Konsep Kolonialisme dalam Perang Dialektika

Cukup sudah hari ini berbicara mengenai ekonomi dan polemik global era Montesque. We’re stand on the right possiton, eventhough we were known those evil would be our enemy, anytime. Yeah just some our assumes. Disguisting!

Sore ini lelah, berjam-jam berbicara mengenai aspek pemasaran regional, politik luar negeri, krisis ukraina, hingga pada topik fenomena Phedophilia kami bagi dalam evening chit chat di salah satu balkon apartemen di mana kami tinggal. Kali ini, Tim rela berkunjung ke apartemen saya, dengan membawa beberapa buku yang direncanakan sebagai tema obrolan di anatara kami.

“The Evil CrimEconomic Style”, kira-kira itu yang saya baca di sampul depan bukunya. Tidak hanya saya dan Tim yang ikut mendiskusikan obrolan sore menjelang malam, tetapi Sheera, teman kami berkebangsaan Singapura, ikut bergabung dalam kelompok diskusi ter-aneh sepanjang  anak cucu adam masa kini. Sheera, menjadi tertarik dengan tingkah laku kami yang terlihat bodoh di beberapa spot kantor.

Pernah suatu ketika, saya dan Tim terus berdiskusi mengenai perdebatan mengapa orang-orang lebih senang menggunakan tangan kanan dibanding tangan kirinya. Seperti biasa, cara diskusi kami berbeda. Perlu menggunakan alat peraga, maka sepanjang lorong kantor dari keluar ruang kantor, lobby, bahkan di dalam lift, saya dan Tim bagaikan pasangan gila karena ledakan tagihan kartu kredit akibat pesta hura-hura pernikahan tujuh hari tujuh malam.

Di saat yang lain, merasa muak dengan sikap kami berdua, hanya Seera yang terkekeh kagum dan tertarik. Bahkan Ia sempat menganalisa sesuatu yang omong kosong terhadap kami berdua. “Hey, May I Guess something?”.

“What?!.” Tanya Kompak Saya dan Tim menanggapi pertanyaan Seera.

“You’re both such a wonderful couple. Seru. Aku salut.” Ujar Seera sambil menekukkan telapak tangannya hingga membentuk sigatiga sama kaki yang menempel di dadanya.

Saya dan Tim hanya melongo heran medengar ucapan Seera. Dan setelah itu, berkali-kali saya mencoba menjelaskan ketiadaan hubungan spesial di antara saya dan Tim. Berkali-kali itu juga Seera mengelak untuk menerima pernyataan saya. Hingga akhirnya jerih payah usaha saya menjelaskan, Seera pun percaya. Lain halnya dengan saya yang memiliki usaha untuk meluruskan asumsi Seera, Tim jauh lebih impresif. Ia sama sekali tidak peduli. Bahkan konyolnya adalah, Tim tidak ambil pusing, capek-capek kerjar-kejaran dengan Seera demi hanya kalimat klarifikasi.

“Baby dont care what she tought about us. Mau benar apa enggak, yang pusing kan dia ini. Take it easy!”.  Respon Tim ketika saya coba membujuk dirinya untuk mencoba meluruskan persepsi Seera tentang hubungan kami. Sampai saat ini, pun ia masih diam.  Damn !.

“Okay. let we start to talk a stupid cases. Who wanna through first to ?” Tanya Seera penuh semangat. Ia terlihat antusias mengikuti ajakan diskusi kami sore ini. “Tim, Aku kira kamu akan banyak topik menarik sore ini. Benar kan?”.

Ah, benar sekali. Tim tersulut oleh Seera. Ia menujukkan buku yang sudah dibawanya. Alumni yang tercatat sebagai mahasiswa Stanford University itu, benar-benar melangit, terbang, dan entah tanpa sadar ia telah melampau orbit bumi. Syukurlah, ia tidak melayang hingga terbakar karena matahari, atau kosong oksigen. Tim benar-benar ajaib. Begitu juga dengan Seera. Mungkin mereka agen FBI yang terpisahkan dan akhirnya bertemu dalam keadaan nomaden. Saling sambung menyambung menjadi satu. Mudah sekali menggapai mufakat. Entah Seera yang mudah terlena dengan intelenjensia yang dimiliki Tim, atau Tim yang benar-benar penjahat dialektika logika.

Malas, untuk mengingat dan mengulang obrolan tadi sore, apa itu kemunafikan ekonomi liberalnya Lincoln, atau ungkapan Tim yang menyatakan bahwa manusia ditakdirkan untuk mati dan bukan hidup. Namun, ada yang ingin saya amati dari apa yang dimaksud konsep diskusi kelompok yang akhirnya dapat diketahui bagaimana karakter pada diri seseorang. Mudahnya, ternyata kita dapat mengetahui bhawa karakter manusia bisa berubah karena diskusi kelompok.

Kali ini, hanya ada tiga orang dengan perspektif personal yang berbeda, jika dalam keadaan komunikasi tatap muka oleh 2 orang saja, Seera adalah sosok perempuan yang riang, semangat, dan sedikit sensitif. Sedangkan, Tim adalah sosok laki-laki keras kepala, introvert, dan terkadang sulit mengalah.

Saya tidak masuk hitungan, karena saya berperan sebagai pengedali pembicaraan. Oportunis, lebih tepatnya. Walau pada kenyataannya, saya mungkin akan menjadi kontradiktif dengan persepktif Tim. Tapi, kali ini saya ingin mencoba bagaimana membuat Tim meluluhkan sedikit egonya atas logika Seera yang kadar egonya lebih rendah dibanding miliknya.

Ini semacam teori devide et impera nya kolonial, saya mulai memberikan umpan positif dari opini logika Tim, dan sedikit kontra dengan Seera. Tidak lama, pada argumen yang selanjutnya saya masih tetap mendukung perspektif Tim. Apa yang terjadi dengan Seera?.

Seera masih kuat berargumen tentang pendapatnya. Pada keadaan lainnya, Saya mencoba melempar perspektif di luar dari yang mereka utarakan. Walau yakin, sebenarnya perspektif masih kacau. Absurd. Tapi lucunya, ternyata Seera dan Tim mulai mengikuti irama perspektif saya. Terlebih yang mengikuti perspektif saya adalah Tim. Kemudian, Seera mencoba lupa dengan pendapatnya.

Tapi, lagi-lagi harus saya akui Tim memiliki intelejensia di atas rata-rata. Ia sadar bahwa topik sudah mulai keluar konteks pembiacaraan, Tim pun memulai dengan perspektif miliknya yang tidak senada dengan perspektif saya. Walau demikian, seolah Tim masih mengajak saya sebagai koloni argumentasinya. Saya pun dengan senang hati masih mengikutinya.

Tidak lama, saya mencoba netral setelahnya, ketika saya melihat Seera mencoba mengajak saya bersahabat. Ketika pada posisi seperti ini, saya akhirnya mengetahui bagaimana kegamangan muncul di raut wajah mereka satu persatu. Bonusnya, mereka akhirnya tertarik dengan asumsi kenetralan saya. Akhirnya mereka megikuti ritme sikap saya. Masing-masing mencoba berdagang menyodorkan bukti kefasehan pemikiran mereka satu persatu.

Setelah itu, baru saya membuka celah persahabatan kepada Seera. Sedikit positif memberikan umpan terhadap pendapat Seera. Kekuatan Seera kembali meningkat karea ia tahu ada pendukung baru untuk pesperktifnya. Tim, tidak melawan, tetapi ia mulai mendengarkan dengan waktu yang lumayan lama untuk menyimak setiap kata demi kata yang terucap dari mulut Seera.

Melihat ada kekososngan di sana, saya segera muncul memecah dengan perspektif lain, yang mungkin hampir senada. Tim, kembali mendengarkan pendapat saya. Tidak menunggu lama, Tim pun akhirnya mencapai kata mufakat, “Yeah, i Guess to make a good decision, if …”

Viola..!!. Coba perhatikan, Tim akhirnya menurunkan sedikit egonya. Ucapannya memang tidak menunjukkan makna “Setuju”, tetapi ia telah menunjukkan kekalahan atas ego yang dimilikinya. Tetapi dahsyatnya, Ia sama sekali tidak menurunkan kecerdasan logikanya. Artinya, ada makna pilihan atas pemikiran yang dimilikinya, dengan kata lain, kalau mau setuju silahkan, kalau pun enggak setuju juga enggak masalah. Karena pendapat gue ya begini..

Satu hal yang saya temui, bahwa dalam berbicara atau berdiskusi kelompok (lebh dari dua orang), bisa jadi faktorr psikologis mereka akan terpengaruh karena faktor sense of belong. Merasa ada yang mendukung, maka di sana, sifat pembawaan seseorang mudah tergerus ataukah akhirnya dominan. Dengan catatan, hanya orang yang cerdas yang jeli melihat garis batas persuasi. Kegamangan adalah musuh transisi yang dimiliki setiap orang. Itu sebabnya, kita jadi sering menyalahkan yang benar menjadi salah, dan salah tiba-tiba benar.

Konyol bukan?!.

Yeah.. itulah diri kita. Mahkluk Tuhan bernama Manusia akan selalu menarik diperhatikan.

Adioosss.

Iklan

Apalah Pemaknaan “Timur-Barat” Sesungguhnya

Selamat malam insomers !!

Sebelumnya, saya ingin meminta izin menulis apa yang sebenarnya tidak ingin saya pikirkan. Suatu pembenaran atas nama kemanusiaan yang entah mengapa begitu memprihatinkan.

Mungkin, kita semua waktu itu dihebohkan dengan sebuah pesan dari status akun path seseorang yang (intinya) memprotes hak istimewa untuk para ibu hamil berkendaraan umum. Singkatnya, si pemilik akun path itu, menyatakan protes bahwa hak dirinya untuk duduk di kereta listrik, direbut oleh ibu hamil dengan Cuma-Cuma.

Eits, sebentar, sebelum tulisan ini menjalar klimaks, saya tekankan, bahwa tulisan saya kali ini, tidak mencoba menjastifikasi si pemilik status akun path itu. Akan tetapi, tulisan ini lebih kepada mencermati fenomena barbar yang entah mengapa sudah sangat marak bagai epidemik. Minimal, kita semua paham, bahwa tidak ada akan asap jika tidak ada api, dan yang pasti bisa jadi ada yang mencoba menyalakan apinya.

Jakarta, yeah.. ibu kota multi etnis, kultur, dan ragam kehidupan ini sudah menjadi tujuan setiap orang untuk mengadu nasib. Semua orang menyangka bahwa Jakarta adalah ladang pencaharian yang katanya menjanjikan masa depan yang cerah. Mitos atau bukan, mungkin kita hanya bisa nelen ludah dalam-dalam.Dengan pendapatan standar, 2.7 Juta rupiah, banyak orang berlomba dari pagi hingga malam, atau dari pagi sampai pagi lagi banting tulang, tahan ego, dan memar hati demi masa depan yang dijanjikan.

Tapi, jika berbicara kerasnya kehidupan kota Jakarta, ternyata kehidupan serupa di tempat yang berbeda pun bisa dikatakan sama. Sebut saja, Singapura. Negara maju macan per-ekonomian Asia Tenggara itu memiliki tradisi yang jauh lebih runyam. Sekilas hampir sama, dengan di Jakarta. Keduanya memiliki peraturan yang segudang. Mulai dari berjalan, berkendara, buang sampah, menyebrang dan lain-lain. Namun yang menjadi berbeda adalah, tingkat pelanggarannya. Peraturan di Jakarta jauh lebih banyak dilanggar dari pada di Singapura. Pengawasan aplikasi peraturan di Indonesia masih rendah. Sedangkan di Singapura, walaupun dikatakan sebagai negara yang berdisiplin tinggi, mereka masih ada satu dua tiga orang yang melanggar (sebenarnya). Jadi serem, jika ngomongin angka dan jumlah. Karena, sebenarnya penulis bukan melihat data empirik, tetapi sesuai dengan pengamatan di lapangan, jadilah menjadi asumsi penulis pribadi.

Lain cerita dengan masalah ketaatan hukum antara dua negara itu, Indonesia ternyata harus lebih bangga karena interaktif sosialisasi antara personal lebih maju dibanding di Singapura. Di Singapura, lebih individualis. Jangan heran jika di saat kita berjalan menyebrangi jalan atau berada di tempat keramaian, tiba-tiba bahu kita ada yang menabrak atau disenggol dengan keras oleh masyarakat sana. Hanya kata “Sorry” yang kita dapat dari si pelaku. Dan silahkan gondok segondoknya dalam hati.

Jakarta walaupun katanya masih ‘mendingan’ dibanding Singapura, namun sayang respek orang Indonesia lebih kepada, “Senggol Bacok”. Entah siapa yang dibacok dan membacok. Karena yang salah bisa jadi benar, dan yang benar bisa jadi salah akhirnya. Rasanya tidak tega untuk menilai bahwa orang Jakarta adalah suku barbar. Karena, saya pun ada di dalamnya. Ini yang kemudian, menjadi hal yang ingin saya tulis pemikiran yang (sekali lagi) enggan saya pikirkan.

Jakarta atau Indonesia merupakan negara yang menganut adat ketimuran, yang mana lebih gotong royong, mufakat, saling asih, asuh, dan berbagai macam jargon kebaikan di tubuhnya lainnya. Begitu juga dengan Singapura, sebagai negara berpondasikan Melayu. Tapi kini, semua hanya sebatas sejarah. Apa itu “Timur”, Apa itu “Barat”, jika akhirnya akan sama bermuara.

Bayangkan, jika di Jakarta saja sudah ada pembenaran atas nama kemanusiaan saja, rasanya masyarakat Jakarta sudah selayaknya remedial mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, yang mana sudah tidak sesuai dengan dengungan bagaimana sikap berbangsa dan bernegara yang baik sesuai dengan falsafah negara, Pancasila.  Lama-lama ideologi Indonesia bagian Jakarta akan sudah Fixed korban eksperimental Karl Max dalam pandangannya, sosiologi ekonomi. Di mana, setiap orang dituntut untuk produktif bertahan hidup, walau kadang lupa dengan kondisi sturktural.

Tapi tunggu dulu, lain halnya dengan New Zaeland negara yang nyata-nyata kapitalis, ternyata jauh lebih ramah dibanding Indonesia dan Singapura. Mereka lebih menolerir asas kemanusiaan, walau sebenarnya secara garis besar ekonomi, mereka sudah lama mengadopsi paradigma itu dibanding kedua negara tersebut.

Dengan kata lain, Makna Timur dan Barat hanya label egosentris beberapa pihak saja. Indonesia dan Singapura sudah tidak layak menyandang predikat sebagai negara Timur, atau New Zaeland disebut sebagai negara Barat. Kali ini, saya akan sedikit mempertanyakan maksud jika ada beberapa orang yang dengan bangga mengatakan, “Kita ini negara Timur, jadi harus menjunjung tinggi adat Ketimuran!”.

Kalimat yang bisa jadi hanya menjelma sebagai dogma buta,  sudah merasuki sel-sel otak paling kecil kita, yang akhirnya tanpa kita paham apa arti sebuah pemaknaan Timur dan Barat tadi.

Atau bisa jadi, kondisinya memang sebenarnya kita sudah paham, namun tanpa tidak sadar ruh kita lebih gemar memilih meninggalkan jati diri sebagai orang Timur, untuk berpaling menjadi orang Barat.

Atau seperti ini, kondisinya memang sebenarnya sudah paham, namun secara sadar kita menolak segmentasi ke-Timuran Indonesia?!.

Wah, jika benar kondisi terakhir menjadi jawabannya, Indonesia sudah sulit untuk menyiapkan bambu-bambu runcing untuk perang melawan penjajah. Karena, kolonialiasme bukan lagi bangsa lain, tetapi kita sendiri. Ini menyedihkan. Nanti suatu saat, label timur-barat, kapitalis-sosialis-kerakyatan-syariah, akan terlihat jelas di jidad setiap individu, dan bukan pada sekelompok bernama negara.

Ini lah, yang mungkin dimaksud Karl Max, yang measumsikan sebuah paradigma sosiologi ekonomi yang didasari dari sifat dasar manusia. Max, sudah dari dulu menyadari bahwa manusia adalah makhluk serakah yang ada di alam semesta. Nilai pribadi lebih berarti dibanding pertimbangan sekelompok minoritas atau mayoritas.

Jika sudah demikian, hanya kita, kita sebagai individu penentu dari apa yang benar dan tidak benar. Seyogyanya, tulisan ini adalah sebagai ajang introspeksi penulis (saya sendiri) yang berusaha menjadi manusia yang memahami manusia lain. Saya menghormati anda, dan begitu juga sebaliknya.

Semoga, esok hari kita menjadi manusia yang memanusiawi.

Adioss..

 

 

Sejarah Public Relations di Eropa

Filosofi Etimologi PR

Istilah Public Relations atau disingkat PR (baca:piar), atau disebut juga PROVINCIAL, yang di Indonesia secara umum diterjemahkan menjadi hubungan masyarakat yang disingkat menjadi Human.
Karena istilah bahasa selalu mengacu pada etimologinya, dan kedua istilah itu dibedakan oleh bahasa yang berlatar belakang berbeda, sudah barang tentu operasionalisasi dan aktualisasinya pun menjadi berbeda.
Istilah PR sebenarnya baru dikenal pada abad ke-20 namun gejalanya sudah tampak sejak abad-abad sebelumya, bahkan sejak manusia masih primitif. Unsur dasarnya adalah memberi informasi, membujuk, dan mengintergrasikan khalayak selalu tampak dalam kehidupan masyarakat zaman dulu.

Hubungan yang diharapkan adalah hubungan yang harmonis. Harmonis dalam arti adanya saling pengertian dan persesuaian antara kedua belah pihak, satu sama lain saling memperoleh keuntungan dan merasa senang.
Padahal apa yang dilakukan Cleopatra dengan keindahannya sebagai ratu, dalam rangka menyambut Mark Anthony di tepi sungai Nil, sebenarnya merupakan kegiatan PR. Demikian pula di zaman Neolithic sudah ada praktek public relations.
Di zaman purbakala orang berhubungan dengan orang lain yang berjauhan tempatnya melalui tanda-tanda berupa asep api di atas gunung atau tabuh-tabuhan, tiada lain untuk menarik perhatian dalam rangka memberitahukan sesuatu kepada orang lain atas dasar memelihara hubungan baik dengan sesamanya.

Dalam peradaban Mesir kuno, para alim ulama merupakan pakar-pakar opini publik dan persuasi. Mereka menggunakan karya seni dan sastranya dalam bentuk pyramid, obelisk, candi, spink, atau pun patung-patung untuk memberikan kesan kepada public mengenai keagungan dan pentingnya raja, alim ulama, para bangsawan, sastrawan, serta para pemimpin lainnya.

Demikian pula seni dan sastra peradaban Babylonia purba, Assyria purba, dan Persia member kesan kepada kita betapa berani dan heroiknya para raja dalam memenangkan peperangan ataupun pertempuran.
Sejarah pun mencatat, Iskandar Agung telah mengimpor gagasan tentang ke-Tuhan-an dari Timur ke Yunani. Dialah orang barat pertama yang menyebut dirinya Tuhan. Sementara itu Kaisar Romawi telah menggunakan muslihat ini untuk menyucikan kekuasaan politiknya melalui lambing ke-Tuhan-an (Moore,1988:23).

Prinsip Public Relations telah pula dilakukan oleh orang-orang Yunani dan Romawi dengan dasar-dasar vox populi (suara rakyat) dan republica (kepentingan umum). Pada zaman keemasan negaranya Olimpic Games, Dionysian Festivals, dan upacara-upacara keagamaan lainnya telah menggalakkan saling tukar pendapat dan perkembangan semangat dan kesatuan nasional.

Kota-kota di Yunani semakin mencerminkan opini publik. Para pemimpin semakin sadar akan hubungan mereka dengan rakyatnya melalui apa yang sekarang dianamkan public relations.

Demikian pula orang-orang Romawi, telah memiliki konsep opini publik dan Public Relation melalui pontifexmaximus (Imam Agung)) yang mencatat segala pemberitahuan atau kejadian pada annals (papan tulis atau papan pengumuman yang dipampangkan di rumah Imam Agung), di mana rumores, vox populi atau res publicae (peristiwa-peristiwa umum dan penting) dari SPQR (pemerintahannya atau Dewan Kerajaan dan Rakyat Romawi) disiarkan kepada umum.Kemudian oleh Mahajara Caesar annels itu diganti dengan acta diurnal (peristiwa sehari-hari yang dicatat dalam papan tulis) yang dipasang di Forum Romanum (Stadion Romawi) untuk diketahui oleh umum.

Suatu langkah maju dalam kegiatan public relations terlihat pada abad pertengahan di mana timbul perselisihan dagang yang disebut gilda di Eropa. Gilda pada saat itu merupakan suatu organisasi yang anggotanya terdiri dari orang-orang yang bermata-pencaharian sama. Di dalam organisasinya ini mereka memilih pengurus dan menentukan peraturan-peraturan yang dapat menjamin ketentraman bersama di dalam bidang perniagaannya.

Perkumpulan dagang yang bergerak dalam bidang perniagaan sejenis itu, dengan tujuan untuk membatasi persaingan dari dalam dan menolak persaingan dari luar, berusaha meningkatkan hasil produksinya kepada public dengan mengadakan penerangan atau pemberitahuan tentang kualitas, faedah dan manfaat barang produksinya bagi si pemakai. Dengan pelayanan dan penerangan yang baik itu, ada juga yang berhasil merebut pasaran bagi hasil produksinya.

Dari kegiatan-kegiatan tersebut tampak adanya praktek Public Relations yang terorganisasi. Karenanya, sebagian besar para ahli sejarah menyatakan bahwa public relations yang terorganisasi timbul pada zaman gilda. Bahkan tidak saja memulai adanya Public Relations yang terorganisasi, kegiatan para gilda itu ternyata pula memulai adanya propaganda perdagangan yang dilakukan oleh para anggotanya.

Perkembangan Demokrasi di Dunia

Di negeri Inggris timbul tuntutan hak-hak demokrasi dari golongan atas dan menengah terhadap rajanya, sehingga rakyat diakui untuk duduk dalam House of Common (Dewan Rakyat) yang akhirnya berhasil menuntut Reform Bill (Undang-undang perubahan) pada tahun 1832.

Di Perancis pun, pada zaman Lous ke-16, muncul pergolakkan-pergolakkan yang menuntut adanya hak-hak demokrasi. Buah pikiran para ahli filsafat dan pujangga-pujangga seperti demokrasi. Buah pikiran para ahli filsafat dan pujangga-pujangga seperti Montesquicu, melalui bukunya L’esprit des Lois; Rosseau dalam bukunya Contract Social ; dan Voltaire telah membuka mata rakyat perancis untuk memperbaiki nasibnya dengan tangannya sendiri.

Begitu pula, perkembangan kegiatan PR didorong oleh adanya Revolusi Amerika tahun 1775 yang menyatakan dasar-dasar bagi demokrasi baru. Dengan Declaration of Independe-nya tahun 1776 rakyat Amerika memperoklamsikan bahwa umat manusia dilahirkan ke dunia dengan berbekal karunia Tuhan yang berupa hak-hak kepentingan dirinya untuk mencapai keselamatan dan kemakmuran.

Baik pemberontakan di Inggris maupun revolusi di Perancis dan Amerika, semuanya bertujuan sama, yaitu untuk menegakkan kehidupan demokrasi.
Suara rakyat yang dulunya dipandang sepele oleh pemerintahnya, kini harus didengar dan menjadi suara berharga bagi kehidupan negaranya.

Dalam alam demokrasi rakyat memperoleh kebebasan untuk memilih wakil-wakilnya dan dipilih untuk duduk di Dewan Perwakilan Rakyat. Dengan demikian rakyat dapat turut memberikan suaranya melalui wakil-wakil yang dipilihnya di Dewan Perwakilan Rakyat. Ini berarti bahwa rakyat dapat menentukan opini public dalam masyarakatnya, di samping juga sangat menentukan seklai dalam mengarahkan haluan pemerintahan.

Revolusi Industri

Revolusi Industri di awal abad ke-19 ikut pula mendorong pesatnya perkembangan PR. Penemuan-penemuan baru dalam lapangan perindustrian meningkatkan cara kegiatan PR pada taraf yang lebih tinggi dan lebih luas.
Penemuan mesin uap oleh James Watt (1769), alat pintal oleh Arkwright (1786), dan mesin tenun oleh Cartwright (1786) mengakibatkan tersisihnya tenaga manusia oleh mesin-mesin yang dimulai dipakai di pabrik-pabrik.

Produksi pun bisa dilakukan secara besar-besaran hingga menghasilkan barang secara cepat dan banyak. Kemajuan perniagaan dipercepat pula setelah perhubungan lalu lintas dapat diperbaiki, terutama alat-alat pengangkutan. Penemuan kapal api dan kereta api misalnya, oleh Robert Fulton (1807) dan George Stephenson (1825) menimbulkan ekspansi perdagangan dan perniagaan lebih hebat lagi.

Kondisi tersebut sangat membutuhkan keterjangkauan melakukan perluasan demi mencapai publik. Oleh karena itu, dibutuhkan bentuk komunikasi yang lebih maju. Ini berarti pula dirasakan adanya kebutuhan kegiatan PR yang lebih efektif, yang tidak lagi hanya berhadapan muka (face to face) atau kontak pribadi (personal contact). Tetapi sudah kepada bagaimana memikirkan segala kemungkinan-kemungkinan yang terjadi apabila mereka melakukan pengembangan terhadap usahanya. Mereka harus menyelidiki situasi atau masalah yang timbul karena adanya hubungan atau kegiatan mereka di kalangan publiknya.

Perkembangan Serikat Buruh

Sebelum adanya revolusi industri tenaga buruh banyak diperas oleh tuan-tuan tanah. Baik dalam lapangan pertanian, perkebunan, pelabuhan, mapun dalam lapangan kerja lainnya.
Bersamaan dengan revolusi industri, muncul pula suatu kecenderungan yang makin cepat ke arah urbanisasi dan produksi besar-besaran, disertai dengan meningkatnya sarana komunikasi dan transportasi.
Keadaan demikian semakin pesat berkembang, perusahaan-perusahaan raksasa pun bermunculan bagai cendawan tumbuh.

Ini berarti, tenaga manusia di pabrik-pabrik semakin tidak berarti, tersisih oleh tenaga mesin. Sehingga, upah buruh pun makin lama makin rendah, sehingga menimbulkan masalah-masalah baru dalam lingkungan perburuhan.
Buruh dan mesin dianggap sama sebagai benda kepunyaan majikan. Sedangkan publik hanyalah tempat pelemparan hasil produksi atau tempat mengejar keuntungan semata.
Semua buruh bersatu untuk sama-sama memperjuangkan nasibnya dalam menghadapi dan mengimbangi tekanan dari pihak majikan.

Dengan demikian, terasa adanya kebutuhan akan suatu badan khusus yang bergerak di bidang komunikasi antara majikan, buruh, dan publik. Komunikasi yang menghubungkan para industrialis atau pengusaha-pengusaha sebagai majikan (pimpinan) dengan buruh sebagai pelaksana atau pekerja (bawahan) dan publik sebagai konsumen (pemakai hasil produksi). Diperlukan badan penghubung yang khusus meneliti serta menyalurkan keinginan majikan dan buruhnya serta publik terhadap hasil produksi perusahaannya.

Public Relations Modern

Baik pesatnya perkembangan demokrasi, maupun majunya perkembangan industri, semuanya menyebabkan pergeseran-pergeseran atau kegoncangan-kegoncangan hebat di bumi ini. Sejalan dengan perkembangan tersebut, kmunikasi pun dituntut untuk lebih maju lagi, sehingga kegiatan PR pun semakin banyak dipergunakan, banyak dipelajari, dan diteliti. Pada tahun 1906 sebuah industri besar Amerika meminta Ivy Lee untuk menjadi juru bicara dalam hubungan antara perusahaan itu dengan public dan badan-badan lainnya. Dari situ Lee memulai karirnya sebagai seorang Publisist. Karena itu Ivy Lee dianggap sebagai pelopor PR Modern. Karena jasa-jasanya dibidang PR itu pula maka Lee disebut sebagai Father of Public Relations (Cutlip, 1958:33)

Meskipun tidak pernah menunjuk dirinya sendiri, Ivy lee dikenal pula sebagai penasehat hubungan masyarakat yang pertama (Moore, 1988:27). Karirnya dalam bidang PR dikembangkan pula dengan membuka sebuah kantor konsultasi di bidang PR di New York (1916). Kemudian ia membuka sebuah kantor publisitas yang diberi nama Parker and Lee (1930), dan tiga tahun kemudian menjadi pelayan pers dari pengelola batubara antrasit di Pennsylvania Railroad.

Pertama, ia telah menemukan pentingnya memanusiakan bisnis dan memasyarakatkan PR di kalangan karyawan, pelanggan, serta komunitas di sekitar perusahaan. Kedua, ia duduk di antara para top-eksekutif dan tidka melaksanakan program apapun jika tidak memperoleh dukungan aktif dan partisipasi pribadi dari manajemen (Griswold, 1948:7). Declaration of principles-nya yang disampaikan kepada pers, atas nama para pengelola batubara antrasit dalam suatu pemogokan buruh, menyatakan keteguhan pendapatnya bahwa publik harus diberi informasi (Morse, 1906 : 460).

Sejalan dengan pesatnya perkembangan perniagaan, perdagangan, serta industri, yang mengakibatkan adanya persaingan yang hebat di antara para pengusahanya, modernisasi PR melahirkan pula periklanan dan publisitas yang lebih tepat guna lagi. Hampir semua usaha perdagangan dan industri, baik kecil maupun raksasa, memanfaatkan periklanan dan publisitas ini.

Perang Dunia II dan PR

Kemajuan penggunaan PR yang lebih pesat lagi tampak sesudah Perang Dunia II. Kegiatan PR tidak saja dipergunakan di bidang perdagangan dan industri atau profesi. Departemen-departemen di pemerintahan juga ikut memanfaatkannya.
Mereka menggunakan PR untuk membina dan memelihara saling pengertian antara organisasinya dengan masyarakat. Dalam bidang pemerintahan, penggunaan PR dipelopori oleh George Cree pada pemerintahan Wilson di Amerika.

Presiden Wilson pada saat itu menugasi Creel untuk memimpin panitia yang bergerak dalam bidang Public Information. Di dalam panitia tersebut bekerja juga seroang ahli pertanian yang tertarik pad abiding pers, Edward I. Bernays. Setelah lulus Cornell University, Bernays memulai karirnya di bidang publistas.

Bernays pun ikut mengembangkan PR tersebut dengan menciptakan Public Relations Council. Bukunya yang berjudul Crystalizing Public Opinion (1923) bersama buku Walter Lippman yang berjudul Public Opinion (1922) telah menimbulkan pengaruh kuat pada bidang Public Relations.

Karenanya timbul kebutuhan akan orang-orang yang khusus memiliki pengetahuan di bidang PR. Atas dasar keperluan itu pula orang mulai memikirkan perlunya pendidikan khusus di bidang ini. Timbul pemikiran – pemikiran untuk mendidik para calon Public Relations Officer (PRO). Kepada mereka akan diajarkan pengetahuan tentang dasar-dasar kepemimpinan dan ketrampilan dalam melaksanakan PR secara tepat guna.

Kisah “Bapak PR” Ivy Ledbetter Lee

Pada abad ke-20 dengan meningkatnya penerimaan orang terhadap penggunaan publisitas, lembaga publisitas pertama adalah Biro Publisitas yang didirikan di Boston pada tahun 1900. Harvard College menjad kliennya yang paling prestisius. George F. Parker dan Ivy Ledbetter Lee (Ivy Lee) membuka sebuah kantor publisitas di New York pada tahun 1904.

Gabungan antara sikap manajemen keras kepala dan tindakan tidak pantas, memperjuangan buruh, dan kritik public yang tersebar luas menghasilkan penasihat PR pertama, yaitu Ivy Ledbetter Lee. Ia lulusan Universitas Princenton dan mantan wartawan ekonomi New York World ini memulai praktik pribadinya sebagai seorang praktisi atau konsultan PR. Namun dalam waktu singkat, ia memperluas peran tersebut untuk menjadi penasihat PR yang pertama.

Perkembangan PR modern dimulai pada tahun 1906 ketika Ivy Lee disewa oleh industry baja antrasit, yang pada saat itu menghadapi pemogokan buruh. Ivy Lee melihat bahwa meskipun pemimpin buruh tambang, John Micthell sudah menginformasikan kepada wartawan, semua yang mereka tuntut, pemimpin pemilik tambang, George F.Bair, telah menolak berbicara dengan pers atau bahkan dengan Presiden Theodore Roosevelt, yang berusaha menengahi perselisihan ini. Menurutnya bahwa “operator tambang batu bara antrasit, dengan menyadari kepentingan umum yang dikehendaki di kawasan pertambangan, telah berupaya memberikan semua informasi kepada pers” (Wilcox, Ault, dan Agee. 2006:59).
Erci Goldman mengatakan bahwa perkembangan PR tahap kedua ditandai dengan deklarasi yang cetuskan oleh Ivy Lee. Deklarasi itu bernama, Declaration of Principle (Deklarasi Acuan Dasar) yang menyiratkan akhir dari era sikap bisnis “tidak peduli masyarakat” dan awal dari era “masyarakat perlu informasi”.

Deklarasi tersebut berbunyi, “Ini bukanlah biro pers rahasia. Semua pekerjaan kami dilakukan secara terbuka. Kami bertujuan menyampaikan berita. Ini bukan sebuah agen iklan; Jika Anda beranggapan urusan kami harus berjalan sebagaimana mestinya menuju kantor Anda, jangan gunakan urusan kami ini. Masalah kami akurat. Rincian selanjutnya mengenai subjek olahan akan diberikan secara cepat, dan dengan senang hati kami akan membantu setiap editor dalam usaha mereka mencari penjelasan langsung mengenai setiap pernyataan fakta. Singkatnya, rencana kami adalah jujur dan terbuka, atas nama kepentingan bisnis dan lembaga masyarakat, memberikan kepada pers dan masyarakat Amerika Serikat informasi cepat dan akurat mengenai subjek-subjek yang perlu diketahui public karena berarti dan berkaitan dengan kepentingan publik”

Pada tahun 1914, ketika terjadi peristiwa keji yang dikenal dengan Ludlow Massacre, John D. Rockeeller dan lokasi pabrik Iron Company. Ivy Lee sempat kehilangankepercayaan masyarakat denga menjadi penasehat kaumpekerja Rusia dalam pengakuan diplomatic dan perdagangan tahun 1020-an.
Ivy Lee dikenang karena empat sumbangan pemikirannya yang penting bagi PR :
(1) memajukan konsep bahwa bisnis dan industri harus mengikatkan diri dengan kepentingan masyarakat atau public dan bukan sebaliknya ;
(2) berurusan dengan top manajemen dan tidak menjalankan program apa pun, kecuali program itu memperoleh dukungan aktif dan kontribusi pribadi dari top manajemen ;
(3) memelihara komunikasi terbuka dengan media berita atau pers ;
(4) menekankan perlunya bisnis yang memanusiakan dan menarik PR-nya turun ke tingkat masyarakat atau publik.
Peran praktisi PR sebagai penasihat perusahaan dan manajemen kelembagaan menjadi penting.

Tokoh yang melihat kondisi ekonomi amerika yang berkembang itu, didefinisikan oleh Edward L. Bernays dalam sebuah buku yang berjudul Crystallizing Public Opinion yang diterbitkan pada tahun 1923. Selain itu, ia juga dengan rutin, menulis untuk jurnal Public Relations Quarterly, seringkali mengenai tema pemberian lisensi sebagai satu cara untuk menghapus praktisi yang tidak kompeten dan tidak etis dari bidang ini. Karena dinilai mempunyai pengetahuan luas sebagai penemu PR modern.

Penasehat PR selanjutnya adalah Rex Harlow. Pada usia 96 tahun (1988) ia merupakan pendidik tetap pertama di bidang PR. Sebagai seorang professor di Sekolah Pendidikan, Univeristas Satanfors, Harlow mulai mengajar kursus PR secara regular pada tahun 1939. Pada tahun itu, ia mendirikan (American Council on Public Relations Society of America) Ia menjadi ketuanya selama delapan tahun.

Alfred P. Sloan, President General Motors Corporation, juga di antara eksekutif pertama yang menempatkan kepercayaan besar pada PR. Pada tahun 1931, selama tahun-tahun pertama masa depresi berat ketika bisnisnya banyak diserang karena kegagalannya, Sloan menyewa Paul Garrett sebagai karyawan PR yang pertama di perusahaan tersebut.
Denny Griswold, sebagai editor Public Relations News disebut pula sebagai Ibu Public Relations. Publikasinya, yang diterbitkan pada tahun 1944, merupakan terbitan berkala pertama dan independen dalam bidang PR. Sedangkan yang disbeut Bapak PR adalah, Ivy Lebetter Lee dan Edward L. Bernays.
Kisah “Bapak PR Modern” Edward L. Bernays

Edward L. Bernays (1891-1995), sebagai Bapk PR Modern, tampaknya tidak banyak dikenal seperti Ivy Lee. Buku-buku PR klasik Cutlip Center, Effective Public Relations, yang diacu sebagai “alkitabnya” PR tidak begitu menonjolkan nama-nama perintis PR, termasuk Edward L. Bernays.

Ia merupakan orng pertama yang meyakinkan kaum bisnis bahwa PR merupakan urusan eksekutif. Selain itu ia mempunyai misi pribadi untuk “mengumumkan masa depan profesi PR” . Ia pun sempat menerbitkan buku pertama teks PR pertama berjudul Crystalizing Public Opinion (1923). Buku teks klasik ini disusun berdasarkan konsep hakikat dan kekuatan opini publik, yang dianggap sebagai raisan d’ectre PR yang berkembang dan terpisah dari praktik press agentry dan publicity work yang dirintis Ivy Lee.

Para akademisi dan konsultan PR yang tergabung dalam asosiasi (AEJMC) sepakat mengangkat Edward L. Bernays sebagai Bapak PR. Upacara pemberian gelar the Father of Public Relations ini berlangsung dalam kongres AEJMC tanggal 10 Agustus 1991 di Park Plaza Hotel, Boston.

Barneys, yang oleh banyak orang dianggap sebagai penemu PR Modern menulis “Tiga elemen utama PR hampir sama tuanya dengan masyarakat : memberi informasi, membujuk, dan menyatukan massa. Tentu saja, pemahaman dan metode dari pengerjaannya terus berubah selaras dengan perkembangan masyarakat”.
Kisah Grunig & Hunt dan “PR Kontemporer”

Berdasarkan pada teori dan penelitian yang dilakukan oleh James Grunig dan Todd Hunt memaparkan 4 model surt suara menyurat Humas di 4 periode sejarah dan perkembangan modern PR (Grunig & Hunt, 1984). Teori zamannya adalah: publisitas (teori penyiaran, teori informasi publik), Advokasi (teori asimetris), Hubungan (teori simetris).
Berikut adalah perkembangan sejarah PR kontemporer berdasarkan teori Grunig dan Hunts.

1. Zaman Publisitas (1800-an)

Fokus : Penyebaran info dan mendapat perhatian.
Sifat Komunikasi : Satu arah
Peneltian : –
Kegunaan saat ini :Dunia hiburan, olahraga, marketing

Pada tahun 1820, Amos Kendall, seorang penulis dan editor dari Kentucky yang kemudian menjadi asisten Presiden Andrew Jackson, memiliki pengaruh paling besar. Pad atahun 1829, ia menjadi Sekretaris Pers Gedung Putih yang pertama. Ia menulis pidato, koran dan siaran berita kenegaraan, serta mengadakan angket tentang opini masyarakat. Kendall juga mengembangkan surat kabar milik pemerintah.

Dibukanya wilayah Amerika Barat memberi banyak kesempatan bagi PR untuk memengaruhi orang yang timbul di pantai Atlantik untuk pindah ke barat. Banyak pesan yang dibuat terlalu berlebihan, seperti legenda Daniel Boone, Buffalo Bill Cody, Wyatt Earp dan Calamity Jane yang digunakan untuk membujuk orang-orang agar pindah ke sebelah barat Mississipi.

Reformasi sosial pada pertengahan ke-a abad 19 juga sangat bergantung pada teknik klasik PR. Gerakan penghapusan perbudakan termasuk strategi membentuk sendiri masalah, seperti yang dilakukan Harriet Beecher Stowe dengan novelnya Uncel Tom’s Cabin. Gerakan penghapusan perbudakan juga melihatkan strategi lain, seperti dukungan pihak ketiga, memohon keadilan dan otoritas moral. Hal tersebut menggunakan taktik publikasi, public speaking, dan sebagainya.

Kampanye kepresidenan Bryan-Mckinley pada tahun 1896 adalah kali pertamanya mengerahkan semua usaha untuk mendapat opini publik, yakni dengan menggunakan poster, pamflet, rilis berita, pidato dan pertemuan langsung dengan publik di setiap pemberitahuan kereta di seluruh pelosok negara.

2. Zaman Informasi (awal 1900-an)
Fokus :Kejujuran dan akurasi dari penyebaran info.
Sifat komunikasi : Satu arah
Penelitian : –
Kegunaan saat ini : pemerintahan, lembaga nonprofit, lembaga bisnis.

Pada zaman informasi, ditemukan banyak kantor dan departemen humas yang didirikan untuk menyediakan informasi yang akurat, jujur, dan disukai secara berkala pada publik mengenai sebuah lembaga.

Tokoh yang sangat penting pad amasa ini adalah Ivy Ledbetter Lee. Kontribusinya bagi humas antara lain “Declaration of Principle” yang disebutkannya sebagai komunikasi yang jujur pada publik.

Selama periode ini berikut adalah praktik PR yang pertama :

1900: Kantor PR pertam didirikan di Boston.
1904: Kantor publisitas University of Pennsylvania.
1905: Kantor publisitas YMCA.
1906: Penn Railroad & Ivy Lee.
1906: Standart Oil menyewa publisis.
1907: Kantor publisitas Marine Corp.s
1908: Buletin internal Ford
1908: Departemen Humas AT&T.
1908: Program publisitas Palang Merah Amerika.
1914: Colorado Fuel & Iron menyewa Ivy Ledbetter Lee.
1917: Creel Committee on Public Information.
1918: Kantor pers National Lutheran Council.
1919: Kantor pers Knights of Colombus.
1921: Kantor Humas Scars & Roebuck.

3. Zaman Advokasi (pertengahan 1900)

Fokus : Mengubah sikap dan memengaruhi perilaku.
Sifat Komunikasi : 2 arah.
Penelitian : sikap & opini.
Kegunaan saat ini : lembaga bisnis yang bersaing, penyebab dan pergerakan.

Sepanjang pertengahan dan akhir abad 20, banyak penelitian dan praktik PR dibuat dengan teori advokasi, di mana organisasi mencoba untuk memengaruhi sikap dan perilaku publik. Pada masa ini, banyak penelitian yang berhubungan dengan propaganda, pencucian otak, dan manipulasi sosial. Setelah perang selesai, banyak praktisi dan peneliti melanjutkan penjelajahan mereka ke komunikasi persuasi.

Ada pun beberapa kejadian penting PR yang terjadi pada zamannya.
1922: Walter Lippmann menulis Public Opinion.
1922: Bernays mengajar kelas pertama tentang PR di New York University.
1923: Bernays menulis Crystalizing Public Opinion.
1939: Rex Harlow menjadi profesor PR yang pertama (Stanford University).

Teori advokasi bisa digunakan di banyak situasi. Biasanya, kantor PR memberi layanan advokasi terutama untuk klien yang produk atau jasanya memiliki pesaing. Teori ini lazim digunakan di politik PR.


4. Zaman Hubungan (akhir 1900-sekarang)

Fokus : Pemahaman bersama dan penyelesaian konflik.
Sifat komunikasi : 2 arah
Penelitian : perspesi, nilai.
Kegunaan saat ini : perusahaan, pemerintah, lembaga non-profit.

Pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, lahir pendekatan baru terhadap PR, melengkapi 3 teori sebelumnya mengenai publisitas, informasi publik, dan advokasi. Teori ini berdasarkan pada prinsip komunikasi sebagai kegiatan mendengarkan dan menyelesaikan masalah untuk keuntungan dua belah pihak, baik lembaga maupun publik.

Teori hubungan ini telah dipandang sebagai penyelesaian, dalam dunia relijius, gerakan kristiani dan komunikasi antaragama menjadi contoh teori hubungan ini. Dalam dunia bisnis, rekaan publik dan perekrutan konsumer menjadi contoh teori ini.

Referensi
Ardianto, Elvinaro. 2013. Handbook of Public Relations
(Pengantar Komprehensif). Bandung : Simbiosa Rekatama Media.
Suhandang, Kustadi.2012. Studi dan Penerapan Public Relations.
(Pedoman Kerja Perusahaan). Bandung: Nuansa Cendekia.

The Raid 2 (Berandal) : “Hati-hati Wacana Kriminalitas”

The raid2

 

Apa yang membuat untuk segera kembali mengantri tiket film The Raid, jika bukan karena lakon laga yang nyaris tanpa jeda napas. Itulah The Raid, sebuah film laga yang sukses besar menoreh prestasi sebagai film action Indonesia yang berhasil masuk deretan 10 besar Box Office Amerika kembali hadir dengan sekuel keduanya, yang berjudul ‘Berandal’. Seperti biasa, setelah menyaksikkan film itu, penulis bersikeras menganalisis pesan, sebagai makna yang didapatkan oleh penulis sendiri.

Ada yang menarik ketika 1 menit menjelang pemutaran film di ruang bioskop. Ada rasa penasaran, “Kira-kira apakah The Raid 2 kali ini benar-benar akan kembali menyuguhkan laga tanpa jeda napas”. Benar saja, di awal pemutaran film yang berjarak tidak lebih 10 menit itu, penonton sudah ditunjukkan adegan pembunuhan sadis. Dan beberapa menit kemudian, semua adegan nyaris tanpa jeda.

The beranda

Bagi penonton yang ekstorvert, biasanya ia langsung menutup mata dan berteriak. Lain halnya tipe penonton yang introvert. Tipe penonton ini lebih sering meringis, atau hanya bisa memalingkan wajah dari layar.

Di sebuah bioskop di Jakarta Selatan, saya mencoba menonton film di waktu-waktu siang. Karena kebetulan, hari itu saya day off, dan sekiranya menonton sendiri di waktu siang, adalah waktu di mana yang mungkin menyenangkan. Namun, jauh dari prediksi, ternyata Berandal sukses sekali menarik minat anak berseragam putih abu-abu (red-SMA) menonton secara bergerombol.

Ini yang menarik bagi saya. Jenre film laga yang sarat dengan kekerasan fisik itu, sangat digandrungin oleh anak-anak muda yang mungkin belum genap 17 tahun. Pola pikir yang bisa jadi masih terbilang labil, akan berdampak buruk bagi psikologis mereka. Ada istilah menarik, bahwa pada saat menonton sebuah film, indera tidak lagi hanya berperan sebagai media penglihatan. Tetapi, setiap media indera tersebut meneruskan pesan yang interpretasikan oleh otak secara personal yang akhirnya menjadi sebuah pradigma dan berujung pada kebiasaan. Ini sebabnya, mengapa film-film berjenre kekerasan sudah selayaknya memperketat pengawasan terhadap nasib psikologis konsumen (red:penonton)

The Raid 2, tidak lagi menyoal pada pesan khalayak bahwasanya sebuah kekuasaan identik dengan kriminalitas, akan tetapi sudah kepada penyampaian unsur budaya kelompok minoritas di perkotaan besar. Kehidupan di lapas penjara misalnya. Pada fillm ini, sedikit dipertontokan bagaimana kondisi penjara yang justru menjadi ladang kriminalitas. Hukum tidak benar-benar ditegakkan di dalam sana. Tetapi, hukum sudah menjadi barang nepotisme untuk mencapai sesuatu keinginan politis.

Kebebasan, untuk dewasa ini seolah bukan lagi pada menyampaikan pendapat dan berkumpul. Tetapi sudah terintegrasi dengan menunjukkan suatu tindakan. Kebebasan bertindak yang dipertontokan pada film ini memberikan makna bahwa melalui kriminalitaslah persoalan baik amarah, ketidak sukaan, dan kebencian  akan cepat ter-atasi. Karena, kriminal cenderung tindakan yang melukai, sehingga ketakutan dan kelemahan adalah kekalahan yang nyata dalam kehidupan.

Tidak ada akal kejernihan dan hati nurani, yang ada hanyalah berpikir bagaimana bisa untuk bertahan hidup. Ini gilak !.

Bayangkan, jika benar-benar kehidupan sudah legal mempertontokan senjata tajam, sedang nyawa adalah tujuan pelampiasan amarah. Tentu kita sangat merinding membayangkannya, bukan.

Kembali pada film the Raid 2, yang dilihat dalam hal adegan aksi di setiap scene. Film ini patut diapresiasi sebagai film laga yang bernuansa hollywood. Ada unsur keseriusan sutradara dalam hal pemberian effect seolah-olah benar di dalamnya. Belum lagi, akting lakon peran pemain yang killer, bisa menunjukkan bahwa film ini berisi aktor dan aktris kawakan yang patut mendapatkan penghargaan. Sebut saja, Arifin Putra, yang memerankan sebagai Uco. Atau bisa juga Julie Estele, yang lakonnya dapat dilihat oke, walaupun hanya beberapa scene. Terakhir, harus diakui bahwa sound efek yang membuat penonton makin tenggelam dalam kekejaman cerita pada film The Raid 2 ini, sangat baik.

Dengan demikian, secara hasil kreatifitas film ini memberikan hasil karya yang baik dalam sinematografi. Namun untuk perspektif pesan yang terkandung di dalamnya, sepertinya film ini bukanlah film yang dapat ditonton begitu saja. Seakan menjadi media kritik sosial, bahwa politik-kekuasaan-dan kriminalitas adalah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

 

Pemilu 2014 : Anis Matta Terus Diserang Isu Poligami

Akhir-akhir ini saya mencoba menelisik beberapa ‘kehebohan’ terjadi di beberapa media online. Maklumlah, karena keterbatasan saya melihat tayangan televisi, maka media online baik itu sosial media, atau elektronik online seperti website dan blog saya cermati dengan singkat. Hal ini juga yang akhirnya saya sadari bahwa bisa jadi ada sesuatu yang menarik untuk dibandingkan dengan kondisi calon pemilih yang sulit memiliki waktu untuk menonton televisi baik karena faktor geografis atau finansial.

Hingga pada sebuah akun twitter anonim yang tidak sengaja saya baca, salah satu kicauannya adalah “Jangan pilih partai poligami”. Atau ada juga yang menulis beberapa artikel seperti Kompasiana atau seperti artikel ramalan seperti Tribunnews. Kesemua bentuk propaganda itu memiliki pesan yang sama, yakni menyudutkan sebuah partai peserta pemilu 2014.

Ialah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang disimbolkan sebagai partai dakwah ini merupakan hasil perubahan dari Partai Keadilan (PK) pasca reformasi tercetuskan. Semangat PK merupakan semangat reformasi yang ketika itu digemborkan oleh mahasiswa-mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Berbekal juga dari aktivis masjid yang berdikari pada kampus-kampus di Indonesia, PKS menggunakan cara pengkaderan dengan menyebutkan branding mereka sebagai Jamaah Tarbiyah. Kegiatan yang mengedepankan pembentukan karakter secara personal yang islami itu PKS akhirnya berhasil menunjukkan sebagai partai yang memiliki kaderisasi yang baik dibanding sistem kaderisasi partai politik lainnya.

Citra yang ditunjukkan jelas, merupakan partai yang melandaskan nilai-nilai ke-Islaman. Baik dalam hal berpakaian, cara tingkah laku, kebiasaan sehari-hari, dan sejumlah pemikiran yang cukup visioner. Konsep yang apik itulah, yang membuat PKS kian eksis hingga pemilu terakhir lima tahun lalu.

Secara katgeorisasi landasan kepartaian yang merunut pada falsafah ke-Islaman, PKS memiliki lawan yang serupa seperti PKB, PPP, dan beberapa partai lainnya. Tapi sekali lagi, PKS kembali menunjukkan eksistensinya dengan tetap berada di posisi teratas terhadap partai-partai islam lainnya. Kondisi kemenangan atas lawan sejawatnya itu, lantas belum menunjukkan keberhasilannya dalam menaklukkan Indonesia. Artinya, PKS masih belum mampu menandingi partai-partai politik yang lebih mengangkat pluralisme nasionalis pada dua pemilu terakhir.

Walau demikian, jika dilihat konsep kaderisasi yang sangat baik diterapkan oleh PKS, tentu ini tidak membuat aman bagi parpol lainnya. Terlebih gambaran itu, bisa menjadi ancaman yang berbahaya.

Bukan politik namanya, jika tidak bermain perang citra. Sama dengan parpol lainnya, PKS pun kena mendapat pemberitaan-pemberitaan yang unik. Baik dalam hal masalah pidana hingga kepada permasalahan privat/personal. Dalam kasus pidana, kita masih ingat dengan dugaan suap daging sapi import oleh Luthfi Hassan Ishak (LHI). Atau masalah pemberitaan beberapa petinggi PKS yang terkenal dengan gaya hidup mewah. Terakhir, menyerang dengan polemik poligami.

Kali ini, PKS harus bersyukur dengan adanya kader-kader serta simpatisan yang luar biasa membela melalui argumen-argumen baik melalui media sosial online ataukah secara mulut ke mulut. Seolah baik isu apa pun yang menerjang parpol ini, sama sekali tidak mempengaruhi loyalitas para kader dan simpatisan. Jelas ini sangat menakukutkan bagi semua lawan politik PKS.

Berbicara pemilu 2014, kali ini PKS masih dijuluki sebagai partai yang senang berpoligami. Terlebih Anis Matta, yang juga sebagai Presiden PKS telah mengakui bahwa dirinya memiliki isteri lebih dari satu. Namun, memang hanya isu itu yang terlalu sering menerpa media sosial. Kehidupan sang Presiden yang mewah juga sering dibicarakan oleh kebayakan pihak. Jika dapat kita runut satu persatu isu utama adalah isu hidup bermewah-mewahan. Karena, publik pun akan berpikir bahwa, indikator yang masih sangat logis seseorang boleh berpoligami adalah dilihat dari kemampuan secara finansial.

Secara pertimbangan politiknya, PKS telah menelan konsekuensi secara struktural dan kultural. Indonesia sendiri adalah negara berpenduduk Islam yang masih belum bisa menerima fenomena sunnah Rasulullah yang satu itu. Tentu ini menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi PKS. Karena perjuangannya tidak lagi pada panggung wacana politik. Melainkan bagaimana politik dalam berdakwah sesuai dengan ajaran Rasulullah.

Analisis PR Strategi Kemenangan

Kali ini harus diakui strategi yang dilakukan Anis Matta cukup berbeda dengan cara penyikapan isu oleh partai-partai lainnya . Karena, dalam pengamatan, konsep yang dilakukan terlihat berbeda dan tidak menunjukkan personalitas seorang Anis Matta. Melainkan kesatuan seluruh partai. PKS menganggap bahwa isu yang dibawa adalah isu personalitas. Sehingga dengan sangat polos PKS lebih menunjukkan bagiamana kinerja partai itu selama menjabat di pemerintahan dan legislatif.

Isu korupsi memang sudah tidak menjadi bom martir yang bisa menghancurkan PKS. Karena, jika harus dibandingkan dengan partai-partai besar lainnya, PKS jauh lebih rendah prestasinya dalam melakukan korupsi. PKS lebih mengedepankan bagimana keseriusan PKS dalam menjaga kepercayaan para simpatisan yang jumlahnya dapat memenuhi Gelora Bung Karno.

sumber: politik.news.viva.co.id

sumber: politik.news.viva.co.id

images

sumber: news.detik.com

Seolah menerjang setiap rintangan, Anis Matta menunjukkan bahwa dirinya masih bisa menjaga kepercayaan seluruh rakyat yang memilih PKS sebagai partai pilihan pada Pemilu. Namun, ini akan menjadi tantangan setelahnya. Karena, isu poligami akan terus bergulir sampai kepada titik pencarian Presiden RI. Belum terlihat jelas bagaimana seorang Anis Matta dapat menyikapi opini dengan cara yang elegan.

Jika harus dibenturkan ketidakharusannya berdebat masalah personal yang dibenturkan dengan masalah norma agama, tentu dalam politik ini tidak berlaku. Justru, bukankah PKS telah memilih politik sebagai strategi dakwahnya. Maka sudah seharusnya menyiapkan pertahanan dari polemik politik yang akan datang dari segala penjuru.

Sekarang, tinggal bagaimana masyarakat Indonesia dapat melihat setiap karakteristik dari partai politik yang ada. Karena, setiap isu yang kita dapat belum tentu menjadi isu yang sesungguhnya kita perlukan. Tetapi media, media kian menarik untuk dipertimbangkan.

Selamat menimbangkan..

Adioss..

 

Obrolan Warung Kopi ala Calgary : Buruh Migran dan Sikap Politik

 

“Domblaiaaaaa !!. Country, look at this one that im bring in for !! “. Teriak Tim, ketika aku sedang melakukan perbanyakan laporan artikel yang sudah saya buat. “Lihat, ini artikel menarik yang ku bawa khusus buat orang Indonesia kayak kamu”.

Tim, dengan gaya New Brunswick tulen, menyodorkan artikel yang ada di ipad silvernya. Demi menghormati dirinya, aku pun melihat dan membaca isi artikel berita mengenai penggalangan dana untuk Tenaga Kerja Indonesia di Saudi Arabia. Setelah membaca artikel berbahasa Inggris itu, kemudian dengan wajah ironi, Tim bertanya kepada ku. “Why?!. Did you do like them?”.

“Me?. What do you mean?. Aku enggak ngerti”. Ujar ku sambil merapihkan tiap lembar hasil cetak perbanyak untuk dimasukkan ke dalam map arsip.

“Maksud ku, kamu menggalang dana juga gak, seperti masyarakat mu?”. Tim perjelas pertanyaannya sambil menyederkan tubuh tingginya di dinding. Jika dilihat, ia benar-benar seperti albino unik bagi ku. Rambut pirang dan warna kulit yang pucat yang ia miliki mengingatkan ku dengan salah satu personil Hi5, Stevie. Ray Ban berwarna hitam menguatkan karakter dirinya, sebagai laki-laki yang optimis dan memiliki keingin tahuan yang tinggi.

“I know you, Mr. Calgary. You have main of problem what you wanna know. Bener kan?”. Tanya ku, seolah berbisik kepadanya.

Walaupun kami baru berteman beberapa bulan saja, aku cukup mengetahui sosok Tim yang memiliki hasrat keingin tahuan yang luar biasa tinggi. Jika ia merasa tidak setuju dengan sesuatu hal, maka ia akan mencari serba serbi mengenai hal yang ingin ia serang dengan segala logika maha dahsyat yang dimilikinya.

“Well, i do not really know, how could are they think of these case. Ini kriminal. Anak kecil juga tahu membunuh adalah hal yang salah. Kenapa masih dibela?”.  Kemudian, Tim menunjukkan beberapa kronologi kasus Sutinah yang divonis pancung setelah terbukti setelah membunuh majikannya di Saudi.

Aku hanya tertegun diam, dan menyimak setiap kalimat yang keluar jelas dari mulut Tim. Gesture yang semula hanya bersandar di dinding, ia mencoba menekankan keseriusan dengan mendekatkan kursi yang ada di depan meja ku. Ia pun duduk dan sibuk menggeser kiri kanan artikel yang ada di ipad. Tim, kini benar-benar menjelma sebagai marketing perumahan real estate yang sedang haus mendapat bonus dari setiap penawaran.

“Sir, can you imagine that, you have a lovely mother who try to work hardly. Sedang Ibu mu harus bekerja setiap hari pada bukan tanah kelahirannya sebagai budak. Bisa kamu bayangkan bagaimana perasaan mu?”.

Tim yang mendengar pertanyaan saya, sekejap terdiam. Namun tidak lama. Ia mencoba mengelak dengan tegas. “Tapi bukan itu masalahnya. Ibu ku tidak mungkin membunuh. Lagi pula, apa iya masih ada perbudakan di era keadilan jender seperti ini?. No sense!”.

“Oh Come on Tim, im taking your imagine for a while. Masalahnya, apakah ada seseorang yang rela memiliki niat sebagai pembunuh orang lain, sedang ia meninggalkan negaranya untuk bekerja demi mengihdupkan keluarganya bertahun-tahun berpisah?!.”.

Bukan Tim namanya jika ia tidak berusaha mempertahankan logika terbaik dihadapan lawan bicaranya. “Oke, jika ia terbukti bersalah karena membunuh majikannya, kemudian juga ia terbukti mencoba mencuri. Apa pendapat mu?”.

Gotcha !!

Pertanyaan Tim agak sulit kali ini. Aku bisa saja menjawab, bahwa jika memang terbukti demikian tentu maka ia bersalah dan sudah sepatutnya mendapatkan hukuman yang setimpal. Tapi, hati ku berbisik, untuk tidak menjawab demikian. Aku hanya memandangi artikel di hadapan ku, sedikit sesekali melirik tatapan mata Tim yang tanpa kedip sedang menunggu jawabanku.

Parahnya, aku tidak mempersiapkan argumen pembelaan atas logika ku seperti halnya ia menyiapkan beberapa bukti sebagai implementasi kerangka berpikir untuk menyerang. Seakan ini pertarungan antara harga diri bangsa di depan orang asing, atau seperti para PR berdiam menyiapkan pertahanan korporat atas serangan krisis yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Namun, sebelum menjawab pertanyaanya, secara spontan saya melempar bola-bola kecil terbuat dari pelastik keras ke arah tubuhnya. Tim, yang semula serius. Ia berubah merah padam dan marah seolah tidak terima atas tindakan ku terhadapnya.

“Kenapa?, kamu tidak terima aku lempar?”. Tanya ku dengan santai.

Sambil mengangkat kedua tangan dan pupil yang melebar, ia mengerang tidak terima, “Hey, What’s wrong with you?”.

“For the first, i’d like to tell you a thing about the same perspective were we had, and media had. Neither are same. Aku tidak melihat perjuangan untuk membela seorang pembunuh. Tapi, jauh dari hal terpenting adalah bagaimana menunjukkan harga diri negara ku di negara lain. Ini sama halnya bagaimana polemik corby yang bebas. Un-wellfare to all our migrant, not only one was occured. But more likely a hundred cases. Ini tidak mudah bagi kami untuk menerima kenyataan bahwa kami adalah pekerja yang membunuh, sedangkan setiap tahun ada saja kabar TKI kami disiksa bahkan terbunuh oleh ulah majikan”.

Tim terdiam.

“Ada sebab ada akibat. Kamu marah ketika aku lempar bola tanpa sebab. Dan kasus Satinah kalau kamu lihat, itu seperti itu. Bahkan, Satinah melaporkan dirinya ke polisi dan ia mengaku. Tim, those many unwellfare cases in the world. Mana ada orang jahat yang melaporkan dirinya sebagai pembunuh. Dan bagiku, sikap sebagian masyarakat di negara ku, adalah sikap politik yang sengaja ditunjukkan tidak hanya tertuju untuk negara lain, melainkan untuk negara kami sendiri”.

Panjang lebar aku jelaskan semua pendapatku. Entah apa yang ditelan oleh logika Tim setelah mendengarnya. Mungkin ia sedang menelaah dalam-dalam atau sedang berpikir bagaimana melawan argumen ku. Yang pasti ia kini terdiam sambil menggigit bibir bagian bawahnya.

“Tim, I’m so sorry  for that shooted. Im just to did, such to dare your logical wash. Dan maaf juga, aku harus menganalisis pekerjaan ku selanjutnya. Next time, oh anytime i would be kind your discusses partner”. Ucap ku sopan seakan membuka pintu lebar-lebar agar ia keluar dan menjauh dari meja kerja ku.

Ia pun mengangguk, dan berkata, “Oke, im appreciate you. Thanks”.

Tidak lama, Tim berdiri sambil tersenyum dan melangkah menjauh dari meja kerja ku. Belum sepenuhnya menghilang dari hadapan ku, ia berusaha untuk mengejutkan ku dengan sedikit tingkah laku candaan yang benar-benar mencirikan seroang Tim.

Ia melangkah ke luar ruangan seolah sudah berlalu jauh, namun dalam hitungan detik ia kembali dengan mengepalkan telapak tangan sambil berkata “Votre Esprit (kamu semangat)”.

Dan aku, hanya bisa mengucapkan, “Terimakasih”

 

Cara Menilai Calon Pasangan yang Kamu Tidak Kenal

Inspiratif sekali. Nice post !!

Keluarga SiKembar

Di zaman sekarang, usia pernikahan semakin bergeser. Dulu, zaman nenek kita, perempuan udah harus nikah klo tamat Sekolah Rakyat. Dulu, tabu dan aib jika seorang perempuan berumur 20 belum ada yg lamar. Klo sekarang? Kita dg mudah menemukan org2 berumur 30-an tapi blm nikah.

Tapi terkadang org2 memborong kamu dg pertanyaan2 ‘kok belum nikah? kapan nikahnya? udah punya calon?’. Apalagi pas hadir di acara keluarga atau reunian, mendadak kamu merasa ‘asing’ karena semua teman2 kamu, sepupu2 kamu udah pada gendong anak hehe. Langkah terakhir, akhirnya kamu pasrah dijodohkan orgtua atau dicomblangin sahabat? Jangankan cinta, kenal aja nggak!

Kenapa tidak? Tapi, jangan sampai kamu beli kucing dalam karung: tidak tahu-menahu atau tdk mau tahu ttg calon pasangan kamu. Menikah bukan perkara jual-beli barang, klo kamu ga cocok, atau klo ada cacat, kamu bisa komplain dan mengembalikan barang itu ke penjual. Tidak seperti itu. Menikah itu sesuatu yg kompleks dan sgt menentukan…

Lihat pos aslinya 506 kata lagi