Media Relations : Fase Perencanaan

 

Ada kalanya sebuah perusahaan menginginkan berita bagus terkait citra perusahaan di mata publik. Melalui Public Relations Officer (PRO) perusahaan selalu ‘menuntut’ agar setiap pekan selalu ada branding yang menerpa mindset masyarakat. Jika sudah demikian, apa yang harus dilakukan oleh PRO, lalu bagaimana PRO menyikapi dalam pemilihan media yang akan menjadi saluran efektif dalam penyebaran pesan perusahaan?.

Tulisan ini sengaja saya tulisa, berdasrkan pengalaman yang saya korelasikan dengan ilmu pengetahuan yang saya kutip dari buku favorit saya mengenai Media Relations : Konsep, Pendekatan, dan Praktik yang ditulis oleh DR. Yosal Iriantara.

Media relations merupakan salah satu kegiatan yang menjadi bagian dari program PR. Pertama, ketika kita berpikir bahwa media relations adalah hal yang membingungkan, terlebih bagi pihak yang baru pertama kali berhubungan dengan pihak wartawan dan media massa. Intinya, media massa itu sangat melirik program-program yang memiliki kritria unik yang bisa dikatakan layak liput.

Ada 4 (empat) kriteria yang biasa disebut 4K yang digunakan dalam penyeleksian program PR, bahwa program tersebut harus :

1. Komitmen, yang berkenaan dengan kesungguhan dari setiap pihak yang terlibat dalam program untuk memberikan hasil terbaik.

2. Kejelasan, yang berkenaan dengan pesan yang hendak disampaikan itu jelas dan sederhana.

3. Konsistensi, yang berkaitan dengan konsistensi dalam maksud dan tujuan, serta konsistensi dalam citra yang hendak dikembangkan.

4. Kreativitas, yang berkaitan dengan cara-cara yang kita kembangkan untuk menjalin hubungan dengan media, penyusunan pesan, kegiatan yang dijalankan dalam program tersebut dan seterusnya.

Simple, but it’s not easy to do..

Benar banget. Simpel, tapi tidak mudah dilakukan. Untuk itu, menjawab dilematis seperti itu, PRO harus membuat perencanaan yang matang. Pada dasarnya perencanaan merupakan usaha untuk mewujudkan sesuatu agar terjadi atau tidak terjadi pada masa depan. Sama halnya, ketika kita ingin menuntut ilmu, maka hal yang harus diperhatikan adalah, definisi tujuan yang kita inginkan dan sampai kapan tujuan itu berlangsung. Artinya, perlu dirumuskan apakah program tersebut merupakan jangka panjang ataukah jangka pendek. Waktu jangka panjang bisanya dirumuskan kurun waktu selama 10-15 tahun. Sedangkan kurun waktu jangka pendek, dirumuskan selama 1 tahun. Namun, ada juga yang menempatkan jangka menengah. Hal ini biasanya, karena kurun waktu menengah, merupakan program yang bersifat tentatif yang perlu dievaluasi, dimana berkaitan dengan penjualan/marketing.

Pada fase ini PRO harus menjawab dari beberapa pertanyaan, sebagai berikut :

1. Di mana posisi organisasi kita saat ini?

2. Siapa khalayak sasaran kita?

3. Apa yang kita inginkan atau apa tujuan kita?

4. Bagaimana mencapai tujuan itu?

5. Taktik apa yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut?

6. Bagaimana kita mengevaluasinya?

Mudahnya, memang tujuan perusahaan dibuat dalam bentuk business plan yang divisualisasikan dengan bagan yang bisa dilihat komponen apa saja yang dikategorikan tujuan program jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek.

Pada pertanyaan nomor 1, erat kaitannya dengan kegiatan audit PR atau media relations. Pada audit PR dilakukan dengan melihat document trail dari beberapa program yang sudah pernah dibuat oleh perusahaan, atau bisa juga dengan melihat dari beberapa pemberitaan media massa, media online, media sosial, dan Search Engine Optimized. Intinya, semua yang muncul pada yang bersifat komersial – non komersial apabila brand/logo/nama perusahaan muncul pada media massa, maka harus dianalisis.

Tentu saja, kegiatan Audit menurut DR. Yosal, begitu berkaitan dengan kondisi internal organisasi atau bisa dilakukan sebagai wujud kajian lingkungan internal organisasi (internal scanning). Adapun tujuan dari internal scanning tadi adalah untuk memeriksa kemampuan dan kebutuhan organisasi atas kegiatan media relations dengan memperhitungkan apa yang dimiliki organisasi. Dengan audit ini dilakukan analisis pada kebutuhan, program, kebijakan, praktik dan kemampuan media relations organisasi sehingga memungkinkan manajemen puncak organisasi untuk memperoleh informasi yang memadai dalam memutuskan tujuan media relations tersebut.

Audit yang dilakukan untuk menganalisis lingkungan internal organisasi bisa dilakukan dengan visi misi perusahaan. Pada perusahaan yang berkembang dengan kondisi anomali peralihan manajemen, dari manajemen tradisional (bisnis keluarga) ke manajemen profesional terbuka (mencoba menerapkan sistem ISO dll), sangat sulit merumuskan visi misi. Bukan karena ketidak profesionalan tetapi merubah budaya kerja ternyata tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu ada landasan teori yang bersinergis dengan tradisi yang dirasa nyama oleh pemilik perusahaan. Namun, bagaimana kah nasib PRO yang diangkat dengan asa profesional?

PRO dapat melihat perkembangan dari penjualan serta kegiatan promosi yang dengan atau tanpa media komersil. Hasil pengamatan itu begitu bermanfaat untuk menunjukkan sebagai bahan evaluasi terdahulu. Tetapi jika perusahaan yang sudah jelas visi misi, kerangka kerja, dan bagan organisasi, maka sangat mudah mencari visi misi tadi. Kemudian, tinggal membuat kurun waktu yang harus mencakup keseluruhan visi. Setelah itu lakukan dengan identifikasi khalayak.  Khalayak dibagi menjadi dua, internal dan eksternal publik. Masing-masing khalayak memiliki kepentingan yang berbeda, maka perlakuan terhadap mereka pun berbeda dalam berkomunikasi.

Apabila identifikasi khalayak sudah dilakukan, kemudian pilihlah pihak yang siap secara kualitas dalam mengelola kegiatan medi relations tadi. Banyak pilihan yang dapat dilakukan, bisa dilakukan dengan staf organisasi perusahaan itu sendiri, atau menggunakan jasa PR. Biasanya, menggunakan jasa PR dilakukan dengan biaya yang bombastis. Tidak semua perusahaan mau mengerluarkn biaya tersebut. Tentu, ini tantangan bagi seorang PRO, jadilah PRO yang handal dalam mengemas kegiatan media relations dan segala aspek pendukungnya. Logikanya, buat apa perusahaan membayar mahal PRO sebagai staf promosi dan komunikasi tetapi masih juga membayar pihak agency untuk mengelola yang sifatnya strategis. Mubazir bukan?!

Posisi perusahaan di mata publik internal maupun eksternal dapat dilakukan dengan menganalisis secara SWOT. Anlisis SWOT dapat menujukkan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki serta bagaimana peluang dan ancaman yang berasal dari luar organisasi. Setelah memetakan posisi organisasi berdasarkan analsis SWOT itu, bisa segera dilakukan tujuan perusahaan secara terukur.

Lagi-lagi tujuan terukur berkaitan dengan tujuan perusahaan yang sifatnya menguntungkan (marketing). Biasanya perusahaan yang mengaitkan itu, pihak yang menguru kegiatan komperasi program tersebut adalah marketing PR, yang berarti dukungan kegiatan PR untuk pemasaran produk. Media relations juga bertujuan menjaga reputasi merek atau mengelola merek yang sudah memiliki nilai tinggi pada publik.

Membuat strategi dalam Media Relations juga bisa didesain menggunakan mode ROPE yang dicetuskan oleh John M. King, yang ditunjukkan dengan gambar di bawah ini :

Tabel ROPE

Harus diingat adalah, PRO dituntut harus kreatif adalah keniscayaan. Karena, apa pun upaya terbaik dari PRO adalah menunjukkan keberhasilan target perusahaan dalam bentuk kemasan yang menarik. Kemasan program yang unik, dan dapat menjadi daya tarik publik untuk lebih peduli dengan brand perusahaan maka disitulah PR berjalan.

Sampai jumpa, pada share tematik media relations lainnya..

Have Nice Weekend..

Media Relations : Edisi Alur Kerja

Harmonisasi dalam menjalin hubungan oleh suatu Perusahaan tidak hanya berlaku surut, itu memang benar. Terkadang, seorang Public Relations Officer harus mati-matian dalam membuat hubungan yang baik agar menghasilkan manfaat untuk kedua belah pihak.

Hal yang harus dipikirkan oleh suatu Perusahaan adalah menyadari bagaimana mengetahui karakteristik dari publik/mitra yang ada di sekitar kehidupan perusahaan. Secara umum kita mengenal terdapat dua jenis publik, yakni publik dalam (internal public) dan kedua, publik luar perusahaan (external public).  Namun, ada juga yang meklasifikasikan menjadi publik utama (primary public); publik kedua (secondary public); marginal public (publik marjinal) atau traditional dan future public (tradisional/potensial) ; proponent, opponent, uncommitted public (pendukung, penentang, tidak peduli) (Seitel, dalam Ardianto, 2012 :12).

Pada dunia praktisi, klasifikasi publik disederhanakan dengan dua klasifikasi menjadi publik dalam dan publik luar. Publik dalam adalah yang terdapat di dalam organisasi atau perusahaan, seperti supervisor (pengawas), clerks (pegawai), managers (manajer), stockholders (pemegang saham), dan board of directors (direktur pengelola). Sedangkan publik luar adalah publik yang tidak secara langsung terkait dengan organisasi atau perusahaan, seperti press (pers atau media massa), government (pemerintah), educators (pendidik), customers (pelanggan), the community (komunitas), suppliers (pemasok).

Setelah PRO sudah merancang program perusahaan pada determinasi jangka pendek ataupun panjang, tentu hal yang harus diperhatikan membuat strategi lengkap untuk menjangkau setiap elemen klasifikasi publik tadi. Tulisan ini akan menerangkan bagaiman membuat program Perusahaan dapat menyebar luas dan kekal. Selain membuat strategi penjualan, Perusahaan melalui PRO harus membuat strategi pemasaran yang sifanya komersial, dalam dunia komunikasi kita mengenal istilah Media Public Relations. 

Media Publi Relations (MPR) juga dikenal sebagai commercial press (pers atau media massa komersial). Media komersial ini merupakan mitra bagi PR karena melalui media yang bersifat massa, PR memperoleh publisitas atau  lebih dikenal. Media massa dewasa ini sudah sangat pesat. Berdasarkan perkembangannya, media massa dibagi menjadi dua jenis, pertama media massa konvensional dan kedua media online. Media massa konvensional seperti surat kabar umum, majalah umum, radio siaran, dan televisi siaran, berbeda dengan media massa kontemporer. Media konvensional memerlukan sebuah studio yang lengkap dengan pemancar yang menjulang tinggi. Sedangkan media kontemporer tidak memerlukan frekuensi siaran karena sistemnya mirip telepon seluler (Ibid:136).

Perkembangan media online pun tidak kalah pesat dan dinamis. Setelah melahirkan media sosial atau media jejaring dalam bentuk website, blog, facebook, dan twitter. Anehnya media online ini tidak disebut sebagai media massa online, tetapi media sosial online. Hal itu dikarenakan pengaruh dari media ini memiliki kekutan sosial yang dapat membentuk dan mengubah opini publik dalam masyarakat sehingga media sosial ini perlu menjadi perhatian bagi mereka yang bergelut di dunia PR.

Salah satu kegiatan PR dalam menjalin hubungan media, biasa dinamakan Media Relations. MedRel diartikan sebagai suatu usaha untuk mencapai pemuatan atau penyiaran yang maksimal atas suatu pesan atau informasi (dari PR) dalam membentuk pengetahuan dan pemahaman khalayak organisasi atau perusahaan yang bersangkutan (Jefkins, 2008:124).

Tujuan dari MedRel menciptakan pengetahuan dan pemahaman, bukan semata-mata untuk menyebarkan suatu pesan sesuai dengan keinginan perusahaan induk atau klien demi mendapatkan “suatu citra atau sosok yang lebih indah daripada aslinya di mata umum”.  

Ada hal yang menarik, tidak hanya mengenal definisi dan tujuan utama seorang PR melakukan MedRel. melainkan PRO juga harus mengetahui bahwa produksi sebuah media memegang teguh dengan prinsip kelima fungsi antara lain :

1. Fungsi Pengawasan

2. Fungsi Penafsiran

3. Fungsi Pertalian

4. Fungsi penyebaran nilai-nilai

5. Hiburan.

Kelima fungsi tersebut haruslah bertumpu pada tanggung jawab sosial yang menjadi teori pers menurut Siebert, Peterson, & Schramm. Artinya, pers melalui media massa sangat berpengaruh pada pergolakan di kehidupan sosial yang harus bebas dari nilai-nilai dan kepentingan sepihak. Untuk itu, PRO dituntut memegang kejujuran dan kenetralan. Baik burunya PRO diukur berdasarkan kejujuran dan sikat netralnya Kepentingan masyarakat, dalam hal ini pembaca, pendengar atau pemirsa harus senantiasa diutamakan. Jika hal ini diperhatikan sungguh-sungguh maka dengan sendirinya, publik akan peduli yang ditunjukan dengan hasil publisitas yang baik.

Hal-hal lain yang harus diperhatikan dalam hubungan media, adalah melihat cara kerja media massa dalam mengolah produksinya. Media massa juga merupakan sistem manajemen kerja yang terstruktur. Adapun alur kerja media sebagai berikut Alur Kerja Pers

Setelah mengetahui bagaimana alur kerja Pers, PRO harus membuat alur kerja pada kegiatan MedRel sendiri. ALUR MEDIA RELATIONS  yang tertera dilakukan pertama adalah bagaimana menyusun sasaran media yang diinginkan. Setelah melakukan analisis mendalam, barulah MedRel ini dijalankan. Setelah hubungan dilakukan, PRO juga harus sudah menyiapkan segala kebutuhan pers dalam pengembangan isi pada produk media massa. Hal ini tidak mudah, karena perlu berbasiskan riset, pemaparan secara internal dana eksternal.

Langkah selanjutnya adalah, membuat strategi kemasan yang ringkas, jelas, menarik, dan bernilai. Ringkas berarti tidak berbelit, mudah diakses. Jelas, berarti isi materi memiliki benang merah yang nyata apakah berbentuk berita, himbauan, informasi, peringatan, ataukah sarana edukasi. Menarik, indah dilihat, cukup eye catching. Sedangkan bernilai, memiliki artian isi materi memiliki nilai berita (News Value)  dalam menjawab 5W+1H.

Ada istilah yang mengatakan “Good News is a Bad News, But Bad News is a Good News” . Istilah tersebut tidak salah sepenuhnya. Karena, pada pasalnya apabila sebuah produk mengalami krisis, sedangkan pelanggan/penikmat produk tersebut berjumlah banyak, artinya menyangkut hajat hidup orang banyak, konsep tadi merupakan nilai berita yang bisa mencakup kesemua fungsi media massa.

Seorang PRO yang berkualitas adalah tahan banting dengan kondisi baik ataukah buruk pada perusahaan mereka. Oleh sebab itu, penting untuk PRO dalam mengawasi hasil produksi dari media massa (Monitoring/reporting). Dengan kata lain, kecepatan penyebaran berita menuntut seorang PRO mengawasi media dengan cepat pula.

Lalu bagaimana dengan alur kerja Social Media ?. Penting bagi kami para profesi PRO untuk membuat strategi social media dalam publikasi. Berikut alur sederhananya :

Social Media Flow Chart

Demikian, Media Relations edisi Alur Kerja yang sudah saya tulis, semoga dapat bermanfaat untuk perkembangan profesi PRO di Indonesia.

Adioss..

Konsep Kolonialisme dalam Perang Dialektika

Cukup sudah hari ini berbicara mengenai ekonomi dan polemik global era Montesque. We’re stand on the right possiton, eventhough we were known those evil would be our enemy, anytime. Yeah just some our assumes. Disguisting!

Sore ini lelah, berjam-jam berbicara mengenai aspek pemasaran regional, politik luar negeri, krisis ukraina, hingga pada topik fenomena Phedophilia kami bagi dalam evening chit chat di salah satu balkon apartemen di mana kami tinggal. Kali ini, Tim rela berkunjung ke apartemen saya, dengan membawa beberapa buku yang direncanakan sebagai tema obrolan di anatara kami.

“The Evil CrimEconomic Style”, kira-kira itu yang saya baca di sampul depan bukunya. Tidak hanya saya dan Tim yang ikut mendiskusikan obrolan sore menjelang malam, tetapi Sheera, teman kami berkebangsaan Singapura, ikut bergabung dalam kelompok diskusi ter-aneh sepanjang  anak cucu adam masa kini. Sheera, menjadi tertarik dengan tingkah laku kami yang terlihat bodoh di beberapa spot kantor.

Pernah suatu ketika, saya dan Tim terus berdiskusi mengenai perdebatan mengapa orang-orang lebih senang menggunakan tangan kanan dibanding tangan kirinya. Seperti biasa, cara diskusi kami berbeda. Perlu menggunakan alat peraga, maka sepanjang lorong kantor dari keluar ruang kantor, lobby, bahkan di dalam lift, saya dan Tim bagaikan pasangan gila karena ledakan tagihan kartu kredit akibat pesta hura-hura pernikahan tujuh hari tujuh malam.

Di saat yang lain, merasa muak dengan sikap kami berdua, hanya Seera yang terkekeh kagum dan tertarik. Bahkan Ia sempat menganalisa sesuatu yang omong kosong terhadap kami berdua. “Hey, May I Guess something?”.

“What?!.” Tanya Kompak Saya dan Tim menanggapi pertanyaan Seera.

“You’re both such a wonderful couple. Seru. Aku salut.” Ujar Seera sambil menekukkan telapak tangannya hingga membentuk sigatiga sama kaki yang menempel di dadanya.

Saya dan Tim hanya melongo heran medengar ucapan Seera. Dan setelah itu, berkali-kali saya mencoba menjelaskan ketiadaan hubungan spesial di antara saya dan Tim. Berkali-kali itu juga Seera mengelak untuk menerima pernyataan saya. Hingga akhirnya jerih payah usaha saya menjelaskan, Seera pun percaya. Lain halnya dengan saya yang memiliki usaha untuk meluruskan asumsi Seera, Tim jauh lebih impresif. Ia sama sekali tidak peduli. Bahkan konyolnya adalah, Tim tidak ambil pusing, capek-capek kerjar-kejaran dengan Seera demi hanya kalimat klarifikasi.

“Baby dont care what she tought about us. Mau benar apa enggak, yang pusing kan dia ini. Take it easy!”.  Respon Tim ketika saya coba membujuk dirinya untuk mencoba meluruskan persepsi Seera tentang hubungan kami. Sampai saat ini, pun ia masih diam.  Damn !.

“Okay. let we start to talk a stupid cases. Who wanna through first to ?” Tanya Seera penuh semangat. Ia terlihat antusias mengikuti ajakan diskusi kami sore ini. “Tim, Aku kira kamu akan banyak topik menarik sore ini. Benar kan?”.

Ah, benar sekali. Tim tersulut oleh Seera. Ia menujukkan buku yang sudah dibawanya. Alumni yang tercatat sebagai mahasiswa Stanford University itu, benar-benar melangit, terbang, dan entah tanpa sadar ia telah melampau orbit bumi. Syukurlah, ia tidak melayang hingga terbakar karena matahari, atau kosong oksigen. Tim benar-benar ajaib. Begitu juga dengan Seera. Mungkin mereka agen FBI yang terpisahkan dan akhirnya bertemu dalam keadaan nomaden. Saling sambung menyambung menjadi satu. Mudah sekali menggapai mufakat. Entah Seera yang mudah terlena dengan intelenjensia yang dimiliki Tim, atau Tim yang benar-benar penjahat dialektika logika.

Malas, untuk mengingat dan mengulang obrolan tadi sore, apa itu kemunafikan ekonomi liberalnya Lincoln, atau ungkapan Tim yang menyatakan bahwa manusia ditakdirkan untuk mati dan bukan hidup. Namun, ada yang ingin saya amati dari apa yang dimaksud konsep diskusi kelompok yang akhirnya dapat diketahui bagaimana karakter pada diri seseorang. Mudahnya, ternyata kita dapat mengetahui bhawa karakter manusia bisa berubah karena diskusi kelompok.

Kali ini, hanya ada tiga orang dengan perspektif personal yang berbeda, jika dalam keadaan komunikasi tatap muka oleh 2 orang saja, Seera adalah sosok perempuan yang riang, semangat, dan sedikit sensitif. Sedangkan, Tim adalah sosok laki-laki keras kepala, introvert, dan terkadang sulit mengalah.

Saya tidak masuk hitungan, karena saya berperan sebagai pengedali pembicaraan. Oportunis, lebih tepatnya. Walau pada kenyataannya, saya mungkin akan menjadi kontradiktif dengan persepktif Tim. Tapi, kali ini saya ingin mencoba bagaimana membuat Tim meluluhkan sedikit egonya atas logika Seera yang kadar egonya lebih rendah dibanding miliknya.

Ini semacam teori devide et impera nya kolonial, saya mulai memberikan umpan positif dari opini logika Tim, dan sedikit kontra dengan Seera. Tidak lama, pada argumen yang selanjutnya saya masih tetap mendukung perspektif Tim. Apa yang terjadi dengan Seera?.

Seera masih kuat berargumen tentang pendapatnya. Pada keadaan lainnya, Saya mencoba melempar perspektif di luar dari yang mereka utarakan. Walau yakin, sebenarnya perspektif masih kacau. Absurd. Tapi lucunya, ternyata Seera dan Tim mulai mengikuti irama perspektif saya. Terlebih yang mengikuti perspektif saya adalah Tim. Kemudian, Seera mencoba lupa dengan pendapatnya.

Tapi, lagi-lagi harus saya akui Tim memiliki intelejensia di atas rata-rata. Ia sadar bahwa topik sudah mulai keluar konteks pembiacaraan, Tim pun memulai dengan perspektif miliknya yang tidak senada dengan perspektif saya. Walau demikian, seolah Tim masih mengajak saya sebagai koloni argumentasinya. Saya pun dengan senang hati masih mengikutinya.

Tidak lama, saya mencoba netral setelahnya, ketika saya melihat Seera mencoba mengajak saya bersahabat. Ketika pada posisi seperti ini, saya akhirnya mengetahui bagaimana kegamangan muncul di raut wajah mereka satu persatu. Bonusnya, mereka akhirnya tertarik dengan asumsi kenetralan saya. Akhirnya mereka megikuti ritme sikap saya. Masing-masing mencoba berdagang menyodorkan bukti kefasehan pemikiran mereka satu persatu.

Setelah itu, baru saya membuka celah persahabatan kepada Seera. Sedikit positif memberikan umpan terhadap pendapat Seera. Kekuatan Seera kembali meningkat karea ia tahu ada pendukung baru untuk pesperktifnya. Tim, tidak melawan, tetapi ia mulai mendengarkan dengan waktu yang lumayan lama untuk menyimak setiap kata demi kata yang terucap dari mulut Seera.

Melihat ada kekososngan di sana, saya segera muncul memecah dengan perspektif lain, yang mungkin hampir senada. Tim, kembali mendengarkan pendapat saya. Tidak menunggu lama, Tim pun akhirnya mencapai kata mufakat, “Yeah, i Guess to make a good decision, if …”

Viola..!!. Coba perhatikan, Tim akhirnya menurunkan sedikit egonya. Ucapannya memang tidak menunjukkan makna “Setuju”, tetapi ia telah menunjukkan kekalahan atas ego yang dimilikinya. Tetapi dahsyatnya, Ia sama sekali tidak menurunkan kecerdasan logikanya. Artinya, ada makna pilihan atas pemikiran yang dimilikinya, dengan kata lain, kalau mau setuju silahkan, kalau pun enggak setuju juga enggak masalah. Karena pendapat gue ya begini..

Satu hal yang saya temui, bahwa dalam berbicara atau berdiskusi kelompok (lebh dari dua orang), bisa jadi faktorr psikologis mereka akan terpengaruh karena faktor sense of belong. Merasa ada yang mendukung, maka di sana, sifat pembawaan seseorang mudah tergerus ataukah akhirnya dominan. Dengan catatan, hanya orang yang cerdas yang jeli melihat garis batas persuasi. Kegamangan adalah musuh transisi yang dimiliki setiap orang. Itu sebabnya, kita jadi sering menyalahkan yang benar menjadi salah, dan salah tiba-tiba benar.

Konyol bukan?!.

Yeah.. itulah diri kita. Mahkluk Tuhan bernama Manusia akan selalu menarik diperhatikan.

Adioosss.

Sejarah Public Relations di Eropa

Filosofi Etimologi PR

Istilah Public Relations atau disingkat PR (baca:piar), atau disebut juga PROVINCIAL, yang di Indonesia secara umum diterjemahkan menjadi hubungan masyarakat yang disingkat menjadi Human.
Karena istilah bahasa selalu mengacu pada etimologinya, dan kedua istilah itu dibedakan oleh bahasa yang berlatar belakang berbeda, sudah barang tentu operasionalisasi dan aktualisasinya pun menjadi berbeda.
Istilah PR sebenarnya baru dikenal pada abad ke-20 namun gejalanya sudah tampak sejak abad-abad sebelumya, bahkan sejak manusia masih primitif. Unsur dasarnya adalah memberi informasi, membujuk, dan mengintergrasikan khalayak selalu tampak dalam kehidupan masyarakat zaman dulu.

Hubungan yang diharapkan adalah hubungan yang harmonis. Harmonis dalam arti adanya saling pengertian dan persesuaian antara kedua belah pihak, satu sama lain saling memperoleh keuntungan dan merasa senang.
Padahal apa yang dilakukan Cleopatra dengan keindahannya sebagai ratu, dalam rangka menyambut Mark Anthony di tepi sungai Nil, sebenarnya merupakan kegiatan PR. Demikian pula di zaman Neolithic sudah ada praktek public relations.
Di zaman purbakala orang berhubungan dengan orang lain yang berjauhan tempatnya melalui tanda-tanda berupa asep api di atas gunung atau tabuh-tabuhan, tiada lain untuk menarik perhatian dalam rangka memberitahukan sesuatu kepada orang lain atas dasar memelihara hubungan baik dengan sesamanya.

Dalam peradaban Mesir kuno, para alim ulama merupakan pakar-pakar opini publik dan persuasi. Mereka menggunakan karya seni dan sastranya dalam bentuk pyramid, obelisk, candi, spink, atau pun patung-patung untuk memberikan kesan kepada public mengenai keagungan dan pentingnya raja, alim ulama, para bangsawan, sastrawan, serta para pemimpin lainnya.

Demikian pula seni dan sastra peradaban Babylonia purba, Assyria purba, dan Persia member kesan kepada kita betapa berani dan heroiknya para raja dalam memenangkan peperangan ataupun pertempuran.
Sejarah pun mencatat, Iskandar Agung telah mengimpor gagasan tentang ke-Tuhan-an dari Timur ke Yunani. Dialah orang barat pertama yang menyebut dirinya Tuhan. Sementara itu Kaisar Romawi telah menggunakan muslihat ini untuk menyucikan kekuasaan politiknya melalui lambing ke-Tuhan-an (Moore,1988:23).

Prinsip Public Relations telah pula dilakukan oleh orang-orang Yunani dan Romawi dengan dasar-dasar vox populi (suara rakyat) dan republica (kepentingan umum). Pada zaman keemasan negaranya Olimpic Games, Dionysian Festivals, dan upacara-upacara keagamaan lainnya telah menggalakkan saling tukar pendapat dan perkembangan semangat dan kesatuan nasional.

Kota-kota di Yunani semakin mencerminkan opini publik. Para pemimpin semakin sadar akan hubungan mereka dengan rakyatnya melalui apa yang sekarang dianamkan public relations.

Demikian pula orang-orang Romawi, telah memiliki konsep opini publik dan Public Relation melalui pontifexmaximus (Imam Agung)) yang mencatat segala pemberitahuan atau kejadian pada annals (papan tulis atau papan pengumuman yang dipampangkan di rumah Imam Agung), di mana rumores, vox populi atau res publicae (peristiwa-peristiwa umum dan penting) dari SPQR (pemerintahannya atau Dewan Kerajaan dan Rakyat Romawi) disiarkan kepada umum.Kemudian oleh Mahajara Caesar annels itu diganti dengan acta diurnal (peristiwa sehari-hari yang dicatat dalam papan tulis) yang dipasang di Forum Romanum (Stadion Romawi) untuk diketahui oleh umum.

Suatu langkah maju dalam kegiatan public relations terlihat pada abad pertengahan di mana timbul perselisihan dagang yang disebut gilda di Eropa. Gilda pada saat itu merupakan suatu organisasi yang anggotanya terdiri dari orang-orang yang bermata-pencaharian sama. Di dalam organisasinya ini mereka memilih pengurus dan menentukan peraturan-peraturan yang dapat menjamin ketentraman bersama di dalam bidang perniagaannya.

Perkumpulan dagang yang bergerak dalam bidang perniagaan sejenis itu, dengan tujuan untuk membatasi persaingan dari dalam dan menolak persaingan dari luar, berusaha meningkatkan hasil produksinya kepada public dengan mengadakan penerangan atau pemberitahuan tentang kualitas, faedah dan manfaat barang produksinya bagi si pemakai. Dengan pelayanan dan penerangan yang baik itu, ada juga yang berhasil merebut pasaran bagi hasil produksinya.

Dari kegiatan-kegiatan tersebut tampak adanya praktek Public Relations yang terorganisasi. Karenanya, sebagian besar para ahli sejarah menyatakan bahwa public relations yang terorganisasi timbul pada zaman gilda. Bahkan tidak saja memulai adanya Public Relations yang terorganisasi, kegiatan para gilda itu ternyata pula memulai adanya propaganda perdagangan yang dilakukan oleh para anggotanya.

Perkembangan Demokrasi di Dunia

Di negeri Inggris timbul tuntutan hak-hak demokrasi dari golongan atas dan menengah terhadap rajanya, sehingga rakyat diakui untuk duduk dalam House of Common (Dewan Rakyat) yang akhirnya berhasil menuntut Reform Bill (Undang-undang perubahan) pada tahun 1832.

Di Perancis pun, pada zaman Lous ke-16, muncul pergolakkan-pergolakkan yang menuntut adanya hak-hak demokrasi. Buah pikiran para ahli filsafat dan pujangga-pujangga seperti demokrasi. Buah pikiran para ahli filsafat dan pujangga-pujangga seperti Montesquicu, melalui bukunya L’esprit des Lois; Rosseau dalam bukunya Contract Social ; dan Voltaire telah membuka mata rakyat perancis untuk memperbaiki nasibnya dengan tangannya sendiri.

Begitu pula, perkembangan kegiatan PR didorong oleh adanya Revolusi Amerika tahun 1775 yang menyatakan dasar-dasar bagi demokrasi baru. Dengan Declaration of Independe-nya tahun 1776 rakyat Amerika memperoklamsikan bahwa umat manusia dilahirkan ke dunia dengan berbekal karunia Tuhan yang berupa hak-hak kepentingan dirinya untuk mencapai keselamatan dan kemakmuran.

Baik pemberontakan di Inggris maupun revolusi di Perancis dan Amerika, semuanya bertujuan sama, yaitu untuk menegakkan kehidupan demokrasi.
Suara rakyat yang dulunya dipandang sepele oleh pemerintahnya, kini harus didengar dan menjadi suara berharga bagi kehidupan negaranya.

Dalam alam demokrasi rakyat memperoleh kebebasan untuk memilih wakil-wakilnya dan dipilih untuk duduk di Dewan Perwakilan Rakyat. Dengan demikian rakyat dapat turut memberikan suaranya melalui wakil-wakil yang dipilihnya di Dewan Perwakilan Rakyat. Ini berarti bahwa rakyat dapat menentukan opini public dalam masyarakatnya, di samping juga sangat menentukan seklai dalam mengarahkan haluan pemerintahan.

Revolusi Industri

Revolusi Industri di awal abad ke-19 ikut pula mendorong pesatnya perkembangan PR. Penemuan-penemuan baru dalam lapangan perindustrian meningkatkan cara kegiatan PR pada taraf yang lebih tinggi dan lebih luas.
Penemuan mesin uap oleh James Watt (1769), alat pintal oleh Arkwright (1786), dan mesin tenun oleh Cartwright (1786) mengakibatkan tersisihnya tenaga manusia oleh mesin-mesin yang dimulai dipakai di pabrik-pabrik.

Produksi pun bisa dilakukan secara besar-besaran hingga menghasilkan barang secara cepat dan banyak. Kemajuan perniagaan dipercepat pula setelah perhubungan lalu lintas dapat diperbaiki, terutama alat-alat pengangkutan. Penemuan kapal api dan kereta api misalnya, oleh Robert Fulton (1807) dan George Stephenson (1825) menimbulkan ekspansi perdagangan dan perniagaan lebih hebat lagi.

Kondisi tersebut sangat membutuhkan keterjangkauan melakukan perluasan demi mencapai publik. Oleh karena itu, dibutuhkan bentuk komunikasi yang lebih maju. Ini berarti pula dirasakan adanya kebutuhan kegiatan PR yang lebih efektif, yang tidak lagi hanya berhadapan muka (face to face) atau kontak pribadi (personal contact). Tetapi sudah kepada bagaimana memikirkan segala kemungkinan-kemungkinan yang terjadi apabila mereka melakukan pengembangan terhadap usahanya. Mereka harus menyelidiki situasi atau masalah yang timbul karena adanya hubungan atau kegiatan mereka di kalangan publiknya.

Perkembangan Serikat Buruh

Sebelum adanya revolusi industri tenaga buruh banyak diperas oleh tuan-tuan tanah. Baik dalam lapangan pertanian, perkebunan, pelabuhan, mapun dalam lapangan kerja lainnya.
Bersamaan dengan revolusi industri, muncul pula suatu kecenderungan yang makin cepat ke arah urbanisasi dan produksi besar-besaran, disertai dengan meningkatnya sarana komunikasi dan transportasi.
Keadaan demikian semakin pesat berkembang, perusahaan-perusahaan raksasa pun bermunculan bagai cendawan tumbuh.

Ini berarti, tenaga manusia di pabrik-pabrik semakin tidak berarti, tersisih oleh tenaga mesin. Sehingga, upah buruh pun makin lama makin rendah, sehingga menimbulkan masalah-masalah baru dalam lingkungan perburuhan.
Buruh dan mesin dianggap sama sebagai benda kepunyaan majikan. Sedangkan publik hanyalah tempat pelemparan hasil produksi atau tempat mengejar keuntungan semata.
Semua buruh bersatu untuk sama-sama memperjuangkan nasibnya dalam menghadapi dan mengimbangi tekanan dari pihak majikan.

Dengan demikian, terasa adanya kebutuhan akan suatu badan khusus yang bergerak di bidang komunikasi antara majikan, buruh, dan publik. Komunikasi yang menghubungkan para industrialis atau pengusaha-pengusaha sebagai majikan (pimpinan) dengan buruh sebagai pelaksana atau pekerja (bawahan) dan publik sebagai konsumen (pemakai hasil produksi). Diperlukan badan penghubung yang khusus meneliti serta menyalurkan keinginan majikan dan buruhnya serta publik terhadap hasil produksi perusahaannya.

Public Relations Modern

Baik pesatnya perkembangan demokrasi, maupun majunya perkembangan industri, semuanya menyebabkan pergeseran-pergeseran atau kegoncangan-kegoncangan hebat di bumi ini. Sejalan dengan perkembangan tersebut, kmunikasi pun dituntut untuk lebih maju lagi, sehingga kegiatan PR pun semakin banyak dipergunakan, banyak dipelajari, dan diteliti. Pada tahun 1906 sebuah industri besar Amerika meminta Ivy Lee untuk menjadi juru bicara dalam hubungan antara perusahaan itu dengan public dan badan-badan lainnya. Dari situ Lee memulai karirnya sebagai seorang Publisist. Karena itu Ivy Lee dianggap sebagai pelopor PR Modern. Karena jasa-jasanya dibidang PR itu pula maka Lee disebut sebagai Father of Public Relations (Cutlip, 1958:33)

Meskipun tidak pernah menunjuk dirinya sendiri, Ivy lee dikenal pula sebagai penasehat hubungan masyarakat yang pertama (Moore, 1988:27). Karirnya dalam bidang PR dikembangkan pula dengan membuka sebuah kantor konsultasi di bidang PR di New York (1916). Kemudian ia membuka sebuah kantor publisitas yang diberi nama Parker and Lee (1930), dan tiga tahun kemudian menjadi pelayan pers dari pengelola batubara antrasit di Pennsylvania Railroad.

Pertama, ia telah menemukan pentingnya memanusiakan bisnis dan memasyarakatkan PR di kalangan karyawan, pelanggan, serta komunitas di sekitar perusahaan. Kedua, ia duduk di antara para top-eksekutif dan tidka melaksanakan program apapun jika tidak memperoleh dukungan aktif dan partisipasi pribadi dari manajemen (Griswold, 1948:7). Declaration of principles-nya yang disampaikan kepada pers, atas nama para pengelola batubara antrasit dalam suatu pemogokan buruh, menyatakan keteguhan pendapatnya bahwa publik harus diberi informasi (Morse, 1906 : 460).

Sejalan dengan pesatnya perkembangan perniagaan, perdagangan, serta industri, yang mengakibatkan adanya persaingan yang hebat di antara para pengusahanya, modernisasi PR melahirkan pula periklanan dan publisitas yang lebih tepat guna lagi. Hampir semua usaha perdagangan dan industri, baik kecil maupun raksasa, memanfaatkan periklanan dan publisitas ini.

Perang Dunia II dan PR

Kemajuan penggunaan PR yang lebih pesat lagi tampak sesudah Perang Dunia II. Kegiatan PR tidak saja dipergunakan di bidang perdagangan dan industri atau profesi. Departemen-departemen di pemerintahan juga ikut memanfaatkannya.
Mereka menggunakan PR untuk membina dan memelihara saling pengertian antara organisasinya dengan masyarakat. Dalam bidang pemerintahan, penggunaan PR dipelopori oleh George Cree pada pemerintahan Wilson di Amerika.

Presiden Wilson pada saat itu menugasi Creel untuk memimpin panitia yang bergerak dalam bidang Public Information. Di dalam panitia tersebut bekerja juga seroang ahli pertanian yang tertarik pad abiding pers, Edward I. Bernays. Setelah lulus Cornell University, Bernays memulai karirnya di bidang publistas.

Bernays pun ikut mengembangkan PR tersebut dengan menciptakan Public Relations Council. Bukunya yang berjudul Crystalizing Public Opinion (1923) bersama buku Walter Lippman yang berjudul Public Opinion (1922) telah menimbulkan pengaruh kuat pada bidang Public Relations.

Karenanya timbul kebutuhan akan orang-orang yang khusus memiliki pengetahuan di bidang PR. Atas dasar keperluan itu pula orang mulai memikirkan perlunya pendidikan khusus di bidang ini. Timbul pemikiran – pemikiran untuk mendidik para calon Public Relations Officer (PRO). Kepada mereka akan diajarkan pengetahuan tentang dasar-dasar kepemimpinan dan ketrampilan dalam melaksanakan PR secara tepat guna.

Kisah “Bapak PR” Ivy Ledbetter Lee

Pada abad ke-20 dengan meningkatnya penerimaan orang terhadap penggunaan publisitas, lembaga publisitas pertama adalah Biro Publisitas yang didirikan di Boston pada tahun 1900. Harvard College menjad kliennya yang paling prestisius. George F. Parker dan Ivy Ledbetter Lee (Ivy Lee) membuka sebuah kantor publisitas di New York pada tahun 1904.

Gabungan antara sikap manajemen keras kepala dan tindakan tidak pantas, memperjuangan buruh, dan kritik public yang tersebar luas menghasilkan penasihat PR pertama, yaitu Ivy Ledbetter Lee. Ia lulusan Universitas Princenton dan mantan wartawan ekonomi New York World ini memulai praktik pribadinya sebagai seorang praktisi atau konsultan PR. Namun dalam waktu singkat, ia memperluas peran tersebut untuk menjadi penasihat PR yang pertama.

Perkembangan PR modern dimulai pada tahun 1906 ketika Ivy Lee disewa oleh industry baja antrasit, yang pada saat itu menghadapi pemogokan buruh. Ivy Lee melihat bahwa meskipun pemimpin buruh tambang, John Micthell sudah menginformasikan kepada wartawan, semua yang mereka tuntut, pemimpin pemilik tambang, George F.Bair, telah menolak berbicara dengan pers atau bahkan dengan Presiden Theodore Roosevelt, yang berusaha menengahi perselisihan ini. Menurutnya bahwa “operator tambang batu bara antrasit, dengan menyadari kepentingan umum yang dikehendaki di kawasan pertambangan, telah berupaya memberikan semua informasi kepada pers” (Wilcox, Ault, dan Agee. 2006:59).
Erci Goldman mengatakan bahwa perkembangan PR tahap kedua ditandai dengan deklarasi yang cetuskan oleh Ivy Lee. Deklarasi itu bernama, Declaration of Principle (Deklarasi Acuan Dasar) yang menyiratkan akhir dari era sikap bisnis “tidak peduli masyarakat” dan awal dari era “masyarakat perlu informasi”.

Deklarasi tersebut berbunyi, “Ini bukanlah biro pers rahasia. Semua pekerjaan kami dilakukan secara terbuka. Kami bertujuan menyampaikan berita. Ini bukan sebuah agen iklan; Jika Anda beranggapan urusan kami harus berjalan sebagaimana mestinya menuju kantor Anda, jangan gunakan urusan kami ini. Masalah kami akurat. Rincian selanjutnya mengenai subjek olahan akan diberikan secara cepat, dan dengan senang hati kami akan membantu setiap editor dalam usaha mereka mencari penjelasan langsung mengenai setiap pernyataan fakta. Singkatnya, rencana kami adalah jujur dan terbuka, atas nama kepentingan bisnis dan lembaga masyarakat, memberikan kepada pers dan masyarakat Amerika Serikat informasi cepat dan akurat mengenai subjek-subjek yang perlu diketahui public karena berarti dan berkaitan dengan kepentingan publik”

Pada tahun 1914, ketika terjadi peristiwa keji yang dikenal dengan Ludlow Massacre, John D. Rockeeller dan lokasi pabrik Iron Company. Ivy Lee sempat kehilangankepercayaan masyarakat denga menjadi penasehat kaumpekerja Rusia dalam pengakuan diplomatic dan perdagangan tahun 1020-an.
Ivy Lee dikenang karena empat sumbangan pemikirannya yang penting bagi PR :
(1) memajukan konsep bahwa bisnis dan industri harus mengikatkan diri dengan kepentingan masyarakat atau public dan bukan sebaliknya ;
(2) berurusan dengan top manajemen dan tidak menjalankan program apa pun, kecuali program itu memperoleh dukungan aktif dan kontribusi pribadi dari top manajemen ;
(3) memelihara komunikasi terbuka dengan media berita atau pers ;
(4) menekankan perlunya bisnis yang memanusiakan dan menarik PR-nya turun ke tingkat masyarakat atau publik.
Peran praktisi PR sebagai penasihat perusahaan dan manajemen kelembagaan menjadi penting.

Tokoh yang melihat kondisi ekonomi amerika yang berkembang itu, didefinisikan oleh Edward L. Bernays dalam sebuah buku yang berjudul Crystallizing Public Opinion yang diterbitkan pada tahun 1923. Selain itu, ia juga dengan rutin, menulis untuk jurnal Public Relations Quarterly, seringkali mengenai tema pemberian lisensi sebagai satu cara untuk menghapus praktisi yang tidak kompeten dan tidak etis dari bidang ini. Karena dinilai mempunyai pengetahuan luas sebagai penemu PR modern.

Penasehat PR selanjutnya adalah Rex Harlow. Pada usia 96 tahun (1988) ia merupakan pendidik tetap pertama di bidang PR. Sebagai seorang professor di Sekolah Pendidikan, Univeristas Satanfors, Harlow mulai mengajar kursus PR secara regular pada tahun 1939. Pada tahun itu, ia mendirikan (American Council on Public Relations Society of America) Ia menjadi ketuanya selama delapan tahun.

Alfred P. Sloan, President General Motors Corporation, juga di antara eksekutif pertama yang menempatkan kepercayaan besar pada PR. Pada tahun 1931, selama tahun-tahun pertama masa depresi berat ketika bisnisnya banyak diserang karena kegagalannya, Sloan menyewa Paul Garrett sebagai karyawan PR yang pertama di perusahaan tersebut.
Denny Griswold, sebagai editor Public Relations News disebut pula sebagai Ibu Public Relations. Publikasinya, yang diterbitkan pada tahun 1944, merupakan terbitan berkala pertama dan independen dalam bidang PR. Sedangkan yang disbeut Bapak PR adalah, Ivy Lebetter Lee dan Edward L. Bernays.
Kisah “Bapak PR Modern” Edward L. Bernays

Edward L. Bernays (1891-1995), sebagai Bapk PR Modern, tampaknya tidak banyak dikenal seperti Ivy Lee. Buku-buku PR klasik Cutlip Center, Effective Public Relations, yang diacu sebagai “alkitabnya” PR tidak begitu menonjolkan nama-nama perintis PR, termasuk Edward L. Bernays.

Ia merupakan orng pertama yang meyakinkan kaum bisnis bahwa PR merupakan urusan eksekutif. Selain itu ia mempunyai misi pribadi untuk “mengumumkan masa depan profesi PR” . Ia pun sempat menerbitkan buku pertama teks PR pertama berjudul Crystalizing Public Opinion (1923). Buku teks klasik ini disusun berdasarkan konsep hakikat dan kekuatan opini publik, yang dianggap sebagai raisan d’ectre PR yang berkembang dan terpisah dari praktik press agentry dan publicity work yang dirintis Ivy Lee.

Para akademisi dan konsultan PR yang tergabung dalam asosiasi (AEJMC) sepakat mengangkat Edward L. Bernays sebagai Bapak PR. Upacara pemberian gelar the Father of Public Relations ini berlangsung dalam kongres AEJMC tanggal 10 Agustus 1991 di Park Plaza Hotel, Boston.

Barneys, yang oleh banyak orang dianggap sebagai penemu PR Modern menulis “Tiga elemen utama PR hampir sama tuanya dengan masyarakat : memberi informasi, membujuk, dan menyatukan massa. Tentu saja, pemahaman dan metode dari pengerjaannya terus berubah selaras dengan perkembangan masyarakat”.
Kisah Grunig & Hunt dan “PR Kontemporer”

Berdasarkan pada teori dan penelitian yang dilakukan oleh James Grunig dan Todd Hunt memaparkan 4 model surt suara menyurat Humas di 4 periode sejarah dan perkembangan modern PR (Grunig & Hunt, 1984). Teori zamannya adalah: publisitas (teori penyiaran, teori informasi publik), Advokasi (teori asimetris), Hubungan (teori simetris).
Berikut adalah perkembangan sejarah PR kontemporer berdasarkan teori Grunig dan Hunts.

1. Zaman Publisitas (1800-an)

Fokus : Penyebaran info dan mendapat perhatian.
Sifat Komunikasi : Satu arah
Peneltian : –
Kegunaan saat ini :Dunia hiburan, olahraga, marketing

Pada tahun 1820, Amos Kendall, seorang penulis dan editor dari Kentucky yang kemudian menjadi asisten Presiden Andrew Jackson, memiliki pengaruh paling besar. Pad atahun 1829, ia menjadi Sekretaris Pers Gedung Putih yang pertama. Ia menulis pidato, koran dan siaran berita kenegaraan, serta mengadakan angket tentang opini masyarakat. Kendall juga mengembangkan surat kabar milik pemerintah.

Dibukanya wilayah Amerika Barat memberi banyak kesempatan bagi PR untuk memengaruhi orang yang timbul di pantai Atlantik untuk pindah ke barat. Banyak pesan yang dibuat terlalu berlebihan, seperti legenda Daniel Boone, Buffalo Bill Cody, Wyatt Earp dan Calamity Jane yang digunakan untuk membujuk orang-orang agar pindah ke sebelah barat Mississipi.

Reformasi sosial pada pertengahan ke-a abad 19 juga sangat bergantung pada teknik klasik PR. Gerakan penghapusan perbudakan termasuk strategi membentuk sendiri masalah, seperti yang dilakukan Harriet Beecher Stowe dengan novelnya Uncel Tom’s Cabin. Gerakan penghapusan perbudakan juga melihatkan strategi lain, seperti dukungan pihak ketiga, memohon keadilan dan otoritas moral. Hal tersebut menggunakan taktik publikasi, public speaking, dan sebagainya.

Kampanye kepresidenan Bryan-Mckinley pada tahun 1896 adalah kali pertamanya mengerahkan semua usaha untuk mendapat opini publik, yakni dengan menggunakan poster, pamflet, rilis berita, pidato dan pertemuan langsung dengan publik di setiap pemberitahuan kereta di seluruh pelosok negara.

2. Zaman Informasi (awal 1900-an)
Fokus :Kejujuran dan akurasi dari penyebaran info.
Sifat komunikasi : Satu arah
Penelitian : –
Kegunaan saat ini : pemerintahan, lembaga nonprofit, lembaga bisnis.

Pada zaman informasi, ditemukan banyak kantor dan departemen humas yang didirikan untuk menyediakan informasi yang akurat, jujur, dan disukai secara berkala pada publik mengenai sebuah lembaga.

Tokoh yang sangat penting pad amasa ini adalah Ivy Ledbetter Lee. Kontribusinya bagi humas antara lain “Declaration of Principle” yang disebutkannya sebagai komunikasi yang jujur pada publik.

Selama periode ini berikut adalah praktik PR yang pertama :

1900: Kantor PR pertam didirikan di Boston.
1904: Kantor publisitas University of Pennsylvania.
1905: Kantor publisitas YMCA.
1906: Penn Railroad & Ivy Lee.
1906: Standart Oil menyewa publisis.
1907: Kantor publisitas Marine Corp.s
1908: Buletin internal Ford
1908: Departemen Humas AT&T.
1908: Program publisitas Palang Merah Amerika.
1914: Colorado Fuel & Iron menyewa Ivy Ledbetter Lee.
1917: Creel Committee on Public Information.
1918: Kantor pers National Lutheran Council.
1919: Kantor pers Knights of Colombus.
1921: Kantor Humas Scars & Roebuck.

3. Zaman Advokasi (pertengahan 1900)

Fokus : Mengubah sikap dan memengaruhi perilaku.
Sifat Komunikasi : 2 arah.
Penelitian : sikap & opini.
Kegunaan saat ini : lembaga bisnis yang bersaing, penyebab dan pergerakan.

Sepanjang pertengahan dan akhir abad 20, banyak penelitian dan praktik PR dibuat dengan teori advokasi, di mana organisasi mencoba untuk memengaruhi sikap dan perilaku publik. Pada masa ini, banyak penelitian yang berhubungan dengan propaganda, pencucian otak, dan manipulasi sosial. Setelah perang selesai, banyak praktisi dan peneliti melanjutkan penjelajahan mereka ke komunikasi persuasi.

Ada pun beberapa kejadian penting PR yang terjadi pada zamannya.
1922: Walter Lippmann menulis Public Opinion.
1922: Bernays mengajar kelas pertama tentang PR di New York University.
1923: Bernays menulis Crystalizing Public Opinion.
1939: Rex Harlow menjadi profesor PR yang pertama (Stanford University).

Teori advokasi bisa digunakan di banyak situasi. Biasanya, kantor PR memberi layanan advokasi terutama untuk klien yang produk atau jasanya memiliki pesaing. Teori ini lazim digunakan di politik PR.


4. Zaman Hubungan (akhir 1900-sekarang)

Fokus : Pemahaman bersama dan penyelesaian konflik.
Sifat komunikasi : 2 arah
Penelitian : perspesi, nilai.
Kegunaan saat ini : perusahaan, pemerintah, lembaga non-profit.

Pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, lahir pendekatan baru terhadap PR, melengkapi 3 teori sebelumnya mengenai publisitas, informasi publik, dan advokasi. Teori ini berdasarkan pada prinsip komunikasi sebagai kegiatan mendengarkan dan menyelesaikan masalah untuk keuntungan dua belah pihak, baik lembaga maupun publik.

Teori hubungan ini telah dipandang sebagai penyelesaian, dalam dunia relijius, gerakan kristiani dan komunikasi antaragama menjadi contoh teori hubungan ini. Dalam dunia bisnis, rekaan publik dan perekrutan konsumer menjadi contoh teori ini.

Referensi
Ardianto, Elvinaro. 2013. Handbook of Public Relations
(Pengantar Komprehensif). Bandung : Simbiosa Rekatama Media.
Suhandang, Kustadi.2012. Studi dan Penerapan Public Relations.
(Pedoman Kerja Perusahaan). Bandung: Nuansa Cendekia.

Pemilu 2014 : “Teddy Bear” Strategi Ical Untuk Menang

 

Ada-ada saja memang, melihat tingkah laku para politisi menjelang pemilihan umum (pemilu) 2014. Dari banyak politisi yang wara-wiri di media, baik konvensional maupun online, ada yang luar biasa dalam strategi komunikasi politik yang diterapkan. Sebut saja Aburizal Bakrie. Pemilik panggilan akrab “Ical” ini merupakan ketua umum partai pada masa orde baru bernama Golongan Karya (Golkar). Partai kuning yang sempat menggoreskan tinta kelam semasa Mendiang mantan Presiden Soeharto itu masih bertahan dengan lebel perubahan, yakni “Golkar Baru”.

Perlu disadari, memang partai kuning itu masih memiliki kepercayaan yang luar biasa dari loyalis kaum baheula. Entah faktor sakti apa yang masih mengiang di pikiran sehingga membawa Golkar menjadi partai tiga besar di pemilu 2009. Bahkan, partai ini nyaris tanpa noda sedikitpun dari rapot merah Soeharto. Jika diperhatikan, Golkar sebagai partai besar dalam sejarah lebih menonjolkan sisi figuritas dan bukan pada kinerja. Sebut saja seperti B.J Habibie, Jusuf Kalla, Surya Paloh, dan Akbar Tanjung. Jelas sudah, melihat pautan usianya, Golkar jauh lebih memiliki jam terbang politik dibanding partai-partai baru lainnya.

Namun, di balik dari besarnya nama dari tokoh-tokoh Golkar tidak lantas membuat brand of image possitioning kian nyaman terlihat. Konspirasi politik tidak lagi tertutup layaknya masa kepemimpinan Harmoko (Orde Baru), melainkan sudah sangat terlihat jelas. Masyarakat tidak hanya disuguhkan dengan kondisi politik antara Golkar dengan lawan partainya, tetapi konflik internal. Konflik internal itulah bisa kita sebut sebagai Hottie Inside, Hottie Outside. Maka seiring dengan kondisi itulah, yang akhirnya mengakibatkan beberapa politisi hengkang dari Golkar, seeprti Surya Paloh. Selebihnya lebih baik memilih bermain di balik layar, seperti Jusuf Kalla dan Akbar Tanjung.

Kini, Gokar di bawah naungan Ical pun tidak dirasa nyaman. Hal itu dikarenakan, sosok sang ketua umum yang terkenal sebagai pengusaha itu terjerat kasus bocornya lumpur lapindo berantas di Sidoarjo. Kasus menyakitkan yang dirasa tidak hanya bagi masyarakat Sidoarjo saja, melainkan  seluruh rakyat Indonesia itu tidak jelas akhirnya seperti apa. Perusahaan milik Ical pun dituntut agar membayar ganti rugi terhadap seluruh korban lapindo. Namun pada kenyataannya, mereka masih nestapa tanpa kejelasan.

Bayang Ical di Tubuh Golkar

Demi berlari dari kenyataan pahit itu, Golkar secara praktis merubah pola startegi komunikasi politik demi mewujudkan obsesi sang Ketua Umum yang ingin menjadi Presiden Republik Indonesia periode 2014-2019. Iklan politik kian menjual citra Abu Rizal Bakrie (ARB) di setiap media elektronik, terlebih media televisi. Perlu diingat, Ical memiliki beberapa satasiun televisi swasta yang cukup terkenal dan membumi. Jelas, ini sangat memudahkan dirinya untuk terus berdagang politik citra.

Intensitas kemunculan Ical pada iklan politik di televisi yang sering itu, ternyata rupanya tidak membuat puas sang Bakrie Boss dengan hasil survey elektabilitas pemilihan yang dilakukan beberapa lembaga survey politik di Indonesia. Bahkan, bisa dikatakan strategi Ical kian redup sebelum Jokowi memproklamirkan diri sebagai Calon Presiden RI 2014 dari PDIP.

Namun setelah negeri ini geger dibuat oleh Jokowi atas pencalonannya sebagai Capres 2014, Golkar membuat strategi lain yang tidak terpikirkan oleh siapa pun. Tiba-tiba saja, muncul beberapa foto kebersamaan dengan duo artis Zalianti di Maldivez. Bahkan isi dari penyebaran isu itu cukup provokatif semacam “Plesiran Don Juan yang dikelilingi perempuan cantik”.

sumber : bali.bisnis.com

sumber : bali.bisnis.com

Setelah beberapa foto diunggah, terlihat salah satu artis itu sedang memeluk boneka Teddy Bear krem yang kemudian diikuti oleh Ical. Namun setelah foto-foto dan video menyebar, Ical, Golkar, dan keluarga besarnya melakukan klarifikasi terkait pemberitaan itu. Akhirnya, mereka pun menyampaikan bahwa penyebaran isu-isu tidak benar merupakan kampanye hitam menjelang pemilu.

 

Analsis PR Startegic

Taukah kita, tanpa sadar isu plesiran ke Maldives itu bisa jadi merupakah kamuflase dari sebuah strategi Ical. Jangan disangka, bahwa isu yang dibawa ini akan menghancurkan Ical di pemilu. Jauh dari itu, justru pengemasan isu dan strategi penutupan isu jelas memiliki agenda setting yang keren.

Saat ini, seperti kita ketahui, obrolan mengenai politik tidak mengenal tempat, ruang dan waktu. Bahkan siapa pun dapat berdiskusi mengenai politik. Jokowi adalah politisi yang saat ini gencar diomongkan oleh masyarakat. Baik yang mendukung ataupun menccibir. Bahkan, seolah pemilu sudah bisa diramalkan hasilnya. Tentu saja, kondisi ini membuat panas dalam para capres-capres dari beberapa partai yang sudah mengudara selama ini meredup. Sebut saja, Gita Wirjawan dan Prabowo. Ical yang sepertinya jeli melihat peluang, tentu tidak diam melihat keterpurukan dirinya oleh ketenaran Jokowi. Itu artinya, isu penyebaran foto dan video ini adalah salah satu strategi mengangkat kembali ketenaran Ical di sisa-sisa waktu pencoblosan.

Ada beberapa maksud pesan yang inginkan diciptakan oleh Ical, yakni :

1. Dengan munculnya gambar dan video itu menggambarkan sosok Ical yang banyak uang dan senang main perempuan. Terlebih, dalam foto itu, digambarkan Ical pergi menggunakan Jet Pribadi. Jelas bagi siapa pun akan menganggap Ical adalah sosok laki-laki yang memiliki selir. Karena, pada nyatanya ia sendiri sudah memiliki isteri dan anak-anak yang salah satunya menantukan artis.

2. Penggunaan artis dapat digolongkan sebagai cameo. Ketika pada masa kampanye, jelas artis adalah faktor penarik masa. Karena, dengan demikian ini dapat menarik kepeduliaan para kaum ibu rumah tangga secara mayoritas. Mengapa, itu dikarenakan sudah pasti berita-berita itu akan sering muncul di infotainment yang faktanya penayangan infotainment lebih sering di putar dibandingkan program lainnya. Penikmat program infotainment lebih banyak digandrungin oleh kaum perempuan dan ibu rumah tangga. Itu sebabnya, ini sangat strategis.

3. Setelah beredarnya foto dan video, Ical berkumpul bersama keluarga besarnya dan seluruh kader Golkar untuk mengklarifikasi ‘kebenaran’. Ini yang menarik. Pasalnya, bentuk yang dilakukan adalah seolah tindakan recovery image (perbaikan citra) yang dilakukan oleh seseorang yang terkena musibah. Perbaikan citra yang dilakukan terlihat elegan. Luar biasa elegannya. Mereka mencoba membagi-bagi kan boneka Teddy Bear yang sangat sama dengan boneka yang digunakan oleh artis Olive Zalianty Lihat Berita Terkait. Bahkan, seluruh keluarga sengaja dikumpulkan dengan tujuan bahwa, Ical merupakan sosok yang memiliki keluarga harmonis yang tidak terjadi apa-apa. Bahkan gelak tawa, senyum tenang jelas terlihat dari raut wajah mereka satu persatu.

4. Teddy Bear, oh mengapa harus teddy bear. Karena ini memunculkan stigma positif kekeluargaan yang cinta, harmonis, dan kasih sayang. Boneka itu jelas strategi yang bisa di dapatkan oleh siapa pun. Dan hasilnya luar biasa, tidak dipungkiri banyak yang terhipnotis dengan kelucuan boneka tersebut. Pertanyaan besar, jelas tidak akan mudah menyiapkan boneka serta baju yang bertuliskan ‘ARB’ pada dada teddy bear. Sedankan, jarak pemberitaan foto dan video sangat dekat dengan klarifikasi yang dilakukan. Jika bukan kampanye, apa lagi?!.

Tentu, dari pemberitaan itu, baik kebenaran apakah Ical pergi ke Maldivez dengan bukan muhrim, adalah bukan isu utama yang harus disorotkan. Karena, media tidak melihat ada konflik di sana. Justru sebaliknya, dipertotonkan gambaran keluarga harmonis seorang ARB.

Diharapkan, masyarakat Indonesia tetap cerdas dan tidak melihat rekayasa citra politik yang menutup kenyataan dari rekam jejaknya. Namun, sekali lagi itulah media yang dapat menyuntikkan sesuatu baik itu racun ataukah penawar kapan pun. Kuncinya sekali lagi, hanya ada pada diri kita. Tetaplah fokus pada visi misi, ideologi, dan rekam jejak ketika harus memilih dalam pemilu 2014. Jika hidup bisa dikatakan panggung sandiwara, jadilah yang tidak hanya bisa menonton. Tetapi jadilah sebagai pemeran, jika perlu sutradara.

Semoga pemilu 2014 lebih baik. Tetap jujur, berani, independen, dan bertanggung jawab.

Adiooss..

 

 

 

Antara Darwis Tere Liye dan PKS (Padi Keapit Sibulan)

Sosial media kian ramai di tengahnya hingar bingar panggung politik menjelang pemilu 2014. Memang tidak dipungkiri, jelas sosial media telah dinobatkan menjadi media gratis untuk kampanye, propaganda, dan yang paling penting huru-hara pro dan kontra dalam kerumunan masyarakat yang butuh informasi dan hiburan. Terlepas dengan fungsi nyata sebagai media komunikasi, sosial media ternyata kembali menimbulkan dampak huru-hara pro kontra, sehingga timbul sebuah opini publik yang dapat diukur sebagai strategi dalam pemilu.

Kembali, pada pembahasan yang sesuai judul tulisan ini. Darwis Tere Liye (DTL) merupakan novelis yang sudah menerbitkan novel-novel dengan penjualan terbaik di antara deretan nama-nama novel ber-jenre islami Indonesia. Penulis ini, sungguh lihai merangkai kata-kata sehingga dengan sekejap dapat menyihir setiap qolbu pembaca. Tidak hanya itu, karya DTL juga nyaris membuat inspriasi bagi kalangan muslim di Indonesia.

Kata-kata berjubah pujangga itu terkadang menyentil keadaan sosial politik yang terjadi. Maka tidak heran, banyak pembaca yang mengambil beberapa kutipan-kutipan yang sudah ia tintakan.Jika diperhatikan, penikmat tulisan beliau justru merupakan pembaca yang senang dengan pemikiran-pemikiran agamis melankolis. Anak-anak muda yang ‘paham’ dengan Islam pun, berlomba-lomba membeli novel dan saling memamerkan kutipan pemikiran dalam novel pada beberapa akun sosial media mereka. Sungguh luar biasa DTL itu membakar jiwa kaum muda relijius negeri ini.

Selain karya-karya novel yang sudah diterbitkan, DTL juga membuat Fan Page pada sebuah akun sosial media, facebook. Kini fan page itu memiliki 470.000 penyuka. Fan page itu jelas merupakan alat sosial bagi DTL yang ingin mempopulerkan karya-karyanya kepada penikmat gagasan-gagasan idealisme miliknya. Namun, kondisi itu kini berbalik 180 derajat. Karena sebuah status yang ia buat dinilai kontroversial oleh sebagian pembaca langganannya. Berikut berita yang terkait Tere Liye Sentil PKS. 

Menyimak kalimat pada status itu, sontak membuat geli setengah sadar. Mengapa, pasalanya DTL kali ini menorehkan tulisan yang menukik tajam pada sebuah partai besar Islam yang harusnya memiliki satu pemikiran dengan karya-karyanya. Partai Keadilan Sejahteran yang dilambangkan dengan gambar padi yang diapit oleh dua bulan itu, merupakan partai lima besar sekaligus parati koalisi pemerintah pada Kabinet Indonesia Jilid II. Ketua partai PKS itu saat ini adalah Anis Matta yang menggantikan Luthfi Hassan Ishak, tersangka kasus suap sapi.

Jika kita mengamati tulisan status DTL, dapat dikategorikan curahan hati yang sifatnya pribadi. Mengapa, karena dalam kondisinya, ia berusaha untuk mencoba menyampaikan sesuatu yang mungkin bersifat amniah bagi sebagian kalangan, terlebih untuk simpatisan grass root partai itu.  Ia begitu paham dengan pelanggan karyanya yang nyaris semua adalah aktivis dakwah. Tentu, kalimat status itu membakar jenggot pembaca yang semula kagum dengan karya-karya idealisme DTL, berubah menjadi pandangan sinsime terhadap DTL.

Sinisme ini, ditunjukkan dengan banyaknya komentar mengenai, ketidak layaknya seorang DTL menutup akses untuk mengomentari status miliknya oleh para pembaca/penyuka fan page  atau bahkan dinyatakan bahwa penulis ulung itu memblokir beberapa pemilik akun anggota fan page yang sudah mengomentari status milik DTL.

Bagi mereka yang merasa kontra, DTL tidak seharusnya memposting hal yang bertentangan dengan idealisme Islam sesungguhnya dan tidak seharusnya, antipati dengan komentar orang lain terhadap status miliknya. Bahkan, para kontra itu meanalogikan sifat agung Rasulullah SAW yang senantiasa menerima kritik dari para pengikutnya. DTL begitu habis di nilai sangat kontradiktif dengan kutipan-kutipan karyanya yang telah menghipnotis para pembaca dengan adanya tidakan ditutupnya akses mengomentari status milknya. Berikut info lebih lanjut terkait pada kontra Surat Cinta untuk DTL

Lalu bagaimana dengan yang setuju dengan pernyataan DTL?, dalam status tersebut, dapat dilihat terdapat 337 orang yang menyukai. Tidak ada setengah jumlah dari penyuka Fan Page itu, jelas menunjukkan bahwa kontradiktif lebih dominan.

Dalam kasus seperti ini sosial media, memang bersifat pribadi. Namun, bagi para tokoh tersohor dengan segala profesinya, justru sosial media bukanlah privasi, terlebih fan page yang sengaja dibuat oleh pemiliknya untuk menjadi ajang komunikasi antara tokoh dan para pengagumnya. Karena, dengan adanya sosial media tersebut, justru dapat menjadi bumerang bagi tokoh itu sendiri. Karena, bagi mereka yang dapat mengedalikan opini di sosial media, maka dia lah menang. Hal ini mengingatkan saya dengan penelitian dari Amerika Serikat yang menyatakan bahwa, dampak Sosial Media merupakan pembunuh karakter yang sangat ampuh. Maka, tidak heran jika bullying yang dilakukan sebagian orang dapat menyebabkan kematian satu orang.

Dan mungkin, bagi para kontra untuk status DTL, coba dilihat tidak dengan sesubjektif dan se-reaktif mungkin. Karena jika kita lihat dari karakteristik sosial media yang beda itu, bisa jadi lebih banyak mudhoratnya/keburukannya dibandingkan kebaikkannya. Bagi yang sangat paham jenis sosial media yang populer saat ini, seperti instagram dan twitter, sudah banyak yang saling ejek satu sama lain. Emosi memuncak hanya karena keterbatasan kemampuan persamaan perspektif di sosial media antara satu individu dengan lainnya. Persamaan persepktif yang efektif adalah dilakukan pada tatap muka. Terlebih bukan pada media sosial yang jelas menyita waktu produktif kita di dunia nyata.

Terkait isi dari pesan DTL pada status itu, biarlah itu menjadi rahasia dunia nirwana yang menjadi tanggung jawab orang-orang yang dianggap sebagai pemimpin di antara kaum-mu. Tugas kita adalah, berbaik sangka. Berbaik sangka, adalah upaya dari ciri-ciri hati yang lapang untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Jika kalian adalah simpatisan partai tersebut, tentu hal yang mungkin diterima selama ini adalah citra yang tampak dari luar, yakni kesamaan ideologi/platform dari sebuah partai tertentu. Atau bahkan sosok figuritas yang ada pada organisasi tersebut.

Perlu diingat, alangkah baiknya jika kita melakukan sesuatu kebaikan tidak karena sosok seseroang/figuritas. Karena, jika sudah terbentur dengan figuritas seseroang akan membela mati-matian figur itu dengan cara apa pun. Ketika figur itu tidak sesempurna apa yang digambarkan selama ini, maka dirinyalah yang akan mati tenggelam dengan kebutaan dari figuritas.

Dunia politik tentu sarat dengan lawan politik. Maka ada yang suka, tentu ada juga yang tidak suka. Sangat sulit mengendalikan pandangan orang melalui sosial media. Terlebih, bagi mereka yang tidak menyukai. Kita pun demikian. Bisa sangat kemungkinan, diri kita adalah bagian yang mengambil andil dalam peran pro dan haters. Tergantung kondisinya, sesuai selera. Kali ini mungkin PKS yang disentil, para pembenci  kian bersorak dan mencemooh. Hati-hati, jangan-jangan kita pun demikian. Dengar kabar buruk dari partai lain, sorak sorai dan kata-kata mencibir tertulis tajam di jejaring sosial media dari tangan kita.

Idealnya memang, sudah selayaknya pasal kebebasan menyampaikan pendapat yang baik, benar, dan tidak menyinggung SARA itu juga diterapkan dalam kehidupan dunia sosial media. Torang tidak lucu bukan, masalah dunia maya dibawa-bawa di dunia nyata?!

Kejadian ini pun, bukan kali pertama yang terjadi melanda sebuah partai politik. Di negara maju, justru sosial media dijadikan alat untuk membongkar kasus yang dinilai kontroversial. Sebut saja, Wikileaks.

lagi-lagi 2014 panas. Semoga, hati mu tidak panas ya..

Salam damai.,!!

Adiooss..

Meneropong Ricoeur sebagai Acuan Tradisi Fenomenologi Ilmu Filsafat Komunikasi

Para ahli sepakat bahwa landasan ilmu komunikasi yang pertama adalah filsafat. Filsafat melandasi ilmu komunikasi dari domain ethos, pathos, dan logos dari teori Aristoteles dan Plato. Ethos merupakan komponen filsafat yang mengajarkan ilmuwan tentang pentingnya rambu-rambu normatif dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang kemudian menjadi kunci utama bagi hubungan antara ilmu dan masyarakat. Pathos merupakan komponen filsafat yang menyangkut aspek emosi atau rasa yang ada dalam diri manusia sebagai makhluk yang senantiasa mencintai keindahan, penghargaan, yang dengan ini manusia berpeluang untuk melakukan improvisasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Logos merupakan komponen filsafat yang membimbing para ilmuwan untuk mengambil suatu keputusan berdasarkan pada pemikiran yang bersifat nalar dan rasional, yang dicirikan oleh argument-argumen yang logis.

Komunikasi merupakan kegiatan yang selalu dilakukan oleh makhluk hidup, terlebih bagi manusia. Komunikasi dengan fungsinya dapat menyatukan persepsi dua insan yang bersitegang, atau dapat menghibur hati yang lara, dan yang paling terpenting mempermudah melakukan interaksi sosial yang saling menguntungkan.

Pada prosesnya, manusia berfilsafat. Filsafat bermula dari pertanyaan dan berakhir pada pertanyaan. Hakikat filsafat adalah bertanya terus-menerus, karenanya dikatakan bahwa filsafat adalah sikap bertanya itu sendiri. Dengan bertanya, filsafat mencari kebenaran. Namun, filsafat tidak menerima kebenaran apapun sebagai sesuatu yang sudah selesai. Adapaun yang muncul adalah sikap kritis, meragukan terus kebenaran yang ditemukan. Dengan bertanya, orang menghadapi realitas kehidupan sebagai suatu masalah, sebagai sebuah pertanyaan, tugas untuk digeluti, dicari tahu jawabannya.

Secara singkatnya, manusia akan berfilsafat dalam lingkaran frame of experince (foe) yang mana hasil dari pencarian tersebut akan diwujudkan dalam sebuah frame of reference (for) yakni asumsi, pemikiran, atau paradigma. Tentu saja, hasil bersilsafat seseorang akan menjadi dasar tindakan pada dirinya.

Banyak filsuf-flisuf ternama yang memberikan kontribusi pemikiran mereka dalam setiap kehidupan manusia yang akhirnya dijadikan sebagai pijakan hidup. Ricoeur salah satunnya. Ricoeur merupakan tokoh penyumbang pemikiran fenomenologi. Pemikiran fenomenologi cukup dikategorikan sebagai pemikiran serta pendekatan yang sering dilakukan pada penelitian komunikasi untuk masalah-masalah sosial. Makalah ini akan menjelaskan mengenai tokoh filsafat Ricoeur dan pemikiran-pemikiran yang sudah tertuang dalam karya-karyanya yang mendunia.
Didasari dari latar belakang masalah yang sudah dijelaskan, dapat dihasilkan sebuah rumusan masalah dalam makalah ini yakni Meneropong Ricoeur sebagai Acuan Fenomenologi Ilmu Filsafat Komunikasi.

Latar Belakang Kehidupan Ricoeur
Paul Ricoeur dilahirkan di Valence, Perancis Selatan pada tahun 1913. Dia menjadi yatim piatu pada saat usia 2 tahun. Ia berasal dari keluarga Kristen Protestan yang saleh dan dianggap sebagai salah satu seorang cendekiawan Protestan yang terkemuka di Prancis. Pada tahun 1913, Ricoeur yang bernama lengkapkan Jean Paul Gustav Ricoeur adalah seorang filsuf yang produktif dan multivalent sifat pemikirannya.

Ricoeur dibesarkan di Rennes. Di Lycee ia berkenalan dengan filsafat untuk pertama kalinya melalui R. Dalbiez, seorang filusuf beraliran thomistis yang terkenal karena dialah salah seorang Kristen pertama yang mengadakan suatu studi besar tentang Psikoanalisa Freud. Ricoeur mendapatkan licence de philosophie pada tahun 1933, lalu mendaftar pada Universitas Sorbonne di Paris guna mempersiapkan diri untuk agrégation de philosophie yang diperoleh pada tahun 1935. Di Paris inilah Ia berkenalan dengan Gabriel Marcel yang nantinya akan banyak mempengaruhi pemikirannya secara mendalam

Pada tahun 1937-1939 Ia memenuhi panggilan untuk bergabung dalam wajib militer. Pada waktu mobilisasi Ia masuk lagi ketentaraan Prancis dan dijadikan tahanan perang sampai akhir perang pada tahun 1945. dalam tahanan Jerman inilah Ia banyak mempelajari karya-karya Husserl, Heidegger dan Jaspers. Bersama teman semasa tahanannya, Mikel Dufrenne, ia menulis buku Karl Jaspers et la philosophie de l’existence (1947). Pada tahun yang sama diterbitkan lagi satu buku yang berjudul Gabriel Marcel et Karl Jaspers, studi perbandingan antara dua tokoh eksistensialisme yang menarik banyak perhatian pada waktu itu.

Setelah perang usai ia menjadi dosen pada Collège Cévenol, pusat Protestan internasional untuk pendidikan dan kebudayaan di Chambon-sur-Lignon. Pada tahun 1948 Ia menggantikan Jean Hyppolite sebagai professor filsafat di Universitas Starbourg.
Pada tahun 1950 Ricoeur memperoleh gelar Docteur ès lettres dan tesisnya dimasukkan ke dalam jilid pertama dari Philosophie de la volonté (Filsafat Kehendak) yang diberi anak judul Le volontaire et l’involontaire (1950) (yang dikehendaki dan yang tidak dikehendaki) dan sebagai tesis tambahan terjemahan karya Husserl Ideen I dengan pendahuluan dan komentar, yang sudah mulai Ia kerjaan saat masih menjadi tahanan di Jerman. Sejak inilah Paul Ricoeur dikenal sebagai ahli fenomenologi.

Sekitar tahun 1950an Ia juga mulai menyenangi membaca karya-karya filsaft dari mulai Plato hingga Kant, Hegel, dan Nietzsche yang membawanya mendapatkan pemahaman yang menyeluruh tentang perkambangan filsafat barat. Sehingga hal ini pula yang membuat dirinya tidak pernah terjebak pada satu aliran saja, bahkan pada suatu waktu Ia mempelajari filsafat Analitis yang merupakan aliran yang banyak berkembang di Inggris seperti Wittgenstein, Austin, Searly). Selain filsafat Ia juga memperhatikan masalah-masalah Politik, sosial, budaya, pendidikan dan teologi.

Ricoeur diangkat sebagai professor filsafat di Universitas Sorbonne pada tahun 1956. pada tahun 1960 Ia menerbitkan jilid kedua dari Philosophie de la volonté dengan anak judul Finitude et culpabilité (Keberhinggan dan Kebersalahan). Ia sempat menduduki Dekan Fakultas Sastra di Universitas Sorbonne, karena pada saat itu banyak kejadian dimana para mahasiswa memberontak di karenakan sistem pendidikan yang tidak memuaskan dan Dekan mengundurkan diri maka Ricoeur di angkat sebagai Dekan untuk 1 tahun. Namun karena terjadi kembali pemberontakan mahasiswa dan Ricoeur merasa tidak nyaman maka Ia mengundurkan diri. Ia kemudian banyak mengajar di Universitas Leuven, lalu kemudian kembali lagi ke Paris dan setiap beberapa bulan ia mengajar di Universitas Chicago. Perjalanan Ricoeur, dari seorang yang mengamati sebuah bahasa sedari kecil, berkahir pada tahun 2005.
Pemikiran-pemikiran Ricoeur dan Aliran yang Menyertainya

Bagi Ricoeur, filsafat tidak memulai memulai dari bukan apa-apa. Sebelum filsafat mulai, bahasa mendahuluinya; dan agaknya, bahasa mengatakan seglanya. Teori bahasa yang dijabarkan oleh Ricour didasarkan atas penilaian antara sistem dan wacana. Penilaian ini merupakan sumbangsih yang tidak diambil dari Saussure, tetapi diambil dari ahli bahasa Prancis, Benveniste (Thompson. 1986). Menurut Benveniste, bahasa ialah totalitas yang diartikulasikan ke dalam berbagai kondisi; tiap-tiap kondisi memiliki karakternya yang terdiri dan mendasar.

Riceoeur menulis beberapa studi penting mengenai hermeneutika, psikoanalisis, hubungan linguistik dan strukturalisme, serta berbagai masalah kemasyarakatan lainnya. Dikarenakan kesadarannya bahwa tanpa tradisi tiada hari depan, Ricoeur dalam berpikirkan selalu berangkat dari dalam tradisi filsafat reflektif yang bermula sejak Socrates, Plato, Descartes, Kant, Fichte, Hegel, kemudian Husserl, dan Jean Nabart.

Hemeneutika Fenomenologi
Adapun pemikiran-pemikiran lain yang dimiliki Ricoeur, yakni Hermeneutik Fenomenologis. Pada dasarnya hermeneutika bisa dianggap sebagai tradisi filsafat yang diciptakan melalui sintesis dari dua wawasan filsafat continental. Satu dari wawasan ini adalah hermeutika yang memiliki sejarah yang panjang dan tersendiri yang melibatkan karya tulis para sarjana seperti Schleiermacher dan Dilthey. Wawasan lainnya adalah fenomenologis yang sebagian besar berasal dari doktrin Husserl. Tokoh kunci yang melakukan sintesis ini adalah Martin Heidegger dan Hans-Georg Gadmer (Thomson, 1986).

Ricoeur menjelaskan bahwa proses okulasi antara metode dengan metafisika, dari teori ke ontology, dari hermeneutika ke fenomenologi, terdapat tiga tahapan yang harus dilalui. Pertama adalah tahap semantik, yaitu bahasa merupakan wahana utama bagi ekspresi ontologi. Karena itu poros yang tidak bisa ditinggalkan adalah kajian terhadap struktur bahasa dan kebahasaan-mencakup keseluruhan ini dalam tataran yang normal akan tercakup dalam kajian terhadap segala sistem bahasa. Lain halnya, dalam tataran abnormal menjadi kajian dari psikoanalisis, yaitu dalam usaha untuk mengungkapkan makna yang tiak terbahasakan karena terepresi atau pengungkapan makna yang terdeviasi, atau bahkan tereduksi karena kendala dalam sistem komunikasi.

Tahap semantik ini memiliki peran fundamental dalam menjaga hubungan antara hermeneutika dengan metode di satu sisi dan ontologi di sisi lain. Hermeneutika sebagai metode atau sebagai praktik yang dijalankan, akan menjaganya terhindar dari langkah untuk memisahkan konsep metode dan konsep kebenaran. Selanjutnya, Ia juga bermanfaat dalam hubungan dengan fenomenologi sebagai upaya untuk menangkap realitas. Ada manusia bukan sebagai entitas objektif dan statis, melainkan equivocal dan intentional. Akhirnya, dataran penampang semantic ini akan menjadi pintu penghubung antara hermeneutika dengan filsafat bahasa yang lain, dan bahkan filsafat secara keseluruhan.

Selanjutnya, tahap kedua adalah tahap refleksi, yaitu mengangkat lebih tinggi lagi posisi hermeneutika pada tingkat filosofis. Tahap semantic memungkinkan hermeneutika memijakan kakinya pada tingkat teknik aplikatif kebahasaan. Pada tahap ini, hermeneutika harus melalui tahap yang lebih tinggi untuk memperoleh posisi sebagai sebuah filsafat. Tujuan hermeneutika dalam hal ini adalah memahami diri sendiri melalui pemahaman orang lain, yaitu dengan mengatasi jarak waktu yang memisahkan antara kita dengan teks. Akan tetapi refleksi ini tidak terjadi dalam pola Cogito Cartesian di mana entitas diri adalah sesuatu yang statik dan objektif terkungkung dalam hubungan subjek-objek, melainkan dalam sebuah benturan langsung dalam realitas, sebagaimana diistilahkan Dilthey dengan ekspresi kehidupan. Dalam hal ini, yang kita gunakan bukan logika positivistik yang bisa dijungkirbalikkan, melainkan logika transendental yang berpijak pada perjumpaan langsung dengan realitas.

Kemudian, tahap yang ketiga adalah tahap eksistensial. Menurut Ricoeur, pada tahap ini hermeneutika memasuki tahapan paling kompleks, yaitu tahap ontology-membeberkan hakikat dari pemahaman, ontology of understanding melalui methodology of interpretation. Pada tahap ini akan tersingkap bahwa pemahaman dan makna bagi manusia ternyata berakar pada dorongan-dorongan yang lebih mendasar yang bersifat instingtif. Dari hasrat inilah kemudian lahir kehidupan dan selanjutnya lahir bahasa.

Menurut Ricoeur fakta atau produk itu dibaca sebagai suatu naskah. Pemahaman seperti itu terjadi, jikalau misalnya ada pemahaman mengenai, bahasa bukan sekedar sebagai bunyi-bunyian, tetapi sebagai komunikasi. Tarian tidak hanya sebagai gerak yang bersifat biotik, tetapi sebagai bagian dalam upacara ritual. Kurban tidak hanya sebagai pembakaran benda, atau penyembelihan binatang, tetapi sebagai tanda penyerahan. (Bakker,1998,42).

Bagi Ricoeur hidup ini merupakan interpretasi, terutama jika terdapat pluralitas makna, disaat itulah interpretasi dibutuhkan. Apalagi jika symbol-simbol dilibatkan, interpretasi menjadi penting, sebab disini terdapat makna yang mempunyai multi-lapisan. Menurutnya interpretasi adalah usaha untuk “membongkar” makna-makna yang masih terselubung atau usaha untuk membuka lipatan-lipatan dari tingkat-tingkat makna yang terkandung dalam makna kesusastraan.(Sumaryono, 1999,105)

Kata-kata adalah simbol yang menggambarkan makna lain yang sifatnya “tidak langsung, tidak begitu penting serta figuratif (berupa kiasan) dan hanya dapat dimengerti melalui simbol-simbol tersebut”.( Sumaryono, 1999,105). Kedudukan penafsir menurut Ricoeur harus mengambil jarak dengan obyek yang kita teliti supaya ia dapat membuat interpretasi dengan baik. Ricoeur sadar bahwa setiap manusia pasti dalam benaknya sudah membawa anggapan-anggapan atau gagasan-gagasan, oleh karenanya kita sama sekali tidak dapat menghindari diri dari prasangka. Dibalik itu pula Ricoeur sadar bahwa anggapan-anggapan dan gagasan-gagasan yang terdapat pada para penafsir itu turut mempengaruhi dalam mereka dalam memberi kritik. (Sumaryono, 1999,106-107) dan tugas dari seorang penafsir adalah menguraikan keseluruhan rantai kehidupan dan sejarah yang bersifat laten di dalam bahasa atau teks (Sumaryono, 1999,108)
Hermeneutika Simbol dan Mitos

Memahami suatu fenomena Ricoeur mengatakan bahwa semua yang ada ini harus dilihat atau di wakili oleh simbol-simbol. Dalam bukunya mengenai Filsafat Kehendak, Ia menerangkan tentang simbol-simbol kejahatan yang di tulis dalam bagian kedua yang berjudul Keberhinggaan dan Kebersalahan dalam suatu bagian yang berjudul Simbol-simbol tentang kejahatan. Dalam buku ini Ia menerangkan bahwa bagimana manusia mengalami kejahatan atau lebih tepat lagi bagaimana manusia ”mengakui” kejahatan. (Bertens,2001,263). Ada 3 macam simbol dalam mengungkapkan pengalamannya tentang kejahatan, diantaranya:
1. Noda, adalah bahwa disitu kejahatan dihayati sebagai sesuatu ”pada dirinya” (in itself). Kejahatan dilihat sebagai sesuatu yang merugikan yang datang dari luar dan dengan cara magis menimpa serta mencemarkan manusia. Kejahatan disini masih merupakan suatu kejadian obyektif. Jadi berbuat jahat berarti melanggar suatu orde atau tata susunan yang tetap harus dipertahankan perlu dipulihkan kembali (Bertens,2001, 263-264)
2. Dosa, manusia melakukan kejahatan ”dihadapan Tuhan”. Berbuat jahat tidak lagi berarti melanggar suatu tata susunan yang magis dan anonim, melainkan ketidaktaatan terhadap Tuhan yang telah mengadakan suatu perjanjian dengan manusia. Dosa merupakan ketidaksetiaan manusia terhadap Tuhan yang setia. (Bertens,2001,264)
3. Kebersalahan (guilt), cara penghayatan tentang kejahatan ini berkembang di Israel sesudah pengasingan di Babilonia selesai. Pada waktu itu kejahatan ditemukan sebagai kebersalahan pribadi. Simbol-simbol yang digunakan untuk mengungkapkan kebersalahan ini adalah terutama ”beban” dan :kesusahan” yang menkan dan memberatkan hati nurani manusia. Dalam konteks kebersalahan, kejahatan dihayati sebagai suatu penghianatan terhadap hakekat manusia yang sebenarnya, bukan seperti dosa sebagai suatu pemberontakan terhadap Tuhan. Kesempurnaan manusia tercapai dengan memenuhi peraturan-peraturan dan perintah-perintah Tuhan secara seksama, tetapi dengan menlanggar peraturan-peraturan dan perintah-perintah itu manusia tidak bersalah terhadap Tuhan, melainkan terhadap diri manusia sendiri. (Bertens,2001,265-266).
Setelah mengungkapkan simbol-simbol yang melambangkan kejahatan manusia, maka Ricoeur mengungkapkan mitos-mitos tentang kejahatan yang digunakannya untuk menerangkan dari mana asalnya kejahatan. Mitos tentang kejahatan menurut Ricoeur mempunyai 3 fungsi, diantaranya: (Bertens,2001,266)
Mitos menyediakan suatu universalitas konkret bagi pengalaman manusia tentang kejahatan. Dengan cerita tentang awal mula dan kesudahan kejahatan itu mitos membawa suatu orientasi dan ketegangan dramatis dalam hidup manusia. Dalam bentuk cerita mitos menjelaskan peralihan dari keadaan manusia tak berdosa, yang asli ke keadaannya sekarang yang penuh noda, dosa dan kebersalahan.
Mitos mempunyai suatu aspek ontologis: memandang hubungan antara keadaan manusia yang asli dengan keadaan historisnya sekarang yang ditandai alienasi. (Bertens,2001,266-267). Dalam hubungannya dengan simbol dan mitos ini Ricoeur membedakan 4 macam mitos, diantaranya:
1.  Mitos Kosmis, yaitu dilambangkan dengan mitos-mitos Babilonia yang bernama Enuma Elish. Dalam mitos ini kejahatan disamakan dengan ”khaos” yang terdapat pada awal mula. Dan sebaliknya, keselamatan atau pembebaan dari kejahatan disamakan dengan penciptaan dunia. (Bertens,2001,267)
2.  Mitos Tragis, menurutnya banyak dijumpai dalam tragedi-tragedi Yunani, khususnya tragedi yang ditulis oleh Aiskhylos. Menurut pandangan tragis tentang manusia, dewa merupakan asal-usul kejahatan; dewa yang tidak berwujud persona, yang disebut Moira (suratan nasib, takdir), Theos (tanpa kata sandang: ketuhanan) kakos daimôn (roh jahat). Dewa mengakibatkan pahlawan (artinya manusia) menjadi bersalah dan terkutuk karena bersalah. Kejahatan adalah takdir yang menimpa seseorang karena ketidaktahuan atau kebutaan. Orang yang melakukan kejahatan lebih mirip dengan korban daripada dengan penjahat.(Bertens,2001,268)
3. Mitos tentang Adam, yang diceritakan dalam kitab suci, yang pertama milik Yahudi, manusia sendirilah ditunjukkan sebagai asal-usul kejahatan. Semua hal yang tidak beres masuk dunia karena manusia (Adam berarti ”manusia”). Di sini kita menjumpai suatu mitos antropologis tentang kejahatan. Kejahatan berasal dari lubuk hati manusia; kejahatan disebabkan karena manusia tidak setia, karena Ia ”jatuh”. Penciptaan Tuhan itu sendiri baik dan sempurna, hanya manusia bertanggung jawab atas segala ketidakberesan dalam dunia.(Bertens,2001,268-269)
4. Mitos Orfis, mitos ini menerangkan tentang mitos jiwa yang diasingkan. Karena berasal dari tradisi keagamaan Yunani yang dikenal sebagai Orfisme. Suatu aliran keagamaan yang menjalankan pengaruh mendalam atas perkembangan filsafat Yunani, khususnyaPlatonisme dan Neoplatonisme. Mitos ini memecahkan manusia ke dalam jiwa dan tubuh. Jiwa datang dari tempat lain dan mempunyai status ilahi tetapi sekarang terkurung dalam tubuh. Jadi, manusia telah ”jatuh” karena jiwanya dikaitkan dengan tubuh dan dalam keadaan itu kejahatannya semakin bertambah dan semakin bertambah pula kerinduan akan pembebasan. Pembebasan itu diperoleh melalui jalan pengetahuan, khususnya pengetahuan bahwa tubuh itu hanya hawa nafsu dan bahwa jika harus menentangnnya untuk sekali lagi dapat mencapai ”taraf ilahi”.

Menurut Ricoeur tugas dari Hermeneutik adalah disatu pihak mencari dinamika internal yang mengatur struktural kerja didalam teks, dilain pihak mencari daya yang dimikili kerja teks itu untuk memproyeksikan diri ke luar dan memungkinkan “hal”-nya teks itu muncul ke permukaan.( Sumaryono, 1999,107). Peran bahasa dalam interpretasi sangatlah penting, karena pengungkapan gagasan, emosi, kesusastraan dan filsafat semua melalui bahasa, bahkan Ricoeur berpendapat bahwa manusia adalah bahasa dan bahasa merupakan syarat utama bagi semua pengalaman manusia. (Sumaryono, 1999,107-108).

Ricoeur berpendapat bahwa setiap teks yang hadir dihadapan kita selalu berhubungan dengan masyarakat, tradisi maupun aliran yang hidup dari macam-macam gagasan.( Sumaryono, 1999,108). Dalam melakukan interpretasi, menurut Ricoeur, terdapat dua kegiatan yaitu kegiatan Dekontekstualisasi (proses ‘pembebasan’ diri dari konteks) dan kegiatan Rekontekstualisasi (proses masuk kembali ke dalam konteks). Dari penjelasan ini maka telihat bahwa tugas dari penafsir sangat berat, karena ia harus dapat membaca “dari dalam” teks tanpa masuk atau menempatkan diri dalam teks tersebut dan cara pemahamannya pun tidak dapat lepas dari kerangka kebudayaan dan sejarahnya sendiri.

Maka untuk dapat berhasil dalam usahanya, ia harus dapat menyingkirkan distansi yang asing, harus dapat mengatasi situasi dikotomis, serta harus dapat memecahkan pertentangan tajam antara aspek-aspek subyektif dan obyektif. Penafsir pada suatu saat harus dapat membuka diri terhadap teks yang hadir dihadapannya. Membuka diri disini maksudnya adalah mengizinkan teks memberikan kepercayaan kepada diri kita dengan cara yang obyektif. Maksudnya adalah proses meringankan dan mempermudah isi teks dengan cara menghayatinya. (Sumaryono, 1999,109-110). Setiap teks mempunyai 3 macam otonomi, yaitu, intensi atau maksud pengarang, situasi cultural dan kondisi sosial pengadaan teks, serta untuk siapa teks itu dimaksudkan.( Sumaryono, 1999,109)

Tokoh-tokoh yang mempengaruhi Ricoeur
Dikarenakan kesadarannya bahwa tanpa tradisi tiada hari depan, Ricoeur dalam berpikirnya selalu berangkat dari dalam tradisi filsafat reflektif yang bermula sejak Socrates, Plato, Descartes, Kant, Fichte, Hegal, kemudian Husserl dan Jean Nabert.
Jean Nabert membuat Ricoeur menyadari bahwa refleksi haruslah berupa interpretasi (Poespoprodho, 2004:109); bahwa memahami tidak bisa dipisahkan dari memahami dirinya sendiri. Dunia simbolik adalah milieu eksploitasi diri. Masalah arti tampil karena tanda-tanda adalah cara, milieu, medium, manusia mencoba meletakkan diri, memproyeksikan diri, memahami diri. Oleh karena itu, refleksi bukan intuisi. Refleksi harus melalui jalan panjang, yakni membuat interpretasi tanda-tanda. Cogito harus dimediasi oleh seluruh dunia tanda-tanda.

Pada tahun 1950-an, Ricoeur dianggap salah seorang ahli terbesar di Prancis tentang fenomenologi. Pada waktu itu, Ricoeur di Prancis tentang fenomenologi. Pada waktu itu, Ricoeur menerjemahkan karya Husserl : Ideen zu einer reinen Phanomenologie (Jilid I) dan menyatakan pula komentarnya. Secara eidetic, Husserl sampai pada suatu egologi, transendentalitas dari ego. Dalam pandangan Ricoeur, di sini kurang dipikirkan bahwa bukan aku yang memikirkan kenyataan, tetapi kenyataan yang diberikan pada pikiran. Keberatan kedua, karena Husserl mencari kebenaran terlalu dalam perenungannya dan tidak konkret.

Namun senantiasa berpikir berupa berpikir yangs ecara intensional ditentukan, yakni berupa kesadaran senantiasa merupakan kesadaran akan suatu objek, reduksi fenomenologis (tidak tanpa kritik), penolakan pada semua metafisika, mencari suatu struktur dasar transedental dari pikiran, semua itu diperoleh Ricoeur dari Husserl. Gurunya, Marcel juga Husserl memikatnya, terlebih karena mereka meletakkan masalah arti fenomena semasalah sentral, dan Husserl juga mengarahkan perhatian pada kenyataan itu sendiri serta menggarap metode-metode yang saksama dalam mendekati masalah arti.
Sewaktu di Sorbonne, Ricoeur bertemu dengan filsuf Gabriel Marcel, yang ide-idenya kemudian memengaruhi karya-karyanya.
Impelemtasi Karya-karya Ricoeur

Sewaktu di Sorbonne, Ricoeur bertemu dengan filsuf Gabriel Marcel, yang ide-idenya kemudian memengaruhi karya-karyanya. Ketika perang pecah, Ricoeur dipanggil untuk bergabung dengan infantry ke-47. Pada 1940, dia ditangkap di Dormans, sebuah desa kecil di lembah Marne. Saat sebagai tahanan, Ricoeur membaca, menulis, dan mengajarkan filsafat. Dia menyusun draf yang lantas menjadi tesis doktornya Volunteire et l’infoluntaire (1950, terj. Freedom and Nature : the Voluntary and the Involuntary) serta sebuah terjemahan dan syarat dari Ideen I (1950) Karya Husserl.
Sekurangnya ada sebelas karya penting Ricoeur yang sudah diterjemahkan, yaitu History and Truth (1965); The Symbolism of Evil (1967); Freud and Philosophy: an Essay on Interpretation (1970); The Conflict of Interpretation; Essay in Hermeneutics (1974); Interpretation Theory; Discourse and Surpuls of Meaning (1976); The Philosophy of Paul Ricoeur: an Anthology of his work (1978); The Rule of Metaphor; Multy-Disciplinary Studies of the Creation of Meaning in Languange (1978); Hermaneutics and the Human Science (1981); Time and Narrative (3jilid, 1984-1988); From Text to Action: Essay in Hermeneutics II (1986); Lectures on Ideology and Utopia (1986); Oneself as Other (1992).

Dalam The Rule of Metaphore (1978), Ricoeur membahas metafora secara komprehensif. Di dalam karyanya itu, Ricoeur membahas metafora pada tiga tataran; metafora pada tatanan kata adalah kajian bidang retorik; pada tataran kalimat adalah bidang kajian semantic; dan pada tataran wacana adalah bidang kajian hermeneutik. Ia juga mengkritik pandangan para positivis yang membuang metafora dari filsafat karena tidak mempunyai makna kognitif. Ricoeur berpendapat bahwa metafora mempunyai lebih dari nilai emotif belaka karena ia menciptakan realitas fiktif yang bersumber pada imajinasi. Dalam konteks tertentu, imajinasi bersifat produktif, bukan hanya karena ia menciptakan objek yang tidak nyata, melainkan juga memperluas penglihatan manusia atas realitas. Imajinasi menciptakan sebuah dunia yang membantu manusia memandang realitas.

Pada karya yang lain, Hermeneurtics and the Human Science (1981), Ricoeur mengajukan dua tesis untuk diperdebatkan. Pertama, yang dihancurkan oleh hermeneutika bukanlah fenomenologi, melainkan salah satu tafsiran atasnya, yaitu tafsiran idealistis yang digagas oleh Husserl sendiri. Kedua, dibalik oposisi sederhana antara fenomenologi dan hermeneutika, terdapat hubungan timbal-balik yang sangat penting untuk dijernihkan.

Ia juga menimba gagasan para pemikir seperti Kant, Fichte, dan Heidegger untuk menunjukkan bahwa penyebab pada taraf penting tertentu soal-soal kemanusiaan adalah soal-soal bahasa, dan ketika kita menemukan prinsip-prinsip makna bahasa, kita mengerti sesuatu tentang diri kita sendiri.    Karya-karyanya menunjukkan bahwa dirinya tampak memiliki perspektif kefilsafatan yang beralih dari analisis ‘eidentik’ (pengamatan yang rinci), fenomenologis, historis, hermeneutics, hingga berakhir di semantik.

Inti tulisan-tulisan Ricoeur sebenarnya adalah ‘hermeneutika’. Sebelum abad ke-19, perhatian hermeneutic diarahkan pada penafsiran teks tertentu, seperti injil. Namun, setelah masa itu, keyakinan bahwa ide dan tindakan dibentuk oleh konteks sejarah tertentu, mendorong para penulis seperti Schleiermacher dan Dilthey untuk mempersoalkan apakah pemahaman yang langsung dan tak terdistorsi terhadap keduanya adalah mungkin. Mereka memilih berasumsi bahwa pemahaman-yang-keliru (misunderstanding) adalah sebuah keniscayaan dan bahwa pemahaman hanya bisa dicapai lewat penafsiran.
Bagi Paul Ricoeur kenyataan selalu tidak akan pernah lepas dari simbol-simbol yang harus di tafsirkan. Seperti halnya bahasa yang diterjemahkan dalam kata-kata, itu semua harus diterjemahkan agar manusia menemukan makna sesungguhnya. Ricoeur menjelaskan tentang simbol-simbol dengan menggunakan simbol kejahatan dan juga menerangkan asal-usul dari kejahatan itu dengan menggunakan mitos-mitos. Dari sini Ia menerangkan tentang betapa pentingnya memperhatikan simbol-simbol yang hidup dalam masyarakat.

Ricoeur juga tertarik untuk mengamati kondisi-kondisi yang memungkinkah penafsiran. Hal ini adalah pencarian epistemologis karena ia mempertanyakan bagaimana akhirnya mengetahui sesuatu (Hughes-Warington,2000). Berdasarkan penjelasan Bleicher (2003), pemikiran Ricouer bisa dianggap menjembatani perdebatan sengit dalam peta hermeneutika antara tradisi metodologis dan tradisi filosofis, yang masing-masing diwakili oleh Emilio Betti dan Hans-Georg Gadamer. Di satu sisi Ricoeur berpijak pada titik berangkat yang sama dengan Betti bahwa Hermeneutika adalah kajian untuk menyingkapkan makna objektif dari teks-teks yang memiliki jarak ruang dan waktu dari pembaca. Namun, dari sisi lain, ia juga menganggap bahwa seiring perjalanan waktu, niat awal dari penulis sudah tidak lagi digunakan sebagai acuan utama dalam memahami teks.

Daftar Referensi :

Bertens, Kees. 2001. “Filsafat barat Kontemporer Perancis”.
Jakarta : PT. Gramedia.
Sobur,Alex, M.Si. 2013. “Filsafat Komunikasi : Tradisi dan Metode Fenomenologi”.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Link Internet :

http://staff.blog.ui.ac.id/arif51/2008/06/05/paul-ricoeur-hermeneutik-simbol-dan-mitos/

Iklan yang Bikin Takjub Menjadi “Indonesia”

Gimana??. Takjub tidak?. Iklan ini sengaja sekali saya cari di youtube, karena menurut saya iklan ini sangat mahal. Selain durasi yang panjang, Iklan ini yang bikin saya ternganga selama 2 menit lebih. Visual yang ditampilkan nyaris membuka mata saya tentang keindahan Indonesia. Mungkin bagi sebagian orang, sebuah iklan, adalah hal yang membuang-buang dana yang diperuntukan sebagai penunjang marketing (red-Advertising). Sebuah perusahaan, berlomba memikirkan ide kreatif untuk me-persuasifkan khalayak dalam memandang sebuah brand. Memang betul, Khalayak akan sangat terpengaruhi oleh promosi dalam bentuk visual, dalam hal ini adalah iklan. Karena tujuan produklah yang terkadang membuat agent iklan untuk memanipulasi pesan yang seolah-olah kenyataan. Padahal sih, belum tentu kenyataan adalah kebenaran. Jadi, konstruksi pesan pada sebuah iklan, menjadi hal yang dipikirkan oleh kalangan periklanan di manapun.

Di antara iklan-iklan yang saya tonton, baru kali ini, saya mencari-cari iklan lawas yang pernah saya tonton. Dua iklan di atas lah yang akhirnya saya temukan. Bagi saya, iklan itu memiliki pesan yang bagus untuk masyarakat. Kenapa, aspek visual grafis, musik latar, serta konsep Indonesia yang sifatnya kontemporer. Namun, masih ada sentuhan etnik di sana.

PESAN DALAM CERITA, CERITA DALAM NILAI

Khalayak dituntun untuk mengikuti alur cerita di setiap story board. Di awal pembukaan tayangan, seprlihatkan judul tema, yang memiliki makna tontonan sebuah cerita. Ini jarang terjadi di setiap iklan. Khalayak akan menangkap sebuh kesan pertunjukkan. “Eh ini apa ya?“. itulah kesan yang muncul pertama. Dan itu, terjadi di setiap detail apa yang dilihat khalayak. Pemandangan Indonesia, serta latar musik yang menunjukkan bahwa yang kita tonton kali ini adalah Indonesia.

Sekali lagi iklan yang baik, adalah iklan yang memiliki pesan yang bernilai. Selain menunjukkan keindahan pemandangan Indonesia, iklan juga sedikit menceritakan tentang 3 musketeer yang lahir di tanah jawa. Indonesia berawal dari sejarah kerajaan hindu. Dan iklan ini berusaha menunjukkan sisi cerita yang bersifat sejarah tadi.

Tanpa bercerita narasi yang gamblang, iklan ini bisa menyampaikan pesan Indonesia secara menyentuh dari segala aspek. Aspek visual grafis, aspek model, aspek musik latar, semuanya masuk dengan elegan di waktu 2 menit. Maka, tidak heran, di akhir iklan, sebagian akan merasakan TAKJUB menjadi Indonesia. Gimana dengan kamu?

ps : *eh tapi kenapa harus dari perusahaan rokok ya??

Adioss..

Dilema Program “Yuk Keep Smile” Trans TV untuk Penonton

Akhir-akhir ini, saya jadi tertarik menonton program teve di Trans Tv yang bernama “Yuk Keep Smile” yang tayang setiap hari. Ada alasan mendasar saya tertarik untuk menyimak program tersebut, hal tersebut dikarenakan adanya beberapa kampanya kecil yang dilakukan oleh kaum intelek social media yang mengatakan bahwa program “Yuk Keep Smile (YKS)” sama sekali tidak mendidik. Alasan tidak mendidik, dikarenakan pada program tersebut, dibiasakan melempar tepung terigu ke wajah orang. Bagi mereka, tindakan tersebut sama sekali tidak mendidik bagi anak kecil yang menonton program tersebut.

Alhasil atas alasan tersebut, saya mencoba menonton program YKS yang menurut sejarahnya, program tersebut merajai program pada waktu Ramadhan. Hampir 60% pemirsa Indonesia menonton program YKS. Keberhasilan itu, ditunjukkan dengan banyaknya penonton yang hadir di studio atau bahkan meniru tarian yang terkenal dengan nama “Tarian Caesar” pada media sosial Youtube. Selain itu, ada istilah “Asik-asik Joss” yang sangat membumi ketika pesta kemerdekaan di beberapa tempat menjadi alasan kuat mengapa saya begitu penasaran untuk menonton YKS. Hingga pada suatu malam untuk kali pertama saya menonton YKS. Saya menonton hingga akhir, dan keesokan harinya saya kembali menonton YKS, bahkan hingga seminggu dengan sengaja saya menonton YKS. Sampai pada keputusan saya, untuk menulis kesan saya terhadap program YKS.

KONSEP DASAR

Pertama, saya akan mencoba untuk mengulas konsep YKS menurut perspektif saya. YKS merupakan ide dasar program komedi yang bersifat komunikasi 2 arah. Dalam sejarahnya, bentuk program komedi di Indonesia adalah bersifat 1 arah. Maksudnya, jika dahulu berkomedi hanya dapat melalui alur cerita yang mengikut sertakan pelaku komedi saja, sekarang konsep itu sudah berubah. Karena menjadi lucu, tidak lagi hanya berasal dari pelaku komedian saja, melainkan dapat dihasilkan oleh penonton yang ada di sekitarnya. Dalam hal ini, YKS harus diakui keberhasilannya dalam hal komunikasi interaktif antara pelaku komedian dengan penonton. Penonton tidak hanya tertawa saja ketika menonton, melainkan menghasilkan hal yang lucu.

NILAI “YUK KEEP SMILE”

Kondisi partisipasi publik pada acara ini sangat besar. Pertama, Nilai yang ingin disampaikan YKS adalah, kesan merakyat. Musik dangdut yang menjadi ciri khas kerakyatan Indonesia sangat ditonjolkan pada program ini. Dangdut identik dengan tarian/goyang tubuh. Siapa pun, jika dilakukan secara bersama, begitu sangat menyenangkan. Sampel paling mudah ialah ketika acara 17’an, tentu musik, goyangan, pasti akan selalu ada, sebagai pemeriah suasana untuk menjadi lebih hangat dan akrab. Jauh dari kesan Indonesia, tentu Bergoyang/berjoget tentu masih memiliki daya taraik bagi sebagian penduduk negara asing. Seperti, tarian Aserehe, Gangnam style, dan sejumlah kampanye MOB.

Kedua, nilai personalitas. Nilai personalitas ini ditunjukkan dengan dominannya, materi lawakan yang dibawakan bersifat pribadi. Entah itu, ejekan karena fobia salah satu komedian, rahasia pribadi, atau skandal yang multi harfiah. Mengangkat nilai ini, mungkin tim kreatif YKS sedikit ragu-ragu awalnya. Akan tetapi dengan kemasan kontruksi “Skandal” maka terjadilah tontotan yang menarik penonton untuk keppo dengan apa-apa yang dimiliki oleh pelaku komedian YKS. Skandal itu bisa jadi benar, bisa jadi salah. Maka dari itu saya bilang konstruksi skandal. Karena, penonton hanyalah menonton, dengan beberapa keterbatasan yang dimiliki. Mudah memahaminya adalah, rakyat Indonesia sangat senang dengan hal-hal yang bersifat skandal dan abstrak. Dan yang sudah pasti bahwa, Media sangat stratgeis untuk menkonstruksinya sebuah fakta dalam berita.

Ketiga, Nilai kekerasan. Sayangnya, menurut saya program ini menyimpan nilai kekerasan. Lawakan yang mungkin awalnya hanya sekedar untuk membuat lucu, ternyata memiliki nilai kekerasan. Melempar terigu ke wajah orang dengan sengaja, itu menunjukkan kontradiktif dari keseharian. Karena terigu adalah bahan makanan yang bukan diperuntukkan untuk dilemparkan ke wajah manusia. Tetapi untuk di membuat makanan. Ini yang salah, karena seharusnya media harus mendidik, bukannya untuk menggeserkan norma perilaku.

keempat, Nilai kedermawanan. terlepas dari kotroversial tadi, saya melihat program ini sering membagi-bagikan hadiah kepada penonton yang hadir. Entah dari yang katanya berasal dari pelaku komedian itu sendiri, atau dari sponsor. Namun, saya mencoba untuk berada pada posisi penonton yang hadir di sana. Mungkin mereka datang ke sana, dengan tujuan untuk mendapatkan uang/hadiah, tapi ini patut kita apresiasi. Karena mungkin bagi mereka yang membutuhkan, sangat berpikir bahwa YKS adalah solusi. Walaupun bagi sebagian orang mungkin menilai pembodohan.

STRATEGI MARKETING

Bagaimanapun, saya melihat bahwa program ini sangat out of the box. Karena program ini memiliki identitas yang membawa positioning brand yang dapat membantu posisi tawar kepada pihak sponsorhip. Keunikan yang jarang dimiliki, serta aspek kedermawanan yang kental dilakukan tentu menambah faktor berbeda dari program-program lainnya. Perlu disadari, bahwa Entertainment sudah menjadi industri kreatif yang membutuhkan pemikiran out of the box tersebut. Partispiasi dari audience itulah kunci dari posisi tawar sebuah program. Karena, YKS dengan sangat mudah menarik audience, karena dalam syarat marketing selain harus memiliki product, place, promotion, tentu harus memiliki people (audience).

Jika kita menelisik lebih bijaksana, bahwa seharusnya apa pun yang disajikan oleh media, haruslah bersifat mendidik dan tidak menggeser norma. Akan tetapi, dalam kenyataannya bahwa dalam pemasaran sangat dibutuhkan konsep “Bulshit” yang tidak terpikirkan oleh nalar orang lain. Mungkin saran saya, lebih baik YKS ini lebih memperhatikan atribut atau properti yang digunakan yang tidak menggeser norma berlaku di masyarakat. Karena, pada dasarnya YKS ini adalah program yang menyenangkan. Mengajak untuk senang, tertawa, dan bersatu. Tetapi harus diingat bahwa, penonton di luar sana, tidak hanya kaum dewasa, namun ada anak kecil yang masih belum membedakan yang mana yang baik atau salah untuk ditiru.

Semoga kita lebih bijak dan detail melihat sebuah kesenangan untuk diri kita..

Adioss..

Chapter 1 : Road To 2014 “Indonesia Memilih” – Analisis Dialektika Amien Rais untuk Joko Widodo

Siapa yang tidak kenal dengan tokoh reformasi Amien Rais?. Tokoh yang memiliki daya tarik dalam berdialektika serta ber-opini itu kini muncul di media setelah sekian lama jarang memberikan beragam opini. Baru-baru ini, dalam sebuah majalah ternama di Indonesia, Amien Rais menyatakan bahwa Ia masih mempertanyakan nasionalisme dari Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) Jika Jokowi terpilih menjadi Presiden 2014. Kemudian, dalam sebuah tayangan berita TV One, Amien Rais dipertemukan dalam sebuah dialog dengan perwakilan PDI-P (Kebetulan penulis lupa namanya). Pada dialog tersebut, pembawa berita berlaku sebagai moderator mencoba melakukan konfirmasi kepada Amien Rais terkait pernyataan yang sudah dilempar bak mata dadu secara acak itu.

Secara singkat, Amien Rais mencoba menjelaskan dengan gaya khas mendok alon-alon asal klakon untuk setiap semua pertanyaan. Pertama, Amien Rais menjawab bahwa maksud menyatakan keraguan untuk nasionalisme Jokowi itu bukan diartikan sebagai makna sebenarnya, dan tidak hanya ditunjukkan untuk Jokowi saja. “Kebetulan Jokowi adalah tokoh yang memiliki rating tertinggi sebagai calon presiden 2014 versi beberapa lembaga survey”, Tambah Amien.

Kemudian, tanggapan sebaliknya diutarakan secara pedas dan tajam oleh perwakilan Partai Demokrat Indonesia Perjuangan – PDIP yang mengatakan bahwa, seharusnya Amien Rais tidak asal berbicara. Nasionalisme itu sebenarnya apa. Karena sangat lucu, jika Amien Rais meragukan nasionalisme Jokowi sedangkan pada satu sisi, anggota legislatif dari Partai Amanat Nasional MENYETUJUI UU Penanaman Modal yang menurut fraksi PDIP sangat bertolak belakang dengan Undang-Undang Dasar 1945. Belum lagi ketika Amien Rais menilai kebijakan Megawati Soekarno Puteri dalam hal Privatisasi Indosat.

Selama perbincangan tersebut, mereka saling membuka ‘aib’ masa lalu mereka yang selalu bertolak belakang satu sama lain. Entah apa yang mereka pertahankan adalah dunia mereka sendiri. Rakyat yang paham mungkin akan tertegun kelam dengan dialektika kedua politisi itu. Tau kah kamu, dalam tontonan itu, ada hal yang menarik untuk dianalisis. Analisis wacana tentunya. Pertama, Amien Rais adalah sosok politisi yang bukan lagi ber-massa saat ini. Amien Rais hanya dikenal sebagai orang pendobrak orde baru, yakni Soeharto. Ia muncul sebagai pahlawan yang berkerumun di depan media untuk ber-orasi melawan rezim Soeharto. Setelahnya, sosok Amien Rais pun dikenal sebagai tokoh kontroversi elit politik. Mulai dari ‘Pemecatan Gusdur’ hingga perang dingin dengan Megawati ketika menjadi Presiden RI.

Kariernya muncul setelah Partai Amanat Nasional mengusung Beliau untuk mencalonkan sebagai Calon Presiden 2004. Sosok pengenalan oleh masyarakat awam pun redup ketika Ia harus menerima kekalahan dari Soesilo Bambang Yudoyono. Setelah itu, entah kemana Ia. Hanya elit politik lah yang melihatnya. Kontroversi sebagai sosok yang anti dengan kebijakan poros pemerintah di masa transisi Pergantian Orde Baru ke Masa Reformasi, 180 derajat  kebutuhan politik membawanya menerima citra berbeda setelah partai yang Ia bangun harus bergabung ke dalam Kabinet Indonesia Bersatu.

Amien Rais memang sangat dekat dengan Citra PAN. Jika kita mendengar kata PAN, maka kita akan mengingat Amien Rais, atau sebaliknya. Walaupun Ia bukan menjabat sebagai ketua umum DPP PAN. Kemunculannya dengan pernyataan tersebut sebenarnya dapat diartikan sebagai test drive untuk sejumlah elit politik dan Pemaknaan Nasionalisme itu sendiri. Bagi masyarakat awam, mungkin akan menilai bahwa pernyataan Amien Rais adalah bentuk Post Power Syndrome atau bentuk sirik terhadap dinamika politik saat ini. Semua orang mengetahui bahwa Jokowi adalah sosok popular di Indonesia tentu Sosok citra personal yang sudah dibentuk itu, jauh dari kata Nasionalisme. Masyarakat lebih mengenal sosok jokowi yang low profile,  sosok muda yang dekat dengan masayarakat, dan sosok yang tegas untuk Jakarta.

Akan tetapi, pernyataan Amien Rais bukanlah untuk menyerang sosok personal Jokowi. Jauh dari itu, justru menguji kejantanan dari Partai banteng itu sendiri (Baca: PDIP). Kita semua mengetahui, bahwa PDIP sangat menjunjung tinggi sosok Megawati sebagai pemimpin masa depan negeri ini. Dalam sejarahnya, Megawati selalu kalah pada pemilihan presiden. Tentu saja, tujuan PDIP ada, adalah memajukan Soekarno Family untuk menjadi punggawa negeri ini, dalam hal ini adalah pemimpin negara.

Pertanyaanya adalah, Mungkinkah PDIP akan mengusung Jokowi untuk menjadi calon presiden?.

Sudut pemikiran lain menilai, pernyataan Amien Rais adalah sentilan untuk Hatta Rajasa yang aroma pencalonan sudah tercium oleh masyarakat. Karena pada perbincangan di Metro TV, Amien Rais menyatakan “Mungkin saja Jokowi bisa berdampingan dengan Hatta Rajasa untuk maju di 2014”. Hal itu berarti, seolah-olah Amien Rais membuka peluang besar untuk merestukan Jokowi – Hatta Rajasa untuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden. Catatan khusus, dalam politik etika manusia yang senang penghormatan itu sangat kental. Budaya senioritas tentu sangat dipertimbangkan. Pernyataan Amien Rais menguji Hatta, apakah mau merelakkan diri menjadi wakil presiden atau tidak. Ini menjadi tamparan keras untuk Kondisi politik internal PAN sendiri. Terutama doa restu Amien untuk Hatta.

Jadi pada kenyataannya, pernyataan Amien Rais bukanlah berbicara Nasionalisme, karena Nasionalisme bukanlah isu popular untuk saat ini yang masih terasa dini. Perspektif atau dampak yang akan timbul di Masyarakat adalah, mereka akan mencari sejarah mengenai Nasionalisme dengan bahasa mereka sendiri, yang kualitatifnya akan menjadi jawaban di awal 2014.

 

Adioss..

 

Mungkinkah Vicky “Gotik” Mengidap Disleksia ?

 

Seluruh rakyat Indonesia, kembali dihebohkan dengan temuan hebat oleh infotainment yang mengoreksi penggunanaan “bahasa” dalam pemberitaan acara lamaran Zaskia Gotik dengan mantan tunangannya, Vicky.  Masyarakat dunia nyata maupun maya, secara terus menerus memperagakan bahasa yang salah digunakan oleh Vicky. Tidak heran jika sebagain dari mereka menobatkan dirinya sebagai Vickynisasi/Vickyliscious.

Memang trend Vickynisasi sudah menyebar dari kalangan anak kecil hingga dewasa. Bahkan yang namanya infotainment, ada kali seharian yang dibahas selalu kasus Vicky dana Zaskia Gotik, terlebih untuk bahasa kontroversialnya. Entah apa karena, memang saat ini Trend bahasa Vicky telah menjadi sorotan publik yang memaksa media untuk terus menerus memutar kasus ini atau hanya sensasi semata layaknya pengalihan isu semata?!.

terlepas apakah kebetulan ataukah sensasi dari pemberitaan tersebut, saya sebagai orang yang sedikit belajar mengenai komunikasi tentu agak “gatel” melihat tontonan ini. Pada tayangan video wawancara antara vicky dengan wartawan ataukah  ketika sedang berkampanye, seperti saya posting di awal paragraf terlihat memang, bahwa wartawan infotainment sengaja membuat koreksi kesalahan bahasa yang digunakan oleh komunikator (vicky) dengan tampilan yang sedikit (maaf) mengeledek.

Jika melihat itu, saya sedikit bertanya dalam hati. Adakah yang salah dari yang saya tonton kali ini?.

Jika boleh jujur, pertama saya mendengar Komunikator berbicara, saya tidak paham. Karena pengucapan yang tidak lazim dari vocab yang tidak asing kita gunakan/ketahui. Namun setelah diperjelas dengan terjemahan yang telah diedit oleh wartawan infotainment, saya paham apa yang diamksud oleh komunikator tersebut.

15 Menit saya kembali mengulang tayangan tersebut di youtube, saya pun langsung berasumsi, Apakah Vicky ini mengalami kelainan Disleksia?.

Disleksia merupakan sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang tersebut dalam melakukan aktivitas membaca dan menulis. Pada umumnya keterbatasan ini hanya ditujukan pada kesulitan seseorang dalam membaca dan menulis, akan tetapi tidak terbatas dalam perkembangan kemampuan standar yang lain seperti kecerdasan, kemampuan menganalisa dan juga daya sensorik pada indera perasa.

Ada dua tipe disleksia, yaitu developmental dyslexsia (bawaan sejak lahir) dan aquired dyslexsia (didapat karena gangguan atau perubahan cara otak kiri membaca). Developmental dyslexsia diderita sepanjang hidup pasien dan biasanya bersifat genetik. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penyakit ini berkaitan dengan disfungsi daerah abu-abu pada otak. Disfungsi tersebut berhubungan dengan perubahan konektivitas di area fonologis (membaca). Beberapa tanda-tanda awal disleksia bawaan adalah telat berbicara, artikulasi tidak jelas dan terbalik-balik, kesulitan mempelajari bentuk dan bunyi huruf-huruf, bingung antara konsep ruang dan waktu, serta kesulitan mencerna instruksi verbal, cepat, dan berurutan. Pada usia sekolah, umumnya penderita disleksia dapat mengalami kesulitan menggabungkan huruf menjadi kata, kesulitan membaca, kesulitan memegang alat tulis dengan baik, dan kesulitan dalam menerima.

Atau dengan kata lain, ada kelainan pada kemampuan intelejensia seseorang dalam menyerap sebuah bahasa. Untuk kasus ini memang belum ditemukan apakah Vicky tergolong karena keturunanan atau memang karena benturan pada otaknya. Pada kehidupan keseharian, fenomena Vicky ini bukan satu-satunya di Indonesia. Saya sering menemuka orang Indonesia mengalami Disleksia. Yakni, ketika sedang belajar bahasa asing dan ketika dalam keadaan psikologis personal.

Kondisi ketika kita mempelajari bahasa asing tentu kita akan mengalami benturan hebat dalam otak kiri dan kanan kita. Karena pada dasarnya bahasa dapat dikatakan rekam kebiasaan pada diri kita dari lahir. Makanya kita sering menyebutkan bahasa Inang. Aatau bahasa Ibu. Karena tanpa sadar sedari kita kecil, kita akan menganut bahasa Ibu. Bahasa asal kita.

kondisi bertemu kebiasaan di luar diri kita, seseorang akan merasa kesulitan untuk membiasakan diri untuk merekan, menyusun, dan mengucapkan kosa kata dalam ingatan kita. Itu yang saya dapatkan ketika saya berdiskusi dengan dosen Bahasa Inggris saya di TBI.

Namun, mengenal bahasa asing merupakan proses pembelajaran yang mana akan berubah seiring frekuensi seringnya seseorang menerapkan kosa kata tersebut. Dalam ilmu komunikasi, proses seseorang dalam mengucapkan kosakata (bahasa) tentu akan mengalami interpersepsi yang dilakukan oleh panca indera kemudian disambungkan kepada pengolah data (otak). Pengucapan tidak sembarang keluar begitu saja dari mulut kita. Akan tetapi, akan terjadi bifurkasi dalam diri kita, yang biasa disebut sebagai (bawaan diri/pribadi diri). Makanya kita sering menemukan ada orang yang merasa “keceplosan” atau seorang dengan nada “ketus/jutek” ketika berucap.

Analisis itulah yang menjadi dasar alasan kedua saya yakni psikologis personal. Berbicara isi kepribadian seseorang yang dicerminkan oleh ucapannya mungkin di dunia kita, belum ada yang 100% bisa didefinsikan. Karena, Kepribadian dapat terpupuk bersamaan dengan etika dalam berbahasa. Makanya. kita sering diingatkan, bahwa “Mulut mu Harimau mu”. Ataukah “Gunakanlah bahasa yang baik dan benar”.  Bahasa sewajarnya.

Ada yang terlupa, bahwa pada diri seseorang, sebuah achievment untuk diri sendiri adalah hak mutlak untuk dirinya sendiri. Dan Vicky menunjukkan motif tersebut. Karena semakin tinggi istilah dalam kosa kata, maka semakin tinggi juga orang lain melihat dirinya. Dengan kata lain, semakin intelek.

Dalam istilah komunikasi, ini sebut sebagai komunikasi tidak efektif. Hakikatnya komunikasi efektif bertujuan menumbuhkan kesepakatan bersama, komunikasi tidak efektif sebaliknya. Sekali lagi, fenomena Vicky ini bukan satu-satunya di negeri ini. Bahkan banyak orang-orang yang sengaja membuat “buyar” makna dari sebuah pesan yang ingin disampaikan. Sebagai contoh, anggota dewan di Senayan sana, menurut saya adalah orang – orang yang senang mengunakan bahasa “langit” dalam menjelaskan kondisi politik parlementer.

Tetapi itulah dunia media. Sesuatu yang aneh namun nyata. Seharusnya menjadi pemberlajaran buat kita semua, sebaliknya menjadi becandaan kita dalam keseharian. Mungkin opini saya ini sedikit “gimana gitu”, bukannya melawan arus hiburan tanah air. Akan tetapi hiburan yang mencerdaskan. Karena kata Bang Rhoma Irama, Jauhilah Minuman Keras karena akan memabukkan. Mabuk berarti tidak sadar yang mengakibatkan dosa besar. Sebelum tertawa menjadi dosa, maka tertawalah dalam keadaan sadar.

ps : Satu kata nonton video tsb, MENGHIBUR ^^

Adioss..

Mengupas Iklan Provider 3 “Based on Reality Life”

Pulang kantor di jumat Malam itu, rasanya lelah banget. Walaupun besok adalah weekend ternyata sulit juga merubah mood menjadi senang menjelang libur 2 hari. Lain halnya ketika saya mencoba menonton acara televisi di tengah malam di salah satu stasiun teve. Program teve yang mengupas kehidupan yang gemerlap di Kota Jakarta, membuat saya antusias menyimak pesan moral yang terbilang ringan.

Selang 3 menit, tiba-tiba program teve itu menyiarkan beberapa commercial break. Seperti biasa, saya cukup tertarik dengan setiap materi periklanan yang ada di Indonesia. Benar saja, kali ini ada yang membuat saya sangat tertarik untuk menyimak tiap detail kata, gambar, dan pesan dari sebuah commercial break.

Mungkin kamu pernah melihat iklan provider 3 yang terdiri dari 2 sesi, yang mana konsep dari iklan itu adalah berupa testimonial. Sinopsis singkatnya adalah, ada sekumpulan anak kecil yang tinggal diperkotaan dengan latar belakang sosial, RAS, dan karakteristik sifat yang berbeda. Mereka menyebutkan angan-angan mereka di masa depannya.

Bagi saya, iklan ini adalah pesan sosial yang terjadi di Kota Jakarta saat ini. Entah lah, ketika saya menyimak iklan ini, tanpa sadar bibir saya melebar, dan spontan tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala, “WOW SAKIT NIH ORANG !”

Di Iklan pertama, itu ada anak perempuan berbaju sekolah dasar yang bilang,“Cita-cita ku ingin menjadi executive muda”anak kecil itu duduk di ayunan usang, yang berada di tengah-tengah rumah susun yang tak terawat. Kemudian ada anak laki-laki bertubuh lusuh berada di rongga-rongga jalan sambil menolakkan tangan di pinggang sambil dan berkata, “Aku mau jadi Bos!” . Dan begitulah seterusnya.

Menurut saya, talent yang digunakan anak-anak memiliki makna masa depan yang terjadi saat ini. Artinya, gambaran kerasanya anak jaman sekarang, dengan tontotan profesi yang selalu digambarkan oleh orang banyak kota Jakarta, bahwa orang sukses adalah dia yang berdasi, berbicara inggris, hang out, yang semua itu tujuannya adalah gengsi.

“Enggak peduli pekerjaan lo cuman angkat kertas bekas, atau bawa-bawa laptop ke sana ke mari. Atau bisa jadi, enggak peduli dengan gaji yang enggak seberapa selagi masih ada penolong dalam kesulitan, yakni mi instan”

Jika tampilan kita berdasi dan berbaju necis, orang lain akan bilang kita adalah orang yang memiliki segudang kesibukan yang menghasilkan uang banyak. Padahal dalam kenyataannya, menurut saya iklan ini menggambarkan budaya konsumtif para warga Jakarta yang lebih mementingkan image luar dibanding kualitas itu sendiri. Talenta anak kecil menggambarkan betapa jujur/nyatanya fenomena yang disebutkan itu semua. Tidak ada kebohongan di sana.

Kebayang dong, kalau gaya hidup kita terus-terusan seperti itu. Wah, saya sebagai warga kota satelit yang juga mencari penghidupan di Jakarta, menyadari sekali bahwa orang-orang yang tadi disebutkan oleh talent iklan 3, sering sekali saya temukan di Jakarta. Bahkan saya pun pernah mengalami demikian. Harus saya akui, di Jakarta kehidupan individu cukup mencolok. Dan satu yang menyatukan tiap individu, yaitu kesamaan strata sosial. Akhirnya, mau tidak mau, warga Jakarta akan berpikir, “Gimana caranya kek, yang penting gue survive di kota ini.”

Pertanyaan besarnya adalah, ” Kenapa gaya hidup itu harus disebut cita-cita oleh talent?”

Jawabannya adalah, Karena gambaran itu merupakan satu-satunya pilihan hidup yang bisa dipilih saat ini, yang akhirnya disebut dengan sebuah kenormalan, sehingga di akhir iklan ada kesimpulan yang bisa kita ambil, bahwa “Menjadi orang gede menyenangkan. Tapi susah dijalanin”.

Konsep iklan ini menurut saya sangat cerdas. Kenapa, membuat semua orang tersentil dengan ungkapan-ungakapan jenaka yang sebenarnya menyakitkan. Yuk ah, move on dari budaya konsumtif. Dan mulai dari sekarang beralih kepada hal yang produktif dan memiliki kreatifitas tinggi.

*terlepas dari harus membeli provider 3 tentunya

adioss..

 

Analisis Pemberitaan : “Wah, Pidato Michelle Obama Bikin Heboh di Twitter, Mengapa?” >> Politik Virtual berbasis Komunikasi Massa.

Dunia mungkin bisa berbangga. Pasalnya, hampir seluruh hidup dapat diselesaikan dengan teknologi, khususnya Internet. Media yang dapat menjangkau seluk beluk lain negara bahkan benua itu, kini hadir sebagai strategi komunikasi politik yang cukup elegan dan efektif. Dalam tulisan ini penulis mencoba sedikit mengomentari strategi  tersebut yang dapat kita kaitkan dengan fenomena yang menarik saat ini.

Pada tanggal 6 September lalu itu Tanah Paman Sam, kembali digegerkan oleh pidato Ibu Negara, Michelle Obama di North Carolina, Amerika Serikat, seperti yang dilansir oleh www.republika.co.id  ( 7/9 )

bahwa sang Ibu negara cukup memberikan kesan positif di mata masyarakat dari Pidatonya yang secara disengaja diketik ulang pada salah satu akun Partai Demokrat.

Hal ini memiliki daya tarik untuk dibahas karena, Amerika lagi-lagi menunjukkan kepiawaian dalam berkomunikasi politik masa kini. Pidato kebangsaan ataukah pidato apapun jenisnya, mungkin tidak kepikiran oleh kita bagaimana komunikasi satu arah itu dapat dikemas menjadi komunikasi dua arah yang dapat diukur keberhasilannya.

Komunikasi dua arah identik dengan komunikasi interpesonal, dimana masing-masing komunikator dan komunikan memiliki struktur pesan yang dapat disesuaikan oleh keinginan masing-masing. Umpan balik yang diinginkan bahkan dapat dirasa secara langsung tanpa delay .

Namun dalam dunia virtual, komunikasi dua arah itu dapat dikemas menjadi komunikasi masa elektronik, yakni internet. Walaupun Internet masih dipertanyakan keabsahannya sebagai jenis komunikasi massa, namun asumsi itu dapat dikukuhkan dari aspek khalayak yang menyebar dan serempak. Alhasil menurut beberapa pakar Internet kini telah menjadi semi media massa-interpersona.

Internet kini semakin menjadikan dunia begitu dekat, dengan adanya media sosial seperti Twitter, Facebook, Myspice, dan lain-lain. Internet sukses besar membuat yang jauh menjadi dekat, yang dekat menjadi jauh. Karakteristik inilah yang kemudian membuat komunikator politik berlomba-lomba membuat media ini menjadi salah satu strategi komunikasi politiknya.

Masih inget kan kita dengan fenomena kemenangan Barack Obama pada pemilu Presiden Amerika Serikat, beberapa tahun lalu?.

Kemenangannya bukanlah kemenangan personal semata yang menawan, namun kemenangan dunia virtual yang membawa dirinya sebagai pesan yang akan disampaikan. Tanpa adanya media tersebut, tentu sangat mustahil Obama dapat meraih jumlah suara hampir 90% warga Amerika Serikat.

Kali ini apa yang dilakukan oleh suaminya, sang Ibu Negara pun mengikuti jejak sang perubah ( red-Obama). Amerika Serikat adalah negara yang tercatat sebagai negara pengguna Twitter terbanyak, yakni 140 juta akun. ( sumber : Semiocast, 2012 )

Tidak heran jika para komunikator politik menggunakan media sosial sebagai sarana paling efektif demi menjangkau 140 juta akun tersebut sebagai asumsi 140 juta masyarakat Amerika Serikat. Selain itu analisis demografi yang lain ialah, Amerika Serikat merupakan negara maju yang memiliki tingkat ‘melek teknolgi yang tinggi.

Selain alasan demografi tersebut, ternyata berdasarkan geografis, sebagai penganut district, tentu tidak mungkin dapat dijangku dengan tatap muka. Hal ini lah yang kemudian menjadikan Twitter sebagai sarana komunikasi yang ‘informatif-interaktif’ oleh Obama kepada masyaraktnya.

Ide menarik ketika sebuah pidato ikut dijadikan produk propaganda yang ditulis kembali dalam bentuk kicauan tidak lebih dari 140 karakter. Hanya mencatat yang perlu dan penting, dengan sukse besar menghasilkan Trending Topic peringkat pertama sebagai bentuk umpan balik.

Daya tarik Michelle Obama yang dijuluki #FirstLady ini, memang cukup memukau. Kekuatan personalitas yang dibentuk sebagai citra perempuan masa kini jelas tergambar dari citra karakteristik media virtual saat ini, sesuai karakteristik Amerika.

Secara teori, pemilik blog berusaha mengkaitkan dengan teori komunikasi massa yakni teori agenda setting, yang memusatkan perhatian pada efek media massa terhadap pengetahuan. Sebuah akun twitter menyebarkan isi pidato berupa potongan kalimat melalui twitter secara berkesinambungan, maka jalinan komunikasi pada twitter itu akan seperti roda estafet yang akan meneruskan kepada khalayak lainnya. Dari individu ke individu lainnya, dari komunitas ke komunitas lainnya berjalan simultan.

Perkembangan itulah yang kemudian patut kita contoh sebagai strategi komunikasi politik di Indonesia. Sebagai negara yang menjungjung tinggi keterbukaan publik serta keterjangkauan akses publik sudah selayaknya para penasihat-penasihat komunikasi politik mencipatkan metode penyampaian pesan yang dapat menjangkau kepada segala lapisan masyarakat.

SISTEM KOMUNIKASI KELOMPOK

  • Para psikiater mendapatkan komunikasi kelompok sebagai wahanan untuk memperbaharui kesehatan mental.
  • Para ideolog juga menyaksikan komunikasi kelompok sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran politik – ideologis.
  • Para manajer menemukan komunikasi kelompok sebagai wadah yang tepat untuk menemukan gagasan – gagasan kreatif.

Kesimpulan : Komunikasi kelompok dapat dipergunakan untuk menyelesaikan tugas, memecah persoalan, membuat keputusan, atau melahirkan gagasan kreatif, membantu pertumbuhan kepribadian seperti dalam kelompok pertemuan, atau membangkitkan kasadaran sosial politik.

 

KLASIFIKASI KELOMPOK

Noted : “ Tidak Setiap himpunan orang disebut kelompok. Orang-orang yang berkumpul di terminal bus, yang antri di depan loket bioskop, yang berbelanja di pasar, semuanya disebut agregat – bukan kelompok. “

Supaya agregat menjadi kelompok diperlukan kesadaran pada anggota – anggotanya akan ikatan sama yang mempersatukan mereka. Kelompok mempunyai tujuan dan organisasi ( tidak selalu formal ) dan melibatkan interaksi di anatara anggota-anggotanya. Jadi dengan perkataan lain, kelompok mempunyai dua tanda psikologis :

  1. Pertama, anggota-anggota kelompok merasa terikat dengan kelompok – ada sense of belonging – yang tidak dimiliki orang yang bukan anggota.
  2. Kedua, nasib anggota – anggota kelompok saling bergantung sehingga hasil setiap orang terkait dalam cara tertentu dengan hasil yang lain ( Baron dan Byrne, 1979 : 558 ).
  • Para psikologi – ahli sosiologi, telah mengembangkan berbagai cara untuk mengklasifikasi kelompok. Ada empat dikotomi : Prime – sekunder, ingroup-outgroup, rujukan-keanggotaan, deskriptif-preskriptif.
  1. Prime – sekunder :

Kelompok primer adalah kita terikat secara emosional pada beberapa kelompok saja. Hubungan kita dengan keluarga kita, kawan-kawan sepermainan, dan tetangga-tetangga yang dekat ( di kampung kita, bukan di real estates ), terasa lebih akrab, lebih personal, lebih menyentuh hari kita.

“ By primary group I mean those characterized by intimate face to face assosiation and coorperations “ ( Cooley – Klasik Social Organization ).

Kelopok sekunder, secara sedehana, adalah lawan kelompok primer. Hubungan kita dengannya tidak akrab, tidak personal, dan tidak menyentuh hati kita. Contohnya : organisasi massa, fakultas, serikat buruh, dan sebagainya.

Perbedaan Utama Antara KeduaKelompok

Kelompok Primer

Kelompok Sekunder

Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas. Dalam artinya menembus kepribadian kita yang paling tersembunyi, menyingkapkan unsur-unsur backstage ( perilaku yang hanya kita tampakkan dalam suasana privat saja ). Meluas artinya sedikit sekali kendala yang menentukan rentangan dan cara berkomunikasi. Lambangnya, verbal maupun non-verbal. Kualitasnya bersifat dangkal ( hanya menembus bagian luar dari kepribadian kita ) dan terbatas ( hanya menembus dengan hal-hal terntenu saja). Lambang komunikasi umumnya verbal dan sedikit sekali non-verbal.
Komunikasi bersifat personal. Sifatnya unik dan tidak dapat dipindahkan ( non-tranferable )Keyword : Siapa dia?. Komunikasi bersifat impersonal.Keyword : Apakah dia?.
Komunikasi lebih menekankan aspek hubungan daripada aspek isi.

Komunikasi lebih menekankan aspek isi daripada hubungan

Ekspresif instrumental
Informal formal
  1. Ingroup-Outgroup ( Sumner )

Ingroup : kelompok-kita, Ingroup dapat berubah kelompok primer maupun sekunder. Perasaan ingroup diungkapkan dengan kesetiaan, solidaritas, kesenangan, dan kerja sama.

Outgroup: kelompok-mereka.

  1. Kelompok keanggotaan kelompok rujukan ( Theodore Newcomb, 1930-an )

Kelompok rujukan sebagai kelompok yang digunakan sebagai alat ukur ( standard ) untuk menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap.

Kelompok rujukan memiliki 2 fungsi : fungsi komparatif dan fungsi normatif.

  1. Kelompok deskriptif dan kelompok preskriptif ( John F.Cragan & David W.Wright 1980:45 )

Kategori deskriptif menunjukkan klasifikasi kelompok dengan melihat proses pembentukannya secara ilmiah.

Kategori preskriptif mengklasifikasikan kelompok menurut langkah-langkah rasional yang harus dilewati oleh anggota kelompok untuk mencapai tujuannya.

PENGARUH KELOMPOK PADA PERILAKU KOMUNIKASI

Social influence occurs whenever our behavior, feelings, or attitudes are altered by what others say or do “ – Baron dan Byrne ( 1979: 253 )

  1. Konformitas

Menurut kiesler dan kieser ( 1969 ), konformitas adalah perubahan perilaku atau kepercayaan menuju ( norma ) kelompok sebagai akibat tekanan kelopok – yang real atau yang dibayangkan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Konformitas, paradigma utama konformitas dalam buku ini, konformitas adalah produk interaksi antara faktor-faktor situasional dan faktor-faktor personal.

Faktor situasional : kejelasan situasi, konteks situasi, cara menyampaikan penilaian, karakteristik sumber pengaruh, ukuran kelompok, dan tingkat kesepakatan kelompok.

  1. Fasilitas sosial

Fasilitas sosial : fasilitas berasal dari bahasa prancis facile, artinya “mudah” ) menunjukan kelancaran atau peningkatan kualitas kerja karena ditonton kelompok. Kelopok mempengaruhi pekerjaan sehingga tersa menjadi lebih “mudah”.

  1. Polarisasi ( tendensius ke negatif )

Risky shift adalah gejala menuju Polarisasi. Ada juga yang mengatakan bahwa polarisasi disebabkan pada porporsi argumentasi yang menyokong sikap atau tindakan tertentu.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEEFEKTIFAN KELOMPOK

Faktor Situasional
  1. Ukuran Kelompok
  2. Jaringan Komunikasi
  3. Kohesi kelompok erat hubungannya dengan kepuasan. Kelompok yang sangat kohesif mempunyai suasana yang mempertinggi umpan balik, dan karena itu mendorong komunikasi yang lebih efektif.
  1. Kepemimpinan : komunikasi yang secara positif mempengaruhi kelompok untuk bergerak ke arah tujuan kelompok ( Craguan dan Wright, 1980 : 73 ). Ada 3 klasifikasi kepemimpinan ( White dan Lippit, 1960 : otoriter, demokrasi, dan laissez faire.
Faktor Personal Ada 2 dimensi interpersonal : kebutuhan interpersonal dan proses interpersonal.

  • Proses interpersonal meliputi : keterbukaan ( disclosure ), percaya, dan empati.
  • Kebutuhan interpersonal ( teori FIRO, Fundemental Interpersonal Relations OrientationWilliam C.Schultz ) : inclusion ( ingin masuk, menjadi bagian dari kelompok) ; control ( ingin mengendalikan orang lain dalam suatu tatanan hierarkis ) ; dan affection ( ingin memperoleh keakraban emosional dari anggota kelompok yang lain.
Peranan, seperti tindakan komunikasi, peranan yang dimainkan oleh anggota kelompok dapat membantu penyelesaian tugas kelompok, memelihara suasana emosional yang baik, atau hanya menampilkan kepentingan individu saja.
  1. Peranan pertama disebut peranan tugas kelompok ( group task roles )
  2. Peranan kedua, peranan pemelihaaan kelompok ( group building and maintenance roles )
  3. Peranan ketiga, peranan individual ( “ individual “ roles )

APA DAN BAGAIMANA TABOLID ITU??

Perkembangan Tabloid di Indonesia

Perkembangan Tabloid di Indonesia merupakan generasi ketiga munculnya jenis media cetak setelah surat kabar dan majalah. Seperti kita ketahui keberadaan surat kabar di Indonesia ditandai dengan perjalanan lima periode dimulai pada tahun 1828 ( Zaman Belanda ), lalu kemudian majalah dimulai pada periode kemerdekaan, tahun 1945. Ada beberapa sumber mengatakan bahwa Tabloid dikatakan generasi ketiga karena Tabloid beredar pada tahun 1982, yang artinya periode pemerintahan orde baru.

Layaknya surat kabar dan majalah, tabloid juga merupakan bagian jurnalisme konvensional. Keberadaan Tabloid  ditandai dengan keberadaan perusahaan penerbitan majalah Tempo, PT. Grafiti Pers dengan direktur utama ketika itu Eric FH Samola. PT. Grafiti Pers berpusat di Jawa Timur. Perusahaan tersebut kemudian mengalami kebangkrutan, sehingga lima tahun kemudian ( 1988 ) PT. Grafiti Pers diambil alih oleh Jawa Pos News Network ( JPNN ), yang merupakan satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia, dimana sudah memiliki lebih dari 80 surat kabar, tabloid, dan majalah. Dengan Tabloid pertama “ Swara Surabaya “.

Karakteristik Tabloid

Berbicara tentang karakteristik Taboid, tentu terkadang banyak yang masih terjebak dengan bayang – bayang surat kabar ataukah masih oportunis dengan majalah. Sebelum menemukan karakteristik dari tabloid, kita review sekilas apa itu karateristik surat kabar dan majalah.

  1. Karakteristik Surat Kabar

A.1 Publisitas

Publisitas atau publicity adalah penyebaran pada public atau khalayak ( Effendy, 1981:98 ). Salah satu karakteristik komunikasi massa adalah pesan dapat diterima oleh sebanyak – banyaknya khalayak yang tersebar di berbagai tempat, karena pesan tersebut penting untuk diketahui umum, atau menarik bagi khalayak pada umumnya. Dengan demikian, semua aktivitas manusi yang menyangkut kepentingan umum dan atau menarik untuk umum adalah layak untuk disebarluaskan. Pesan-pesan melalui surat kabar harus memenuhi criteria tersebut.

A.2 Periodesitas

Periodesitas menunjukan pada keteraturanterbitnya, bisa harian mingguan, atau dwi mingguan. Sifat periodesitas sangat penting dimiliki media massa, khususnya surat kabar. Kebutuhan manusia akan informasi sama halnya dengan kebutuhan manusia akan makan, minum, dan pakaian. Setiap hari manusia selalu akan makan, minum, dan pakaian. Setiap hari manusia selalu membutuhkan informasi. Bagi penerbit surat kabar, selama ada dana dan tenaga yang terampil, tidaklah sulit untuk menerbitkan surat kabar secara periodik. Di sekeliling kita banyak sekali fakta serta peristiwa yang dapat dijadikan berita dalam surat kabar. Selama ada kehidupan, selama itu pula surat kabar terbit.

A.3 Universal

Universalitas menunjukan pada kesempatan isinya, yang beraneka ragam dan dari seleuruh dunia. Dengan demikian atau isi surat kabar meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, seperti masalah social, ekonomi, budaya, agama, pendidikan, keamanan dan lain-lain.

A.4 Aktualitas

Aktualitas menurut kata asalnya, berarti “ kini “ dan “ keadaan” sebenarnya “ ( Effendy, 1981 : 99 ). Kedua istilah tersebut erat kaitannya dengan berita, karena definisi berita adalah laporan tercepat mengenai fakta-fakta atau opini yang penting atau menarik minat, atau kedua-duanya bagi sejumlah besar orang ( news is the timely report of facts or opinion of either interest or importance or both, to a considerable number of people ) ( Charnley, 1965 : 34 )

Laporan tercepat menunjukan pada “ kekinian “ atau terbaru dan masih hangat. Fakta dan peristiwa penting, atau menarik tiap hari berganti dan perlu untuk dilaporkan, karena khalayak pun memerlukan informasi yang paling baru. Hal ini dilakukan oleh surat kabar, karena surat kabar sebagian besar memuat berbagai jenis berita.

A.5 Terdokumentasikan

Dari berbagai fakta yang disajikan surat kabar dalam bentuk berita atau artikel, dapat dipastikan ada beberapa diantaranya yang oleh pihak-pihak tertentu dianggap penting untuk diarsipkan atau dibuat kliping.

Untuk menyerap isi surat kabar, pembaca dituntut untuk bisa membaca serta memiliki kemampuan intelektualitas tertentu. Khalayaknya yang buta huruf tidak dapat menerima pesan surat kabar. Bagi mereka yang berpendidikan rendah pun mungkin akan kesulitan membaca surat kabar, karena banyak istilah dari berbagai bidang yang tidak dapat mereka pahami.

  1. Majalah

Majalah sudah pasti ditentukan oleh sasaran khalayak yang dituju. Artinya sejak awal redaksi sudah menentukan siapa yang akan menjadi pembacaanya, apakah anak-anak, remaja, wanita dewasa, pria dewasa atau untuk pembaca umum. Bisa juga dapat ditargetkan sasaran pembaca berdasarkan hobi tertentu, seperti bertani, beternak dan memasak.

B.1 Penyajian lebih dalam

Frekuensi terbit majalah pada umumnya adalah mingguan. Selebihnya dwi mingguan, bahkan bulanan ( 1 X sebulan ). Majalah berita biasanya terbit mingguan, sehingga para reporternya punya waktu yang cukup lama untuk memahami dan mempelajari suatu peristiwa.

B.2 Nilai aktualitas lebih lama

Apabila nilai aktualitas surat kabar hanya berumur satu hari, maka nilai aktualitas majalah usung surat kabar kemarin atau dua hari yang lalu bila kita baca saat ini. Akan tetapi kita tidak pernah menganggap using majalah yang terbit dua atau tiga hari yang lalu. Sebagaimana kita alumni bersama, bahwa dalam membaca majalah tidak pernah tuntas sekaligus. Pada hari pertama mungkin kita hanya membaca topic yang kita senangi atau topic yang relevan dengan profesi kita, hari esok dan seterusnya kita membaca topic lain sebagian referensi.

B.3 Gambar / Foto lebih banyak

Jumlah halaman majalah lebih banyak sehingga selain penyajian beritanya yang mendala, majalah juga dapat menampilkan gambar / foto yang lengkap, dengan ukuran besard an kadang-kadang berwarna, serta kualitas kertas yang digunakannya juga lebih baik. Foto-foto yang ditampilkan majalan memiliki daya tarik tersendiri.

B.4 Cover sebagai daya tarik

Selain foto, cover atau sampul majalah juga merupakan daya tarik tersebdiri. Cover adalah ibarat pakaian dan aksesoris

B.5 Harga

Harga majalah tergolong mahal disbanding Koran.

Tabloid Sebagai Kombinasi beberapa karakteristik antara Surat Kabar ( Koran ) dan Majalah

Ada bebrapa karakteristik pada Tabloid :

  1. Publistas
  2. Aktualitas
  3. TerdokumentasikanPenyajian Lebih dalam
  4. Nilai Aktualitas lebih lama
  5. Terdapat gambar lebih menarik
  6. Sampul depan memiliki daya tarik.
  7. Mudah mengeenali khalayaknya
  8. Semi Koran
  9. Semi majalah

 

 

Fungsi Tabloid :

  1. To Inform
  2. To educate
  3. To entertaining

 

Kelebihan Tabloid :

  1. Indept Reporting
  2. Menarik ( Eye catching )
  3. Khalayak Mudah Dipantau
  4. Bersifat feature news dan straight News
  5. Terdokuementasikan
  6. Pemberitaan di Tabloid boleh dipesan

Kelemahan :

  1. Pemberitaan Terbatas, biasanya satu tema besar menjadikan benang merah untuk setiap rubrik ( terdapat korelasi per satu edisi )
  2. Ukuran kertas terlalu lebar
  3. Memiliki daya saing penjualan antara Koran dengan majalah.

Prospek untuk Kegiatan PR :

Walaupun Tabloid tidak mencakup semua pemberitaan layaknya Koran, atau bahkan tidak se-handy majalah, Tabloid memiliki potensi yang dapat digunakan untuk melakukan kegiatan Public Relations. Antara lain :

  1. Advertorial

Berdasarkan karakteristik tabloid serta pertimbangan kelebihan serta kekurangannya, PRO dapat mengirimkan Advertorial sebagai bentuk publisitas, untuk mengisi salah setengah atau penuh satu halaman.

  1. Pembuatan House Jurnal

Bentuk tabloid juga dapat digunakan untuk sebagai bentuk house jurnal sebuah perusahaan, instansi, atau lembaga organisasi. Contohnya, organisasi HMI, DPR, dan KPK.

“ Kotak Ajaib “ dari Sebuah Telepon Genggam

Dandy’s Blog

Kehidupan manusia saat ini terbilang cepat dan dinamis. Alasan mendasar terbilag cepat dan dinamis dikarenakan adanya tuntutan pemenuhan kebutuhan yang semakin meningkat, sehingga manusia dengan segala upaya daya kreativitas bersifat imajiner semakin hari semakin mampu menciptakan inovasi pemenuhan kebutuhan tersebut. Apa yang dimiliki atau diciptakan manusia tersebut menjelma menjadi kebudayaan era abad 21 yang kemudian dikenal dengan istilah multimedia.

Istilah multimedia memang tidak asing ditelinga kita semua. Berdasarkan harfiah kata multimedia, bermakna adanya keanekaragaman media. Kini, keanekaragaman media tersebut sudah melekat kuat pada kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh keanekaragaman tersebut adalah Internet ( dunia maya ) dan telepon genggam. Sudah hampir lebih lima belas tahun internet berkembang. Berbagai inovasi teknologi yang menyediakan pelayanan pun ditawarkan kepada manusia. Ada beberapa ‘pelayanan’ yang ditawarkan kepada manusia, antara lain :

‘ pelayanan ‘ antar surat, antar uang, mencari orang hilang, transaksi jual beli, cari jodoh, cari relasi, hingga cari alamat rumah pun tersedia di internet. Semua bersifat terbuka dan dinamis begitu cepat. Informasi yang berkembang antar user lainnya. Sehingga menimbulkan rasa kecanduan melebihi rasa candu terhadap media yang masih memiliki delay feedback lebih lama dari internet.

Keanekaragaman kedua ialah telepon genggam. Secara wujud media telepon genggam mungkin tidak sebanding dengan keanekaragaman internet. Ketika semua yang menjadi kebutuhan manusia sudah terlayani begitu cepat oleh internet, sebagian masyarakat masih menganggap telepon genggam hanya berperan sebagai pelengkap pada proses komunikasi saja. Padahal dalam kenyataannya, telepon genggam juga merupakan keanekaragaman audio yang berkembang menjadi audio visual. Perkembangan telepon genggam, saat ini sangat pesat. Dahulu telepon genggam memang hanya digunakan untuk audio komunikasi. Tetapi sekarang, telepon genggam berubah menjadi audio visual komunikasi.

Media Telepon Genggam termasuk Above atau Below The Line?

Dilihat dari feature telepon genggam yang beragam, ternyata banyak masyarakat menggunakan media tersebut sebagai sarana media multi komunikasi. Pertama, masyarakat sudah mulai konsumtif terhadap telepon genggam, analisis tersebut dikarenakan keterjangkauan harga pembelian telepon genggam bervariatif. Selain itu faktor penunjang pulsa provider yang banyak serta harga yang ‘jatuh’ membuat masyarakat semakin cerdas menggunakan telepon genggam. Banyak kalangan advertiser menggunakan promosi perusahaan yang bekerja sama dengan provider dalam bentuk iklan layanan pesan singkat kemudian pesan singkat itu akan menyebar secara serempak ke seluruh pelanggan provider. bagi perusahaan bentuk promosi atau publisitas tersebut tergolong mahal. Sebab menggunakan tarif harga iklan, sehingga telepon genggam termasuk above the line.

Pertanyaannya, apakah telepon genggam hanya tergolong above the line?. Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita analisis pada kegiatan sehari-sehari. Saya yakin masyarakat tentu pernah mendapatkan informasi atau bahkan mendapatkan promosi perusahaan melalui pesan singkat dari orang yang dikenal atau bahkan orang tak dikenal. Bentuk seperti itu, lebih mudah dan tidak mengeluarkan biaya besar. Hanya mengeluarkan tarif pengiriman pesan singkat. Untuk itu dapat ditarik kesimpulan bahwa ternyata telepon genggam juga bisa dikatakan Below The Line.

Pada dasarnya below the line diartikan  bentuk iklan yang tidak disampaikan atau disiarkan melalui media massa, dan biro iklan tidak memungut komisi atas penyiarannya/pemasangannya. Tetapi dikarenakan telepon genggam memiliki feature yang mendukung adanya akses media massa yang meluas, dan dapat digolongkan menjadi media perantara secara tidak langsung telepon genggam juga digolongkan pada below the line.

Peran Telepon Genggam Pendukung Kegiatan PR

 

Kegiatan PR yang bersifat kompleks membuat seluruh praktirsi PR untuk cerdik menggunakan peluang media untuk tetap menyebarkan informasi atau melakukan kegiatan PR dengan kemudahan akses dan tentu dengan harga yang terjangkau, yakni menggunakan telepon genggam salah satunya. Untuk itu kita akan mencoba membedah apa saja yang dapat dilakukan PRO melaksanakan kegiatan PR pada media telepon genggam.

Pertama, PRO dapat menyebarkan informasi perkembangan serta promosi perusahaan kepada masyarakat luas dengan pelayanan provider PRO dapat bekerjasama. Atau bahkan kedua, PRO juga dapat langsung meng-update informasi melalui feature internet mobile dengan harga yang murah dan dapat diakses dengan mudah.

Ketiga, perusahaan juga dapat melakukan kampanye menyerukan apa yang diinginkan perusahaan. Pernah pada sebuah provider menyerukan agar menggunakan batik melalui pesan singkat. Ternyata diakhir pesan singkat itu tertera nama lembaganya yaitu departemen pariwisata dan kebudayaan. Contoh tersebut menunjukan bahwa lembaga atau perusahaan dapat melakukan penyebaran informasi atau citra pada khalayak dengan massa yang banyak.

Opini, Agitasi Propaganda dan Pers Mahasiswa

“ We can’t not Communicate “, Wilbur Scrahmm.

Tentu manusia tidak dapat jika tidak berkomunikasi. Karena bagaiamanapun, komunikasi adalah kegiatan bagaimana manusia me-apresiasikan keinginannya kepada individu lain. Komunikasi tidak hanya berbentuk verbal, akan tetapi juga dalam bentuk non- verbal. Orang yang tidak mampu mengeluarkan keinginan dalam bentuk suara, ia masih bisa melakukan dengan memberikan simbol – simbol, logo, tulisan, bahkan gesture tubuh. Sebab, sadar atau tidak sadar, manusia berkomunikasi untuk menunjukan eksistensi dirinya di hadapan orang lain. Eksistensi jika dikaitkan dengan hasrat manusia, termasuk pada hasrat pengakuan. Dan ini jelas wajar, sebab merupakan sifat dasar manusia.

Dari sekian banyak mahasiswa Unpad, tentu sudah kebayang, bagaimana kegiatan komunikasi dimana sebagai wadah apresiasi dan eksistensi tersebut, berjalan hingga menyentuh grass root. Jika lembaga mahasiswa tersebut tidak memberikan wadah komunikasi antara Lembaga mahasiswa dengan konsituennya, bayangkan jika, tidak ada wadah untuk me-aspirasikan suara, dalam suatu pemerintahan?, tentu Blinded Government. Pemerintah sama sekali tidak mengetahui apakah keinginan dari rakyatnya, dan apakah sudah sampai kebijakan yang dikeluarkan berhasil atau tidak. Jawabannya, tentu tidak. Pemerintah bukanlah peramal yang dapat meraba-raba atau memprediksi sesuatu tanpa perhitungan. Utnuk mencari perhitungan yang dimaksud, salah satunya adalah Media.

Media,merupakan hasil proyeksi dari Komunikasi Massa, memiliki kekuatan sosial yang kuat. Hal tersebut dikarenakan, efek dari media adalah, dapat menggerakan proses sosial ke arah suatu tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Tentu, efek yang dihasilkan tidaks emudah itu, pada tahap media, kita harus dapat me-analisis psikologis dan analisis sosial. Analisis psikologis adalah, bagaimana kita dapat menimbang dan memperhatikan adanya kekuatan sosial yang meruapkan hasil kerja dari setiap watak serta kodrat manusia. Sedangkan analisis Sosial, adalah bagaimana kita dapat melihat sebuah peristiwa sosial yang dihasilkan dari komunikasi massa dengan penggunaan media massa yang sangat unik serta kompleks.

Apa yang sudah menjadi kinerja Media, idealnya kita sama-samamengetahui bahwa media sangat berpengaruh untuk merubah perilaku sesorang akibat dari terpaan media secara terus menerus. Terpaan Media dalam bentuk pesan yang disajikan oleh Media, menjadi modal utama kesuksesan dalam efek media. Dengan demikian, timbulah opini publik, yang tertanam dalam diri publik, yang diakibtkan pesan, sebagai referensi opini mereka dan opini publik itu sendiri sangat berpengaruh terhadap stabilitas regulasi pemerintahan. Untuk itulah, diperlukan Pers Mahasiswa di dalam suatu pemerintahan.

Pers sendiri, dalam kenyataanya, merupakan pilar keempat setelah eksekutif,legislatif, dan Yudikatif. Hal tersebut, diperkuat karena apa yang terjadi semua sejarah pergerakan perpolitikan Indonesia bahkan dunia, dapat dinamis akibat dari terpaan media, yang menjadi social controll pemerintahan. Bgitupula dengan Unpad. Unpad adalah replika negara Indoneseia, apakah mungkin sebuah itikad baik, serta social controll tersebut berjalan sehat?, jawabannya sudah pasti belum tentu.

Pers Mahasiswa Unpad adalah lembaga pers mahasiswa yang bersifat independen. Tidak dapat dikriminalisasi layakanya KPK, ataupun mendapat intervensi dari kalangan manapun. Karena secara strukturnya pun, pers mahasiswa memiliki undang-undang, dewan pers mahasiswa, dan kode etik jurnalis yang harus diakui oleh konstituen pemerintahan.

Peran dari pers mahasiswa, sama dengan peran dan fungsi pers pada umumnya. Propaganda, Agenda Setting, dan Agitasi sudah pasti taktik dari media untuk me-kontrol pemerintahan.

-Salam Gebrak Pers Mahasiswa Unpad-

SEJARAH PUBLIC RELATIONS di INDONESIA

 

Public Relations (PR) secara konsepsional dalam pengertian “State of Being “ di Indonesia baru dikenal pada tahun 1950-an, Setelah kedaulatan Indonesia diakui oleh Kerajaan Belanda pada tanggal 27 Desember 1949. Dimana pada saat itu, Indonesia baru memindahkan pusat ibu kota dari Yogyakarta ke Jakarta. Tentu saja, proses pembenahan struktural serta fungsional dari tiap elemen-elemen kenegaraan baik itu legislatif, eksekutif, maupun yudikatif  marak dilakaukan oleh pemerintah pusat. Pemerintah menganggap penting akan adanya badan atau lembaga yang menjadi pedoman dalam mengetahui“ Who we are, and what should we do,first? “. Oleh sebab itu, dibentuklah Departemen Penerangan. Namun, pada kenyataannya, departemen tersebut hanya berdedikasi pada kegiatan politik dan kebijaksanaan pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah. Dengan kata lain, tidak menyeluruh.

            Dengan alasan demikian, pada tahun 1962 , dari Presidium Kabinet PM Juanda, menginstruksikan  agar setiap instansi pemerintah harus membentuk bagian atau divisi Humas (PR), ditahun itulah, periode pertama cikal bakal adanya Humas di Indonesia.

            Namun, tidak berhenti disitu saja, PR berkembang sesuai dengan keadaan yang terjadi. Dimulai dengan pengambilan kata “Humas” yang merupakan terjemahan dari Public Relations. Maka tak heran, kita sering menemui penggunaan sebutan “ Direktorat Hubungan Masyarakat” atau “Biro Hubungan Masyarakat” bahkan “ Bagian Hubungan Masyarakat “ sesuai dengan ruang lingkup yang dijangkau.

            Jika dikaitkan dengan state of being, dan sesuai dengan method of communication, maka istilah Humas dapat dipertanggung jawabkan. Tetapi, jika kegiatan yang dilakukan oleh Kepala Hubungan Masyarakat itu, hanya  mengadakan hubungan dengan khalayak di luar organisasi, misalnya menyebarkan press release ke massa media, mengundang wartawan untuk jumpa pers atau wisata pers, maka istilah hubungan masyarakat tersebut tidaklah tepat apabila dimaksudkan sebagai terjemahan dari public relations.

            Itulah yang dialami oleh Indonesia, yang ternyata lupa akan aspek secara hakiki dari PR itu sendiri. Seperti, Pertama, Sasaran PR adalah public intern (internal publik ) dan  public ekstern (Eksternal Publik). Internal Publik adalah orang-orang yang berbeda atau tercakup organisasi, seluruh pegawai mulai dari staff hingga jendral manager. Eksternal Publik ialah orang-orang yang berada di luar organisasi yang ada hubungannya dan yang diharapkan ada hubungannya.  Seperti Kantor Penyiaran, PR harus menjalin hubungan dengan pemerintah, asosiasi penyiaran Indonesia, sebagai organisasi yang berhubungan, selain itu dengan berbagai macam perusahaan, biro iklan, LSM, dan masyarakat luas, sebagai calon pembuatan relasi kerja sama.

            Kedua, kegiatan PR adalah komunikasi dua arah( reciprocal two ways traffic communications ). Artinya, dalam penyampaian informasi PR diharapkan untuk menghasilkan umpan balik, sehingga nantinya dapat menjadi bahan evaluasi perusahaan agar lebih baik.

             Ternyata, orientasi PR Indonesia belum seutuhnya dapat dikatakan sebagai “ PR Sejati “. Sebab berbeda dengan konsep yang diterapkan oleh bapak PR, Ivy L.Lee, yakni mempunyai kedudukan dalam posisi pemimpin dan diberi kebebasan untuk berprakarsa dalam meyiapkan informasi secara bebas serta terbuka.

            Maka tidak heran, di periode pertama tersebut, PR di Indonesia secara struktural belum banyak yang ditempatkan dalam top management. Ironis memang, dalam kenyataannya pemimpin perusahaan sering meminta kepala humas untuk mendampingi ketika menghadapi publik eksternal. Selain itu kegiatan masih banyak bersifat penerangan satu arah ke publik eksternal semata-mata.    

            Namun, perkembangan PR di Indonesia semakin maju, sehingga kini dapat dikatakan sebagai “PR Sejati”. Hal ini, dikarenakan perkembangan teknologi yang sangat pesat, sehingga membawa perubahan zaman.

Terbukti di periode kedua, pada tahun 1967-1971, terbentuklah Badan Koordinasi Kehumasan (Bakohumas). Tata kerja badan ini antara lain ikut serta dalam berbagai kegiatan pemerintah dan pembangunan, khususnya di bidang penerangan dan kehumasan, serta melakukan pembinaan dan pengembangan profesi kehumasan.

            Di periode ketiga tahun 1972 dan 1987, munculnya PR kalangan profesional pada lembaga swasta umum, yakni didirikannya Perhumas ( Public Relations Associations of Indonesia ) pada tanggal 15 Desember 1972. Konvensi Humas di Bandung tahun 1993, telah menetapkan Kode Etik Kehumasan Indonesia ( KEKI ). Perhumas tercatat sebagai anggota International Public Relations Associations (IPRA) dan Forum Asean Public Relations Organizations ( FAPRO ).

            Pada tanggal 10 April 1987 di Jakarta dibentuk suatu wadah profesi PR lainnya yang disebut Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia ( APPRI ), yang bergerak dalam konsultan jasa kehumasan.

            Di periode keempat, tahun 1995 hingga sekarang, perkembangan PR sangat pesat. Ternyata perkembangan PR tumbuh dikalangan swasta bidang professional khusus (spesialisasi) Humas bidang idustri pelayanan jasa. Ditandai terbentuknya Himpunan Humas Hotel Berbintang (H-3) pada tanggal 27 November 1995. Berdirinya Forum Humas Perbankan (Forkamas) pada tanggal 13 September 1996.

            Sehingga kini, dapat sinkron dengan rumusan Fungsi PR dari Departemen Penerangan R.I, yaitu :

          Melaksanakan Hubungan ke dalam, yaitu pemberian pengertian tentang segala hal mengenai Departemen Penerangan terhadap “Internal Public” yaitu para karyawan.

          Melakukan hubungan ke luar, yaitu pemberian informasi tentang segala hal mengenai Departemen Penerangan terhadap “External Public” yaitu masyarakat pada umumnya.

          Melakukan pembinaan serta bimbingan untuk mengembangkan Kehumasan sebagai medium penerangan.

          Meyelenggarakan Koordinasi Integrasi dan Sinkronisasi serta kerjasama kegiatan Hubungan Masyarakat untuk penyempurnaan pelayanan penerangan terhadap umum.