Ucap seorang awak kapal dengan sinis.

Mendengar ucapan awak kapal tersebut, Colombus hanya tertegun lurus sambil berjalan menelusuri setiap semak-semak dan memandang setiap pohon-pohon rindang. Ada yang berbeda dari sorot matanya kali ini. Ada keteduhan. Ada rasa takjub. Ada rasa kagum. Kupu-kupu yang menari berwarna warni seolah berdialog dengan dirinya. Semilir angin menyejukkan setiap pori-pori wajah Sang Kapten. Ia terlelap dalam berdiri. Tanpa sadar, seluruh awak kapal memandang heran terhadap dirinya. Semacam tidak percaya bahwa Sang Kapten, Colombus yang terkenal kejam benar-benar terlelap.

Dalam jangkauan angan seorang Colombus ada makna tersirat, yang tidak bisa dibahasakan dengan sebuah kebengisan dan kebencian. Alam telah merubah segalanya. Karena, baginya setiap perjalanan terdapat akhir pemberhentian, yakni ketenangan.

Iklan
By alwayskantry009 Posted in Apa sih?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s