Lebaran, Silaturahmi Sambil Liburan : Swiss Van Java

Selamat datang di Kota Garut..

Kota Cincin Pegunungan yang indah, Kota Kuliner, dan Kota Swiss Van Java…

 

100_3995

Gunung Cikuray

 

Salah satu obyek wisata menarik di Garut adalah Kawah Darajat Pass. Kalau di Singapore punya Marina Bay yang bisa berenang di atas gedung bertingkat, di Kawah Darajat kita bisa Berenang air panas di atas awan..

Selamat Datang di Kawah Darajat Pass

Selamat Datang di Kawah Darajat Pass

100_4019

Yuda (Sepupu),Bokap,Mang Jaya, Jaka (Kakak)

Yuda (Sepupu),Bokap,Mang Jaya, Jaka (Kakak)

PLTU Chevron-Pertamina

PLTU Chevron-Pertamina

My Big Bro, Jaka

My Big Bro, Jaka

My Lil Sis, Nada

My Lil Sis, Nada

Me

Me

Bi Neni (Adeknya Nyokap) dan Mang Jaya (Suaminya)

Bi Neni (Adeknya Nyokap) dan Mang Jaya (Suaminya)

Gunung Guntur

Gunung Guntur

Nyokap, Bokap, Nada, Jaka di Kolam Renang Cipanas Surya Alam

Nyokap, Bokap, Nada, Jaka di Kolam Renang Cipanas Surya Alam

Tunggu selanjutnya…

ūüėÄ

Adioss..

Romadhan Kali ini…

 

Sebulan sudah…

Dilalui dengan sekenario yang berbeda tiap tahunnya. Berbeda kisah, beda keadaan, dan beda pelajaran. Tidak untuk diri saya, tetapi juga untuk bangsa ini, Bangsa Indonesia. Perlu saya apresiasi untuk perjalanan selama sebulan ini. Bukan untuk diri saya, tetapi untuk keluarga besar saya. Kami memiliki cerita menarik yang ‘pertama’ kali untuk kami perankan.

Di Romadhon kali ini, Bapak saya berperan sebagai ketua DKM di masjid komplek, yang mana sebulan penuh, nyaris menggema di tengah-tengah para jamaah sholat tarawih. Ia berperan menjadi MC pembuka, yang mana belum pernah ia lakukan dalam sekup keagamaan. Bahkan, demi kelancaran berpidato, Ia sering berlatih bersama Ibu saya yang bersemangat membuat teks pidato. Dan, ketika waktu tarawih tiba, kami sekeluarga berbondong-bondong rajin sholat tarawih di masjid komplek untuk memberi semangat dan apresiasi keberaniannya itu.

Ini tidak biasa. Jika pada bulan sebelumnya, saya, adik, atau kakak  begitu jarang sholat tarawih di masjid komplek karena kesibukan, tidak untuk Romadhan kali ini. Entahlah, bagi saya ini memberikan keunikan sendiri.

Romadhon kali ini juga memberikan inspirasi untuk keluarga besar saya, untuk menghafal Al-Qur’an. Gegara tontonan Hafidz Indonesia di RCTI, keluarga kami berkali-kali menitikan air mata dan mendecak kagum dengan anak-anak kecil itu yang masih sangat muda sudah menghafal ayat Al-Qur’an dengan nada yang begitu indah di dengar. Hasilnya, sehabis subuh kami saling me-muroja’ah hafalan kami. Lagi-lagi ini langka bagi kebiasaan keluarga kami. Kebiasaan yang selalu saya jumpa pada saat masih menjadi mahasiswa kosan, ternyata sehabis subuh juga saya dapat meneruskann kebiasaan positif di keluarga kami.

“Tidak ada kata terlambat”, Kata Ibu saya ketika mengusap air mata ketika Musa, anak 5 tahun yang sudah menghafal sebanyak 29 Juz.

Allah, taukah Engkau, di situlah aku pun berucap syukur teramat dalam..

Keluarga kami adalah keluarga masa kini yang mungkin dapat dikategorikan sebagai keluarga penganut ‘biasa-biasa’ saja dalam kehidupan sehari-hari. Tapi, hidayah Allah akan datang di waktu dan keadaan yang tidak diduga-duga. Perubahan yang tidak langsung drastis, melainkan sama-sama memulai dengan menyadari bahwa tidak ada kata terlambat adalah hikmah yang harus dijalankan sedikit demi sedikit.

Romadhan akan meninggalkan kami sekeluarga, dan terus seperti ini. Walaupun demikian, hidup akan terus berjalan ke depan. Menguji kesadaran ruhaniah yang sudah ditarbiyahkan selama Bulan Romadhan. Mengutip dari Ust. Tanjung sewaktu mengisi tausyiah Subuh di Masjid Ukhuwah Islamiyah UI, mengatakan:

Kemenangan sesungguhnya adalah kemenangan yang senantiasa giat menjalankan Ibadah, dan melawan hawa nafsu di bulan-bulan yang bukan Bulan Romadhan

Berbaik sangkalah dengan kebaikan dari dan untuk diri kita di bulan selanjutnya. Selamat tinggal Romadhan, Berikan kesempatan diri kami untuk berjumpa di Bulan terbaik-Mu dengan jauh lebih baik lagi. Terimalah segala amal ibadah puasa kami, ibadah sholat kami, Taubatan nasuha kami, dan segala ikhtiar yang kami lakukan demi mendapatkan Rakhmat dan Ampunan-Mu.

Mudahkan kami dan luruskan hati serta jalan kami atas segala hajat dan keistiqomahan ruhiyah pada diri kami. Kekalkan tali persaudaraan ini, hingga kami akan sama-sama melangkah menuju syurga Mu yang kekal..

aamiin..

Depok, Malam 1 Syawal 1435

ps: Saya dan keluarga mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1435 H Taqobbalallahu Waminna Wamingkum, Mohon Maaf Lahir Bathin..

cropped-322769_10150294775738118_596673117_7782908_2400199_o.jpg

Allah Lebih Sayang Engkong..

 

 

Malam itu, sunyi, namun masih ada nyawa di sana. Kekuatan dari keluarga besar, anak, menantu, cucu, serta cicit berkumpul menyatukan hati dan pikiran dalam sebuah paviliun yang tidak lebih berukuran 6×4 meter. Mereka mulai berdoa dan mengaji sambil mengusap kening hingga kepala Bapak Tua, yang sedang berbaring lemah di lantai yang beralaskan anyaman tikar yang baunya sangat berciri khas.

Saya ada di sana. Kali pertama melihat Bapak Tua yang biasa saya panggil dengan Pak Dede (Engkong/Kakek). Hari pertama dan satu-satunya kesempatan terkahir saya melihat kakek tercinta lemah tak berdaya. Sedangkan yang lain, seperti sepupu, Om dan Tante sudah begitu sering mengurusi dan menjaga dirinya.

Pak Dede merupakan Ayah dari Bapak saya. Kakek terakhir dalam keluarga saya. Ia tinggal di sebuah paviliun yang terhubung langsung dengan rumah anak perempuan kedua, Tante Amah. Paviliun itu sengaja dibangun dan desain khusus untuk menjadi tempat tinggal Pak Dede yang memiliki karakter pendiam, dan lebih senang mengisi waktu sendiri semasa lansianya. Walau pada sebelumnya rumah mengalami perombakan pun, Ia masih senang berdiam dan tinggal di sebuah ruangan sepi dan ‘hampir’ dikatakan melepaskan diri dari kerumunan orang banyak. Ia memang pendiam, penyendiri, dan tidak suka dengan keramaian.

Stamina yang selalu menjaga kesehatan, tidak pernah merokok, dan rutin berolah raga semasa muda menjadikan tubuhnya sangat sehat. Tubuh tinggi serta daya ingat yang luar biasa patut kami acung jempol. Kekuatan tubuh dari kakek berusia 70 tahun lebih itu, nyaris tanpa renta. Ia bahkan sangat mandiri. Atau suatu ketika, ia senang sekali memperhatikan pohon-pohon nangka, pisang, atau rambutan yang dimilikinya di pekarangan rumah, yang kemudian digarapnya untuk dipanen. Ia rela memasukkan hasil panen buah-buhan itu ke dalam karung putih, yang nanti akan diantarnya sendiri dengan menggunakan sepeda motor Honda Win tipe 100, keluaran tahun 70’an berwarna abu-abu.

Pria lansia itu sudah memiliki 7 anak dan 18 cucu dan 4 cicit. Beliau lahir dari keluarga Sunda yang tinggal di daerah Bogor. Kemudian Pak Dede tinggal di Jakarta untuk bekerja hingga akhirnya bertemu dengan Emak Uti (Isterinya/Nenek Kami) yang berketurunan Betawi peranakan Tioghoa di sebuah perkampungan karet yang sekarang disebut (pasar Senen). Semasa muda, Pak Dede adalah tercatat sebagai pegawai negeri sipil dari perusahaan air minum nasional. Kemudian, karena pada saat itu ada pemindahan tempat kerja, Pak Dede dan keluarga besarnya pindah ke daerah Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Dengan menempati rumah dinas yang tidak besar, Ia mendidik ke 7 anaknya untuk hidup prihatin. Walaupun prihatin, Ia bersama Isterinya yang ketika itu bekerja sebagai pencuci baju asrama, terus memotivasi anak-anaknya untuk tetap sekolah tinggi dan mandiri.

“Lu, harus sekolah tinggi ya Din, biarin emak bapak lu cuman SD, tapi lu harus pinter, bakal jadi orang sukses”, Kira-kira itu yang selalu Ia sematkan dalam mindset¬†Bapak saya saat tinggal di Ragunan. Bapak saya, adalah anak laki-laki pertama, dan anak kedua dari 7 bersaudara. Oleh karena itu, segala wejangan positif dan motovasi kemandirian selalu keluar dari mulutnya. Maka jadilah semua anak-anaknya tumbuh sukses dan hampir semua sudah menempuh pendidikan Strata 2 dan menjabat posisi penting pada tempat kerja mereka. Pembelajaran ini yang terus saya patri dalam diri saya untuk terus meneruskan cita-cita leluhur.

Karena pada saat itu, masa pensiun sudah harus dijalankan, maka Pak Dede dan sebagian keluarganya pindah ke daerah Cimanggis, Depok-Bogor. Tinggal di daerah yang belum terkena industrialiasi, mereka menjadi pendatang yang akhirnya membeli tanah yang luasnya di atas rata-rata. Itu sebabnya, mengapa Pak Dede mengajak sebagian anak-anaknya yang belum menikah (ketika itu) dan tinggal bersama dengan dirinya. Pohon-pohon rindang, teduh, dengan kicauan burung masih terasa di rumah itu. Banyak pohon, melinjo, nangka, durian, pisang, belimbing, dan mangga merindangi pekarangan rumah yang cukup luas. Bagi saya, rumah ternyaman kedua semasa kecil adalah rumah kakek nenek saya yang di Cimanggis. Ketika masih kecil, saya sering menginap dan bermain – main dengan sepupu yang juga menginap di sana.

Namun, setelah nenek kami meninggal, rumah besar itu mengalami perombakan yang akhirnya membentuk dua rumah untuk keluarga 2 tante, anak perempuannya. Jumlah lahan yang luas, pun akhirnya digunakan oleh anak-anaknya untuk membangun rumah kediaman yang akhirnya terlihat seperti komplek keluarga. Keputusan untuk tinggal berdekatan itu juga diambil karena mempertimbangkan dari usia lanjut yang dialami Pak Dede. Untuk itu, anak-anak perempuannya membangun rumah dan tinggal tidak jauh dari paviliun itu dibangun. Hanya keluarga bapak saya dan kakak perempuannya, Bu de Ani, yang tinggal di luar pekarang Cimanggis. Bude Ani tinggal di daerah Jatipadang Jakarta Selatan, dan keluarga bapak saya tinggal di Depok.

Lahir, Rejeki, Jodoh, dan Maut memang hanya rahasia Allah SWT semata. Waktu adalah teman setiap manusia yang hidup. Ada sehat, ada sakit, Ada kuat ada lemah, ada muda dan renta. Itu juga yang akan dialami setiap manusia yang bernyawa. Sekuat-kuat tenaga manusia, ia akan pasti akan bertemu fase lemah karena alam. Saya menyadari itu lebih kepada Pak Dede. Ia mungkin di usia 70 an, masih bisa mengendarai motor, memanjat pohon, membaca baik buku atau Al-Quran, tapi tidak di penghujung usia 81 tahun.

586_1991 586_1966 586_1968 586_1970 586_1971 586_1981 586_1984

Sakit itu, datang ketika sepulang Pak Dede menunaikan umroh sendiri tanpa ditemani keluarganya. Ia bersama rombongan pengajiannya, pergi dengan ikhlas serta doa dari keluarga besar yang ditinggalkannya. Sepulang dari sana, Pak Dede lumpuh, karena jatuh. Tubuhnya tidak bisa digerakkan. Awalnya, masih bisa berjalan dengan pincang, namun lama-kelamaan, kondisi makin parah. Hingga Ia tidak bisa bangun, dan hanya bisa berbaring lemah.

Tubuhnya mulai mengecil, dan hanya sebatas tulang-tulang keras yang menonjol di wajah, tangan, badan, dan kakinya. Melihat kondisi yang seperti itu, kami sempat membawanya ke rumah sakit menjalani cek kesehatan. Menurut dokter, memang sakit karena jatuh ketika Umroh, sulit disembuhkan karena usia lanjut yang dideritanya. Kekuatan pada tulang-tulang dan rangka sudah mulai mengeropos. Oleh karena itu, akhirnya keluarga besar memutuskan agar Pak Dede dirawat di rumah saja, dan hanya memanggil dokter ke rumah.

Semasa rawat di rumah, memang Ia lebih banyak dirawat oleh anak-anak perempuannya yang tinggal di dekatnya. Mulai dari menyuapi, menadikan, menggantikan popok, bahkan tak urung banyak juga yang merelakan waktu istirahat mereka untuk tetap terjaga di dekat Pak Dede. Benar kata orang, bahwa ketika lanjut usia, seseroang akan berperilaku seperti anak kecil kembali. Mulai keras kepala, tidak mau makan, tidak mau dibilangin, dan lain-lain. Pak Dede pun demikian. Ia tidak mau tidur di tempat tidur. Ia lebih memilih untuk tidur di lantai yang berlaskan tikar. Bahkan posisi tidur pun, sulit normal layaknya orang-orang biasanya. Ia lebih memilih berbaring menghadap ke kanan. Selalu seperti itu. Sehingga wajahnya mengalami perubahan bentuk. Kelopak mata dan bibirnya mengalami pembengkakkan.

Saya bisa berkata seperti ini, ketika saya menjengguki Beliau semasa hidup tepat di 2 Minggu sebelum Ia wafat. Pada sore hari ketika saya ingin pergi bertugas, saya berusaha untuk memaksakkan diri untuk menjengguk. Awalnya saya tidak yakin, bahwa kondisi Pak Dede sakit begitu parahnya. Saya jarang ikut menjengguk layaknya Bapak, Ibu dan Adi saya yang selalu setiap akhir pekan berkunjung untuk mengaji dan sebagainya. Malu rasanya untuk bilang, karena kesibukan yang sulit saya jumpa hari kosong untuk menjengguk dirinya yang lemah.

Saya datang dan menhampirinya yang sedang meraung kesakitan. Saya sentuh kaki dan pinggulnya dari arah belakang, sambil berkata, “Pak Dede, assalamualaykum, Ini kantri datang pak”.

Ada hal yang bikin hati saya terkoyak begitu rapuh ketika pada saat saya menyapa demikian, Ia memaksakan menoleh ke arah saya sambil mengucapkan, “Waalaikum salam”.¬† Walaupun ucapannya lirih terdengar, tapi ia masih sangat merespon dan menyadari bahwa cucunya datang menjengguk. Saya pun mengaji di sampingnya surat Yasin sambil mengusap kepala yang terlihat mengecil. Sewaktu saya mengaji ia masih meraung kesakitan.

Tidak lama, saya pun pergi bertugas penempatan kerja. Hati saya merasakan gundah dan selalu teringat dengan Pak Dede. Entahlah, ketika melihat kalender merah pada 1 Mei, saya bergumam, “Saya harus pulang”.

Sekali lagi Allah memang punya skenario terindah dalam hidup untuk manusia. Tepat di tanggal 1 Mei, di saat anak-anak serta cucu sedang libur, maut itu datang menghampiri.

Suatu pagi menjelang siang, tepat waktu Dhuha, saya ditelepon Ibu saya yang ketika itu sedang melakukan perjalanan ke Sukabumi bersama Bapak saya.

“Kantri, kamu sekarang, sama jaka, nada ke Cisalak. Pak Dede koma. Badannya udah dingin. Di sana semua lagi pada ngajiin. Mamah lagi menuju pulang, di jalan. Segera ya”. Ucap Ibu kepada saya.

Mendengar itu, tanpa berpikir dua kali, saya, adik, dan Kakak saya bergegas ke Cisalak/Cimanggis bersama. Perasaan kami campur aduk tak karuan. Jalanan yang macet membuat kami bertaut harap agar masih bisa melihat Pak Dede di akhirnya. Kakak saya yang sedang menyetir mobil hanya terdiam. Begitu juga dengan saya dan Nada. Saya berkali-kali berharap tidak ingin ada notifikasi di BBM saat itu. Alih-alih sungkan untuk membaca berita duka, saya pun hampir mematikan telepon gengam beberapa saat.

Setiba di sana, saya melihat sudah banyak kerumunan orang di paviliun, tapi tidak ada bendera kuning di sana. Namun, sudah ada tenda di sana. Denyut jantung saya tiba-tiba berdegup. Saya pun langsung menuju kamar Pak Dede. Semula saya kira Pak dede hanya koma, namun ketika saya memegang kakinya, ternyata kakinya sudah dingin. dan wajahnya sudah tertutup, dengan sutas kain kasa menopang rahang, tangan dan kakinya.

Seolah menyisakkan tanya, saya hanya melihat raut wajah kesedihan dan air mata yang keluar dari mata om dan tante. Innalillahi Wainna ilaihi rojiun… Pak Dede telah tiada. Tubuh saya lemas tak berdaya. Kemudian, saya mendapat telepon dari Ibu, Ibu berkata sambil terisak tangis.

“Pak Dede udah enggak ada ya?. Tri, pa dede udah meninggal ?”

Saya tidak kuasa menjawab, saya pun hanya terisak tangis, menanggapi pertanyaan Ibu.

Saya berusaha tegar, dan mengaji surat yasin di sisinya. Kembali saya lihat wajahnya. Subhanallah, memang ketika waktu sudah tepat untuk kembali kepada-Nya, maka raga akan kembali seperti semula juga. Tidak ada sembab atau bengkak di kelopak mata, bibir, dan kakinya sama sekali. Ia terlihat kembali dengan sempurna.

Kamis, langit Depok dan Bogor terlihat sangat mendung. Seakan mengetahui, bahwa makhluk Tuhan yang baik telah kembali kepada-Nya, langit pun terisak seperti kami saat itu. Kami kira akan turun hujan deras. Ini sangat mengkhawatirkan, karena kasihan jika air hujan menggenagi liang lahat Pak Dede. Tapi, Allah tidak tidur. Dan Pak Dede orang yang baik, ketika ingin dimandikkan pun langit hanya gerimis. Orang tua saya, tidak lama hadir. Tampak wajah Bapak, yang sudah sembab oleh air mata. Namun, ia sama sekali tidak keluar air mata ketika itu. Saya tahu, Bapak sedang menguji ketegaran dan keikhlasannya.

Seluruh anak laki-laki dan menantu laki-lakinya pun ikut memandikan Pak Dede. Saya menyaksikkan keadaan itu. Bahkan, Saya sempat memandikkan Pak Dede, dengan menyentuh kakinya, sambil membaca sholawat. Di samping tempat pemandian, sudah banyak orang-orang yang membacakan doa secara bersama.

Selesai dimandikkan, Pak dede dikafani. Bulu kuduk merinding ketika pada prosesi itu, kami menyaksikan Ia begitu cerah dan tenang. Mungkin di antara orang yang menyaksikkan itu, saya lebih terkesigap dengan bayang-bayang masa depan. Wajah Pak Dede begitu mirip dengan Bapak saya. Mulai dari sifat, tubuh, dan wajah. Ia sangat mirip dengan Bapak. Tangan saya spontan, memegang erat lengan Bapak yang duduk di samping saya.

“Yaa Allah, saya membayangkan wajah Papah saya seperti ini nanti”. Pikir saya.

Tidak lama, sebelum Ashar kami sekeluarga dan para tamu menyolati berjamaah. Seluruh anak, mantu, cucu semua menyolati dan berdoa untuk jenazah di hadapan kami. Setelah menyolati, kami bersiap menuju ke pemakaman. Langit yang semula mendung gelap, tiba-tiba cerah dan prosesi pemakaman pun lancar. Selesai tepat Adzan Ashar berkumandang.

Banyak hal yang terkait pembelajaran dari takdir Allah bernama kematian. Kita semua akan bertemu dengannya, di waktu yang tepat. Sangat tepat, dan indah. Pak Dede sudah menyusul nenek kami, selang 3 hari menuju peringatan 6 tahun wafatnya emak uti. Di bulan yang sama, Bulan Mei, mereka kembali kepada Sang Khalik. Jika Emak Uti wafat tanggal 4 Mei, Pak Dede wafat tanggal 1 Mei. Mungkin, mereka memang sudah berjodoh dunia akhirat. Bahkan menurut cerita dari sepupu ketika mendekati ajalny, Pak Dede sering menyebut nama isterinya. Dan memang, ini lah yang menurut kami kematian terindah bagi keluarga besar kami.

Semua lancar, baik ketika menghadapi sokharatul maut, pemandian, penyolatan dan penguburan jenazah berjalan cepat dan lancar tanpa hambatan apa pun. Bahkan, orang tua saya tidak menyangka dapat tiba di Cimanggis hanya 2 jam dari Sukabumi. Sungguh Allah, Haq penentu kebaikkan untuk manusia.

Tidak ada ketakutan di hati kami ketika menyentuh jenazah beliau. Justru, kami saling mengedepankan diri untuk memandikkan kujuran kaku ayah/kakek kami. Kami benar-benar sayang Pak dede/Engkong/Mbah Akung kami. Kehilangan tentu masih menyisa di hati kami. Paviliun itu kini sepi dan kosong. Sudah tidak ada lagi, Kakek kuat yang begitu sayang terhadap anak-anak dan cucunya. Walaupun saya terbilang tidak dekat dengan nya, perlu saya syukuri waktu ketika Ia berkunjung ke rumah sambil membawa sekarung nangka dengan motornya. Ia bercerita bagaimana masa mudanya yang tinggal di daerah Senen. Bagaimana ia begitu ingin ke Taman Mini. Namun, sayang kesibukkan anak dan cucu-cucunya, mungkin belum sempat mengabulkan keinginannya.

Masih ada rasa penyesalan di hati saya, jika saya harus merunut masa lalu. Masa di mana saat ia masih kuat dan hidup. Harusnya saya mengajaknya ke Taman Mini. Harusnya saya menyempatkan diri untuk tetap menjenguk beliau ketika sakit. Harusnya saya segera menukarkan dolar dengan real malam itu, ketika ia akan umrah. Tapi, sekali lagi itu semua hanya penyesalan.Kini, sudah tidak ada lagi, Kakek dan nenek dari kedua orang tua saya. Bersyukurlah bagi siapa pun yang masih memiliki kakek dan nenek.

Sekali lagi, Innalillahi Wainna ilaihi Rojiun. Telah berpulang ke pangkuan Allah SWT. Engkong Djai, pada 1 Mei 2014 pada usia 81 Tahun. Terimakasih, sudah menjadi tulang punggung untuk orang tua kami. Terimakasih sudah membentuk karakter Bapak kami hingga kini ia menjadi panutan bagi kami. Semoga Allah menerima segala amal baik semasa hidup Engkong. Dilapangkan kuburnya, dan dimaafkan segala dosan dan khilaf Engkong. Syurga, adalah tempat terbaik untuk bertemunya kami nanti. Aamiin Yaa Rabbal Alamiin..

 

Kiriman dari Jakarta

Jakarta 2014-11-01 Jakarta, 2014-11-01 Jakarta-2014-11-01

Jakarta-2014-11-01

Foto yang ini argh !! untung enggak masuk ke lubang ‘dua’ itu. ūüėÄ

Huuuuyeee.. ini foto bener-bener di tag lah melalui FB oleh mamah saya. Kebetulan foto-foto ini adalah foto di bulan Januari 2014. Ajang narsis yang dilakukan bersama adik saya, ternyata dengan sengaja di upload oleh mamah sebagai bentuk pesan “Kangen” untuk anak-anaknya yang sedang jauh darinya. huhu..

Miss you too, mamah.. *love love love*

Bermalam Menjadi Manula

Sabtu malam ini entah mengapa sunyi ku gapai. Walau di tengah keramaian penyambutan sekembalinya penugasan ku menjadi Tenaga Kerja Indonesia di ZOM Singapura. Mereka memberika senyum, peluk, dan kata-kata hangat yang menggambarkan kerinduan tiada tara.

Perasaan ini sungguh berbeda ketika terakhir ku tahu, Ibu ku sedang dirawat di rumah sakit, dengan penyakit yang belum aku ketahui. Perasaan ini cukup membelengu hati yang berdenyut kencang. Segala impian menjadi sirna seketika, pada saat wajah Ibu membekas dengan jejak.

Aku baru saja tiba di Singapura pada jumat pagi. Dan, mau tidak mau aku pun harus memutuskan mengambil cuti untuk ke Indonesia. Walau Ayahku sebenarnya tidak menyuruhku untuk datang ke Indonesia. Tapi, entah mengapa hati kecil selalu berbisik seolah mendesirkan angin tanah air di mana tetes air mata Ibu ku berada.

Minggu, pukul 11.00 WIB Aku pun tiba di Rumah Sakit Jakarta Medical Center (JMC). Barulah ketika bergegas menuju kamar, aku menghubungi Ayah untuk mengetahui keberadaan kamar inap. “Lantai 5, kamar 503”. Itulah kamar di mana Ibu ku menjalani perawatan opname. Bagian kelima dari bangunan ini sangat bersih, dengan taman atas “roof top” yang mengahadap ke jantung ibu kota bagian selatan.

Kamar ibu ku tepat berada di ujung lorong dekat lift. Sangat mudah ditemukan. Terlihat oleh ku, hanya ada sepatu usang berwarna hitam milik Ayah terjejer rapih dekat pintu masuk. Ku rasa Ayahku sedang berada di dalam. Benar saja, ketika ku buka pintu, aku melihat Ayah sedang menyuapi Ibu bubur sumsum yang diberikan oleh rumah sakit.

“Assalamualaykum..”. Salam ku pelan.

Mereka dengan bersamaan menoleh senyum hangat sambil membalas salam, “Waalaikum salam”

Ku raih telapak tangan Ibu ku yang hangat, lalu menciumnya. Tangan Ibu cukup bersih walau ku tahu, rasa sakit harus mendera karena selang infus dan sejumlah anti biotik. Begitu juga dengan Ayah, tangan Ayah seperti biasa keras dan berurat. Wajahnya yang lelah, sangat melihatkan bahwa ia kurang tidur akhir-akhir malam ini.

Suasana kamar ini cukup nyaman. Hembusan angin dari pendingin udara yang sejuk membawa ketenangan bagi siapa pun yang masuk. Ada juga televisi plasma berukuran 42 inci, dan sejumlah fasilitas rumahan lainnya, seperti wetafel, sofa, kamar mandi, dan kulkas. Akan tetapi, kenyamanan itu tidak memberi kenyamanan sesungguhnya bagi Ibu ku. Setelah ku tahu, baginya setiap malam-malam yang dilalui begitu sepi.

1959729_734454023243484_1479504395_n

“Infeksi hati”. Ucap Ayah memberitahuku kondisi penyakit yang diderita oleh Ibu. “Besok harus di USG, Kata dokter karena takut ada bermasalah di saluran pencernaannya”.

Itulah yang Ayah sampaikan kepada ku, di depan Ibu secara langsung.

“Kok bisa?!. Emang kemaren gimana?. pingsan atau gimana?”. Tanya ku penasaran. Maklum, karena sebelumnya aku tidak diberitahu kronologis gejala awal penyakit Ibu.

Kali ini Ibu ku mencoba menjelaskan kondisinya ketika itu. “Jadi, tuh kemaren mamah pusing, perut sakit, buang air terus. Dilalah, mamah takut kenapa-kenapa, langsung aja masuk IGD sini”.

Aku mencoba duduk di samping Ibu sambil menyuapi buah-buahan yang sudah disiapkan oleh rumah sakit. Sambil mengobrol beberapa alasan bagaimana kerjaanku di SG, dan sesekali mengobrol seputar isi berita yang kali ini sering dipertontokan oleh kami, yakni keputusan majunya Jokowi menjadi Capres RI. Ruangan ini, tidak lagi seperti berada di rumah sakit. Canda tawa serta obronlan ringan membuat hangat saya, ibu dan ayah.

“Jadi, belum ada yang nengok ke sini mah?”. Tanya ku heran.

Ibu meghela nafas berat, bayangnya seolah menunjukkan kesedihan, ia pun menjawab “Belum”.

“Dari sekolahan mamah, orang-orang komplek, saudara-saudara juga enggak pada nengok?”. Tanya ku sekali lagi, demi memastikan.

Dengan raut wajah yang benar-benar lusuh, Ibu hanya menggeleng pasrah. Seolah mengalihkan suasana, Ibu menyuruhku mencharge blackberry di dekat kulkas. Telepon genggam Ibu dalam kondisi mati tak bersisa energi. Aku pun mencoba menghidupkan kembali.

Iseng ketika ku buka lemari es di ruangan ini, yang ternyata sangat kosong. Tak berisi. Bahkan di meja samping Ibu, tidak ada makanan atau minuman yang sewaktu-waktu diperlukan Ibu. Begitu juga dengan kondisi kamar mandi. Tidak ada sendal jepit di sana, dan bau kamar mandi yang tidak enak dicium oleh siapa pun yang masuk ke dalamnya.

Aku sadar, tentu Ayahku cukup sibuk untuk masalah administrasi dan mengurusi ibuku, sehingga untuk urusan yang lain, tidak sempat ia jamah. Sekilas, sempat berfikir, ke mana kakak dan adik saya?!. Argh, ternyata mereka berdiam di rumah. tidak ikut bermalam di sini. Akhirnya ku putuskan untuk berjalan menuju mini market dekat rumah sakit sambil membeli beberapa makanan, minuman, dan perlengkapan lainnya. Tidak lama aku kembali di kamar Ibu, sudah terlihat kakak dan adikku, yang datang menengok.

“Di kulkas itu harus ada makanan ringan, minuman. Minimal kalau enggak buat yang jaga, bisa dikasih ke tamu yg dateng”. Ucapku, sambil memasuki satu persatu beberapa manakan ringan dan minuman.

Akhirnya ku putuskan untuk bergantian bermalam untuk menjaga. Aku biarkan Ayah, kakak, dan adik pulang istirahat di rumah. Biarlah esok pagi, Ayahku bisa datang dengan kondisi yang segar bugar.

Dan cerita bermalam menjadi manula itu, dimulai dari sini…

Menjelang petang, Ibu menyuruhku untuk membacakan Almatsurat di dekatnya setelah ia sholat dengan berbaring. Mulutnya mengikuti kalimat doa yang ku ucapkan. Suasana ini cukup hening, ketika menjelang menunggu sholat Isya, kembali ia meminta ku untuk mengaji di dekatnya. “Tri, Mamah suka kalau denger kantri ngaji. Ngajiin deket mamah ya”.

Hingga kurang lebih lima belas menit, dokter dan suster memasuki ruangan dengan ramah. Ibu ku diperiksa sambil mengingatkan untuk esok menjalankan periksa USG.

Ketika waktu makan tiba, aku menyuapi mamah menyantap makan malamnya. Satu persatu lauk, dan sayuran aku suap hingga habis ia lahap. Harus bersyukur, nafsu makan Ibu ku bagus. Sehingga ia tidak terlalu menyedihkan. Sesekali, ia juga ingin aku menyupai kue-kue kering yang aku beli tadi sore.

Di sela-sela itu, Ibu mengungkapkan bahwa ia tidak memberitahu kepada siapa pun mengenai kondisinya yang dirawat. Tapi, sungguh ia bercerita cukup sendu. Entah apa yang ada dipikirnya. Ia ingin dijenguk oleh saudara dan kerabat, sedan ia tidak memberitahukan kepada mereka tentang kondisinya. Ini lucu.

Akhirnya mendengar rintihan itu, aku berusaha membuka blackberry ibu kemudian aku kirim bebrapa pesan di BBM ke saudara dan kerabat. Bahkan, saya mengambil fotonya untuk diunggah di facebook, tanpa sepengetahuannya.

Hari menjelang larut, Ibu dan aku pun berusaha untuk istrahat. Namun apa yang terjadi, Ibu ku tidak bisa terlelap. Aku yang berusaha tidur di sofa, harus berkali-kali terbangun karena berkali-kali itu juga Ibuku memanggil aku, baik minta tolong untuk membuang air, atau hanya memanggil nama saja. Pernah ketika aku mulai terlelap, ibu ku meringis kesakitan di perut.

Aku tersigap bangun, dan segera menanyakan kondisinya. Dengan lemas, ia meminta ku untuk membasuhi minyak kayu putih di perutnya.

“Di sini, tempat kamu waktu masih kecil. Di perut yang kamu usap”. Ibu berkata dengan lembut.

Aku hanya terdiam.

“Mamah, tenang kali ya, bisa lihat kantri menikah sama laki-laki yang baik, yang sesuai sama cita-cita kamu dan hati kamu”. Kembali Ibu berucap yang membuat ku cukup terkejut.

Aku hanya tersenyum seolah mengamini. Lalu, mencium keningnya. “Sekarang mamah tidur”.

Ruangan ini, hanya terdengar detakan jarum jam yang menunjukkan pukul 03.00 WIB. Aku segera mengambil air wudhu kemudian bergegas sholat sunnah 2 rakaat. Namun, lagi-lagi aku harus memenuhi permintaan ibu ku. Hingga kedua kalinya aku mengambil air wudhu dan ku lihat Ibu mulai bisa tertidur pulas.  Aku pun tenang untuk beribadah.

Di waktu-waktu seperempat malam ini, aku mencoba mengamati raut wajah Ibu dengan dengkuran hebat di tenggoroknya. Tiba-tiba aku teringat dengan kondisi Kakek ku yang saat ini juga sedang sakit dirawat di rumahnya. Kakek ku sudah manula. Tubuhnya kurus kering, dengan kondisi lumpuh. Kini, yang menjaganya adalah keluarga besar di sana. Ada tente-tante dan om-om ku. Bahkan terakhir ku berbincang melalui BBM dengan sepupu ku yang juga ikut menjaga Engkong di sana. Ada satu pesan yang ia sampaikan kepada ku, “Jika sudah tua, pasti akan kembali mejadi anak kecil”.

Bagaimana Engkong yang tempramen, keras kepala, dan selalu merongrong kesakitan. Sedang anak-anak dan cucu-cucunya harus juga memikirkan tanggung jawab lain demi keberlangsungan hidupnya.

Bayang itu kini tertuju kepada Ibu ku. Ibu ku memang belum manula.  Tapi ia tentu akan manula. Belum begitu sangat manula pun, ia sudah sangat sensitif. Seperti kelakukan anak kecil yang ingin diperhatikan. Diberikan kejutan-kejutan yang membuat dirinya tersenyum dan menangis haru biru.

Kesepian, itulah masa manula itu. Seperti siang tadi, hanya ada Ayah yang menemani Ibu di rumah sakit. Bahkan sesekali mereka bertengkar konyol karena berbeda pendapat. Dan Ayah yang berusaha sabar menahan desakan keras kepala sang Ibu yang selalu ingin pulang. Untung Ayah ku orang yang sabar dan baik hati.

Di saat anak-anaknya, aku, kakak dan adik sibuk dengan urusannya, hanya Ayah yang bisa menjadi dahaga di keringnya kasih sayang.

Ah… Mamah.. maafkan anakmu..
Mungkin dulu, aku pernah meminta perhatian mamah dari segelumit kesibukannya.
Mungkin dulu, aku pernah protes karena ketiadaan mu di saat pembagian rapot sekolah.
Mungkin dulu, aku pernah menangis karena siang itu, kau harus meninggalkan ku untuk bekerja.
Tapi.. Hati ku sungguh tak kuasa membayangkan ketelantaran mu di masa tua oleh ku. Sungguh..
Aku mau, sampai kapan pun engkau bersedia mengeluh beban mu kepada ku.
Maafkan aku..

Pagi tiba waktu Ibu ku untuk di USG. Satu persatu, saudara dan kerabat berdatangan menjenguk. Ibu ku sempat terkejut. Hingga akhirnya ia mengetahui, itu karena inisiatif dari ku untuk memberitahui mereka. Untunglah, Ibu tidak marah. Ia hanya tersenyum, merekah bagai bunga yang kembali menyongsong mentari.

Mungkin, memang ada hal yang tidak lumrah menjadi lumrah dalam hidup.Mungkin, kita terlalu sibuk dengan kelumrahan yang berjalan dengan linear.

Hingga, kebahagiaan itu datang bukan dari seharusnya.

Tapi kita, tidak hanya otak, namun ada hati.
yang selalu menyentuh begitu melihat cinta yang seharusnya ada.

*Doaku.. untuk seluruh orang tersayang dalam hidup agar senantiasa sehat selalu..

 

Magician Wanna Be – “Abla Kadabla”

Tiba-tiba menemukan video unyu ini di blackberry. Video yang sengaja saya rekam beberapa bulan yang lalu sangat membuat kelucuan kian membahana sore ini. Well, anak kecil di video ini adalah ponakan saya, bernama Al. Usianya baru 3.5 tahun. Tapi kecerdasannya membuat orang-orang takjub. So, lets check this out..

Belajar Berdakwah di Keluarga Sendiri

Suasana malam di kediaman keluarga Syamsudin, which is adalah keluarga saya kian terasa ramai. Mungkin apa karena, melepas kangen dengan anggota keluarganya yang seminggu lamanya melancong ke negeri orang, atau karena memang mereka sudah menunggu untuk menodong oleh-oleh yang sudah mereka titipkan kepada saya. Hm..intinya jelas, sambil menyelam minum air. Sembari mereka menodong oleh-oleh, mereka juga menodong cerita dan pengalaman saya di Singapura. Terutama Ibu. Beliau sangat exciting dengan segala cerita dan pengalaman kerja dengan orang-orang asing di sana.¬† Belum lagi, adik saya Nada yang dengan gaya super duper sok taunya, belagak paling langganan berkunjung ke Singapura karena bertanding bulutangkis itu berkali-kali mendikte saya seperti, ke Universal enggak?, naek MRT enggak?, nyobain ice cream di Orchard enggak?, and bla bla bla…

Maklumlah, selama di sana saya memang tidak pernah me-update apa pun di sosial media tentang kegiatan saya di sana. Karena bagi saya, kehidupan saya di dunia nyata adalah dunia saya pribadi dan dunia maya adalah dunia suka-suka. Jadi, suka-suka saya mau share atau tidak. Emang sih, hasilnya beberapa teman saya kesulitan melacak keberadaan saya. Hm..Sumoon, maaf ya.. ūüė¶ ūüėÄ

Namun, setiba di rumah seluruh foto-foto saya coba tunjukkan ke anggota keluarga tersayang. Selagi mempertontokan foto-foto itu, tiba-tiba Ayah, yang biasa saya panggil Papah itu membuka topik pembicaraan.

“Kamu tau enggak ada perubahan loh di kompel rumah kita?”. Tanya Papahku sambil melahap ubi rebus di meja ruang keluarga.

“Apa?. Belum tau”. Jawa saya dengan santai.

Tidak lama, Ibu (Mamah) memberikan saya secarik kertas yang berkepalakan surat “DKM AL-MUQOROBIN” dengan prihal pemberitahuan. Sekilat mungkin saya membaca satu persatu kalimat yang tertera di sana. Hingga di akhir paragraf adalah “Susunan Pengurus Baru Masjid Al-Muqorobin”. Dan, Kejutaaaaaaaaan Cetar membahana membelalak mata saya. Nama Papah saya, ada di deeretan nama-nama anggota tersebut sebagai Wakil Ketua DKM Masjid Al-Muqorobin.

“Subhanallah..!, ini seriusan ?”. Tanya saya penasaran sambil meyakinkan.

“Beneran lah. Jadi sekarang, kita anaknya wakil ketua DKM Masjid Al-Muqorobin”. Ujar Nada sambil melahap potonga-potongan kecil ubi rebus.

Mendengar itu, saya langsung tertawa. “Kok bisa pah?”.

Akhirnya Ayah, menjelaskan kronologisnya. Pertama, memang anggota DKM ini adalah susunan keanggotaan yang diupayakan ada perubahaan. Kedua, Ayah saya sudah pensiun. Ketiga, alasan akumulatif kali ini cukup sakral. Yakni, karena Ayah saya rajin sholat berjamaah di Masjid.

“Ngurus DKM itu juga perlu Manajerial, Kak. Ya..walaupun juz 30 Papah belom hafal semua”.¬† Tegas Ayah dengan hawa bijaksana. “Emangnya kamu doang yang bisa jadi ketua rohis?!. Papah juga bisa, walaupun wakil. haha”. Ledek Ayah dengan spontan.

Jujur, ada rasa syukur teramat dalam melihat keluarga saya seperti ini. Ayah memang bukan tergolong ajeungan yang sangat paham ilmu fikih agama dan hafalan surat-surat Al-Quran. Tetapi saya percaya, dengan jalan menjadikan dirinya sebagai wakil ketua DKM tentu akan ada keinginan juga untuk terus mengisi ruhiah dengan bimbingan yang baik. Mungkin dengan ilmu duniawi, Manajemen yang baik dimiliki Ayah, dapat memberikan perubahan yang baik.

Lain cerita Ayah, lain juga cerita kakak saya, Jaka. Entah apa yang harus saya ucapakan selain kalimat hamdalah. Saya sebagai adik, merasa bersyukur melihat perubahan yang signifikan di diri Kakak saya. Sekarang, amalan yaumi terbilang rajin. Tidak pernah lupa untuk sholat berjamaah di masji, Sholat Qiyamulail, bahkan dia yang membangunkan saya untuk bangun 1/3 malam. Selain itu, ia juga yang memompa semangat untuk One Day One Juz. 

Tentu, yang senang melihat kondisi ini adalah kedua orang tua saya bukan?!. Kami sebagai anak-anak mu, akan berusaha untuk lebih baik Mah, Pah. Terus menjadi anak yang sholeh dan sholeha.

Memang, dakwah utama adalah berdakwah di keluarga sendiri. Utama karena tantangannya pun sangat berat. Tapi lambat laun, kami pun ditemukan titik kesamaan yang baik. Dan ini bukanlah akhir dari segalanya. Semoga tetap istiqomah dan amanah.

Adioss.

 

Syukuran Tepang Tahun Bersama Keluarga Besar Papah :))

Ceritanya ini kue ulang tahun saya

Ceritanya ini kue ulang tahun saya

Tanpa lilin "25" Kue ini tetap dipotong :D

Tanpa lilin “25” Kue ini tetap dipotong ūüėÄ

Tante-tante dan sepupu siap-siap icip-icip tiramisu

Tante-tante dan sepupu siap-siap icip-icip tiramisu

100_3756100_3759100_3761100_3764100_3765100_3766100_3767

Tante-tante dan om-om

Tante-tante dan om-om

IMG-20140131-WA000 IMG-20140131-WA001 IMG-20140131-WA002 IMG-20140131-WA003 IMG-20140131-WA004 IMG-20140131-WA005 IMG-20140131-WA006 IMG-20140131-WA007 IMG-20140131-WA008 IMG-20140131-WA009 IMG-20140131-WA010 IMG-20140131-WA011IMG02979-20140131-13501549552_10202093956662277_382846995_n IMG02978-20140131-1349

Alhamdulilah sangat sangat sangat bersyukur berbagi (red-ngetraktir) saudara-saudara dari keluarga papah. Hasil kerja selama ini, enggak sia-sia banget bisa ngerayain bareng. Well, dalam doa bersama ketika itu, hal yang paling kencang di Aamiini adalah “Lekas menikah”. Bagi saya, sih aamiin aamiin aja kali ya.. biar aman. hahaha..

Terimakasih atas doanya ya sepupu-sepupu, om tante.. semoga jumat ini berkah. aamiin.. ūüėÄ

Kenapa Mesti Goyang Oplosan ??????

Sabtu, 4 Januari 2014 besok, keluarga besar dari Papah saya akan mengadakan Family Gathering ke Wisata Kawah Derajat Garut, Jawa Barat. Persiapan demi persiapan sudah dilalui oleh Mamah saya, selaku ketua panitia (katanya). Pemilihan ketua panitia ini, terbilang unik. Jadi ketika itu, sedang ada arisan keluarga yang rutin kami adakan tiap bulan. Kemudian, karena kami baru memiliki rumah di daerah Garut, jadilah seluruh tante,om,bibi,dede,sepupu,bahkan tetangga rumah kakek saya, menodong keluarga saya untuk memboyong keluarga cisalak (Kediaman Engkong Djai,Kakek saya) untuk ke sana. Jadilah, mau tidak mau Mamah saya yang secara juga orang Garut asli, dinobatkanlah menjadi ketua pelaksana. Jadi intinya mah, kecelakaan pisan -____-”

Segala persiapan dirancang oleh Mamah dan Papah saya, yang ditunjukkan langsung oleh si Mamah sebagai Co. Leader. Saya, Nada, dan A Jaka sih cuman tim hore. Banzaaaiiii !!

Mulai dari pemesanan bus, konsumsi, survey lokasi, door prize, dan sekelumit agenda acara yang bakalan mengisi momen pertemuan keluarga (sangat) besar itu. Walaupun Kami, anak-anaknya hanya tim hore, kena tugas juga loh. Nada, dimandatkan sebagai asisten acara, A jaka tim survey (driver), dan saya bertugas ngebungkusin kado dan door prize.

Setiap anggota keluarga diwajibkan membawa kado seharga 20.000 rupiah yang dibungkus kado atau koran. Nanti katanya sih, bakalan ada tukeran kado gitu sambil matanya di tutup. Basi bener gak sih?, padahal saya sih udah bilang ke Nyokap sekali-kali ngambil sambil salto 3 kali, roll depan 2 kali, roll belakang 2 kali, sikap lilin, dan sebagai penutup kayang macam trio macan. Hahaha.. pasti puyeng kan abis itu. Sensasi yang bakalan takan terlupakan.

Mendengar ide itu, Nyokap malah bilang, “Kamu aja yg kayak begitu!” . Dan saya langsung kicep sekicep-kicepnya. Huaaa..Nasip!

Kemarin, malam saya dan keluarga saya ceritanya rapat persiapan. Gaya bener dah ah, maen rapat-rapatan. Di obrolan malam itu, kita ngebahas persiapan dan pembagian schedule untuk ditentuin alur kordinasi di tiap pemangku job descnya. *Tsaaahh..makin gaya bener dah keluarga bapak Syamsudin ini !!!*.

Hingga pada satu masalah belum terpecahkan solusi ialah, konten hiburan di sana. Harusnya ini tugasnya adek saya, si Nada. Sebel banget gue. Eh tuh anak malah nonton korea mulu. Nangis-nangis sendiri di kamar. Ketawa-ketawa sendiri pulak. Tapi masih untung sih, nangis sama ketawanya enggak sambil gelantungan di pohon. Sukur..sukur…!! *sambil ngelus-ngelus dada

“Kita mau bikin acara apa nih nanti mah?”. Tanya Saya di rapat kordinasi itu.

“Kuis kuis aja deh. Apa kek gitu. yang bisa jawab, dapet door prize, biar cepet”. Kakak saya, A Jaka memberikan solusi.

Mendengar ide dari kakak saya, justru malah buat ngakak papah saya. “Eh boncos, kalo cuman bisa jawab tebak-tebakan terus dapet hadiah mah, namnaya bukan door prize.”

“Tadinya, mamah juga mau gitu aja. Biar ringkes. Tapi bener juga ya, namanya bukan door prize.”¬†Tambah si Mamah.

“Oh iya, joget aja mah!. Goyang oplosan gitu!”. Tiba-tiba si Nada semangat 45, tanpa bersalah. Ini sebenernya tugasnya dia ini, yang bikin ide acara.

eits, tapi saya yang baru mendengar istilah goyang oplosan, langsung cengok. “Goyang oplosan apaan sih?”.

“Itu loh, goyangnya soimah. Dih, elo enggak tau kak?”. Ujar Nada dengan gaya sotoynya mirip ti patkay.

Sebenarnya, apa sih goyang oplosan itu. Saya tidak tahu. Dan akhirnya kami pun langsung menonton tayangan Yuk Keep Smile (YKS) di Trans TV. Pas banget, itu Soimah lagi nyanyi jawa sambil joget Oplosan. Sekali menyimak, dua kali ikut gerakannya lah saya. Ini mau enggak mau ini. Menurut si Nada, orang-orang Cisalak dan seluruh sepupu kami sudah hatam sama yang namanya goyang oplosan. Bahkan dia sampai bilang, “Kayaknya cuman elo kak, yang kagak tau tuh jogetan”.

Dengan keki, saya nyaut lagi, “Bodo, kagak ditanya sama malaikat ini nanti”. Dan si Nada kicep. Rooooooaaaar!

Oke, fine. Demi solidaritas keluarga besar Engkong Djai, gue belajar goyang oplosan. Oh satu lagi, sialnya nih, nanti katanya seluruh keluarga akan direkam terus diunduh di Youtube. Oh Deeeeem !.

Yasudahlan, kita lihat besok. Apakah saya berhasil ber-oplosan atau kah gagal ber-oplosan??.

Sampai ketemu di cerita Family Gathering Keluarga Engkong Djai selanjutnya…

Adioooos…

Iedul Adha Tidak Harus Selalu Sama

Tidak ada alarm setajam dan senyaring telepon genggam Blackberry. Bunyi itu telah membangunkan saya di pukul 03.00 WIB. Suara-suara parau orang bertakbir, tahlil, dan tahmid di masjid masih sangat jarang terdengar di sepertiga malam itu. Kali ini saya tertidur di samping adik saya. Ternyata kami satu ranjang. Saya ketiduran sampai-sampai lupa keberadaan ranjang saya di suatu ruangan lain.

Sedikit sadar melirik Blackberry Massanger yang belum ada notifikasi tindak-tanduk penghuni BBM. Gambar hijau bulat dengan warna merah di tengah menarik untuk dijamah. Chat Whatsapp dari beberapa teman yang belum saya baca satu persatu. Ternyata obrolan semalam yang telat saya ikuti. Namun, senyum dan tawa kecil masih melebar di bibir saya sepagi ini.

Ketika ingin beranjak menuju kamar mandi, saya ingin mencoba membangunkan adik saya. Tangan yang beranjak menyentuh lengan tangan nya yang terlihat sangat menikmati mimpi dalam tidur. Tiba-tiba saya tertawa mengingat kejadian lucu yang saya dengar beberapa jam lalu di ruangan ini.

Kira-kira pukul 23.30 WIB, saya masih berkutat dengan buku-buku bacaan fiksi dan beberapa aktifitas chatting di media sosial, saya mendengar adik saya mengigau. Ada hal yang lucu dalam ucapan igauannya. Ia membaca doa setelah sholat dhuha, seperti sedang menghafal per ayat.

Allahumma inna dhuha-a-dhuhauka, wal baha-a-bahauka…..Apa lagi ya????”

Secara refleks saya langsung mengelos ke arah wajah adik saya. Saya pastikan apakah dia mengigau ataukah senagaja. Ternyata kelopak mata yang sedikit tertutup rapat dan berair itu, membuat ia tak sadar, ia sedang mengalami mimpi. Mungkin kali ini ia sedang bermimpi ujian hafalan. Haha..bisa jadi.

Tidak lama, saya tersadar dengan detak jam yang menyadarkan bahwa sepertiga malam ini rugi jika harus ditinggalkan. Segera mungkin saya bangkit dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi.

30 Menit Kemudian, saya mencoba membangunkan seluruh anggota keluarga yang masih terlelap. Kali ini kami berjumlah lengkap. 1 tambahan personil datang dari tante kami, yang sengaja menginap di rumah. Waktu berjalan dengan sangat cepat. Masing-masing dari kami sibuk dengan dandan diri untuk mempersiapkan sholat idul adha di lapangan. Seperti biasa, jadwal sholat akan dilaksanakan pukul 07.00 WIB.

Suara takbir yang menggema bersaut taut dengan suara sapi,kambing,dan domba di komplek. Terlihat ada beberapa anak kecil berbaju muslim berlarian ke sana ke mari demi hanya sebuah aktifitas memberi makan kepada kambing. Aha..itu gambaran saya dulu, pikir ini melamban melorong masa lalu yang begitu polos. Idul adha adalah perayaan menyenangkan bagi kaum kecil mungil yang belum tau dosa itu. Bagi mereka, makhluk-makhluk lucu bertanduk ini adalah sahabat baru untuk setahun sekali yang dapat dipermainkan dekat rumah, tanpa rasa takut dikejar, dan takut digigit. Sehelai daun kering menjadi cara mereka memanjakan kambing. Tak jarang mereka mengatakan dengan dua bahasa yang tak pernah mereka saling mengerti.

” Mbek, makan ya..”, ucap seorang gadis mungil ketika menyodorkan daun setengah basah pada mulut kambing yang tetap mengunyah.

Tidak lama, lapangan komplek ini, dipenuhi oleh jamaah yang datang bergerombol. Lapangan ini akan selalu menjadi ajang reunian bagi kami yang jarang keluar rumah. Acap kali berpapasan pada teman kecil yang ternyata sudah tumbuh besar jika dibandingkan setahun, dua, atau tiga tahun lebih, kali pertama berjumpa. Saling bersalaman dan menyapa, menorehkan senyum terikhlas dan indah adalah kunci istimewa dari sebuah hari raya.

Dalam sebuah sholat hari raya, tentu diakhiri dengan ceramah Idul Adha. Semula saya berpikir, ceramah akan menyampaikan pesan-pesan yang hampir sama dengan tahun-tahun yang lalu. Seperti bagaimana memaknai kurban, bagaimana  menjadi pribadi yang lebih baik lagi, hikmah idul adha, haji, dan lain-lain.

Saya duduk di samping adik saya, pun sesekali agak bandel mengacuhkan ceramah tersebut, namun hingga pada satu pemikiran yang membuat saya merenung.

“Jika saja, Nabi Ismail tidak digantikan oleh domba, bagaimana ya?”.

Seolah pagi itu adalah rencana-Nya, Sang Penceramah pun membahas pertanyaan yang saya tanyakan dalam hati. Sebuah keikhlasan seorang Nabi Ibrahim atas perintah Allah untuk menyembelih anaknya kesayangannya yang sudah lama tak bertemu dengannya. Kemudian dengan usia nya yang masih 7 tahun, Ismail pun sangat rela untuk disembelih oleh Ayahnya, atas alasan perintah Allah SWT.

Saya mencoba membayangkan, jawaban dari pertanyaan yang saya buat tadi.

“Jika saja…mungkinkah…saat ini…apakah…”, Saya mencoba menerka bagai sutradara yang membuat alur cerita hingga sangat masuk logika dan menarik.

Terbayang oleh saya, apakah saat ini, mungkin anak-anak laki-laki di dunia sedang¬† berkeringat dingin menunggu penyembelihan masal pagi ini. Atau mungkinkah akan ada pengocokan nama, layaknya undian arisan. “Siapa yang keluar(nama) dia lah yang akan disembelih”.¬†Saya dan adik saya, sama-sama berpikir. Jika meruntut musabab kisah Qurban itu, Ismail adalah anak kesayangan Nabi Ibrahim, tiba-tiba adik saya pucat pasi membayangkan bahwa dirinya lah yang akan disembelih, karena merasa dia lah anak kesayangan di keluarga kami.

Tapi sekali lagi, logika manusia sangat dangkal untuk mencapai logika Allah SWT. Dia lah Maha Adil seadilnya dalam kehidupan manapun. Tentu skenario bumi tidak akan seindah ini jika seekor domba tidak menggantikan Ismail, kami akan mati konyol tanpa sebab. Tanpa kemaslahatan. Tidak ada rantai makanan, Tidak ada cinta, melainkan hanya kebencian, Dan berakhir tiada kehidupan. Jauh dari itu, kesedihan akan melanda kaum muslimin.

Ah, ternyata saya salah menilai isi pesan ceramah Idul Adha kali ini. Ternyata saya menyadari bahwa Idul Adha adalah ajang cermin diri atau refleksi diri bagaimana kita ikhlas rela memberikan apa yang kita cintai untuk kebaikan manusia.

Saya jadi teringat dengan cerita-cerita pengalaman Ibu saya ketika menunaikan ibadah haji setahun yang lalu. Beliau menceritakan bagaimana puncak haji, ada di Wukuf Arafah. Di padang Arafah itulah seluruh umat muslim berkumpul berdiam diri di bawah tenda-tenda, dengan panas terik matahari yang sangat panas. Ibu saya juga menceritakan makna ber-wukuf di Arafah, bagaimana seluruh Malaikat berkumpul mengeliligi mereka yang sedang berwukuf dan mengamini atas doa-doa muhasabah diri.

Bulu kuduk saya berdiri, dan hampir menitikan air mata, ketika Ibu saya mengatakan, “Di Arafah itu kita berdoa mohon ampun atas dosa-dosa yang udah kita lakukan, di tempat itulah Allah SWT berada sejengkal dari kita. Bayangkan, Malaikat akan mengamini setiap taubatan nasuha setiap jamaah haji di sana”.

Ucapan itu yang membuat saya mendambakan ingin ke sana. Ingin menangis dan memohon ampun atas dosa-dosa saya selama saya hidup. Sangat membayangkan, jika Itikaf Ramadhan saja sudah luar biasa merasakan sensasi ruhiyahnya, apalagi dengan kondisi haji seperti itu. Subhanllah..

Angin pagi ini sangat teduh. Sesampainya saya di rumah seperti biasa kami bersalaman saling memaafkan kesalahan. Namun tidak lama, Ayah saya mengingatkan kami untuk menuju lapangan, untuk melihat prosesi penyembelihan. Kebetulan, Ayah dan Ibu saya adalah panitia qurban. Kali ini saya tidak menjadi panitia.

Alasan Ayah saya mengingatkan kami sekeluarga, karena tahun ini alhamdulilah kami diberikan kesempatan untuk berqurban. Satu persatu hewan qurban di gilir untuk disembelih. Tepat di nomor urut 4, hewan qurban kami pun dipanggil. Kami sekeluarga dan sebagian warga komplek yang berpatungan untuk membeli hewan, pun berkumpul menyaksikan.

“Lihat sapinya, lihat darahnya, Ucap takbir, dan berdoa agar semua hajat terkabul”. Itulah pesan Ayah saya ketika leher seekor sapi mulai disembelih. Ketika pinggir pisau yang mengkilat itu menyayat leher hewan itu, saya merinding. Mata Sapi yang kejang melihat ke mata saya. Dengan bahasa hati, saya pun menyampaikan,“Sampai ketemu di syurga. Terimakasih”.

Sapi berwarna cokelat itu pun mengemo dengan garam. Sekian menit tanpa merasa sakit, hidupnya pun sudah berada di syurga.

Satu pelajaran berharga untuk saya, bahwa melakukan qurban hewan pada saat idul adha itu bukanlah karena didasari kemamapuan materi seseorang. Akan tetapi atas niat keikhlasan di jauh-jauh hari. Hal ini hampir sama dengan ibadah haji. Kalau boleh saya mengutip dari Ayah saya, “yang menjadi beda adalah dalam harfiah kuota. Jika dalam ibadah haji adalah kuota jemaah, sedangkan qurban adalah kuota ketersediaan kondisi hewan”.

Toh, dengan menabung atau menyicil untuk membeli hewan qurban setahun sebelumnya pun, saat ini sangat bisa dilakukan. Jadi sekali lagi, bukan karena landasan kesiapan materi seseorang bisa berqurban, tetapi niat yang sungguh-sungguh.

Bayangkan, jika qurban kita lakukan. Akan banyak saudara-saudara kita yang suka cita karena mendapatkan kupon untuk ditukarkan daging yang jarang mereka makan selama setahun. Lagi-lagi Islam mengajarkan umat muslim untuk mensejahterakan sesamanya. Tidak hanya untuk umat muslim (lagi) melainkan untuk semua ummat.

Ibrahim dan Ismail mengajarkan kita untuk mencintai Allah SWT dari apa pun. Mereka menunjukkan pelajaran yang berharga dalam hidup manusia. Semoga Allah SWT mengampuni seluruh dosan jemaah haji dan meberkahi ummat islam yang melakukan qurban atau merasakan daging halal ber- asma kan Allah ke seluruh pembuluh darah manusia.

Jika tahun ini kita masih merasa sama dari kemarin, maka tekadkan bahwa di Idul Adha tahun depan dan selanjutnya tidak harus sama Aamiin..

 

ps : Daging Sapi sangat baik untuk perkembangan janin dan anak keci yang sedang berkembang.

Adioss..

Interlude (2)

Anehnya manusia ini sudah diberi kelebihan, tetapi jauh dari rasa terimakasih mengecap di hatinya. Berapa banyak yang harus dikorbankan untuk hal yang belum tentu miliknya. Mereka, perasaan orang-orang yang sangat sayang dengannya menangis tiap malam hanya untuk sebuah perubahan. Apakah ini buruk rupa dari manusia itu?. Bukan kah manusia adalah makhluk sempurna dari makhluk mana pun?.

Ah, aku lupa, aku pun manusia. Aku dia dan mereka manusia juga. Kami punya mata, mulut, tangan, kaki, daging-daging kecil saling berhubungan membentuk pipa-pipa kecil mengelilingi tubuh kami yang terlihat kokoh, dan hati yang selalu kami sentuh jika ia merasa sakit oleh ulah kami sendiri.

Bagaimana membentuk diri kami menjadi kami yang bernama, itu masih misteri. Hanya hadiah kecil berupa nama dari orang tua kami yang tentu kamu bisa memanggil kami. Kamu tau, apa lah arti nama bagi sebagian orang. Begitu pula untuk sebagian lainnya, nama adalah doa dan harapan. Karena ketika kami tidak ada, mereka tidak mengenang tubuh kami, melainkan nama kami dan bayang-bayang perilaku kami. Tapi bagi mereka yang tidak peduli dengan nama, mereka sangat peduli dengan keangkuhan dunia yang melindungi mereka.

Sore ini dengan jemari lentik aku menulis tentang dua sisi yang tidak pernah aku pahami. Kamu tau apa benar ada renkarnasi setelah mati?. Aku bukan Budha. Tapi bagi ku ini sangat menarik. Ketakutan akan kematian yang luar biasa mungkin akan terobati dengan janji kecil akan sebuah renkarnasi. Menururt ku mati adalah hal menakutkan. Karena aku percaya ada siksa di alam gelap bawah tanah itu. Jika aku tidak percaya mungkin aku sangat senang akan kematian. Kematian yang mengakhiri segalanya, prahara kehidupan yang aku benci. Orang-orang yang tak ingin ku kenal sumur hidup ku, Ah..mungkin akan ku katakan mati itu menyenangkan.

Hingga pada seorang anak yang duduk di depan ku. Sambil memegang ice cream batangan, ia nikmati dengan tanpa ada beban sekalipun. Sesekali ia mengecapkan lidahnya, atau menggigit serta menghisap lumeran susu dengan warna yang menggairahkan mata. Ia senang. Dan Ia tertawa. Ya, anak itu sudah merubah paradigma ku. Menjadi senang tidak harus mati.

Sore yang hangat, dengan angin yang sesekali menghembus dari segala mata angin, dan merasuki pori-pori kulit, tentu menambah ketenangan hati bagi yang menikmati angin ini. Aku percaya bahwa ada rahasia yang dibalik sore ini. Dibalik angin ini, dan dibalik anak itu. Abstrak , namun nyata dalam harfiah imaji. Jujur, aku ingin sekali berkawan dengan itu semua. Hal-hal yang abstrak tapi menyentuh bawah sadar ku, bahwa aku ternyata sedang berkomunikasi dengan diri ku sendiri. Ini yang mungkin dikatakan bahwa diri kita lah yang paling paham dengan diri kita sendiri. Berusaha menghibur dan menasihati. Tidak ada kebohongan di sana. Manusia harus sadar, ia akan berteman dengan dirinya sendiri di kemudian hari. Mungkin, fase ini adalah adalah fase untuk menyadarkan ku bahwa ada jiwa dalam raga yang nanti akan ditanya oleh Nya, di akhir nanti.

“Kamu, harus percaya aku”, bisiknya ketika hening menyelimuti sore ini. “Karena, kamu adalah aku. Maka percayalah kepada ku”.

 

Aha, Dia Sudah Tumbuh Remaja Rupanya !!

“Kak, Gue pinjem sepatu lo ya !!?”. Pinta Nada ke saya. Nada adalah adik perempuan saya satu-satunya. Kamu tau, kali ini saya akan membicarakan dia. hehe..

itu dia ucapan yang dia keluarkan kepada saya tadi sore. Permintaan yang sering dilakukan layaknya adik dan kakak. Terlebih sama-sama perempuan. Tiba-tiba dia datang ke kamar saya, untuk meminta pinjaman sepatu heels untuk dipakai pada saat kami datang ke undangan pernikahan kerabat keluarga di salah satu gedung resepsi di Jakarta.

“Oh sepatu, bentar “. Ucap saya seraya berjalan menuju rak sepatu. Namun, dia menjegat langkah saya.

“Eh..ntar dulu, gue aja kak, yang ngambil. Udah lo dandan aja”.

Mendengar itu, saya pun melanjuti persiapan diri saya sebelum berangkat kondangan. 10 menit terlewati, kami sekeluarga pun siap pergi dan berkumpul dekat garasi.

Plak Plok Plak Plok

Bunyi kedengaran sepatu heels yang tak asing di telinga saya. Dan saya pun langsung menoleh menyapa. “Mah Minta…”

Saya terkejut. Ternyata orang yang mengenakan heels itu bukan Ibu saya. Dia adalah Nada. Semula saya kira adalah Ibu saya.

“Elo pake heels dek?”. Tanya saya dengan spontan uhuy.

“Iya. Emang kenapa?”. Dengan tampang tengil sambil cengir kuda, dia memperlihatkan tampilan berbeda kali ini.

Saya pun melihat dia dari ujung kepala sampai ujung kaki. Hm.. kira-kira 2 menit saja.

“Ah, lebay lo!. Yuk ah berangkat ! “. Ajak Nada sambil menuju jok paling depan, samping Ayah saya.

Dalam hati saya, bertanya, “Ada angin apaan nih anak mau pake beginian?!”.

Ah.. sudah lah. Akhirnya sepanjang jalan saya dan keluarga saya larut dengan gemerlapnya  jalan Jakarta. Sampai di tempat resepsi pernikahan, tamu-tamu dengan busana pesat malam bertebaran di sana sini. Hingga satu pandangan saya tiba-tiba tertuju pada adik saya sendiri.

Ternyata, dia sudah sangat layak memakai heels itu. Dia tampil cantik malam ini.

Kata orang, sepatu heels adalah identitas perempuan. mau pakai baju apa pun, sepatu adalah pelengkap kesempurnaan perempuan. Karena menurut legenda, sepatu akan membawa mu ke tempat yang kau inginkan. Selain menjadikan perempuan elegan dan feminin. Heels juga memiliki filosofi untuk karakteristik perempuan. Karena, setiap perempuan akan memakai heels. Merelakan untuk bersakit-sakit untuk mengenakan heels yang acap kali membuat mu sempurna sebagai perempuan.

Kali ini, adik saya, sudah menangkap filosofi itu. Yeah..di usia 16 tahun nya, saya harus sadar dia sudah beranjak remaja. Sudah tumbuh besar sebagai perempuan yang cantik dan sudah menyadari hakikat perempuan. Hal ini sangat jauh berbeda dengan saya. Seusianya, saya justru sangat tomboy. Lebih tomboy dari dia tentunya. Bahkan saya tidak memiliki rok satu pun di lemari saya. Hal ini sangat berbeda dengannya. Ketika Ibu saya pergi berbelanja pakaian, Nada selalu menitip rok atau blues terusan untuk dibeli.

Hm.. mungkin setiap orang memiliki masa perkembangannya sendiri. Saya, saya tergolong telat dalam hal pubertas. haha.. biarlah. Walau saya masih ingat kata teman saya sewaktu privat salah satu bahasa asing di Jakarta.

“Kantri, kantri itu cantik tau. Manis. Sayang banget, kalau harus bergaya tomboy. coba deh sekali-kali pakai rok. terus rambutnya dipanjangin”.

Keesokan harinya saya benar-benar di make over olehnya. Hm.. benar-benar enggak ada kerjaan juga tuh orang. Oh iya, orang yang bilang itu, namanya Nita. Dan dia adalah perempuan yang sangat cantik menurut saya. Dan dia adalah perempuan yang mengajari saya, bahwa pada dasarnya perempuan itu semua cantk. Karena memang Tuhan, menciptakan perempuan untuk cantik. Maka cantiklah ..  *Dan sekarang saya lost contact sama dia.. hiks hiks

Gara-gara mengingat itu, saya jadi kepikiran adik saya. Padahal dalam keseharian, saya masih menganggap Nada masih kecil. Masih menjadi adik kecil saya. Makanya enggak heran kalau saya sering banget cubit-cubit gemes, cium-cium pipinya, atau terkadang saya sering peluk tubuh dia kalau dia lagi tidur. Hahaha.. konyol sih sebenarnya. Jika dilihat tubuh Nada, Nada jauh dari anak kecil yang menggemaskan.

Itu dia yang mungkin saya sedikit posesif kepadanya. Terutama dalam bergaul, pakaian, hingga pendiidkan. Ternyata memperlakukan adik itu sama halnya dengan kita memiliki anak. Saya jadi mikir, kalau saya sudah menikah nanti, mungkin saya akan yang sangat kejer untuk meninggalkan dia. Di hati saya yang sangat dalam, saya benar-benar sayang dia. Walaupun memang terkadang menyebalkan. Namun, beberapa hari terpisah dengannya, kayaknya udah setahun enggak ketemu.

Rasa sayang saya ini, menjadikan saya sedikit aneh dalam keseharian. Saya selalu bilang, “Yulia Nada..Cantik Cekali..kayak ouh Barbie..”

itu adalah lagu yang dia buat sewaktu masih kecil. Dan saya, keluarga tentunya masih menyanyikan lagu itu. Ternyata tidak hanya saya yang memperlakukan Nada sedikit lebay. Ayah, Ibu, dan Kakak saya pun demikian.

Ternyata hidup itu berputar. Ada kalanya kita merubah pola pandang untuk sesuatu yang sudah bergesar sekian derajat dari posisi awalnya.

Tumbuhlah menjadi gadis yang sholeha ya dek.. love you sist..^^

Adioss..

 

Kalau Jodoh Enggak Ke mana-mana. Di sini aja!

Gimana perasaan kamu kalau telepon genggam yang sering kamu gunakan hilang entah tau di mana keberadaanya??
Kalau enggak merasa nyesek, bohong dong ya… karena sebagian orang kalau saya tanya demikian, pasti mereka akan menjawab “Gilak! gue nyesek banget kalau hilangnya ketinggalan”.

Atau ada juga yang bilang, ” Gue paling was-was kalau HP gue ilang. Secara, nomor penting banyak di buku telepon, atau takutnya foto gue disalah gunakan”.

Dan sejumlah ejebleh-ejebleh pendapat lainnya, yang intinya adalah nyesek banget kalau telepon genggam hilang secara tiba-tiba.

Tapi lain halnya dengan saya. Begitu telepon genggam hilang, saya mungkin tergolong orang santai macam di pantai. Jadi begini ceritanya. Empat hari yang lalu, saya sedang berobat di salah satu rumah sakit di Jakarta. Karena dalam kebiasaannya, ketika periksa ke dokter, dikasih resep obat, jadilah saya membeli obat di depo farmasi. Depo farmasi kondisinya terbilang padat. Entah kenapa juga ya, dahsyat nih KJS sukses sekali bikin rumah sakit jadi ramai kayak Mall gini. Hahaha.. *celotehdodol*

Ya..mau enggak mau saya mengantri untuk memesan obat. Satu kronologis yang harus kamu ketahui adalah, pada saat saya ke rumah sakit, saya pergi bersama bapak saya. Namun, ketika memgantri obat, bapak saya tidak ikut ke depo farmasi. Jadilah saya sendiri menunggu sang apoteker meracik resep obatnya.

5 menit oh bukan. 15 menit saya menunggu dengan sabar. Ya..layaknya korban teknologi saat ini,¬† ceritanya saya punya telepon genggam cerdas bernama blackberry. waktu – waktu kosong itu secara otomatis akan diisi dengan bbm,mp3,dan browsing. Ketika lagi asik-asiknya, bapak saya telepon, “udah belom?”. Enggak lama, pembicaraan pun terputus karena nama saya dipanggil oleh apoteker. Telepon saya matikan. Dan segera menuju depo farmasi.

Emang dasar obat penyakit gejala tipus itu banyak banget, ternyata bungkusan obatnya huwooow bikin saya kopral sambil salto. Terjengkal. Banyak bener cuiiiii….

Obat yang entah dari mana itu rumusnya bisa banyak gitu, nyaris membuat mata berkunang, hati berdegup kencang. Dan saya pun meninggalkan depo setelah transaksi selesai, untuk menuju bapakku yang sudah di mobil. Baru jalan sekitar 5 meter, saya baru ingat ternyata bb tidak ada di saku. Grasak-grusuk nyari di kresekan obat, ternyata nihil, saku pun demikian. Enggak lama, saya putuskan untuk kembali ke depo farmasi bersama bapak saya.

Sampai di depo farmasi ….

Saya mencoba mencari di bangku-bangku tempat tunggu. Ternyata tempat yang semula saya duduki, bersih tidak ada wujud bb Sama sekali. Bapak saya pun bertanya ke satpam dan apoteker. Hyeaah akhirnya enggak ada yang tau. Setelah ubek-ubek itu tempat saya pun kembali ke mobil.

“Yaaah… ilang kak?. Emang gimana sih ceritanya bisa ilang?”, Tanya bapak saya.

Dengan santai saya menjawab, “ya..mau gimana lagi. Namanya orang sakit”.

Tiba-tiba hening. Saya diam, bapak saya diam. Berasa cuek banget. Enggak peduli lah lebih tepatnya. Hm .. emang bener juga sih, perasaan saya saat itu selow-selow aja. Enggak senewon. Atau bahkan was was. Pokoknya pikiran pada saat itu adalah “gue beli android apa ya?!. Samsung apa HTC ya?!”.

Selang hari berganti, saya jalani tanpa bb. Wiih rasanya tuh damai tenang sentausaaa lah!.

Ping, broadcast, group, twitter, SMS, telp, line, whatsapp —–> NOTHING!!!
Intinya saya bener-bener menjadi manusia normal senormalnya. Emang sih, walau pada kenyataannya banyak yang sewot bbm,WA,line,SMS,telp semuanya enggak nyambung. Jadilah twitter saya ramai dengan mention-nan protes. Kebayang kan riweuhnya ini. Apalagi twitternya presiden kita ya, pasti gadgetnya panas tuh, bunyi mention-nan protes terus. Hahaha…

3 hari berjalan udah liat situs-situs android. Belum lagi dikomporin banget Sama temen kantor supaya ganti android. Ya..namanya manusia, hasrat hidup untuk begaya sedikit wajar lah ya.. hohoho

Hingga suatu ketika..
Selasa (4/6) takdir berkata lain..

Setibanya saya pulang dari kantor, bapak saya menyodorkan kardus blackberry Torch. “Nih..HP baru”

Seneng dong saya … bb baru. Lumayaaaaan…gumam saya.
Karena udah enggak sabar, kotak itu pun saya buka. Dan apa yang terjadi?!

“Lah..kok bb gue balik lagi?”. Ucap spontan saya. Ya iyalah shock !. Ini perasaan bb punya saya.

” Iya, tadi ada yang ngasih ke kantor papah. Katanya ketemu di angkot “. Jelas bapak saya.

Wiih… asssooy kan?!. Ini BB kembali dengan tanpa utuh. Pertama, Chasing entah ke mana. Kedua, sim card yang rusak. Ketiga, Antigores yang melopek. Dan terakhir, Body belakang tergores seperti membentuk benua asia.

Menurut bapak saya, kronologisnya adalah, ada seorang laki-laki yang menemukan bb di jok angkutan umum. Kemudian dia membuka recent call yang tercantum nomor bapak saya. Ditelepon lah olehnya. Surprise sekali, laki-laki itu pun mengantarkan bb ke kantor bapak saya hari itu juga.

Indikasi Menjanggal

Agak aneh sih, nih bb bisa ditemukan di angkutan umum ( Angkot ). Pertama, hilangnya bb itu bukan di angkot, tetapi di depo farmasi rumah sakit. Kedua, bb saya itu selalu pake proteksi Device is lock. Agak aneh kalau pada tau kata kuncinya. Kecuali dia hacker sejati. Awalnya sih saya berpikir, bisa jadi sim card dilepas kemudian dia cari nomor telp, dan dapatlah nomor bapak saya. Tapi enggak deh, soalnya dia bilang kan, recent call. Emang sih ya, sim card entah ke mana. Itu juga enggak ngerti motifnya apa. Secara phone book ada di bb. Nyaris enggak ada juga kalau mau cari nomor-nomor penting di kartu telpon saya. Belum lagi, chasing bb yang juga lenyap. Nah itu maksudnya apa ya?!. antogores, dan satu lagi. Bagian belakang bb kelopek parah macam membentuk benua. 

Jadi, ya.. begitulah.. mungkin kamu akan menilai bahwa laik-laki yang mengembalikan bb itu adalah *titik..titik..titik..*

Astaghfirullah… iya gitu deh, susah banget ngilangin prasangka buruk. Semoga aja lah ya, laki-laki itu adalah benar-benar menemukan bb saya di angkutan umum. Atau nih, paling mentok setidaknya jika laki-laki itu adalah yang mengambil, Semoga Allah SWT menerima taubatan nasuhahnya. Mudah kan?!.

Kejadian kali ini adalah, cerita yang akhirnya membuat saya sadar adalah bahwa rejeki setiap orang tidak akan pernah tertukar. Jadi, barang-barang kita yang mungkin hilang diambil orang ataukah hilang entah di mana, percayalah jika itu adalah rejeki untuk kita, maka dia akan kembali ke kita lagi. Ya..walaupun sih ya, pupus juga nih harapan buat beli android baru. haha..

Oke deh, selamat datang kembali bb dalvis hitam saya yang menghilang selama 4 hari !!. Semoga dirimu hadir menebar manfaat ke semua orang. Aamiin..

 

Adios..

Balada Romadlon Part 2 ” Puasa Terus, Timbang Terus ”

Timbangan Berat Badan Di Rumah gue

Pernah denger kan, kalau kita puasa di Bulan Romadlon itu ucapan menjadi doa, dan segala perbuatan menjadi ibadah?.  Gimana keberkahan berlipat ganda yang akan Allah berikan. Rezeki tanpa kita sadar akan terus membanjiri setiap umat Islam yang berpuasa. Buktinya nih, banyak yang enggak kelaparan kalau waktu berbuka tiba atau bahkan ketika sahur sekalipun. Toh banyak masjid-masjid yang dengan ikhlas memberikan makanan bagi mereka yang berpuasa.

selain itu, dalam kehidupan sosial sehari-hari, di lingkungan permahan misalnya, yang biasanya acuh tak acuh dengan tetangga di samping, ketika berbuka tiba ada aja kiriman makanan untuk berbuka entah itu ta’jil ataukah makanan berat. Luar biasa berkah kan?

keberkahan itu juga ternyata menjadi dua persepsi yang tertuang menjadi harapan atau bahkan menjadi sebuah ketakutan loh. Bagi anak-anak kosan, banyak makanan melimpah ruah sih itu kesenangan tiada tara. Akan tetapi lain halnya dengan mereka yang memiliki pola makanan teratur sebelumnya, dan memiliki dogma bahwa menjaga badan agar ideal itu adalah wajib hukumya ( baca : diet ) memakan makanan dengan kadar gula atau minyak yang berlebihan malah membuat bahaya tubuhnya.

Tidak dipungkiti lah ya, setiap berbuka makanan minuman manis dan berminyak itu lebih dominan dari sayuran atau serat. Hal itulah yang terjadi pada keluarga gue. Balada Romadlon kali ini gue akan bercerita gimana ritual atau kebiasaan yang dilakukan selama berpuasa.

Romadlon kali ini cukup berkah menurut keluarga kami, alhamdulilah kami masih diberikan rejeki sehingga kami tidak kelaparan. eiits bukan hanya berkah dalam hal makanan aja loh, personil keluarga kami lengkap berjumlah 5 orang. Bokap, Nyokap, abang, adek, dan gue. Padahal biasanya gue jarang banget ada di dirumah, karena harus bajibaku di nangor. Sedangkan adek gue ( Nada ) biasanya dia baru ada di rumah 5 hari menuju lebaran, karena dia harus mengikuti peraturan asrama bulutangkisnya. Tapi kali ini gue dan adek Romadlon ini kita ada di rumah.

Kisah ini cukup unik bagi gue. Bermula dari cerita Nada yang harus terkena degradasi dari pusdiklat Jaya Raya karena dinilai “kegendutan ” untuk ukuran seorang atlet bulutangkis. Kondisi adek gue itu sebenernya cukup membuat terkejut keluarga. Karena ketika dia didegrasasi secara otomatis Nada harus pulang ke rumah, membawa seluruh barang-barangnya dari asrama, selain itu juga mau tidak mau orang tua gue harus memikirkan langkah selanjutnya untuk adek gue yang katanya tetep mau jadi atlet bulutangkis itu agara bisa merubah pola hidup, mulai dari mental dan jasmani. termasuk memecahkan masalah “Kegendutan” yang telah menjadi akar penyebab degradasi itu.

Akhirnya segala program pun dijalankan adek gue itu. Termasuk latihan fisik setiap hari. Oh iya, walaupun adek gue latihan terus setiap hari, dia tetep diwajibkan puasa. Hm..sebenernya ini cukup memprihatinkan bagi gue, si Nada itu jarang puasa loh selama dia tinggal di asrama Jaya Raya. Menurut adek gue itu, malahan klub bulutangkisnya itu melarang para atletnya untuk berpuasa. Bahkan sampai dibilang, ” Kalian mau jadi atlet apa mau jadi ustad? “.

Sedih kan?. Ya..maklum lah, mayoritas dr klub itu adalah Non-Muslim, jadi mereka tidak tau hakikat berpuasa itu apa, dan positifnya untuk tubuh. Nah..kembali lah gue dan keluarga gue ketika adek gue didegradasi itu. Karena akhirnya dia bisa puasa juga.

dari latar belakang itulah yang kemudian membuat adek gue bertekat untuk “Balas dendam ”¬† dengan cara menunjukkan bahwa dia masih layak menjadi atlet dengan tanpa menanggalkan keimanannya, dengan cara berpuasa.

Hal itu yang dikuatkan dengan statement nyokap ke adek gue, ” Da, kamu harus puasa. Biar kamu kurus. Percaya deh sama mamah “.

gue sempet denger tuh wejangan nyokap. Ya..gue sih percaya bahwa ” Suara Nyokap, Suara Tuhan ”
dan gue pun mengamini.

akhirnya dengan kepercayaan penuh serta pola makanan seimbang, adek gue pun berpuasa dengan tanpa meninggalkan rutinitas latihan fisik dan latihan bulutangkis setiap hari.

Awalnya euforia itu berjalan lancar, namun selanjutnya godaan demi godaan muncul. Bokap gue setiap pulang dari kantor selalu aja bawa makanan yang over calories, macam pizza, kebab, martabak, tahu isi, gorengan, dan bla bla bla..

Dasar adek gue ini hasrat biologisnya meninggi ketika maghrib, maka makanan-makanan itu “dsikat” nya penuh dengan gejolak. Hingga suatu ketika tubuhnya terlihat membesar. Ya..bayangin aja, makan-bbm an sambil duduk-tidur. itu dia aktifitas yang sering dilakukan.

akhirnya adek gue yang kembali insaf, meminta bokap untuk membelikan alat ukur berat badan. Hal itu dengan tujuan agar adek gue bisa mengontrol berat badannya setiap hari.
Dan, dibelilah alat ukur berat badan itu.

Tapi nih, yang ada ternyata alat itu menjadi candu bagi Nada bahkan seluruh keluarga kami. buktinya nih, setiap kami makan berkalori banyak setiap itu pula kami mengukur berat badan. Inilah yang menurut gue sangat lucu, Makan..makan..makan..ukur..ukur..ukur.. hahaha.. ditambah siangnya puasa, jadi nya kontrol berat badan jadi makin optimal.
dengan adanya itu, alhasil makanan yang berkalori tinggi hanya menjadi penghuni lemari es dan hanya sesakali dimakan jika tidak ada makanan di rumah. Enggak cuman itu aja, kakak gue yang awalnya cuek sama urusan badan, jadi ikut-ikutan ngukur berat badan, bahkan dia sampai-sampai mengikuti program fitness supaya badannya ideal.

Kalo udah kayak gini, mitos yang bilang dengan berpuasa tubuh akan menjadi langsing itu benar adanya. Berat badan Nada samapi bokap gue jadi turun hanya beberapa hari saja. haha..Dahsyat dah..

Jadi gimana dengan berat bada mu di saat Romadlon?? ^^

Kakak,AWAS PORTAL!!

hADuh, Malu banget deh kalau inget tadi pagi.
tadi, pagi gw langsung beres-beres rumah. Biasa jadi pembataian di lebaran deh, abis para pembataian khan lagi pada mudik tuh,yasuwlah gw deh penggantinya.heehe..

mama sama papa masih nginep di Sukabumi, kalau gw sama adek gw gag nginep, biasa anak muda!!huidih..
udah macet,naek mobil umum yang full. mending full AC, lah ini full asep rokok..huleh..kebayang kan bagaimana BT nya?!!,

pagi mejelang, dan tiba-tiba adek gw ketok-ketok kamar gw..sambil miscall gw via ponsel. (Jah gaya banget yak nih anak!!)
Adek gw : ” Kakak!! ”
Gw : ” Apaan si Da? ”
Adek gw : ” Ka, kita harus ke Centro, baju aku kekecilan. mau tuker!!
Gw : Iya, ntar aja tunggu mama yak, dah ah..gw mo beres-beres tmpat tidur!!
Adek gw : ” Gag bisa kak!!, batasnya hari ini!!
Gw : ” iya, hari ini, bukan bearti pagi-pagi jam 7 kan??? “.
Adek gw : ” Iya sih, tapi harus sekarang!! ”
Gw : ” Yaudeh, ntar kakak anter lo ke sono, tapi, lo ngepel ya da!! “.
Adek gw : ” Huhh..!!,yaudah deh!! ”
gw : hahahahahahahahaha!!!!!,ke…..na de…!!

( Ketika jam 11 )
gw dan adek gw semua udah siap untuk langsung ke Centro. Pas pengen cao, tiba-tiba adek gw udah ada di garasi. trus dia memanaskan mobil.
gw : ” Da, lo ngapain manasin mobil?? , emang aa mo pergi??
Adek gw : ” Ya..buat kita ”

ngek!!,spontan gw terkejut,ternyata tuh bocah suruh gw supirin dia, gw aja gag punya SIM, ada-ada aja tuh bocah!!
Gw : ” Da, kakak kan gag ada SIM, udah naek mobil umum aja, lagian margo ini, deket!!
Adek gw : ” Ha..kakak, naek mobil aja,polisi khan gag ada ini, entar dari margo, kita ke CIM,”

busyeh!!,awalnya gw berpikir, adek gw lagi kesambet makhluk aneh, makanya otaknya agak gag beres!!, tapi, ini juga jadi pertama buat gw untuk nyetir mobil sendiri tanpa bokap gw,hehehe..ya..yang penting berani dulu, jalanan sepi ini..hahahhaa..

dengan modal nekad, gw akhirnya nya naek mobil. semua mulus sampe margo. yang namanya depok, wuidih..sepi banget..!!,dasyat bener dah..

pas pengen balik dari margo,gw segera mungkin mengeluarkan mobil dari tempat parkir, tiba-tiba dari arah luar, ada mobil yang ingin masuk, dan gw mentok, gw berusaha puter stir, eh yang ada kagak jalan..hua..panik berat gw tadi..
adek gw : ” Kak, mobil depan nya udah klakson-klason tuh!!,cepetan kak!! ”
ucap adek gw panik.
gw : ” Iya, kakak tau, ”
ucap gw yang ikut panik.
ada kali 10 menit, gw gag gerak-gerak. akhirnya satpam menghampiri kita berdua.
eh belum sempat tuh satpam, negur gw, mobilnya gerak. dan bisa dijalanin. dan
TAPI…tiba-tiba adek gw teriak,” Kakak,awas portal!! ”

yang ada gw nabrak portal, Perkara nomor 2!!
tuh portal sampai copot, mobil gw malah fine-fine ajah..LUAR BIASA!!,gw langsun keluar, dan minta maaf sama satpam margo city. dia cuman bilang,
satpam : ” Hati-hati ya mbak!! ”
semua orang ngeliatin gw, haduh..malah depan mobil gw, ketwa-ketawa gitu, haduh..maluu…gw malu..
di jalan, kita berdua malah terdiam. dan kemudian ” HAHAHHAHAHAHAHA..” kita berdua ketawa lebar!!

Adek gw : ” Oon banget sih kak!! ”
gw : ” Au ah..”
eh adek gw ketawa!!..Huu..cumi!!
adek gw : ” Ke CIM nih kita?? ”
gw : ” Hua..pokoknya kagak ada CIM-CIM an!!, gw gag mau ber-urusan ma portal lagi!!,
tawa adek gw tambah gede!!
ha..BT gw!!

NO PORTAL!!!

Lebaran Without Our GrandMa..!!

” KANTRY,LU BELAJAR YANG BENER YA!!,KASIANAN NOH BABEH LU,KERJA BANTING TULANG,BIAR ANAKNYA PADA SEKOLAH,LU JANGAN KAYAK GUE,YANG CUMAN LULUS KELAS 1 SD,JADI SARJANA YANG BENER!! “

itu kutipan pesan dari Emak (Said, “Emak” panggilan “nenek” di keluarga gw,Sang d Big Batavia’s Familiy,hehe..) setiap gw berkunjung ke rumah nenek gw. dan pada saat itu, kondisi gw ialah baru kuliah di tahun pertama. Celotehan yang ringan,namun dalam. Tapi sekarang, beliau udah gag ada. sudah 5 bulan, beliau gag ada di tengah-tengah keluarga besarnya. Hmm…kepergiannya membawa sedih buat semuanya. termasuk gw. gw ngerasa, lebaran ini kurang tanpa beliau. Biasanya, di lebaran pertama, keluarga gw langsung menuju rumah emak di Cimanggis, trus..sungkeman gt deh,trus..beliau menyiapkan makanan kesukaan cucuk-cucuk nya. bayangkan, beliau harus menyiapkan makanan kesukaan dari 17 cucu-cucunya. Subhanallah,betapa baiknya beliau.

trus yang lebih penting,beliau sering ngasih angpau ke cucu-cucunya. hehehe…

Enggak tau kenapa, padahal angpau dari beliau lah yang jumlahnya paling kecil, tapi gw dan seluruh saudara-saudara gw menunggu-nunggu “salam tempel ” darinya. rasanya, Gag karuan deh kalau dah dapet..

sekarang, suasana lebaran di rumah emak, berubah total. Berubah bukan karena dari makanan atau hidangannya, tapi..suasananya..

adek-adeknya papah terlihat raut wajah yang kosong, jarang gw melihat canda tawa dari mereka. Bahkan papa sama mama pun ikutan bengong, waktu itu hujan Mengguyuri hari kemenangan. semuanya merindukan kehadiran emak ditengah-tengah kami.

biasanya, keluarga besar sanak saudara yang paling jauh kumpul loh, tapi ternyata hari itu, enggak kompak. alhasil, di hari pertama gw gag dapet angpau lengkap donk!!,,Ups..!!hehehe..

bukan deng, tapi, ketemu mereka semua. So, semua harus muter berkunjung ke rumah satu sama lain lagi. kalau dulu, dalam sehari kita bisa ketemu semua. Jadi besoknya bisa langsung¬†gantian ke saudara Mama. kali ini bener-bener beda..Hyuh…!

 

IM GOIN HOME, RIGHT NOW..!!

hua..senangnya, akhirnya guw pulang juga ke depok. Hm..sebenernya nih, itu juga kalau enggak ditelepon-nin nyokap, kayaknya gue enggak balik deh.., eh si mama nelepon..begini ceritanya :

Mama : ” Assalamualaikum!! “

gue¬†¬†¬† :” Wassalamualaikum!!, Napa Ma? “.

Mama : ”¬†Pulang Kak!! “

kaget donk gue, tiba-tiba nyokap suruh gue balik. dalam hati teh bertanya-tanya, ” AYa Naon nya?? “

gue : ” Lah?!, pulang?!, gag bisa mam!!. aku harus rapat sama bikin proposal KBU “.

Mama : ” Lagi banyak makanan nih!!, kalau gag pulang, enggak mama transfer euy, ari kamu mau teh,mau henteu dikirim uang lagih?? “, kata mama dengan logat khas garutnya.

yasuwlah, mendengar hal yang sakral bagi kehidupan anak kosan seperti saya ini, langsung lemas..O..MY ALLAH!!

jumat sore, sehabis mampir untuk rapat di sekre, gue pulang ke depok. sebenarnya nih, ada keraguan mau balik, pertama gue kan mau liat adek-adek PAUD lagi lomba..tapi kalau entar gue gag balik, gag makan donk eike?!!..dilema khan?!, yah..daripada kena kutukan dari nyokap, ya..pulang sajalah…

sampai di cilandak, gue dijemput sama kakak gue yang entah mengapa hari itu baik sekale..mau menjemput daku yang letih karena duduk di primajasa dengan lagu dangdut yang “BLUBBB!!, ALA MA’JAN!!”

sampai di rumah, gue langsung disambut dengan ciuman dari nyokap. nyokap cium kedua pipi gue, emang sih, udah gag balik satu bulan, tapi kayak gag balik satu taon aja yak?!!, terus, seperti biasa di rumah gue terdapat bibi gue yang masih mencari pendamping yang cucok, alias kebelet nikah,gyahahaha..!!

adek gue, yang langsung memamerkan raket barunya, dan bokap yang lagi nyiramin vitamin ke tanaman-tanaman.

se-jam kemudian, gw bertanya..

Gue : ” Mama, LAPERRRR!!, Makan donk!! “

eh si mama, langsung ngambil piring, plus makanan kesukaan gue, SAYUR BAYAM+TEMPE!!,

Gue : “mAMA, Suapin!!?? “, pinta gue.

eh, tiba-tiba nyokap nyuapin gue donk,hahahaha…

yang lucu lagi, keadaan itu memburuk terlihat di wajah adek gue, cemberut tiba-tiba..dan berkata,

Nada : ” Wou..kak kantry, pulang2 kelaperan!! “

gue : ” Tau aja lo Da, gue kelaperan!!,sirik aje lo da!!”, jawab gue.

makin cemberut aja tuh si nada, eh dia langsung cabut ke kamarnya. dasar bocah!!

hari ini, semua nggota keluarga kumpul semua!!,HORREE!!,ALHAMDULILAH!!

O..malam tadi, kita semua nonton olimpiade bulutangkis di ruang keluarga. hirup pikuk dan teriak-teriakan untuk mendukung tim pahlawan bangsa merebut mendali emas dan perak,

Hyuf…enaknnya kumpul dengan keluarga..!!