Cerita Pangrango

 

 

Jum’at pagi di mana hari-hari yang selalu padat karena deadline kerjaan, ternyata akan selalu sama walau pada kenyataannya keesokan harinya saya harus bersiap mendaki gunung. Jika harus merunut hari sebelumnya, hari-hari saya makin padat macem jalan Jakarta yang nyaris kosong spasi. 3 hari saya harus ke Bali untuk meeting dengan mitra kerja, dan selang sehari selanjutnya saya harus mengerjakan laporan untuk rapat kerja dengan tim. Sungguh alangkah indahnya hidup ini.. 😦

Well, meskipun saya harus narik nafas dengan jadwal kerjaan yang padat,  entah mengapa rasanya kok senang-senang aja ketika itu. Lagi-lagi ini musabab dari rencana naik gunung yang udah direncanain selama 1 bulan lalu. Dan Sabtu (18/10) saya akan naik gunung pertama kali dalam hidup saya. cihuuuuy !!.

Setiba pulang kantor pukul 21:00 WIB saya langsung melakukan packing carrier yang harus dibawa nanti. Dan parahnya adalah, carrier yang ukuran kecil yang biasa dipakai, sedang dipinjam oleh teman kakak saya untuk naik gunung juga. Mau tidak mau harus pakai carrier lama milik kakak saya. Kali ini agak bingung melakukan packing ala ransel segeda kulkas satu pintu itu. Untunglah ada kakak saya yang mau bantu packing. Hampir semua packing dilakukan sama dia. Saya sih cuman nonton. hahaha…

Keesokan paginya, saya bersiap-siap, sarapan, minum susu, dan sedikit nonton teve. Saya janjian dengan tim pendakian di kampung rambutan, namun sayang ternyata berubah di pasar rebo. Untunglah, saya dianter kedua orang tua saya ke sana. Ini tumben sih memang, biasanya orang tua saya cukup membebaskan saya untuk pergi ke mana pun, tapi kali ini mereka agak khawatir tentang rencana pendakian. Pertama, mereka pikir anaknya ini belum pernah naik gunung. Kedua, mereka belum mengenal orang-orang yang akan menjadi satu tim pendakian nanti. Terutama Ibu saya. Ia sangat khawatir, karena ketika saya sebutkan nama-nama tim pendakian, tidak ada satupun nama yang ia kenal. Ya..wajar saja bukan, jika seorang Ibu ingin melihat dengan siapa anaknya berteman. Oke.. thank you Mom !.

Singkat kata, perjalanan kami dimulai dari Pasar Rebo. Kami berjumlah 5 orang. Saya, Ka Reza, Aje, Hendri, dan Are. Berawal naik bus ke Cibodas dengan rute Jakarta-Cianjur pada pukul 09.00 WIB. Kira-kira sampai Cibodas pukul 11:30 WIB. Di sana, harus mengurusi booking pendakian yang ternyata memakan waktu lama. Kebetulan memang, karena pada saat itu adalah hari Sabtu, sudah pasti jumlah pendaki tentu sangat banyak. Belum lagi, tim kami harus menunggu 1 personil lagi yang ternyata belum datang karena dia berangkat dari Semarang.

Lama menunggu, sekitar 5 jam untuk memastikan pemberangkatan, di sela-sela itu saya dan Aje cukup terhibur dengan rombongan anak-anak S2 IPB yang sedang melakukan observasi. Bahkan saya dan Aje seperti reuni dengan mereka. Pasalnya, mereka ternyata merupakan alumni dari kampus saya dan Aje. Ini lucu, tapi menyenangkan. Makin banyak teman menyenangkan, bukan?!.

Oke, lanjut ke pendakian, akhirnya saya tahu ternyata tidak hanya 1 personil tambahan, melainkan 3 personil pendaki tambahan. Selain Adit, ada Bagas, Edo, dan Bang Rizal. Lagi-lagi saya tidak kenal dengan mereka.

Awal pendakian pertama, saya masih meraba komunikasi dengan mereka. Minim komunikasi lebih tepatnya. Kecuali dengan Aje, saya sudah menghabiskan berjam-jam sedikit tahu tentang perempuan manis itu.

Menit demi menit, jam demi jam kami terus berjalan. Langit kami sudah gelap, kini hanya lampu sorot menjadi cahaya kami. Sudah tidak ada lagi bisingan suara kendaraan seperti di Jakarta, atau suara-suara musik yang sering kita dengar. Tidak ada lagi alat komunikasi. Hanya kami 9 pendaki yang mencoba meruntuhkan ego demi mencapai Puncak Pangrango.

Saya merupakan pendaki pemula jika dibandingkan dengan mereka yang berada di depan saya. Langkah mereka cukup cepat dan panjang. Belum jauh, saya sudah terkeok lunglai. Ternyata ini fatal. Beban carrier yang saya bawa terlalu berat. Bukan isinya, melainkan kontur carrier yang masih menggunakan besi pada sisi back-pain nya. Alhasil saya sempat bertukar carrier dengan Aje, namun Aje tidak sanggup untuk membawa ‘kulkas’ itu, dan ada Adit yang menawarkan diri untuk membawa carrier saya.

Perkenalan saya dengan Adit dimulai ketika itu. Sepanjang jalan saya berjalan sejajar dengan Adit. Anak psikologi undip 2009 ini cukup unik. Semacam adik ketemu gede. Maklum, saya tidak punya adek laki-laki, jadi sosok Adit kayaknya cocok jadi adik saya. Apalagi, ketika dia bilang, “Mbak, kayaknya kita berjodoh deh mbak. Adit kayaknya jadi adik ipar mbak deh”. Tadaaaaaaa!

Dasar anak itu. Masih bikin saya ketawa sampai detik ini.

Semakin malam, pendakian makin terjal, bebatuan tajam, udara yang mulai dingin, dan sunyi sudah benar-benar saudara kami ketika itu. Berjalan dan melangkah nyaris membuat betis, bahu, dan nafas kami berat. Namun, ada kebersamaan di sana. Pegangan yang erat satu sama lain membuat kekuatan kepercayaan bahwa saya tidak sendiri. Memang, hanya ada mereka di sini.

Pukul 12 malam, kami tiba di kandang batu, untuk camp. Setiba di sana saya sedikit ngosh-ngosh-an. Perut cukup lapar, setelah beberapa jam hanya terisi air mineral, madu, gula merah, dan sokelat (mengutip aksen cokelat dari Adit). Mau tidak mau, saya pun harus makan walau sebenarnya saya sedang berpuasa mi instan. “Semoga perut ku tahu, bahwa hari ini ku benar-benar lapar, dan hanya ada roti, mi instan, dan telur untuk ku makan. Maka baik-baik lah kau masuk usus ku”. Ucap saya dalam hati.

Slurph……. ah!. Oh.. ternyata mi instan dengan kornet ini enak sekali. Di tengah dinginnya udara, di tenggorokan ada mi instan yang hangat. 😀

Jujur saja, tadinya saya tidak mau makan mi, dan hanya membuat mi instan untuk teman-teman cowok yang sibuk mendirikan tenda buat saya dan Aje tidur. Tapi aromanya itu loh.. Masya Allah.. !. Menggoda iman. 😀

Di gunung, akhirnya bisa menangkis pepatah “sepiring nasi berdua”, tapi yang benar adalah “sepiring nesting berlima”. Mau gimana lagi coba. Terima sajaaalaaaah…

Malam makin larut, tenda pun sudah siap ditidur. Saya dan Aje pun masuk ke dalam tenda untuk istirahat. Kau tahu, ini sungguh sulit untuk memejamkan mata. Bahkan dipaksa sekalipun rasanya susah beneeer. Udara di musim kemarau ternyata lebih dingin. Ini sama seperti apa yang dikatakan Andi, salah satu teman yang sebelum saya pergi ia sempat mengingatkan untuk memakai jaket ganda. Walaupun jaket sudah ganda, kaos kaki ganda, Oh Tuhan, ini dingin sekali. Tangan dan kaki sungguh menggigil luar biasa. Semacam gemeter di bajaj. :p

Saya pun langsung memakai koyo di telapat tangan dan kaki, demi menghalau dingin. Namun, tetap saja dingin. Tidur berbalik kiri kanan dan kiri ternyata membuat mata terpenjara selama 2 jam.

“Gue rindu matahari”.  Sekilas mengharap sesuatu yang ironis. Jika di Jakarta saya terus bergumam cuaca ekstrim yang panas, di atas gunung saya membutuhkan matahari. Sungguh, manusia makhluk yang tidak bersyukur (termasuk saya). 😦

Di depan tenda saya dan Aje sudah bising dengan suara-suara sekelompok pendaki yang berteriak kedinginan. Saya pun menyimak dengan parau. Temannya memasak teh dan mi instan untuk temannya yang menggigil kedinginan. Padahal di sana isinya laki-laki semua. Kebayang ya, kebersamaannya seperti apa?!. Tak tergantikan.

Pukul 03.00 WIB pun tiba, kami bangun dan bersiap untuk melanjutkan pendakian ke puncak. Dengan perlengkapan yang hanya raga dan beberapa logistik yang hanya dibawa oleh seorang teman, kami melaju dengan santai.

“Kita jalan santai aja. Enggak perlu dipaksain. Kita di sini gk ngejar apa-apa, yang penting selamat”. Ujar Ka Reza sebagai pemimpin tim.

Padahal sih, di hati saya berbisik, “Duh, pengen banget gue liat sun rise”. Tapi apa daya. Ini kali pertama pendakian saya, jadi nothing to lose. Lagian juga ada misi lain yang ingin saya lakukan, yasudah seraya menghibur diri, anggaplah misi ini lebih mulia dibanding hanya melihat sun rise di ketinggial 3.019 mDPL.

Udara yang minim oksigen dan menusuk tulang, saya berjalan sedikit terseok-seok. Berkali-kali sulit bernafas. Walaupun tidak bawa carrier seperti pendakian pertama, tantangan selanjutnya adalah udara super pagi yang super dingin. Bahkan di tengah jalan, Adit sempat keram perut. Ka Reza, Bang Rizal, Edo, dan Hendri sudah melaju terlebih dahulu menjauh dari kami. Jadilah tersisa Saya, Aje, Adit, Bagas, dan Are.

“Udah aku enggak sanggup. Kalian lanjut aja”. Kata Adit sambil memegang perut meringis kesakitan.

Kedua tangannya kaku, begitu juga dengan kakinya. Pelajaran berharga, jangan pernah naik gunung dengan celana pendek, sendal gunung, tanpa kaos kaki, dan harus pemanasan sebelum mendaki.

“Adit, sakit di sebelah mananya?”. Tanya ku lekat-lekat.

“Di sini mbak, sebelah kiri. Gak apa-apa mbak, mbak lanjut aja”. Tambah Adit,

Memutuskan untuk turun dan kembali ke camp itu cukup jauh. Ibarat kata sudah setengah jalan. Pilihannya ada 2. Maju menahan sakit untuk asa, atau mundur dengan kesia-siaan. Saya melihat ada asa untuk menggapai puncak di wajah kami satu per satu. Tapi meninggalkan Adit dengan kondisi meringis kesakita seperti ini adalah kesombongan fatal bagi saya.

“Enggak mungkin dit, kita ninggalin kamu di sini. Sekarang Adit berbaring dulu di tanah nanti perutnya ditarik sama Bagas ya”. Saran saya seraya membujuk.

“Adit enggak bisa gerak mbak. Sakit banget”. Pilu Adit.

“Harus digerakin dit, Kamu keram perut. nanti dipapah”. Tambah saya.

Adit pun mengikuti saran saya. Ia berbaring di tanah. Sedang Bagas menarik perut Adit. Ini tidak lama, karena Adit menggigil kedinginan. Akhirnya Aje, mengeluarkan obat maagnya untuk diminum oleh Adit. Untunglah, di kelompok ini ada sedikit logistik. Bayangkan jika tidak ada. Saya dan Aje pun mengoleskan sambil memijit tangan Adit dengan kayu putih. Dan mengajak ngobrol Adit agar tetap sadar. Bagas mengoleskan kayu putih di kakinya. Kita pun membujuk adit untuk bertukar pakaian dengan Bagas. Mau tidak mau langkah kami terhenti untuk menunggu kesiapan Adit untuk melaju.

Di tengah-tengah menunggu kesiapan Adit, Are berinisiatif untuk mengajak senam ringan. Pemanasan ringan sebelum lanjut mendaki. Dan kita pun semua kompak melakukan pemanasan.

Setelah melakukan pemanasan, saya dan keempat teman melanjutkan perjalanan ke puncak. Langit sudah mulai memuda. Saya memapah Adit. Entahlah mengapa saya menjadi kuat memapah Adit, walau sebelumnya saya sempat tidak kuat mendaki karena oksigen dan dingin. Mental saya menjadi kuat. Mungkin inilah yang dimaksud dengan mengambil peran posisi dengan segala tanggung jawabnya. Artinya, jika ada yang lebih menderita dari pada kita, secara naluriah kita akan merasa kuat untuk melindungi. Dan kelemahan hanya ada di jiwa yang tidak mengambil peran. hm.. nice lesson.

Langkah terus berjalan, hingga di tengah jalan bertemu dengan Ka Reza. Ia pun menunjukkan jalan ke puncak, dan membantu kami untuk mendaki ketika harus menanjak.

Sesekali kami berhenti karena tidak kuat. Di sela-sela ketidak kuat-an kaki dan nafas kami, air panas yang mendidih dan sokelat serta biskuit menjadi penawar kebersamaan. Obrolan pun pecah ketika merunut masa lalu yang menjadi bahan olokan. Semacam reuni, bahwa dunia ini sempit. 😀

Setelah usia meredam lelah, kami pun melaju. Jujur, puncak Pangrango sangat jauh. Di jalan pendakian kami berpapasan dengan beberapa orang yang turun gunung. Mereka sambil berkata, “Ayo semangat. Puncak sebentar lagi”. atau “Puncak 1 jam lagi” atau lebih parah “Puncak 10 menit lagi”.

Jangan percaya lah dengan itu semua. Pemberi Harapan Palsu (PHP) semua. hahaha..

Saya pun mencoba untuk beristirahat menghirup udara sejuk di sana. Ya.. Allah duduk berselonjoran kaki dan menghirup udara sejuk sungguh nikmat dan damai. *Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan wahai manusia*

Atas tekad yang kuat untuk mencapai puncak saya pastikan untuk terus melangkah. Otot lengan, betis, dan paha benar-benar bekerja kali ini. Cukup Ekstrim.

Puncak yang entah sampai kapan dijajaki, kini perlahan nyata dilihat. Kami pun sampai di puncak dengan selamat. Banyak pendaki di sana. Walaupun jalan daki kami tidak terus menanjak, kami memutari jalan untuk sampai puncak, tapi tetap saja sampai juga di puncak. Tapi lain waktu saya akan coba untuk benar-benar menanjak. 😀

Sampailah Mandala Wangi..

Dekat puncak ada tempat yang terkenal yakni Mandala Wangi, di mana banyak hamparan edelweis di sana. Saya pun ikut menikmati pemandangan. Karena lelah, saya pun tertidur pulas di bawah hangatnya Matahari dan di atasnya pepasiran. Sebelum tidur saya sempat mewujudkan misi, yakni berfoto sambil membawa tulisan.

100_4245

 

Ucapan untuk Ayah tercinta di rumah untuk 25 Oktober nya. Perjuangan mendaki ingin saya buktikan bahwa keringat ini, tekad kuat ini sedikit saya persembahkan untuk laki-laki hebat yang sudah menjadi pelindung di setiap hati yang lara. Mungkin Saya belum bisa memberikan segelanya untuk dirinya, tapi langkah ini langkah yang mengisyaratkan keseriusan saya untuk memberikan segalanya jauh lebih berharga walaupun harus saya relakan diri ini nantinya. 🙂

Oke, lanjut ya..

Sebelum turun saya dan ke-8 teman, mencoba narsis dengan berbagai gaya. Lihat ini ..

IMG-20141020-WA014

Dari kiri belakang (Hendri,Bagas, Aje, Are, Bang Rizal). kiri depan (Ka Reza, Saya, dan Adit), Edo?!. Doi yang motoin.. 😀

IMG-20141020-WA018

Dari kiri (Edo, Aje, Bagas)

IMG-20141020-WA029 IMG-20141020-WA032 IMG-20141020-WA037 IMG-20141020-WA051 SAM_0330 100_4255 100_4250 100_4257 IMG-20141020-WA038

 

Setelah dzuhur, kami bergeas turun gunung. Perkara turun gunung pun tidak mudah. Lutut harus senantiasa kuat menahan agar tidak terperosok jauh. Seperti biasa, kelompok kami terpecah menjadi 2 kelompok. Kelompok kedua, yakni Saya, Aje, Adit, Bagas, dan Bang Rizal. Setiap ada turunan, saya melakukan atraksi perosodan. Huaaa.. ini menyenangkan. Melewati tebing yang belum pernah saya bayangkan, awalnya menakutkan, tapi sekarang nagih untuk ke sana lagi. hahahaha…. :p

Bahkan jatuh akibat bergelayutan di batang pohon pun saya alami. Atuhlah, semua anak-anak pada ngakak liat gue jatoh. Dasaaaar sampeeeeuuuu !!.

Tapi jika itu, menjadikan cerita menarik di antara kita, sih enggak apa-apa lah. 🙂

Di perjalanan segala obrolan tumpah tanpa gengsi. Segala rahasia kini jadi rahasia umum semua. Bayangkan di bawah langit yang sama, di jejak yang sama dalam waktu singkat kami sudah tahu rahasia masing-masing. haha..

Sampai di camp, tanpa jeda kami pun bergegas packing. Kira-kira setengah empat kami lanjut menelusuri perjalanan turun. Jalur pendakian yang sudah kami lewati pada malam hari ini, akhirnya terlihat juga. Terutama ketika melintasi bebatuan air panas. Tiba-tiba rasa takut menghampiri di pikiran, ya takut jatuh lah, takut panas lah, dan bla bla bla. Masalahnya ketika pendakian malam, saya tidak melihat ada jurang di bawahnya. Ketika harus melihat nyata dalam mata, gonjreeeeeeng !!!!!!. Serem coy !.

Kaki tiba-tiba enggak bisa digerakkin. Entah apa yang dipikirkan para antrean pendaki di belakang. Mungkin mereka berpikir, “Ni cewek lama amat sumpah”. :p

Alhamdulilah, ada bang rizal. Dia mau membantu saya dan Aje. Tapi kalau dipikir-pikir, rintangan batu air panas itu enggak susah-susah amat. Saya nya aja kali ini yang lebay. Tuh kan jadi nangih ke sana lagi. Haduuh gimana ini?!.

Perjalanan turun kembali berlanjut, tidak lama turunlah gerimis. Tapi tidak lama. Langit mulai gelap. Perlu diingat head lamp penting dalam pendakian. Kalau tidak kaki mu akan terkilir, macem saya ini. Kontur bebatuan yang tajam mengahruskan kita memakai sepatu dan penerangan. Karena itulah, saya harus dipapah oleh Bang Rizal untuk sampai pos pertama. Tapi akhirnya sampai juga kan di pos pertama dengan selamat. Alhamdulilah…

Satu hal yang menjadi rasa syukur di Pangrango selain udara dan keheningan sunyi, ada aliran air yang segarnya tiada tertandingi. Murninya mata air di sana, lagi-lagi harus kita syukuri bahwa Allah menciptakan sesuatu begitu berharga. Maka dari itu, ayo jaga hutan di Indonesia. Cintailah lingkungan untuk tidak buang sampah sembarangan. Karena tatanan mereka sudah begitu apik, untuk keseimbangan hidup manusia.

Banyak pelajaran berharga selama perjalanan pendakian. Di sana, kita jadi banyak belajar bagaimana menilai seseorang. Menahan ego. dan perang melawan ketakutan yang sebenarnya hanya kamuflase. *tsaaaah*

Sampai ketemu lagi Pangrango…!!

Adioos..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s