Ucapan Selamat Natal, Bagi ku

 

Harus saya tulis mengenai apa yang sudah saya lalui dua hari yang lalu. Ketika itu, sehari sebelum Hari Raya Natal bagi kaum Nasrani, 24 Agustus saya sudah ada di kantor tepat pukul 7.30. Menyeduh susu cokelat hangat dan segenggam roti tawar yang satu persatu saya celupkan ke dalam genangan kental dan manis di depan mata.

Belum ada siapa-siapa di pantry itu. Sambil membaca beberapa lembar kerja dan majalah, saya berusaha menangkis pemikiran yang beberapa hari lalu mengiang dengan liar. Rasa takut yang membara akan sesuatu yang bersifat prinsipil menjelma menjadi wujud nyata setelah pesan singkat sosial media saya bunyi dari bos saya. Pesan singkat yang membuat lemas dan berpusara di udara sanubari. Rasa susu cokelat berubah menjadi pahit, dan roti tidak lagi renyah disantap.

Pukul 08.00 seisi kantor sudah mula dipenuhi oleh seluruh karyawan office. Saya pun segera menyelesaikan pekerjaan saya. Tidak lama, seorang atasan saya datang dan mengunjungi ruangan saya sambil tersenyum dan berkata,

“Pagi !. Kantri, kamu jangan lupa ya bikin greetings card selamat natal dan tahun baru dong untuk semua customer kita”.

Tangan saya yang semula sibuk dengan menyelesaikan worksheet satu persatu, tiba-tiba terdiam. Ini benar nyata rasa takut itu hadir kala itu. Gejolak hati muncul sambil berkata, “Sudah lakukan saja”. Namun di sisi lain, hati saya berkata tolak.

Dengan berani saya pun berkata, ” Maaf pak, greetings card yang sudah saya buat untuk happy holiday 2015. Bukan untuk Natal”.

Mendengar jawaban saya, atasan saya langsung menimpali kalimat dengan, “Yasudah tambahkan saja dengan selamat natal dan tahun baru. Happy holiday”.

Entah mengapa, darah saya mengalir terasa deras di dalam tubuh. Dan dengan memaksakan keberanian serta tubuh yang bergetar hebat, saya pun mengatakan, “Sebelumnya mohon maaf pak, saya tidak bisa membuat kartu ucapan selamat natal, karena kepercayaan saya melarang untuk mengucapkan itu”.

Atasan saya terdiam, sambil berkata, “Tapi kamu kan tugasnya mengatur semua branding image perusahaan di mata customer. Bahkan segala konten website dan social media kamu yang buat. Kalau kamu tidak bersedia gimana jadinya?”.

Keberanian saya kian memuncak, dan mulut begitu mudah untuk memberikan solusi tanpa saya berpikir panjang.

“Endorse saja pak untuk desain kartu ucapan. Biar jasa endorse diganti dari gaji saya, dengan segala ketentuan”.

Jadilah solusi pemotongan gaji itu dilakukan. Bagi saya pun tidak begitu keberatan menerimanya. Toh saya yang menyarankan. Wahai sodara, polemik itu kian masih membara di Indonesia. Saya tidak menyalahkan siapa di belakang layarnya. Namun, tetap bagi saya, Bagi mu agama mu, dan bagi ku agama ku. Saya tetap menghormati mereka yang tidak satu kepercayaan dengan saya. Namun, saya tidak bisa melukai Maha Tuhan saya yang bagi saya adalah yang paling benar. Begitu juga dengan hari besar saya, saya pun tidak merasa terisnggung jika tidak menerima ucapan selamat dari mereka yang berbeda keyakinan.

Cukuplah kami melindungi mereka yang ingin beribadah di negeri ini. Sekali lagi tidak mengucapkan bukan berarti tidak menghormati. Namun jauh dari itu, kehormatan dari mereka kaum berbeda adalah melindungi. Ini sama halnya dengan ajaran kami yang telah diajarkan oleh para pemimpin sebelum kami.

Jika banyak dari kami yang masih mengucapkan selamat kepadamu, tolong jangan salahkan saya ataukah mereka. Ini semua adalah bagaian proses pembelajaran keyakinan kami yang hanya kami serahkan semuanya kepada Tuhan Allah. Cukup Allah menilai itu semua. Karena nanti, di akhir kami akan berpisah dan akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang sudah kami kerjakan masing-masing di dunia.

Bukankah doa lebih tinggi derajatnya sebagai kehormatan, dari hanya sekedar ucapan. Semoga kalian memahami ini..

 

 

Iklan
By alwayskantry009 Posted in my soul

Celoteh Sang Utusan

 

Apa jadinya, bila diri seseorang sudah merasa paling hebat ?. Jika jadinya akan berkuasa, sudah pasti. Kekuasaan adalah hasil capaian di saat seseorang sudah merasa paling benar. Mungkin bagi sebagian pihak, kekuasaan adalah tirani. Namun, bagi ku tidak. Kekuasaan adalah pucuk atas usaha yang sudah dilalui setelah melihat permukaan bawah yang sudah diamati jauh-jauh hari. Artinya. dengan kata lain perjalanan penuh makna yang panjang.

Dulu, konsep kekuasaan adalah Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Sudut pandang lain jug mengatakan bahwa kekuasaan adalah kekal. Masih ingat di pikiran kita, bahwa kekuasaan seolah harus dimusnahkan di muka bumi ini, dengan cara pemberontakan membabi buta. Tragedi 98 memberikan pengalaman luar biasa untuk itu. Puncak dari segala pergolakan menentang tirani yang sudah dirintis sebelumnya itu, menjadi tonggal runtuhnya Sang Penguasa kala itu.

Harus diakui, pasca 98 otak orang Indonesia mulai terdoktrin dengan istilah kebebasan. Mulai dari bebas berpikir, bebas ber-Tuhan, bebas memilih, hingga bebas me-akhiri hidup. Bercokol ragam budaya dari belahan bumi yang lain menjadikan orang Indonesia berdikari dengan alasan bebas. Apakah manusia benar-benar membutuhkan kebebasan untuk menjalankan perannya di bumi?.

Pertanyaan inilah yang kemudian menjadikan tulisan ini dibuat. Hanya ingin menuangkan apa itu keresahan hati sebagai manusia di tengah-tengah gambaran mereka yang bebas dan merasa bahwa bebas itu akan membawa kebaikan untuk jiwa manusia sendiri.

Pemikiran ini, membawa sugesti khusus pada diri ku untuk merumuskan apa itu kebutuhan manusia. Harus ku syukuri, perjalanan ini cukup panjang, walau dengan keletihan hingga ke sendi, sepanjang hari tubuh ini tetap produktif. Tiga bulan harus pulang pergi Depok-Tangerang-Depok adalah perjalanan yang menyenangkan. Di mana setiap subuh harus segera bergegas mengejar kereta, hingga akhirnya akulah yang paling pagi tiba di kantor. Dan selalu pulang paling malam di antara yang lain. Bukan ingin sombong. Bukan!. Tapi hanya ingin merunut rasa syukur untuk hidup ku.

Jauh-jauh hari sudah kuredam omongan orang lain atas penilaian hidup ku. Karena ku tahu, hidup ku adalah tujuan. Tidak berlibur layaknya orang lain, bukan berarti aku tidak bahagia. Sekali lagi bukan!.

Harusku sampaikan kepada dunia, bahwa hidupku bahagia dalam bentuk apa pun. Ketika kepala mulai pusing berfikir untuk setumpuk program kerja dan target perusahaan, ketika punggung pegal karena harus berjam-jam duduk di depan laptop, atau ketika kaki ronta karena berdiri menempuh jarak yang tidak dekat, Aku memiliki hiburan yang tidak mereka miliki, tentunya. Semua pengamatan yang kutemui adalah hiburan ku.

Bisa melihat segerombol buruh pabrik yang meraut juang menerjang waktu, atau buruh berdasi yang hanya bisa termangu, itulah hiburan ku selama ini. Satu hal yang masih aku ingat, ketika libur panjang tidak diterapkan oleh perusahaanku, entahlah hatiku berdesir damai, dan mengganggap kewajaran. Apabila kami semua libur, tentu apa jadinya nasip bangsa ini. Bagaimana orang Indonesia bisa memenuhi kebutuhan sikat gigi, memenuhi pangan mereka. Bahkan tidak hanya bagi orang Indonesia, ini berlaku untuk semua orang di belahan bumi lain yang menjadi pasar eksport perusahaan kami.

Mungkin bagi sebagian orang, ini kejam. Tapi bayangkan, jika semua merasa bahwa ini adalah kekejaman yang harus ditindas. Mungkin negara ini akan kolaps. Maksimalkan apa yang kita punya, itu prinsip ku, dan berilah apa yang terbaik dari ku, itu tujuanku, dan lihatlah senyum dari mereka, itu harapanku.

Menjamin kualitas waktu dan sumber daya juga merupakan hal yang lazim dilakukan oleh mereka yang berkuasa. Mereka yang berkuasa akan memiliki visi besar yang hampir sama. Kuantiti tidak selalu menjamin kualitas, tapi efesiensi dan efektif adalah kunci kualitas. Dan, tidak urung memang mereka yang merasa tak miliki kuasa akan merasa ditindas oleh tirani. Lalu pertanyaan kedua muncul, mungkinkah ini hal biasa terjadi, dan sudah pasti terjadi?

Ibu ku juga seorang pemimpin, pernah berkata kita tidak bisa mengabulkan semua keinginan setiap orang. Sebagai seorang pemimpin, hal yang harus dilihat adalah arah dan tujuan kita berlabuh. Seorang pemimpin posisinya selalu tinggi, sebab dari tempat yang tinggi itulah, ia akan melihat lebih jauh dibanding pengikutnya. Tidak hanya melihat jauh atas tujuan ke mana armada ini akan berlabuh, tetapi juga dapat melihat pengikut di bawahnya. Artinya, pemimpin yang benar sudah pasti tidak akan diktator dan mendzhalimi pengikutnya. Karena dia serba tahu setiap kondisi pengikutnya, itulah sebabnya strategi dibutuhkan bagaimana mekolaborasikan kondisi sumber daya dengan tujuan bersama.

Aku percaya setiap orang dilahirkan menjadi seorang pemimpin. Tentu masing-masing memiliki ego tersendiri. Dan hirarki tetap menunjukkan tempat tertinggi adalah seorang pemimpin, hidup matinya sistem ditentukan oleh pemimpin. Bagus buruknya pengikut ditentukan oleh pemimpin. Sebab, pemimpin juga harus memberdayakan. Sulit memang menjadi pemimpin. Karena, amanah besar tentu resiko pun besar. Tidak hanya resiko dunia, tetapi resiko akhirat. Satu simpulannya, ketika amanah besar kau dapatkan, janganlah menimbang pahala yang akan didapat, tetapi godaan dosa yang tidak akan lelah menghampiri. Salah-salah jurang neraka di depan mata. Naudzubillah..

Pertimbangan itulah yang akhirnya meyakinkan saya bahwa diksi “Jika” “apabila” “bilamana” adalah sakti. Karena nanti, akan ketemu diksi “tentu” “sepertinya” dan “akan”. Hal ini serupa dengan, “Jika saya menjadi seorang CEO perusahaan, tentu saya akan melakukan hal yang sama dalam membentuk peraturan kerja yang tidak membolehkan karyawan membuka facebook di jam kerja”, misalnya.

Pemimpin bukanlah Allah, tapi pemimpin yang benar, adalah Allah yang bersama dia. Kedekatan spiritual seorang pemimpin akan kental dan taat. Apabila pemimpin senantiasa menjaga spiritualnya, sudah diyakinkah segala kebijakannya adalah restu Allah. Lalu, apabila pemimpin tidak memiliki spiritual yang benar, bagaimana sikap sebagai pengikutnya?.

Banyak pilihan yang dibisa dijalankan. Pertama, mengingatkan pemimpin. Apabila tidak ada perubahan setelah diingatkan, maka kedua mogoklah. Setelah mogok tidak berhasil, maka keluarlah menjadi pengikutnya. Konsep ini berlaku untuk semua kondisi. Pada dasarnya individu akan berjuang atas apa yang diyakini dalam hidupnya. Nilai-nilai kehidupan yang kuat tentu akan bergejolak jika diasingkan. Sedangkan nilai-nilai kehidupan yang lemah dia akan residu.

Untuk itu, dalam sebuah sistem perlu ada konsiliasi, koordinasi, evaluasi, dan rekonsiliasi. Empat tahap itulah harus dijalankan untuk merunut kembali kesepakatan kolektif tujuan organisasi. Seorang Steve Jobs mengatakan, jika dalam perannya belum menemukan gairah kerja, maka teruslah mencari. Percuma bertahan dengan kekopongan jiwa, itu sama halnya dengan hidup koma.

Berdasarkan dari apa yang sudah ku paparkan, akhirnya bisa ku temukan kebutuhan yang paling hakiki dalam hidup. Hidup bukan kebebasan. Tetapi peran yang harus dijalankan. Mungkin bebas pada awalnya, dan tidak untuk akhirnya. Karena hidup adalah proses berjuang. Hidup bukan partikel yang melaju bebas tanpa bersenyawa pada akhirnya. Pun jika fase itu bermula di sana, percayalah itu bukan tujuan sebenarnya.

Kebebasan bukanlah kebahagiaa. Tetapi bahagia adalah pandai memosisikan kita dalam kondisi apa pun. Sekalipun diri kita harus menjalankan peraturan, dan seketika dianggap tidak bahagia, sekali lagi itu tidak tepat. Mengapa?. Karena, dalam sebuah peraturan ada sebuah kesepakatan dan komitmen. Diri ku bukanlah paling hebat, hanya seorang yang ingin menunjukkan komitmen yang sudah dipikirkan jauh-jauh hari.

Sama halnya dengan pertanyaan, mengapa manusia dilahirkan?. Manusia tidak mungkin ada, jika bukan karena adanya perjanjian. Apa yang dijanjikan, itu semua akan tetuang dari petunjuk yang didapatkan di setiap episode kehidupan. Dimulai dari keseharian, itulah petunjuk perjanjiannmu.

Satu hal, jadilah manusia yang tidak merasa paling hebat, sehebat apa pun manusia dia tetap akan mati. Sekalipun kelebihan kian membanjiri, bukan lah itu kebahagiaan yang diperlukan. Ataupun keterbatasan merupakan kesedihan. Jadilah manusia yang pandai memposisikan dirinya dalam kondisi apa pun. Jadilah sahabat bagi dirimu sendiri.

Bersyukur adalah kondisi yang nikmat dan merupakan kebahagiaan paling indah. Serahkan kepada Allah yang Maha Mencukupkan. Semoga diri ini tetap mewarnai hidup, minimal untuk sendiri.

“Life always gives you what you need. Unless more than a thousand words that you want, it never give you for one on that you need”

 

By alwayskantry009 Posted in my soul

Selamat Hari Ibu, Mamah..

100_4357

Selamat hari Ibu, Mamah..

Terimakasih untuk setiap doa yang selalu terucap di sela ibadah mu. Terimakasih untuk kebaikan yang selalu engkau beri untuk diri ini. Terimakasih untuk setiap amarah yang kau tunjukkan dikala diri ini salah dan lalai. Terimakasih untuk semua perhatian tiada tara untuk diri ini yang selalu membutuhkan belaian kasih sayang. Terimakasih untuk kelapangan hati mu dikala diri ini khilaf. Terimakasih untuk waktu mu mendengarkan setiap setiap cerita tentang diri ini. Terimakasih untuk pembelaan mu untuk kelemahan diri ini. Terimakasih untuk gizi yang sudah engkau beri semasa kecil hingga sekarang. Terimakasih atas waktu subuh mu untuk membuatkan susu dan bekal siang untuk diri ini. Terimakasih untuk setiap kado disaat waktu hari jadi diri ini.

Mamah, jiwa mu bersama diri ini hingga sekarang. Wajah mu serupa dengan diri ini. Walau sifat kita berbeda, namu dapat melebur menjadi komposisi belahan jiwa yang tak tergantikan.

Mamah, setiap hari adalah hari mu. Karena setiap hari, diri ini bertekad untuk membahagiakan diri mu dan mengangkat derajat mu. Meski tak sebanding dengan apa yang engkau berikan untuk saya. Tapi Mamah engkau tahu apa yang ada di hati ini terhadap mu. Sayang ini sulit terucap dan hanya bisa saya tunjukkan dan membuktikan dengan perbuatan. Biarlah rasa sayang ini mencapai langit ke tujuh dan menggema bahwa sayang dan cinta saya begitu besar untuk mu, mamah..

Mamah, jangan pernah risau dengan masa tua mu. Karena anak mu akan selalu menjaga mu dan tidak akan pernah menelantarakan mu sampai kapan pun. Diri ini akan senantiasa berjanji akan membuat masa tua mu bahagia dan tenang. Dan tidak ada satu pun kurang dari mu.

Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan untuk mu. Karena amanah mu begitu besar, tidak hanya untuk keluarga mu, melainkan juga untuk anak bangsa. Kepemimpinan mu begitu meinsipirasikan diri ini untuk mengikuti jejak mu. Semoga Allah memberkahi peran mu saat ini.

Sekali lagi, selamat hari ibu, Mah..

I love you..

By alwayskantry009 Posted in my soul

“GAJAH” TULUS, KANTRI “GAJAH”

 

Harus saya akui, TULUS begitu renyah untuk dinikmati. Salah satu karyanya yang berjudul “Gajah” memberikan saya nilai luar biasa dalam mengingat masa kecil. Intinya, lagu ini mengingatkan akan masa kecil yang sama persisi dengan lirik lagu ini. Dulu, tubuh saya cukup besar. Ketika Sekolah dasar saya sempat naik motor berangkat ke sekolah dengan posisi duduk di paling depan. Karena tubuh yang besar, saya diketawakan sekelas karena menurut mereka saya seperti gajah mungkur.

Dulu sempat marah dan nangis, sayapun mengadu kepada kedua orang tua saya alhasil saya berontak tak mau naik motor lagi. Sedangkan kendaraan kami saat itu hanya ada motor. Ibu saya hanya bisa meredam emosi saya, sambil bilang, “Jangan sakit hati dengan perkataan orang lain. Biar gendut tapi sehat, cerdas, pintar, dan berpretasi. Tunjukkan itu ke temen-temen”. 

Walaupun dinasehati seperti itu tetap saja, hati rasanya sakit teriris. Bahkan Kakak dan adik saya pun sampai sekarang masih meledek dengan panggilan gajah.

Tapi, tidak berhenti di sana, Ibu ku masih meredam amarah dengan berucap, “Tubuh kita besar, hati kita juga besar”.

Sekarang tubuh saya sudah menyusut. Kurus dengan sendirinya. Bahkan, dahulu berpikir keras untuk diet. Tapi benar, diet itu musuh untuk kenikmatan dunia, karena yang benar adalah makanlah yang sehat, lakukan kegiatan sehat, dan berpikir sehat.

Lagu Tulus tuh saya banget lah. Oh..kenapa sama persisi dengan cerita saya. Jika mencerna setiap lirik “Gajah” ini tuh ternyata memiliki makna yang hampir sama dengan nasehat yang Ibu saya berikan kepada saya. Thanks Mom, you are my guardian angel.. 

“Kecil kita tak tahu apa-apa,

wajar bila terlalu cepat marah

kecil kita tak tahu apa-apa,

yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik..”

(TULUS)