Kado untuk Mu

Akhir Februari, waktu yang seperti ini lah yang terus berbunyi di memo pad. Notifikasi yang tanpa sengaja terbuka karena sentuhan jari teman, membuat saya tersadar untuk melihat deretan nama-nama orang yang berulang tahun di akhir bulan ini. Dari deretan nama – nama itu, ada yang membuat saya teringat teman yang sedang menampaki usia dua puluh enam tahun. Harus saya akui, kali ini ada keunikan mengingat tanggal hari jadi seseorang. Dirimu, kabisat bukan?. tanggal yang hadir setiap empat tahun sekali. Dan risaunya, tahun ini, bukanlah kabisat mu. Lalu, bagaimana saya bisa melupakan hari jadi mu yang unik?. Jadi, biarlah saya menganggap dua delapan ini adalah harimu,  Semoga dirimu tidak berkebaratan.

Entahlah, mengapa ingin rasanya menulis dengan judul “Kado untuk Mu” di blog pribadi saya, yang mungkin kamu sendiri tidak akan pernah membacanya. Maaf, sebelumnya jika saya hanya berani untuk memberimu kado di situs pribadi saya, dan bukan di lama komunikasi sosial mu. Rasanya tidak perlu diironikan mengapa saya hanya berani menulis di laman pribadi saya, yang sebenarnya kamu mengetahui alasan apa yang membuat saya seperti ini.

Mungkin, kamu akan menganggap saya seperti gadis kecil yang tidak berani menghadapi segala perbedaan dan berlari menghindar dengan secara arogan. Sekali lagi, jika kamu menganggap saya seperti itu, saya pun rela menerimanya. Tapi sayangnya, justru kamu pun demikian. Atau asumsi itu hanya dari saya saja?. Ah sudahlah.. tidak usah membahas kejadian yang menjadikan kita seperti ini.

Wahai teman,

Sudah berapa lama kita berteman?, pernahkan kamu mengingat setiap waktu-waktu yang kita isi dengan berpetualang entah apa namanya itu. Kadang berjalan, kadang berlari, kadang tertawa, kadang menyebalkan, kadang menyenangkan, dan segudang ‘kadang’ yang udah kita buat selama hampir satu tahun. Ya, waktu kita mungkin hanya setahun untuk berteman. Walau sebelumnya, ternyata dengan jarak yang jauh, kita pun sudah saling berteman. Waktu setahun yang sudah menjadi takdir perkenalan kita lah yang ingin saya ungkap sebagai kado di usia mu ke-26 tahun.

Dua puluh enam tahun usia mu kini. Dan Allah memberikan saya kesempatan untuk mengenali jatah satu tahun usia mu. Tepat setahun yang lalu, mungkin kesan yang ingin saya sampaikan adalah, harus saya akui, mungkin kamu adalah orang yang sangat baik. Jika dibolehkan saya untuk menebak mu, kamu masih sangat terbilang childish dibanding saya, yang nyata-nyata lebih muda dari mu.

Ah, masih sangat ingat ketika kekonyolan-kekonyolan muncul dari seseorang bertubuh tegap dan tinggi mu. Itu sebabnya, kenapa saya begitu sering menyebutmu, “Aneh”.

Tapi, karena itulah yang akhirnya saya pahami bahwa usia tidak melulu dinobatkan sebagai kedewasaan seseorang. Tapi bukan berarti kamu tidak dewasa. Ya, mungkin di mata orang lain kamu adalah sosok dewasa pengayom hati-hati yang galau. Tapi tidak bagi saya. Saya melihat mu bagaikan anak kecil dengan segala dunia yang membuat tawa kecil terlontar begitu saja di mulut seraya berpikir, “Kok ada ya orang kayak gini?”

Perlu kau ketahui, berteman dan mengobrol dengan mu adalah kenyamanan yang luar biasa saya rasakan. Bahkan sampai-sampai saya terlupa membedakan mana rahasia dan sebenar-benarnya rahasia dalam obrolan itu. Sehingga, inilah yang menyebabkan kondisi saya menjauh. Kenyamanan mengenalmu melupakan ego seketika dan sekejap menimbulkan ego kembali. Saya tidak tahu mengapa kita berteman seperti ini. Mungkinkah pertemanan kita juga menganut kata ‘terkadang’. Entahlah..

Taukah kamu, bukankah berteman adalah pertalian abadi yang saling percaya satu sama lain. Tapi mengapa, hati ini begitu sakit untuk memungkiri bahwa kamu bukanlah (sesungguhnya) teman untuk saya. Dan mengapa begitu cepat saya mempercayaimu di awal kita ketemu. Sehingga saya sulit membedakan mana rahasia dan sebenarnya rahasia. Ini konyol bukan?!.

Segala sesuatu mungkin memiliki alasan mengapa sejarah harus terjadi. Begitu juga dengan tragedi sosial media yang menjadi sejarah kondisi seperti ini. Sejujurnya, tidak ada rasa benci pada diri saya kepada mu. Pun, saya sudah memaafkan dirimu walau hanya sekedar kata “Maaf” yang kau ketik. Namun hati ini masih tetap sulit untuk mempercayai kembali. Karena mu, saya menjadi introspeksi atas kejadian yang pernah saya alami sebelumnya. Rasanya sakit berkeping-keping di ‘tusuk’ dari belakang oleh teman yang sudah saya percayai ( 2 kali ).

Dan kenapa harus oleh mu ?.

Mungkin tidak ada jawaban yang bisa menjawab pertanyaan saya. Karena, semua jawaban akan berhalusinasi dengan hipotesis yang sudah saya buat sendiri tanpa kamu mau memecahkanya juga.

Jadi, mungkin saat-saat seperti ini, hanya doa dan harapan yang ingin saya sampaikan  (tanpa diketahui) oleh mu di 26 tahun.

Saya mendoakan agar kamu diberiakan oleh Allah SWT keberkahan di angka usia baru mu. Keberkahan yang mengalir beriringan deras dengan rejeki mu di langit dan di bumi. Tentu, usia mu bukanlah usia muda bukan?!. Jadi biarkanlah dirimu selalu bermetamorfosis menjadi orang yang berjalan lebih baik dalam akhlak perilaku dan pemikiran yang membawa dampak kebaikan dalam ruhiyah dan jasmani sehingga keberhasilan mu tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

Hanya itu..

Hanya segelumit kalimat yang saya ketik dengan tangan dan pemikiran saya sendiri sambil mendengarkan sejumlah lagu Brian Mcknight yang kamu kirim kepada saya di waktu-waktu pertama kita berteman. Masih ingat?!.

Ya, semoga pertemanan yang pernah terjalin ini, membawa kebaikan kepada diri kita masing-masing.

Selamat Menjajaki Usia di Angka yang Baru, 26 tahun mu.

Adioss..

Iklan
By alwayskantry009 Posted in my soul

Miracle in Cell No.7 : Makna Cinta untuk Ayah

Cinta, kata yang begitu indah, begitu menyentuh hati yang teramat dalam. Semacam lirik lagu dangdut A.Rafiq, bahwa Hidup Tanpa Cinta, bagai Taman Tak Berbunga. Atau seperti pepatah Cina Kuno, yang mengatakan bahwa Hidup dan Cinta adalah rantai mata yang tidak bisa dipisahkan. Saya yakin, kita semua pasti merasakan perasaan cinta yang luar biasa dalam kehidupan kita. Terlebih perasaan yang tidak mungkin tergantikan kepada kedua orang tua kita sendiri. Ibu dan Ayah adalah manusia berhati malaikat pelindung. Ibu, seorang bidadari yang teramat cantik dan baik hati tiada tergantikan oleh apa pun. Begitu pun dengan Ayah. Ayah adalah sosok pahlawan yang senantiasa berjuang untuk keberlangsungan hidup diri kita. Entahlah perasaan itu kembali kini bergelora melambung secara melankolis di malam ini. Hanya karena, setelah menonton film korea yang sangat bagus dan mengharukan.

Film itu berjudul, Miracle in Cell No.7. Film yang ditayangkan pada tahun 2013 itu bercerita mengenai kisah seorang Ayah dengan anaknya yang berpisah karena ketidakadilan hukum menimpa mereka.

Miracle

Sedikit sinopsis cerita film ini adalah, pada suatu kota di Korea Selatan hiduplah seorang Ayah dengan kondisi memiliki mental yang berbeda dari orang-orang normal lainnya. Ia memiliki anak perempuan yang sangat cantik, lucu, dan pintar. Mereka hanya hidup berdua saja pada rumah berukuran kira-kira 4 x 3 meter. Sang Ayah hanya bekerja sebagai tukang parkir di sebuah perbelanjaan.

Suatu hari, Ayah dan puterinya menonton acara Sailor moon di sebuah televisi di depan toko. Anak perempuannya sangat menyukai Sailormoon. Bahkan ia pun pandai menirukan gerakan Sailormoon sambil berkata, “Dengan Kekuatan Bulan, Akan Menghukumu”. Melihat tiruan tarian yang diperagakan sang anaknya, Ayahnya pun ikut menirukan. Dan akhirnya mereka terlihat kompak menirukan bersama.

Setelah meniru dan menyimak tayangan Sailormoon, mata Ayah dan puterinya itu tertuju pada tas bergambar Sailormoon bergambar kuning yang dipajang di etalase toko di depan mereka. Sang Ayah berjanji akan membelikan tas itu apabila gajian, sebagai hadiahdi hari pertama masuk sekolah. Namun, tidak lama, tas itu dibeli oleh seorang kepala kepolisian untuk anak perempuannya. Sang Ayah mencoba memasuki toko seolah ingin merebut tas sailor moon. Kepala polisi itu kemudian, mencoba menarik tas dan memukul sang Ayah hingga jatuh.

Permasalahan itulah yang akhirnya membawa ketidak adilan baginya. Siang hari setelah sang Ayah mendapat gaji, ia didatangi oleh seroang gadis perempuan seusia dengan anak perempuannya, yang ternyata anak dari Kepala polisi yang sudah memukuli dirinya hingga terjatuh.

Dengan memakai tas bergambar Sailor moon, gadis perempuan kecil itu mencoba ingin memberitahukan toko yang menjual tas yang sama dengan miliknya. Sang Ayah dengan semangat mengikuti gadis kecil itu hingga ke pelosok pasar. Pada kondisi itu, gang pasar sangat kecil. Mereka pun berlari kecil, hingga akhirnya gadis itu terpelset dan jatuh terkena batu bata. Namun, Sang Ayah tokoh pemeran utama ini, menemukan gadis kecil yang mengajaknya itu sudah tergeletak berlumuran darah. Ia mencium, membuka celananya sang gadis kecil. Tiba-tiba datang seorang ibu-ibu yang berteriak melihat kejadian itu, dan berlari meminta tolong.

Kondisi lain, menggambarkan bahwa Sang Ayah dituduh telah menculik, membunuh serta memperkosa gadis kecil itu. Hingga akhirnya dijebloskan ke dalam penjara.

Miracle_1

Sang Ayah dipenjara di sel no.7 selama menunggu persidangan putusan pengadilan. Anak perempuannya bersedih karena mengetahui sang Ayah masuk penjara. Dalam cerita ini, semasa sang ayah dipenjara, ada kejadian lucu dan penuh makna mengharukan. Bagaimana, sang Ayah dapat merubah kondisi keadaan penjara yang menyeramkan dan penuh kekejaman menjadi penuh cinta dan kerja sama.

Anak perempuannya pun hidup bersama di sel itu secara diam-diam. Kemudian, melihat ada kejanggalan dalam kasus itu, kelima teman satu sel sang ayah, mencoba membantu memecahkan kasus sang ayah dengan bergotong royong. Mulai pada reka ulang kejadian, hingga membuat pernyataan dalam simulasi persidangan.

Persidangan pun akhirnya digelar. Namun, sayang sekali, sang ayah menyatakan mengaku bahwa dirinya melakukan pembunuhan, pemerkosaan dan penculikan. Pengakuan yang keluar dari mulut sang ayah dikarenakan ia didesak oleh pengacaranya dan ketua kepolisian (ayah sang korban) bahwa, apabila ia tidak mengaku maka hal yang serupa akan terjadi kepada anak perempuannya. Desakan itu juga disertai pemukulan oleh ketua kepolisian demi menekan psikologis sang ayah. Hingga akhirnya, putusan hakim memutuskan hukuman mati untuk sang ayah.

Anak perempuannya menangis melihat hujan ayahnya. Walau sebenarnya ia belum paham mengenai putusan hakim. Ia hanya menangis. Tepat tanggal 24 Desember, anak perempuannya berulang tahun. Mereka pun merayakan kecil-kecilan sambil memberikan hadiah di dalam sel tahanan. Sang ayah memberikan kado tas sailormoon kuning yang sama dengan tas yang diinginkan sebelumnya.

“Terimakasih Ayah, sudah menjadi ayah yang baik untuk ku”. Sambil memberikan hormat pengagungan tinggi di depan sang ayah, anak perempuannya mengucapkan terimakasih dengan santun.

Melihat kesantunan anak perempuan itu, membuat kelima penghuni sel tahanan no.7 itu menangis terharu jika harus membayangkan bahwa hari ini adalah hari terakhir sang ayah di dunia. Dengan kata lain, sang ayah harus dieksekusi mati sesuai keputusan pengadilan.

Sang ayah dan puterinya berpamitan dan berjalan menelusuri lorong penjara. Wajah sang anak dan ayahnya begitu mesra seolah memberikan isyarat ketulusan hati masing-masing. Ketika diujung pintu sel keluar, anak perempuannya dititipkan oleh ketua penjaga sipir, sedangkan sang ayah berjalan menuju tempat eksekusi mati. Scene ini yang mengharukan. Pasalnya takdir kematian ini seolah-olah memang harus terjadi. Karena sehari sebelumnya, kelima teman satu sel dan penjaga sipir bekerja sama untuk meloloskan sang ayah dan puterinya dari penjara dengan menggunakan balon udara. Tapi sayang, ternyata tali tambangnya menyangkut di kawat duri dinding pembatas penjara antara dunia penjara dan dunia luar.

Seolah paham dengan takdir yang akan ia alami, sang ayah merasa panik dan menyesal bahwa keputusannya salah di hadapan hakim. Ia pun menangis, begitu juga dengan sang anak.

“Tolong saya..!!. Tolong saya…!!”. Teriak sang ayah sambil memohon di hadapan penjaga penjara. Dan mereka hanya tertegun kosong, seolah tak berdaya sama sekali. Walaupun mereka tahu, bahwa sang ayah merupakan orang baik dan korban ketidakadilan hukum.

Waktu kian berjalan hingga sang anak puterinya beranjak dewasa dan tumbuh menjadi seorang pengacara. Ia dibesarkan oleh ketua penjaga sipir yang sudah dianggap menjadi ayahnya. Di tanggal yang sama juga, anak perempuannya mencoba mengangkat kasus hukum ayahnya di pengadilan dengan tujuan membebaskan dan menghapus nama baik sang Ayah di depan hukum Korea Selatan. Dengan gigih, sang anak berjuang hingga akhirnya putusan hakim membebaskan ayahnya dari kesalahan.

Cerita itu sungguh membuat haru bagi yang menontonnya. Bagaimanapun ketidakadilan dunia, tidak memutuskan perasaan cinta terhadap Ayah sendiri, walau sang ayah sudah tiada. Film ini memberikan pesan moral untuk seluruh anak agar senantiasa menyangi sang ayah dengan cara apa pun.

Papah saya pernah berkata, “Tidak ada orang tua yang jahat dan tidak sayang terhadap anaknya. Mereka akan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk membuat anaknya bahagia”.

Segalak apa pun Ayah kita, dan sesibuk apa pun Ayah kita, atau sebesar apa pun kesalahan yang pernah ia perbuat, ia bukan orang lain yang dapat kita tinggalkan atau benci. Tapi ia adalah Ayah kita, ia adalah orang yang berjuang sampai darah penghabisan. Ia yang menerjang cemooh dunia demi diri kita. Dengan keringat dan dahi yang selalu berkerut dikala harus berfikir mencari nafkah di situlah ujiannya untuk masuk syurga.

Dear, papah di dunia..

apa pun cinta akan kami kasih untuk mu. Tidak ada laki-laki dunia ini yang sebaik papah dan yang rela meredakan tangis di tengah keputus-asaan karena asa yang gagal. Engkau adalah laki-laki yang  mengajari bagaimana seorang pemimpin yang baik adalah memimpin dirinya dahulu baru kepada orang lain. Engkau yang selalu memberikan makna perubahan harus dimulai pada diri sendiri. Engkau juga yang mengajari untuk lebih banyak bertindak dari pada berbicara. Engkau juga mengajari bahwa kepentingan keluarga di atas segala-galanya. Ikhlas tanpa pamrih. Dan kebaikan itu adalah membuat mereka tersenyum, bukan sebaliknya..

Engkau..ya engkau.. hanya engkau Papah terbaik untuk kami.

 

 

 

Belajar Berdakwah di Keluarga Sendiri

Suasana malam di kediaman keluarga Syamsudin, which is adalah keluarga saya kian terasa ramai. Mungkin apa karena, melepas kangen dengan anggota keluarganya yang seminggu lamanya melancong ke negeri orang, atau karena memang mereka sudah menunggu untuk menodong oleh-oleh yang sudah mereka titipkan kepada saya. Hm..intinya jelas, sambil menyelam minum air. Sembari mereka menodong oleh-oleh, mereka juga menodong cerita dan pengalaman saya di Singapura. Terutama Ibu. Beliau sangat exciting dengan segala cerita dan pengalaman kerja dengan orang-orang asing di sana.  Belum lagi, adik saya Nada yang dengan gaya super duper sok taunya, belagak paling langganan berkunjung ke Singapura karena bertanding bulutangkis itu berkali-kali mendikte saya seperti, ke Universal enggak?, naek MRT enggak?, nyobain ice cream di Orchard enggak?, and bla bla bla…

Maklumlah, selama di sana saya memang tidak pernah me-update apa pun di sosial media tentang kegiatan saya di sana. Karena bagi saya, kehidupan saya di dunia nyata adalah dunia saya pribadi dan dunia maya adalah dunia suka-suka. Jadi, suka-suka saya mau share atau tidak. Emang sih, hasilnya beberapa teman saya kesulitan melacak keberadaan saya. Hm..Sumoon, maaf ya.. 😦 😀

Namun, setiba di rumah seluruh foto-foto saya coba tunjukkan ke anggota keluarga tersayang. Selagi mempertontokan foto-foto itu, tiba-tiba Ayah, yang biasa saya panggil Papah itu membuka topik pembicaraan.

“Kamu tau enggak ada perubahan loh di kompel rumah kita?”. Tanya Papahku sambil melahap ubi rebus di meja ruang keluarga.

“Apa?. Belum tau”. Jawa saya dengan santai.

Tidak lama, Ibu (Mamah) memberikan saya secarik kertas yang berkepalakan surat “DKM AL-MUQOROBIN” dengan prihal pemberitahuan. Sekilat mungkin saya membaca satu persatu kalimat yang tertera di sana. Hingga di akhir paragraf adalah “Susunan Pengurus Baru Masjid Al-Muqorobin”. Dan, Kejutaaaaaaaaan Cetar membahana membelalak mata saya. Nama Papah saya, ada di deeretan nama-nama anggota tersebut sebagai Wakil Ketua DKM Masjid Al-Muqorobin.

“Subhanallah..!, ini seriusan ?”. Tanya saya penasaran sambil meyakinkan.

“Beneran lah. Jadi sekarang, kita anaknya wakil ketua DKM Masjid Al-Muqorobin”. Ujar Nada sambil melahap potonga-potongan kecil ubi rebus.

Mendengar itu, saya langsung tertawa. “Kok bisa pah?”.

Akhirnya Ayah, menjelaskan kronologisnya. Pertama, memang anggota DKM ini adalah susunan keanggotaan yang diupayakan ada perubahaan. Kedua, Ayah saya sudah pensiun. Ketiga, alasan akumulatif kali ini cukup sakral. Yakni, karena Ayah saya rajin sholat berjamaah di Masjid.

“Ngurus DKM itu juga perlu Manajerial, Kak. Ya..walaupun juz 30 Papah belom hafal semua”.  Tegas Ayah dengan hawa bijaksana. “Emangnya kamu doang yang bisa jadi ketua rohis?!. Papah juga bisa, walaupun wakil. haha”. Ledek Ayah dengan spontan.

Jujur, ada rasa syukur teramat dalam melihat keluarga saya seperti ini. Ayah memang bukan tergolong ajeungan yang sangat paham ilmu fikih agama dan hafalan surat-surat Al-Quran. Tetapi saya percaya, dengan jalan menjadikan dirinya sebagai wakil ketua DKM tentu akan ada keinginan juga untuk terus mengisi ruhiah dengan bimbingan yang baik. Mungkin dengan ilmu duniawi, Manajemen yang baik dimiliki Ayah, dapat memberikan perubahan yang baik.

Lain cerita Ayah, lain juga cerita kakak saya, Jaka. Entah apa yang harus saya ucapakan selain kalimat hamdalah. Saya sebagai adik, merasa bersyukur melihat perubahan yang signifikan di diri Kakak saya. Sekarang, amalan yaumi terbilang rajin. Tidak pernah lupa untuk sholat berjamaah di masji, Sholat Qiyamulail, bahkan dia yang membangunkan saya untuk bangun 1/3 malam. Selain itu, ia juga yang memompa semangat untuk One Day One Juz. 

Tentu, yang senang melihat kondisi ini adalah kedua orang tua saya bukan?!. Kami sebagai anak-anak mu, akan berusaha untuk lebih baik Mah, Pah. Terus menjadi anak yang sholeh dan sholeha.

Memang, dakwah utama adalah berdakwah di keluarga sendiri. Utama karena tantangannya pun sangat berat. Tapi lambat laun, kami pun ditemukan titik kesamaan yang baik. Dan ini bukanlah akhir dari segalanya. Semoga tetap istiqomah dan amanah.

Adioss.

 

Miss my ride on, Lost my Iphone

Memalukan !! Menyedihkan !!

Dua kata yang masih terngiang-ngiang di bayang-bayang diri karena sehari yang lalu, ketika saya menuju bandara Changi, untuk pulang  ke Indonesia, saya tersasar di sebuah terminal penerbangan. Seharusnya saya masuk ke internasional gate cca, alhasil saya malah masuk di gate yang salah. Pertama, maklumlah saya baru kali ini melakukan perjalanan pulang sendiri. Kedua rekan teman saya, tidak masih di Singapura. Sedangkan saya, saya harus meneliti selama dua belas hari untuk dua perusahaan di Indonesia.

Awalnya, ada rasa menyenangkan bisa pulang kampung. Setidaknya ini penglaman yang akan saya gunakan untuk kuliner sesuka hati ketika di tanah air. Namun, kejadian kemarin saya hanya ada sedikit panik yang nyaris kehilangan penerbangan. Di tiket saya mendapat penerbangan pada pukul 15:oo waktu Singapura. Ternyata sebuah tragedi membelit agenda hingga mengakibatkan telepon baru saya bermereck apel kegigit itu lenyap di tanah singa.

Ceritanya, ketika saya turun dari MRT. Bagi kamu yang pernah ke Singapura, stasiun MRT Singapura memiliki jalur yang menuju ke bandara (secara ekslusif). Sedang, untuk menuju gate yang ingin saya tuju harus dilanjut memasuki satu terowongan yang posisinya saling berhimpit dengan penerbangan transit ke Hongkong.  Celakanya, di waktu – wkatu imerjensi itu, saya duduk di bangku-bangku tepat menghadap ke terowongan tersebut. Sangat santai semacam mengagumi megahnya bandara internasional tersebut. Pukul 14:30 Saya memasuki Gate, dengan berjalan kira-kira 100 meter.

Tidak lama, ingin masuk cabin, saya terkekeh pesawat yang ingin saya taiki yang ternyata bukan Garuda Indonesia Airlines. Hati mulai kocar kacir. Akhirnya saya mencari informasi, artinya saya kembali ke terowongan gate sebelumnya. berlari sekitar 100 meter lebih, demi menemukan meja pemeriksaan. Dan benar ternyata, saya salah masuk gate. Setelah mendengar kesalahan tersebut, saya langsung berlari sekencang-kencangnya. Tidak lama, ada petugas bandara yang membawa mobil troli mengahmpiri saya. “Go this up, Hurry up !”

Dengan tanpa berpikir, saya segera menaiki mobil troli yang ternyata digunakan untuk menggiring patroli. 15 menit sebelum penerbangan itu cukup membuat saya deg-deg an. Alhamdulilah, akhirnya saya bertemu dengan pramugari dengan rok yang terbelah. “Tunggu saya !. Tunggu saya mbak !”. Teriak saya dengan kencang. Perempuan itu hanya menoleh sambil berbicara dengan handy talky hitam yang ia pegang.

Sampai di cabin, saya masuk dengan sedikit gemetar di kaki. Keringatan mengucur membasahi tangan. Nafas kian terputus-putus seraya pelari marathon yang membutuhkan air mmineral. Kemudian, saya dibantu untuk mencari tempat duduk oleh pramugari. Setelah mendapatkan nomor kursi, saya sangat begitu tenang. Ketika ingin merogoh tas kecil untuk mencari iphone, tiba-tiba hati jadi cenat cenut lagi. Pasalnya hape itu tidak ditemukan. “Hape gue !!”

Telepon genggam yang baru saja saya beli dengan harga 10 juta 5 ratus ribu itu kini lenyap, hanya tersisa headset dan chargernya saja. Sepertinya, terjatuh di mobil troli tanpa disengaja. Perasaan saya lemes. Membayangkan wujud iphone yang sengaja saya beli dari kumpulan uang-uang gaji tiap bulan kini raib di negara orang. Walaupun apple memiliki security data yang baik, tapi sekali lagi, saya miris bukan karena data, tetapi wujud fisik yang hilang seharga 10 juta an. Dan, saya pun terbang pulang dengan rasa menyedihkan.

Setiba di bandara Soekarno Hatta, saya langsung menuju DAMRI. Di dalam DAMRI, pikiran masih melayang-melayang dengan wujud iphone silver.  Entahlah, mungkin mimik wajah saya cukup menyedihkan. Tidak lama, ada seorang laki-laki yang duduk di samping bangku saya, yang bertanya rute tempat pemberhentian. Saya pun, semacam tidak konsen menjawab pertanyaan yang ia ajukan.

“Apa?, Pasar minggu?, Pasar minggu…. hm… Kalibata”.

Orang itu tertegun heran.

“Oh maaf, maksud saya, iya damri ini akan berhenti di terminal Pasar Minggu”. Jawab saya dengan menghalau alasan.

Well, ada apa dengan hari ini?, ada apa dengan saya?. Mau tidak mau, harus ikhlas. Walau sedikit nyelekit di hati, tapi saya harus ikhlas, Berharap di balik dari kejadian ini ada hikmah dan rahasia rejeki yang terbaik untuk saya. Insya Allah..

😦

Inspirasi Film The Queen’s Classroom : Indonesia dan Pendidikan Berkarakter

The Queen's Classroom

Kembali rekomendasi drama series yang meinspirasikan datang dari negeri gingseng, Korea Selatan. Drama series  yang terdiri dari 16 episode itu, menceritakan mengenai kehidupan murid-murid sekolah dasar kelas 6 dengan seorang guru wali kelas yang terkenal dengan sosok misterius dan menyeramkan. Sosok guru yang dingin tanpa senyum canda itu diperankan oleh aktris Go Hyun-Jung yang terkenal juga sebagai pemain kawakan pada Drama Queen Seondoek.

Ibu Guru baru pindahan dari sekolah lain membuat sejumlah murid ketakutan. Pasalnya, sang guru membuat berbagai macam peraturan yang belum pernah terjadi pada tradisi sekolah mereka, seperti pemilihan ketua kelas dan punish and rewardness.

 

Namun, ternyata dibalik serba misterius kebijakan kelas itu, akhirnya diketahui sang guru memiliki tujuan mulia, yakni membentuk karakter murid-murid dengan dinamika kelas yang mereka buat sendiri. Sang guru sengaja membuat kelas seolah-olah chaos, namun berakhir dengan pembentukan karakter murid jauh lebih baik dari perilaku sebelumnya.

Jika menonton di setiap episodenya, kita akan disuguhkan pertanyaan, ‘kenapa begini kenapa begitu’ dan akan berakhir dengan decakan kagum tanpa disangka akan berujung makna yang luar biasa. Cerita ini juga mengisahkan bagaimana kisah keluarga masing-masing murid. Sang guru tanpa lelah ia ternyata sudah mengenal setiap seluk beluk muridnya, mulai karakter dan kondisi keluargnya. Sehingga, eduacation treatment disesuaikan dengan karakter dan kondisi murid-muridnya.

Cerita ini menjadikan saya berpikir, bagaimana mulia peran seorang guru di sekolah. Jika kita merujuk pada falsafah pendidikan hakiki menurut Redja Mudyahardjo, yakni pendidikan adalah pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Atau pemahaman pendidikan secara sempit, pendidikan adalah segala pengaruh yang diupayakan sekolah melalui pengajaran terhadap anak atau sekolah melalui pengajaran terhadap anak atau remaja yang sempurna dan kesadaran penuh terhadap hubungan-hubungan dan tugas-tugas sosial mereka. Begitu juga pemahaman pendidikan secara luas, yakni pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan / atau latihan yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara di masa yang akan datang.

Dari definisi tersebut secara sadar bahwa pendidikan bahwasanya akan sama di belahan negara mana pun. Perlu ada kerjasama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah.

Gambaran di Indonesia justru, akhirnya kita (masih) menganggap bahwa pendidikan itu adalah sarana mendapatkan ijazah penunjang perekonomian. Sehingga, makna dasarnya yang seharusnya adalah pembentukan karakter yang berpendidikan pun, seolah hanya jargon semata.

Sehingga, produk-produk didik yang ada justru merusak nilai-nilai kebaikan yang seharusnya. Persoalan pendidikan di negeri ini tidak harus hanya untuk orang-orang yang paham mengenai pendidikan saja, tetapi untuk semua yang peduli dengan tunas-tunas bangsa di masa depan. Bagi saya yang seorang berlatar belakang komunikasi, tentu sangat miris ketika menemukan adik-adik wajib belajar sembilan tahun, sudah malas untuk datang ke sekolah, malas untuk membaca, dan lebih senang menjadi ‘budak’ iptek ketimbang harus tahu bagaimana membuatnya.

Sekiranya, sistem pendidikan formal menurut saya sudah cukup sistematis dan terlihat terukur logis. Namun, permasalahannya ternyata bukan sistem, melainkan proses pengajaran oleh tenaga didik yang masih dirasa jauh dari harapan. Bayangkan, jika seluruh guru-guru di Indonesia memiliki pola didikan yang sama dengan sosok guru pada cerita The Queen’s Classroom itu?. Sedihnya, masih ada guru-guru yang hanya meoptimalkan tatap muka pada jam mengajar di kelas saja. Itu pun hanya dianggap sebagai pemenuhan kewajiban seorang guru yang berimbas pada penilaian kinerja. Menyedihkan !

Saya bisa berbicara seperti ini, pun karena saya besar di kalangan dari keluarga guru. Ibu, Kakak, Tante, Uwak, Sepupu, yang kebanyakan itu adalah tenaga didik di sekolah formal. Bagaimana Ibu saya yang seorang Kepala Sekolah menceritakan kondisi guru-guru di sekolahnya, yang terbilang kurang memiliki ethos kerja pendidik yang bersifat berkorban. Anak dibiarkan lulus tanpa bisa menjawab pertanyaan dasar yang seharusnya sudah dikuasai oleh sesusianya.

Atau seperti pendapat kakak saya, yang akhirnya memilih untuk menjadi guru Sekolah Dasar karena ia merasa sangat puas jika membuat anak orang lain pintar dan mahir melakukan ketrampilan. Lembar ijazah yang bukan dari pendidikan sekolah dasar itu, kini hanya pemanis di rak penyimpan dokumentasi di rumah kami. Kini ia memilih untuk menjadi guru honorer di sekolah dasar negeri dengan gaji yang tidak terlalu besar. Walau dia tercatat menjadi guru honorer, agenda kerjanya terbilang padat. Bisa dikatakan sudah sangat cocok untuk menjadi guru bergelar Pegawai Negeri Sipil. Sedangkan, guru yang sudah ber-plat merah masih ada yang jauh dari optimal.

Mengutip dari nama buku M. Natsir, “Perguruan Kita Kurang Guru!” mungkin dapat menjadi alasan fenomena saat ini. Seandainya, setiap guru-guru berjiwa seperti pemimpin India bernama Gokhale yang meraih gelar Doktor dalam Ilmu Hitung mungkin anak-anak Indonesia akan berkarakter maju semua. Gokhale menolak tawaran pemerintah Inggris meski dengan tawaran penghasilan yang besar, demi memenuhi panggilan bangsa untuk mengajar.

Sungguh pengorbanan adalah kata yang sangat indah di telinga ini. Karena dengan berkorban, kita sudah menunjukkan kualitas jiwa berani untuk kepentingan masayarakat.

Walau hari ini bukanlah hari pendidikan nasional dan hari guru nasional, saya ingin mengucapkan Selamat menempuh perubahan pendidikan yang jauh lebih baik..

Adioss..

Kabar Petang dari Indonesia : “When You Love Someone, Just be Brave to Say”

Membuka email sambil menikmati setiap laman perbincangan antar dua negara ini kembali menyenangkan. Bagi saya, di minggu pertama ini berita mengejutkan justru datang dari seorang sahabat semasa putih biru dongker yang tiba-tiba memproklamirkan keberanian heroik dalam menyatakan perasaan suka yang terpendam pada seseorang laki-laki yang juga tercatat sebagai pegawai akuntan di perusahaan otomotif tersohor di dunia.

Oca, panggilan akrab dari kami, merupakan perempuan yang menurut saya cukup berani. Semasa SMP, dia adalah teman sebangku yang menyenangkan. Perempuan berdarah Batak itu cukup khas jika dilihat dari perawakan wajah dan sikap bawaan yang spontanitas. Perbedaan agama antara kami tidak menjadi permasalahan selama satu tahun kami berteman. Kesukaan terhadap makanan, cukup menjadikan kami partner in crime solid dan penuh eksperimental kekonyolan.

Pertemanan kami berlanjut ketika melanjutkan sekolah menengah atas yang kebetulan satu sekolah yang sama. Namun takdir tidak menyatukan sebangku lagi, karena akhirnya kami terpisah dengan jarak kelas serta konsentrasi jurusan keilmuan. Jika saya di kelas IPA, Oca justru lebih menyukai IPS. Sekali lagi, intensitas komunikasi kami tidak menjadi terputus hanya karena takdir jarak kelas dan jurusan keilmuan, buktinya di luar kelas pun Saya dan Oca masih hang out dengan Teman sepermainan semasa SMP.

Pasca kelulusan, barulah kami benar-benar terpisah oleh perguruan tinggi, jurusan keilmuan, dan wilayah kota administratif. Namun demikian, setidaknya masih ada persamaan, yakni kami masih sama-sama kuliah di Provinsi Jawa Barat. Saya di Jatinangor, dan Oca di Depok.

Hari-hari bersama Oca, tidak terasa kami tumbuh di usia yang terbilang hampir sama. Usia 25 tahun yang menurut sebagian orang merupakan angka keramat bagi perempuan single. Usia yang sudah makan asam garam dengan kisah percintaan monyet (katanya), atau usia yang seharusnya sudah memiliki ‘gandengan’ untuk dikenalkan ke orang tua. Tapi sayang, keramat itu belum terasa mistis untuk saya dan Oca. Haha..

Memang nasib kami berdua cukup unik. Jika dibandingkan dengan empat teman kami lainnya, justru saya dan Oca adalah orang yang paling miskin pengalaman masalah percintaan monyet. Mudahnya sih, kalau naksir kiri kanan sih pernah. Tapi, untuk menjalin perasaan macem pacaran gitu, enggak minat. Jika Saya enggan berpacaran karena prinsip, Oca enggan karena dia merasa ketakutan untuk benar-benar menyukai laki-laki.

Saya ingat waktu itu, ia sempat mendeklrasikan perasaan suka dengan teman sekelas bernama Giri. Dengan, percaya dirinya ia membawa sekantong plastik bersisi cokelat ayam jago dan menyatakan perasaannya.

“Giri, pengen tau enggak, satu rahasia selama ini gue pendam?”. Tanya Oca yang sedang duduk sampingan dengan Giri sambil membawa sekantong pelastik berisi cokelat.

Saya dan keempat teman dan beberapa teman kelas menyaksikan keberanian Oca sambil berharap cemas. Bahkan ada teman kami bernama Taufan, yang menutup telinga. Entahlah menagapa dia menutup telinga. Ada lagi Ando, yang merupakan teman sebangku Giri. Ando justru mengumpat di kolong meja guru. Entahlah kenapa pula si Ando mengumpat. Ya..namanya juga kelakuan manusia cyin, tremornya beda-beda. 😀

Waktu Oca ingin menyampaikan perasaannya itu, tiba-tiba kelas 3.7 (Kelas 3 semasa SMP) berubah makin padat oleh murid-murid. Bahkan pintu kelas pun sengaja ditutup. Demi fenomena langka yang dipengaruhi oleh program televisi Katakan Cinta. Well, program Katakan Cinta itu program paling happening banget jaman SMP.

Seidkit ulasan mengenai program teve, Katakan Cinta di RCTI :

Program itu, bertujuan untuk mewujudkan seremonial demi mengungkapkan perasaan cinta atau suka seseorang kepada gebetannya. Cara mengungkapkannya pun terbilang unik. Ada yang terbang dari ketinggian 7 meter. Atau ada yang memakai kostum badut-badutan, dan masih banyak lagi yang intinya bagaimana meberikan kesan kepada gebetan betapa besar perjuangan untuk mencintai. Absurd sih, tapi bagi kami program teve itu cukup unik. Alhasil, motivasi itu akhirnya berdampak pada si Oca, yang nekat menyatakan perasaan ke Giri.

Dengan muka memerah, dan mulut yang melebar jelas mempertontokan kawat-kawat yang memageri gigi-giginya itu, Giri bertanya kepada Oca dengan nada menggoda, “Apa”

Tiba-tiba tidak lama, Oca memulai mengeja satu persatu kata ungkapan perasaan sukanya. “Gu..e, Gu..e..”

Tampak oleh mata, Oca yang akhirnya terlihat gugup. Raut wajah kami pun jadi ikutan gugup.  Dengan kegugupan luar biasa Oca berusaha berkata lagi, “Gu..e, suka Sa…ma, e..lo. Nih cokelat buat lo !”.

Dan, seluruh kelas menjadi gaduh dengan sorak sorai serta tepuk tangan. “Ciiiiiiiiieeeeeeee….. Oca Giri !!. Terima..!! Terima !! Terima !!”. Seluruh anak-anak sekelas kompak berteriak.Harapan teman-teman sekelas pupus ketika ternyata Oca hanya ingin menyampaikan perasaanya saja.

Tidak meminta imbalan. Dan, sekarang kejadian itu ternyata terjadi kembali di usianya yang mau menginjak seperempat abad. Ia bercerita bagaimana ia memendam perasaan kepada seseorang bergaris keturunan chinese yang menurutnya, laki-laki itu sangat mirip dengan artis korea, yang entah siapa.

Oca dan gebetannya itu satu ruangan dengan posisi meja kerja yang saling memunggungi. Bahkan, saking penderitaan rasa berbunga-bunga terhadap laki-laki itu, ia rela melakukan hal-hal kekonyolan. Ia membuat akun twitter dengan nama anonim yang sesuai dengan nama judul lagu. Semua kata-kata tweet yang ia buat, semua berbentuk pantun romantika. Seperti,

banjir di kemang, ngungsi ke melawai. pedekate gampang, ternyata doi melambai..

atau..

ada hujan, ada rindu. ngarep jadian, berujung sendu..

Semacam tweet kode yang ingin disampaikan kepada laki-laki berparas sipit yang biasa dipanggil “Koko”. Saya pun, terkekeh heran, sejak kapan si Oca bisa jadi doyan mantun??, padahal dulu kayaknya paling males belajar Bahasa Indonesia. Belum lagi, si Oca setiap kerja di kantornya, ia selalu menaruh cermin lipat berukuran kecil di meja, dengan tujuan, dapat melihat si Koko walau hanya tampak dari belakang.

Pernah suatu ketika, kami berbelanja di pusat perbelanjaan di daerah selatan Jakarta, tiba-tiba secara tidak sengaja bertemu dengan si Koko. Sekejap, Oca berubah menjadi gugup deg-degan dan tidak mau bertemu dengannya. Alasannya, “Duh, Troy si Koko ada di sini. Gue enggak make up an!!”.

Duaaar !. Mendengar alasan itu, asli lah saya langsung geleng-geleng kepala. Benar-benar cinta membuat kekonyolan si Oca. Oh satu lagi, saya pun pernah membantu Oca bermain manuver kepada si Koko dengan cara mencoba mention si Koko itu melalui twitter. “Hai, Tadi lo di H&M ya?. Oh iya, ada orang yang diam-diam suka loh sama lo :D” . Si Koko itu pun membalas mention saya.

Di sore tadi, Oca nyaris menceritakan kembali dengan kata-kata peristiwa itu. Selama itu mereka sekantor, jelas Koko tidak mengetahui siapa sosok yang menyukainya. Karena Oca ingin resign dari tempat kantornya, maka ia pun ingin sekali menyatakan perasaan yang ada selama di kantor itu.

“Koko, gue mau pamitan nih. Sekalian, mau ngomong sesuatu. Sibuk enggak?”

si Koko itu tanpa berkeberatan, ia pun berbicara saling berhadapan. Well. membayangkan agak romantis macem pilem kore-korean gitu..

“Gue cuman mau bilang, terimakasih udah jadi teman kantor selama ini. Satu hal yang pengen gue sampaikan secara jujur, bahwa gue selama ini, suka sama lo. Tapi, gue enggak minta apa-apa dari lo, gue cuman mau ngungkapin perasaan aja. Dan satu lagi, gue mau kasih kue buat lo”.

Begitulah Oca mengetik perkataan yang sudah ia katakan kepada obrolan sore kami. Tidak ada plastik cokelat, yang ada hanyalah dua topeles kue kering yang katanya dibeli dari toko kue paling enak se Jakarta. Peristiwa itu, disaksikan tidak hanya pegawai se ruangan, melainkan kamera CCTV yang menjadi saksi bisu keberanian Oca menyatakan perasaanya.

“Terus, pasca pengakuan dosa lo, progressnya gimana Ca?”, Tanya saya kemudian dengan penuh penasaran.

“Gue di WA sama temen deketnya dia. Katanya, satu topeles kue dibagi-bagiin ke anak-anak kantor. Satu topeles lagi, dibawa pulang”. Jawab Oca.

Membaca jawaban dari Oca, saya langsung ngakak. “Yaelah Ca, progresnya kue topeles dibawa gitu ke rumahnya dia?. Meteor Garden banget deh lo. Maksud gue, lo ada kontak-kontakan gitu gk?”.

“Sejauh ini sih, enggak. Tapi kan gue bilang, kalau gue enggak minta imbalan. Gue cuman mau ngungkapin aja. Jadi gue enggak mikirin banget kek gimana setelahnya”. Ujar Oca yang terbaca bijaksana laksana dewi sri yang konon katanya hanya tersenyum setelah menebar benih padi di sawah.

Sepertinya, Oca benar-benar tipe perempuan yang benar-benar hanya ingin mengurangi beban hidupnya dengan cara melepaskan perasaan yang sekian lama bergemuruh di sanu bari. Toh, baginya menjalin hubungan yang serius itu lebih menakutkan dibanding hanya sekedar memendam perasaan suka. Karena, perasaanya tidak akan menyakiti orang yang disukai. Pastinya, hanya dia seorang si pemendam rasa yang akan merasa bergejolak tanpa sebab.

Memang benar setiap orang memiliki karakteristik kepribadian yang berbeda-beda. Jika ada dari mereka yang sulit menyatakan perasaannya, di tempat yang lain, justru ada mereka yang sangat mudah untuk menyatakan perasaanya. Terlepas sebagai orang komunikasi, saya mengakui bahwa apa yang kita pikirkan berupa agagasan, ide, dan apa pun namanya tidak akan tersampaikan jika tidak dikomunikasikan.

Tapi untuk persoalan perasaan di hati, tentu fenomena perilaku manusialah yang kian menjadikan komunikasi menjadi simbol keunikan sikap seseorang. Menyatakan perasaan sebenarnya tidak menyoal kepada lawan jenis saja, kepada keluarga pun juga dapat di korelasikan. Tapi tidak ada yang semanis ketika perasaan dua insan diberikan fitrah yang satu itu bukan?.

Ada yang diam ketika sedang marah. Ada juga yang berapi-api ketika sedang terbakar amarah. Ada yang menulis, ketika lisan tidak mampu berdialektika. Atau ada juga yang menggambar demi me-ekspresikan perasaan jiwa. Setiap orang, memiliki cara tersendiri. Begitu juga dengan cerita Oca, yang tentu memiliki nilai tersendiri bagi yang membacanya.

Mungkin, bagi kamu yang terjebak kisah yang sama dengan teman saya yang satu itu, sedikit saran saja, jadilah dirimu sesuai apa yang ingin kamu sampaikan kepada orang itu. Mau atau tidak mau menyampaikan, Maju atau bahkan justru mundur, itu semua ada waktunya. Tinggal pilihan ada di tanganmu. Dan pilihanmu, adalah sikap takdir mu. Tentu takdir adalah hal yang terbaik dari Tuhan, hanya tinggal memaknai dengan perspektif terbaik sesuai dengan firman-Nya.

So, When You Love Someone, Just be Brave to Say…

*ps : Semua cerita, nama dan julukan, sudah disetujui oleh pihak yang bersangkutan untuk disebutkan dalam tulisan 😀

Adiooss..

Saya Muslim, dan Bukan Pemabuk

Sore ini sekitar pukul 18:00 waktu Singapura, ruang kerja saya sedikit sepi. Pemandangan ini cukup berbeda. Selidik punya selidik ternyata, sebagian mereka sedang bersantai memandang kerumunan orang yang sibuk bergegas pulang di jalan setapak yang nyaris tidak ada kendaraan beroda empat dan dua. Ada persamaan sekiranya dengan kondisi kantor saya di Jakarta. Ketika waktu-waktu pulang kantor telah tiba, kami sedikit melepas lelah dengan bersantai di atas balkon kantor dengan secangkir teh atau kopi. Tujuannya, hanya mengundur waktu pulang demi memberi kesempatan bagi yang lain untuk bergegas pulang, sedangkan kami, menunggu waktu giliran yang diharapkan jalanan kian sepi oleh para buruh metropolitan itu. Jelas, ini sangat serupa dengan kebiasaan kami di Jakarta.

Balkon yang tidak terlalu besar untuk menampung sekitar 10 orang manusia itu, kini diisi oleh empat orang pekerja dari multi etnis. Kebetulan, saya sedang mengaduh secangkir cokelat panas yang tidak jauh dari balkon itu berada. Sehingga obrolan mereka masih terdengar hingga ke telinga di tempat saya berdiri.

Perlu diketahui, ada empat rekan kerja saya semua adalah laki-laki. Mereka adalah rekan kerja yang “Freaky and Stupid Boy”. Yeah..itulah yang mereka sebutkan kepada saya ketika sedang memperkenalkan diri di hari pertama. Mendengar julukan tim yang aneh itu, saya hanya mengernyit dahi sambil tertawa tanpa kontrol. Ya ya tentu saya masih ingat, ketika raut wajah mereka kian terkekeh heran, melihat saya yang tertawa geli. Bahkan salah satu di antara mereka, bernama Frand mengungkapkan, “So, What a funny are you!!”

“Thanks God for my appreciated!. Kalian yang membuat ku lucu untuk membayangkan gambaran diri kalian hari ini. Tepat kesan pertama yang menggoda”. Kira-kira itulah jawaban untuk raut wajah mereka yang terkejut.

Tidak lama, kami pun tertawa bersama. Itulah kebersamaan di hari pertama kami. Setelahnya, hanya setumpuk data-data, angka-angka, dan artikel berita yang memenuhi meja kerja tanpa batas mana ujung masa sisinya. Dan kesempatan sore ini, kian membuat empat orang itu solid (sepertinya).

Di tengah gerumuman mereka berbincang, Lex yang keturunan ras mongolid itu menegur saya dari arah belakang. “Hey, Kantri. Wanna Join us?”.

Saya yang semula hanya berencana menguping sambil mengaduk cokelat panas mau tidak mau menoleh ke arah mereka berdiri. Tampak oleh saya Lex melambai-lambaikan tangan sebagai tanda bergabung mendekat balkon. Pun, diikuti Frand, Danny, dan Tim yang kompak menoleh ke arah saya sambil tersenyum.

“Wait a minuite guys”, jawab saya seraya mempercepat adukan cokelat panas, dan sesegera mungkin bergabung dengan mereka.

Well, have a something here?, i heard by the way. Lagi ngomongin apaan sih?. Tanya saya kemudian.

Tiba-tiba Lex menjelaskan obrolan mereka mengenai hiburan malam ini di salah satu pub di Singapura. Katanya akan ada Calvin Harris yang akan mengisi konser. Dan mereka mengajak saya untuk turut hadir dalam hiburan itu untuk menikmati malam-malam yang menyenangkan dengan lagu-lagu khas clubbing itu.

“Sekalian pesta penyambutan di sana. Menyabut mu, sebagai tim baru”.  Tambah Lex yang hampir merangkul tubuh saya yang tergolong kecil di banding mereka. Untunglah tangannya tidak sampai di bahu saya. Kali ini saya harus bersyukur ada kursi lipat yang terlihat kosong. Alhasil dengan secepat mungkin saya bergeser dan kemudian duduk sambil menyeruput cokelat panas.

“We’ll pick up you at 8 O’Clock”. Tambah Tim, dengan sangat ramah.

Otak saya langsung sedikit keram, jantung berdebar hebat. Bahkan untuk bergumam istighfar pun sulit. Mau tidak mau harus sesegara mungkin berpikir mencari penolakan yang halus tapi tidak menyakiti perasaan mereka.

Mereka manusia ya Allah, sama seperti hamba. Mereka memiliki hati yang tidak mau disakiti. Maka bimbinglah hamba untuk menolak dengan halus dan saya tidak mau ada perdebatan…aamiin << Kira-kira kalimat itu yang terlintas dalam benak saya.

Dengan perasaan yang masih gugup dan bergetar hebat, saya pun menolak dengan alasan, bahwa saya muslim dan bukan pemabuk.

Mendengar alasan tersebut, mereka saling pandang. Dan bagaimana saya kembali bergetar ketika mereka menyatakan bahwa, ada rekannya yang berasal dari Malaysia yang sering datang ke clubbing dan mabuk. Sedang ia adalah muslim.

I like Clavin Harris’s Song. Indeed, always play as my play list, too. Bukankah, lagu-lagu mereka lebih cocok ditemani dengan segelas teqila, dan alkohol lainnya?. Dan saya tidak mau membuat kalian kecewa karena saya”.

Lagi-lagi Lex merasa tidak puas dengan jawaban saya, ia kembali mencoba untuk bertanya, kenapa kenapa dan kenapa..

Tampak ada kekecewaan di raut wajah mereka. Kebangkah kalian, jika harus berhadapan dengan rekan kerja yang akan berjuang dengan mu namun berbeda 180 derajat paradigma hidup?. Itu tidak mudah kawan !

Yep, alih-alih dikucilkan karena nasib minoritas mungkin akan menghantui benak mu. Tapi percayalah, Allah bersama orang-orang yang bersabar. Kembali saya berpikir, ini jalan hidup yang saya pilih. Toh, masa-masa sulit pernah saya lalui dan mereka, satu persatu dilalui dengan hamdalah. Kondisi ini pun harapannya demikian.

Demi mengobati kekecewaan mereka, saya pun mengajukan untuk membuat masakan khas Indonesia rendang dan empek-empek yang nanti akan menjadi makan siang kami. Hasilnya, mereka semangat terutama Tim, yang ternyata penasaran dengan makanan yang ia tahu sebagai makanan pedas luar biasa.

Dan, mau tidak mau saya yang jadinya pusing ini… Whaaaat rendang !!! Empek-empek ??!!. Ridiculous !

Kejadian hari ini membuat saya berpikir berkali-kali dan setiba di apartemen barulah itu yang namanya nangis sekejer-kejernya tumpah di sajadah sehabis sholat Isya. Baru kali pertama mengalami seperti ini. Dan rasanya, jadi orang Sholeha itu sulit sekali…

Saya pun bercerita dengan kedua teman se-apartemen. Walau salah satu dari mereka adalah Non-Islam, tapi setidaknya mereka paham saya dengan identitas saya dan Jilbab yang selalu saya pakai. Tidak lama, saya pun bercerita dengan teman pengajian saya ketika di Depok melalui facebook. Alhamdulilah ia menguatkan saya. Kuncinya, dekatkan hati dan pikiran kepada Al-Quran, Insya Allah selamat. Itulah pesan terbaik yang kian membuat saya semangat kembali kepada Allah. Terimakasih Mbak xxxxx 😀

Jadi PR saya terbesar saat ini adalah mencari resep empek-empek dan rendang. Jujuuuuuuuuur gue belom pernah buat itu makanan sebelumnya !!!.. Mamaaaaaah heeeeeelp meeee !! 😦

 

 

 

 

 

Harus Bangga Jadi Indonesia !

Telok Ayer, 21:00

Malam dengan langit yang berbeda. Menepi di sebelah barat tidak terlalu ujung ini, menjadikan pengalaman pertama dalam hidup. Di tempat yang pernah saya kunjungi sebelumnya itu kembali menorehkan pengalaman di setiap harinya. Waktu kian cepat, dan benar tidak terasa sudah tiga hari berada di Singapura. Tinggal bersama dengan dua rekan saya lainnya dalam satu buah apartemen berukuran family guess kian menjadikan suasana kembali menampaki perkosan Indonesia namun berbeda versi. Kali ini, bisa dikatakan saya tinggal di sebuah hunian kosan dengan harga dua juta perbulan. Analogi yang terlalu lebay memang.

Di sini, semua jauh dari harga murah. Gaya hidup nyaris bertaraf internasional ini, membuat saya sedikit tidak nyaman. Saya memang penikmat mereck-mereck bagus dan ternama. Akan tetapi tidak untuk dijadikan budak konsumtif yang hampir setiap hari dijajaki. Kali ini saya harus berterimakasih pada diri saya, yang masih menjaga adat ketimuran yang sudah begitu melekat selama 25 tahun.

Dua rekan saya lainnya bernama Anggela dan Prima merupakan dua perempuan metropolis masa kini. Jadi sepulang kerja, mereka selalu menyempatkan diri menuju tempat atau butik perbelanjaan. Entahlah, mungkin mereka lupa bahwa masih ada waktu-waktu lainnya yang harus diisi selain berbelanja. Tapi jujur saja, melihat mereka berdua saya jadi punya hiburan. Kami selalu pulang dengan tidak bersama-sama. Saya langsung menuju apartemen, sedangkan mereka langsung berbelanja atau menuju tempat hiburan di sini. Ketika mereka pulang, saya selalu dikejutkan dengan setumpuk belanjaan yang kemudian mereka peragakan untuk direkan sebagai kenang-kenangan. *Kali ini videonya enggak bisa saya unggah ya, so private enough*

Maka enggak heran, tawa lepas bahkan hingga terpingkal-pingkal terlontar pecah hingga membuat perut kami kesakitan karena menahan geli.

Singapura merupakan negara kecil dengan sumber daya manusia yang tidak sepandan dengan kecilnya wilayah teritorial yang dimiliki. Pasalnya, kinerja mereka yang bercampur dengan masyarakat pendatang (red-asing) menjadikan etos kerja yang semua berjalan dengan cepat. Mereka berjalan bagaikan berlari. Bayangkan, apabila mereka berlari?, bisa jadi terbang.

Idiom itu menunjukkan bagaimana etos kerja yang selalu efektif. Bahkan, di jam-jam kerja tidak ada satupun di antara kami yang berbicara kecuali berdiskusi mengenai pekerjaan, istirahat makan siang, dan bertemu di toilet. Satu lagi, tidak ada sosial media merajalela di kantor ini. Ini sedikit shock culture bagi saya. Jika mengingat waktu-waktu kosong di Indonesia, saya selalu membuka sosial media baik itu facebook, twitter, dan bahkan BBM. Tapi di sini, rasanya menjadi useless terhadap diri sendiri untuk membuka dan aktif di dalamnya, walau misalnya sekedar update status : “Laper”

Ada yang menarik ketika saya sedang makan siang bersama teman sedivisi di sebuah cafetaria masakan ala Melayu, bernama Food Risin. Ia bernama Arture, Phillip Arture lebih tepatnya. Ia berasal dari Kanada. Usia kami tidak terpaut jauh. Ia berusia 27 tahun. Usia yang sangat mapan jika di Indonesia. Tapi, Arture ini bertubuh tegap dengan kulit yang putih sedikit pucat, bermata hijau toska. Perkenalan kami berlanjut dengan hangat ketika berdiskusi mengenai masing-masing keunikan negara kami. Saya menceritakan Indonesia, begitu juga dengannya.

Obrolan kami dibuka dengan pengenalan diri, anak keberapa, apakah saya asli orang indonesia atau mungkin memiliki blasteran. Semula agak tertawa mendengar pertanyaa darinya, “Well kantri, do you really Indonesian or has influenced from another?”

Saya sempet mikir, “Buset nih bule, dia pikir gue dari bangsa mana?”

Ada yang menarik memang setelah saya mengetahui, bahwa pertanyaan itu terlontarkan karena dalam diri Arture, ia menggap bahwa Indonesia adalah negara konjugasi terbesar di dunia, setelah China. Maksudnya, dengan kesempatan atau peluang perluasan ras, baik mengawinkan perbedaan ras secara legal ataupun ilegal. Dari situ, saya langsung menangkap maksud Arture, bahwa yang ia maksud adalah suakanya para imigran. Eits, tidak hanya itu, ia juga menceritakan bagaimana ia mengetahui informasi bahwa Indonesia penyalur tenaga kerja terbesar di negara lain. Itu sebabnya ia katakan bahwa peluang-peluang seperti itu, mungkinkah terjadi perbalutan ras melayu dengan ras-ras lainnya.

Menjawab pertanyaan itu, dengan santai tapi seriusan juga, saya menjawab, ” Me, as long as i knew from my mom, my dad was been coming her when they met of our youth organization. So that, he porposed her to get married, soon. So simple way, no  Illegal anyway”.

Arture yang mendengarkan jawaban saya mengangguk dengan senyum kecil, sambil berkata, “Oh..Sweety..”

Kemudian obrolan kami pun berbicara terkait kondisi sosial di negara masing-masing. Ketika Arture bercerita bagaimana negaranya Kanada sebenarnya bayang-bayang dari kedaulatan Inggris dan juga Amerika. Bahkan dia menyadari simpul budaya inang yang hampir tidak diketahui oleh garis keturunan mereka sendiri. Satu sisi mereka adalah persemakmuran Inggris, satu lagi ia juga bergandengan dengan adikuasa Amerika Serikat.

Bagi kalangan bule memang identitas tidak diperlukan. Karena, toh pada akhirnya mereka akan berlomba tanpa melihat kulit, suku, dan agama. Dare to be a Giant !, Ungkanpnya sambil menunjukkan gaya kingkong sambil tersenyum.

Ia juga bertanya kepada saya pertanyaan klasik, Why Indonesia must be have a tight manners?

Saya menjawab, “We absolutely live like a human who have a different from another organisms”.

Bahkan saya pun menyebutkan beberapa aturan yang dimiliki Indonesia. Mulai dari cara berbicara, berteman, makan minum, terhadap orang lebih tua lebih muda, bahkan hingga bagaimana berhadas kecil dan besar saya sampaikan kepada Arture. Mendegar ulasan saya, dengan terkekeh dia merespon heran “Are you sure?. That was Complicated manners! Indeed”.

Obrolan kami pun berlanjut ketika cara kami melahap makanan. Saya yang melahap dimulai dengan berdoa, dia tidak. Tangan kami pun berbeda. Saya kanan, ia kiri. Ketika kenyang, ia berusaha menahan sendawa, saya menahannya dengan hamdalah. Entahlah apakah Arture menyadari ini perbedaan kami. Tapi yang jelas, saya menyaksikan perbedaan yang ada di depan mata.

 So, Indonesian !

Jangan pernah malu menjadi orang yang terlahir memiliki adat istiadat yang biasa kita sebut tatakrama. Selain itu juga kita memiliki agama yang dijunjung begitu tinggi sebagai landasan perilaku dalam sehari-hari. Islam sebagai mayoritas agama bagi Indonesia seharusnya bangga kita sebutkan di depan bangsa lain. Inilah yang kemudian, kita akan memahami betapa seharusnya bersyukur hidup dalam sebuah norma aturan yang mungkin secara kasat terlihat ribet. Tapi justru dapat sangat berbaik sangka jika dilihat dengan kacamata kebijaksanaan.

Itulah yang membuat kita berbeda. Karena sesuai dengan apa yang saya sampaikan kepada Arture, bahwa kita manusia yang harus hidup berbeda dengan makhluk hidup lainnya.

Selamat malam Indonesia, selamat istirahat..

Adiooss..

Awal 25 Tahun : Singapore Goes to

Selamat pagi, di waktu yang masih tercatat Wilayah Indonesia Bagian Barat !

Bulan Februari akan berjalan sesuai kodratnya, begitu pun dengan kehidupan saya. Saya akan mengawali perjalanan tiga bulan di negara macan perekonomian Se-Asia Tenggara, Singapore. Semoga peralihan tempat kerja semusim ini, memberikan kesempatan aktualisasi diri menjadi lebih baik lagi.

Mungkin, bagi sebagian orang perempuan lajang di usia 25 tahun ini, agak mengkhawatirkan jika harus berjauhan jarak tanpa muhrim. Well, tanpa berpikir panjang apa pun, semua keputusan hanya Allah yang Maha Penentu segalanya. Restu orang tua adalah jalan terbaik untuk melaju memilih kesempatan hidup yang mungkin datang sekali dalam hidup.

Saya menganggap kesempatan ini adalah jalan dakwah yang harus saya tempuh di negara yang liberal itu. Semoga Allah merestui dan meridhoi langkah saya. Agenda kerja yang luar biasa padat, jauh lebih hectic dibanding Indonesia mungkin akan sulit berkomunikasi dengan keluarga melalui telepon genggam. Sosial media yang saat ini menjadi teman komunikasi dunia maya pun mungkin akan absen selama tiga bulan ke depan. Semua itu demi totalitas aktualisasi diri selagi masih lajang. haha.. *tetep lebaaay*

Selamat tinggal Indonesia, Duta mu akan pancarkan keindahan ketimuran tatak krama mu..

Adiooss..