Marhaban Yaa Ramadhan.. (Camkanlah !. Ini Ramadhan Terakhir Ku)

Masha Allah, Bulan keberkahan akan segera menghampiri. Cuaca dan suasana kian siap menyambut untuk segera berlomba dalam kebaikan selama satu bulan. Ramadhan tidak hanya untuk mereka yang tergolong kaya, atau miskin, atau menengah. Tetapi semua, semua ummat muslim di dunia. Rasa haru, bagai kerinduan tiada tara yang sulit terucap dalam lisan. Hanya mampu membayangkan bagaimana keteduhan hati dan usaha kekhusyukan ibadah terlihat jelas dalam bayang.

Ah, ingin rasanya segera Ramadhan. Mengingat begitu banyak dosa yang sudah dilakukan, dan kegundahan serta keresahan yang terpendam sebagai insan manusia yang lemah, Ramadhan waktu yang tepat untuk memperbaiki diri dan meraih kebaikan dalam beribadah setelah 11 bulan yang mungkin sudah terlupakan. Malam-malam istimewa yang Kau janjikan sebagai hadiah bagi umat yang mendirikan ibadah pada waktu tersebut, sudah menjadi incaran pada pencari Tuhan di mana pun. Begitu juga dengan saya.

Saya hanya berharap, semoga Ramadhan ini saya masih ada. Sudah banyak catatan targetan amalan yaumi yang saya azzamkan sebagai pedang saya menuju ampunan dan Rahmat-Nya. Rindu rasanya untuk bisa menangisi kesalahan dan dosa serta ketidak berdayaan saya sebagai manusia.

Entah bagaimana rasanya ketika semua targetan saya tidak ter-realisasikan, mungkin akan menyesal seumur hidup. Karena bisa jadi, Ramadhan ini adalah Ramadhan terkahir saya. Rasanya ingin benar-benar segera Ramadhan. Memang kesibukan kita dalam bekerja sangat terkuras. Bahkan hampir seluruh hidup digunakan untuk bekerja. Sedikit ada ketakutan kesibukan ini nantinya akan menjadi penghambat dari target amalan yaumi ketika Ramadhan. Namun, hanya orang naif yang merasa bahwa hidup akan berpusara pada 1 titik. Dan saya sungguh tidak ingin merugi. Biarlah Allah dan tulisan ini menjadi saksi bagaimana saya benar-benar ingin mengisi Ramadhan dengan sungguh-sungguh tanpa lalai.

Yeah, Lalai. Itu kata mujarab sekali untuk manusia di mana pun. Saking mujarabnya, jadi menyeramkan. Lalai menjadi buta akibat tidak sadar. Duh, jangan ampe deh ya Allah..

Usia sudah tidak muda lagi, kesempatan untuk menghirup Oksigen juga kian berkurang. Apalagi coba, kalau yang bikin kita takut adalah kematian. Saya takut mati di saat saya kotor akan dosa. Dan bayangkan, apabila saya mati setelah Ramadhan, atau jangkan Ramadhan, ketika Ramadhan (misalnya). Wah, rugi bandar boss !!

Naudzubillah..

Memang ketulusan niat yang tahu hanyalah Allah dan kita. Akan tetapi, apabila niat tidak didorong, mah sayang sekali. Walaupun sudah niat saja, Insya Allah dapat pahala. Akan tetapi, sayang enggak sih,kalau pahalanya hanya sekedar niat. Mending ngejar pahala yang besar karena direalisasikan. Bener enggak sih?.

Nah,dengan adanya tulisan ini, saya sebagai pemilik blog yang mengaku hidupnya udah abis sama hal-hal dunia, kepengen banget bikin cambukan untuk diri sendiri. Minimal, kalau tidak terealisasikan nanti yang super malu adalah saya sendiri. Enggak lucu lah, ketika buka tulisan ini ketika Syawal ternyata hasil target Ramadhannya tidak tercapai.

Btw, saya jadi kangen mengisi agenda rutin amalan yaumi di buku agenda Ramadhan. Itu buku sakti banget loh. Bisa bikin saya rajin sholat berjamaah, tadarus, mendengarkan kultum, tarawih berjamaah, bantuin mamah masak, bersih-bersih rumah, dan lain-lain. Jujur aja sih ini, semakin kita tuir, untuk tetap meistiqomahkan kesadaran itu tidak mudah. Hanya orang-orang yang inget mati yang akan istiqomah.

Korelasinya sih simple, ketika masa sekolah, agenda Ramadhan kita isi penuh supaya mendapat nilai bagus di kolom nilai mata pelajaran Agama Islam. Atau, karena kita kepengen banget dapet hadiah beruapa uang atau barang tertentu jikalau sholat, puasa, tadarus, kita enggak bolong-bolong. Artinya, ada reward di sana.

Sedangkan sekarang nih, usia-usia menuju akhir zaman, apa yang mau diinginkan secara kasat mata, apa juga bisa beli. Mau jodoh, tinggl nikah (sama siapa aja), Mau kuliah ke luar negeri (bisa nabung), Mau beli mobil (Bisa kredit), Mau Iphone 6 (Tinggal jual Iphone 5s terus tinggal nambahin), Mau jalan-jalan (tinggal cari tiket pesawat promo), So? What do you want more?!.

Ternyata hidup enggak seenak itu loh. Hidup enak itu, adalah hidup yang bisa senyum karena susah. Hidup yang bisa menangis karena senang, hidup yang bisa memberi karena lapang, dan yang paling penting hidup yang bisa membawa kita tenang. Tenang, tanpa harus risau untuk memikirkan pendapat orang lain atas hasil capaian mimpi kita, Tenang tanpa risau kesusahan, tenang tanpa harus berpikir mengapa/kenapa/kok bisa/kok gitu dan lain sebagainya.

Dan memang hanya kembali kepada Allah, hidup akan tenang. Dan Ramadhan ini, bulan bergengsi untuk meraih itu. Apa yang ditangisi adalah evaluasi diri sebelum masuk persidangan Allah yang sesungguhnya. Bayang-bayang tanggung jawab atas perbuatan selama hidup yang bisa jadi tidak bisa kita pertanggung jawabkan, sungguh tak terbayang ketika tubuh ini harus terhempas dalam golakan api neraka. Naudzubillahimindzalik..

“Makanya Kant, inget tuh!. Elo itu manusia lemah di Mata Allah. Jangan pede bakal masuk syurga. Lo lupa sama dosa lo yang banyak itu?. Hati-hati, manusia emang makhluk lupa, tapi Allah enggak punya sifat pelupa loh !. Apalagi ada malaikat. Itu catatan bisa jadi udah panjang macem gulungan kabel cipularang. Inget, umur lo udah 26 tahun. Lo akil Baligh di usia 10 tahun kan?. Nah, udah 16 tahun lo idup dengan catatan Malaikat. Bayangin, 16 tahun,  192 bulan, 70080 hari, 8409600 menit, dan 504576000 detik. Jadi, kebayangkan dosa lo seberapa banyak?. Mending taubatan Nasuha deh ya, mumpung ada waktu. Kalau lo nyampe nih Ramadhan ini, udah semestinya lo inget mati. Karena Mati, itu gerbang perhitungan dosa lo yang dikali 504576000 detik itu. Baek-baek deh ye..yuk cus!”. <Monologue sambil ngaca.

Dan tiba-tiba saya nangis. Whoooaaaa… begini amat endingnya. Jadi harus inget mati rupanya. Bismillah.. Semoga Ramadhan kali ini terbaik. Aamiin..aamiin aamiin aamiin..

Mantan Terindah (Super Mellow Abeeeesss)

Kehilangan yang menyenangkan adalah, di saat kita berpikir dua kali tentang arti perjuangan yang tidak fokus pada bentuk fisiknya, tetapi nilai untuk meraihnya. Perasaan yang membekas karena sudah bertahun tahun menemani saat hujan, terik, kemarau, susah, senang, galau, pusing, deg-deg an, bosan, jatuh cinta, kecewa, dan segudang kondisi lainnya memang tidak mudah, awalnya. Mungkin jika dia bisa berbicara, dia akan memiliki perasaan yang sama dengan saya. Selalu tergenggam dalam telapak tangan yang saya yakini bahwa bisikan hati kami pun terhubung tanpa disadari.

Pernah dia hilang, dan kembali lagi dalam genggaman, itu karena waktu dia bersama saya masih bersemi nyata. Atau ketika dia mati suri karena penopang energinya harus soak karena beban penggunaan yang melampaui batas dan kembali hdup kembali dengan penopang baru sehinga dia bisa memiliki energi lagi dengan lancar.

Perjuangan saya kali pertama mendapatkannya penuh perjuangan dan kerelaan. Di saat semua orang sudah menggunakannya pertama kali, saya masih acuh. Dan menganggap memilikinya tidak begitu penting untuk keseharian saya. Tapi, pekerjaan saya menuntut saya meraihnya dengan gaji pertama saya, yang saya cicil selama 6 bulan. Maklum gaji pertama dengan nominal standar, saya berusaha membeli dirinya dengan harga sejumlah gaji saya ketika itu. Sedang saya, bertekad ketika saya sudah dewasa, saya akan memenuhi kebutuhan hidup saya dari jerih payah sendiri. “If i want it more, so i must to try harder”

Bagaimana menahan nafsu untuk tidak membeli ini itu, karena masih harus menyicil, masih saya ingat sampai sekarang. Demi sekotak hitam Blackberry dalvis hitam, saya rela tidak menghabiskan uang untuk hal-hal yang main-main. Menyisihkan 600 ribu setiap bulan tidak mudah bagi saya. Tapi Sekali lagi, tanpa dia saya tak berdaya mengerjakan pekerjaan saya, sulit berkomunikasi dengan kolega, dan silaturahmi sudah pasti terhambat. Kini sudah berjalan hampir 4 tahun, kotak hitam itu sudah tidak ada di sekitar saya. Dia hilang dirampas orang karena keteledoran saya.

Pagi hari ketika mengantri KRL untuk ke kantor, tiba-tiba saya didorong dari belakang berlebihan. Ketika di KRL saya baru sadar, dia sudah tidak ada. Memang sebelumnya, bb saya rusak dan selalu mati tiba-tiba. Di saat itu, saya celoteh akan membeli iphone kembali setelah iphone saya hilang kala itu. Saya pun memesan kakak saya yang sedang di Singapore seminggu yang lalu. Malam hari sehari sebelum dia dirampas, perasaan saya tidak enak. Merasa was-was, mungkin bisa jadi karena kelelahan. Dan benar, pagi harinya di entah di mana.

Kejadian ini membuat saya ikhlas dan lega. Saya tidak menyesali atas apa yang sudah terjadi. Kelalaian menjadi evaluasi saya yang berharga. Namun, dibalik keteledoran saya, saya sangat yakin, jalan-Nya memang sudah seperti itu. Dia hilang tak berbekas bisa jadi karena memang sudah saatnya saya mengganti telepon genggam yang lebih baik darinya. Saya tidak bisa menggunakan smart phone 2 genggam dan berbagi cerita dengannya sekaligus. Karena mungkin, Allah Tahu jika saya akan mengganti iphone, saya akan menelantarkan dia tak ber energi (jarang dicharge) dan miskin (tak berpulsa).

Innalillahi dan Alhamdulilah dua fase akhirnya. Perjuangan meraihnya selama 6 bulan dan mempertahankan selama 4 tahun, sudah menjadi prestasi saya untuk menjaga dan memperhatikannnya tanpa cacat. Memang, jika kita menginginkan segala sesuatu yang berharga, dan memiliki nilai yang tinggi menurut kita, dibutuhkan pengorbanan untuk mendapatkannya. Karena apa, ketika kita kehilangan, bukan lagi kesedihan tetapi senyum ikhlas yang menandakan keberhasilan kita untuk meninggikan atau meningkatkan kapasitas kita untuk mencoba mendapatkan yang lebih baik dari sebelumnya. Toh, hidup adalah berjuang untuk jauh lebih baik bukan?.

Apa yang kita miliki hanya sementara. Apapun dan siapa pun. Karena Dia, hanya ingin kita tidak berhala dengan benda mati yang fana, tetapi nilai yang sudah dikerjakan dan niat yang sudah kita torehkan. Semakin baik niat kita, maka semakin bernilai usaha kita. Dan hanya sedikit mereka yang menyadari pentingnya niat dan usaha. Terkadang kita sudah pesimis sebelum berperang, namun pada kenyataannya Allah akan selalu bersama kita dalam ruh keyakinan yang disebut optimis.

Selamat jalan Blackberry dalvis hitam.. Selamat datang Iphone 5c putih.. Mari kita tempuh tantangan hidup ini dengan Asik, gigih, optimis, dan ikhlas..

Terimakasih Allah, atas kecukupan rejekimu yang tak pernah putus tecurahkan kepada kami. Skeneraio Mu sungguh indah tiada duanya.. Alhamdulilah..

Ibarat judul lagu, kisah ini seperti Mantan Terindah yang dinyanyikan oleh Raisa. Lagu sedih, tapi begitu indah dan nyaman di dengar ketika dinyanyikan oleh suara Raisa. *Duh.. jadi mellow banget.. Udah ya..*

Adioss..

Ketika ditanya tentang Jilbab

 

 

Harus saya sampaikan, bahwa apa yang digunakan tentu ada alasan mendasar yang harus dipertahankan. Kali ini saya ingin bercerita bagaimana seorang kerabat yang jauh-jauh datang dari Denmark untuk hubungan bisnis dengan perusahaan di mana saya bekerja.

Mr. Darcy Werneck, we usually call him, Darcy. So he has been here for a week to visit another company. Joining with us, we’ll introduce our co-brands “Ellepots system”. He is 51 years old. He just attended his self for Indonesia’s farming experimental taken. A little bit explanation about our brands, The Ellepots is forestry seed process unit for kind of forestry industry comodities. Such as pulp, eucalyptus, banana, teak, and pines. Not only many kinds of forestry comodities, but also we offer the possibility for nursery section. For example Sugarcane, Palm oil, and Tobaco.

Jadi ceritanya, Darcy datang untuk merencanakan perjalanan bisnis di Indonesia bersama perusahaan kami. Selain ia menjelaskan mengenai teknologi mutakhir tentang perbenihan bernama ellepots, Ia juga akan berkeliling Indonesia untuk berkunjung ke beberapa perusahaan yang menjadi target pasar kami. Di sela-sela persiapan presentasi, Darcy dan tim mekanisasi perusahaan kami melakukan pemasangan mesin. Darcy berperan sebagai tutor. Saya ada di sana, untuk mengambil beberapa gambar untuk Advertorial.

Indonesia sepertinya sedang musim kemarau. Dan Tangerang luar biasa panas. Beberapa kali Darcy mengusap keringat. Dan setelah ia melakukan set up mesin, kami pun kembali ke ruangan meeting dan meneguk air kelapa yang menjadi minuman kesukaannya. Di sela-sela pembicaraan, ada hal yang membuat saya tertantang. Darcy mengajak saya berbincang mengenai Indonesia, mengenai pertanian Indonesia, dan tentang diri kami masing-masing.

Usia nya memang sudah tidak muda, tetapi dia sangat enerjik dan mudah bergaul dengan siapa pun. Sampai pada pertanyaan, “Kantri, why do you cover your beauty hair with veil on your head?. Today’s so hot, do you feel sultry, don’t you?”.

Saya pun menjawab, “Sure, i feel sultry. Tapi saya sudah terbiasa. Jadinya mau sepanas apa pun, saya wajib menutup rambut saya. This is about belief. I’m as a Moslem woman, must to cover our beauty boday from the top to the bottom”.

Darcy mungkin tidak percaya, mengapa kami rela menggunakan jilbab, dan dia sedikit membuat saya terbang ketika berkata, “You look so beautiful. Why must be covered by veil. The man might be unseen what you have. Kamu tidak terpaksa menggunakannya kan?. Atau kamu tidak ingin laki-laki merasa patah hati ketika nanti melihat kalian seperti apa?”

Saya menjawab, “No. I don’t be affraid anymore. Because that i decide to covered my body, is order to protect me from the harrasment to me, or i would not to crash some attitude’s males by me. I know what a males thinking. They have higher lobido codition than women have. Untuk itu, kami menjadi agar laki-laki untuk tidak melukai perasaan dan tubuh mereka dari hal-hal yang mematikan”

Makin panas, makin penasaran juga nih ceritanya Darcy. Kembali ia mengulik dan bertanya, mengapa dapat mematikan perasaan. Saya pun ikut tertantang. Penjelasan berbagai macam penyakit seperti AIDS, tau kelamin semua berawal dari hasrat yang terlalu melampaui batas. Ia sadar itu. Hanya, saja ia begitu penasaran mengapa harus ditutupi. Mahkota kecantikan yang seharusnya diperlihatkan oleh banyak orang, justru terhalang oleh sehelai bernama jilbab. Dan jauh lebih detail saya pun menjelaskan bagaimana Islam mengangkat dan menjaga martabat perempuan dalam kehidupan sehari-hari.

Berawal dari obrolan jilbab, kita pun berbincang seputar kesetaraan jender. Perlu diketahui, di Denmark, isu jender sudah tidak asing. Mereka sudah setara. Bagi Darcy, Islam mengapa tidak membebaskan perempuan. Dan perempuan hanya nurut dan kata Darcy perempuan Islam hanya “Enjeh-enjeh” <– Ujar Dia sambil memperagakan dengan gesture.

For us, Women must be explored their potential capabilities by their self. Their life is own decision. So much better if they can do all everything they want”. Kata Darcy.

So, why do arabian women, especially in Egytp. Weared veil until cover almost their body. Covered their face, actually. While you don’t wear like that ?” . 

Saya hanya mesem-mesem, lagi mikir sih sebenarnya. “Mau jawab kek mana ini ya..” hehe..

“Well, Darcy i think it because of geography and cultural roles reason. The Middle east countries have uniqally geography contour. They have a lot of desert of sands. If they flies up arround, they will be so dangerous for eyes and respiration system. Not only about geography, but also cultural roles could that be a reason why they covered their self. Highest libido, and historical civilization since a long-time-ago, to push up to become protected itself. So, if you ask me why we were become backward by the husband, maybe you have to see what is responsibilities between a man and women should be?. Islam, had dividing about that. A man must become a leader who will guide the team to be a winner and success to the final place. Victory for a whole life. At the last time, at the end this life, The Husband will requested by God for their responsibilities. If he had do something bad, he will push off into the hell. While, if he had do something right, he will be given a heaven”. Ujar Saya.

“What kindda of the right thing or bad thing to do or don’t do for man responsibilities?”. Darcy, bertanya lagi.

“Guidingness to pretecting his wife, his children, to do the right thing. The right things are goodness prays “Sholat” , Teach some Islam manners, Those manners as we usually called by “Rukum Islam”, Step by step as a good Muslim. Husband and father are two side of differenciacies causes. Husband must be kind and fairness treatened to his wife. So is the different situation, father has maintenance to fixed their children character, How’s he give food supply for, and get the money from halal occupation”. Kata Saya.

Mendengar penjelasan saya, Darcy hanya berkata “Hm.. I See”.

Jilbab, emansipasi, dan Islam. Tiga hal yang sudah pasti berkaitan. Hingga pertemuan saya selanjutnya dengan Darcy, ia tetap memuji saya. Entah dari warna pakaian saya, atauka jilbab yang saya gunakan. Mungkin Islam terlihat seperti mengekang, dan tidak bebas. Tapi Islam adalah agama yang benar bagi mereka yang beriman. Jadi jangan merasa minder jika banyak yang bertanya mengapa kamu begini, begitu, kok berbeda, dan lain sebagainya. Karena pada dasarnya pun, hanya sedikit kaum pengikut Nabi Muhammad kelak. Dan semoga kita termasuk salah satu deretan pengikut Rasulullah di akhir zaman nanti. Aamiin..

 

 

Thanks For a Little Surprise, Guys..!!

100_4514 100_4515IMG_3825 IMG_3826 IMG_3827 IMG_3828 IMG_3829

 

Do’a untuk 26 tahun yang paling dominan adalah, banyak yang doain gue untuk segera menikah.. Owh.. men !!. Calonnya aja belum ke rumah, hahaha.. tapi enggak apa-apa, kita aminkan saja. Huhu.. thanks for the best wishes guys… *kecup basah*

 

Cerita Pangrango

 

 

Jum’at pagi di mana hari-hari yang selalu padat karena deadline kerjaan, ternyata akan selalu sama walau pada kenyataannya keesokan harinya saya harus bersiap mendaki gunung. Jika harus merunut hari sebelumnya, hari-hari saya makin padat macem jalan Jakarta yang nyaris kosong spasi. 3 hari saya harus ke Bali untuk meeting dengan mitra kerja, dan selang sehari selanjutnya saya harus mengerjakan laporan untuk rapat kerja dengan tim. Sungguh alangkah indahnya hidup ini.. 😦

Well, meskipun saya harus narik nafas dengan jadwal kerjaan yang padat,  entah mengapa rasanya kok senang-senang aja ketika itu. Lagi-lagi ini musabab dari rencana naik gunung yang udah direncanain selama 1 bulan lalu. Dan Sabtu (18/10) saya akan naik gunung pertama kali dalam hidup saya. cihuuuuy !!.

Setiba pulang kantor pukul 21:00 WIB saya langsung melakukan packing carrier yang harus dibawa nanti. Dan parahnya adalah, carrier yang ukuran kecil yang biasa dipakai, sedang dipinjam oleh teman kakak saya untuk naik gunung juga. Mau tidak mau harus pakai carrier lama milik kakak saya. Kali ini agak bingung melakukan packing ala ransel segeda kulkas satu pintu itu. Untunglah ada kakak saya yang mau bantu packing. Hampir semua packing dilakukan sama dia. Saya sih cuman nonton. hahaha…

Keesokan paginya, saya bersiap-siap, sarapan, minum susu, dan sedikit nonton teve. Saya janjian dengan tim pendakian di kampung rambutan, namun sayang ternyata berubah di pasar rebo. Untunglah, saya dianter kedua orang tua saya ke sana. Ini tumben sih memang, biasanya orang tua saya cukup membebaskan saya untuk pergi ke mana pun, tapi kali ini mereka agak khawatir tentang rencana pendakian. Pertama, mereka pikir anaknya ini belum pernah naik gunung. Kedua, mereka belum mengenal orang-orang yang akan menjadi satu tim pendakian nanti. Terutama Ibu saya. Ia sangat khawatir, karena ketika saya sebutkan nama-nama tim pendakian, tidak ada satupun nama yang ia kenal. Ya..wajar saja bukan, jika seorang Ibu ingin melihat dengan siapa anaknya berteman. Oke.. thank you Mom !.

Singkat kata, perjalanan kami dimulai dari Pasar Rebo. Kami berjumlah 5 orang. Saya, Ka Reza, Aje, Hendri, dan Are. Berawal naik bus ke Cibodas dengan rute Jakarta-Cianjur pada pukul 09.00 WIB. Kira-kira sampai Cibodas pukul 11:30 WIB. Di sana, harus mengurusi booking pendakian yang ternyata memakan waktu lama. Kebetulan memang, karena pada saat itu adalah hari Sabtu, sudah pasti jumlah pendaki tentu sangat banyak. Belum lagi, tim kami harus menunggu 1 personil lagi yang ternyata belum datang karena dia berangkat dari Semarang.

Lama menunggu, sekitar 5 jam untuk memastikan pemberangkatan, di sela-sela itu saya dan Aje cukup terhibur dengan rombongan anak-anak S2 IPB yang sedang melakukan observasi. Bahkan saya dan Aje seperti reuni dengan mereka. Pasalnya, mereka ternyata merupakan alumni dari kampus saya dan Aje. Ini lucu, tapi menyenangkan. Makin banyak teman menyenangkan, bukan?!.

Oke, lanjut ke pendakian, akhirnya saya tahu ternyata tidak hanya 1 personil tambahan, melainkan 3 personil pendaki tambahan. Selain Adit, ada Bagas, Edo, dan Bang Rizal. Lagi-lagi saya tidak kenal dengan mereka.

Awal pendakian pertama, saya masih meraba komunikasi dengan mereka. Minim komunikasi lebih tepatnya. Kecuali dengan Aje, saya sudah menghabiskan berjam-jam sedikit tahu tentang perempuan manis itu.

Menit demi menit, jam demi jam kami terus berjalan. Langit kami sudah gelap, kini hanya lampu sorot menjadi cahaya kami. Sudah tidak ada lagi bisingan suara kendaraan seperti di Jakarta, atau suara-suara musik yang sering kita dengar. Tidak ada lagi alat komunikasi. Hanya kami 9 pendaki yang mencoba meruntuhkan ego demi mencapai Puncak Pangrango.

Saya merupakan pendaki pemula jika dibandingkan dengan mereka yang berada di depan saya. Langkah mereka cukup cepat dan panjang. Belum jauh, saya sudah terkeok lunglai. Ternyata ini fatal. Beban carrier yang saya bawa terlalu berat. Bukan isinya, melainkan kontur carrier yang masih menggunakan besi pada sisi back-pain nya. Alhasil saya sempat bertukar carrier dengan Aje, namun Aje tidak sanggup untuk membawa ‘kulkas’ itu, dan ada Adit yang menawarkan diri untuk membawa carrier saya.

Perkenalan saya dengan Adit dimulai ketika itu. Sepanjang jalan saya berjalan sejajar dengan Adit. Anak psikologi undip 2009 ini cukup unik. Semacam adik ketemu gede. Maklum, saya tidak punya adek laki-laki, jadi sosok Adit kayaknya cocok jadi adik saya. Apalagi, ketika dia bilang, “Mbak, kayaknya kita berjodoh deh mbak. Adit kayaknya jadi adik ipar mbak deh”. Tadaaaaaaa!

Dasar anak itu. Masih bikin saya ketawa sampai detik ini.

Semakin malam, pendakian makin terjal, bebatuan tajam, udara yang mulai dingin, dan sunyi sudah benar-benar saudara kami ketika itu. Berjalan dan melangkah nyaris membuat betis, bahu, dan nafas kami berat. Namun, ada kebersamaan di sana. Pegangan yang erat satu sama lain membuat kekuatan kepercayaan bahwa saya tidak sendiri. Memang, hanya ada mereka di sini.

Pukul 12 malam, kami tiba di kandang batu, untuk camp. Setiba di sana saya sedikit ngosh-ngosh-an. Perut cukup lapar, setelah beberapa jam hanya terisi air mineral, madu, gula merah, dan sokelat (mengutip aksen cokelat dari Adit). Mau tidak mau, saya pun harus makan walau sebenarnya saya sedang berpuasa mi instan. “Semoga perut ku tahu, bahwa hari ini ku benar-benar lapar, dan hanya ada roti, mi instan, dan telur untuk ku makan. Maka baik-baik lah kau masuk usus ku”. Ucap saya dalam hati.

Slurph……. ah!. Oh.. ternyata mi instan dengan kornet ini enak sekali. Di tengah dinginnya udara, di tenggorokan ada mi instan yang hangat. 😀

Jujur saja, tadinya saya tidak mau makan mi, dan hanya membuat mi instan untuk teman-teman cowok yang sibuk mendirikan tenda buat saya dan Aje tidur. Tapi aromanya itu loh.. Masya Allah.. !. Menggoda iman. 😀

Di gunung, akhirnya bisa menangkis pepatah “sepiring nasi berdua”, tapi yang benar adalah “sepiring nesting berlima”. Mau gimana lagi coba. Terima sajaaalaaaah…

Malam makin larut, tenda pun sudah siap ditidur. Saya dan Aje pun masuk ke dalam tenda untuk istirahat. Kau tahu, ini sungguh sulit untuk memejamkan mata. Bahkan dipaksa sekalipun rasanya susah beneeer. Udara di musim kemarau ternyata lebih dingin. Ini sama seperti apa yang dikatakan Andi, salah satu teman yang sebelum saya pergi ia sempat mengingatkan untuk memakai jaket ganda. Walaupun jaket sudah ganda, kaos kaki ganda, Oh Tuhan, ini dingin sekali. Tangan dan kaki sungguh menggigil luar biasa. Semacam gemeter di bajaj. :p

Saya pun langsung memakai koyo di telapat tangan dan kaki, demi menghalau dingin. Namun, tetap saja dingin. Tidur berbalik kiri kanan dan kiri ternyata membuat mata terpenjara selama 2 jam.

“Gue rindu matahari”.  Sekilas mengharap sesuatu yang ironis. Jika di Jakarta saya terus bergumam cuaca ekstrim yang panas, di atas gunung saya membutuhkan matahari. Sungguh, manusia makhluk yang tidak bersyukur (termasuk saya). 😦

Di depan tenda saya dan Aje sudah bising dengan suara-suara sekelompok pendaki yang berteriak kedinginan. Saya pun menyimak dengan parau. Temannya memasak teh dan mi instan untuk temannya yang menggigil kedinginan. Padahal di sana isinya laki-laki semua. Kebayang ya, kebersamaannya seperti apa?!. Tak tergantikan.

Pukul 03.00 WIB pun tiba, kami bangun dan bersiap untuk melanjutkan pendakian ke puncak. Dengan perlengkapan yang hanya raga dan beberapa logistik yang hanya dibawa oleh seorang teman, kami melaju dengan santai.

“Kita jalan santai aja. Enggak perlu dipaksain. Kita di sini gk ngejar apa-apa, yang penting selamat”. Ujar Ka Reza sebagai pemimpin tim.

Padahal sih, di hati saya berbisik, “Duh, pengen banget gue liat sun rise”. Tapi apa daya. Ini kali pertama pendakian saya, jadi nothing to lose. Lagian juga ada misi lain yang ingin saya lakukan, yasudah seraya menghibur diri, anggaplah misi ini lebih mulia dibanding hanya melihat sun rise di ketinggial 3.019 mDPL.

Udara yang minim oksigen dan menusuk tulang, saya berjalan sedikit terseok-seok. Berkali-kali sulit bernafas. Walaupun tidak bawa carrier seperti pendakian pertama, tantangan selanjutnya adalah udara super pagi yang super dingin. Bahkan di tengah jalan, Adit sempat keram perut. Ka Reza, Bang Rizal, Edo, dan Hendri sudah melaju terlebih dahulu menjauh dari kami. Jadilah tersisa Saya, Aje, Adit, Bagas, dan Are.

“Udah aku enggak sanggup. Kalian lanjut aja”. Kata Adit sambil memegang perut meringis kesakitan.

Kedua tangannya kaku, begitu juga dengan kakinya. Pelajaran berharga, jangan pernah naik gunung dengan celana pendek, sendal gunung, tanpa kaos kaki, dan harus pemanasan sebelum mendaki.

“Adit, sakit di sebelah mananya?”. Tanya ku lekat-lekat.

“Di sini mbak, sebelah kiri. Gak apa-apa mbak, mbak lanjut aja”. Tambah Adit,

Memutuskan untuk turun dan kembali ke camp itu cukup jauh. Ibarat kata sudah setengah jalan. Pilihannya ada 2. Maju menahan sakit untuk asa, atau mundur dengan kesia-siaan. Saya melihat ada asa untuk menggapai puncak di wajah kami satu per satu. Tapi meninggalkan Adit dengan kondisi meringis kesakita seperti ini adalah kesombongan fatal bagi saya.

“Enggak mungkin dit, kita ninggalin kamu di sini. Sekarang Adit berbaring dulu di tanah nanti perutnya ditarik sama Bagas ya”. Saran saya seraya membujuk.

“Adit enggak bisa gerak mbak. Sakit banget”. Pilu Adit.

“Harus digerakin dit, Kamu keram perut. nanti dipapah”. Tambah saya.

Adit pun mengikuti saran saya. Ia berbaring di tanah. Sedang Bagas menarik perut Adit. Ini tidak lama, karena Adit menggigil kedinginan. Akhirnya Aje, mengeluarkan obat maagnya untuk diminum oleh Adit. Untunglah, di kelompok ini ada sedikit logistik. Bayangkan jika tidak ada. Saya dan Aje pun mengoleskan sambil memijit tangan Adit dengan kayu putih. Dan mengajak ngobrol Adit agar tetap sadar. Bagas mengoleskan kayu putih di kakinya. Kita pun membujuk adit untuk bertukar pakaian dengan Bagas. Mau tidak mau langkah kami terhenti untuk menunggu kesiapan Adit untuk melaju.

Di tengah-tengah menunggu kesiapan Adit, Are berinisiatif untuk mengajak senam ringan. Pemanasan ringan sebelum lanjut mendaki. Dan kita pun semua kompak melakukan pemanasan.

Setelah melakukan pemanasan, saya dan keempat teman melanjutkan perjalanan ke puncak. Langit sudah mulai memuda. Saya memapah Adit. Entahlah mengapa saya menjadi kuat memapah Adit, walau sebelumnya saya sempat tidak kuat mendaki karena oksigen dan dingin. Mental saya menjadi kuat. Mungkin inilah yang dimaksud dengan mengambil peran posisi dengan segala tanggung jawabnya. Artinya, jika ada yang lebih menderita dari pada kita, secara naluriah kita akan merasa kuat untuk melindungi. Dan kelemahan hanya ada di jiwa yang tidak mengambil peran. hm.. nice lesson.

Langkah terus berjalan, hingga di tengah jalan bertemu dengan Ka Reza. Ia pun menunjukkan jalan ke puncak, dan membantu kami untuk mendaki ketika harus menanjak.

Sesekali kami berhenti karena tidak kuat. Di sela-sela ketidak kuat-an kaki dan nafas kami, air panas yang mendidih dan sokelat serta biskuit menjadi penawar kebersamaan. Obrolan pun pecah ketika merunut masa lalu yang menjadi bahan olokan. Semacam reuni, bahwa dunia ini sempit. 😀

Setelah usia meredam lelah, kami pun melaju. Jujur, puncak Pangrango sangat jauh. Di jalan pendakian kami berpapasan dengan beberapa orang yang turun gunung. Mereka sambil berkata, “Ayo semangat. Puncak sebentar lagi”. atau “Puncak 1 jam lagi” atau lebih parah “Puncak 10 menit lagi”.

Jangan percaya lah dengan itu semua. Pemberi Harapan Palsu (PHP) semua. hahaha..

Saya pun mencoba untuk beristirahat menghirup udara sejuk di sana. Ya.. Allah duduk berselonjoran kaki dan menghirup udara sejuk sungguh nikmat dan damai. *Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan wahai manusia*

Atas tekad yang kuat untuk mencapai puncak saya pastikan untuk terus melangkah. Otot lengan, betis, dan paha benar-benar bekerja kali ini. Cukup Ekstrim.

Puncak yang entah sampai kapan dijajaki, kini perlahan nyata dilihat. Kami pun sampai di puncak dengan selamat. Banyak pendaki di sana. Walaupun jalan daki kami tidak terus menanjak, kami memutari jalan untuk sampai puncak, tapi tetap saja sampai juga di puncak. Tapi lain waktu saya akan coba untuk benar-benar menanjak. 😀

Sampailah Mandala Wangi..

Dekat puncak ada tempat yang terkenal yakni Mandala Wangi, di mana banyak hamparan edelweis di sana. Saya pun ikut menikmati pemandangan. Karena lelah, saya pun tertidur pulas di bawah hangatnya Matahari dan di atasnya pepasiran. Sebelum tidur saya sempat mewujudkan misi, yakni berfoto sambil membawa tulisan.

100_4245

 

Ucapan untuk Ayah tercinta di rumah untuk 25 Oktober nya. Perjuangan mendaki ingin saya buktikan bahwa keringat ini, tekad kuat ini sedikit saya persembahkan untuk laki-laki hebat yang sudah menjadi pelindung di setiap hati yang lara. Mungkin Saya belum bisa memberikan segelanya untuk dirinya, tapi langkah ini langkah yang mengisyaratkan keseriusan saya untuk memberikan segalanya jauh lebih berharga walaupun harus saya relakan diri ini nantinya. 🙂

Oke, lanjut ya..

Sebelum turun saya dan ke-8 teman, mencoba narsis dengan berbagai gaya. Lihat ini ..

IMG-20141020-WA014

Dari kiri belakang (Hendri,Bagas, Aje, Are, Bang Rizal). kiri depan (Ka Reza, Saya, dan Adit), Edo?!. Doi yang motoin.. 😀

IMG-20141020-WA018

Dari kiri (Edo, Aje, Bagas)

IMG-20141020-WA029 IMG-20141020-WA032 IMG-20141020-WA037 IMG-20141020-WA051 SAM_0330 100_4255 100_4250 100_4257 IMG-20141020-WA038

 

Setelah dzuhur, kami bergeas turun gunung. Perkara turun gunung pun tidak mudah. Lutut harus senantiasa kuat menahan agar tidak terperosok jauh. Seperti biasa, kelompok kami terpecah menjadi 2 kelompok. Kelompok kedua, yakni Saya, Aje, Adit, Bagas, dan Bang Rizal. Setiap ada turunan, saya melakukan atraksi perosodan. Huaaa.. ini menyenangkan. Melewati tebing yang belum pernah saya bayangkan, awalnya menakutkan, tapi sekarang nagih untuk ke sana lagi. hahahaha…. :p

Bahkan jatuh akibat bergelayutan di batang pohon pun saya alami. Atuhlah, semua anak-anak pada ngakak liat gue jatoh. Dasaaaar sampeeeeuuuu !!.

Tapi jika itu, menjadikan cerita menarik di antara kita, sih enggak apa-apa lah. 🙂

Di perjalanan segala obrolan tumpah tanpa gengsi. Segala rahasia kini jadi rahasia umum semua. Bayangkan di bawah langit yang sama, di jejak yang sama dalam waktu singkat kami sudah tahu rahasia masing-masing. haha..

Sampai di camp, tanpa jeda kami pun bergegas packing. Kira-kira setengah empat kami lanjut menelusuri perjalanan turun. Jalur pendakian yang sudah kami lewati pada malam hari ini, akhirnya terlihat juga. Terutama ketika melintasi bebatuan air panas. Tiba-tiba rasa takut menghampiri di pikiran, ya takut jatuh lah, takut panas lah, dan bla bla bla. Masalahnya ketika pendakian malam, saya tidak melihat ada jurang di bawahnya. Ketika harus melihat nyata dalam mata, gonjreeeeeeng !!!!!!. Serem coy !.

Kaki tiba-tiba enggak bisa digerakkin. Entah apa yang dipikirkan para antrean pendaki di belakang. Mungkin mereka berpikir, “Ni cewek lama amat sumpah”. :p

Alhamdulilah, ada bang rizal. Dia mau membantu saya dan Aje. Tapi kalau dipikir-pikir, rintangan batu air panas itu enggak susah-susah amat. Saya nya aja kali ini yang lebay. Tuh kan jadi nangih ke sana lagi. Haduuh gimana ini?!.

Perjalanan turun kembali berlanjut, tidak lama turunlah gerimis. Tapi tidak lama. Langit mulai gelap. Perlu diingat head lamp penting dalam pendakian. Kalau tidak kaki mu akan terkilir, macem saya ini. Kontur bebatuan yang tajam mengahruskan kita memakai sepatu dan penerangan. Karena itulah, saya harus dipapah oleh Bang Rizal untuk sampai pos pertama. Tapi akhirnya sampai juga kan di pos pertama dengan selamat. Alhamdulilah…

Satu hal yang menjadi rasa syukur di Pangrango selain udara dan keheningan sunyi, ada aliran air yang segarnya tiada tertandingi. Murninya mata air di sana, lagi-lagi harus kita syukuri bahwa Allah menciptakan sesuatu begitu berharga. Maka dari itu, ayo jaga hutan di Indonesia. Cintailah lingkungan untuk tidak buang sampah sembarangan. Karena tatanan mereka sudah begitu apik, untuk keseimbangan hidup manusia.

Banyak pelajaran berharga selama perjalanan pendakian. Di sana, kita jadi banyak belajar bagaimana menilai seseorang. Menahan ego. dan perang melawan ketakutan yang sebenarnya hanya kamuflase. *tsaaaah*

Sampai ketemu lagi Pangrango…!!

Adioos..

Bekerja untuk Hidup, Bukan Sebaliknya !

 

Kira-kira, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat enggak ya?!.

Jawabannya, tentu iya.

Seminggu sudah, badai itu berlalu. Hari-hari muram terkapar lemah di rumah sakit akhirnya berlalu juga. Siapa sangka, saya yang begitu terkenal dengan pola hidup sehat di kalangan teman kantor, harus terdiagnosis demam berdarah dan harus mendapatkan penanganan khusus di rumah sakit (baca:opname). Jadi ketika itu, sepulang kantor pukul 21:00 wib saya tiba di rumah dengan konidisi lemah demam menggigil. Memang sebelumnya, sekitar tiga hari lalu saya sedang tidak enak badan diakibatkan datang bulan. Tapi, malam itu sungguh berbeda. Tubuh tiba-tiba meriang tanpa sebab, wajah saya pucat. Saya sempat bilang ke Ibu saya, bahwa ada yang tidak beres dengan tubuh saya malam itu. Namun Ibu saya hanya memberikan saya segelas susu dan menganggap hanya kelelahan.

Malam tiba, sekitar pukul 3 buta, saya menggigil dan mencoba berpindah tempat kamar tidur ke tempat adik saya, Nada. Tidak lama, adik saya terbangun dan terkejut karena tingginya suhu tubuh saya.

“Mamah !!. Mamah !. Ka Kantri badannya panas banget !”. Teriak adik saya dengan tidak santai.

Akibat ketidak santaian dari teriakan Nada, seluruh orang rumah menjadi panik. Orang tua saya langsung bangun, begitu juga dengan kakak saya. Tidak lama, Mamah langsung mengambil termometer dan mengukur suhu saya yang ketika itu, 39,5 celcius. Papah saya, segera mengambil kompres air dingin dan mengambil sebotol air hangat untuk disodorkan ke mulut saya.

Anehnya, keadaaan genting semacam itu, saya masih sempat membuka laptop untuk mengirimkan pekerjaan kepada bos saya dan me-update status di bbm tentunya. 😀

Pagi itu semua hampir panik, tanpa menunda apa pun, Ibu saya mencoba menanyakan kepada tetangga yang tidak lama dirawat karena demam berdarah. Kebetulan rumah beliau berhimpitan dengan rumah kami. Menunggu Ibu saya yang sedang bertanya ini itu, saya pun mencoba bertanya kepada teman saya yang seorang dokter. Ia bernama Yopi. Yopi teman semasa putih biru yang cukup dekat dengan saya. Ia salah satu lulusan pendidikan dokter di Universitas Diponegoro Semarang.

“Yop, gue demam. Tubuh gue panas, pusing, lidah pahit, badan gue greges-greges, kira-kira kenapa ya?”. Kira-kira begitulah isi percakapan bbm saya dengannya.

Yopi, yang biasanya sangat lama membalas bbm saya karena kesibukkan jaga di klinik, kali itu ia membalas dengan cepat, “Lo demam itu, kemungkinan tipus. Coba minum paracetamol 100mg saja. nanti kalau demamnya 5 hari enggak turun-turun baru cek darah”.

Yopi adalah dokter pribadi nan kilat di dalam hidup saya. beruntunglah, punya teman baik seperti Yopi, di saat saya sakit mulai dari cuman gatel-gatel sampai pada sakit karena PMS, Yopi teman yang cukup telaten memberikan saya rekomendasi tindakan pertama. Adiooss Yopi..:)

Kembali ke cerita..

Dengan sempoyongan saya mencoba mencari paracetamol di kotak obat, ternyata tidak ada. Ketika sedang sibuk mencari, Ibu saya datang bersama seorang Ibu-ibu di komplek saya. Beliau bernama Tante Hani. Tante Hani datang membawa bantuan untuk membuatkan saya BPJS.

“Insya Allah, kalau dibuat sekarang, BPJS bakalan jadi cepet”. Kata Tante Hani yang tiba-tiba menjanjikkan BPJS. Saya tidak berkomentar apa-apa, karena pada saat itu saya hanya melihat Ibu saya yang sedang memberikan beberapa lembar nominal rupiah kepada Tante Hani.

“Tolong ya Han, kali aja bisa gratis”. Ujar Ibu saya sambil menutup kembali dompet warna cokelat kulit itu.

Tidak lama, saya pun dipinta foto copy ktp dan foto 3X6 cm, lagi-lagi tanpa berbicara saya hanya mengikuti saja. Kira-kira 3 menit kemudian Tante Hani pun melaju dengan tergesa-gesa.

“Mah, tante Hani mau ngapain?”. Tanya saya kemudian setelah Tante Hani tak terlihat di depan pandangan.

“Itu, mamah suruh bikinin BPJS buat kamu. Absinya, dari kemaren mamah suruh kamu buat BPJS enggak di waro. Coba liat sekarang, udah sakit bingung kan?. Kali aja bisa gratis. Itu Ibu Tati katanya pake BPJS gratis, kan lumayan.”

Mendengar ucapan Ibu saya, saya hanya bisa tertegun diam. Diam karena tidak paham, dan diam karena pusing dan lemas tentunya. Tidak lama saya, Ayah dan Ibu saya ke rumah sakit negeri di daerah Jakarta Selatan. Rumah sakit yang terkenal dengan rumah sakit rujukan pasien-pasien BPJS atau KJS atau pelayanan gratis sejenisnya itu ternyata sangat penuh. Saya datang ke poli umum dengan antrean yang cukup panjang. Walau pada saat itu, saya tidak menggunakan BPJS.

Selang 1 jam menunggu, saya pun menghadap dokter umum dan diperiksa. Dokter itu, tidak mendiagnosis saya demam berdarah, beliau hanya bilang, “Ini karena virus”. Karena Ibu saya panik, jadilah keluarga kami lah yang meminta untuk cek darah di laboratorium. Menunggu hasil lab darah yang luar biasa lama sekali. Jadilah, hasil lab itu hanya dapat kami baw apulang tanpa melakukan konfirmasi ke dokter umum tadi.

Tiba di rumah, saya mulai demam. Suhu tubuh naik turun, dengan kepala yang pusing. Saya mencoba menanyakan kepada Yopi, dan Yopi masih menganggap saya tipus. Tapi tubuh saya makin hari makin tidak enak. Seluruh tubuh kian sakit bahkan disentuh sekali pun, saya bisa jerit-jerit layaknya digebukin orang se kampung.

Melihat penderitaan itu, Ayah saya mengompres saya, dan memberikan saya sari kurma. Ayah saya tidur di samping saya sambil mengusap-usap kepala saya. Begitu juga dengan Ibu saya. Ibu saya mengompres kepala saya, sedangkan Ayah saya mengompres kaki saya. Saya pun segera meminum obat yang diberikan dokter umum tadi. Dan tidak lama panas saya menurun hingga pagi hari.

Pagi hari saya masih di rumah dengan kondisi lemah, namun suhu tubuh menurun 37 drajat celcius. Ayah saya kini berperan sebagai perawat saya di rumah. Ia memasak bubur dan menyuapi saya dengan telaten. Pukul 15;00 keadaaan saya lemah lagi, Ayah saya panik dan menelpon Ibu saya untuk berkordinasi membawa saya ke IGD. Akhirnya, tidak lama Ayah saya mengeluarkan mobil dan kami pun melaju ke IGD di rumah sakit yang sama pada hari sebelumnya. Setiba di IGD saya terkejut banyak pasien di sana sini. Saya mulai pusing. Lagi-lagi saya harus mengambil darah di lab, dan hasilnya belum dipastikan DBD. Justru saya dianjurkan untuk cek lab lagi keesokan harinya. Keesokan harinya, saya kembali ke IGD rumah sakit itu, dan hasilnya sama.

Tiga kali berturut-turut saya datang kondisi yang sama, menunggu di IGD adalah hal yang memuakan bagi saya. Bayangkan saya harus menunggu 4 jam untuk mengetahui hasil lab darah saya, melihat keriuhan saya tak kuasa menahan sakit, saya pun memeluk Ayah saya.

“Pah, aku enggak kuat. Kantri enggak mau di rumah sakit ini”. Ujar saya sambil menangis. Melihat saya yang lemah tak berdaya, Ayah saya cukup terlihat pucat, Ibu saya terlihat panik. Akhirnya Ia menelpon kakaknya untuk meminta pendapat, dan jadilah saya dilarikan di rumah sakit lain di JMC.

Sampai JMC saya langsung ke IGD, mendapat infus. Di ruangan yang lagi-lagi berisi berbagai orang kecelakaan membuat saya harus rela merem sepanjang saya duduk di kursi roda. Tidak menunggu lama, saya dibawa ke kamar lantai 5, dan di ruangan itulah saya diputuskan untuk dirawat inap. Malamnya, saya hanya bersama Ibu saya, sedangkan Ayah saya harus pulang karena beliau ternyata tidak enak badan. Malam harinya saya mual, pusing, demam, dan muntah sangat dahsyat.

Perawat berkerumunan di kamar saya. Malam itu, dokter yang harus menangani saya sedang tidak ada. Akhirnya saya disuntik entah apa yang ada di dalam suntikan itu, yang saya ingat saya tertidur pulas hingga pagi hari.

Paginya, saya masih lemah, dan demam. Saya masih melihat Ibu saya yang juga lemah tertidur di sofa. Lengan saya sudah ada kapas dan plester, Oh rupanya saya sudah diambil darah oleh perawat. Hingga sore hari trombosit saya menurun. Setiap malam, saya harus keringat dingin dan muntah. Belum lagi menahan tubuh yang sangat sakit.

Saya bahkan mengingat mati saat itu. “Yaa.. Allah, jika hari ini saya harus mati, matikan saya dengan kondisi tidka menyedihkan seperti ini”.

Ketika itu, saya dijaga oleh bibi Neni (Adiknya Mamah). Sedangkan Mamah, harus menjaga Papah yang juga sednag demam tinggi di rumah. Terpikirkan oleh saya, kondisi Ayah saya. Karena sakit dan kondisi yang membuat saya pusing, saya pun menangis. Sampai-sampai Bi Neni pun ikut menangis.

“Sabar ya dek.. Allah lagi nguji adek”. Ucap Bi Neni sambil mengusap rambut saya.

“Bi, Kantri bisa sembuh kan?. Kantri enggak mau mati sekarang”. Ujar saya lirih.

Setiap hari saya harus mendengar trombosit saya yang selalu menurun. Walaupun lemah tak berdaya, setiap hari selalu ada mereka yang datang menjenguk. Mulai dari teman-teman kantor, teman main, sahabat, saudara-saudara, dan teman-temannya Ibu saya tidak pernah absen datang ke kamar 504 itu.

Bahkan, kedatangan mereka tidak henti-henti ketika saya sudah tidak di rumah sakit. Mereka menghibur saya, terlebih ketika sekumpulan sahabat-sahabat Ibu saya datang menjenguk, hingga satu orang di antara mereka ada yang tiba-tiba meramal saya. “Nih, ada nih yang serius sama elu 1 orang, tapi elunya masih belum yakin”.

Mendengar itu, saya tertawa lepas. Entahlah apa itu, saya hanya anggap hiburan saja, kedatangan mereka seolah mengajak saya untuk melupakan trombosit saya yang terus menurun. Mereka pun mendoakan saya secara berjamaah.

“Allah, terimakasih atas ukhuwah ini…..”

Saya harus mengucapkan syukur atas kesehatan yang sudah Allah kasih kepada saya hingga saat ini. Kemarin, mungkin saya memang benar-benar diuji. Rejeki Allah luas, kemarin saya tidak menggunakan BPJS. Saya menggunakan asuransi kesehatan saya lainnya, dan mungkin memang ini cara terbaik membersihkan diri ini dari dosa. Sedekah untuk tubuh sendiri.

Rasa syukur juga teramat karena memiliki keluarga yang sayang dan sangat baik kepada saya. Mereka tidak putus-putusnya menanyakan keadaan saya. Kedua orang tua yang masih sigap memapah anak gadisnya yang berusia 25 tahun. Atau Bi Neni yang luar biasa baiknya kepada saya. Doa dari teman-teman dan sahabat yang membuat saya sabar melewati masa suram itu.

Cukup sudah menyia-nyiakan tubuh sehat ini. Karena ternyata banyak banget kerugian selama seminggu yang sudah saya habiskan dengan percuma. Bahagia itu sangat mudah, hiduplah dengan sehat dan tidak menyia-nyiakan tubuh mu dengan hal yang sia-sia dan merugikan.

Kita mungkin lupa dengan hakikat dari hidup. Saya sadar, saya adalah orang yang mencintai pekerjaan saya dan profesi saya, namun ternyata mencintai pekerjaan berlebihan juga akan merusak kesehatan tubuh, karena pada hakikatnya bekerja untuk hidup, dan bukan hidup untuk bekerja.

Mulai dari sekarang, jangan lupa makan, jangan lupa air putih, jangan lupa buah, jangan lupa sayuran, jangan lupa olah raga, dan terus positif berpikir.

Badai pasti belalu, selamat datang hari baru….!!

Jimat Si Ibu

 

 

Sore itu, tepat di hari kedua lebaran, saya dan keluarga bersilaturahmi ke sanak saudara di daerah Cibatu, Garut Jawa Barat. Kebiasaan ini sudah sering dilakukan ketika masa-masa lebaran tiba. Maklumlah, Cibatu adalah kampung halaman Ibu Saya. Walaupun, saat ini orang tuanya (kakek nenek saya) sudah tidak ada, tapi tanah kelahiran sulit dilupakan. Tidak hanya bagi kami, bahkan saudara kami yang tinggal di Jakarta atau kota-kota lain sulit melupakan kampung kecil ini.

Kampung kecil yang memiliki cerita menarik masa kecil ke-20 cucu Aki Kosasih itu sungguh menarik untuk selalu kami ingat. Jika dahulu kami sering berkumpul di rumah panggung yang terbuat dari bilik bambu dengan air pancuran langsung dari gunung yang super dingin dan sejuk, atau bermain layang-layang di sawah dan rela berkotor-kotor karena harus berebutan layang-layang putus di lumpur sawah, mungkin ada lagi kebiasaan panjat pohon jambu kelutuk yang berdiri melengkung di depan rumah Aki, dan yang paling fenomenal kami ingat hingga saat ini adalah menunggu kereta delman Mang Enda (tukang delman langganan) semasa itu yang selalu kami cari ketika ingin muter-muter kampung kecil ini dengan kuda berwarna putihnya.

Bagaimana kami bisa lupa akan syahdunya pertemuan keluarga semasa kecil, pertemuan para sepupu yang segambreng itu, tumpah pada saat malam tiba. Kami semua tidur beralaskan tikar dan berubinkan bilik anyam bambu yang dingin dengan bau khas dari asap tungku dan corong bambu dari dapur. Saya ingat betul, ketika itu saya masih berusia 4 atau 5 tahun-nan tidur bersama di rumah panggung itu, dengan mengenakan jaket dan kaos kaki karena suhu yang sangat dingin. Maklumlah, depan rumah Aki adalah pegunungan yang jika dilihat cukup memberikan imajinasi menarik di pandangan anak kecil seusia saya ketika itu,

Pegunungan yang terlihat biru dengan bentukan liuk-liuk tubuh yang kekar serta ditumbuhin rimbunnya pepohonan seolah membentuk aneka bentuk liku tubuh binatang pada sisi tubuh pegunungan yang biasa disebut dengan Gunung Sawal dan Sancang. Bahkan saya masih ingat, saking polosnya, saya pernah berimaji setiap pagi, bahwa binantang-binantang itu akan berkumpul di Gunung itu dan mungkin akan berlari ke sana kemari, dan saya berdoa agar binatang itu tidak ke rumah Aki. 😀

Tidak hanya sampai di situ, jalur Kereta Api di Cibatu adalah tempat yang selalu saya rindukan. Dahulu, kami ketika ingin berkunjung ke Cibatu, kami selalu naek kereta api dan berhenti di Stasiun Cibatu. Kereta Api berlokomotiifkan senja utama itu, menawarkan gambaran menarik di kesan saya. Mulai dari terowongan panjang yang gelap, loko resto yang selalu saya kunjungi walau hanya membeli semangkok mie instan, dan angin semeriwing ketika kaca jendela pintu dibuka. Itu baru ketika menaiki kereta, bahkan setelah sampai di Cibatu pun, setiap sore saya selalu berlari menuju pinggir rel kereta api untuk melihat kereta api melewati dengan suara yang khas, dan apa yang terjadi, saya melambaikan tangan sambil bilang, “Dadah dadah dadah…”.

Aduh, rasanya ingin ketawa guling-guling kalau ingat masa kecil seperti itu.

Sekarang, kereta api menuju Cibatu sangat jarang. Terlebih moda transportasi kami sekarang sudah beroda empat, jadilah kami tidak pernah naik kereta api apabila ingin mudik. Padahal, masa kecil saya dan semua sepupu saya tumbuh dan berkembang dengan kesan menarik dari Kereta Api. Tapi, tidak apa. Apa pun yang berkembang saat ini harus disyukuri. 🙂

Perjalanan saya selanjutnya adalah melewati daerah yang awalnya saya tidak tahu. Tepatnya, kami mencari jalan alternatif untuk menghindari macet di daerah Wanaraja. Jalan ini berada di sebelah kiri ketika pertigaan persimpangan pertama jalan menuju terminal Guntur. Jalannya sudah beraspal, tidak terlalu lebar, namun sungguh indah apabila dilalui dengan sepeda. Di jalan sebelah kiri akan ada danau dengan beberapa rakit serta perahu sampan. Airnya jernih, banyak pepohonan di sepanjang sisi danau tersebut. Lanjut jalan lagi, tidak lama, di sebelah kanan saya, muncul lagi danau yang mirip dengan sebelumnya. Tak sadar saya mendecak kagum. Ternyata tidak hanya saya, tetapi seisi mobil kali ini juga terpana. Bahkan banyak juga yang berkata, “Kok kita baru tahu ada tempat seindah ini ya?!”.

Tidak ada sampah yang berserakan, dan cukup tertata rapih. Kendaraan kami pun masih melaju, hingga kami menemukan Situ, yang biasa disebut Situ Banggendit. Kali ini Situ yang terkenal dengan cerita rakyatnya adalah obyek wisata yang selalu ramai di hari libur. Sayang sekali kami belum bisa melimpir ke sana. Tapi suatu saat, saya akan menjelajahi tempat ini dengan sepeda. Hm..kayaknya seru.

Tidak lama, saya baru ingat dengan cerita di balik Situ Banggendit. Bukan cerita rakyatnya, tetapi cerita seorang Ibu yang tidak sengaja duduk sejajar di Bus Primajasa tujuan Jakarta-Garut denga saya. Kebetulan pada saat itu, saya sedang sibuk mengurusi skripsi di Unpad Jatinangor.

Sepanjang jalan, Ibu itu bercerita bagaimana kisah anak-anaknya yang berjuang mendapatkan beasiswa hingga S2 dan kini sudah sukses di Jakarta. Ia pun bertanya tempat tujuan saya, sekolah saya, pekerjaan saya, dan usia saya. Ketika Ia mendengar usia saya, ia langsung terkejut. Kira-kira responnya dengan Bahasa Indonesia seperti ini,

“Aduh Neng, anak ibu yang perempuan teh lebih muda dari Neng. Lahir tahun 90”.

Ia terkejut, karena saya belum menikah sedangkan anaknya sudah menikah dan sudah memiliki satu anak. Ya.. saya sih mesem-mesem aja.

Terus, Ibu itu bercerita bagaimana anak perempuannya pernah mendapat beasiswa kuliah ke Jepang dan bekerja di sana. Tetapi, Akhirnya anak perempuannya tidak jadi pergi ke sana.

“Pernah anak Ibu dapet beasiswa sekolah sama kerja di Jepang waktu itu. Anak Ibu mah pinter. Itu, padahal udah siap berangkat di bis Neng. Eh dasar Ibu mah ya, bodoh pisan. Tiba-tiba teh, nangis gogoleran ciga barudak hayang maenan (nangis di tanah kayak anak kecil minta maenan). Jadi weh, si Teteh teu jadi pergi. Ibu nyesel nya mah sekarang”.

Saya hanya mendengar dengan sambil mesem-mesem lagi.

“Sekarang anak Ibu kerja di mana?”, Tanya saya kemudian.

“Di carefour Lebak Bulus”. Jawabnya lirih. “Karena kerja di sana, eh dapet orang yang kerja di carefour juga”. Tambahnya.

Ia menanyakan kembali, jurusan kuliah yang saya sambil. Ketika saya menjawab dengan serius, tiba-tiba Ia menoleh ke arah saya sambil berkata, “Hm..ari Neng, teh geulis nyak, Manis ciga teh Dede (Hm.. Neng cantik ya, mirip teh Dede)”.

Widiww.. saya yang tadinya bercerita semangat tentang kuliah saya, saya langsung kaku karena dibilang manis. hahaha..

“Aduh, Ibu makasih pisan. Saya jadi dipuji gitu”. Ujar saya dengan pipi yang mungkin merah merona malu.

Dan benar saja, si Ibu itu bercerita tentang Teh Dede, ponakannya yang orang Cibatu yang tinggal di Qatar, dan menikah dengan orang Arab. Di sana, ia sangat kaya. Bahkan, memiliki beberapa rumah di daerah Garut.

Obrolan kami pun terus berlanjut hingga Ibu itu menceritakan pekerjaan dirinya yang sebagai penjual baju kredit keliling kampung di daerah Situbanggendit. “Rumah Ibu caket etha ti dinya (Rumah Ibu deket di situ). Mampir atuh Neng kapan-kapan”.

Di tengah perjalanan saya menuju Cibatu sore itu, saya kembali menahan geli ketka ingat, obrolan ketika saya dan Ibu itu di Bus Primajasa. Ia tiba-tiba mengeluarkan secarik kertas bertuliskan huruf Arab gundul yang membentuk suatu lambang yang saya tidak tahu lambang apa itu. Ibu itu kemudian, membuka sambil mengumpat kertas itu agar tidak terlihat oleh orang lain

“Neng, ini teh jimat (Neng, ini tuh jimat)”.

Mendengar ucapan Si Ibu saya langsung tertarik. “Jimat apaan bu?”

“Ini jimat agar dilancarkan segala urusan. Yang lagi buka usaha agar lancar, yang lagi bekerja di kantor agar banyak rejeki, atau nih kayak Neng, lagi skripsi, bisa nih agar dilancarakan. Agar dosennya jadi cepet ACC. Atau Neng cepet dapet jodoh. Agar bisa memikat”

Lagi-lagi ucapannya bikin saya tertarik, “Coba liat bu, itu doa apaan bu?.”

“Ini teh Jimat. Neng mau?!. nih, Ibu kasih ini asli dari Arab. Ibu mah, masih ada di rumah. Si AA juga simpen ini di tokonya, eh alhamdulilah laku. Dilipet aja neng, taro di dompet”.

Waduuh, syirik ini mah, gumam saya dalam hati. “Oh, kirain saya ini dibaca bu. Enggak deh bu, makasih. Saya takut musyrik”.

“Bener Neng enggak mau?”. Lagi, Ibu itu meyakinkan saya sekali lagi.

“Enggak bu, terimakasih”. Tolak saya, masih sambil mesem-mesem.

Aduh, sayangnya saya tidak tanya alamat si Ibu itu. Coba kalau saya tahu alamatnya, pasti saya akan tahu kisah-kisah lain yang biasa ia sebut jimat itu. hahaha..

Ternyata, masih ada loh yang seperti itu. Naudzubillah. Banyak hikmah yang didapat dari cerita itu. Banyak simpulan yang bisa diuntai satu persatu. Ternyata dakwah, itu perlu disebar hingga ke pelosok. Karena besar kemungkinan memang masih banyak masyarakat yang masih percaya dengan hal syirik tanpa paham ilmunya. Itu sebabnya mengapa Islam mengajarkan untuk menyampaikan kebenaran walau hanya 1 ayat.

Di balik keindahan alam yang telah Allah berikan kepada kita manusia, akan rusak dengan ketiadaan ilmu untuk mensyukurinya. Cara bersyukur adalah, tidak menjadi perusak bumi. Sangat disayangkan jika kita masih menduakan Dia yang jelas-jelas telah memberika keberkahan dalam hidup.

Semoga kita jauh lebih baik..

Adioss..

 

Misi Hampir Selesai

Di tengah pemberitaan pilpres, atau di tengah panasnya emosional gegara serangan Israel  terhadap Palestina di Jalur Gaza, saya harus mengucapkan rasa syukur atas segala hasil dan upaya mewujudkan misi-misi hidup yang semakin nyata.

Perjuangan yang membuahkan hasil (InSyaa Allah), itu semakin dekat semakin nyata. Pasalnya investasi bisnis yang sekarang saya rintis, dengan kumpulan uang pendapatan dari kerja per bulan, Ternyata berwujud juga. Berkat hidup prihatin, menahan godaan ini itu, akhirnya bisa juga nyicil rumah untuk dijadikan guest house. Awalnya, memang ditalangin dari uang orang tua, tapi alhamdulilah sudah bisa menyicil sedikit demi sedikit, hingga sekarang sudah cicilan kelima.

Ada hal yang membuat saya senang lagi adalah, satu persatu interior rumah, hampir jadi. Hm.. baru kitchen set, kamar mandi, dan tempat tidur sih, hihi..

Tapi tak apalah ya, untuk lemari , kulkas, televisi, sofa, kursi bar, Insyaa Allah menyusul. Ternyata, merintis dari nol itu luar biasa indahnya. Inget banget lah pesan dari orang tua, bahwa berinvestasilah selagi muda. Nah motivasi itu, yang membuat saya jadi getol banget ngumpulin uang untuk inves sana sini, dan bisnis penginapan adalah salah satunya.

Semoga segalanya dimudahkan Yaa Allah.. aamiin..

Hamasah kant !!

IMG-20140713-00581

Kitchen set yang hampir kelar.. 😀

IMG-20140713-00583

Dalam Rumah

IMG-20140713-00584

Kamar Mandi 1 (yang satu lagi jangan difoto, :-p)

IMG-20140713-00585

dalam rumah

 

 

Gadis itu Bernama Kamila

Kembali saya lihat wajahnya yang lugu di pojok peron 2 tujuan Cawang-Bogor. Kali ini ia berbaju biru pudar, dengan jilbab setengah dada. Tas tidak berukuran besar yang sepertinya tidak berat itu terlihat menggantung menutupi dadanya. Perlahan ia berjalan dengan santai. Tubuh kecil dan pendek itu ada di tengah kaum dewasa yang selalu lelah dengan rutinitas. Namun tidak untuk dirinya. Gadis kecil yang selalu ditemui sepulang kantor.

Kali pertama melihatnya, tidak ada rasa beda. Akan tetapi dua tiga hari selanjutnya, nampaknya ia selalu saya lihat di stasiun. Menggunakan seragam yang tidak selalu sama. Tetapi tas yang selalu serupa dilihat setiap hari. Keinginan saya untuk menopang diri dalam satu tempat duduk panjang bersamanya pun kuat melaju dalam hasrat.

Kulit sawo matang khas asia, serta alis yang tebal, dan pipi yang menggemaskan ada di samping saya persis. Hingga akhirnya saya tahu Kamila, namanya. Suara lembut dari anak kelas 4 sekolah dasar itu begitu memipih sendu di sanubari. Topangan tas ransel berwarna pink dengan motif barbie itu terus ia pegang. Seakan tidak ingin kalah dengan kaum dewasa, bahwa ada budaya khusus menopang tas ransel ketika menaiki kereta listrik, dia pun bisa.

Obrolan kami tidak sebatas nama, saya pun mengakar pada pertanyaan yang ingin saya ketahui jawabannya. Kemudian, siswi salah satu sekolah islam terpadu di jakarta itu menjawab dengan sangat santai. Ia sama sekali tidak takut dengan orang asing yang baru ia kenal saat itu. Ya, saya makhluk asing dalam wacana. Namun bukan dalam mata. Kami sering bertabrakan mata. Ia sadar bahwa ada sosok yang apik memperhatikannya tiap sore.

Langit kami begitu sendu di makan waktu. Kian lama, kian nyata dalam gelap. Mereka yang berdiri, sudah hilir mudik masuk dan keluar kereta. Tidak dengan kami. Kami hanya duduk dan terus berbincang. Walau sesekali berharap ada duduk di gerbong terakhir. Tapi sayang, itu tidak mungkin. Kami tahu itu. Atau seperti halnya dengan kami, kamila sering menggigit bibir, karena tak ada jatah duduk di sana.

“Kamu setiap hari pulang seeprti ini, dek?”. Tanya ku dengan seksama.

“Iya tante”. Singkat jawabnya dengan senyum.

Dan akhirnya saya tahu, bahwa rumahnya cukup jauh dari tempat di mana sekolahnya berada. Lenteng Agung, itulah rumahnya. Ada anak kecil sekolah 4 SD, yang setiap hari harus berjuang mencari duduk di sebuah kereta listrik rasanya, ingin saya peluk ia. Dan sambil berkata, “Sabar ya dek, Aku dulu seperti mu”

Masa muda diisi dengan jangkauan jarak yang tidak lumrah di jamah bagi seumurannya. Tidak ada lelah. Hanya ada kesenangan mengisi hiburan di luar dunia pribadi yang hanya bisa menjawab salah benar, mau dan tidak mau. Di saat anak-anak lain sudah duduk manis di depan televisi ataukah sudah mulai membuka buku pelajaran dan mengerjakan pekerjaan rumah, gadis ini mungkin baru keluar dari desakan orang dewasa di dalam kereta listrik.

“Emangnya enggak pernah dijemput mamah atau papah?” . Tanya saya kemudian.

Sambil memegang tiket sekali jalan berwarna putih, Kamila pun menjawab, “Nanti dijemput mamah di stasiun lenteng agung”.

Serasa ingin menanyakan lebih lanjut, tapi nyatanya saya tak kuasa lebih jauh. Alhasil, saya hanya mengalih topik lain. “Udah berapa lama kamu pulang sendiri, dek?”

“Dari kelas 3 SD, tante. Kan, papah waktu itu masih bisa nyetir. Aku jadinya sering dijemput”.

“Oh iya?!. Papah sekarang udah gk bisa nyetir ya?, makanya kamu pulang sendiri?”.

“Papah aku kakinya sakit. Kata mamah, udah enggak bisa nyetir mobil”

 

Yaa..Allah entah apa yang terlintas dengan asumsi di pikiran saya. Sekali lagi, Ingin rasanya memeluk gadis ini.

Kereta pun, tiba dengan kondisi yang hampir sama. Selalu penuh dengan penumpang. Saya pun mencoba memegang erat tangan Kamila. Kami pun masuk ke dalam gerbong khusus wanita. Tidak mudah berhimpit satu sama lain mencoba memasukkan tubuh ke dalam kerumunan orang-orang. Tapi, Kamila patut saya aperesiasi lebih dalam hati. Ia sudah terbiasa dengan seperti ini. Walau tubuhnya harus terjepit dengan orang-orang besar. Ia mencoba menerobos celah-celah kosong sisa himpitan tubuh orang dewasa. Bahkan saya sempat terpisah jarak jauh ketika berdiri.

Tidak lama ketika melewati stasiun Lenteng Agung, saya mencoba melacak keberadaannya. Kamila pun sudah tidak ada di gerbong ini. Mungkin ia sudah turun dan bertemu Ibunya.

Saya dan Kamila ibarat pantulan cermin yang dapat dilihat ada beberapa persamaan dalam diri kami. Walaupun berbeda dalam hal cerita, tapi jiwa kami seperti bercermin satu sama lain. Kamila kecil, Kantri kecil. Ketika jiwa dilanda kegamangan, Allah memberikan Kamila dalam hadapan singkat saya. Perjuangan meraih mimpi, bukan dilakukan dari selepas lulus kuliah, tetapi jauh dari ini. Jauh ketika saya harus pulang malam karena harus les bahasa Inggris atau mengikuti kursus bimbingan belajar. Berangkat subuh, pulang malam.

Ingin bertindak seperti gadis perempuan layaknya, namun pada kenyataannya sisi kanak-kanak tidak lah cukup menjalani hari-hari perjuangan kala itu. Ada kedewasaan yang tanpa sadar sudah kami tunjukkan di hadapan semua orang. Tubuh kami boleh tidak setinggi mereka. Tapi jiwa kami, tidak kalah dengan mereka.

Dear Kamila, Saya tidak tahu apakah bisa bertemu dengan mu kembali atau kah tidak. Tapi, jika pertemuan kita saat itu adalah petunjuk bagi saya ataukah untuk mu dari Allah, maka saya ingin ucapkan terimakasih. Dan jika takdir mempertemukan kita kembali, ingin rasanya bercerita tentang perjuangan saya di waktu seperti mu. Agar kau yakin, tentang perjalanan hidup yang senantiasa membentuk karakter mu kelak. Semangat !!

Konsep Kolonialisme dalam Perang Dialektika

Cukup sudah hari ini berbicara mengenai ekonomi dan polemik global era Montesque. We’re stand on the right possiton, eventhough we were known those evil would be our enemy, anytime. Yeah just some our assumes. Disguisting!

Sore ini lelah, berjam-jam berbicara mengenai aspek pemasaran regional, politik luar negeri, krisis ukraina, hingga pada topik fenomena Phedophilia kami bagi dalam evening chit chat di salah satu balkon apartemen di mana kami tinggal. Kali ini, Tim rela berkunjung ke apartemen saya, dengan membawa beberapa buku yang direncanakan sebagai tema obrolan di anatara kami.

“The Evil CrimEconomic Style”, kira-kira itu yang saya baca di sampul depan bukunya. Tidak hanya saya dan Tim yang ikut mendiskusikan obrolan sore menjelang malam, tetapi Sheera, teman kami berkebangsaan Singapura, ikut bergabung dalam kelompok diskusi ter-aneh sepanjang  anak cucu adam masa kini. Sheera, menjadi tertarik dengan tingkah laku kami yang terlihat bodoh di beberapa spot kantor.

Pernah suatu ketika, saya dan Tim terus berdiskusi mengenai perdebatan mengapa orang-orang lebih senang menggunakan tangan kanan dibanding tangan kirinya. Seperti biasa, cara diskusi kami berbeda. Perlu menggunakan alat peraga, maka sepanjang lorong kantor dari keluar ruang kantor, lobby, bahkan di dalam lift, saya dan Tim bagaikan pasangan gila karena ledakan tagihan kartu kredit akibat pesta hura-hura pernikahan tujuh hari tujuh malam.

Di saat yang lain, merasa muak dengan sikap kami berdua, hanya Seera yang terkekeh kagum dan tertarik. Bahkan Ia sempat menganalisa sesuatu yang omong kosong terhadap kami berdua. “Hey, May I Guess something?”.

“What?!.” Tanya Kompak Saya dan Tim menanggapi pertanyaan Seera.

“You’re both such a wonderful couple. Seru. Aku salut.” Ujar Seera sambil menekukkan telapak tangannya hingga membentuk sigatiga sama kaki yang menempel di dadanya.

Saya dan Tim hanya melongo heran medengar ucapan Seera. Dan setelah itu, berkali-kali saya mencoba menjelaskan ketiadaan hubungan spesial di antara saya dan Tim. Berkali-kali itu juga Seera mengelak untuk menerima pernyataan saya. Hingga akhirnya jerih payah usaha saya menjelaskan, Seera pun percaya. Lain halnya dengan saya yang memiliki usaha untuk meluruskan asumsi Seera, Tim jauh lebih impresif. Ia sama sekali tidak peduli. Bahkan konyolnya adalah, Tim tidak ambil pusing, capek-capek kerjar-kejaran dengan Seera demi hanya kalimat klarifikasi.

“Baby dont care what she tought about us. Mau benar apa enggak, yang pusing kan dia ini. Take it easy!”.  Respon Tim ketika saya coba membujuk dirinya untuk mencoba meluruskan persepsi Seera tentang hubungan kami. Sampai saat ini, pun ia masih diam.  Damn !.

“Okay. let we start to talk a stupid cases. Who wanna through first to ?” Tanya Seera penuh semangat. Ia terlihat antusias mengikuti ajakan diskusi kami sore ini. “Tim, Aku kira kamu akan banyak topik menarik sore ini. Benar kan?”.

Ah, benar sekali. Tim tersulut oleh Seera. Ia menujukkan buku yang sudah dibawanya. Alumni yang tercatat sebagai mahasiswa Stanford University itu, benar-benar melangit, terbang, dan entah tanpa sadar ia telah melampau orbit bumi. Syukurlah, ia tidak melayang hingga terbakar karena matahari, atau kosong oksigen. Tim benar-benar ajaib. Begitu juga dengan Seera. Mungkin mereka agen FBI yang terpisahkan dan akhirnya bertemu dalam keadaan nomaden. Saling sambung menyambung menjadi satu. Mudah sekali menggapai mufakat. Entah Seera yang mudah terlena dengan intelenjensia yang dimiliki Tim, atau Tim yang benar-benar penjahat dialektika logika.

Malas, untuk mengingat dan mengulang obrolan tadi sore, apa itu kemunafikan ekonomi liberalnya Lincoln, atau ungkapan Tim yang menyatakan bahwa manusia ditakdirkan untuk mati dan bukan hidup. Namun, ada yang ingin saya amati dari apa yang dimaksud konsep diskusi kelompok yang akhirnya dapat diketahui bagaimana karakter pada diri seseorang. Mudahnya, ternyata kita dapat mengetahui bhawa karakter manusia bisa berubah karena diskusi kelompok.

Kali ini, hanya ada tiga orang dengan perspektif personal yang berbeda, jika dalam keadaan komunikasi tatap muka oleh 2 orang saja, Seera adalah sosok perempuan yang riang, semangat, dan sedikit sensitif. Sedangkan, Tim adalah sosok laki-laki keras kepala, introvert, dan terkadang sulit mengalah.

Saya tidak masuk hitungan, karena saya berperan sebagai pengedali pembicaraan. Oportunis, lebih tepatnya. Walau pada kenyataannya, saya mungkin akan menjadi kontradiktif dengan persepktif Tim. Tapi, kali ini saya ingin mencoba bagaimana membuat Tim meluluhkan sedikit egonya atas logika Seera yang kadar egonya lebih rendah dibanding miliknya.

Ini semacam teori devide et impera nya kolonial, saya mulai memberikan umpan positif dari opini logika Tim, dan sedikit kontra dengan Seera. Tidak lama, pada argumen yang selanjutnya saya masih tetap mendukung perspektif Tim. Apa yang terjadi dengan Seera?.

Seera masih kuat berargumen tentang pendapatnya. Pada keadaan lainnya, Saya mencoba melempar perspektif di luar dari yang mereka utarakan. Walau yakin, sebenarnya perspektif masih kacau. Absurd. Tapi lucunya, ternyata Seera dan Tim mulai mengikuti irama perspektif saya. Terlebih yang mengikuti perspektif saya adalah Tim. Kemudian, Seera mencoba lupa dengan pendapatnya.

Tapi, lagi-lagi harus saya akui Tim memiliki intelejensia di atas rata-rata. Ia sadar bahwa topik sudah mulai keluar konteks pembiacaraan, Tim pun memulai dengan perspektif miliknya yang tidak senada dengan perspektif saya. Walau demikian, seolah Tim masih mengajak saya sebagai koloni argumentasinya. Saya pun dengan senang hati masih mengikutinya.

Tidak lama, saya mencoba netral setelahnya, ketika saya melihat Seera mencoba mengajak saya bersahabat. Ketika pada posisi seperti ini, saya akhirnya mengetahui bagaimana kegamangan muncul di raut wajah mereka satu persatu. Bonusnya, mereka akhirnya tertarik dengan asumsi kenetralan saya. Akhirnya mereka megikuti ritme sikap saya. Masing-masing mencoba berdagang menyodorkan bukti kefasehan pemikiran mereka satu persatu.

Setelah itu, baru saya membuka celah persahabatan kepada Seera. Sedikit positif memberikan umpan terhadap pendapat Seera. Kekuatan Seera kembali meningkat karea ia tahu ada pendukung baru untuk pesperktifnya. Tim, tidak melawan, tetapi ia mulai mendengarkan dengan waktu yang lumayan lama untuk menyimak setiap kata demi kata yang terucap dari mulut Seera.

Melihat ada kekososngan di sana, saya segera muncul memecah dengan perspektif lain, yang mungkin hampir senada. Tim, kembali mendengarkan pendapat saya. Tidak menunggu lama, Tim pun akhirnya mencapai kata mufakat, “Yeah, i Guess to make a good decision, if …”

Viola..!!. Coba perhatikan, Tim akhirnya menurunkan sedikit egonya. Ucapannya memang tidak menunjukkan makna “Setuju”, tetapi ia telah menunjukkan kekalahan atas ego yang dimilikinya. Tetapi dahsyatnya, Ia sama sekali tidak menurunkan kecerdasan logikanya. Artinya, ada makna pilihan atas pemikiran yang dimilikinya, dengan kata lain, kalau mau setuju silahkan, kalau pun enggak setuju juga enggak masalah. Karena pendapat gue ya begini..

Satu hal yang saya temui, bahwa dalam berbicara atau berdiskusi kelompok (lebh dari dua orang), bisa jadi faktorr psikologis mereka akan terpengaruh karena faktor sense of belong. Merasa ada yang mendukung, maka di sana, sifat pembawaan seseorang mudah tergerus ataukah akhirnya dominan. Dengan catatan, hanya orang yang cerdas yang jeli melihat garis batas persuasi. Kegamangan adalah musuh transisi yang dimiliki setiap orang. Itu sebabnya, kita jadi sering menyalahkan yang benar menjadi salah, dan salah tiba-tiba benar.

Konyol bukan?!.

Yeah.. itulah diri kita. Mahkluk Tuhan bernama Manusia akan selalu menarik diperhatikan.

Adioosss.

Apalah Pemaknaan “Timur-Barat” Sesungguhnya

Selamat malam insomers !!

Sebelumnya, saya ingin meminta izin menulis apa yang sebenarnya tidak ingin saya pikirkan. Suatu pembenaran atas nama kemanusiaan yang entah mengapa begitu memprihatinkan.

Mungkin, kita semua waktu itu dihebohkan dengan sebuah pesan dari status akun path seseorang yang (intinya) memprotes hak istimewa untuk para ibu hamil berkendaraan umum. Singkatnya, si pemilik akun path itu, menyatakan protes bahwa hak dirinya untuk duduk di kereta listrik, direbut oleh ibu hamil dengan Cuma-Cuma.

Eits, sebentar, sebelum tulisan ini menjalar klimaks, saya tekankan, bahwa tulisan saya kali ini, tidak mencoba menjastifikasi si pemilik status akun path itu. Akan tetapi, tulisan ini lebih kepada mencermati fenomena barbar yang entah mengapa sudah sangat marak bagai epidemik. Minimal, kita semua paham, bahwa tidak ada akan asap jika tidak ada api, dan yang pasti bisa jadi ada yang mencoba menyalakan apinya.

Jakarta, yeah.. ibu kota multi etnis, kultur, dan ragam kehidupan ini sudah menjadi tujuan setiap orang untuk mengadu nasib. Semua orang menyangka bahwa Jakarta adalah ladang pencaharian yang katanya menjanjikan masa depan yang cerah. Mitos atau bukan, mungkin kita hanya bisa nelen ludah dalam-dalam.Dengan pendapatan standar, 2.7 Juta rupiah, banyak orang berlomba dari pagi hingga malam, atau dari pagi sampai pagi lagi banting tulang, tahan ego, dan memar hati demi masa depan yang dijanjikan.

Tapi, jika berbicara kerasnya kehidupan kota Jakarta, ternyata kehidupan serupa di tempat yang berbeda pun bisa dikatakan sama. Sebut saja, Singapura. Negara maju macan per-ekonomian Asia Tenggara itu memiliki tradisi yang jauh lebih runyam. Sekilas hampir sama, dengan di Jakarta. Keduanya memiliki peraturan yang segudang. Mulai dari berjalan, berkendara, buang sampah, menyebrang dan lain-lain. Namun yang menjadi berbeda adalah, tingkat pelanggarannya. Peraturan di Jakarta jauh lebih banyak dilanggar dari pada di Singapura. Pengawasan aplikasi peraturan di Indonesia masih rendah. Sedangkan di Singapura, walaupun dikatakan sebagai negara yang berdisiplin tinggi, mereka masih ada satu dua tiga orang yang melanggar (sebenarnya). Jadi serem, jika ngomongin angka dan jumlah. Karena, sebenarnya penulis bukan melihat data empirik, tetapi sesuai dengan pengamatan di lapangan, jadilah menjadi asumsi penulis pribadi.

Lain cerita dengan masalah ketaatan hukum antara dua negara itu, Indonesia ternyata harus lebih bangga karena interaktif sosialisasi antara personal lebih maju dibanding di Singapura. Di Singapura, lebih individualis. Jangan heran jika di saat kita berjalan menyebrangi jalan atau berada di tempat keramaian, tiba-tiba bahu kita ada yang menabrak atau disenggol dengan keras oleh masyarakat sana. Hanya kata “Sorry” yang kita dapat dari si pelaku. Dan silahkan gondok segondoknya dalam hati.

Jakarta walaupun katanya masih ‘mendingan’ dibanding Singapura, namun sayang respek orang Indonesia lebih kepada, “Senggol Bacok”. Entah siapa yang dibacok dan membacok. Karena yang salah bisa jadi benar, dan yang benar bisa jadi salah akhirnya. Rasanya tidak tega untuk menilai bahwa orang Jakarta adalah suku barbar. Karena, saya pun ada di dalamnya. Ini yang kemudian, menjadi hal yang ingin saya tulis pemikiran yang (sekali lagi) enggan saya pikirkan.

Jakarta atau Indonesia merupakan negara yang menganut adat ketimuran, yang mana lebih gotong royong, mufakat, saling asih, asuh, dan berbagai macam jargon kebaikan di tubuhnya lainnya. Begitu juga dengan Singapura, sebagai negara berpondasikan Melayu. Tapi kini, semua hanya sebatas sejarah. Apa itu “Timur”, Apa itu “Barat”, jika akhirnya akan sama bermuara.

Bayangkan, jika di Jakarta saja sudah ada pembenaran atas nama kemanusiaan saja, rasanya masyarakat Jakarta sudah selayaknya remedial mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, yang mana sudah tidak sesuai dengan dengungan bagaimana sikap berbangsa dan bernegara yang baik sesuai dengan falsafah negara, Pancasila.  Lama-lama ideologi Indonesia bagian Jakarta akan sudah Fixed korban eksperimental Karl Max dalam pandangannya, sosiologi ekonomi. Di mana, setiap orang dituntut untuk produktif bertahan hidup, walau kadang lupa dengan kondisi sturktural.

Tapi tunggu dulu, lain halnya dengan New Zaeland negara yang nyata-nyata kapitalis, ternyata jauh lebih ramah dibanding Indonesia dan Singapura. Mereka lebih menolerir asas kemanusiaan, walau sebenarnya secara garis besar ekonomi, mereka sudah lama mengadopsi paradigma itu dibanding kedua negara tersebut.

Dengan kata lain, Makna Timur dan Barat hanya label egosentris beberapa pihak saja. Indonesia dan Singapura sudah tidak layak menyandang predikat sebagai negara Timur, atau New Zaeland disebut sebagai negara Barat. Kali ini, saya akan sedikit mempertanyakan maksud jika ada beberapa orang yang dengan bangga mengatakan, “Kita ini negara Timur, jadi harus menjunjung tinggi adat Ketimuran!”.

Kalimat yang bisa jadi hanya menjelma sebagai dogma buta,  sudah merasuki sel-sel otak paling kecil kita, yang akhirnya tanpa kita paham apa arti sebuah pemaknaan Timur dan Barat tadi.

Atau bisa jadi, kondisinya memang sebenarnya kita sudah paham, namun tanpa tidak sadar ruh kita lebih gemar memilih meninggalkan jati diri sebagai orang Timur, untuk berpaling menjadi orang Barat.

Atau seperti ini, kondisinya memang sebenarnya sudah paham, namun secara sadar kita menolak segmentasi ke-Timuran Indonesia?!.

Wah, jika benar kondisi terakhir menjadi jawabannya, Indonesia sudah sulit untuk menyiapkan bambu-bambu runcing untuk perang melawan penjajah. Karena, kolonialiasme bukan lagi bangsa lain, tetapi kita sendiri. Ini menyedihkan. Nanti suatu saat, label timur-barat, kapitalis-sosialis-kerakyatan-syariah, akan terlihat jelas di jidad setiap individu, dan bukan pada sekelompok bernama negara.

Ini lah, yang mungkin dimaksud Karl Max, yang measumsikan sebuah paradigma sosiologi ekonomi yang didasari dari sifat dasar manusia. Max, sudah dari dulu menyadari bahwa manusia adalah makhluk serakah yang ada di alam semesta. Nilai pribadi lebih berarti dibanding pertimbangan sekelompok minoritas atau mayoritas.

Jika sudah demikian, hanya kita, kita sebagai individu penentu dari apa yang benar dan tidak benar. Seyogyanya, tulisan ini adalah sebagai ajang introspeksi penulis (saya sendiri) yang berusaha menjadi manusia yang memahami manusia lain. Saya menghormati anda, dan begitu juga sebaliknya.

Semoga, esok hari kita menjadi manusia yang memanusiawi.

Adioss..

 

 

Obrolan Warung Kopi ala Calgary : Buruh Migran dan Sikap Politik

 

“Domblaiaaaaa !!. Country, look at this one that im bring in for !! “. Teriak Tim, ketika aku sedang melakukan perbanyakan laporan artikel yang sudah saya buat. “Lihat, ini artikel menarik yang ku bawa khusus buat orang Indonesia kayak kamu”.

Tim, dengan gaya New Brunswick tulen, menyodorkan artikel yang ada di ipad silvernya. Demi menghormati dirinya, aku pun melihat dan membaca isi artikel berita mengenai penggalangan dana untuk Tenaga Kerja Indonesia di Saudi Arabia. Setelah membaca artikel berbahasa Inggris itu, kemudian dengan wajah ironi, Tim bertanya kepada ku. “Why?!. Did you do like them?”.

“Me?. What do you mean?. Aku enggak ngerti”. Ujar ku sambil merapihkan tiap lembar hasil cetak perbanyak untuk dimasukkan ke dalam map arsip.

“Maksud ku, kamu menggalang dana juga gak, seperti masyarakat mu?”. Tim perjelas pertanyaannya sambil menyederkan tubuh tingginya di dinding. Jika dilihat, ia benar-benar seperti albino unik bagi ku. Rambut pirang dan warna kulit yang pucat yang ia miliki mengingatkan ku dengan salah satu personil Hi5, Stevie. Ray Ban berwarna hitam menguatkan karakter dirinya, sebagai laki-laki yang optimis dan memiliki keingin tahuan yang tinggi.

“I know you, Mr. Calgary. You have main of problem what you wanna know. Bener kan?”. Tanya ku, seolah berbisik kepadanya.

Walaupun kami baru berteman beberapa bulan saja, aku cukup mengetahui sosok Tim yang memiliki hasrat keingin tahuan yang luar biasa tinggi. Jika ia merasa tidak setuju dengan sesuatu hal, maka ia akan mencari serba serbi mengenai hal yang ingin ia serang dengan segala logika maha dahsyat yang dimilikinya.

“Well, i do not really know, how could are they think of these case. Ini kriminal. Anak kecil juga tahu membunuh adalah hal yang salah. Kenapa masih dibela?”.  Kemudian, Tim menunjukkan beberapa kronologi kasus Sutinah yang divonis pancung setelah terbukti setelah membunuh majikannya di Saudi.

Aku hanya tertegun diam, dan menyimak setiap kalimat yang keluar jelas dari mulut Tim. Gesture yang semula hanya bersandar di dinding, ia mencoba menekankan keseriusan dengan mendekatkan kursi yang ada di depan meja ku. Ia pun duduk dan sibuk menggeser kiri kanan artikel yang ada di ipad. Tim, kini benar-benar menjelma sebagai marketing perumahan real estate yang sedang haus mendapat bonus dari setiap penawaran.

“Sir, can you imagine that, you have a lovely mother who try to work hardly. Sedang Ibu mu harus bekerja setiap hari pada bukan tanah kelahirannya sebagai budak. Bisa kamu bayangkan bagaimana perasaan mu?”.

Tim yang mendengar pertanyaan saya, sekejap terdiam. Namun tidak lama. Ia mencoba mengelak dengan tegas. “Tapi bukan itu masalahnya. Ibu ku tidak mungkin membunuh. Lagi pula, apa iya masih ada perbudakan di era keadilan jender seperti ini?. No sense!”.

“Oh Come on Tim, im taking your imagine for a while. Masalahnya, apakah ada seseorang yang rela memiliki niat sebagai pembunuh orang lain, sedang ia meninggalkan negaranya untuk bekerja demi mengihdupkan keluarganya bertahun-tahun berpisah?!.”.

Bukan Tim namanya jika ia tidak berusaha mempertahankan logika terbaik dihadapan lawan bicaranya. “Oke, jika ia terbukti bersalah karena membunuh majikannya, kemudian juga ia terbukti mencoba mencuri. Apa pendapat mu?”.

Gotcha !!

Pertanyaan Tim agak sulit kali ini. Aku bisa saja menjawab, bahwa jika memang terbukti demikian tentu maka ia bersalah dan sudah sepatutnya mendapatkan hukuman yang setimpal. Tapi, hati ku berbisik, untuk tidak menjawab demikian. Aku hanya memandangi artikel di hadapan ku, sedikit sesekali melirik tatapan mata Tim yang tanpa kedip sedang menunggu jawabanku.

Parahnya, aku tidak mempersiapkan argumen pembelaan atas logika ku seperti halnya ia menyiapkan beberapa bukti sebagai implementasi kerangka berpikir untuk menyerang. Seakan ini pertarungan antara harga diri bangsa di depan orang asing, atau seperti para PR berdiam menyiapkan pertahanan korporat atas serangan krisis yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Namun, sebelum menjawab pertanyaanya, secara spontan saya melempar bola-bola kecil terbuat dari pelastik keras ke arah tubuhnya. Tim, yang semula serius. Ia berubah merah padam dan marah seolah tidak terima atas tindakan ku terhadapnya.

“Kenapa?, kamu tidak terima aku lempar?”. Tanya ku dengan santai.

Sambil mengangkat kedua tangan dan pupil yang melebar, ia mengerang tidak terima, “Hey, What’s wrong with you?”.

“For the first, i’d like to tell you a thing about the same perspective were we had, and media had. Neither are same. Aku tidak melihat perjuangan untuk membela seorang pembunuh. Tapi, jauh dari hal terpenting adalah bagaimana menunjukkan harga diri negara ku di negara lain. Ini sama halnya bagaimana polemik corby yang bebas. Un-wellfare to all our migrant, not only one was occured. But more likely a hundred cases. Ini tidak mudah bagi kami untuk menerima kenyataan bahwa kami adalah pekerja yang membunuh, sedangkan setiap tahun ada saja kabar TKI kami disiksa bahkan terbunuh oleh ulah majikan”.

Tim terdiam.

“Ada sebab ada akibat. Kamu marah ketika aku lempar bola tanpa sebab. Dan kasus Satinah kalau kamu lihat, itu seperti itu. Bahkan, Satinah melaporkan dirinya ke polisi dan ia mengaku. Tim, those many unwellfare cases in the world. Mana ada orang jahat yang melaporkan dirinya sebagai pembunuh. Dan bagiku, sikap sebagian masyarakat di negara ku, adalah sikap politik yang sengaja ditunjukkan tidak hanya tertuju untuk negara lain, melainkan untuk negara kami sendiri”.

Panjang lebar aku jelaskan semua pendapatku. Entah apa yang ditelan oleh logika Tim setelah mendengarnya. Mungkin ia sedang menelaah dalam-dalam atau sedang berpikir bagaimana melawan argumen ku. Yang pasti ia kini terdiam sambil menggigit bibir bagian bawahnya.

“Tim, I’m so sorry  for that shooted. Im just to did, such to dare your logical wash. Dan maaf juga, aku harus menganalisis pekerjaan ku selanjutnya. Next time, oh anytime i would be kind your discusses partner”. Ucap ku sopan seakan membuka pintu lebar-lebar agar ia keluar dan menjauh dari meja kerja ku.

Ia pun mengangguk, dan berkata, “Oke, im appreciate you. Thanks”.

Tidak lama, Tim berdiri sambil tersenyum dan melangkah menjauh dari meja kerja ku. Belum sepenuhnya menghilang dari hadapan ku, ia berusaha untuk mengejutkan ku dengan sedikit tingkah laku candaan yang benar-benar mencirikan seroang Tim.

Ia melangkah ke luar ruangan seolah sudah berlalu jauh, namun dalam hitungan detik ia kembali dengan mengepalkan telapak tangan sambil berkata “Votre Esprit (kamu semangat)”.

Dan aku, hanya bisa mengucapkan, “Terimakasih”

 

Jantung Berbeda, Mungkin Ini Rahasia Mu

Jantung

Sore ini, saya mencoba konsultasi ke dokter spesialis jantung di rumah sakit st. Mount Elizabeth di Singapura. Semula, hanya konsultasi rutin yang merupakan fasilitas pelayanan kesehatan dari kantor. Konsultasi ini disebabkan juga karena pada suatu hari, Senin pagi saya mencoba mengecek tekanan darah, kolesterol, gulan, dan gliserin pada tubuh. Hasilnya cukup mengejutkan bagi saya. Karena, dalam kondisi berpuasa tekanan darah begitu tinggi yakni 122/70 dengan kekuatan denyut jantung 40. Menurut dokter, tekanan darah saya terbilang tinggi, sedang kekuatan denyut jantung saya tergolong lemah. Mendegar hasil itu, dokter memberikan saran agar berkonsultasi lebih lanjut kepada ahli jantung. Alhasil, sore ini saya pun mengunjungi dokter sepasialis di Singapura.

Hampir setengah jam, saya berkonsultasi seputar kondisi jantung, melalui pengecekan ulang. Kali ini tidak melakukan scaning dan tes darah. Namun, hanya melalui tes denyut jantung ternyata hasilnya sedikit berbeda. Tekanan darah saya sudah normal, namun kekuatan denyut jantung masih tergolong lemah. Kemudian, tes kedua dokter menyarankan saya untuk berlari di track mil selama 10 menit. Kemudian diukur detak jantung, dan hasilnya adalah sama. Lemah.

Dokter juga menanyakan seputar sejarah genetik diri saya, apakah keluarga ada yang memiliki penyakit jantung dan sebagainya. Saya pun menjawab saya tidak mengetahui. Karena sejauh ini keluarga saya dalam kondisi baik-baik saja. Selain itu, belum sampai disitu, dokter pun menanyakan bagaimana kegiatan saya sehari-hari, seperti apakah sering kelelahan jika mengerjakan pekerjaan yang banyak dan sebagainya. Saya pun menjawab, bahwa setiap pagi seolah saya merasa ketakutan, tubuh saya dibanjiri keringat dingin. Leher saya hingga kepala berkontraksi menjalar pening yang luar biasa. Dan itu berjalan setiap pagi. Ketika saya ingin berangkat ke kantor.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah sering merasa berdebar tanpa sebab. Saya pun menjawab, iya. Ingatan saya pun kembali mengingat kondisi-kondisi di mana saya sering berbedar tanpa sebab. Dari beberapa pertanyaan itulah, akhirnya dokter mengatakan kemungkinan ada kelainan dalam jantung saya. Dan itu, harus segera ditangani. Mulai dari sekarang, jangan dibiarkan terlalu lama. Karena dengan kondisi seusia saya ini seharusnya tidak mengalami hal kelemahan detak jantung.

Begitulah, cerita saya sore ini. Saya belum menceritakan kepada kedua orang tua saya seutuhnya. Karena, saya masih menunggu pengecekkan selanjutnya. Setelah berkonsultasi, saya pun segera pulang ke apartemen dan langsung mencari tahu apa saja kelainan jantung. Dan memang benar, detak jantung lemah adalah salah satu jenis kelainan jantung. Apa yang di terangkan pada beberapa situs pun sesuai dengan apa yang dikatakan dokter. Seketika itu juga saya langsung menyetuh dada bagian kiri.

Kelainan ini mungkin juga adalah pemberian Tuhan. Saya berusaha keras untuk tabah, namun tanpa sadar, air mata menggelinang jatuh tanpa isak. Seolah, maut akan datang hari ini. Antara nyata dan tidak nyata. Namun, ini tetap kenyataan yang harus dijalani. Saya mencoba menutup kunci rapat-rapat kamar, sehingga tidak ada yang mengetahui ada air mata selasa sore ini. Seraya menunjukkan kesendiriaan yang akhirnya saya rasakan. Dalam kondisi ini pun, hanya saya yang mengetahui keadaan ini, tanpa orang tua di sisi.

Tapi, saya percaya Tuhan masih sayang saya. Ada hal yang harus saya kerjakan dengan kondisi jantung yang melemah, sampai nanti di mana jantung ini kian melemah, dan berhenti akhirnya.

Rasa kangen tiba-tiba memuncak terhadap teman-teman semasa SMA. Segera saja saya membuka isi foto-foto pada folder di laptop. Sontak air mata saya kembali menggenang, ketika salah satu video slide yang dibuat sewaktu akan mengikuti SPMB, yakni video slide tentang mimpi dan harapan. Dengan latar lagu Don’t Give Up dari Josh Groban kian mengantarkan saya dalam lembah sensitifitas sanubari.

Namun, semangat pun tiba-tiba muncul dengan percaya diri. Seolah mereka berteriak sambil mengepalkan tangan dan tersenyum lebar memberiku semangat untuk tetap optimis, bahwa saya bisa melakukan banyak hal walau kelemahan mungkin menghantui.

Mulai sekarang, saya akan benar-benar akan konsisten menjaga pola makan, dan pola hidup sehat. Olah raga 30 menit sehari setiap hari adalah yang disarankan dokter kepada saya. Selain itu, konsumsi makanan yang tidak berkolesterol tinggi harus sudah menjadi musuh saya saat ini. Kematian adalah takdir Tuhan yang sangat pasti. Tapi jauh dari itu, saya tidak mau mati dalam penyesalan hidup karena sudah menyia-nyiakan waktu terbaik.

Dear Allah,

Jika memang hari ini adalah hari terakhir hamba, Istiqomahkan ikhtiar ini, sebagai rasa syukur ku di sisa akhir hayat hamba di bumi Mu. Aamiin

 

Hilang Humor, salah siapa?!

Tidak terasa sudah mendekati hari kembali menuju SG esok pagi. Esok, di kamis yang bertaut harapan setiap orang dalam hidup ku mulai melambung memenuhi setiap rongga-rongga sel otak, baik kiri ataupun yang kanan. Jantung ini terus memompa seakan tau bahwa waktu-waktu meaktualisasikan diri akan siap mengisi hari-hari selama dua bulan lamanya.

Hari ini, Rabu (12/3) saya mulai membenahi barang-barang perlengkapan yang akan diperlukan selama di sana. Namun ada yang lebih penting, yakni mengurusi berkas-berkas surat izin dan persetujuan untuk mengikuti pemilihan umum di kedutaan besar Indonesia Singapura. Pengurusan ini sangat baru bagi saya. Ada hal yang harus dilakukan. Mulai dari verifikasi berkas DPT asal RT/RW/Keluarahan, kemudian ke Kantor Pemilihan Umum Daerah, dan Berakhir menunggu nomor kode terbaru, semacam nomor sandi untuk memilih pemilu nanti. Hingga akhirnya saya hanya menunjukkan KTP dan kartu hak pilih yang akan diberikan setiba di sana.

Proses nunggu yang tidak sebentar, saya pun harus menunggu seharian lamanya, walau sebenarnya sudah running out selama 4 hari yang lalu. Namun itulah birokrasi, Instanity?. Argh, No Way!.

Di sela-sela menunggu verifikasi, saya mencoba membaca beberapa artikel surat kabar online dari telepon genggam. Artikel yang didominasi oleh berita politik dan hukum itu, saya buka dan baca seksama satu persatu. Sesuai selera saya tentunya. Hingga pada sebuah artikel berita yang secara jelas mencubit panas isu pemilu. Surat kabar yang sempat memiliki sejarah pembredelan oleh pemerintah orde lama ini nyinyir dengan rencana aksi kampanye oleh salah satu partai besar yang menganut Agamis Nasionalis, yang akan berkumpul melakukan apel akbar di Gelora Bung Karno, Jakarta pada 16 Maret 2014 nanti.

Karena membaca itu, sungguh masih ingat dalam pikiran saya, tentang percakapan singkap pada media sosial dengan sahabat saya bernama Irwan. Percakapan yang sudah jarang kami obrolkan itu, tiba-tiba terlihat menarik dengan topik yang ia lemparkan kepada saya. Topik itu tidak jauh-jauh dari politik, namun bukan politik sejatinya, melainkan membahas perilaku masyarakat yang beropini mengenai politik. Facebook, tiba-tiba ia mengabari seputar obrolan dan opini dari rekan-rekan dekat yang memanas karena sebuah artikel berita yang terkesan memojokkan pembaca.

Yang menjadi benang merah obrolan saya dengan Irwan adalah, bagaimana si pelempar isu artikel berita (salah satu teman kami) melalui status pribadi miliknya yang kemudian menuai pro dan kontra atas isi pesan di dalamnya. Parahnya, opini itu kian mengaitkan historis personal si pemilik status akun pribadi itu yang nyata-nyata begitu loyalis dengan obyek yang dibicarakan artikel berita pada surat kabar yang sama dengan surat kabar yang saya baca ketika itu.

Entah mengapa, ketika membaca situasi pro dan kontra dari para komentator facebook, saya jadi tidak selera berpikir bahwa politik itu baik bagi perkembangan jiwa dan mental manusia. Gara-gara itu juga, saya dibilang “Kehilangan Selera Humor” oleh sahabat saya itu. Ah, apa iya, saya sudah kehilangan humor dalam hidup?.

Pertanyaan itu tiba-tiba membuat saya kembali membaca percakapan saya dengan Irwan. Membaca seksama setiap kalimat dan maknanya, Owh .. harus saya akui, ternyata sudah lama kami tidak bercakap mengenai satu sama lain, yang salah satunya adalah membahas seputar politik. Jika dahulu, kita sering bercakap mengenai politik yang begitu gamblang, kali itu semacam Lost Frekuensi.

Saya dengan paradigma milik saya sendiri, dan Irwan dengan paradigma yang tentu milikinya sendiri. Sama sekali tidak terkoneksi satu sama lain. Padahal dulu, kita pernah saling lepas tawa karena hal-hal yang bertopik serius. And Now, Im really being seen it, since at the time. Technically, i lost my ridiculous joke something. Dan kayaknya enggak cuman saya, tapi juga Irwan.

Kayaknya, gue juga kehilangan selera humor gara-gara data-data audit“. Katanya.

Ini masalah dunia yang besar. Sudah berapa banyak canda tawa mengenai hal-hal ringan dalam hidup yang sudah kita tertawakan?. Dan, berapa banyak canda tawa mengenai hal-hal berat dalam hidup yang sudah kita tertawakan?.

Owh No.. lagi-lagi ini menyedihkan. Sangat sedikit canda tawa lepas mengenai hal-hal serius untuk ditertawakan. Itu artinya, mungkinkah saya stress?!. Atau karena memang karakter beda yang seharusnya dijalani seusia kami.

Oh oke, bagi saya politik adalah hal yang sangat membuang-buang kesenangan dalam hidup. Mungkin bagi mereka bertaut politik dengan gaya bahasa yang seolah-olah dapat mempengaruhi adalah kesuksesan era masa kini. Terlebih pada sosial media. Kejahatan nomor 2 setelah pembunuhan. Opini-opini tanpa saringan khusus mana benar dan mana salah itu begitu muak untuk disimak. yang akhirnya menyebabkan antipati berlebihan.

Mungkin apa karena, memang politik adalah hal yang tidak lumrah untuk ditertawakan. Bagi mereka jelas politik adalah hal lucu untuk ditertawai karena kebodohan yang diperlihatkan. Tapi hasanahnya, bukankah politik adalah jalan kebenaran untuk menunjukkan sesuatu yang benar. Lalu mengapa menjelma keburukan yang memalukan?!.

Saya benar-benar ingin membuang rasa ingin antipati ini. Rasa muak ini cukup meninggi seakan membutakan pengetahuan saya tentang itu. Raut wajah akan merekah jika membicarakan hal-hal yang menyenangkan. Atau hal-hal seputar bisnis yang berkaitan dengan indeks pembangunan manusia yang ingin terus digali, itu lebih menuai benih semangat kontribusi nyata, ketimbang harus berbicara politik yang entah sampai kapan berpolemik antara kenyataan hati nurani pribadi dengan kenyataan yang mereka rencanakan.

Perlu diketahui, hati manusia bisa dianalogikan bak bom atom yang bisa meledak kapan pun jika tersulut. Sama halnya dengan saya, mungkin kebanyakan orang yang seakan menyulut komentar orang lain dengan pendapatnya, itu ia sedang berpolemik antara kenyataan hati nuraninya dengan kenyataan yang mereka rencanakan. Ini celaka. Karena, bukan lagi fokus pada isu pembicaraan dan pemikiran, tetapi personal.

Sedih memang, ternyata banyak teman-teman kita yang senantiasa tenggelam dalam kondisi demikian. Ini yang kemudian saya bertanya, apakah ada kewajaran dalam tindakan mereka?, atau jangan – jangan saya yang tidak wajar?!.

Oh, Tapi tidak untuk itu. Mungkin ada saatnya, mulai kembali menapaki apa itu cerita masa lalu dengan segala hal politik di dalamnya. Tapi nanti.

Mungkin ini, yang membuat saya kehilangan humor seperti waktu itu. Tapi langkah ini, langkah sederhana yang hanya menunggu mendapatkan nomor hak pilih untuk pemilu nanti, mungkin menjadi jawaban atas kegundahan saya atas kemuakan yang telah merengkuh segala tanya terlalu lama. Walau saya yakin, itu tidak lain tidak bukan karena sistem lah yang membuat kondisi seolah mengahsilakn tanya.

Ps : Dedicate to my best friend, Irwan.. 🙂

Adioss.

Ke mana Idealisme mu, Kantri?

Sepulang dari kajian fiqih di Masjid Al-Azhar, tiba-tiba di jalan saya bertemu dengan seorang teman kuliah dulu yang tengah bergegas mengejar Trans Jakarta. Saya yang melihatnya terburu-buru, merasa ingin menyapa dan tidak ingin menyapa. Walau sebenarnya ingin sekali menyapa dan bersilaturahmi karena waktu yang sudah kita tanggalkan begitu lama. Namun, karena menjalin silaturahmi akan membawa panjangnya keberkahan usia, saya pun menyapanya dengan senang. Sangat jauh dari perkiraan, teman saya itu merekah merona ketika melihat saya yang sedang melangkah perlahan menuju dirinya.

Selain kami saling tanya mengenai kabar, obrolan kami pun membahas mengenai kesibukan antara lain, kerja di mana sekarang, tinggal di mana, dan di antara tema obrolan itu, kami pun sesekali mengenang masa-masa mengemban amanah sewaktu di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Ada hal yang mengejutkan ketika ia mengetahui di mana saya bekerja selama ini. Raut wajah yang semula hangat, kemudian berubah menjadi pandangan sinis, tajam, dan penuh tanda tanya besar. Saya bisa merasakan kegamangan ekspresi orang ini. Tentu saja, saya paham sekali dengan kami-kami yang terbilang totalitas menjalankan amanah semasa kuliah. Jika bukan masalah idealisme dan kroni-kroninya itu, apa lagi?!.

“Kok bisa ya, aktivis yang super lantang teriak dalam kajian ternyata kerja untuk asing?”. Tanyanya teman saya dengan nada yang nyaris tiada tumpul.

Terkejut?!. Oh tentu tidak. Karena saya sudah yakin, akan banyak omongan sana sini dari kerabat mengenai pilihan hidup saya ini.

“Demi Allah, kalau lo pikir gue tergerus idealisme, gue enggak tersinggung”. Ucap saya santai.

“Kalau lo kerja di Singapore, Halaqohnya gimana?”.  Ekspresinya mulai nyinyir. “Atau jangan-jangan udah enggak Halaqoh?”.

Mendengar pertanyaannya, seratus persen lagi saya pun kian yakin bahwa urusan pasca kampus tentu tidak jauh dengan hal-hal seperti itu, Idealisme dan Halaqoh. Dua hal yang selalu dicekokin oleh pengurus-pengurus pergerakan masa kampus. Saya pun memang tidak menyalahkan mereka yang terus mendoktrin anak-anak kuliah dengan dua hal tadi. Karena tidak ada yang salah dengan Idealisme, begitu juga dengan Halaqoh. Dua hal yang mengajarkan kebaikan, bak kausalitas antara pembentukan karakter beserta caranya. Good idea!

Bagi saya, pertanyaan itu sudah lewat beribu-ribu mile jaraknya dari benak saya hari ini. Bukan berarti mengelak dan berlari untuk menghindar. Melainkan, saya tahu bahwa jati diri sesungguhnya adalah bagaiman kita bisa mesemaikan apa yang kita miliki ketika di kampus, dan berjuang setelahnya.

Saya memang sangat jarang halaqoh dengan Murrobiyah saya, dengan tidak ragu itulah yang saya jawab untuk pertanyaan yang ia tanyakan kepada saya. Bahkan saya pun jarang untuk hadir di kegiatan-kegiatan seluruh kader dalam sebuah bendera kepartaaian. Dan ketika itu juga, pun saya sangat yakin hubungan antara frekuensi halaqoh dengan keamniahan informasi itu dijaga begitu ketat. Buktinya, teman saya yang satu itu, mulai sedikit membatasi obrolan seputar politik yang sedang hangat tahun ini (red-pemilu) bersama saya.

“Kenapa?!. Gue udah enggak save ya?”. Tanya saya seraya menggelitik. Ia hanya tertawa. “Semoga lo enggak anggap gue kafir ya”. Tambah saya sambil menunjukkan senyum termanis menurut saya.

Obrolan ini pun bukan yang pertama. Di perjumpaan saya lainnya, kali ini bertemu dengan beberapa orang yang sempat menjadi partner se-amanah dalam sebuah forum komuniaksi dunia maya. Mereka mayoritas merupakan kader aktif sebuah partai. Mengapa saya nilai seperti itu?!. hal itu dikarenakan setiap yang diobrolin adalah seputar informasi kegiatan partai-partai tersebut. Hingga mereka mengetahui bahwa saya sudah jarang ikut kegiatan-kegiatan seperti itu, mereka pun tetap memberikan informasi seputar kegiatan kumpul akbar sebuah partai, walau saya tahu itu tidak begitu amniah. 😀

Pada tulisan saya kali ini ingin rasanya meluapkan semua teka teki di hati seputar gonjang ganjing seputar hal idealisme tadi. Perlu saya sadari bahwa, mungkin banyak di luar sana, yang sudah meragukan idelisme seorang Kantri Maharani kini. Atau bahkan di antara mereka bisa jadi mengutuk keras pilihan hidup yang saya jalani. But Not Really, im just kiddin.

Idealisme bagi saya adalah sumbu pemikiran saya untuk berlabuh. Idealisme saya bukan kegiatan kepartaian, bukan pengajian halaqoh, dan bukan mengemban amanah. Tapi besar dari itu adalah, idealisme saya adalah Islam. Islam dengan segala bentuk peraturannya, hukumnya yang tertuang di Al-Quran dan Al-Hadist. Saya di sini bukan untuk berserikat dengan homogensi orang-orang saja, melainkan untuk semua. Dan itu yang saya tekatkan, bahwa pasca kampus adalah integrasi kemampuan diri untuk lebih baik. Indikatornya meningkat.

Dan bahkan saking mereka meragukan saya, mereka pun bertanya hal-hal yang jauh dari diri saya sendiri, seperti “Kant, lo udah pacaran ya?“. atau “Lo sekarang jadi cewek-cewek sosialita ya, ngumpul-ngumpul terus”. dan lain sebagainya.

Sebenarnya agak geli sama pertanyaan ragu mereka terhadap saya. Tapi perlu saya sadari, apa mungkin citra itu yang ditunjukkan oleh saya tanpa disengaja sehingga perspektif mereka adalah saya demikian. Jika demikian, jujur saya menjadi merenung dan meintrospeksikan diri saya ke cermin.

Selama saya bekerja, memang saya banyak berteman dengan orang-orang yang tidak seperti saya, dan juga mereka. Pekerjaan saya pun, jauh dari kesan kegiatan anak masjid yang nyaris ketat masalah hijab komunikasi antara laik-laki dan perempuan. Dan ini sudah saya perkirakan jauh – jauh hari, yakni sebelum saya kuliah. Karena, Halaqoh tidak baru dalam hidup saya. Dari SMP saya sudah merasakan indahnya tarbiyah. Masa-masa itulah yang sudah saya pikirkan dan antisipasi dengan jalan hidup yang saya rencanakan untuk masa depan.

Wahai sahabat,

Ada syukurnya diri ini benar-benar engkau tanya dengan penuh nyinyir dan ragu. Insya Allah tidak ada rasa benci dan marah dalam hati atas perkataan mu yang jauh dari diri ini sebenarnya. Jikalau memang diri ini bukan seperti mu lagi. Maka doakan, agar sahabat mu dapat lebih baik. Dan Saya pun demikian. Saya selalu berangan, bahwa saat ini mungkin jalan kita akan berbeda rute. Tapi kita akan sampai di satu titik yang sama. Walaupun sekiranya saya jarang halaqoh/liqo bersama murobbiyah saya, mudah-mudahan engkau tidak membenci saya seraya menghindari saya dari informasi terbaik mu. Karena saya tidak ingin halaqoh ini hanya akan menyurutkan semangat kepartaian mu di negeri ini. Demi Allah, sekali lagi Demi Allah saya tahu adab apa yang sangat mulia yang harus dimiliki seorang mukmin. Maka, biarkan hati kita tetap terpaut karena doa-doa siang petang yang selalu kita panjatkan sebagai penawar persaudaraan kita. Tentu, karena saya, saya sayang kamu karena Allah.

 

 

 

 

Firasat

 

 

Oh Sayang..
kamu tau, tentang hari ku ini.
Betapa kabut kelabu kian membalut keyakinan ku.
Sayang, nyaris saja!
Setengah percayaku nyaris melayang bayang

Ada hal yang ingin sekali saya ceritakan kepada seluruh dunia tentang hari ini. Cerita yang kembali merubah paradigma seorang perempuan lajang berusia 25 tahun ini. Sekali lagi, saya pun teramat bersyukur atas segala kesempatan merasakan kebesaran-Nya, dengan berkomunikasi Heart to Heart dengan Sang Khalik, Allah SWT.

Saat ini saya sedang berada di salah satu kota terbesar di Jawa Barat, Tasikmalaya. Kota tasik, merupakan kota kedua yang memiliki potensi ekonomi bisnis kecil dan menengah yang sudah teruji track record-nya. Mulai dari kuliner hingga kerajinan bernilai dolar pun ada di kota ini. Pada kesempatan ini, saya bertugas meneliti mengenai perkembangan Positioning Branding sebuah perusahaan kerajinan rajutan yang sudah melalang buana mengirim ekspor ke beberapa negara.

Kerjaan saya kali ini cukup unik, proyek ini luar biasa berbeda. Pasalnya untuk meneliti positioning branding terbilang berbeda jika harus dibanding dengan ranah kerjaan saya seperti meneliti berupa opini publik. Mempelajari positioning branding sangat membutuhkan berbagai disiplin ilmu antara lain, ekonomi bisnis yang meliputi kebijakan ekonomi mikro, green ekonomi, dan juga diperlukan memahami mengenai strategi and tactic of communication branding, marketing Public Relations, dan lain-lain aspek yang menunjang seperti aspek hukum dan budaya. No either to be more complicated, but that was interested. I love it!.

Singkat kata, hari Minggu subuh saya pergi menuju kota Tasik menggunakan bus Primajasa Executive dengan rute Kp. Rambutan-Tasik. Itu artinya pemberangkatan saya dimulai pada pukul 05.30 tepat di terminal Kampung Rambutan. Kali ini saya pergi bersama tiga orang rekan kantor yang cukup enerjik. Mereka adalah, Mas Anton dan Mas Raga.  Keduanya adalah senior saya di ZOM. Biasa saya sebut mereka dengan, “Suhu”.

Kepergian kami kali ini jauh dari rencana awal. Mengapa, karena semula kami berangkat menggunakan mobil kantor yang biasa kami gunakan. Namun sayang sekali di tengah jalan tol, mobil mengalami gangguan dalam hal keseimbangan. Sehingga mobil diharuskan spooring balancing yang mana tidak mungkin terselesaikan dengan cepat. Mau tidak mau, mobil harus kembali ke bengkel di daerah Jakarta, dan kami pun mau tidak mau menggunakan bus di kampung rambutan.

“Damn, what the hell of car today!. Enjoy the trip guys”. Itulah status BBM yang tertera di akun mas Raga. Membaca status itu, saya pun hanya ketawa. Hampir saja, saya terbawa dengan propaganda status itu.

Well, dengan (berusaha) menikmati nasib, saya pun menganggkut seluruh bawaan dari bagasi mobil. Bawaan kali sangat amat banyak. Maklum persiapan untuk menginap selama 7 hari adalah waktu yang tidak singkat bukan?!. Dan lagi-lagi, No Wondering, if i did as a woman i am.  Mulai dari perlatan pakaian, alat bersih-bersih, tentu jumlahnya akan berbeda dengan kaum laki-laki kebanyakan.

Dengan hati yang selalu ingin dibesar-besarkan, saya pun bergegas mempercepat langkah kaki menuju bus yang akan berangkat. Sampai di bus, saya sempat memilih tempat duduk, sesekali mengecek bagasi dalam, dan hingga pada bangku paling depan saya pilih sebagai pilihan akhir.

Perjalanan kami pun lancar hingga sampai Tasik. Waktu yang dihabiskan adalah 10 jam dari jakarta. Setiba di hotel penginapan, saya segera membereskan seabrek bawaan tadi untuk dimasukkan ke dalam lemari dan beberapa ke kamar mandi. Semula berjalan dengan sangat lancar tidak ada kendala sama sekali. Hingga suatu ketika, perasaan saya bergumam tiba-tiba menebak akan sesuatu barang yang hilang.

“Apa.. ya, yang lupa?!”. Pikir saya kemudian. Sayangnya saya berusaha mengahapus teka teki itu secepat mungkin. Karena bisa jadi itu adalah sugesti semata. Akhirnya saya berusaha untuk menjalankan aktivitas hari pertama.

Hingga akan mandi sore, tiba-tiba..

“Map gue !!!”.

Sontak, ingatan saya mengebul hingga ke ubun-ubun. Secepat kilat saya langsung memeriksa ke dalam lemari, dan benar saja tidak ada di sana.

Panik setengah sadar itu sudah pasti.

“Di mana ya.. gue simpen itu map??”. Gumam saya sambil mondar mandir dan tidak lupa garuk-garuk kepala karena bingung. Sesekali duduk, sesekali tiduran, sesekali menopang pipi, ah.. apa pun akan dilakukan ketika kalut.

Merasa tidak ingin pusing sendiri, saya pun segera menanyakan kepada kedua rekan saya yang mungkin terbawa oleh mereka. Dan, nyatanya mereka tidak membawanya. Deeeeng!!

Mendengar berita berkas yang teramat penting tidak ada, kedua rekan saya ikut kalut. Mereka lebih panik dari pada saya. Oh tidak !. Mereka membuat suasana lebih kalut dan panik.

“Waduh, kant !. Kamu kan tau, data itu, penting buat tugas kita nanti. Piye tho?”. Ujar Mas Anton dengan dahi berkerut menandakan bahwa ia sedang pusing.

“Kok bisa enggak ada?. Itu gimana cerita?!.” Timpal ironis, mas Raga dengan ekspresi kosong. “Lo harus inget-inget kant. Kalau enggak, abis kita !”.

Sejujurnya, ucapan mereka membuat saya kian panik. Memang harus diakui bahwa data itu teramat penting. Berkas-berkas berupa coding itu seharga ratusan juta. Ibarat berkas ujian nasional, berkas coding itu teramat RA-HA-SI-A. Rahasia!.

Tidak terbayang apabila berkas itu hilang, entah ke mana. Dan ditemukan oleh orang lain. Seketika itu, saya pun berpikir ABIS SUDAH NASIB SAYA !.

Saking kalutnya, saya pun mencoba mereka ulang kejadian-kejadian 1 jam lalu, 10 jam lalu, bahkan sebelum saya menaikin mobil kantor. Saya pun menelpon Ayah di Jakarta dengan tujuan mengkonfirmasi apakah ada map yang saya maksud tertinggal di rumah. Tepatnya di bagasi mobil. Namun sayang sekali, bukan ketenangan yang saya dapat, melainkan ketegangan luar biasa. Di luar dugaan, Ayah saya jadi ikutan kalut. Beliau justru memarahi saya. Tidak mau lama-lama dimarahi, saya pun menyudahi obrolan di telepon.

Tidak putus asa, saya mencoba menghubungi adik saya yang masih ada di rumah melalui twitter. Sekali lagi, hasilnya nihil. Menurut informasi map itu tidak ditemukan di rumah maupun bagasi mobil.

Saya mencoba kembali dengan menghubungi supir kantor, untuk mengkonfirmasi keberadaan map di bagasi mobil kantor. Dan kembali hasilnya nihil.

“Habis sudah!”. Pikir saya tiba-tiba.

Tanpa sadar saya bergumam lirih dalam hati, “Di mana Ya..Allah.. tunjukkan pada hamba petunjuk-Mu”

Malam hari, ketika selesai sholat Isya, saya pun melaksanakan sholat sunnah istikharah meminta petunjuk. Dan kali ini, saya benar-benar mencoba berdialog kepada-Nya. Dan di situlah, antara keyakinan dan ketidakyakinan beda tipis di hati dan benak saya.

Entah mengapa, di saat komunikasi itu terjadi, saya tutup dengan pembacaan ayat Al-Quran, hingga pada suatu ayat berbunyi, “Firosatul Mukmin Haq” yang berarti Firasat seorang mukmin itu benar. Ketika membaca itu, saya pun termotivasi percaya untuk mengikuti kata firasat, yakni kembalikan kepada Allah.

Pukul 21:30 WIB saya gegaskan untuk segera tidur. Dan besar harapan adalah agar Allah memberikan petunjuk keberadaan map itu. Keesokan paginya, ketika selesai sholat, entah mengapa saya tiba-tiba berpikir bus primajasa. Entah mengapa, hati begitu kuat untuk mendelik tempat keberadaan map di bagasi dalam atas tepat di atas saya duduk.

Secepat mungkin saya rogoh dompet mencari karcis pembayaran untuk melihat nomor pull kantor di tasik ataupun di jakarta. Ketika menelpon, saya sedikit kecewa bahwa ternyata map itu tidak ditemukan. Namun, seperti ada yang membisikan ke hati saya, bahwa saya harus pergi menuju ke manapun menggunakan bus primajasa. Di waktu, yang berjalan begitu saja. Tanpa saya rencanakan, saya pun melaju dengan bismillah.

Hingga suatu ketika pukul 08.30 WIB, saya menaikin bus dengan tujuan yang sama seperti saya pergi. Saya menaiki bus itu, dan sekali lagi firasat saya mengatakan, ini adalah bus yang saya taiki ketika itu. Kenapa, karena wajah kondekturnya mirip dengan kondektur bus saya pergi. Saya ingat itu.

Saya pun bertanya dengannya dengan baik-baik.”Mang, di bus ini ada map yang ketinggalan gak ya?”.

Dengan wajah yang heran ia tidak menjawab, bahkan berbalik bertanya, “Warna apa neng?. Kapan?. Ti mana nyimpennya waktu itu?”.

“Biru. Saya simpen di bagasi atas”. Seraya menujuk lokasi saya simpankan.

Entah mengapa saya menjawab dengan sangat percaya diri, padahal saya tidak ingat apakah iya saya menyimpan di tempat itu.

Mamang kondektur itu memanggil saya keluar ketika berhenti di pemeriksaan bus. Ia mencoba meintrogasi saya secara detail, mulai dari warna, bentuk, isi, dan waktu. Ya, saya akui itu sangat lumrah dilakukan oleh mereka, dengan tujuan keamanan.

“Oh gitu. Sebenetar neng..” Ucap mamang kondektur sambil melaju ke dalam bus.

Dan ketika ia datang..

“Ini neng?”. Tanya ia seraya menyodorkan sekotak map warna biru.

Melihat itu, saya spontan senang setengah kepayang. “Iya Mang, iya !!. Itu punya saya”.

Setelah kejadian itu, saya benar-benar percaya dengan kekuatan komunikasi dengan Sang Khalik sungguh-sunggu menumbuhkan kepercayaan yang nayris mustahil bagi manusia. Siapa sangka, pemikiran kita berada di bawah alam sadar menuntun langkah dan ucapan untuk mencari jawaban yang kita cari.

Petunjuk itu bukan mimpi yang biasa disebutkan orang-orang. Tapi saya percaya petunjuk itu ada di hati kita. Karena Allah bukan hadir di mimpi, tapi Ia hadir di hati setiap insan yang senantiasa meminta sungguh-sungguh. Itu sebabnya, bahwa firasat seorang mukmin adalah benar.

Hari ini, adalah sangat berharga untuk saya. Terimakasih Yaa Allah..