Kiriman dari Jakarta

Jakarta 2014-11-01 Jakarta, 2014-11-01 Jakarta-2014-11-01

Jakarta-2014-11-01

Foto yang ini argh !! untung enggak masuk ke lubang ‘dua’ itu. 😀

Huuuuyeee.. ini foto bener-bener di tag lah melalui FB oleh mamah saya. Kebetulan foto-foto ini adalah foto di bulan Januari 2014. Ajang narsis yang dilakukan bersama adik saya, ternyata dengan sengaja di upload oleh mamah sebagai bentuk pesan “Kangen” untuk anak-anaknya yang sedang jauh darinya. huhu..

Miss you too, mamah.. *love love love*

Iklan

Pemilu 2014 : Penyikapan Terhadap Kepemimpinan Jokowi

Joko Widodo, yang saat ini masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta ternyata, lebih memilih menjajaki peruntungan menjadi Presiden RI periode 2014-2019. Sikapnya ini, bertolak belakang dengan janji yang pernah ia sampaikan ketika dilantik, bahwa Ia akan sepenuh hati membenahi Jakarta hingga TUNTAS. Mungkin tidak hanya warga Jakarta yang menyaksikan pernyataan itu, melainkan seluruh masyarakat Indonesia yang mengetahui janji suci sang pemimpin rocker pada Pemilukada 2014 DKI Jakarta.

Setelah pengumuman pengajuan Jokowi sebagai calon Presiden RI oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan timbul beberapa opini beredar baik positif atau bahkan negatif. Selain itu, seolah sudah percaya diri akan memenangi pada pemilu nanti, entah mengapa kondisi ekonomi tiba-tiba mencuat, kemudian gerakan saporadis di dunia maya, twitter menggema luas. Sungguh ini di luar dugaan.

Pertanyaan besar adalah, apakah sosok Jokowi adalah sosok perubahan untuk negara ini?, pun jika bukan sosok yang diharapkan mengapa masih ada mereka yang mencibir ketus?.

Untuk memulai merunut menjawab pertanyaan dasar itu semua, harus kita sadari bahwa politik adalah rekayasa. Rekayasa untuk menang, itulah singkatnya. Siapa pun sah-sah saja berpolitik. Hanya bagi mereka yang mau kekuasaan lah, maka mereka berpolitik. Politik juga mencerminkan bagaimana gaya kepemimpinan seseorang. Sejarah membuat kita sadar bagaimana memilah mana pemimpin yang sesuai dengan hasanah budaya, ataukah justru menjadi racun hingga anak cucu.

Ada beberapa jenis kepemimpinan yang sudah ditunjukkan oleh beberapa pemimpin dunia. Namun, tulisan ini tidak akan membahas secara rinci bagaimana jenis-jenis kepemimpinan itu. Jauh dari itu, tulisan ini akan mencoba me-analogikan gaya kepemimpinan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari orang Indonesia secara umum, sesuai geografis dan psikografi. Maaf, jika akan sedikit subyektif karena penulis berusaha untuk tidak menggunakan teori siapa pun, akan tetapi hanya dengan pengamatan subyektif semata.

Indonesia adalah negara yang akhirnya mencetuskan diri sebagai negara berdaulat dengan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Lima butir Pancasila itu sendiri secara tersirat adalah paduan dari keberagaman yang ada di Indonesia. Mudah mencerna maksud keberagaman yang tertuang pada Pancasila adalah, memadukan kepentingan bersama tanpa melihat Suku, Warna Kulit, dan Agama. Dilihat dari komponennya, jelas ini adalah itikad baik dari para pelopor/perumus untuk membuat satu masyarakat Indonesia dalam mengisi kemerdekaan.

Namun, percaya atau tidak ternyata Pancasila tidak bisa dijadikan pakem pemersatu bangsa saat ini. Pancasila adalah hasil buah politik, ya benar. Itulah yang terlihat. Sebagai alat pemersatu di mana semua ingin merdeka dan membutuhkan wadah kemerdekaan, maka dibuatlah Pancasila sebagai tawaran kepada multietnis masyarakat ketika itu. Mungkin, pilihan saat itu adalah, “Dari pada dijajah Belanda, lebih baik kita bersatu”.

Padahal, faktanya apakah sebuah ideologi dapat melebur menjadi satu kesatuan, jika itu memungkinkan dapat melebur, jawabannya adalah hari ini. Hari ini mungkin kita dapat melakukan metode pengukuran berapa persen Pancasila dapat menyatukan masyarakat Indonesia?, Bayangkan apabila penelitian itu dapat dilakukan secara terukur, sudah pasti kesadaran berpolitik di Indonesia akan meningkat. Tidak akan ada golongan putih pada pemilihan umum. Setiap orang akan berlomba menjadi orang yang terbaik. Orang yang terus semangat menjadikan diri sebagai orang yang bermanfaat.

Masyarakat Indonesia itu terdiri dari dua golongan pada dasarnya. Pertama, golongan perkotaan. Kedua adalah golongan pedesaan. Kedua golongan itu, seakan bagaikan bumi dan langit. Pun, ketika kita mau perhatikan tentu kita akan menyetujui kondisi itu menggambarkan kondisi langit dan bumi. Hubungan vertikal yang akhirnya menghasilkan jurang kemiskinan yang teramat dalam.

Adapun untuk golongan perkotaan masyarakat Indonesia memiliki kondisi yang lebih menyukai kepada hal-hal yang instan. (Itu sebabnya mengapa mie instan lebih digandrungi oleh siapa pun). Selain rasanya enak, mudah didapat, dan cepat dibuat itu membuat kita lupa bahwa dampak makanan itu dapat merusak tubuh manusia. Gambaran lain dapat kita perhatikan, dari banyaknya rumah makan cepat saji di sudut-sudut jalan, bahkan antusiasme warga untuk makan di rumah makan cepat saji lebih tinggi dibanding harus memasak sendiri.

Seolah dunia bergerak cepat tanpa menghiraukan konsekuensi. Jika tidak cepat, maka siap-siap lah untuk tergerus oleh zaman. Kehidupan konsumtif lebih dominan di wilayah perkotaan. Tingkat konsumtif yang tinggi juga disebabkan oleh tingginya terpaan media yang berdampak pada sisi psikologis seseorang. Sehingga mudah terpengaruh. Segala jenis media tersedia tanpa jeda. Baik itu elektronik, cetak, konvensional, dan online ada di kota.

Sedangkan, untuk jenis golongan kedua yakni golongan masyarakat pedesaan lebih menyukai kepada proses dan cita rasa kebersamaan yang biasa diturunkan dari leluhur. Adat istiadat dan kebiasaan lah yang mereka pegang. Ini dikarenakan, karena media sangat terbatas pada daerah pedesaan, sehingga kekuatan oral/komunikasi antar personal lebih diutamakan. Mungkin sebagian orang menilai bahwa masyarakat yang tinggal di desa lebih ketinggalan zaman, karena berjalan lamban (red-kuno).

Homogensi di pedesaan lebih tinggi dibanding perkotaan. Dinamika kultur dari luar wilayah tidak begitu berpengaruh. Kebiasaan leluhur lebih mayoritas. Sedangkan di perkotaan, lebih heterogen. Jumlah tiap individu tidak dapat dipastikan berapa, karena banyak atau sedikitnya jumlah tidak disesuaikan dengan nasib, tetapi ditentukan dengan kepentingan. Sehingga siapa pun bisa berubah status kelompok.

Jokowi dan Indonesia

Melihat fenomena sederhana itu, ada yang menarik jika kita mencoba membaca kepemimpinan Jokowi (Gubernur DKI Jakarta) yang ingin mencalonkan diri sebagai Presiden RI. Jokowi dikenal oleh masyarakat luas, hanya karena terpaan media. Harus diakui, dewi fortuna media kini berpihak padanya, mulai dari mobil Esemka, Solo kota terbaik, dan pemimpin yang benar-benar merakyat. Ia hanya Walikota saja, media sudah heboh dengan membuat penggelembungan citra jokowi.

Pengemasan epik yang disuguhkan oleh media ternyata mempengaruhi masyarakat sehingga ia terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta. Mengusung tema, muda dan berani ala ‘kotak-kotak’ bersama Basuki Tjahya Purnama (Ahok) berhasil menduduki sebagai Jakarta baru. Pendekatan yang dilakukan melalui cara-cara segar seakan mereka sangat mengetahui karakteristik masyarakat perkotaan yang sudah saya sebutkan sebelumnya.

Namun, apa yang terjadi, belum tuntas membenahi Jakarta, Jokowi sudah berani menyebut dirinya sebagai orang yang layak menjadi Presdien RI. Masih ingat betul, ketika Jokowi dan Ahok mengolok-olok Gubernur terdahulu, Fauzi Bowo yang tidak becus membenahi Jakarta. Tapi nyatanya, mereka pun belum dikatakan berhasil jua. Apa yang sudah dibenahi Jokowi untuk Jakarta?. Perapihan pasar-pasar tradisional?, masuk gorong-gorong jalan?, membentak-bentak PNS?, atau apa?. Jika itu yang sudah dijadikan prestasi Jokowi, mungkin Soekarno dan Moh. Hatta akan sedih melihat calon presiden yang hanya berani sesumbar di media saja.

Kalau mau menyalahkan sistem kepartaian di Indonesia, tentu itu juga bukan jawaban arif yang harus diyakini. Partai hanyalah media untuk berpolitik. Bertarung dengan platform ideologi sebagai identitas sikap. Sayang sekali, PDIP ternyata tidak mencerminkan sikap partai negarawan yang menjaga komitmennya. Indonesia dinilai sebagai ajang batu loncatan untuk mengisi dahaga kekuasaan. Bukan pengabdian.

JOKOWI itu Politisi

Demi menang, PDIP rela memanfaatkan sesosok Jokowi yang nyaris lugu terlihat dalam politik sebagai pendobrak hati nurani rakyat. Namun sebaliknya, ia ternyata sangai lihai dalam berpolitik. Jika ia tidak lihai berpolitik ia tidak seharusnya menerima titah sang ketua yang nyata-nyatanya sudah membohongi suara rakyat yang memilihnya.Ternyata kini Jokwoi menerima titah dengan sangat ikhlas. Dan sudah sepantasnya, kita sebagai masyarakat berani menyikapi atas kebohongan publik seperti ini. Apa yang harus dibanggakan dari seseorang yang hanya bisa sesumbar di media tanpa kata maaf terucap.

Menjadi politisi memang tidak salah. Itu adalah pilihan. Tetapi bukankah menjadi politisi yang arif dan bijak menjunjung tinggi nilai baik lebih diharapkan oleh masyarakat yang benar-benar menaruh harapan?.

Perubahan di Indonesia memang diciptakan untuk benar-benar dinamis. Alih-alih demokrasi yang katanya bisa menyuarakan aspirasi, ternyata hanya kebodohan yang menjelma racun. Harapan itu, kini sirna dengan muculnya Jokowi yang ingin menjadi Presiden. Jika ada yang berdalih, bahwa dengan adanya Jokowi menjadi Presiden akan ada perubahan yang signifikan. Maaf sekali, jawaban itu hanya pepesan kosong. Karena, pemerintahan ini tidak berpusat. Dan perlu adanya dukungan dari segala pihak baik itu legislatif, militer, akademisi, hingga pada pemangku adat sekalipun.

Seharusnya kejadian ini menjadi pembelajaran bagi masyarakat perkotaan yang mudah tersulut dengan terpaan media. Tidak harus Jokowi, mungkin nanti akan ada sosok-sosok lain yang serupa. Karena, memilih itu bukan dilihat dari citra yang terlukiskan secara satu arah saja. Memilih dalam pemilu jelas, harus dilihat bagaimana ideologinya. Karena ideologi adalah pijakan sikap. Ketika ideologi hanya sebagai jargon, maka hasilnya tidak akan optimal. Karena, ideologi yang baik adalah bagaimana meakomodir kejujuran hati nurani tanpa ada yang tersakiti sesuai aturan yang manusiawi.

Semoga, kita cerdas memilih.

Adioss

 

 

Jantung Berbeda, Mungkin Ini Rahasia Mu

Jantung

Sore ini, saya mencoba konsultasi ke dokter spesialis jantung di rumah sakit st. Mount Elizabeth di Singapura. Semula, hanya konsultasi rutin yang merupakan fasilitas pelayanan kesehatan dari kantor. Konsultasi ini disebabkan juga karena pada suatu hari, Senin pagi saya mencoba mengecek tekanan darah, kolesterol, gulan, dan gliserin pada tubuh. Hasilnya cukup mengejutkan bagi saya. Karena, dalam kondisi berpuasa tekanan darah begitu tinggi yakni 122/70 dengan kekuatan denyut jantung 40. Menurut dokter, tekanan darah saya terbilang tinggi, sedang kekuatan denyut jantung saya tergolong lemah. Mendegar hasil itu, dokter memberikan saran agar berkonsultasi lebih lanjut kepada ahli jantung. Alhasil, sore ini saya pun mengunjungi dokter sepasialis di Singapura.

Hampir setengah jam, saya berkonsultasi seputar kondisi jantung, melalui pengecekan ulang. Kali ini tidak melakukan scaning dan tes darah. Namun, hanya melalui tes denyut jantung ternyata hasilnya sedikit berbeda. Tekanan darah saya sudah normal, namun kekuatan denyut jantung masih tergolong lemah. Kemudian, tes kedua dokter menyarankan saya untuk berlari di track mil selama 10 menit. Kemudian diukur detak jantung, dan hasilnya adalah sama. Lemah.

Dokter juga menanyakan seputar sejarah genetik diri saya, apakah keluarga ada yang memiliki penyakit jantung dan sebagainya. Saya pun menjawab saya tidak mengetahui. Karena sejauh ini keluarga saya dalam kondisi baik-baik saja. Selain itu, belum sampai disitu, dokter pun menanyakan bagaimana kegiatan saya sehari-hari, seperti apakah sering kelelahan jika mengerjakan pekerjaan yang banyak dan sebagainya. Saya pun menjawab, bahwa setiap pagi seolah saya merasa ketakutan, tubuh saya dibanjiri keringat dingin. Leher saya hingga kepala berkontraksi menjalar pening yang luar biasa. Dan itu berjalan setiap pagi. Ketika saya ingin berangkat ke kantor.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah sering merasa berdebar tanpa sebab. Saya pun menjawab, iya. Ingatan saya pun kembali mengingat kondisi-kondisi di mana saya sering berbedar tanpa sebab. Dari beberapa pertanyaan itulah, akhirnya dokter mengatakan kemungkinan ada kelainan dalam jantung saya. Dan itu, harus segera ditangani. Mulai dari sekarang, jangan dibiarkan terlalu lama. Karena dengan kondisi seusia saya ini seharusnya tidak mengalami hal kelemahan detak jantung.

Begitulah, cerita saya sore ini. Saya belum menceritakan kepada kedua orang tua saya seutuhnya. Karena, saya masih menunggu pengecekkan selanjutnya. Setelah berkonsultasi, saya pun segera pulang ke apartemen dan langsung mencari tahu apa saja kelainan jantung. Dan memang benar, detak jantung lemah adalah salah satu jenis kelainan jantung. Apa yang di terangkan pada beberapa situs pun sesuai dengan apa yang dikatakan dokter. Seketika itu juga saya langsung menyetuh dada bagian kiri.

Kelainan ini mungkin juga adalah pemberian Tuhan. Saya berusaha keras untuk tabah, namun tanpa sadar, air mata menggelinang jatuh tanpa isak. Seolah, maut akan datang hari ini. Antara nyata dan tidak nyata. Namun, ini tetap kenyataan yang harus dijalani. Saya mencoba menutup kunci rapat-rapat kamar, sehingga tidak ada yang mengetahui ada air mata selasa sore ini. Seraya menunjukkan kesendiriaan yang akhirnya saya rasakan. Dalam kondisi ini pun, hanya saya yang mengetahui keadaan ini, tanpa orang tua di sisi.

Tapi, saya percaya Tuhan masih sayang saya. Ada hal yang harus saya kerjakan dengan kondisi jantung yang melemah, sampai nanti di mana jantung ini kian melemah, dan berhenti akhirnya.

Rasa kangen tiba-tiba memuncak terhadap teman-teman semasa SMA. Segera saja saya membuka isi foto-foto pada folder di laptop. Sontak air mata saya kembali menggenang, ketika salah satu video slide yang dibuat sewaktu akan mengikuti SPMB, yakni video slide tentang mimpi dan harapan. Dengan latar lagu Don’t Give Up dari Josh Groban kian mengantarkan saya dalam lembah sensitifitas sanubari.

Namun, semangat pun tiba-tiba muncul dengan percaya diri. Seolah mereka berteriak sambil mengepalkan tangan dan tersenyum lebar memberiku semangat untuk tetap optimis, bahwa saya bisa melakukan banyak hal walau kelemahan mungkin menghantui.

Mulai sekarang, saya akan benar-benar akan konsisten menjaga pola makan, dan pola hidup sehat. Olah raga 30 menit sehari setiap hari adalah yang disarankan dokter kepada saya. Selain itu, konsumsi makanan yang tidak berkolesterol tinggi harus sudah menjadi musuh saya saat ini. Kematian adalah takdir Tuhan yang sangat pasti. Tapi jauh dari itu, saya tidak mau mati dalam penyesalan hidup karena sudah menyia-nyiakan waktu terbaik.

Dear Allah,

Jika memang hari ini adalah hari terakhir hamba, Istiqomahkan ikhtiar ini, sebagai rasa syukur ku di sisa akhir hayat hamba di bumi Mu. Aamiin

 

Pemilu 2014 : “Teddy Bear” Strategi Ical Untuk Menang

 

Ada-ada saja memang, melihat tingkah laku para politisi menjelang pemilihan umum (pemilu) 2014. Dari banyak politisi yang wara-wiri di media, baik konvensional maupun online, ada yang luar biasa dalam strategi komunikasi politik yang diterapkan. Sebut saja Aburizal Bakrie. Pemilik panggilan akrab “Ical” ini merupakan ketua umum partai pada masa orde baru bernama Golongan Karya (Golkar). Partai kuning yang sempat menggoreskan tinta kelam semasa Mendiang mantan Presiden Soeharto itu masih bertahan dengan lebel perubahan, yakni “Golkar Baru”.

Perlu disadari, memang partai kuning itu masih memiliki kepercayaan yang luar biasa dari loyalis kaum baheula. Entah faktor sakti apa yang masih mengiang di pikiran sehingga membawa Golkar menjadi partai tiga besar di pemilu 2009. Bahkan, partai ini nyaris tanpa noda sedikitpun dari rapot merah Soeharto. Jika diperhatikan, Golkar sebagai partai besar dalam sejarah lebih menonjolkan sisi figuritas dan bukan pada kinerja. Sebut saja seperti B.J Habibie, Jusuf Kalla, Surya Paloh, dan Akbar Tanjung. Jelas sudah, melihat pautan usianya, Golkar jauh lebih memiliki jam terbang politik dibanding partai-partai baru lainnya.

Namun, di balik dari besarnya nama dari tokoh-tokoh Golkar tidak lantas membuat brand of image possitioning kian nyaman terlihat. Konspirasi politik tidak lagi tertutup layaknya masa kepemimpinan Harmoko (Orde Baru), melainkan sudah sangat terlihat jelas. Masyarakat tidak hanya disuguhkan dengan kondisi politik antara Golkar dengan lawan partainya, tetapi konflik internal. Konflik internal itulah bisa kita sebut sebagai Hottie Inside, Hottie Outside. Maka seiring dengan kondisi itulah, yang akhirnya mengakibatkan beberapa politisi hengkang dari Golkar, seeprti Surya Paloh. Selebihnya lebih baik memilih bermain di balik layar, seperti Jusuf Kalla dan Akbar Tanjung.

Kini, Gokar di bawah naungan Ical pun tidak dirasa nyaman. Hal itu dikarenakan, sosok sang ketua umum yang terkenal sebagai pengusaha itu terjerat kasus bocornya lumpur lapindo berantas di Sidoarjo. Kasus menyakitkan yang dirasa tidak hanya bagi masyarakat Sidoarjo saja, melainkan  seluruh rakyat Indonesia itu tidak jelas akhirnya seperti apa. Perusahaan milik Ical pun dituntut agar membayar ganti rugi terhadap seluruh korban lapindo. Namun pada kenyataannya, mereka masih nestapa tanpa kejelasan.

Bayang Ical di Tubuh Golkar

Demi berlari dari kenyataan pahit itu, Golkar secara praktis merubah pola startegi komunikasi politik demi mewujudkan obsesi sang Ketua Umum yang ingin menjadi Presiden Republik Indonesia periode 2014-2019. Iklan politik kian menjual citra Abu Rizal Bakrie (ARB) di setiap media elektronik, terlebih media televisi. Perlu diingat, Ical memiliki beberapa satasiun televisi swasta yang cukup terkenal dan membumi. Jelas, ini sangat memudahkan dirinya untuk terus berdagang politik citra.

Intensitas kemunculan Ical pada iklan politik di televisi yang sering itu, ternyata rupanya tidak membuat puas sang Bakrie Boss dengan hasil survey elektabilitas pemilihan yang dilakukan beberapa lembaga survey politik di Indonesia. Bahkan, bisa dikatakan strategi Ical kian redup sebelum Jokowi memproklamirkan diri sebagai Calon Presiden RI 2014 dari PDIP.

Namun setelah negeri ini geger dibuat oleh Jokowi atas pencalonannya sebagai Capres 2014, Golkar membuat strategi lain yang tidak terpikirkan oleh siapa pun. Tiba-tiba saja, muncul beberapa foto kebersamaan dengan duo artis Zalianti di Maldivez. Bahkan isi dari penyebaran isu itu cukup provokatif semacam “Plesiran Don Juan yang dikelilingi perempuan cantik”.

sumber : bali.bisnis.com

sumber : bali.bisnis.com

Setelah beberapa foto diunggah, terlihat salah satu artis itu sedang memeluk boneka Teddy Bear krem yang kemudian diikuti oleh Ical. Namun setelah foto-foto dan video menyebar, Ical, Golkar, dan keluarga besarnya melakukan klarifikasi terkait pemberitaan itu. Akhirnya, mereka pun menyampaikan bahwa penyebaran isu-isu tidak benar merupakan kampanye hitam menjelang pemilu.

 

Analsis PR Startegic

Taukah kita, tanpa sadar isu plesiran ke Maldives itu bisa jadi merupakah kamuflase dari sebuah strategi Ical. Jangan disangka, bahwa isu yang dibawa ini akan menghancurkan Ical di pemilu. Jauh dari itu, justru pengemasan isu dan strategi penutupan isu jelas memiliki agenda setting yang keren.

Saat ini, seperti kita ketahui, obrolan mengenai politik tidak mengenal tempat, ruang dan waktu. Bahkan siapa pun dapat berdiskusi mengenai politik. Jokowi adalah politisi yang saat ini gencar diomongkan oleh masyarakat. Baik yang mendukung ataupun menccibir. Bahkan, seolah pemilu sudah bisa diramalkan hasilnya. Tentu saja, kondisi ini membuat panas dalam para capres-capres dari beberapa partai yang sudah mengudara selama ini meredup. Sebut saja, Gita Wirjawan dan Prabowo. Ical yang sepertinya jeli melihat peluang, tentu tidak diam melihat keterpurukan dirinya oleh ketenaran Jokowi. Itu artinya, isu penyebaran foto dan video ini adalah salah satu strategi mengangkat kembali ketenaran Ical di sisa-sisa waktu pencoblosan.

Ada beberapa maksud pesan yang inginkan diciptakan oleh Ical, yakni :

1. Dengan munculnya gambar dan video itu menggambarkan sosok Ical yang banyak uang dan senang main perempuan. Terlebih, dalam foto itu, digambarkan Ical pergi menggunakan Jet Pribadi. Jelas bagi siapa pun akan menganggap Ical adalah sosok laki-laki yang memiliki selir. Karena, pada nyatanya ia sendiri sudah memiliki isteri dan anak-anak yang salah satunya menantukan artis.

2. Penggunaan artis dapat digolongkan sebagai cameo. Ketika pada masa kampanye, jelas artis adalah faktor penarik masa. Karena, dengan demikian ini dapat menarik kepeduliaan para kaum ibu rumah tangga secara mayoritas. Mengapa, itu dikarenakan sudah pasti berita-berita itu akan sering muncul di infotainment yang faktanya penayangan infotainment lebih sering di putar dibandingkan program lainnya. Penikmat program infotainment lebih banyak digandrungin oleh kaum perempuan dan ibu rumah tangga. Itu sebabnya, ini sangat strategis.

3. Setelah beredarnya foto dan video, Ical berkumpul bersama keluarga besarnya dan seluruh kader Golkar untuk mengklarifikasi ‘kebenaran’. Ini yang menarik. Pasalnya, bentuk yang dilakukan adalah seolah tindakan recovery image (perbaikan citra) yang dilakukan oleh seseorang yang terkena musibah. Perbaikan citra yang dilakukan terlihat elegan. Luar biasa elegannya. Mereka mencoba membagi-bagi kan boneka Teddy Bear yang sangat sama dengan boneka yang digunakan oleh artis Olive Zalianty Lihat Berita Terkait. Bahkan, seluruh keluarga sengaja dikumpulkan dengan tujuan bahwa, Ical merupakan sosok yang memiliki keluarga harmonis yang tidak terjadi apa-apa. Bahkan gelak tawa, senyum tenang jelas terlihat dari raut wajah mereka satu persatu.

4. Teddy Bear, oh mengapa harus teddy bear. Karena ini memunculkan stigma positif kekeluargaan yang cinta, harmonis, dan kasih sayang. Boneka itu jelas strategi yang bisa di dapatkan oleh siapa pun. Dan hasilnya luar biasa, tidak dipungkiri banyak yang terhipnotis dengan kelucuan boneka tersebut. Pertanyaan besar, jelas tidak akan mudah menyiapkan boneka serta baju yang bertuliskan ‘ARB’ pada dada teddy bear. Sedankan, jarak pemberitaan foto dan video sangat dekat dengan klarifikasi yang dilakukan. Jika bukan kampanye, apa lagi?!.

Tentu, dari pemberitaan itu, baik kebenaran apakah Ical pergi ke Maldivez dengan bukan muhrim, adalah bukan isu utama yang harus disorotkan. Karena, media tidak melihat ada konflik di sana. Justru sebaliknya, dipertotonkan gambaran keluarga harmonis seorang ARB.

Diharapkan, masyarakat Indonesia tetap cerdas dan tidak melihat rekayasa citra politik yang menutup kenyataan dari rekam jejaknya. Namun, sekali lagi itulah media yang dapat menyuntikkan sesuatu baik itu racun ataukah penawar kapan pun. Kuncinya sekali lagi, hanya ada pada diri kita. Tetaplah fokus pada visi misi, ideologi, dan rekam jejak ketika harus memilih dalam pemilu 2014. Jika hidup bisa dikatakan panggung sandiwara, jadilah yang tidak hanya bisa menonton. Tetapi jadilah sebagai pemeran, jika perlu sutradara.

Semoga pemilu 2014 lebih baik. Tetap jujur, berani, independen, dan bertanggung jawab.

Adiooss..

 

 

 

Bermalam Menjadi Manula

Sabtu malam ini entah mengapa sunyi ku gapai. Walau di tengah keramaian penyambutan sekembalinya penugasan ku menjadi Tenaga Kerja Indonesia di ZOM Singapura. Mereka memberika senyum, peluk, dan kata-kata hangat yang menggambarkan kerinduan tiada tara.

Perasaan ini sungguh berbeda ketika terakhir ku tahu, Ibu ku sedang dirawat di rumah sakit, dengan penyakit yang belum aku ketahui. Perasaan ini cukup membelengu hati yang berdenyut kencang. Segala impian menjadi sirna seketika, pada saat wajah Ibu membekas dengan jejak.

Aku baru saja tiba di Singapura pada jumat pagi. Dan, mau tidak mau aku pun harus memutuskan mengambil cuti untuk ke Indonesia. Walau Ayahku sebenarnya tidak menyuruhku untuk datang ke Indonesia. Tapi, entah mengapa hati kecil selalu berbisik seolah mendesirkan angin tanah air di mana tetes air mata Ibu ku berada.

Minggu, pukul 11.00 WIB Aku pun tiba di Rumah Sakit Jakarta Medical Center (JMC). Barulah ketika bergegas menuju kamar, aku menghubungi Ayah untuk mengetahui keberadaan kamar inap. “Lantai 5, kamar 503”. Itulah kamar di mana Ibu ku menjalani perawatan opname. Bagian kelima dari bangunan ini sangat bersih, dengan taman atas “roof top” yang mengahadap ke jantung ibu kota bagian selatan.

Kamar ibu ku tepat berada di ujung lorong dekat lift. Sangat mudah ditemukan. Terlihat oleh ku, hanya ada sepatu usang berwarna hitam milik Ayah terjejer rapih dekat pintu masuk. Ku rasa Ayahku sedang berada di dalam. Benar saja, ketika ku buka pintu, aku melihat Ayah sedang menyuapi Ibu bubur sumsum yang diberikan oleh rumah sakit.

“Assalamualaykum..”. Salam ku pelan.

Mereka dengan bersamaan menoleh senyum hangat sambil membalas salam, “Waalaikum salam”

Ku raih telapak tangan Ibu ku yang hangat, lalu menciumnya. Tangan Ibu cukup bersih walau ku tahu, rasa sakit harus mendera karena selang infus dan sejumlah anti biotik. Begitu juga dengan Ayah, tangan Ayah seperti biasa keras dan berurat. Wajahnya yang lelah, sangat melihatkan bahwa ia kurang tidur akhir-akhir malam ini.

Suasana kamar ini cukup nyaman. Hembusan angin dari pendingin udara yang sejuk membawa ketenangan bagi siapa pun yang masuk. Ada juga televisi plasma berukuran 42 inci, dan sejumlah fasilitas rumahan lainnya, seperti wetafel, sofa, kamar mandi, dan kulkas. Akan tetapi, kenyamanan itu tidak memberi kenyamanan sesungguhnya bagi Ibu ku. Setelah ku tahu, baginya setiap malam-malam yang dilalui begitu sepi.

1959729_734454023243484_1479504395_n

“Infeksi hati”. Ucap Ayah memberitahuku kondisi penyakit yang diderita oleh Ibu. “Besok harus di USG, Kata dokter karena takut ada bermasalah di saluran pencernaannya”.

Itulah yang Ayah sampaikan kepada ku, di depan Ibu secara langsung.

“Kok bisa?!. Emang kemaren gimana?. pingsan atau gimana?”. Tanya ku penasaran. Maklum, karena sebelumnya aku tidak diberitahu kronologis gejala awal penyakit Ibu.

Kali ini Ibu ku mencoba menjelaskan kondisinya ketika itu. “Jadi, tuh kemaren mamah pusing, perut sakit, buang air terus. Dilalah, mamah takut kenapa-kenapa, langsung aja masuk IGD sini”.

Aku mencoba duduk di samping Ibu sambil menyuapi buah-buahan yang sudah disiapkan oleh rumah sakit. Sambil mengobrol beberapa alasan bagaimana kerjaanku di SG, dan sesekali mengobrol seputar isi berita yang kali ini sering dipertontokan oleh kami, yakni keputusan majunya Jokowi menjadi Capres RI. Ruangan ini, tidak lagi seperti berada di rumah sakit. Canda tawa serta obronlan ringan membuat hangat saya, ibu dan ayah.

“Jadi, belum ada yang nengok ke sini mah?”. Tanya ku heran.

Ibu meghela nafas berat, bayangnya seolah menunjukkan kesedihan, ia pun menjawab “Belum”.

“Dari sekolahan mamah, orang-orang komplek, saudara-saudara juga enggak pada nengok?”. Tanya ku sekali lagi, demi memastikan.

Dengan raut wajah yang benar-benar lusuh, Ibu hanya menggeleng pasrah. Seolah mengalihkan suasana, Ibu menyuruhku mencharge blackberry di dekat kulkas. Telepon genggam Ibu dalam kondisi mati tak bersisa energi. Aku pun mencoba menghidupkan kembali.

Iseng ketika ku buka lemari es di ruangan ini, yang ternyata sangat kosong. Tak berisi. Bahkan di meja samping Ibu, tidak ada makanan atau minuman yang sewaktu-waktu diperlukan Ibu. Begitu juga dengan kondisi kamar mandi. Tidak ada sendal jepit di sana, dan bau kamar mandi yang tidak enak dicium oleh siapa pun yang masuk ke dalamnya.

Aku sadar, tentu Ayahku cukup sibuk untuk masalah administrasi dan mengurusi ibuku, sehingga untuk urusan yang lain, tidak sempat ia jamah. Sekilas, sempat berfikir, ke mana kakak dan adik saya?!. Argh, ternyata mereka berdiam di rumah. tidak ikut bermalam di sini. Akhirnya ku putuskan untuk berjalan menuju mini market dekat rumah sakit sambil membeli beberapa makanan, minuman, dan perlengkapan lainnya. Tidak lama aku kembali di kamar Ibu, sudah terlihat kakak dan adikku, yang datang menengok.

“Di kulkas itu harus ada makanan ringan, minuman. Minimal kalau enggak buat yang jaga, bisa dikasih ke tamu yg dateng”. Ucapku, sambil memasuki satu persatu beberapa manakan ringan dan minuman.

Akhirnya ku putuskan untuk bergantian bermalam untuk menjaga. Aku biarkan Ayah, kakak, dan adik pulang istirahat di rumah. Biarlah esok pagi, Ayahku bisa datang dengan kondisi yang segar bugar.

Dan cerita bermalam menjadi manula itu, dimulai dari sini…

Menjelang petang, Ibu menyuruhku untuk membacakan Almatsurat di dekatnya setelah ia sholat dengan berbaring. Mulutnya mengikuti kalimat doa yang ku ucapkan. Suasana ini cukup hening, ketika menjelang menunggu sholat Isya, kembali ia meminta ku untuk mengaji di dekatnya. “Tri, Mamah suka kalau denger kantri ngaji. Ngajiin deket mamah ya”.

Hingga kurang lebih lima belas menit, dokter dan suster memasuki ruangan dengan ramah. Ibu ku diperiksa sambil mengingatkan untuk esok menjalankan periksa USG.

Ketika waktu makan tiba, aku menyuapi mamah menyantap makan malamnya. Satu persatu lauk, dan sayuran aku suap hingga habis ia lahap. Harus bersyukur, nafsu makan Ibu ku bagus. Sehingga ia tidak terlalu menyedihkan. Sesekali, ia juga ingin aku menyupai kue-kue kering yang aku beli tadi sore.

Di sela-sela itu, Ibu mengungkapkan bahwa ia tidak memberitahu kepada siapa pun mengenai kondisinya yang dirawat. Tapi, sungguh ia bercerita cukup sendu. Entah apa yang ada dipikirnya. Ia ingin dijenguk oleh saudara dan kerabat, sedan ia tidak memberitahukan kepada mereka tentang kondisinya. Ini lucu.

Akhirnya mendengar rintihan itu, aku berusaha membuka blackberry ibu kemudian aku kirim bebrapa pesan di BBM ke saudara dan kerabat. Bahkan, saya mengambil fotonya untuk diunggah di facebook, tanpa sepengetahuannya.

Hari menjelang larut, Ibu dan aku pun berusaha untuk istrahat. Namun apa yang terjadi, Ibu ku tidak bisa terlelap. Aku yang berusaha tidur di sofa, harus berkali-kali terbangun karena berkali-kali itu juga Ibuku memanggil aku, baik minta tolong untuk membuang air, atau hanya memanggil nama saja. Pernah ketika aku mulai terlelap, ibu ku meringis kesakitan di perut.

Aku tersigap bangun, dan segera menanyakan kondisinya. Dengan lemas, ia meminta ku untuk membasuhi minyak kayu putih di perutnya.

“Di sini, tempat kamu waktu masih kecil. Di perut yang kamu usap”. Ibu berkata dengan lembut.

Aku hanya terdiam.

“Mamah, tenang kali ya, bisa lihat kantri menikah sama laki-laki yang baik, yang sesuai sama cita-cita kamu dan hati kamu”. Kembali Ibu berucap yang membuat ku cukup terkejut.

Aku hanya tersenyum seolah mengamini. Lalu, mencium keningnya. “Sekarang mamah tidur”.

Ruangan ini, hanya terdengar detakan jarum jam yang menunjukkan pukul 03.00 WIB. Aku segera mengambil air wudhu kemudian bergegas sholat sunnah 2 rakaat. Namun, lagi-lagi aku harus memenuhi permintaan ibu ku. Hingga kedua kalinya aku mengambil air wudhu dan ku lihat Ibu mulai bisa tertidur pulas.  Aku pun tenang untuk beribadah.

Di waktu-waktu seperempat malam ini, aku mencoba mengamati raut wajah Ibu dengan dengkuran hebat di tenggoroknya. Tiba-tiba aku teringat dengan kondisi Kakek ku yang saat ini juga sedang sakit dirawat di rumahnya. Kakek ku sudah manula. Tubuhnya kurus kering, dengan kondisi lumpuh. Kini, yang menjaganya adalah keluarga besar di sana. Ada tente-tante dan om-om ku. Bahkan terakhir ku berbincang melalui BBM dengan sepupu ku yang juga ikut menjaga Engkong di sana. Ada satu pesan yang ia sampaikan kepada ku, “Jika sudah tua, pasti akan kembali mejadi anak kecil”.

Bagaimana Engkong yang tempramen, keras kepala, dan selalu merongrong kesakitan. Sedang anak-anak dan cucu-cucunya harus juga memikirkan tanggung jawab lain demi keberlangsungan hidupnya.

Bayang itu kini tertuju kepada Ibu ku. Ibu ku memang belum manula.  Tapi ia tentu akan manula. Belum begitu sangat manula pun, ia sudah sangat sensitif. Seperti kelakukan anak kecil yang ingin diperhatikan. Diberikan kejutan-kejutan yang membuat dirinya tersenyum dan menangis haru biru.

Kesepian, itulah masa manula itu. Seperti siang tadi, hanya ada Ayah yang menemani Ibu di rumah sakit. Bahkan sesekali mereka bertengkar konyol karena berbeda pendapat. Dan Ayah yang berusaha sabar menahan desakan keras kepala sang Ibu yang selalu ingin pulang. Untung Ayah ku orang yang sabar dan baik hati.

Di saat anak-anaknya, aku, kakak dan adik sibuk dengan urusannya, hanya Ayah yang bisa menjadi dahaga di keringnya kasih sayang.

Ah… Mamah.. maafkan anakmu..
Mungkin dulu, aku pernah meminta perhatian mamah dari segelumit kesibukannya.
Mungkin dulu, aku pernah protes karena ketiadaan mu di saat pembagian rapot sekolah.
Mungkin dulu, aku pernah menangis karena siang itu, kau harus meninggalkan ku untuk bekerja.
Tapi.. Hati ku sungguh tak kuasa membayangkan ketelantaran mu di masa tua oleh ku. Sungguh..
Aku mau, sampai kapan pun engkau bersedia mengeluh beban mu kepada ku.
Maafkan aku..

Pagi tiba waktu Ibu ku untuk di USG. Satu persatu, saudara dan kerabat berdatangan menjenguk. Ibu ku sempat terkejut. Hingga akhirnya ia mengetahui, itu karena inisiatif dari ku untuk memberitahui mereka. Untunglah, Ibu tidak marah. Ia hanya tersenyum, merekah bagai bunga yang kembali menyongsong mentari.

Mungkin, memang ada hal yang tidak lumrah menjadi lumrah dalam hidup.Mungkin, kita terlalu sibuk dengan kelumrahan yang berjalan dengan linear.

Hingga, kebahagiaan itu datang bukan dari seharusnya.

Tapi kita, tidak hanya otak, namun ada hati.
yang selalu menyentuh begitu melihat cinta yang seharusnya ada.

*Doaku.. untuk seluruh orang tersayang dalam hidup agar senantiasa sehat selalu..

 

Magician Wanna Be – “Abla Kadabla”

Tiba-tiba menemukan video unyu ini di blackberry. Video yang sengaja saya rekam beberapa bulan yang lalu sangat membuat kelucuan kian membahana sore ini. Well, anak kecil di video ini adalah ponakan saya, bernama Al. Usianya baru 3.5 tahun. Tapi kecerdasannya membuat orang-orang takjub. So, lets check this out..

Hilang Humor, salah siapa?!

Tidak terasa sudah mendekati hari kembali menuju SG esok pagi. Esok, di kamis yang bertaut harapan setiap orang dalam hidup ku mulai melambung memenuhi setiap rongga-rongga sel otak, baik kiri ataupun yang kanan. Jantung ini terus memompa seakan tau bahwa waktu-waktu meaktualisasikan diri akan siap mengisi hari-hari selama dua bulan lamanya.

Hari ini, Rabu (12/3) saya mulai membenahi barang-barang perlengkapan yang akan diperlukan selama di sana. Namun ada yang lebih penting, yakni mengurusi berkas-berkas surat izin dan persetujuan untuk mengikuti pemilihan umum di kedutaan besar Indonesia Singapura. Pengurusan ini sangat baru bagi saya. Ada hal yang harus dilakukan. Mulai dari verifikasi berkas DPT asal RT/RW/Keluarahan, kemudian ke Kantor Pemilihan Umum Daerah, dan Berakhir menunggu nomor kode terbaru, semacam nomor sandi untuk memilih pemilu nanti. Hingga akhirnya saya hanya menunjukkan KTP dan kartu hak pilih yang akan diberikan setiba di sana.

Proses nunggu yang tidak sebentar, saya pun harus menunggu seharian lamanya, walau sebenarnya sudah running out selama 4 hari yang lalu. Namun itulah birokrasi, Instanity?. Argh, No Way!.

Di sela-sela menunggu verifikasi, saya mencoba membaca beberapa artikel surat kabar online dari telepon genggam. Artikel yang didominasi oleh berita politik dan hukum itu, saya buka dan baca seksama satu persatu. Sesuai selera saya tentunya. Hingga pada sebuah artikel berita yang secara jelas mencubit panas isu pemilu. Surat kabar yang sempat memiliki sejarah pembredelan oleh pemerintah orde lama ini nyinyir dengan rencana aksi kampanye oleh salah satu partai besar yang menganut Agamis Nasionalis, yang akan berkumpul melakukan apel akbar di Gelora Bung Karno, Jakarta pada 16 Maret 2014 nanti.

Karena membaca itu, sungguh masih ingat dalam pikiran saya, tentang percakapan singkap pada media sosial dengan sahabat saya bernama Irwan. Percakapan yang sudah jarang kami obrolkan itu, tiba-tiba terlihat menarik dengan topik yang ia lemparkan kepada saya. Topik itu tidak jauh-jauh dari politik, namun bukan politik sejatinya, melainkan membahas perilaku masyarakat yang beropini mengenai politik. Facebook, tiba-tiba ia mengabari seputar obrolan dan opini dari rekan-rekan dekat yang memanas karena sebuah artikel berita yang terkesan memojokkan pembaca.

Yang menjadi benang merah obrolan saya dengan Irwan adalah, bagaimana si pelempar isu artikel berita (salah satu teman kami) melalui status pribadi miliknya yang kemudian menuai pro dan kontra atas isi pesan di dalamnya. Parahnya, opini itu kian mengaitkan historis personal si pemilik status akun pribadi itu yang nyata-nyata begitu loyalis dengan obyek yang dibicarakan artikel berita pada surat kabar yang sama dengan surat kabar yang saya baca ketika itu.

Entah mengapa, ketika membaca situasi pro dan kontra dari para komentator facebook, saya jadi tidak selera berpikir bahwa politik itu baik bagi perkembangan jiwa dan mental manusia. Gara-gara itu juga, saya dibilang “Kehilangan Selera Humor” oleh sahabat saya itu. Ah, apa iya, saya sudah kehilangan humor dalam hidup?.

Pertanyaan itu tiba-tiba membuat saya kembali membaca percakapan saya dengan Irwan. Membaca seksama setiap kalimat dan maknanya, Owh .. harus saya akui, ternyata sudah lama kami tidak bercakap mengenai satu sama lain, yang salah satunya adalah membahas seputar politik. Jika dahulu, kita sering bercakap mengenai politik yang begitu gamblang, kali itu semacam Lost Frekuensi.

Saya dengan paradigma milik saya sendiri, dan Irwan dengan paradigma yang tentu milikinya sendiri. Sama sekali tidak terkoneksi satu sama lain. Padahal dulu, kita pernah saling lepas tawa karena hal-hal yang bertopik serius. And Now, Im really being seen it, since at the time. Technically, i lost my ridiculous joke something. Dan kayaknya enggak cuman saya, tapi juga Irwan.

Kayaknya, gue juga kehilangan selera humor gara-gara data-data audit“. Katanya.

Ini masalah dunia yang besar. Sudah berapa banyak canda tawa mengenai hal-hal ringan dalam hidup yang sudah kita tertawakan?. Dan, berapa banyak canda tawa mengenai hal-hal berat dalam hidup yang sudah kita tertawakan?.

Owh No.. lagi-lagi ini menyedihkan. Sangat sedikit canda tawa lepas mengenai hal-hal serius untuk ditertawakan. Itu artinya, mungkinkah saya stress?!. Atau karena memang karakter beda yang seharusnya dijalani seusia kami.

Oh oke, bagi saya politik adalah hal yang sangat membuang-buang kesenangan dalam hidup. Mungkin bagi mereka bertaut politik dengan gaya bahasa yang seolah-olah dapat mempengaruhi adalah kesuksesan era masa kini. Terlebih pada sosial media. Kejahatan nomor 2 setelah pembunuhan. Opini-opini tanpa saringan khusus mana benar dan mana salah itu begitu muak untuk disimak. yang akhirnya menyebabkan antipati berlebihan.

Mungkin apa karena, memang politik adalah hal yang tidak lumrah untuk ditertawakan. Bagi mereka jelas politik adalah hal lucu untuk ditertawai karena kebodohan yang diperlihatkan. Tapi hasanahnya, bukankah politik adalah jalan kebenaran untuk menunjukkan sesuatu yang benar. Lalu mengapa menjelma keburukan yang memalukan?!.

Saya benar-benar ingin membuang rasa ingin antipati ini. Rasa muak ini cukup meninggi seakan membutakan pengetahuan saya tentang itu. Raut wajah akan merekah jika membicarakan hal-hal yang menyenangkan. Atau hal-hal seputar bisnis yang berkaitan dengan indeks pembangunan manusia yang ingin terus digali, itu lebih menuai benih semangat kontribusi nyata, ketimbang harus berbicara politik yang entah sampai kapan berpolemik antara kenyataan hati nurani pribadi dengan kenyataan yang mereka rencanakan.

Perlu diketahui, hati manusia bisa dianalogikan bak bom atom yang bisa meledak kapan pun jika tersulut. Sama halnya dengan saya, mungkin kebanyakan orang yang seakan menyulut komentar orang lain dengan pendapatnya, itu ia sedang berpolemik antara kenyataan hati nuraninya dengan kenyataan yang mereka rencanakan. Ini celaka. Karena, bukan lagi fokus pada isu pembicaraan dan pemikiran, tetapi personal.

Sedih memang, ternyata banyak teman-teman kita yang senantiasa tenggelam dalam kondisi demikian. Ini yang kemudian saya bertanya, apakah ada kewajaran dalam tindakan mereka?, atau jangan – jangan saya yang tidak wajar?!.

Oh, Tapi tidak untuk itu. Mungkin ada saatnya, mulai kembali menapaki apa itu cerita masa lalu dengan segala hal politik di dalamnya. Tapi nanti.

Mungkin ini, yang membuat saya kehilangan humor seperti waktu itu. Tapi langkah ini, langkah sederhana yang hanya menunggu mendapatkan nomor hak pilih untuk pemilu nanti, mungkin menjadi jawaban atas kegundahan saya atas kemuakan yang telah merengkuh segala tanya terlalu lama. Walau saya yakin, itu tidak lain tidak bukan karena sistem lah yang membuat kondisi seolah mengahsilakn tanya.

Ps : Dedicate to my best friend, Irwan.. 🙂

Adioss.

Inspirasi dari Film 99 Cahaya di Langit Eropa : Perjalanan Romantis Mencari Cahaya Ilahi

99 cahaya

 

Hidayah itu memang kehedak-Nya. Apa pun kondisinya, tempatnya, dan siapa orangnya itulah target-Nya. Film 99 Cahaya di Langit Eropa yang diambil dari judul buku yang sama karya Hanum Salsabiela Rais dan Suaminya itu benar-benar memberikan inspirasi bagi siapa pun yang menontonnya. Pesan cerita yang nyaris membuat bulu berdiri karena merinding menyimak setiap perjalanan yang simple namun sangat luar biasa bermakna memang patut ditonton oleh siapa pun.

Bagi saya, film ini sangat memberikan inspirasi kepada saya. Pertama, dari film ini saya bisa mengambil bagaimana sebuah niat yang baik akan menghasilkan sesuatu jauh lebih baik. Bagi sebagian orang mendapatkan kesempatan belajar ke luar negeri terkadang hanya menjadi target adu gengsi semata. Namun berbeda dari cerita ini, di film ini menceritakan bagaimana niat mengemban ilmu ke luar negeri itu hanyalah untuk berjihad. Ya, sebut saja demikian. Istilah jihad yang selalu identik dengan kekerasan dan pertumahan darah, namun ternyata ada yang bisa kita sebut sebagai jihad juga, yakni berjuang menuntut ilmu dengan tujuan membangun sebuah peradaban yang lebih baik.

Benar jika segala sesuatu diawali dengan niat yang baik maka hasilnya baik. Di cerita ini juga menceritakan bagaimana perjalanan seorang Hanum Salsabiela Rais ketika mengenal fenomena sebuah keberanian dari kondisi minoritas sebagai umat muslim di Eropa. Ia juga menceritakan bentuk-bentuk lain berupa jihad dengan cara yang elegan yang biasa disebut dengan “Agen Muslim yang baik”, hingga akhirnya ia pun memutuskan menggunakan hijab. Kondisi yang benar-benar tidak disangka. Di tengah-tengah kondisi bukan mayoritas muslim, ia diberikan hidayah untuk memutuskan menutup aurat.

Selain cerita yang bagus, film ini juga menyuguhkan tampilan-tampilan pemandangan di Eropa. Ini jelas menjadi tambah plus yang membuat seluruh penonton takjub untuk bermimpi lebih tinggi lagi. Bagi kamu yang sedang bermimpi mengejar beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri tentu ini menjadi roda pendorong adrenalin kepercayaan serta turut menjadi kompas yang kian mengingatkan hati nurani untuk meluruskan niat.

Ada hal yang begitu menarik lagi bagi saya, entahlah mengapa perjalanan Hanum dan suaminya, adalah perjalanan yang sangat romantis. Film ini tergolong sangat romantis di antara alur cerita dari film-film islami yang ada. Atau apa karena penokohan yang tepat dari akting yang bagus Acha Septriasa dan Abimana, ya bisa jadi. Berarti akting mereka sukses menyampaikan sisi romantika seolah nyata.

Jika dikorelasikan untuk negeri ini (Indonesia) tentu sarat dengan makna yang luar biasa. Indonesia negara mayoritas muslim terbanyak di Dunia. Namun, sayangnya jauh dikatakan rasa syukur. Bayangkan, seandainya kita berada pada kondisi minoritas. Di mana kamu tidak bisa lagi sering mendengar kumandang adzan, memakan makanan yang halal, mudahnya sholat di masjid-masjid yang megah.

Kondisi itulah yang sempat saya rasakan. Walaupun masih berada di sekitar asia tenggara, Singapura. Kondisi-kondisi itu cukup dirasa sangat signifikan. Cara-cara memposisikan pribadi sebagai cerminan Islam yang baik harus dimiliki oleh muslimin dalam bungkusan keberanian. Berani menunjukkan kebaikan versi diri kita, dan keburukan menurut versi kita. Tidak mudah?. Jelas tidak mudah. Karena setiap situasi memiliki konsekuensi kekuasaan, dalam hal ini peraturan.

Akhirnya saya menyimpulkan bahwa, setiap situasi juga memiliki ujian masing-masing. Ujian bagi mereka yang mayoritas adalah toleransi, sedangkan ujian bagi mereka yang minoritas adalah keberanian. Bentuk sederhananya adalah, dalam sebuah rumah makan, jika satu atau dua orang datang menyantap makanan pasti tidak akan berisik. Karena hanya mengobrol santai dan lain sebagainya. Tapi bayangkan, jika yang datang bergerombol semacam arisan atau reunia akbar, tentu pengunjung berjumlah sedikit akan tersingkir secara tidak langsung. Karena geromobolan itu akan lebih ramai lebih ricuh, pecah gelak tawa, yang artinya adalah menguasai suasana. Pemilik toko pun tentu akan memilih memprioritaskan gerombolan yang lebih banyak tadi dibanding pengunjung berjumlah satu dua orang.

Tapi Islam, seharusnya tidak mendiskriminasikan mana mayoritas mana minoritas. Semua diperlakukan sesuai takarannya. Nah itu apabila Islam benar-benar berdiri tegak di suatu negara. Jika kondisi kita berada di negara naungan bukan Islam yang berdaulat, maka cara keberanian yang elgen lah yang harus kita tunjukkan. Dan film 99 Cahaya di Langit Eropa menunjukkan sisi elegansi Islam dalam kondisi yang minoritas. Sangat meinspirasi.

Dengan bangga, saya sangat merekomendasikan untuk menonton film 99 Cahaya di Langi Eropa baik sekuel pertama dan kedua. 5 bintang untuk film ini..

Ke mana Idealisme mu, Kantri?

Sepulang dari kajian fiqih di Masjid Al-Azhar, tiba-tiba di jalan saya bertemu dengan seorang teman kuliah dulu yang tengah bergegas mengejar Trans Jakarta. Saya yang melihatnya terburu-buru, merasa ingin menyapa dan tidak ingin menyapa. Walau sebenarnya ingin sekali menyapa dan bersilaturahmi karena waktu yang sudah kita tanggalkan begitu lama. Namun, karena menjalin silaturahmi akan membawa panjangnya keberkahan usia, saya pun menyapanya dengan senang. Sangat jauh dari perkiraan, teman saya itu merekah merona ketika melihat saya yang sedang melangkah perlahan menuju dirinya.

Selain kami saling tanya mengenai kabar, obrolan kami pun membahas mengenai kesibukan antara lain, kerja di mana sekarang, tinggal di mana, dan di antara tema obrolan itu, kami pun sesekali mengenang masa-masa mengemban amanah sewaktu di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Ada hal yang mengejutkan ketika ia mengetahui di mana saya bekerja selama ini. Raut wajah yang semula hangat, kemudian berubah menjadi pandangan sinis, tajam, dan penuh tanda tanya besar. Saya bisa merasakan kegamangan ekspresi orang ini. Tentu saja, saya paham sekali dengan kami-kami yang terbilang totalitas menjalankan amanah semasa kuliah. Jika bukan masalah idealisme dan kroni-kroninya itu, apa lagi?!.

“Kok bisa ya, aktivis yang super lantang teriak dalam kajian ternyata kerja untuk asing?”. Tanyanya teman saya dengan nada yang nyaris tiada tumpul.

Terkejut?!. Oh tentu tidak. Karena saya sudah yakin, akan banyak omongan sana sini dari kerabat mengenai pilihan hidup saya ini.

“Demi Allah, kalau lo pikir gue tergerus idealisme, gue enggak tersinggung”. Ucap saya santai.

“Kalau lo kerja di Singapore, Halaqohnya gimana?”.  Ekspresinya mulai nyinyir. “Atau jangan-jangan udah enggak Halaqoh?”.

Mendengar pertanyaannya, seratus persen lagi saya pun kian yakin bahwa urusan pasca kampus tentu tidak jauh dengan hal-hal seperti itu, Idealisme dan Halaqoh. Dua hal yang selalu dicekokin oleh pengurus-pengurus pergerakan masa kampus. Saya pun memang tidak menyalahkan mereka yang terus mendoktrin anak-anak kuliah dengan dua hal tadi. Karena tidak ada yang salah dengan Idealisme, begitu juga dengan Halaqoh. Dua hal yang mengajarkan kebaikan, bak kausalitas antara pembentukan karakter beserta caranya. Good idea!

Bagi saya, pertanyaan itu sudah lewat beribu-ribu mile jaraknya dari benak saya hari ini. Bukan berarti mengelak dan berlari untuk menghindar. Melainkan, saya tahu bahwa jati diri sesungguhnya adalah bagaiman kita bisa mesemaikan apa yang kita miliki ketika di kampus, dan berjuang setelahnya.

Saya memang sangat jarang halaqoh dengan Murrobiyah saya, dengan tidak ragu itulah yang saya jawab untuk pertanyaan yang ia tanyakan kepada saya. Bahkan saya pun jarang untuk hadir di kegiatan-kegiatan seluruh kader dalam sebuah bendera kepartaaian. Dan ketika itu juga, pun saya sangat yakin hubungan antara frekuensi halaqoh dengan keamniahan informasi itu dijaga begitu ketat. Buktinya, teman saya yang satu itu, mulai sedikit membatasi obrolan seputar politik yang sedang hangat tahun ini (red-pemilu) bersama saya.

“Kenapa?!. Gue udah enggak save ya?”. Tanya saya seraya menggelitik. Ia hanya tertawa. “Semoga lo enggak anggap gue kafir ya”. Tambah saya sambil menunjukkan senyum termanis menurut saya.

Obrolan ini pun bukan yang pertama. Di perjumpaan saya lainnya, kali ini bertemu dengan beberapa orang yang sempat menjadi partner se-amanah dalam sebuah forum komuniaksi dunia maya. Mereka mayoritas merupakan kader aktif sebuah partai. Mengapa saya nilai seperti itu?!. hal itu dikarenakan setiap yang diobrolin adalah seputar informasi kegiatan partai-partai tersebut. Hingga mereka mengetahui bahwa saya sudah jarang ikut kegiatan-kegiatan seperti itu, mereka pun tetap memberikan informasi seputar kegiatan kumpul akbar sebuah partai, walau saya tahu itu tidak begitu amniah. 😀

Pada tulisan saya kali ini ingin rasanya meluapkan semua teka teki di hati seputar gonjang ganjing seputar hal idealisme tadi. Perlu saya sadari bahwa, mungkin banyak di luar sana, yang sudah meragukan idelisme seorang Kantri Maharani kini. Atau bahkan di antara mereka bisa jadi mengutuk keras pilihan hidup yang saya jalani. But Not Really, im just kiddin.

Idealisme bagi saya adalah sumbu pemikiran saya untuk berlabuh. Idealisme saya bukan kegiatan kepartaian, bukan pengajian halaqoh, dan bukan mengemban amanah. Tapi besar dari itu adalah, idealisme saya adalah Islam. Islam dengan segala bentuk peraturannya, hukumnya yang tertuang di Al-Quran dan Al-Hadist. Saya di sini bukan untuk berserikat dengan homogensi orang-orang saja, melainkan untuk semua. Dan itu yang saya tekatkan, bahwa pasca kampus adalah integrasi kemampuan diri untuk lebih baik. Indikatornya meningkat.

Dan bahkan saking mereka meragukan saya, mereka pun bertanya hal-hal yang jauh dari diri saya sendiri, seperti “Kant, lo udah pacaran ya?“. atau “Lo sekarang jadi cewek-cewek sosialita ya, ngumpul-ngumpul terus”. dan lain sebagainya.

Sebenarnya agak geli sama pertanyaan ragu mereka terhadap saya. Tapi perlu saya sadari, apa mungkin citra itu yang ditunjukkan oleh saya tanpa disengaja sehingga perspektif mereka adalah saya demikian. Jika demikian, jujur saya menjadi merenung dan meintrospeksikan diri saya ke cermin.

Selama saya bekerja, memang saya banyak berteman dengan orang-orang yang tidak seperti saya, dan juga mereka. Pekerjaan saya pun, jauh dari kesan kegiatan anak masjid yang nyaris ketat masalah hijab komunikasi antara laik-laki dan perempuan. Dan ini sudah saya perkirakan jauh – jauh hari, yakni sebelum saya kuliah. Karena, Halaqoh tidak baru dalam hidup saya. Dari SMP saya sudah merasakan indahnya tarbiyah. Masa-masa itulah yang sudah saya pikirkan dan antisipasi dengan jalan hidup yang saya rencanakan untuk masa depan.

Wahai sahabat,

Ada syukurnya diri ini benar-benar engkau tanya dengan penuh nyinyir dan ragu. Insya Allah tidak ada rasa benci dan marah dalam hati atas perkataan mu yang jauh dari diri ini sebenarnya. Jikalau memang diri ini bukan seperti mu lagi. Maka doakan, agar sahabat mu dapat lebih baik. Dan Saya pun demikian. Saya selalu berangan, bahwa saat ini mungkin jalan kita akan berbeda rute. Tapi kita akan sampai di satu titik yang sama. Walaupun sekiranya saya jarang halaqoh/liqo bersama murobbiyah saya, mudah-mudahan engkau tidak membenci saya seraya menghindari saya dari informasi terbaik mu. Karena saya tidak ingin halaqoh ini hanya akan menyurutkan semangat kepartaian mu di negeri ini. Demi Allah, sekali lagi Demi Allah saya tahu adab apa yang sangat mulia yang harus dimiliki seorang mukmin. Maka, biarkan hati kita tetap terpaut karena doa-doa siang petang yang selalu kita panjatkan sebagai penawar persaudaraan kita. Tentu, karena saya, saya sayang kamu karena Allah.

 

 

 

 

Sedalam-dalam Cinta Mu Ku Selami – Indera Lesmana Feat Nania

Selamat pagi everyone !!

Jum’at nih, hari berkah dan sehari menuju happy weekend. Oh iya dari tadi pagi, saya berkali-kali dengerin lagu yang memiliki makna indah. Musiknya juga easy listening banget. Entah mengapa jika mendengarkan lagu ini, bawaanya loveable gimana gitu deh. Romantica de amore sekali.. 😀 :D. Yuk simak lirik dan musiknya..

Bagaimana dengan mu?

By alwayskantry009 Posted in Music

A Day In My Funeral

Mengapa kematian kian menakutkan bagi manusia?.

Seseramkah takdir itu untuk dilalui?

Kematian memang selalu menjadi hal yang ditakutkan. Maka, tidak heran jika kita yang hidup selalu mengelakkan kematian sebagai hal yang tabu untuk dibahas. Jangankan dibahas, untuk dibayangkan saja, rasanya sangat menakutkan dan menyedihkan.

Oh dear..

Saya teringat obrolan dunia maya dengan seorang sahabat tiba-tiba memberikan sebuah link tumblr berisi tulisan dirinya yang bertema, I Would Be Remebered in My Funeral Day.

Kisah yang menuliskan saat-saat harus dimandikan, di shalatkan, hingga dibumikan ke liang lahat. Menyeramkan bukan?. Seketika saya membaca tulisannya, dan seketika itu juga saya dapat membayangkan kesedihan yang akan saya alami, walau sebenarnya orang yang bersangkutan belum meninggal.

Di akhir obrolan kami pun, ia menyelipkan sebuah pertanyaan kepada saya, “Kantri What Would You Be Remembered in Your Funeral Day?, Have you ever thought to write for?”

Dan tidak saya sangka bagaimana sebuah pertanyaan yang menyeramkan membuat diri ini terdorong untuk membuat tulisan semacam itu dalam sebuah blog pribadi saya. Jadi, Bismillah saya akan mencoba menuliskan itu.

********************************* A Day In My Funeral **********************************************************

Hari itu, di hari yang istimewa bagi ku terlihat sinar matahari kian menyinari bumi dengan panas yang cukup menghangatkan tubuh setiap orang. Walau pada sebelumnya, cahaya matahari enggan menyinari karena awan kelabu senantiasa menutup.

Aku berdiri tepat di tengah-tengah bayang matahari yang menjadikan ku bidadari bercahaya.  Seolah menyala dan bersinar. Sangat hangat. Begitu hangat. Hembusan angin meneduhi setiap pori-pori berbalut gaun ku. Putih. Warna putih kian mempesona di tengah kehangatan pemberian Tuhan yang nyaris menina bobokan sanubari yang lelah. Nikmat angin dan cahaya ini yang begitu berbeda aku rasakan. Hingga aku terlelap dalam diri, seraya melentangkan kedua lengan tangan untuk menerimanya.

Di tengah kenikmatan itu, terbayang oleh ku orang-orang yang ku sayang secara tiba-tiba. Mereka berkumpul, dan menghampiri ku satu demi satu. Tidak ada ucapan dan tidak ada sapaan. Hanya senyum indah yang mereka berikan, begitu jelas dalam pandangan. Pertemuan ini sungguh berbeda, walau biasanya sebuah pertemuan diawali dengan tegur sapa dan pelukan, namun kali ini, semua berbeda. Hanya senyum mempesona hati.

Ku pandang satu per satu raut wajah mereka dari kejauhan. Tidak ada keinginan dari mereka untuk mendekati jarak kepadaku, walau ingin rasanya mendekati mereka dan melihat wajah mereka satu per satu.

Tiba-tiba  tubuhku, mulai bergetar hebat dan tertarik menuju lobang kecil secara perlahan. Secepat kilat tubuhku terdorong dalam pusara waktu yang akhirnya membawa ke dalam cahaya putih.

Semula senyap tak bersuara, namun setelah ku buka mata sedikit demi sedikit, tidak ku sangka kali ini aku dapat melihat wajah orang-orang  secara dekat dalam pandanganku. Dalam kerumunan banyak orang pada sebuah tenda ini sungguh aku tidak mengenali mereka. Mereka berbaju hitam saling pandang tanpa menghiraukan kehadiran ku di tempat ini.

Langkah ku semakin cepat berjalan menerobos kerumunan hingga sebisa mungkin ku gapai celah yang terlihat begitu lebar. Sekali lagi, aku benar-benar tidak mengenali orang-orang berbaju hitam ini. Siapa mereka?. Dan mengapa aku berada di tempat ini.

Mulai ku telusuri langkah menuju sebuah ruangan berisi sejumlah ibu-ibu berwajah lusuh yang tengah sibuk merangkai bunga menjulur panjang.  Terlihat juga oleh ku, seorang bapak tua berkopiah yang sedang bergerombol menyiapkan selang air dan papan-papan kayu berbentuk balok.

“Siapa mereka?. Untuk apa itu semua?”,  Pikir ku heran.

Seraya larut dalam lamunan, ku lihat figura emas foto berukuran satu kali satu meter tepat di depan ku. Ada lima orang terpampang jelas. Dua laki-laki dan tiga perempuan saling duduk dan tersenyum indah. Di samping figura foto itu terdapat beberapa figura foto yang masing-masing terdiri tiga orang ataukah hanya seorang.

Ku lihat ada seorang perempuan paruh baya yang berjalan dan mendekati figura foto seorang perempuan berjilbab yang sedang tersenyum. Terlihat perempuan paruh baya itu meniteskan air mata dan mengusap-usap wajah dari sesorang yang ada di foto itu.

Aku semakin penasaran, “Siapa perempuan paruh baya yang menangis itu?, dan siapa perempuan yang di foto itu?”.

Rasanya ingin melihat lebih dekat untuk memperjelas pandanganku. Akan tetapi, suara sirine yang terdengar keras mengejutkanku secara tiba-tiba. Seluruh orang –orang berkumpul sambil bergumam, “Laaillaahaa illaullah..”

Terdengar suara langkah dari arah luar dan isak tangis yang kian menggetarkan hatiku teramat dalam. Aku berdiri mematung tak berdaya. Suara parau langkah kaki dan gemuruh suara mereka kian mendekat memasuki ruangan tepat aku berdiri.

Sejumlah orang laki-laki berpeci mengangkat sesuatu yang ada pada kurungan berwarna hijau, dan meletakkan di tengah-tengah karpet berwarna merah di bawahnya. Langkah kaki itu kian riuh bersaut paut dengan isakan tangis yang satu persatu hadir di ruangan ini. Aku melihat Papah yang berusaha menggopoh Mamah yang berurai air mata. Begitu juga dengan Adik yang terus terisak berpelukkan dengan Kakak.

Lagi-lagi aku bertanya, “Ada apa ini semua?”

Perlahan namun pasti, bungkusan panjang berbaut kain batik cokelat itu dibuka. Terlihat jelas olehku sekujur tubuh tergeletak kaku. Namun, samar ku lihat wajahnya. Aku pun mencoba menerobos kerumunan orang-orang untuk melihat wajah pemilik tubuh itu.

Hingga suatu ketika ada laki-laki paruh baya berpeci putih berucap dengan sangat santun.

“Innalillahi wainna ilaihi rojiuun. Telah berpulang ke Rahmatullah, anak kami. Anak yang kami sayangi tepat di hari yang baik ini. Dan tibalah waktunya untuk dimandikan dan akan di kafani untuk di sholatkan. Untuk itu bagi kerabat dan saudara yang ingin melihat almarhum lebih dekat  di saat-saat terakhir masih dibolehkan.”

Satu-satu dari mereka menghampiri tubuh itu sambil menangis. Aku melihat jelas Mamah mencium kening dari sosok itu sambil menangis pilu. Begitu juga dengan Papah, Adik dan Kakak. Isak tangis kian pecah mengisi seluk beluk ruangan ini. Dengan wajah memerah mereka menahan kesedihan yang luar biasa.

Melihat itu, dadaku terasa sakit dan badanku memanas tiba-tiba. Seolah-olah dapat merasakan emosi yang terjadi pada orang itu. Aku pun  berusaha mendekat dan menerobos menembus kerumunan yang menutup langkahku.

Hingga pada saat langkah yang dekat, kaki ku bergetar hebat. Seolah tenaga perlahan kian lenyap ketika melihat jelas wajah pemilik jasad itu.

“Itu..aku”

Wajah pucat namun begitu bersih itu tertutup dengan tersenyum indah. Dengan kapas-kapas yang menutupi lubang hidung dan juga telinga kian menjadi aksesoris. Tubuh ku pun di basuh air. Tangan mamah membasuhi tubuh dengan halus dan hati-hati. Sontak, aku menyentuh tubuhku yang tiba-tiba hangat seolah merasakan sentuhan tangan mamah. Tangan itu yang mengelusku di saat ku menangis, tangan itu yang menyuapi ku makan, dan tangan itu yang memeluku erat.

Setelah dimandikan, tubuhku diangkat menuju anyaman tikar dengan kain putih bersih beserta kapas terlentang di atasnya.

Sejumlah ibu-ibu berjilbab mengelilingi jasad ku sambil mnegucapkan, “Laa ilaaha Illaullah..”

Dengan hati-hati mereka membalutku dengan kain putih dan kapas yang wangi. Mulai dari telapak kaki, badan, hingga akan menutupi wajah, seluruh orang-orang yang hadir menangis hebat.

Mamah yang semula lemah dan pilu, kian menerima ikhlas. Ia tidak menangis pilu lagi. Mulutnya hanya berdzikir tegar. Begitu juga dengan Papah, Kakak dan Adik.

“Assalamualaykum wr.wb. Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiuun. Telah berpulang ke Rahmatullah, puteri kedua kami, adik kami, kakak kami, ponakan kami, dan sahabat kami Kantri Maharani. Kami sekeluarga memohon maaf atas kesalahan-kesalahan yang mungkin pernah dilakukan semasa hidup”. Ucap Papah ku ketika memberikan ucapan terakhir sebelum menyolatkan ku.

Dengan suara yang parau, Ia mencoba untuk tetap mengucapkan sambutan terakhir di depan kerabat yang hadir. “Kantri anak perempuan yang saya sayangi kini cepat meninggalkan kita semua. “

“Masih teringat masa-masa kecil almarhum dulu, dan kini..”,

Ucapannya pun terhenti dengan raut wajah yang berubah memerah. Dan sambil berkaca-kaca menahan tangis, ia berusaha untuk meneruskan ucapannya.

“Dan kini, saya saksikan jasad terakhirnya yang telah tiada”.

“Insya Allah kami sekeluarga ikhlas melepas anak kami, adik kami, kakak kami, ponakan kami, dan saudara kami. Karena, ternyata Allah lebih menyayanginya melebihi cinta kami sebagai orang tuanya. Sekali lagi, kami sekelurga memohon maaf atas segala kesalahan yang pernah dilakukan secara sengaja ataupun tidak sengaja semasa almarhum hidup. Terimakasih. Wassalamualaykum wr.wb”.

Mendegar ucapan papah langkah saya mendadak terhempas mundur dari kerumunan mereka yang bergegas menyolati ku. Dalam kejauhan ku melihat sejumlah teman-teman dan sahabat saling rangkul dengan mata yang sembab. Teman-teman semasa kecil, sekolah dasar, smp, sma, kuliah dan teman kantor pun turut hadir memenuhi tenda.

Ingin rasanya memeluk mereka satu persatu. Tapi tidak bisa. Sekalipun aku berteriak, tentu tidak ada yang dapat mendengarkannya.  Tubuhku kian menjauh, semakin mereka mengangkatku maju, aku kian berjalan mundur menjauh. Suara mereka makin kecil, kecil, dan menghilang. Kini hanya hening yang ku miliki. Wajah-wajah mereka yang semula terlihat jelas, kian memudar hingga tak terlihat. Inikah kematian itu. Kematian yang hanya seorang diri. Hanya pikiran tertuju kepada Sang Khalik setelahnya. Dalam keabadian.

************************************************The End**************************************************************

By alwayskantry009 Posted in my soul

Firasat

 

 

Oh Sayang..
kamu tau, tentang hari ku ini.
Betapa kabut kelabu kian membalut keyakinan ku.
Sayang, nyaris saja!
Setengah percayaku nyaris melayang bayang

Ada hal yang ingin sekali saya ceritakan kepada seluruh dunia tentang hari ini. Cerita yang kembali merubah paradigma seorang perempuan lajang berusia 25 tahun ini. Sekali lagi, saya pun teramat bersyukur atas segala kesempatan merasakan kebesaran-Nya, dengan berkomunikasi Heart to Heart dengan Sang Khalik, Allah SWT.

Saat ini saya sedang berada di salah satu kota terbesar di Jawa Barat, Tasikmalaya. Kota tasik, merupakan kota kedua yang memiliki potensi ekonomi bisnis kecil dan menengah yang sudah teruji track record-nya. Mulai dari kuliner hingga kerajinan bernilai dolar pun ada di kota ini. Pada kesempatan ini, saya bertugas meneliti mengenai perkembangan Positioning Branding sebuah perusahaan kerajinan rajutan yang sudah melalang buana mengirim ekspor ke beberapa negara.

Kerjaan saya kali ini cukup unik, proyek ini luar biasa berbeda. Pasalnya untuk meneliti positioning branding terbilang berbeda jika harus dibanding dengan ranah kerjaan saya seperti meneliti berupa opini publik. Mempelajari positioning branding sangat membutuhkan berbagai disiplin ilmu antara lain, ekonomi bisnis yang meliputi kebijakan ekonomi mikro, green ekonomi, dan juga diperlukan memahami mengenai strategi and tactic of communication branding, marketing Public Relations, dan lain-lain aspek yang menunjang seperti aspek hukum dan budaya. No either to be more complicated, but that was interested. I love it!.

Singkat kata, hari Minggu subuh saya pergi menuju kota Tasik menggunakan bus Primajasa Executive dengan rute Kp. Rambutan-Tasik. Itu artinya pemberangkatan saya dimulai pada pukul 05.30 tepat di terminal Kampung Rambutan. Kali ini saya pergi bersama tiga orang rekan kantor yang cukup enerjik. Mereka adalah, Mas Anton dan Mas Raga.  Keduanya adalah senior saya di ZOM. Biasa saya sebut mereka dengan, “Suhu”.

Kepergian kami kali ini jauh dari rencana awal. Mengapa, karena semula kami berangkat menggunakan mobil kantor yang biasa kami gunakan. Namun sayang sekali di tengah jalan tol, mobil mengalami gangguan dalam hal keseimbangan. Sehingga mobil diharuskan spooring balancing yang mana tidak mungkin terselesaikan dengan cepat. Mau tidak mau, mobil harus kembali ke bengkel di daerah Jakarta, dan kami pun mau tidak mau menggunakan bus di kampung rambutan.

“Damn, what the hell of car today!. Enjoy the trip guys”. Itulah status BBM yang tertera di akun mas Raga. Membaca status itu, saya pun hanya ketawa. Hampir saja, saya terbawa dengan propaganda status itu.

Well, dengan (berusaha) menikmati nasib, saya pun menganggkut seluruh bawaan dari bagasi mobil. Bawaan kali sangat amat banyak. Maklum persiapan untuk menginap selama 7 hari adalah waktu yang tidak singkat bukan?!. Dan lagi-lagi, No Wondering, if i did as a woman i am.  Mulai dari perlatan pakaian, alat bersih-bersih, tentu jumlahnya akan berbeda dengan kaum laki-laki kebanyakan.

Dengan hati yang selalu ingin dibesar-besarkan, saya pun bergegas mempercepat langkah kaki menuju bus yang akan berangkat. Sampai di bus, saya sempat memilih tempat duduk, sesekali mengecek bagasi dalam, dan hingga pada bangku paling depan saya pilih sebagai pilihan akhir.

Perjalanan kami pun lancar hingga sampai Tasik. Waktu yang dihabiskan adalah 10 jam dari jakarta. Setiba di hotel penginapan, saya segera membereskan seabrek bawaan tadi untuk dimasukkan ke dalam lemari dan beberapa ke kamar mandi. Semula berjalan dengan sangat lancar tidak ada kendala sama sekali. Hingga suatu ketika, perasaan saya bergumam tiba-tiba menebak akan sesuatu barang yang hilang.

“Apa.. ya, yang lupa?!”. Pikir saya kemudian. Sayangnya saya berusaha mengahapus teka teki itu secepat mungkin. Karena bisa jadi itu adalah sugesti semata. Akhirnya saya berusaha untuk menjalankan aktivitas hari pertama.

Hingga akan mandi sore, tiba-tiba..

“Map gue !!!”.

Sontak, ingatan saya mengebul hingga ke ubun-ubun. Secepat kilat saya langsung memeriksa ke dalam lemari, dan benar saja tidak ada di sana.

Panik setengah sadar itu sudah pasti.

“Di mana ya.. gue simpen itu map??”. Gumam saya sambil mondar mandir dan tidak lupa garuk-garuk kepala karena bingung. Sesekali duduk, sesekali tiduran, sesekali menopang pipi, ah.. apa pun akan dilakukan ketika kalut.

Merasa tidak ingin pusing sendiri, saya pun segera menanyakan kepada kedua rekan saya yang mungkin terbawa oleh mereka. Dan, nyatanya mereka tidak membawanya. Deeeeng!!

Mendengar berita berkas yang teramat penting tidak ada, kedua rekan saya ikut kalut. Mereka lebih panik dari pada saya. Oh tidak !. Mereka membuat suasana lebih kalut dan panik.

“Waduh, kant !. Kamu kan tau, data itu, penting buat tugas kita nanti. Piye tho?”. Ujar Mas Anton dengan dahi berkerut menandakan bahwa ia sedang pusing.

“Kok bisa enggak ada?. Itu gimana cerita?!.” Timpal ironis, mas Raga dengan ekspresi kosong. “Lo harus inget-inget kant. Kalau enggak, abis kita !”.

Sejujurnya, ucapan mereka membuat saya kian panik. Memang harus diakui bahwa data itu teramat penting. Berkas-berkas berupa coding itu seharga ratusan juta. Ibarat berkas ujian nasional, berkas coding itu teramat RA-HA-SI-A. Rahasia!.

Tidak terbayang apabila berkas itu hilang, entah ke mana. Dan ditemukan oleh orang lain. Seketika itu, saya pun berpikir ABIS SUDAH NASIB SAYA !.

Saking kalutnya, saya pun mencoba mereka ulang kejadian-kejadian 1 jam lalu, 10 jam lalu, bahkan sebelum saya menaikin mobil kantor. Saya pun menelpon Ayah di Jakarta dengan tujuan mengkonfirmasi apakah ada map yang saya maksud tertinggal di rumah. Tepatnya di bagasi mobil. Namun sayang sekali, bukan ketenangan yang saya dapat, melainkan ketegangan luar biasa. Di luar dugaan, Ayah saya jadi ikutan kalut. Beliau justru memarahi saya. Tidak mau lama-lama dimarahi, saya pun menyudahi obrolan di telepon.

Tidak putus asa, saya mencoba menghubungi adik saya yang masih ada di rumah melalui twitter. Sekali lagi, hasilnya nihil. Menurut informasi map itu tidak ditemukan di rumah maupun bagasi mobil.

Saya mencoba kembali dengan menghubungi supir kantor, untuk mengkonfirmasi keberadaan map di bagasi mobil kantor. Dan kembali hasilnya nihil.

“Habis sudah!”. Pikir saya tiba-tiba.

Tanpa sadar saya bergumam lirih dalam hati, “Di mana Ya..Allah.. tunjukkan pada hamba petunjuk-Mu”

Malam hari, ketika selesai sholat Isya, saya pun melaksanakan sholat sunnah istikharah meminta petunjuk. Dan kali ini, saya benar-benar mencoba berdialog kepada-Nya. Dan di situlah, antara keyakinan dan ketidakyakinan beda tipis di hati dan benak saya.

Entah mengapa, di saat komunikasi itu terjadi, saya tutup dengan pembacaan ayat Al-Quran, hingga pada suatu ayat berbunyi, “Firosatul Mukmin Haq” yang berarti Firasat seorang mukmin itu benar. Ketika membaca itu, saya pun termotivasi percaya untuk mengikuti kata firasat, yakni kembalikan kepada Allah.

Pukul 21:30 WIB saya gegaskan untuk segera tidur. Dan besar harapan adalah agar Allah memberikan petunjuk keberadaan map itu. Keesokan paginya, ketika selesai sholat, entah mengapa saya tiba-tiba berpikir bus primajasa. Entah mengapa, hati begitu kuat untuk mendelik tempat keberadaan map di bagasi dalam atas tepat di atas saya duduk.

Secepat mungkin saya rogoh dompet mencari karcis pembayaran untuk melihat nomor pull kantor di tasik ataupun di jakarta. Ketika menelpon, saya sedikit kecewa bahwa ternyata map itu tidak ditemukan. Namun, seperti ada yang membisikan ke hati saya, bahwa saya harus pergi menuju ke manapun menggunakan bus primajasa. Di waktu, yang berjalan begitu saja. Tanpa saya rencanakan, saya pun melaju dengan bismillah.

Hingga suatu ketika pukul 08.30 WIB, saya menaikin bus dengan tujuan yang sama seperti saya pergi. Saya menaiki bus itu, dan sekali lagi firasat saya mengatakan, ini adalah bus yang saya taiki ketika itu. Kenapa, karena wajah kondekturnya mirip dengan kondektur bus saya pergi. Saya ingat itu.

Saya pun bertanya dengannya dengan baik-baik.”Mang, di bus ini ada map yang ketinggalan gak ya?”.

Dengan wajah yang heran ia tidak menjawab, bahkan berbalik bertanya, “Warna apa neng?. Kapan?. Ti mana nyimpennya waktu itu?”.

“Biru. Saya simpen di bagasi atas”. Seraya menujuk lokasi saya simpankan.

Entah mengapa saya menjawab dengan sangat percaya diri, padahal saya tidak ingat apakah iya saya menyimpan di tempat itu.

Mamang kondektur itu memanggil saya keluar ketika berhenti di pemeriksaan bus. Ia mencoba meintrogasi saya secara detail, mulai dari warna, bentuk, isi, dan waktu. Ya, saya akui itu sangat lumrah dilakukan oleh mereka, dengan tujuan keamanan.

“Oh gitu. Sebenetar neng..” Ucap mamang kondektur sambil melaju ke dalam bus.

Dan ketika ia datang..

“Ini neng?”. Tanya ia seraya menyodorkan sekotak map warna biru.

Melihat itu, saya spontan senang setengah kepayang. “Iya Mang, iya !!. Itu punya saya”.

Setelah kejadian itu, saya benar-benar percaya dengan kekuatan komunikasi dengan Sang Khalik sungguh-sunggu menumbuhkan kepercayaan yang nayris mustahil bagi manusia. Siapa sangka, pemikiran kita berada di bawah alam sadar menuntun langkah dan ucapan untuk mencari jawaban yang kita cari.

Petunjuk itu bukan mimpi yang biasa disebutkan orang-orang. Tapi saya percaya petunjuk itu ada di hati kita. Karena Allah bukan hadir di mimpi, tapi Ia hadir di hati setiap insan yang senantiasa meminta sungguh-sungguh. Itu sebabnya, bahwa firasat seorang mukmin adalah benar.

Hari ini, adalah sangat berharga untuk saya. Terimakasih Yaa Allah..