Pengakuan di Hari Ibu untuk Ibu Ku

Tepat di Hari Ibu, hari Minggu di Bulan Desember berubah menjadi sendu oleh rintikan air hujan yang tak kunjung reda, saya memandang beberapa tampilan foto-foto dan gambar-gambar di media sosial. Banyak dari mereka tak urung untuk menunjukkan sisi kemesraan dengan sosok Ibu.  Kalimat terimakasih dan ucapan sayang untuk Ibu mendampingi makna dalam foto-foto tersebut. Mungkin ini pertanda bahwa memang waktunya kita sebagai anak, sekali-kali merenung atas hubungan Ibu dan Anak pada kehidupan kita masing-masing Ya, merenung hubungan dua insan manusia yang terjalin dari kekuatan batin secara alamiah.

Kita mulai dengan pertanyaa, sudah berapa lama kita hidup di dunia?,

Saya, yang tahun ini sudah 24 tahun, menyadari bahwa sudah 24 tahun lebih 9 bulan, Mamah (Sapaan manis untuk Ibu bagi saya) menemani dengan segala cerita di dalamnya. Dengan perjuangan yang tidak ringan harus dilaluinya ketika mengandung janin bayi yang tentu diharapkan atas Cinta. Harapan dan doa terus mengalir di setiap makanan yang masuk ke dalam plasenta, atau aliran darah yang memompa denyut nadi sang janin membungkus hanggat dunia rahim yang melindungi diri saya untuk bersabar menyambut sebuah dunia yang fana.

Seorang perempuan yang sedang mengandung, tentu biasanya mengalami gangguan fisik. Seperti mual, pusing, pegal-pegal, kaki keram, tidak bisa tidur, susah buang air besar, dan masih banyak lagi kendala yang disebabkan oleh kami yang kala itu masih menjadi jabang bayi. Saya dapat memaparkan semua itu, memang bukan karena empiris pribadi, akan tetapi pengamatan pada segelintir para rekan yang sedang menjalani masa kehamilan. Bagaimana ia tidak bisa tertidur tenang, disebabkan seluruh punggung begitu terasa sakit dan pegal. Belum lagi harus terbangun di tengah malam, karena harus meregangkan betis kaki yang tiba-tiba tertarik keram.

Kejadian unik itu, membawa bayangan semu sebuah analogi yang saya buat sendiri mengenai nasib mamah saya ketika harus menjalani kehamilan. Apakah saya begitu menyusahkan?, menyengsarakan tubuhnya?, apakah saya membuanya muntah?, apakah saya selalu membuat keram pada betisnya?, apakah mamah saya menikmati masa kehamilan itu?, atau jangan-jangan justru membenci masa kehamilam itu?.

Jika dilihat dari gambaran rekan-rekan yang sedang hamil, saya sangat takjub atas apa yang mereka alami dan mereka rasakan. Segala kesakitan mendera selama sembilan bulan itu sontak resesif hanya karena Cinta yang ikhlas. Sesekali ketika harus merasakan kelelahan, sang Ibu turut mengusap-usap perut seraya berkontak bathin menyampaikan pesan, “Tumbuhlah menjadi anak yang sabar ya Nak, sesabar Ibu mu yang mengandung mu saat ini”

Bulan demi bulan dilalui, hingga pada waktu melahirkan tiba, percayalah Ibu akan lebih mempersiapkan mental lebih kuat dibanding masa kehamilan. Bak, akan berdiri pada dua keputusan hidup dan mati, atau semacam menjemput maut dengan begitu sadar, Sang Ibu jauh dari rasa gentar dan takut. Perjuangan yang membuat saya merinding ketika harus membayangkan cerita-cerita dari mamah, bagaimana proses persalinan itu adalah hidup dan mati.  Lantas, apa yang membuat mereka berani?, sekali lagi Mamahku menyampaikan, demi kamu.

Hingga takdir, melahirkan diri ini ke dunia, Seorang Ibu, dengan tangis haru akan bersyukur. Bahkan, kesakitan proses persalinan konon katanya tiba-tiba menghilang tidak terasa lagi. Air susu dari puting payudara mengalir deras untuk kesuburan sang bayi. Tangan halus Ibu dengan wajah pucat, ia tepis demi pesan moral bermakna yang tidak lain tidak bukan, “Tumbuhlah menjadi anak yang kuat ya Nak, sekuat Ibu mu yang berjuang melahirkan mu”

Tubuh mungil kian meranjak tumbuh besar. Hingga tidak terasa sudah 24 tahun lebih 9 bulan kebersamaan saya dan Ibu saya tertanam dalam balutan beragam cerita. Menurut kebanyakan cerita, Ibu bagi anak perempuan adalah sahabat. Ternyata memang benar adanya. Bagi saya pun demikian. Walaupun terkadang, sesekali berbeda pendapat, kami tetap sahabat. Pertengkaran adalah bumbu introspeksi kedewasaan yang harus dijalani. Meskipun, pada kenyataannya memang seorang anak yang selalu banyak kesalahan dan melakukan dosa dengan menyakiti hati sang Ibu.

Kekesalan demi kekesalan yang muncul justru menjadikan sang anak menyadari bahwa dibalik kekesalannya, ada rasa syukur atas perlakuan sang Ibu untuknya. Maka sering kita dengar ucapan sakti sang Ibu yang mengatakan, “Percaya sama Mamah/Ibu !. Karena, omongan Mamah adalah benar”

Memang terdengar seperti keputusan dewa rahwana, ucapan itu walau menyakiti sebuah kenyataan yang tidak kita inginkan, tetapi ternyata terbaik untuk diri kita. Sudah selayaknya kita bersyukur dengan pertengkaran-pertengkaran kecil antara anak dan Ibu, yang akhirnya membuat diri kita sebagai anak menyadari kebenaran dan kebaikan untuk diri kita.

Sampai kapan pun, Ibu tidak akan meminta balas budi dari anak-anaknya. Itu lah yang ia sampaikan kepada saya. Karena satu, baginya kebaikan dan kebahagiaan untuk anaknya lah yang terpenting. Melihat anak-anak mereka tumbuh menjadi orang yang sukses yang dapat mengangkat harkat dan martabat keluarga, itu kesan yang akan diadukan kepada Malaikat.

Terkadang, ego anak memang lebih besar dari pada orang tua mereka. Dengan ke-Akua-an yang dimiliki seorang anak, membutakan hati kecil sang mamah yang sudah mendoakan kita untuk sukses. Inilah yang selalu saya khawatirkan. Jangan sampai, ketika ditimpa kesedihan saja, saya kembali pada pelukan sang Mamah. Sebaliknya, dalam kesenangan saya lupa dengan dirinya.

Momen hari Ibu, memang hanya sekedar hari selebrasi saja. Meskipun sebenarnya, sudah seharusnya setiap hari adalah hari Ibu. Cinta untuknya sudah seharusnya terjadi setiap hari. Tapi di momen ini, dapat kita manfaatkan dengan renungan atas apa-apa yang sudah kita lakukan, terlebih atas perbuatan yang sempat menyakiti hati sang Ibu. Ucapan-ucapan kasar yang tidak sengaja kita lontarkan. Atau bahkan waktu-waktu yang tertutup rapat baginya untuk bersenda gurau dengan kita para anak-anaknya karena kesibukan pribadi. Dan masih banyak lagi yang mungkin akan kita temukan alasan mengapa ada peringatan hari Ibu. Jika sudah terkumpulkan, maka yuk sama-sama kita songsong perubahan lebih baik lagi. Selagi masih ada kesempatan melihat dan merasakan sentuhan cinta dari Ibu untuk kita.

Selamat hari Ibu, Mamah..

You’re the best trully love one !

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s