Ketika Ikhlas dengan Ibu

Wahai hati,

Taukah engkau bahwa harus ku akui aku sudah melepas perasaan ku selama ini.

Perasaan yang membuat ku selalu sakit berkali lipat, atau hanya teriris tajam oleh belatinya.

Aku tidak menyalahkan siapa pun untuk ini.

Bukankah menyalahkan adalah remehan pahala mu?

Sayang bukan?!.

Aku tahu hidup ini adalah sementara.

Usah ku pikir apa yang bukan untuk ku nantinya.

Itu prinsip ku.

Aku ingin hidup ku ringan, walau ringkihku akan menjerit keras.

Di saat semua hampa dan putus, Aku tahu ada dia yang selalu ada dan melihat ku.

Hatinya tidak akan putus pada ku.

Walau ringkih ini meredam dalam.

Sonar ku menggetarkan intuisinya. Luar biasa bukan?

Ibu, tahukah engkau kini ku sangat percaya kepada mu.

Suka duka, gelak tawa, dan ritihan air mata sudah ku lalui bersama mu selama 25 tahun.

Kau sangat tahu mulus busuknya diri ini.

Mudah bagi mu, membaca angan, walau diam.

Mudah bagi mu, meraba watak, walau gelap.

Ibu.. sulit bagiku mencari dia yang akan menyayangi ku dan menyayangi dirimu.

Aku tak tahu mengapa begitu sulit melampaui ini.

Hasrat ku terlalu tinggi, bukan Tenang ku.

Jadilah Tenang bagi ku, Ibu.

Aku siap memulai hati yang baru untuk petunjuk mu.

Karena kebaikan bagi mu adalah kebaikan untuk ku.

Bahagian mu adalah bahagia untuk ku.

Aku ikhlas meredam cita ku, jika ini baik untuk mu.

Sungguh aku sudah ikhlas.

Aku punya Allah yang senantiasa membimbingku nanti.

Kini, harus ku siapkan mentalku menjelang masa depan baru ku.

Dengan siapa yang hanya aku ikhlaskan dengan keputusan-Nya.

Doakan..

Iklan
By alwayskantry009 Posted in my soul

Penjahat itu Bernama Saya

 

Lama sudah saya menanti kebersamaan dengan ketiga teman semasa sekolah menengah atas. Tiga tahun kami bersama tertawa, menangis, berjalan, berlari, menuntut ilmu, dan merangkul satu sama lain, sehingga kami saling merasakan rasa perih dan pedih dari setiap prahara dalam hidup di rumah.

Hingga sore itu, hanya ada kami bertiga, bukan berempat seperti biasa. Satu di antara kami masih harus berjuang di Jogja untuk menyelesaikan studi strata satu. Di tempat bilangan Kota Depok, kami bertemu selepas menghadiri pernikahan salah satu sahabat yang jaraknya tidak jauh dari tempat kami berkumpul setelahnya.

Pertemuan kami siang itu, cukup durja. Harus saya akui, masa-masa seperti inilah yang menjadi ciri khas kami berempat. Ciri khas yang membuat kami kangen satu sama lain. Pertemuan yang selalu berisi percakapan suatu masalah yang sedang kami alami. Tidak urung waktu habis berjam-jam hanya untuk memecahkan masalah, mendengarkan dengan seksama segala curahan hati, atau tidak juga lantas percakapan hanya monoton itu-itu saja, terkadang lelucon ala MWAK pun pecah di tengah keseriusan obrolan.

Sebelum saya bercerita panjang lebar, harus saya ceritakan apa yang dimaksud dengan MWAK. Layaknya satu geng pertemanan biasanya tidak afdhol jika tidak memberikan nama sebagai identitas. Berpikir panjang, mutar kepala ke sana ke mari, akhirnya spontanitas kami labelkan dengan singkatan dari nama kami berempat, Maryanti, Wiwid, Arint, dan Saya (Kantri).

Terbentuknya keempat itu, berawal dari organisasi rohani islam di SMA kami, yang dimulai dengan mentoring mingguan. Kebetulan saya dan Wiwid adalah teman lama semasa kami di SMP. Sedangkan Maryanti dan Arint adalah teman semasa SMP. Yeah, tidak ada yang mustahil dan tidak ada yang serba kebetulan dalam perjalanan diri manusia. Kami pun percaya pertemuan dan pertemanan kami adalah takdir terbaik yang Allah hadiahkan untuk kami berempat.

Masih ingat dalam kenangan, kami sering bermalam bersama di salah satu rumah kami secara bergiliran. Banyak kegiatan yang kami lakukan, mulai dari bercand, tilawah berjamaah, qiyamulail bersama, curhat bersama, dan belajar bersama. Kebersamaan itu luar biasa tak akan pernah terlupakan dalam hidup.

Kebersamaan kami memang tidak selalu mulus. Layaknya sebuah hubungan manusia, hubungan kami pernah dilanda permusuhan dan perkelahian satu sama lain karena kesalah pahaman dan kecemburuan. Lucu memang, harus saya akui cemburu tidak melulu menyoal hubungan antara dua lawan jenis. Tetapi juga seperti pertemanan di MWAK. Tapi, alhamdulilah konflik memang membuat kami dewasa. Dan itu yang membuat kami menjadi makin dekat satu sama lain, dan akhirnya pun tahu bagaimana watak masing-masing. Ibarat kata, saya diam ketiga teman saya sudah bisa menebak perasaan saya saat itu.

Hubungan itu yang membuat kami kian dekat selepas lulus SMA. Di mana masing-masing tepisah, seperti saya dan Wiwid yang harus ke luar kota, sedangkan Maryanti dan Arint tetap di Jakarta. Bendera kampus yang berbeda satu sama lain, membuat kami tidak putus silaturahmi. Bahkan, di beberapa hari kami mulai perkuliahan, kelompok holaqoh kami tetap berjalan. Ini luar biasa bandelnya. :))

Atas dasar petimbangan ini itu, mau tidak mau kami pun harus mengikuti kaderisasi kampus masing-masing. Harus ku syukuri, pecah kelompok liqo tidak lantas membuat kami cerai begitu saja. Masih banyak fasilitas komunikasi yang membuat kami selalu rindu satu sama lain. Mulai dari hal perubahan kecil, sedikit demi sedikit begitu terlihat di penampilan kami. Jika dulu masih menggunakan celana jeans untuk berpergian, kami sudah tidak menggunakan celana seperti itu. Jilbab kian lebar menutupi dada dan bagian tubuh lainnya menunjukkan kami bangga akan pesan terbaik dari murobbi kami yang mengatakan, “terimalah perubahan jika nanti jilbab mu akan terurai panjang menutupi dada dan lekuk tubuhmu. Terimalah lurusnya kaki mu tanpa garis batas antara keduanya, dan yang paling penting berubah menjadi pribadi yang makin sholeha mempertahankan amalan yaumi. Berkontribusilah untuk ummat. Hingga nanti pertemuan selanjutnya kita bisa saling rangkul dengan air mata haru bahwa persaudaraan adalah takdir terindah untuk kita”.

Pesan itu benar akhirnya.

Sekarang, di saat sudah tujuh tahun kami berpisah, dan bertemu lagi di kota yang sama, rasa syukur itu akan ada di hati paling dalam. Ukhuwah kian dekat setelah apa yang kami lalui akan terus menjadi agenda pembahasan dalam gurp komunikasi. Baik salah satu di antara kami ¬†ada yang sedang menjalani proses ta’aruf, masalah kerjaan, pendidikan, dan masalah keluarga akan menjadi agenda kami berempat. Keluarga kami boleh berbeda, tapi hati kami adalah satu. Bagi saya, keluarga mereka adalah keluarga saya juga, pun begitu sebaliknya.

Seperti saat ini, satu sahabat kami sedang memiliki masalah kami pun ikut memecahkan masalahnya. Sepulang menghadiri pernikahan Intan (teman baik kami) saya, arint, dan maryanti dikejutkan dengan curahan hati dari Ibunda sahabat kami, Wiwid. Wiwid ternyata sudah setahun lebih tidak menghubungi sang ibunda, walaupun hanya menelepon. Jujur melihar wajah ibunda Wiwid, ada rasa pedih membayangkan bahwa ada sesuatu yang sedang dialami Wiwid. Bahakan komunikasi saya dengannya menjadi terputus karena Ia tahu, bahwa saya sudah tahu semua cerita keluh kesah sang Ibunda Wiwid kepada kami bertiga. Walau sebelumnya, sempat saya berkomunikasi WA dengan Wiwid  dengan begitu hangat. Dan tiba-tiba saja Wiwid dingin tidak membalas pesan di WA untuknya. Padahal saya tahu, Ia pasti sudah membaca pesan saya itu.

Karena keluarga Wiwid satu persatu menghubungi saya melalui social media untuk meminta pertolongan untuk mencari dirinya, saya pun tergerak untuk mencari kondisi Wiwid dalam hal akademik dan personalnya. Saya tahu Ibunda dan Ayahnya sudah merindukan Wiwid untuk pulang dan tak sabar untuk melihat anak keduanya untuk mendapatkan gelar sarjana. Bagi mereka, Wiwid adalah kehormatan yang luar biasa. Bisa lulus tercatat sebagai mahasiswa UGM saja, kedua orang tuanya sudah begitu bangga apalagi jika Wiwid lulus dengan hasil baik dan bisa mengangkat martabat orang tua saya yakin hanya itu keinginan ornag tua di mana pun berada. Saya pun demikian. Orang tua Wiwid mengingatkan saya dengan kedua orang tua saya yang ketika itu memiliki asa yang sama dalam akademik saya.

Ternyata tidak hanya saya, Arint dana Maryanti pun memiliki benang merah yang sama. Intinya, setiap orang punya masalah. Namun berbeda pangkal permasalahannya. Bukankah, Allah tidak akan memberikan ujian kepada hambanya yang tidak mampu menghadapinya?.

Oh makasih Allah, air mata itu membuat saya sadar bahwa Allah Maha Adil. Ada rasa syukur mendalam bahwa Ia masih memberikan kemudahan akhirnya, walau harus dilalui dengan air mata yang sulit mengering. Kami bertiga sudah melewati fase itu, dan sekarang mungkin tantangan itu sedang menguji sahabat kami.

Tak putus asa, bagi saya untuk mencari Wiwid. Entahlah harus mengucap syukur ataukah apa. Semasa organisasi di Unpad, saya cukup banyak memiliki teman lintas kampus se-Indonesia. Hubungan itu yang membuat saya mencari jalan pintas untuk mencari kondisi Wiwid melalui social media. Namun amat sayang sekalin, upaya yang sudah saya jalani mungkin ada kesalahan yang tidak diterima oleh Wiwid. Saya sudah meminta bantuan akun bem UGM untuk mencari keberadaan Wiwid ke seluruh fakultas. Alhasil, beritanya cukup heboh. Dan Wiwid marah kepada saya.

Saya sadar saya salah. Saya pun tak urung meminta maaf berkali kali setiap hari pada pesan singkat WA. Bahkan, saya pun mengirimkan lagu untuk Wiwid sebagai ucapan maaf. Cukup lama Wiwid tidak merespon pesan WA saya. Mungkin Wiwid jengah juga dengan saya yang terus menerus mengirimkan kata maaf, ia pun membalas dengan emosi. Dan sedikit membocorkan apa yang sedang terjadi pada dirinya dan keluarganya selama ini. Saya pun membatasi diri saya untuk masuk terlalu jauh, akhirnya saya hanya mencoba menunjukkan bahwa saya siap menjadi tong sampah untuk Wiwid. Anytime, ia bisa bercerita dan menghubungi saya sesuka hatinya. Setelah itu, ia pun tak membalas WA saya di hari berikutnya. Well, ternyata pesan singkat pun juga diberikan oleh Maryanti dan Arint. Dan hasilnya pun sama.

Rencana kami bertiga pun sempat mencuat untuk menemui Wiwid ke Jogja. Tapi sangat disayangkan, saya tidak bisa karena waktu kerja yang sulit libur dan mengambil izin. Lalu apa yang harus kami lakukan untuk menolongnya?

Wahai Wiwid, saya memang penjahat yang sudah membuat porak porandakan dunia mu hingga sulit kau menyepi di area milikmu sendiri. Tapi Wid, harus berapa kali saya sampaikan, bahwa kami sayang Wiwid. Ingat ikrar kita Wid, jika kita sering mendoakan kebaikan untuk orang lain, maka kebaikan itu akan kembali menghampiri si pemohon tadi. Itu artinya, kebaikan mu adalah kebaikan saya juga. Keresahan mu adalah keresahan kami juga. Kesedihan mu adalah kesedihan kami juga. Maafkan saya yang sudah terlampai jauh menerobos pertahanan mu. Ingin sekali saya datang dam memeluknya dan mendengar segala pedih di benak mu. Dan sayangnya hanya ini, kebodohan ini yang saya lakukan. Maaf ya Wid. Beribu kali kata maaf akan terus menggema di bibir dan hati terdalam saya. Semoga Wiwid dimudahkan segala urusan dalam skripsi, dan Allah terus membanjiri rejeki hingga kau akan lapang.

Di sini, kami akan terus berharap ada kecerahan di balik durjanya langit mu. Bukankah persaudaraan jauh lebih berharga dari pada persahabatan. Coba terangkan bagaimana saya bisa menunjukkan bahwa kami di sini juga ada untuk mu.

Semoga Allah menyampaikan ini Wid..

Aamiin..

Maafkan penjahat ini telah melukai mu..