Hai, pengantin baru dengarlah curahan hati ‘kami’

Tiba-tiba seorang perempuan berusia 29 tahun datang ke meja saya sambil menggebu-gebu. Tampak tangan yang bergetar membawa telepon pintar bermereck ternama dunia, ia mengoceh tanpa tanda baca yang biasanya. Jika dilihat dari kondisinya, perempuan ini sedang begitu kalut dengan kondisi dirinya yang tidak kunjung menikah. Namun sebenarnya bukan permasalahan tidak kunjung menikah kali ini, tetapi kondisi sosial di dunia media sosial yang menyebabkan perempuan ini tampak pitam.

Segala permasalahan dan prahara hidup tumpah ruah di ruangan kantor saya. Hingga akhirnya saya menjadi tahu, bagaimana sebuah dampak media sosial online membawa dosa yang luar biasa tanpa disaadari kebanyakan orang. Facebook, yang biasa digunakan untuk menukar informasi dan memajang eksistensi pribadi itu kian merajalela menjelma racun HIV yang merogoti  tubuh orang yang sehat. Begitu jahat.

Perempuan ini, begitu risih ketika harus membuka facebook, yang kemudian terlihat status-status rekannya yang menjamur di timeline miliknya. Dia pun menunjukkan beberapa update status-status tersebut.  Isi kalimat itu, tidak lain mencirikan curahan hati sang pengantin baru, atau terkadang ada juga berisi sapaan manja untuk isteri/suami mereka. Ada lagi, bahkan terdapat tulisan semacam motivasi bagi para lajang untuk segeralah melepas lajang. Seperti, “Ayo Segerelah Menikah, Tunggu apa lagi !!”.

Satu lagi, beberapa dari orang-orang itu, mengunduh foto-foto mesra dengan muhrimnya. Walaupun sebelumnya ternyata tidak pernah memamerkan sosok diri di tengah publik.

Perempuan di depan saya kembali, merongrong kesal. Menanyakan kesalahan pada dirinya, kenapa tidak bisa seperti mereka yang dipertemukan dengan pasangannya. Apa ada yang salah dengan dirinya?, dan lain-lain..

Mendengar curahan hati perempuan ini, saya hanya memasang telingan, mencoba menjadi pendengar yang baik. Toh, ini mengingatkan saya dengan fenomena serupa pada laman facebook milik saya sendiri . Banyak dari mereka yang berlomba mengunggah atau menulis status seperti menulis panjang sebuah karangan essay. Bedanya, dengan perempuan itu, saya sangat acuh dengan hal-hal serupa seperti itu. Ah, sayangnya, ternyata tidak semua orang seperti saya. Inilah fatalnya.

Menemukan fenomena ini, saya pun mencoba berdiskusi dengan salah satu teman yang sudah menikah hampir setahun lamanya. Ia menyatakan bahwa, pada sudut pandang memamerkan kemesraan dengan muhrim di sosial media adalah hak masing-masing. Terlebih bagi mereka yang tidak mengalami proses berpacaran. Maka salah satu media untuk me-ekspresikan kebahagiaan tiada tara itu salah satunya melalui sosial media, seperti facebook. Akan tetapi jika ditanya, apakah setuju dengan perilaku seperti ini?, teman saya pun menganjurkan untuk tidak seperti itu seharusnya. Karena mungkin maksud mereka adalah memotivasi sesorang untuk menikah. Namun sayang, jatuhnya menjadi demotivasi. Demotivasi inilah, yang mungkin dialami perempuan ini.

Sahabat yang baik, kebebasan bermedia sosial online memang tidak memiliki konsekuensi pidana yang kuat, tetapi saya sepakat jika dampak media sosial online lebih kepada konsekuensi psikologis kelas berat dibanding jika harus bertarung dengan kekuatan tubuh (berantem), terlebih tidak memiliki gatekeeper di sana. Islam pun mengajarkan untuk tidak mengumbar-umbar kemesraan dengan muhrim di depan publik. Di balik dari kesenangan tiada tara itu mungkin ada hati yang terluka. Sedih. Dan meratapi nasib yang tidak sama seperti kalian. Tentu kita semua paham, bahwa jodoh adalah rahasia Allah yang sangat menguji kesabaran dan keikhlasan dalam hal beribadah hanya karena Allah.  Tidak bisa dipaksakan dengan kalimat “Ayo segera menikah. Tunggu apa lagi??”. atau bahkan kalimat “Tidak ada kata menunda menikah”

Jika kondisinya adalah, bukan menunda waktu menikah, tetapi karena memang belum dipertemukan oleh Allah orang yang sangat baik baginya, bagaimana?. Bagaimana kalian menjawab kondisi ini?.

Tulisan ini, sengaja saya sampaikan, karena saya sangat prihatin dengan fenomena ini. Mohon maaf jika ada yang merasa tersakiti dengan tulisan ini. Semoga tidak menjadi suluh pertengkaran atau alasan ketidak sukaan atas kebahagiaan orang lain. Melainkan semoga fenomena ini menjadikan ajang pertimbangan bagi diri kita untuk berperilaku sesuai keadaan sosial yang mungkin tidak bisa kita jamah dengan hanya melalui sosial media online seperti facebook.

Semoga bermanfaat.

Adioos..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s