Hasil Tulisan Dari Adik Kelas di Fikom Unpad dan BEM Unpad, Fikri..

Fikiran

Kantry Maharani
Srikandi Pergerakan Kema Unpad

 

            These of some pages i made. All kind of communications case or theories that i would share that i have been studied at university level. Another page, i would share about some stories that gives you to encourage meanful of daily life. My friends, my family, all discouvering phenomena make sure was memorable. Because of you, you and all people have a side stories what a worthiness means

            Lahir di selatan Kota Jakarta pada tanggal 31 Januari 1989, perempuan yang hobi menulis ini merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Kantri sendiri merupakan sintesis kata dari country yang berarti negara dan Maharani yang berarti ratu yang diagungkan, sehingga Kantri Maharani bisa diartikan sebagai Ratu yang dapat memberikan kebermanfaatan bagi negaranya. Menurutnya, makna namanya sungguhlah berat,tapi tidak dipungkiri bahwa penyuka aliran musik jazz ini ingin menggoreskan namanya sebagai pemimpin di Indonesia.

            Tumbuh…

Lihat pos aslinya 427 kata lagi

Iklan

Andien “Pulang” – My Feels Flies Slowly

 

Rasanya rindu pingin pulang…

Lirik yang mudah dicerna dengan lantunan musik yang lembut seperti lagu ini, cocok banget jadi backsound setiap orang yang jauh dari keluarga. Ketika tinggal di SG dan beberapa tempat yang lain, saya selalu mendengar lagu ini. Berkali-kali, berulang, dan selalu jatuh cinta dengan lirik dan musiknya.

I think, My feels flies slowly..

Rasa rindu rumah dan orang-orang tersayang kian membayang saat itu. Seperti lirik ini, “Aku rindu sayang, aku akan pulang.. berlabuh di tempat cinta mu..”

Aigoo, soo touchy..

Gadis itu Bernama Kamila

Kembali saya lihat wajahnya yang lugu di pojok peron 2 tujuan Cawang-Bogor. Kali ini ia berbaju biru pudar, dengan jilbab setengah dada. Tas tidak berukuran besar yang sepertinya tidak berat itu terlihat menggantung menutupi dadanya. Perlahan ia berjalan dengan santai. Tubuh kecil dan pendek itu ada di tengah kaum dewasa yang selalu lelah dengan rutinitas. Namun tidak untuk dirinya. Gadis kecil yang selalu ditemui sepulang kantor.

Kali pertama melihatnya, tidak ada rasa beda. Akan tetapi dua tiga hari selanjutnya, nampaknya ia selalu saya lihat di stasiun. Menggunakan seragam yang tidak selalu sama. Tetapi tas yang selalu serupa dilihat setiap hari. Keinginan saya untuk menopang diri dalam satu tempat duduk panjang bersamanya pun kuat melaju dalam hasrat.

Kulit sawo matang khas asia, serta alis yang tebal, dan pipi yang menggemaskan ada di samping saya persis. Hingga akhirnya saya tahu Kamila, namanya. Suara lembut dari anak kelas 4 sekolah dasar itu begitu memipih sendu di sanubari. Topangan tas ransel berwarna pink dengan motif barbie itu terus ia pegang. Seakan tidak ingin kalah dengan kaum dewasa, bahwa ada budaya khusus menopang tas ransel ketika menaiki kereta listrik, dia pun bisa.

Obrolan kami tidak sebatas nama, saya pun mengakar pada pertanyaan yang ingin saya ketahui jawabannya. Kemudian, siswi salah satu sekolah islam terpadu di jakarta itu menjawab dengan sangat santai. Ia sama sekali tidak takut dengan orang asing yang baru ia kenal saat itu. Ya, saya makhluk asing dalam wacana. Namun bukan dalam mata. Kami sering bertabrakan mata. Ia sadar bahwa ada sosok yang apik memperhatikannya tiap sore.

Langit kami begitu sendu di makan waktu. Kian lama, kian nyata dalam gelap. Mereka yang berdiri, sudah hilir mudik masuk dan keluar kereta. Tidak dengan kami. Kami hanya duduk dan terus berbincang. Walau sesekali berharap ada duduk di gerbong terakhir. Tapi sayang, itu tidak mungkin. Kami tahu itu. Atau seperti halnya dengan kami, kamila sering menggigit bibir, karena tak ada jatah duduk di sana.

“Kamu setiap hari pulang seeprti ini, dek?”. Tanya ku dengan seksama.

“Iya tante”. Singkat jawabnya dengan senyum.

Dan akhirnya saya tahu, bahwa rumahnya cukup jauh dari tempat di mana sekolahnya berada. Lenteng Agung, itulah rumahnya. Ada anak kecil sekolah 4 SD, yang setiap hari harus berjuang mencari duduk di sebuah kereta listrik rasanya, ingin saya peluk ia. Dan sambil berkata, “Sabar ya dek, Aku dulu seperti mu”

Masa muda diisi dengan jangkauan jarak yang tidak lumrah di jamah bagi seumurannya. Tidak ada lelah. Hanya ada kesenangan mengisi hiburan di luar dunia pribadi yang hanya bisa menjawab salah benar, mau dan tidak mau. Di saat anak-anak lain sudah duduk manis di depan televisi ataukah sudah mulai membuka buku pelajaran dan mengerjakan pekerjaan rumah, gadis ini mungkin baru keluar dari desakan orang dewasa di dalam kereta listrik.

“Emangnya enggak pernah dijemput mamah atau papah?” . Tanya saya kemudian.

Sambil memegang tiket sekali jalan berwarna putih, Kamila pun menjawab, “Nanti dijemput mamah di stasiun lenteng agung”.

Serasa ingin menanyakan lebih lanjut, tapi nyatanya saya tak kuasa lebih jauh. Alhasil, saya hanya mengalih topik lain. “Udah berapa lama kamu pulang sendiri, dek?”

“Dari kelas 3 SD, tante. Kan, papah waktu itu masih bisa nyetir. Aku jadinya sering dijemput”.

“Oh iya?!. Papah sekarang udah gk bisa nyetir ya?, makanya kamu pulang sendiri?”.

“Papah aku kakinya sakit. Kata mamah, udah enggak bisa nyetir mobil”

 

Yaa..Allah entah apa yang terlintas dengan asumsi di pikiran saya. Sekali lagi, Ingin rasanya memeluk gadis ini.

Kereta pun, tiba dengan kondisi yang hampir sama. Selalu penuh dengan penumpang. Saya pun mencoba memegang erat tangan Kamila. Kami pun masuk ke dalam gerbong khusus wanita. Tidak mudah berhimpit satu sama lain mencoba memasukkan tubuh ke dalam kerumunan orang-orang. Tapi, Kamila patut saya aperesiasi lebih dalam hati. Ia sudah terbiasa dengan seperti ini. Walau tubuhnya harus terjepit dengan orang-orang besar. Ia mencoba menerobos celah-celah kosong sisa himpitan tubuh orang dewasa. Bahkan saya sempat terpisah jarak jauh ketika berdiri.

Tidak lama ketika melewati stasiun Lenteng Agung, saya mencoba melacak keberadaannya. Kamila pun sudah tidak ada di gerbong ini. Mungkin ia sudah turun dan bertemu Ibunya.

Saya dan Kamila ibarat pantulan cermin yang dapat dilihat ada beberapa persamaan dalam diri kami. Walaupun berbeda dalam hal cerita, tapi jiwa kami seperti bercermin satu sama lain. Kamila kecil, Kantri kecil. Ketika jiwa dilanda kegamangan, Allah memberikan Kamila dalam hadapan singkat saya. Perjuangan meraih mimpi, bukan dilakukan dari selepas lulus kuliah, tetapi jauh dari ini. Jauh ketika saya harus pulang malam karena harus les bahasa Inggris atau mengikuti kursus bimbingan belajar. Berangkat subuh, pulang malam.

Ingin bertindak seperti gadis perempuan layaknya, namun pada kenyataannya sisi kanak-kanak tidak lah cukup menjalani hari-hari perjuangan kala itu. Ada kedewasaan yang tanpa sadar sudah kami tunjukkan di hadapan semua orang. Tubuh kami boleh tidak setinggi mereka. Tapi jiwa kami, tidak kalah dengan mereka.

Dear Kamila, Saya tidak tahu apakah bisa bertemu dengan mu kembali atau kah tidak. Tapi, jika pertemuan kita saat itu adalah petunjuk bagi saya ataukah untuk mu dari Allah, maka saya ingin ucapkan terimakasih. Dan jika takdir mempertemukan kita kembali, ingin rasanya bercerita tentang perjuangan saya di waktu seperti mu. Agar kau yakin, tentang perjalanan hidup yang senantiasa membentuk karakter mu kelak. Semangat !!

Kepada-Mu

Kepada Mu, yang selalu ku sebut Tuhan.
Kepada Mu, yang tak terlihat, namun dalam ku rasa.
Kepada Mu, yang selalu ada, di tengah anggapan tak ada.
Kepada Mu, yang ada pada nafas kepercayaan.
Kepada Mu, yang selalu tahu setiap kejujuran,
Kepada Mu, yang selalu memberi tanpa pamrih.
Kepada Mu, yang selalu arif dalam petunjuk.
Kepada Mu, yang tahu kapan awal kapan akhir.
Kepada Mu, yang memiliki cinta.
Kepada Mu, yang tahu kapan gemuruh hati mereda.
Kepada Mu, yang paham keadilan.

Biarkan hati ini bertaut dengan dermaga indah Mu.
Jangan biarkan, dia dan mereka tau apa,siapa,dan bagaiamana wujud awak di dalamnya .
Cukup hanya Engkau. Engkau yang Maha Tahu.

Biarkan kaki ini melaju di saat petunjuk Mu datang.
Biarkan otak ini meradar tanpa batas sebelum karam,
Biarkan tangan ini bergulat.
Hingga Engkau, Hanya Engkau, Selalu Engkau
yang bisa menakup cita dan asa.

Tuhan, Aku bukan mereka.

Aku tetap aku yang merangkak maju menantang takdir ku.
Aku tahu, Engkau membuat pintu kebaikan lebih dari satu untuk ku buka satu persatu.
Jangan biarkan perasaan domino yang ku dapat pabila hendak dibuka.
Tapi aku hanya ingin pintu terbaik untuk ku, hingga mencapai tinggi derajat insan di mata Mu.

Sungguh lirih isakan hati ini, Tuhan.
Bukan penyesalan, pula kesedihan.
Tapi, ingin selalu ku rasa degupan kencang setiap ku ingat bahwa Kau ada di dalam sini.

Tuhan, salah kah ketidak percayaan ini ku lontarkan untuk manusia?
Salahkah, penolakan ini ku baku-kan untuk manusia?

Tuhan, aku mohon..
apa pun fase ini, biarlah jawaban terbaik bagi ku akhirnya.
apa pun jalan ini, biarlah jawaban demi senyum indah di hadapan Mu akhirnya.

Kini aku ikhlas..
Semoga ikhlas bukan hanya kata yang Kau himbau untuk manusia.
Melainkan ikhlas adalah teman kecil, sahabat, pelipulara di saat ku menuju Mu.
Bismillahirrahmanirrahiim..

By alwayskantry009 Posted in my soul Dengan kaitkata

Cara Praktis Menghafal Ayat Al-Qur’an

 

Kemarin, saya berkumpul dan berkenalan dengan warga Batam, di Batam Islamic Center yang ketika itu sedang ada kegiatan kajian Al-Qur’an Mingguan  oleh Ustad Aam Amirudin. Kami mengkaji tentang ahli waris dalam Islam dan bagaimana cara menghafal ayat Al-Qur’an secara praktis. Sebenarnya, memang seperti kita ketahui banyak sekali berbagai pelatihan atau workshop untuk berbagi bagaimana cara menghafal isi kandungan kitab suci dengan cepat. Namun, kali ini cukup berbeda. Jika hanya terbatas pada metode penjumlahan dalam menghafal tiap ayat, kali ini dibagikan metode yang mungkin dapat dikategorikan psikonalasisi. Artinya, lebih mengjaka secara psikologis untuk menumbuhkan niat menghafal.

Niat menghafal ayat itu, mungkin terlihat sangat mudah. Syarat termudah yang bisa dijamin oleh siapa pun, tanpa biaya mahal. Akan tetapi, ternyata untuk menumbuhkan niat tersebut, perlu ada usaha/ikhtiar dari diri sendiri. Pada kesempatan kali itu, sebelum diterangkan metode menghafal, jamaah kajian diajak untuk melakukan pre-test sebagai perkenalan oleh Ustad. Aam.

“Silahkan jamaah berkumpul sesuai dengan profesinya. Ada 2 profesi, Ibu Rumah Tangga dan Wanita Karier”. Ujar Ustad ketika memulai melakukan pre-test. Jamaah pun seluruhnya berkumpul sesuai dengan profesi masing-masing. Saya berkumpul dengan sejumlah wanita karier yang jumlahnya tidak terlalu banyak jika dibandingkan dengan Ibu Rumah Tangga.

Kemudian, setelah semuanya sudah berkumpul, Ustad. Aam pun melemparkan pertanyaan, “Silahkan tunjuk tangan siapa di sini, yang sudah menghafal sebanyak 30 Juz ayat Al-Qur’an?”.

Mendengar pertanyaan Ustad, jamaah pun hanya saling pandang celingak celinguk, termasuk saya. Oh, ternyata tidak ada satupun yang mengacungkan tangan. Kemudian, pertanyaan kedua dari Ustad adalah, “Siapa yang sudah menghafal 3 Juz Al-Quran?”.

Lagi-lagi tidak ada yang menunjuk. Pertanyaan ketiga adalah, “Siapa di sini yang tilawah Qur’an sebanyak 1 juz per hari?”.

Oh, ternyata hanya sedikit yang menunjuk diri. Ada 6 orang yang mengacungkan tangan. Ustad Aam, pun kembali bertanya, “Berikan saya alasan mengapa sangat sulit sekali membaca Al-Qur’an sebanyak 1 juz setiap hari?”

Saya kali ini cukup terkejut. Ternyata muncul banyak alasan, namun sebenarnya hanya 1 alasan. Artinya, ketika ditanya pada kelompok Ibu rumah tangga, ternyata banyak di antara mereka menjawab, “Kami sibuk mengurusi anak, rumah, masak, belanja, dll”.

Dan ketika ditanya pada kelompok wanita karier, mereka menjawab,“Kami harus berangkat pagi, belom kerjaan di kantor numpuk, terus pulang malam. Sampai rumah, capek”.

jjelas, bagi saya alasan itu mengejutkan. Karena, saya pernah berpikir menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT) tentu akan memiliki waktu luang untuk mengisi ruhiyah diri dalam menjalankan amalan-amalan yaumi yang nyaris tidak terlewatkan. Ternyata, baik kumpulan IRT atau wanita karier masing-masing hanya menggunakan alasan kesibukkan.

Kondisi tersebut, dapat mengajarkan kita semua bahwa, manusia memang benar-benar merugi dalam hal optimalisasi waktu. Oleh karena itu, Ustad Aam menyarankan bahwa, membaca Al-Qur’an itu lebih baik dihafal. Menghafal Al-Qur’an adalah metode yang bisa digunakan apabila kita terhambat oleh waktu. Sebenarnya menghafal itu adalah buah hasil dari pengucpan yang berulang. Semakin rajin kita membaca Al-Qur’an, maka semakin mudah kita menghafal. Namun, ternyata masalah di sini adalah niat serta keinginan yang kuat.

Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang berisi bukan lah hanya sekedar kumpulan tulisan arab saja, tetapi kitab itu berisi berupa alur kisah, dan pesan kehidupan yang menarik kita telaah. Berikut anjuran untuk menghafal Al-Qur’an :

1. Gunakan Mushaf/Syamil Qur’an yang disertakan dengan artinya. Bukan, penulisan latin lafadz-an.

2. Bacalah Surat Al-Qur’an beserta artinya. Dan Cermati setiap arti yang terkandung. Kemudian, sesuaikan tiap per kata dengan artinya. Ini dapat dilakukan secara skimming.

3. Bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali.

4. Bacalah ayat kedua sebanyak 20 kali.

3. Bacalah ayat ketiga sebanyak 20 kali.

5. Bacalah ayat keempat sebanyak 20 kali.

6. Kemudian bacalah 4 ayat di atas dari awal hingga akhir sebanyak 20 kali.

7. Bacalah ayat kelima sebanyak 20 kali.

8. Bacalah ayat keenam sebanyak 20 kali.

9. Bacalah ayat ketujuh sebanyak 20 kali.

10. Bacalah ayat kedelapan sebanyak 20 kali.

11. Kemudian bacalah ayat kelima hingga ayat kedelapan untuk menggabungkannya sebanyak 20 kali.

12. Bacalah ayat pertama hingga ayat kedelapan sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.

Demikian seterusnya hingga selesai seluruh Al-Qur’an dan jangan sampai menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan (1/8) juz, agar tidak berat bagi Kita untuk mengulang dan menjaganya. Kemudian, alangkah lebih baik surat-surat/ayat-ayat yang sudah kita hafal atau sedang dihafal, dibaca ketika menunaikan sholat wajib 5 waktu dan Sholat Sunnah.

Demi menjaga hafalan yang sudah kita rampung, maka sudah selayaknya kita juga menjaga perbuatan dari hal-hal yang tercela. Seperti, berbohong, mendzhalimi, dan bahkan menonton dan mendengarkan lagu-lagu atau acara televisi yang sekiranya melebihi frekuensi waktu dari menghafal.

Sebagai motivasi diri kita, bahwa tidak ada hal yang dirugikan apabila kita dapat berusaha/sudah menghafal ayat Al-Qur’an. Bahkan Imam Syafi’i pernah berkata “Aku menghafal Al-Qur’an ketika aku berumur tujuh tahun dan aku menghafal kitab Al-Muwaththo’ ketika aku berumur sepuluh tahun.” Demi menjaga hafalnnya, Imam Syafii pernah berkata, ia harus menjaga segala panca inderanya.

Sahl bin ‘Abdulloh At-Tastari pun mengatakan, “Aku pergi ke kuttab (semacam TPA yang ada di Indonesia) untuk belajar Al-Qur’an dan aku menghafalnya ketika aku berusia enam atau tujuh tahun.”

Apakah ada kata terlambat untuk menghafal Al-Qur’an?!. Tanya seorang jamaah kepada Ustad.

“Tidak ada alasan terlambat bagi siapa pun untuk menghafal Al-Qur’an. Masalah waktu sudah tua dan sebagainya adalah fatamorgana. Karena yang nyata dan dekat dengan diri sendiri adalah, Niat. Niat itu ada di dalam hati kita sendiri. Keberhasilan sesuatu itu dilihat dari niatnya. Masalah pahala hafalan yang kita dapatkan, hanya urusan Allah. Namun, alangkah indah jika sendiri dapat berucap syiar kepada orang lain, tentang isi pesan yang indah dari ayat yang kita baca”.

Oleh karena, itu ketika kita membaca ayat Al-Qur’an kita juga harus membaca artinya, karena ketika kita sudah paham artinya seperti apa, maka kita pun akan teringat oleh isi pesan dan suratnya. Dan membaca ayat Al-Qur’an sama dengan berdoa kebaikan untuk diri kita. “Maka, sekali lagi sangat indah jika kita kembali berdoa dengan isi pesan yang terbaik untuk diri kita pada saat sholat”. Tambah Ustad Aam diakhir kajian.

Itulah tips dari kajian yang saya ikuti kemarin malam. Semoga pesan kajian tersebut membangkitkan semangat diri saya dan kita semua untuk terus meningkatkan kualitas diri dalam hal amalan yaumi (Kegiatan baik diri sendiri sehari-hari).

Adioss..

 

Allah Lebih Sayang Engkong..

 

 

Malam itu, sunyi, namun masih ada nyawa di sana. Kekuatan dari keluarga besar, anak, menantu, cucu, serta cicit berkumpul menyatukan hati dan pikiran dalam sebuah paviliun yang tidak lebih berukuran 6×4 meter. Mereka mulai berdoa dan mengaji sambil mengusap kening hingga kepala Bapak Tua, yang sedang berbaring lemah di lantai yang beralaskan anyaman tikar yang baunya sangat berciri khas.

Saya ada di sana. Kali pertama melihat Bapak Tua yang biasa saya panggil dengan Pak Dede (Engkong/Kakek). Hari pertama dan satu-satunya kesempatan terkahir saya melihat kakek tercinta lemah tak berdaya. Sedangkan yang lain, seperti sepupu, Om dan Tante sudah begitu sering mengurusi dan menjaga dirinya.

Pak Dede merupakan Ayah dari Bapak saya. Kakek terakhir dalam keluarga saya. Ia tinggal di sebuah paviliun yang terhubung langsung dengan rumah anak perempuan kedua, Tante Amah. Paviliun itu sengaja dibangun dan desain khusus untuk menjadi tempat tinggal Pak Dede yang memiliki karakter pendiam, dan lebih senang mengisi waktu sendiri semasa lansianya. Walau pada sebelumnya rumah mengalami perombakan pun, Ia masih senang berdiam dan tinggal di sebuah ruangan sepi dan ‘hampir’ dikatakan melepaskan diri dari kerumunan orang banyak. Ia memang pendiam, penyendiri, dan tidak suka dengan keramaian.

Stamina yang selalu menjaga kesehatan, tidak pernah merokok, dan rutin berolah raga semasa muda menjadikan tubuhnya sangat sehat. Tubuh tinggi serta daya ingat yang luar biasa patut kami acung jempol. Kekuatan tubuh dari kakek berusia 70 tahun lebih itu, nyaris tanpa renta. Ia bahkan sangat mandiri. Atau suatu ketika, ia senang sekali memperhatikan pohon-pohon nangka, pisang, atau rambutan yang dimilikinya di pekarangan rumah, yang kemudian digarapnya untuk dipanen. Ia rela memasukkan hasil panen buah-buhan itu ke dalam karung putih, yang nanti akan diantarnya sendiri dengan menggunakan sepeda motor Honda Win tipe 100, keluaran tahun 70’an berwarna abu-abu.

Pria lansia itu sudah memiliki 7 anak dan 18 cucu dan 4 cicit. Beliau lahir dari keluarga Sunda yang tinggal di daerah Bogor. Kemudian Pak Dede tinggal di Jakarta untuk bekerja hingga akhirnya bertemu dengan Emak Uti (Isterinya/Nenek Kami) yang berketurunan Betawi peranakan Tioghoa di sebuah perkampungan karet yang sekarang disebut (pasar Senen). Semasa muda, Pak Dede adalah tercatat sebagai pegawai negeri sipil dari perusahaan air minum nasional. Kemudian, karena pada saat itu ada pemindahan tempat kerja, Pak Dede dan keluarga besarnya pindah ke daerah Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Dengan menempati rumah dinas yang tidak besar, Ia mendidik ke 7 anaknya untuk hidup prihatin. Walaupun prihatin, Ia bersama Isterinya yang ketika itu bekerja sebagai pencuci baju asrama, terus memotivasi anak-anaknya untuk tetap sekolah tinggi dan mandiri.

“Lu, harus sekolah tinggi ya Din, biarin emak bapak lu cuman SD, tapi lu harus pinter, bakal jadi orang sukses”, Kira-kira itu yang selalu Ia sematkan dalam mindset Bapak saya saat tinggal di Ragunan. Bapak saya, adalah anak laki-laki pertama, dan anak kedua dari 7 bersaudara. Oleh karena itu, segala wejangan positif dan motovasi kemandirian selalu keluar dari mulutnya. Maka jadilah semua anak-anaknya tumbuh sukses dan hampir semua sudah menempuh pendidikan Strata 2 dan menjabat posisi penting pada tempat kerja mereka. Pembelajaran ini yang terus saya patri dalam diri saya untuk terus meneruskan cita-cita leluhur.

Karena pada saat itu, masa pensiun sudah harus dijalankan, maka Pak Dede dan sebagian keluarganya pindah ke daerah Cimanggis, Depok-Bogor. Tinggal di daerah yang belum terkena industrialiasi, mereka menjadi pendatang yang akhirnya membeli tanah yang luasnya di atas rata-rata. Itu sebabnya, mengapa Pak Dede mengajak sebagian anak-anaknya yang belum menikah (ketika itu) dan tinggal bersama dengan dirinya. Pohon-pohon rindang, teduh, dengan kicauan burung masih terasa di rumah itu. Banyak pohon, melinjo, nangka, durian, pisang, belimbing, dan mangga merindangi pekarangan rumah yang cukup luas. Bagi saya, rumah ternyaman kedua semasa kecil adalah rumah kakek nenek saya yang di Cimanggis. Ketika masih kecil, saya sering menginap dan bermain – main dengan sepupu yang juga menginap di sana.

Namun, setelah nenek kami meninggal, rumah besar itu mengalami perombakan yang akhirnya membentuk dua rumah untuk keluarga 2 tante, anak perempuannya. Jumlah lahan yang luas, pun akhirnya digunakan oleh anak-anaknya untuk membangun rumah kediaman yang akhirnya terlihat seperti komplek keluarga. Keputusan untuk tinggal berdekatan itu juga diambil karena mempertimbangkan dari usia lanjut yang dialami Pak Dede. Untuk itu, anak-anak perempuannya membangun rumah dan tinggal tidak jauh dari paviliun itu dibangun. Hanya keluarga bapak saya dan kakak perempuannya, Bu de Ani, yang tinggal di luar pekarang Cimanggis. Bude Ani tinggal di daerah Jatipadang Jakarta Selatan, dan keluarga bapak saya tinggal di Depok.

Lahir, Rejeki, Jodoh, dan Maut memang hanya rahasia Allah SWT semata. Waktu adalah teman setiap manusia yang hidup. Ada sehat, ada sakit, Ada kuat ada lemah, ada muda dan renta. Itu juga yang akan dialami setiap manusia yang bernyawa. Sekuat-kuat tenaga manusia, ia akan pasti akan bertemu fase lemah karena alam. Saya menyadari itu lebih kepada Pak Dede. Ia mungkin di usia 70 an, masih bisa mengendarai motor, memanjat pohon, membaca baik buku atau Al-Quran, tapi tidak di penghujung usia 81 tahun.

586_1991 586_1966 586_1968 586_1970 586_1971 586_1981 586_1984

Sakit itu, datang ketika sepulang Pak Dede menunaikan umroh sendiri tanpa ditemani keluarganya. Ia bersama rombongan pengajiannya, pergi dengan ikhlas serta doa dari keluarga besar yang ditinggalkannya. Sepulang dari sana, Pak Dede lumpuh, karena jatuh. Tubuhnya tidak bisa digerakkan. Awalnya, masih bisa berjalan dengan pincang, namun lama-kelamaan, kondisi makin parah. Hingga Ia tidak bisa bangun, dan hanya bisa berbaring lemah.

Tubuhnya mulai mengecil, dan hanya sebatas tulang-tulang keras yang menonjol di wajah, tangan, badan, dan kakinya. Melihat kondisi yang seperti itu, kami sempat membawanya ke rumah sakit menjalani cek kesehatan. Menurut dokter, memang sakit karena jatuh ketika Umroh, sulit disembuhkan karena usia lanjut yang dideritanya. Kekuatan pada tulang-tulang dan rangka sudah mulai mengeropos. Oleh karena itu, akhirnya keluarga besar memutuskan agar Pak Dede dirawat di rumah saja, dan hanya memanggil dokter ke rumah.

Semasa rawat di rumah, memang Ia lebih banyak dirawat oleh anak-anak perempuannya yang tinggal di dekatnya. Mulai dari menyuapi, menadikan, menggantikan popok, bahkan tak urung banyak juga yang merelakan waktu istirahat mereka untuk tetap terjaga di dekat Pak Dede. Benar kata orang, bahwa ketika lanjut usia, seseroang akan berperilaku seperti anak kecil kembali. Mulai keras kepala, tidak mau makan, tidak mau dibilangin, dan lain-lain. Pak Dede pun demikian. Ia tidak mau tidur di tempat tidur. Ia lebih memilih untuk tidur di lantai yang berlaskan tikar. Bahkan posisi tidur pun, sulit normal layaknya orang-orang biasanya. Ia lebih memilih berbaring menghadap ke kanan. Selalu seperti itu. Sehingga wajahnya mengalami perubahan bentuk. Kelopak mata dan bibirnya mengalami pembengkakkan.

Saya bisa berkata seperti ini, ketika saya menjengguki Beliau semasa hidup tepat di 2 Minggu sebelum Ia wafat. Pada sore hari ketika saya ingin pergi bertugas, saya berusaha untuk memaksakkan diri untuk menjengguk. Awalnya saya tidak yakin, bahwa kondisi Pak Dede sakit begitu parahnya. Saya jarang ikut menjengguk layaknya Bapak, Ibu dan Adi saya yang selalu setiap akhir pekan berkunjung untuk mengaji dan sebagainya. Malu rasanya untuk bilang, karena kesibukan yang sulit saya jumpa hari kosong untuk menjengguk dirinya yang lemah.

Saya datang dan menhampirinya yang sedang meraung kesakitan. Saya sentuh kaki dan pinggulnya dari arah belakang, sambil berkata, “Pak Dede, assalamualaykum, Ini kantri datang pak”.

Ada hal yang bikin hati saya terkoyak begitu rapuh ketika pada saat saya menyapa demikian, Ia memaksakan menoleh ke arah saya sambil mengucapkan, “Waalaikum salam”.  Walaupun ucapannya lirih terdengar, tapi ia masih sangat merespon dan menyadari bahwa cucunya datang menjengguk. Saya pun mengaji di sampingnya surat Yasin sambil mengusap kepala yang terlihat mengecil. Sewaktu saya mengaji ia masih meraung kesakitan.

Tidak lama, saya pun pergi bertugas penempatan kerja. Hati saya merasakan gundah dan selalu teringat dengan Pak Dede. Entahlah, ketika melihat kalender merah pada 1 Mei, saya bergumam, “Saya harus pulang”.

Sekali lagi Allah memang punya skenario terindah dalam hidup untuk manusia. Tepat di tanggal 1 Mei, di saat anak-anak serta cucu sedang libur, maut itu datang menghampiri.

Suatu pagi menjelang siang, tepat waktu Dhuha, saya ditelepon Ibu saya yang ketika itu sedang melakukan perjalanan ke Sukabumi bersama Bapak saya.

“Kantri, kamu sekarang, sama jaka, nada ke Cisalak. Pak Dede koma. Badannya udah dingin. Di sana semua lagi pada ngajiin. Mamah lagi menuju pulang, di jalan. Segera ya”. Ucap Ibu kepada saya.

Mendengar itu, tanpa berpikir dua kali, saya, adik, dan Kakak saya bergegas ke Cisalak/Cimanggis bersama. Perasaan kami campur aduk tak karuan. Jalanan yang macet membuat kami bertaut harap agar masih bisa melihat Pak Dede di akhirnya. Kakak saya yang sedang menyetir mobil hanya terdiam. Begitu juga dengan saya dan Nada. Saya berkali-kali berharap tidak ingin ada notifikasi di BBM saat itu. Alih-alih sungkan untuk membaca berita duka, saya pun hampir mematikan telepon gengam beberapa saat.

Setiba di sana, saya melihat sudah banyak kerumunan orang di paviliun, tapi tidak ada bendera kuning di sana. Namun, sudah ada tenda di sana. Denyut jantung saya tiba-tiba berdegup. Saya pun langsung menuju kamar Pak Dede. Semula saya kira Pak dede hanya koma, namun ketika saya memegang kakinya, ternyata kakinya sudah dingin. dan wajahnya sudah tertutup, dengan sutas kain kasa menopang rahang, tangan dan kakinya.

Seolah menyisakkan tanya, saya hanya melihat raut wajah kesedihan dan air mata yang keluar dari mata om dan tante. Innalillahi Wainna ilaihi rojiun… Pak Dede telah tiada. Tubuh saya lemas tak berdaya. Kemudian, saya mendapat telepon dari Ibu, Ibu berkata sambil terisak tangis.

“Pak Dede udah enggak ada ya?. Tri, pa dede udah meninggal ?”

Saya tidak kuasa menjawab, saya pun hanya terisak tangis, menanggapi pertanyaan Ibu.

Saya berusaha tegar, dan mengaji surat yasin di sisinya. Kembali saya lihat wajahnya. Subhanallah, memang ketika waktu sudah tepat untuk kembali kepada-Nya, maka raga akan kembali seperti semula juga. Tidak ada sembab atau bengkak di kelopak mata, bibir, dan kakinya sama sekali. Ia terlihat kembali dengan sempurna.

Kamis, langit Depok dan Bogor terlihat sangat mendung. Seakan mengetahui, bahwa makhluk Tuhan yang baik telah kembali kepada-Nya, langit pun terisak seperti kami saat itu. Kami kira akan turun hujan deras. Ini sangat mengkhawatirkan, karena kasihan jika air hujan menggenagi liang lahat Pak Dede. Tapi, Allah tidak tidur. Dan Pak Dede orang yang baik, ketika ingin dimandikkan pun langit hanya gerimis. Orang tua saya, tidak lama hadir. Tampak wajah Bapak, yang sudah sembab oleh air mata. Namun, ia sama sekali tidak keluar air mata ketika itu. Saya tahu, Bapak sedang menguji ketegaran dan keikhlasannya.

Seluruh anak laki-laki dan menantu laki-lakinya pun ikut memandikan Pak Dede. Saya menyaksikkan keadaan itu. Bahkan, Saya sempat memandikkan Pak Dede, dengan menyentuh kakinya, sambil membaca sholawat. Di samping tempat pemandian, sudah banyak orang-orang yang membacakan doa secara bersama.

Selesai dimandikkan, Pak dede dikafani. Bulu kuduk merinding ketika pada prosesi itu, kami menyaksikan Ia begitu cerah dan tenang. Mungkin di antara orang yang menyaksikkan itu, saya lebih terkesigap dengan bayang-bayang masa depan. Wajah Pak Dede begitu mirip dengan Bapak saya. Mulai dari sifat, tubuh, dan wajah. Ia sangat mirip dengan Bapak. Tangan saya spontan, memegang erat lengan Bapak yang duduk di samping saya.

“Yaa Allah, saya membayangkan wajah Papah saya seperti ini nanti”. Pikir saya.

Tidak lama, sebelum Ashar kami sekeluarga dan para tamu menyolati berjamaah. Seluruh anak, mantu, cucu semua menyolati dan berdoa untuk jenazah di hadapan kami. Setelah menyolati, kami bersiap menuju ke pemakaman. Langit yang semula mendung gelap, tiba-tiba cerah dan prosesi pemakaman pun lancar. Selesai tepat Adzan Ashar berkumandang.

Banyak hal yang terkait pembelajaran dari takdir Allah bernama kematian. Kita semua akan bertemu dengannya, di waktu yang tepat. Sangat tepat, dan indah. Pak Dede sudah menyusul nenek kami, selang 3 hari menuju peringatan 6 tahun wafatnya emak uti. Di bulan yang sama, Bulan Mei, mereka kembali kepada Sang Khalik. Jika Emak Uti wafat tanggal 4 Mei, Pak Dede wafat tanggal 1 Mei. Mungkin, mereka memang sudah berjodoh dunia akhirat. Bahkan menurut cerita dari sepupu ketika mendekati ajalny, Pak Dede sering menyebut nama isterinya. Dan memang, ini lah yang menurut kami kematian terindah bagi keluarga besar kami.

Semua lancar, baik ketika menghadapi sokharatul maut, pemandian, penyolatan dan penguburan jenazah berjalan cepat dan lancar tanpa hambatan apa pun. Bahkan, orang tua saya tidak menyangka dapat tiba di Cimanggis hanya 2 jam dari Sukabumi. Sungguh Allah, Haq penentu kebaikkan untuk manusia.

Tidak ada ketakutan di hati kami ketika menyentuh jenazah beliau. Justru, kami saling mengedepankan diri untuk memandikkan kujuran kaku ayah/kakek kami. Kami benar-benar sayang Pak dede/Engkong/Mbah Akung kami. Kehilangan tentu masih menyisa di hati kami. Paviliun itu kini sepi dan kosong. Sudah tidak ada lagi, Kakek kuat yang begitu sayang terhadap anak-anak dan cucunya. Walaupun saya terbilang tidak dekat dengan nya, perlu saya syukuri waktu ketika Ia berkunjung ke rumah sambil membawa sekarung nangka dengan motornya. Ia bercerita bagaimana masa mudanya yang tinggal di daerah Senen. Bagaimana ia begitu ingin ke Taman Mini. Namun, sayang kesibukkan anak dan cucu-cucunya, mungkin belum sempat mengabulkan keinginannya.

Masih ada rasa penyesalan di hati saya, jika saya harus merunut masa lalu. Masa di mana saat ia masih kuat dan hidup. Harusnya saya mengajaknya ke Taman Mini. Harusnya saya menyempatkan diri untuk tetap menjenguk beliau ketika sakit. Harusnya saya segera menukarkan dolar dengan real malam itu, ketika ia akan umrah. Tapi, sekali lagi itu semua hanya penyesalan.Kini, sudah tidak ada lagi, Kakek dan nenek dari kedua orang tua saya. Bersyukurlah bagi siapa pun yang masih memiliki kakek dan nenek.

Sekali lagi, Innalillahi Wainna ilaihi Rojiun. Telah berpulang ke pangkuan Allah SWT. Engkong Djai, pada 1 Mei 2014 pada usia 81 Tahun. Terimakasih, sudah menjadi tulang punggung untuk orang tua kami. Terimakasih sudah membentuk karakter Bapak kami hingga kini ia menjadi panutan bagi kami. Semoga Allah menerima segala amal baik semasa hidup Engkong. Dilapangkan kuburnya, dan dimaafkan segala dosan dan khilaf Engkong. Syurga, adalah tempat terbaik untuk bertemunya kami nanti. Aamiin Yaa Rabbal Alamiin..