White Day is Blurry Day *LoL

1619092_859072374113879_2289238833345195804_n - Copy 10922505_859073124113804_1645271196971487011_n - Copy 10931001_859073877447062_2450230249167082190_n 10931531_859072557447194_3178519364592306553_n - Copy 10940562_859072474113869_940768704694522693_n (1)

Iklan
By alwayskantry009 Posted in Apa sih?

Dear Nona..

 

Harus ku tulis, Nona untuk ku di sini. Di hati penuh kelapangan, tanpa syarat apa pun untuk mu.

Serius !. Kau manis, kau penuh warna, dan kau kenyamanan tiada tara.

Aku menulis untuk memberikan apa yang harus kau tanam dalam benak mu agar kau tahu mereka yang mencoba menahan tanya dalam benaknya selama ini.

Mereka, sudah bertahun menahan itu, Nona. Tak urung harus memandang rembulan atau jejak pepasiran yang akan membekas jika diinjak. Walaupun nantinya akan hilang oleh ombak.

Tapi itulah mereka.

Ku harap kau tidak menyalahkan mereka. Mereka hanya bunga dengan kemerekahan kelopak yang bervariasi.

Menunggu Matahari untuk merangsang kemerekahan dengan sempurna. Dan menolak untuk tangan jahil yang memetiknya.

Kau tahu Nona, pada hakikatnya, mereka menunggu kehangatan. Karena hangat membentuk diri mereka menjadi sempurna. Itu filosofi mereka.

Filosofi yang membingungkan, seolah berputar pada pusara yang sama. Mereka indah dalam lemah.

Bahkan, di antara mereka, ada yang rapuh jika disentuh. Harus menunggu lama hingga Sang Surya muncul di ufuk timur. Barulah mereka kembali dengan identitasnya.

Mereka tidak bisa sendiri, Nona.

Kesendirian hanya bisa mereka serahkan oleh alam. Alam tahu mana yang terbaik untuk mereka. Jika Alam memutuskan mereka tidak sendiri maka jadilah kesendirian hanyalah kenangan.

Namun, pabila alam memutuskan tidak, maka kesendirian abadi baginya.

Begitulah Nona maksud ku menempatkan mu paling mulia di sini. Karena kau adalah beda. Kau menang di antara yang kalah. Kau tidak gusar seperti apa yang biasa mereka lakukan di depan umum. Di saat mereka resah kau hanya tenang dan hanya tahu bahwa dirimu akan selalu terdepan dalam kondisi apa pun.

Terbukti bukan?!.

Wahai Nona, ku harap kau bisa jaga kemenangan mu sampai kapan pun. Kemenanganmu hanya milik mu. Dan jangan biarkan mereka mencoba merebutnya dari mu. Kau berhak mempertahankannya kali ini.

Kemampuan dan kekuatan mu adalah senjata yang tidak dimiliki oleh siapa pun. Walau ku tahu siapa pun memiliki kemampuan dan kekuatan, tapi tidak untuk kemenanganmu. Siapa pun mampu dan kuat atas kemenangan mereka sendiri.

Jadi, sekali lagi kau berhak mempertahankan itu.

Semoga Nona paham maksud ku.

 

By alwayskantry009 Posted in Apa sih?

Mau Tidak Selalu Diam

Kesimpulan obrolan dengan satpam di sela lembur di lantai 3 perkantoran di Jakarta Barat, saya hanya mau berkata, “Mau Tidak Selalu Diam”. Terkadang, bagi sebagian orang mengatakan jika gerak gerik tubuh manusia terdiam di saat ketika ditawari sesuatu itu tandanya penerimaan. Penerimaan atau biasa disebut mau, adalah bentuk positif dari energi di luar kontrol dirinya. Artinya, pengaruh luar benar-benar sudah menguasainya.

Tapi, tidak untuk bagi orang yang memiliki kecenderungan sifat koleris, suka atau tidak suka adalah wujud yang sulit disembunyikan. Baginya, sebuah penerimaan positif adalah dikeluarkan dalam bentuk sikap, senyum, atau bahkan apresiasi. Begitu sebaliknya, dengan ketidaksukaan sangat sulit untuk dihindar dalam keseharian. Justru ketika ia begitu tidak suka, ia akan berkata pedas, tegas, dan lugas to do point pada perkara sebenarnya. Maka tipe orang ini sangat sulit untuk berbasa basi.

Lain halnya dengan dominan koleris, jika sudah dipadukan padakoleris melankolis, maka sosok ini gabungan dalam hal assertive. Solusinya hanya waktu dan kondisi di dalam dirinya yang dapat merubah dengan sendirinya.

Jadi obrolan tadi seputar fenomena-fenomena manusia dalam kehidupan kita sehari-hari, atau bahkan diri kita sendiri yang mengalaminya. Mas Agung, salah satu security di ruangan saya yang memiliki tipe melankolis (sebenernya) menganggap diam adalah sikap penerimaan atau mau. Ia me-intepretasikan hal itu karena ia sendiri sudah memilik framework model-model penerimaan dan penolakan versi dirinya. Maka baginya, jika orang lain diam, maka ia bersedia atau mau.

Lucu memang, bagi saya ini sangat konyol. Bagaimana logika manusia bermain tebak tebak berhadiah dengan hal yang belum bisa dipastikan kebenarannya. Walaupun manusia dicipkatan sebuah insting, indra perasa, tapi jujur, hanya orang-orang suci yang bisa menggunakan insting itu.

Orang-orang yang hanya bermain interpretasi, bagi saya adalah orang yang hidup dengan kepesimisan. Baginya dunia khayal adalah dunia terindah. Dan itu hanya satu-satunya kondisi terindah, yang lain hanya kamuflase. Padahal intuisi juga perlu dibuktikan bukan, bukan melalui interpretasi, tetapi kenyataan yang akan menghampiri oleh waktu. Cepat lambannya kenyataan tergantung waktu yang kita inginkan. Good Will hanya ada pada orang yang selalu optimis dan jeli melihat peluang.

Oh.. semoga sabtu sore ku bahagia, walau harus lembur kejar target. ūüôā

adioss..

 

By alwayskantry009 Posted in Apa sih?

Batui, Jo Samanga’!

Angin teduh serta cuaca yang sejuk menyapa dalam damainya selasa pagi, tepat di peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Pertama, menginjakkan kaki di dataran tinggi Pegunungan Batui membuat inspirasi dan semangat menggelora. Ketenangan ini, lantas membuat saya teringat kehidupan di bagian Indonesia yang terkena banjir. Sebut saja, Jakarta. Jakarta kembali mengalami banjir di bulan yang sama seperti setahun yang lalu.

Tidak menyangka, sekarang hanya bisa melihat kondisi kota itu di luar pulau. Perlukah saya bersyukur ataukah bagaimana semestinya untuk mengungkapkan rasa simpati kepada para korban. Jika setahun yang lalu, saya masih bisa membuka posko bantuan bagi korban banjir Jakarta dan Depok, tahun ini menyedihkan memang tidak bisa membantu terjun ke lapangan. Tapi saya teramat paham, bahwa membantu juga harus dikaitkan dengan kapasitas kemampuan diri dalam memberi. Mungkin memang tidak optimal untuk membantu hingga terjun langsung ke lapangan, tapi di sana, saudara kami pun yang memiliki otoritas lebih tinggi dalam penanggulangan banjir selalu siap menerima bantuan dari siapa pun yang berniat membantu. Syukurlah..

lantunan musik the Beatles mengalun indah di telinga, sambil menemani mengasah kepekaan naluri dalam diri hingga keindahan alam di depan mata begitu melankolia, saling berhadapan bagai kokoh nan teduh. Seperti rasa rindu seorang kekasih yang terpisah jauh karena jarak. Pemandangan ini kembali menawarkan suguhan wajah, suguhan senyum, dan seguhan pelukan yang tidak dijangkau dengan tatap muka secara langsung.

Layaknya, teman yang sedang duduk di depan bungalow berbentuk klasik menghadap pegunungan ini. Pikiran ini sungguh paham, ada kerinduan di dalam dirinya ketika mengingat seorang kekasih yang berada di Jakarta. Hanya menyeruput kopi hangat khas Sulawesi, ia tenangkan hati yang gundah luar biasa. Sesekali dengan kedua tangan yang masih memakai sarung tangan untuk menghalau dingin, ia membuka telepon genggam untuk mencoba menelpon atau mengirim pesan singkat. Sang kekasih di sana pun sulit dihubungi.

Baru dua hari saja, kami di sini, rasa rindu sudah memuncak seperti seabad. Kasihan ia. Rindu menguasainya dalam kesendiriaan. Saya, tidak bisa melakukan apa pun baginya. Karena, saya tahu dalam menjalankan tugas kerja seperti ini, kami dipisahkan oleh setumpuk job desc yang berbeda. Ini tantangan luar biasa bagi kehidupan seorang peneliti yang siap menerima tugas hingga pelosok daerah. Tapi inilah maknanya. Mungkin sebagian mereka menganggap ini tidak normal. Terlebih untuk gadis seusia 24 tahun macam saya ini.

Biarlah, dalam keadaan seperti ini, saya hanya tersenyum dan bisa mengucapkan hamdalah yang teramat dalam. Perjalanan ini biarlah menjadi pengalaman sisi yang memiliki konteks petualangan. Petualangan seperti apa, ya hanya saya yang tau. Jika terus menganggap bahwa pekerjaan adalah beban hidup, justru seumur hidup kita akan merasa lelah. Namun sebaliknya, jika bekerja dianggap sebagai petualangan, maka kita senantiasa menjelajah setiap hal yang baru dalam hidup. Tentu saja, apa pun bisa menjadi baru dalam hidup kita. Kawan, Indonesia ini indah bukan?!. Seindah warganya yang tersenyum ramah menyongsong matahari di setiap harinya.

Seindah kamu, memandang diri mu sendiri dalam cermin. Seindah kasihmu memandang cinta dalam mata mu. Dan seindah wajah orang tua mu yang hangat menyambut harapmu untuk kembali pulang. Indonesia adalah mereka, mereka yang selalu kita tunggu dan kita sayang.

Adios..

By alwayskantry009 Posted in Apa sih?

Interlude 4 : Wahai Hati yang Terluka

 

Apa kabar dunia mu?

Ku tau, tanpa kau sebut apa kiranya dalam diri hingga kau muram.
Tulisan itu yang kau buat, menyapa ku dalam diam.

Perih, ku baca.
Lantas, begitu kau nikmati sayatan makna dalam kata yang kau tulis sendiri.
Dunia ini luas, kawan !

Layar pun tak kunjung lelah berlayar di malam dan sore.
Demi, dunia yang luasnya tak sanggup dicapai.

Jika terasa perih, biarlah itu mengering dengan waktu.

Jadikan hati berlayar kawan !
Walau mungkin kau akan mati diterjang ombak.

Tapi, tak apa !
Setidaknya kau berjuang hidup.

Biarlah hati mu mati di saat yang tepat.
Bukan kemarin, bukan saat ini, atau besok.

Tapi nanti,
Saat hati, melebur dalam cangkangnya yang kokoh.

By alwayskantry009 Posted in Apa sih?

Pengakuan di Hari Ibu untuk Ibu Ku

Tepat di Hari Ibu, hari Minggu di Bulan Desember berubah menjadi sendu oleh rintikan air hujan yang tak kunjung reda, saya memandang beberapa tampilan foto-foto dan gambar-gambar di media sosial. Banyak dari mereka tak urung untuk menunjukkan sisi kemesraan dengan sosok Ibu.  Kalimat terimakasih dan ucapan sayang untuk Ibu mendampingi makna dalam foto-foto tersebut. Mungkin ini pertanda bahwa memang waktunya kita sebagai anak, sekali-kali merenung atas hubungan Ibu dan Anak pada kehidupan kita masing-masing Ya, merenung hubungan dua insan manusia yang terjalin dari kekuatan batin secara alamiah.

Kita mulai dengan pertanyaa, sudah berapa lama kita hidup di dunia?,

Saya, yang tahun ini sudah 24 tahun, menyadari bahwa sudah 24 tahun lebih 9 bulan, Mamah (Sapaan manis untuk Ibu bagi saya) menemani dengan segala cerita di dalamnya. Dengan perjuangan yang tidak ringan harus dilaluinya ketika mengandung janin bayi yang tentu diharapkan atas Cinta. Harapan dan doa terus mengalir di setiap makanan yang masuk ke dalam plasenta, atau aliran darah yang memompa denyut nadi sang janin membungkus hanggat dunia rahim yang melindungi diri saya untuk bersabar menyambut sebuah dunia yang fana.

Seorang perempuan yang sedang mengandung, tentu biasanya mengalami gangguan fisik. Seperti mual, pusing, pegal-pegal, kaki keram, tidak bisa tidur, susah buang air besar, dan masih banyak lagi kendala yang disebabkan oleh kami yang kala itu masih menjadi jabang bayi. Saya dapat memaparkan semua itu, memang bukan karena empiris pribadi, akan tetapi pengamatan pada segelintir para rekan yang sedang menjalani masa kehamilan. Bagaimana ia tidak bisa tertidur tenang, disebabkan seluruh punggung begitu terasa sakit dan pegal. Belum lagi harus terbangun di tengah malam, karena harus meregangkan betis kaki yang tiba-tiba tertarik keram.

Kejadian unik itu, membawa bayangan semu sebuah analogi yang saya buat sendiri mengenai nasib mamah saya ketika harus menjalani kehamilan. Apakah saya begitu menyusahkan?, menyengsarakan tubuhnya?, apakah saya membuanya muntah?, apakah saya selalu membuat keram pada betisnya?, apakah mamah saya menikmati masa kehamilan itu?, atau jangan-jangan justru membenci masa kehamilam itu?.

Jika dilihat dari gambaran rekan-rekan yang sedang hamil, saya sangat takjub atas apa yang mereka alami dan mereka rasakan. Segala kesakitan mendera selama sembilan bulan itu sontak resesif hanya karena Cinta yang ikhlas. Sesekali ketika harus merasakan kelelahan, sang Ibu turut mengusap-usap perut seraya berkontak bathin menyampaikan pesan, “Tumbuhlah menjadi anak yang sabar ya Nak, sesabar Ibu mu yang mengandung mu saat ini”

Bulan demi bulan dilalui, hingga pada waktu melahirkan tiba, percayalah Ibu akan lebih mempersiapkan mental lebih kuat dibanding masa kehamilan. Bak, akan berdiri pada dua keputusan hidup dan mati, atau semacam menjemput maut dengan begitu sadar, Sang Ibu jauh dari rasa gentar dan takut. Perjuangan yang membuat saya merinding ketika harus membayangkan cerita-cerita dari mamah, bagaimana proses persalinan itu adalah hidup dan mati.  Lantas, apa yang membuat mereka berani?, sekali lagi Mamahku menyampaikan, demi kamu.

Hingga takdir, melahirkan diri ini ke dunia, Seorang Ibu, dengan tangis haru akan bersyukur. Bahkan, kesakitan proses persalinan konon katanya tiba-tiba menghilang tidak terasa lagi. Air susu dari puting payudara mengalir deras untuk kesuburan sang bayi. Tangan halus Ibu dengan wajah pucat, ia tepis demi pesan moral bermakna yang tidak lain tidak bukan, “Tumbuhlah menjadi anak yang kuat ya Nak, sekuat Ibu mu yang berjuang melahirkan mu”

Tubuh mungil kian meranjak tumbuh besar. Hingga tidak terasa sudah 24 tahun lebih 9 bulan kebersamaan saya dan Ibu saya tertanam dalam balutan beragam cerita. Menurut kebanyakan cerita, Ibu bagi anak perempuan adalah sahabat. Ternyata memang benar adanya. Bagi saya pun demikian. Walaupun terkadang, sesekali berbeda pendapat, kami tetap sahabat. Pertengkaran adalah bumbu introspeksi kedewasaan yang harus dijalani. Meskipun, pada kenyataannya memang seorang anak yang selalu banyak kesalahan dan melakukan dosa dengan menyakiti hati sang Ibu.

Kekesalan demi kekesalan yang muncul justru menjadikan sang anak menyadari bahwa dibalik kekesalannya, ada rasa syukur atas perlakuan sang Ibu untuknya. Maka sering kita dengar ucapan sakti sang Ibu yang mengatakan, “Percaya sama Mamah/Ibu !. Karena, omongan Mamah adalah benar”

Memang terdengar seperti keputusan dewa rahwana, ucapan itu walau menyakiti sebuah kenyataan yang tidak kita inginkan, tetapi ternyata terbaik untuk diri kita. Sudah selayaknya kita bersyukur dengan pertengkaran-pertengkaran kecil antara anak dan Ibu, yang akhirnya membuat diri kita sebagai anak menyadari kebenaran dan kebaikan untuk diri kita.

Sampai kapan pun, Ibu tidak akan meminta balas budi dari anak-anaknya. Itu lah yang ia sampaikan kepada saya. Karena satu, baginya kebaikan dan kebahagiaan untuk anaknya lah yang terpenting. Melihat anak-anak mereka tumbuh menjadi orang yang sukses yang dapat mengangkat harkat dan martabat keluarga, itu kesan yang akan diadukan kepada Malaikat.

Terkadang, ego anak memang lebih besar dari pada orang tua mereka. Dengan ke-Akua-an yang dimiliki seorang anak, membutakan hati kecil sang mamah yang sudah mendoakan kita untuk sukses. Inilah yang selalu saya khawatirkan. Jangan sampai, ketika ditimpa kesedihan saja, saya kembali pada pelukan sang Mamah. Sebaliknya, dalam kesenangan saya lupa dengan dirinya.

Momen hari Ibu, memang hanya sekedar hari selebrasi saja. Meskipun sebenarnya, sudah seharusnya setiap hari adalah hari Ibu. Cinta untuknya sudah seharusnya terjadi setiap hari. Tapi di momen ini, dapat kita manfaatkan dengan renungan atas apa-apa yang sudah kita lakukan, terlebih atas perbuatan yang sempat menyakiti hati sang Ibu. Ucapan-ucapan kasar yang tidak sengaja kita lontarkan. Atau bahkan waktu-waktu yang tertutup rapat baginya untuk bersenda gurau dengan kita para anak-anaknya karena kesibukan pribadi. Dan masih banyak lagi yang mungkin akan kita temukan alasan mengapa ada peringatan hari Ibu. Jika sudah terkumpulkan, maka yuk sama-sama kita songsong perubahan lebih baik lagi. Selagi masih ada kesempatan melihat dan merasakan sentuhan cinta dari Ibu untuk kita.

Selamat hari Ibu, Mamah..

You’re the best trully love one !

 

Hai, pengantin baru dengarlah curahan hati ‘kami’

Tiba-tiba seorang perempuan berusia 29 tahun datang ke meja saya sambil menggebu-gebu. Tampak tangan yang bergetar membawa telepon pintar bermereck ternama dunia, ia mengoceh tanpa tanda baca yang biasanya. Jika dilihat dari kondisinya, perempuan ini sedang begitu kalut dengan kondisi dirinya yang tidak kunjung menikah. Namun sebenarnya bukan permasalahan tidak kunjung menikah kali ini, tetapi kondisi sosial di dunia media sosial yang menyebabkan perempuan ini tampak pitam.

Segala permasalahan dan prahara hidup tumpah ruah di ruangan kantor saya. Hingga akhirnya saya menjadi tahu, bagaimana sebuah dampak media sosial online membawa dosa yang luar biasa tanpa disaadari kebanyakan orang. Facebook, yang biasa digunakan untuk menukar informasi dan memajang eksistensi pribadi itu kian merajalela menjelma racun HIV yang merogoti  tubuh orang yang sehat. Begitu jahat.

Perempuan ini, begitu risih ketika harus membuka facebook, yang kemudian terlihat status-status rekannya yang menjamur di timeline miliknya. Dia pun menunjukkan beberapa update status-status tersebut.¬† Isi kalimat itu, tidak lain mencirikan curahan hati sang pengantin baru, atau terkadang ada juga berisi sapaan manja untuk isteri/suami mereka. Ada lagi, bahkan terdapat tulisan semacam motivasi bagi para lajang untuk segeralah melepas lajang. Seperti, “Ayo Segerelah Menikah, Tunggu apa lagi !!”.

Satu lagi, beberapa dari orang-orang itu, mengunduh foto-foto mesra dengan muhrimnya. Walaupun sebelumnya ternyata tidak pernah memamerkan sosok diri di tengah publik.

Perempuan di depan saya kembali, merongrong kesal. Menanyakan kesalahan pada dirinya, kenapa tidak bisa seperti mereka yang dipertemukan dengan pasangannya. Apa ada yang salah dengan dirinya?, dan lain-lain..

Mendengar curahan hati perempuan ini, saya hanya memasang telingan, mencoba menjadi pendengar yang baik. Toh, ini mengingatkan saya dengan fenomena serupa pada laman facebook milik saya sendiri . Banyak dari mereka yang berlomba mengunggah atau menulis status seperti menulis panjang sebuah karangan essay. Bedanya, dengan perempuan itu, saya sangat acuh dengan hal-hal serupa seperti itu. Ah, sayangnya, ternyata tidak semua orang seperti saya. Inilah fatalnya.

Menemukan fenomena ini, saya pun mencoba berdiskusi dengan salah satu teman yang sudah menikah hampir setahun lamanya. Ia menyatakan bahwa, pada sudut pandang memamerkan kemesraan dengan muhrim di sosial media adalah hak masing-masing. Terlebih bagi mereka yang tidak mengalami proses berpacaran. Maka salah satu media untuk me-ekspresikan kebahagiaan tiada tara itu salah satunya melalui sosial media, seperti facebook. Akan tetapi jika ditanya, apakah setuju dengan perilaku seperti ini?, teman saya pun menganjurkan untuk tidak seperti itu seharusnya. Karena mungkin maksud mereka adalah memotivasi sesorang untuk menikah. Namun sayang, jatuhnya menjadi demotivasi. Demotivasi inilah, yang mungkin dialami perempuan ini.

Sahabat yang baik, kebebasan bermedia sosial online memang tidak memiliki konsekuensi pidana yang kuat, tetapi saya sepakat jika dampak media sosial online lebih kepada konsekuensi psikologis kelas berat dibanding jika harus bertarung dengan kekuatan tubuh (berantem), terlebih tidak memiliki gatekeeper di sana. Islam pun mengajarkan untuk tidak mengumbar-umbar kemesraan dengan muhrim di depan publik. Di balik dari kesenangan tiada tara itu mungkin ada hati yang terluka. Sedih. Dan meratapi nasib yang tidak sama seperti kalian. Tentu kita semua paham, bahwa jodoh adalah rahasia Allah yang sangat menguji kesabaran dan keikhlasan dalam hal beribadah hanya karena Allah.¬† Tidak bisa dipaksakan dengan kalimat “Ayo segera menikah. Tunggu apa lagi??”. atau bahkan kalimat “Tidak ada kata menunda menikah”

Jika kondisinya adalah, bukan menunda waktu menikah, tetapi karena memang belum dipertemukan oleh Allah orang yang sangat baik baginya, bagaimana?. Bagaimana kalian menjawab kondisi ini?.

Tulisan ini, sengaja saya sampaikan, karena saya sangat prihatin dengan fenomena ini. Mohon maaf jika ada yang merasa tersakiti dengan tulisan ini. Semoga tidak menjadi suluh pertengkaran atau alasan ketidak sukaan atas kebahagiaan orang lain. Melainkan semoga fenomena ini menjadikan ajang pertimbangan bagi diri kita untuk berperilaku sesuai keadaan sosial yang mungkin tidak bisa kita jamah dengan hanya melalui sosial media online seperti facebook.

Semoga bermanfaat.

Adioos..

Menyapa Mr. Colombus

 

“Perjalanan ini masih panjang ataukah sudah dekat, Kapten?”

Tanya seorang awak kapal berpakaian abu-abu, lengkap dengan celana pensil berbahan parasut, dan paling penting ikat kepala tanpa motif yang selalu digunakan untuk menutupi kening dari terik matahari.

Pelit jawaban, laki-laki yang selalu dipanggil Kapten itu, hanya menatap lurus hamparan samudera di depannya.

Tanpa teropong, hanya mata telanjang Sang Kapten begitu khusyuk menyelami makna hamparan luas samudera yang dilihatnya kali ini. Sesekali ia berdecak. Sesekali ia menggigit bibir bawah berwarna kecokelatan.  Atau sesekali ia menghentak-hentakkan kaki kirinya yang tak terlihat mulus layaknya kaki manusia. Telapak daging berubah menjadi topangan kayu jati seperti corong, berbentuk pipa tabung di betis hingga mata kaki dan ujungnya memipih tajam, tidak setajam ukuran jarum, namun masih bisa digunakan untuk berjalan tegak mengimbangi topangan tubuh oleh tongkat.

“Kapten, apa maksudnya itu?’, Awak kapal kembali bertanya dengan pensaran.

“Daratan. Daratan. Daratan”.¬†Ucapnya kemudian.

Awak kapal itu hanya mebatu tidak paham ucapan Sang Kapten. Ingin rasanya ia bertanya ketiga kalinya, namun apa daya awak kapal ini sudah terlanjur paham karakter Sang Kapten yang terkenal dengan membenci kebodohan. Dengan artian, jika seroang awak bertanya berkali-kali kepadanya, dia akan dibunuh secara paksa dengan cara diceburkannya ke dalam kerumunan ikan Hiu ganas yang kelaparan.

Pernah suatu ketika, seroang awak berkulit matang bertanya kepada Sang Kapten tentang arah rasi bintang sebagai laju perahu mereka. Kemudian Sang Kapten hanya memandang lurus dan berteriak , “Terjaaaaang !!”

Merasa jawabannya sulit dipahami, awak kapal pun kembali bertanya, dan Sang Kapten tetap menjawab dengan demikian. Hal itu terjadi selama tiga kali. Hingga pada keempat awak itu bertanya, Sang Kapten hanya menjawab “Lemparkan !!”, Bak mimpi di siang bolong, awak itu pun diceburkan ke dalam lautan.

Semenjak kejadian itu, seluruh awak kapal tidak akan pernah bertanya berkali-kali sebanyak tiga kali. Menurut mereka tiga kali adalah keberanian yang mempertaruhkan nyawa.  Pun Sang Kapten yang terkenal dengan raut wajah seram dan sedikit berbicara ini akan asik dengan cara dirinya menyampaikan perintah bagi awak kapal mereka.

Kapten ini bernama Colombus. Ia tidak pernah memperkenalkan nama kepada siapa pun. Colombus hanya sebutan yang tercetuskan begitu saja. Sebutan yang keluar dari mulut dirinya ketika acap kali mengarungi badai ombak kejam di lautan. Ia berkali-kali berkata “Coloooooombuuuuuuuss!”. Alhasil hingga seterusnya, Kapten dijuluki sebagai Kapten Colombus. Berkat kepiawaiannya mengarungi ombak ganas, ia dan sejumlah awak kapal selamat dari monster samudera.

Tidak hanya sampai di situ, Kapten Colombus juga sering menemukan daratan berisi tumbuhan serta harta karun. Entah ada apa dengan Colombus, di jiwa yang serba misterius, justru ia mensejahterakan awaknya.

Colombus dengan sejuta tanya dalam diri dunia. Dunia banginya adalah cembung yang nyata tanpa harus kita lihat bentuk aslinya. Yeah..hanya mencoba mendekat, tanpa menjadikan dirinya sebagai sosok nyata. Dunia akan terlihat mengecil jika terus menjauh, dan membesar jika mendekat. Begitu apik ia selami makna lautan dan isinya. Bumi, tepatnya.

Laju perahu semakin terbakar ketika teriakan “Daratan. Daratan. Daratan” keluar dari mulutnya. Bahkan ada sebagian awak bersorak dan menari kegirangan. Dan benar, tidak lama daratan begitu terlihat jelas. Perjalanan ini sudah ke-50 kali mereka lalui.

Hingga pada sebuah daratan pulau hijau dengan bunga-bunga serta air yang mengalir jernih, nyaris membuat kebosanan bagi awak kapal.

“Keindahan ini, adalah tipuan Kapten!. Tidak ada harta karun di sini”. Ucap seorang awak kapal dengan sinis.

Mendengar ucapan awak kapal tersebut, Colombus hanya tertegun lurus sambil berjalan menelusuri setiap semak-semak dan memandang setiap pohon-pohon rindang. Ada yang berbeda dari sorot matanya kali ini. Ada keteduhan. Ada rasa takjub. Ada rasa kagum. Kupu-kupu yang menari berwarna warni seolah berdialog dengan dirinya. Semilir angin menyejukkan setiap pori-pori wajah Sang Kapten. Ia terlelap dalam berdiri. Tanpa sadar, seluruh awak kapal memandang heran terhadap dirinya. Semacam tidak percaya bahwa Sang Kapten, Colombus yang terkenal kejam benar-benar terlelap.

Dalam jangkauan angan seorang Colombus ada makna tersirat, yang tidak bisa dibahasakan dengan sebuah kebengisan dan kebencian. Alam telah merubah segalanya. Karena, baginya setiap perjalanan terdapat akhir pemberhentian, yakni ketenangan.

By alwayskantry009 Posted in Apa sih?

Interlude 3 : Untuk Kamu, yang Menangis di Hari Kamis

Jujur, bagi ku, ini sangat sulit untuk menanyakan tentang rasa di hatimu hari ini.
Namun, yang ku tau, kamu menangis dalam sepi hingga air mata mu mengering dan megerak.
Kehilangan, ya.. kejadian itu tentu menyedihkan. Aku tau.
Harapan mu sangat penuh untuk sesuatu yang kamu anggap berarti dalam hidup mu. Aku tau.
Kini hilang, ada yang mengambil dari mu. Aku tau.
Bingung, kenapa aku tau?.
Ah, tak usah kau tanya itu kepadaku.
Kau tau aku, aku tidak akan menunjukkan wujudku kepadamu.
Barang wajahku, tubuhku, ataukah suaraku,
Satu yang harus kamu tau, bahwa kehilangan adalah determinasi atas kedapatan yang akan muncul.
Ia baru. Baru bagimu lebih tepatnya.
Pegang janjiku, Ia akan lebih baik untuk mu.
Jadi tidak usah terus membatu seperti mayat hidup ini.
Apa?, kamu masih bertanya kenapa aku menyampaikan ini?,
Kamu tau, aku tertawa lepas mendengar pertanyaamu kali ini.
Baiklah, akan ku sampaikan siapa diriku sebenarnya.
Aku adalah maya, yang terbentuk karena pantulan cahaya secara teratur.
Aku adalah makhluk simetris pada cermin datar.
Aku adalah Kamu.

Interlude (3)

“189” kau berikan dengan cuma-cuma kemarin sore. Senyum yang masih sama ada di sana. Sorot mata yang tentu saja jiwa mu menepis mereka yang pikuk dalam frekuensi langkah. Ada laki-laki dan ada perempuan. Seolah titik nol derajat bergeser ke kota ini. Mengapa harus kota ini?, mengapa bukan kota mu?.

Jangan sampaikan, ada dia di sini. Harap seperti itu. Dan tak juga harap dalam nyata. Biarkan angin ini menjadi penghangat dalam tanya. Asap yang berkabut bau tak sekalipun menangkis rindunya untuk mu. Bayang itu sudah sedikit pudar dengan kebencian. Ah, tidak !. Bukan benci. Hanya ketenangan. Ya, Tenang membuatnya sadar bahwa kau bukan untuknya.

Sambar petir menyayat ingatannya untuk bayangmu. Kasihan dia, dalam malam ia tertegun dalam angan dan juga tanya. Kenapa kau beri tanya dalam dirinya?.

Lihat dirinya melihat dirimu !!.

Ada getir dalam senyum. Ada perih dalam cita. Ada nanar dalam tulus.

Sekali lagi, Kenapa?

By alwayskantry009 Posted in Apa sih?

Iedul Adha Tidak Harus Selalu Sama

Tidak ada alarm setajam dan senyaring telepon genggam Blackberry. Bunyi itu telah membangunkan saya di pukul 03.00 WIB. Suara-suara parau orang bertakbir, tahlil, dan tahmid di masjid masih sangat jarang terdengar di sepertiga malam itu. Kali ini saya tertidur di samping adik saya. Ternyata kami satu ranjang. Saya ketiduran sampai-sampai lupa keberadaan ranjang saya di suatu ruangan lain.

Sedikit sadar melirik Blackberry Massanger yang belum ada notifikasi tindak-tanduk penghuni BBM. Gambar hijau bulat dengan warna merah di tengah menarik untuk dijamah. Chat Whatsapp dari beberapa teman yang belum saya baca satu persatu. Ternyata obrolan semalam yang telat saya ikuti. Namun, senyum dan tawa kecil masih melebar di bibir saya sepagi ini.

Ketika ingin beranjak menuju kamar mandi, saya ingin mencoba membangunkan adik saya. Tangan yang beranjak menyentuh lengan tangan nya yang terlihat sangat menikmati mimpi dalam tidur. Tiba-tiba saya tertawa mengingat kejadian lucu yang saya dengar beberapa jam lalu di ruangan ini.

Kira-kira pukul 23.30 WIB, saya masih berkutat dengan buku-buku bacaan fiksi dan beberapa aktifitas chatting di media sosial, saya mendengar adik saya mengigau. Ada hal yang lucu dalam ucapan igauannya. Ia membaca doa setelah sholat dhuha, seperti sedang menghafal per ayat.

Allahumma inna dhuha-a-dhuhauka, wal baha-a-bahauka…..Apa lagi ya????”

Secara refleks saya langsung mengelos ke arah wajah adik saya. Saya pastikan apakah dia mengigau ataukah senagaja. Ternyata kelopak mata yang sedikit tertutup rapat dan berair itu, membuat ia tak sadar, ia sedang mengalami mimpi. Mungkin kali ini ia sedang bermimpi ujian hafalan. Haha..bisa jadi.

Tidak lama, saya tersadar dengan detak jam yang menyadarkan bahwa sepertiga malam ini rugi jika harus ditinggalkan. Segera mungkin saya bangkit dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi.

30 Menit Kemudian, saya mencoba membangunkan seluruh anggota keluarga yang masih terlelap. Kali ini kami berjumlah lengkap. 1 tambahan personil datang dari tante kami, yang sengaja menginap di rumah. Waktu berjalan dengan sangat cepat. Masing-masing dari kami sibuk dengan dandan diri untuk mempersiapkan sholat idul adha di lapangan. Seperti biasa, jadwal sholat akan dilaksanakan pukul 07.00 WIB.

Suara takbir yang menggema bersaut taut dengan suara sapi,kambing,dan domba di komplek. Terlihat ada beberapa anak kecil berbaju muslim berlarian ke sana ke mari demi hanya sebuah aktifitas memberi makan kepada kambing. Aha..itu gambaran saya dulu, pikir ini melamban melorong masa lalu yang begitu polos. Idul adha adalah perayaan menyenangkan bagi kaum kecil mungil yang belum tau dosa itu. Bagi mereka, makhluk-makhluk lucu bertanduk ini adalah sahabat baru untuk setahun sekali yang dapat dipermainkan dekat rumah, tanpa rasa takut dikejar, dan takut digigit. Sehelai daun kering menjadi cara mereka memanjakan kambing. Tak jarang mereka mengatakan dengan dua bahasa yang tak pernah mereka saling mengerti.

” Mbek, makan ya..”, ucap seorang gadis mungil ketika menyodorkan daun setengah basah pada mulut kambing yang tetap mengunyah.

Tidak lama, lapangan komplek ini, dipenuhi oleh jamaah yang datang bergerombol. Lapangan ini akan selalu menjadi ajang reunian bagi kami yang jarang keluar rumah. Acap kali berpapasan pada teman kecil yang ternyata sudah tumbuh besar jika dibandingkan setahun, dua, atau tiga tahun lebih, kali pertama berjumpa. Saling bersalaman dan menyapa, menorehkan senyum terikhlas dan indah adalah kunci istimewa dari sebuah hari raya.

Dalam sebuah sholat hari raya, tentu diakhiri dengan ceramah Idul Adha. Semula saya berpikir, ceramah akan menyampaikan pesan-pesan yang hampir sama dengan tahun-tahun yang lalu. Seperti bagaimana memaknai kurban, bagaimana  menjadi pribadi yang lebih baik lagi, hikmah idul adha, haji, dan lain-lain.

Saya duduk di samping adik saya, pun sesekali agak bandel mengacuhkan ceramah tersebut, namun hingga pada satu pemikiran yang membuat saya merenung.

“Jika saja, Nabi Ismail tidak digantikan oleh domba, bagaimana ya?”.

Seolah pagi itu adalah rencana-Nya, Sang Penceramah pun membahas pertanyaan yang saya tanyakan dalam hati. Sebuah keikhlasan seorang Nabi Ibrahim atas perintah Allah untuk menyembelih anaknya kesayangannya yang sudah lama tak bertemu dengannya. Kemudian dengan usia nya yang masih 7 tahun, Ismail pun sangat rela untuk disembelih oleh Ayahnya, atas alasan perintah Allah SWT.

Saya mencoba membayangkan, jawaban dari pertanyaan yang saya buat tadi.

“Jika saja…mungkinkah…saat ini…apakah…”, Saya mencoba menerka bagai sutradara yang membuat alur cerita hingga sangat masuk logika dan menarik.

Terbayang oleh saya, apakah saat ini, mungkin anak-anak laki-laki di dunia sedang¬† berkeringat dingin menunggu penyembelihan masal pagi ini. Atau mungkinkah akan ada pengocokan nama, layaknya undian arisan. “Siapa yang keluar(nama) dia lah yang akan disembelih”.¬†Saya dan adik saya, sama-sama berpikir. Jika meruntut musabab kisah Qurban itu, Ismail adalah anak kesayangan Nabi Ibrahim, tiba-tiba adik saya pucat pasi membayangkan bahwa dirinya lah yang akan disembelih, karena merasa dia lah anak kesayangan di keluarga kami.

Tapi sekali lagi, logika manusia sangat dangkal untuk mencapai logika Allah SWT. Dia lah Maha Adil seadilnya dalam kehidupan manapun. Tentu skenario bumi tidak akan seindah ini jika seekor domba tidak menggantikan Ismail, kami akan mati konyol tanpa sebab. Tanpa kemaslahatan. Tidak ada rantai makanan, Tidak ada cinta, melainkan hanya kebencian, Dan berakhir tiada kehidupan. Jauh dari itu, kesedihan akan melanda kaum muslimin.

Ah, ternyata saya salah menilai isi pesan ceramah Idul Adha kali ini. Ternyata saya menyadari bahwa Idul Adha adalah ajang cermin diri atau refleksi diri bagaimana kita ikhlas rela memberikan apa yang kita cintai untuk kebaikan manusia.

Saya jadi teringat dengan cerita-cerita pengalaman Ibu saya ketika menunaikan ibadah haji setahun yang lalu. Beliau menceritakan bagaimana puncak haji, ada di Wukuf Arafah. Di padang Arafah itulah seluruh umat muslim berkumpul berdiam diri di bawah tenda-tenda, dengan panas terik matahari yang sangat panas. Ibu saya juga menceritakan makna ber-wukuf di Arafah, bagaimana seluruh Malaikat berkumpul mengeliligi mereka yang sedang berwukuf dan mengamini atas doa-doa muhasabah diri.

Bulu kuduk saya berdiri, dan hampir menitikan air mata, ketika Ibu saya mengatakan, “Di Arafah itu kita berdoa mohon ampun atas dosa-dosa yang udah kita lakukan, di tempat itulah Allah SWT berada sejengkal dari kita. Bayangkan, Malaikat akan mengamini setiap taubatan nasuha setiap jamaah haji di sana”.

Ucapan itu yang membuat saya mendambakan ingin ke sana. Ingin menangis dan memohon ampun atas dosa-dosa saya selama saya hidup. Sangat membayangkan, jika Itikaf Ramadhan saja sudah luar biasa merasakan sensasi ruhiyahnya, apalagi dengan kondisi haji seperti itu. Subhanllah..

Angin pagi ini sangat teduh. Sesampainya saya di rumah seperti biasa kami bersalaman saling memaafkan kesalahan. Namun tidak lama, Ayah saya mengingatkan kami untuk menuju lapangan, untuk melihat prosesi penyembelihan. Kebetulan, Ayah dan Ibu saya adalah panitia qurban. Kali ini saya tidak menjadi panitia.

Alasan Ayah saya mengingatkan kami sekeluarga, karena tahun ini alhamdulilah kami diberikan kesempatan untuk berqurban. Satu persatu hewan qurban di gilir untuk disembelih. Tepat di nomor urut 4, hewan qurban kami pun dipanggil. Kami sekeluarga dan sebagian warga komplek yang berpatungan untuk membeli hewan, pun berkumpul menyaksikan.

“Lihat sapinya, lihat darahnya, Ucap takbir, dan berdoa agar semua hajat terkabul”. Itulah pesan Ayah saya ketika leher seekor sapi mulai disembelih. Ketika pinggir pisau yang mengkilat itu menyayat leher hewan itu, saya merinding. Mata Sapi yang kejang melihat ke mata saya. Dengan bahasa hati, saya pun menyampaikan,“Sampai ketemu di syurga. Terimakasih”.

Sapi berwarna cokelat itu pun mengemo dengan garam. Sekian menit tanpa merasa sakit, hidupnya pun sudah berada di syurga.

Satu pelajaran berharga untuk saya, bahwa melakukan qurban hewan pada saat idul adha itu bukanlah karena didasari kemamapuan materi seseorang. Akan tetapi atas niat keikhlasan di jauh-jauh hari. Hal ini hampir sama dengan ibadah haji. Kalau boleh saya mengutip dari Ayah saya, “yang menjadi beda adalah dalam harfiah kuota. Jika dalam ibadah haji adalah kuota jemaah, sedangkan qurban adalah kuota ketersediaan kondisi hewan”.

Toh, dengan menabung atau menyicil untuk membeli hewan qurban setahun sebelumnya pun, saat ini sangat bisa dilakukan. Jadi sekali lagi, bukan karena landasan kesiapan materi seseorang bisa berqurban, tetapi niat yang sungguh-sungguh.

Bayangkan, jika qurban kita lakukan. Akan banyak saudara-saudara kita yang suka cita karena mendapatkan kupon untuk ditukarkan daging yang jarang mereka makan selama setahun. Lagi-lagi Islam mengajarkan umat muslim untuk mensejahterakan sesamanya. Tidak hanya untuk umat muslim (lagi) melainkan untuk semua ummat.

Ibrahim dan Ismail mengajarkan kita untuk mencintai Allah SWT dari apa pun. Mereka menunjukkan pelajaran yang berharga dalam hidup manusia. Semoga Allah SWT mengampuni seluruh dosan jemaah haji dan meberkahi ummat islam yang melakukan qurban atau merasakan daging halal ber- asma kan Allah ke seluruh pembuluh darah manusia.

Jika tahun ini kita masih merasa sama dari kemarin, maka tekadkan bahwa di Idul Adha tahun depan dan selanjutnya tidak harus sama Aamiin..

 

ps : Daging Sapi sangat baik untuk perkembangan janin dan anak keci yang sedang berkembang.

Adioss..

Interlude (2)

Anehnya manusia ini sudah diberi kelebihan, tetapi jauh dari rasa terimakasih mengecap di hatinya. Berapa banyak yang harus dikorbankan untuk hal yang belum tentu miliknya. Mereka, perasaan orang-orang yang sangat sayang dengannya menangis tiap malam hanya untuk sebuah perubahan. Apakah ini buruk rupa dari manusia itu?. Bukan kah manusia adalah makhluk sempurna dari makhluk mana pun?.

Ah, aku lupa, aku pun manusia. Aku dia dan mereka manusia juga. Kami punya mata, mulut, tangan, kaki, daging-daging kecil saling berhubungan membentuk pipa-pipa kecil mengelilingi tubuh kami yang terlihat kokoh, dan hati yang selalu kami sentuh jika ia merasa sakit oleh ulah kami sendiri.

Bagaimana membentuk diri kami menjadi kami yang bernama, itu masih misteri. Hanya hadiah kecil berupa nama dari orang tua kami yang tentu kamu bisa memanggil kami. Kamu tau, apa lah arti nama bagi sebagian orang. Begitu pula untuk sebagian lainnya, nama adalah doa dan harapan. Karena ketika kami tidak ada, mereka tidak mengenang tubuh kami, melainkan nama kami dan bayang-bayang perilaku kami. Tapi bagi mereka yang tidak peduli dengan nama, mereka sangat peduli dengan keangkuhan dunia yang melindungi mereka.

Sore ini dengan jemari lentik aku menulis tentang dua sisi yang tidak pernah aku pahami. Kamu tau apa benar ada renkarnasi setelah mati?. Aku bukan Budha. Tapi bagi ku ini sangat menarik. Ketakutan akan kematian yang luar biasa mungkin akan terobati dengan janji kecil akan sebuah renkarnasi. Menururt ku mati adalah hal menakutkan. Karena aku percaya ada siksa di alam gelap bawah tanah itu. Jika aku tidak percaya mungkin aku sangat senang akan kematian. Kematian yang mengakhiri segalanya, prahara kehidupan yang aku benci. Orang-orang yang tak ingin ku kenal sumur hidup ku, Ah..mungkin akan ku katakan mati itu menyenangkan.

Hingga pada seorang anak yang duduk di depan ku. Sambil memegang ice cream batangan, ia nikmati dengan tanpa ada beban sekalipun. Sesekali ia mengecapkan lidahnya, atau menggigit serta menghisap lumeran susu dengan warna yang menggairahkan mata. Ia senang. Dan Ia tertawa. Ya, anak itu sudah merubah paradigma ku. Menjadi senang tidak harus mati.

Sore yang hangat, dengan angin yang sesekali menghembus dari segala mata angin, dan merasuki pori-pori kulit, tentu menambah ketenangan hati bagi yang menikmati angin ini. Aku percaya bahwa ada rahasia yang dibalik sore ini. Dibalik angin ini, dan dibalik anak itu. Abstrak , namun nyata dalam harfiah imaji. Jujur, aku ingin sekali berkawan dengan itu semua. Hal-hal yang abstrak tapi menyentuh bawah sadar ku, bahwa aku ternyata sedang berkomunikasi dengan diri ku sendiri. Ini yang mungkin dikatakan bahwa diri kita lah yang paling paham dengan diri kita sendiri. Berusaha menghibur dan menasihati. Tidak ada kebohongan di sana. Manusia harus sadar, ia akan berteman dengan dirinya sendiri di kemudian hari. Mungkin, fase ini adalah adalah fase untuk menyadarkan ku bahwa ada jiwa dalam raga yang nanti akan ditanya oleh Nya, di akhir nanti.

“Kamu, harus percaya aku”, bisiknya ketika hening menyelimuti sore ini. “Karena, kamu adalah aku. Maka percayalah kepada ku”.

 

Interlude (1)

Wahai malam..

Dengarkah kau dengan teriakan ini??

Mencekam, garang seperti amarah tak berasumsi.

Malam..

Dengarkah kau dengan tangisan ini??

Parau, lirih seperti ambang batas nyawa.

Perempuan ini kuat, mereka tau itu.

Bahkan tidak ada sakit dari hatinya yang lunak.

Hati yang berselimutkan masa lalu beredar pada setiap urat nadi.

Senyum tanpa kecuali ia tebarkan pada dunia.

Menyongsong getirnya awan hitam yang mungkin akan berkelut di sore hari.

Perempuan ini berjalan..

Mata yang tajam selalu menghentakkan hati bagi mereka yang berdiri di kiri kanan nya.

Ah, ketakutan tak beralasan. gumamnya dalam hati.

Jemari lentik kemudian bermain di setiap wajah mereka yang datang dan pergi..

Kamu tau malam..

Jemari lentiknya bagaikan suntikan maut yang membuat putus urat malu manusia yang tak tau dosa..

Seketika dewi malam menjelma dalam tubuh sang primadona.

Satu , dua, tiga dari mereka mendekat dengan penuh dosa.

Kau tau, sang primadona hanya tersenyum.

Dan semesta, melihat dengan iba.

Iba untuk topeng dunia yang selalu mereka lihat.

Iba untuk angan mimpi buruk

Kau tau malam,

Hanya satu yang tak terlihat

Keheningan dirinya, yang tak sadar bahwa ia kini telah rapuh.    

By alwayskantry009 Posted in Apa sih?