Interlude : Maya

INTERLUDE1_final-1

Kau beri segenap hati di sela rasa ketidakpercaya dirian. Kau, juga memberi hangat di tengah dinginnya hati yang hampir beku. Kau juga tahu bagaimana beri senyum di tengah masam menusuk ingatan.

Kau membuka setiap lembaran yang kosong untuk ku isi. Bahkan Kau pun juga tak tahu mulai dari mana. Kau hanya bisa memberikan malam dan siang, terik dan hujan, senja dan terbit, bosan dan riang, sedih dan bahagia, sendiri dan bersama, Entah untuk siapa dan ke mana tinta ku menggores pemberian mu pada halaman mu yang kosong.

Terlalu singkat nama mu pagi ini. Memecah rindu yang kosong ditelan malam. Meski, langit tahu kau sudah mulai dengan kata yang tak akan pudar di setiap rotasi.

Kau tahu amarah ini tak akan membendung. Karena kau juga tahu, ini terlalu singkat.

Ruang kosong itu mendadu tanpa pilih, tanpa lihat, tanpa ucap, hanya harap yang membisikkan realita. Dalam realita, setiap senyum kian nyata. Dalam realita setiap doa adalah harap, dan dalam realita dunia bukan lagi maya.

Kau percaya sulap itu nyata. Bermain trik dan dinamika penonton akan terkagum. Dunia ini hiburan, yang akan memberikan tontontan yang mengagumkan. Akankah maya ini akan berkhir sorak sorai dan yang gemuruh?, ataukah berubah menjadi pupus yang membekas?.

Mata kau, ku tahu tak satupun bekas di sana. Setiap wujud bermula maya menuju realita, tanpa bekas yang berjejak satupun. Itu kan yang diinginkan. Hanya dunia kedua, awal cerita dimulai. Jadi biarlah terombang ambing pada waktu yang kau tetapkan setelah melihat langkah ku tiada.

Terimakasih Maya. Kau telah merubah semua menjadi hiburan dunia ku pada waktu yang cepat. Toh, kita saling percaya dunia ini luas, masih ada tempat yang belum disinggah oleh mimpi. Sampai bertemu di dunia kedua. Karena Maya mu akan selalu hadir dalam ingatan yang diiringi oleh senyum bahagia.

Teringat Bongsan

 

Lagi, harus saya jumpa kota candi ini. Kota pertama yang selalu saya ingin kunjungi ketika lampau. Kota pertama yang bagi saya memberikan keramah tamahan dan kearifan lokal Indonesia. Atau Kota pertama yang mempertemukan dengan seorang kawan yang kini entah ada di mana.

Bongsan Naputulua, panggilan baginya yang hanya dia dan keluarganya yang paham tentang artinya. Namun, sebenarnya ia memiliki nama indah yang terpelosok jauh di Timur Indonesia. Tanah intan dan emas yang sangat kaya melahirkan anak putera bangsa yang harus rela berjuang hingga ke tanah Jawa untuk mewujudkan cita.

Bongsan, anggaplah ia saya panggil untuk mengenang dirinya pada cerita ini.

Ini sungguh perjalanan yang tidak lagi berkisah mengenai setumpuk riset pasar yang harus saya jalani, walau memang pada kenyataanya tanggung jawab itu lah yang akhirnya membawa saya pada Kota Kesultanan ini. Namun kota ini begitu banyak cerita. Penuh catatan yang dari awal terunut atas ingatan manis yang selalu ter-eja dalam langkah yang saya miliki. Begitu manis.

Harus saya syukuri, di Kota ini adalah awal pertemuan pertama terhadap orang lain dalam hidup saya. Mulai dari pengalaman perjalanan wisata semasa kecil yang diakomodasi oleh Kantor Ayah saya ketika itu, studi banding, pertemuan perkumpulan mahasiswa seluruh Indonesia, dan satu lagi pertemuan tak sengaja dengan Bongsan di sela-sela perjalanan dinas dari tempat kantor saya.

Bongsan laki-laki unik sedunia. Yeah, bagi saya ia adalah laki-laki unik sedunia. Boleh saya urut sekumpulan orang-orang uni semacam Robin Williams, The Chapline, Will Smith, Komedian Sule, Komedian Benyamin, atau Ashton Kutcher, Bongsan akan saya masukan ia paling akhir. Sebab, ia tidak begitu lucu jika dibandingkan rentetan unik bagi saya, tapi Bongsan memiliki keunikan perilaku yang langka bagi laki-laki sesusianya.

Ia berusia dua tahun lebih tua dari saya. Jika tahun ini saya berusia 25 tahun, maka Bongsan berusia 27 tahun. Tubuhnya gemuk, berisi dan kekar. Walaupun tubuhnya tidak terlalu tinggi bagi ukuran laki-laki, Bongsan memiliki mata yang tajam alis dan bibirnya tebal, kulit yang cokelat gelap, serta rambut yang keriting gimbal tidak terlalu panjang, dengan tegas ia begitu mencirikan produk 100% Indonesia Timur.

Siang tadi saya berjalan dari pasar Beringharjo, menyelusuri tepi jalan dengan sesekali menyigap bahu karena pikuknya pengunjung di sana. Harus diakui, tidak harus menunggu libur, Kota ini akan selalu ramai di hari-hari biasanya.

Kemudian, setelah menelusuri pasar dan beberapa kali melakukan riset observasi, saya pun langsung menuju daerah Sleman. Perjalanan ini mengingatkan saya ketika bertemu Bongsan yang ketika itu sedang duduk di sebuah taman, dengan menggunakan ransel dan memegang secarik kertas putih di tangan kanan, dan seplastik air teh dingin di tangan kirinya. Nampak begitu kelelahan dan kebingunan. Saya yang ketika itu sedang melakukan perjalanan dinas untuk survey dua tahun yang lalu, tidak disangka harus menoleh kepadanya atas panggilan yang ia lontarkan kepada saya.

“E..Ibu, Kita orang Timur, Mau tanya sebentar”. Ucap Bongsan kepada saya.

Langkah saya pun terhenti, dan memberikan respon ragu, “Iya, Saya?”.

Mendengar respon saya, Bongsan secepat kilat langsung mengiyakan sambil menunjuk ke arah saya. “Iya, Ibu”

Harus saya jujur kali ini, sempat ketika ia memanggil saya dengan sebutan Ibu, saya sedikit takut dan jengkel, seraya bergumam di hati dengan dongkol, “What Ibu?, setua itu kah gue?!”

Ah, tapi yasudahlah, belum saya sempat kabur atau menggeleng tak suka, Bongsan sudah melaju dekat ke arah saya sambil menyodorkan kertas tadi sambil berkata, “E..jalan stasiun kemanakah?”.

Di kertas itu, saya hanya melihat semacam gambar peta rute menuju suatu tempat. Berliuk-liuk bagaikan peta harta karun dengan simbol simbol yang tertuliskan nama yang entah bahasa apa, sebab tak ada di kamus saya. Tapi yang saya amti seksama adalah tulisan ujung pada awal dua garus di sebelah kiri, yakni Timika. Kemudian, setelah timikia, ada dua garis yang ditarik lurus ke kanan dan yang menariknya adalah di atasnya ada gambar perahu yang berlabuh pada tulisan Ketapang. Setelah itu, adalah lagi setelah Ketapang gambar yang masih saya ingat, adalah terdapat nama Stasiun Balapan, dan Stasiun Tugu.

Karena saking ribetnya baca petunjuk di kertas tersebut, saya akui, saya cukup kerepotan memahami tulisan dan simbol-simbol tadi. Mungkin terasa lama bagi Bongsan menunggu jawaban saya, ia pun menegur saya.

“Ibu tau tidak?”.

Asli, itu cukup mengejutkan saya. Logat yang tak biasa saya dengar, seakan laki-laki itu akan memukuli saya. “Ngh.. oh Maaf lama. Bapak mau ke mana memang?”.

“Stasiun Kereta”. Jawab tegasnya.

Lagi-lagi saya gelagapan. Pertama, saya bukan orang daerah setempat. Kedua, saya takut dipukuli. Sangat Shock Theraphy.

“Maaf bapak..”. Saya berbalik panggil ia Bapak, karena sepertinya ia lebih cocok saya panggil Bapak. “Sebenernya saya bukan orang sini saya tidak tahu harus ke arah mana dan naik apa ke sana, tapi stasiun berada di dekat hotel saya. Bapak bisa ikut saya nanti naik mobil ke sana”.

Laki-laki itu, Bongsan, hanya celingak celinguk tajam penuh curiga. “Apa benar?. Tak bohongi saya kah?”.

“Oh tidak. Saya tidak bohongin bapak”. Jawab saya sambil senyum dan menunjukkan ID Card saya.

Akhirnya tidak lama, kami beserta supir rental, melaju menuju Hotel di mana saya tinggal. Di perjalanan, kami berbincang, dan perbincangan itulah yang akhirnya saya tahu ia bernama Bongsan

Ketika ia bercerita bagaimana perjalanan hingga tiba di Jogjakarta, saya cukup terkejut karena pengalaman yang luar biasa panjangnya. Selama 10 hari ia jalani, Hingga ia tiba di Jogjakarta. Waktu yang selama itu, cukup tidak dipercayai di era serba canggih ini. Ternyata dalam perjalanan, ia menggunakan jalur darat dan laut. Bukan jalur udara. Belum lagi ia bercerita bagaimana ia ditipu oleh calo kapal yang menjanjikannya membawa dirinya hingga tiba di Ketapang. Namun apa daya, ia tertipu karena harus terdampar di Makassar.

Kemudian ia juga bercerita bagaimana ia harus menggadaikan jam tangan yang menurutnya bermereck rolex emas, hanya untuk naik kapal hingga sampai di Ketapang. Kemudian, ia melaju hingga tiba di Bali. Dari Bali barulah tiba di Jawa Timur. 

“Kemudian, kita lanjut e naek kereta api, tapi sayang.. kena tipu dua kali”. Ujar Bongsan.

“Loh, kok bisa?. Bukannya udah jelas tujuannya?”. Tanya saya heran.

“Bukan, kena tipu sama orang sebelah. Ada orang bilang, katanya ini kena sudah sampai setasiun Tugu”. Bongsan menjelaskan sambil memperagakan gesture tubuhnya.

Saya pun hanya bisa tertawa.

“E..tak usah ketawa. Tak lucu itu!”. Sanggah ia.

Oow !!. Mulutnya saya langsung mingkem semingkem mingkemnya. “Maaf Bongsan, saya lucu dengan gaya mu”.

Bongsan pun tersenyum sambil mengucap, “Terimakasih Ibu”.

“Bongsan, jangan panggil saya Ibu ya. Saya belum punya anak. Jadi cukup panggil nama saya Kantri”, Tawar saya kemudian.

Ia pun menerima tawaran saya, tapi sayang di sela-sela cerita selanjutnya ia masih memanggil saya dengan “Ibu”. Argh..

“Tujuan mu ke Jogja untuk apa Bongsan?”. Tanya saya.

Dengan santai, Bongsan menjawab, “Kuliah”.

“kuliah di UGM?. Oh.. tapi kok naek kereta lagi?. UGM kan di sini”

“Tidak, kita cari apa itu namanya, sekolah gratis”. Ucap Bongsan, sambil memainkan gantungan patung yang ada di tas ranselnya.

Saya langsung menangkap bahwa sekolah gratis yang dimaksud Bongsan adalah beasiswa. Peluang sekolah yang selalu diidam-idamkan anak bangsa untuk pintar dengan tanpa mengeluarkan uang sepeser pun dari dompet pribadi karena ketidak mampuan finansial.

“Oh maksudnya, tidak ada beasiswa gitu?”. Tanya saya dengan usaha memperjelas.

Bongsan pun memberi tanggapan anggukan kepala seraya menjawab tidak ada kesempatan sekolah gratis untuknya. “Tapi, masih ada jalan lagi ke Jakarta. A..mungkin ada di sana”.

Bongsan pun kembali bersemangat ketika pikirannya sedang bermain asumsi tebak-tebak berhadiah. Sosok Bongsan ini lah yang dapat dikatakan gigih dalam mencari kesempatan, walau tidak tahu apakah kesempatan itu benar-benar ada ataukah tidak ada sama sekali.

           “Kamu udah lihat websitenya?. Info sekolah gratis kau tau dari mana?”.

           “a.. Tidak tahu dari siapa-siapa keh. Kita tahu, sekolah gratis ada di kota”.

           “Jadi, Kau cari itu sekolah gratis sampai ke Jawa?”.

          “Memang, sulit sekolah di Timika sanah. Kami sulit pintar”.

          “Saya pernah ke Timika, Freeport.”

Mendengar pengalaman saya ke Timika, Bongsan pun terkejut. Terlebih ketika mendengar kata Freeport. Ia hanya menapis getir dalam mulutnya.

          “Pintar buat mereka bukan kami keh. Di sana emas itu sudah seperti sagu bagi mereka. Bukan kami”.

Kemudian, Bongsan pun menceritakan kehidupan masyarakat Timika yang tidak saya ketahui selama saya melakukan perjalanan ke sana. Pengununangan dengan penerangan lampu seadanya membuat mereka hidup dalam sunyi. Suara penambangan yang rutin mendengungkan telinga mereka, sudah menjadi hiburan kesunyian. Hanya bisa menyimak suara bising dan kepulan asap tambang yang jauh lebih mengebul dibandingkan kebulan asap dari dapur mereka.

Keberanian Bongsan yang melangkah jauh meninggalkan tanah kelahiran hanya mencari ‘Pintar’ patut saya acungkan jempol. Berbekal sebisanya, dan hanya mengandalkan asumsi keberanian dan keyakinan itu adalah modal utama seorang untuk sukses.

Mungkin tidak di Jogja, “Pintar” itu ada untuknya. Tapi di tempat lain, tempat yang jauh lebih baik “Pintar” itu akan ada nyata baginya. Bukankah, hanya mereka yang bisa sukses karena ada kemauan. Maka, ia pun akan sukses jika ia mau.

Langkah tegap serta keringat yang tak tuntas terbendung, akan menjadi tanda kemauan Bongsan untuk jauh lebih baik. Tidak untuk dirinya, tetapi untuk negara ini. Sudah sepatutnya negara ini bangga memiliki putera bangsa yang memiliki kemauan kuat untuk merubah nasib atas dirinya.

Dan Tugu, adalah batas kenangan itu berakhir. Saya dan Bongsan pun berpisah. pertemuan yang memberikan nilai terbaik dalam hidup saya. Lagi-lagi orang yang memiliki tekad dan kemauan melebihi tubuhnya itu sangat nyata. Bongsan, merupakan tipe anak bangsa yang patut dicontoh. Bongsan dan sejumlah orang-orang terbaik yang pernah saya jumpa, adalah tunas luhur dari Tuhan.

Bongsan, di mana kau berada, semoga tujuan mu akan selalu membumikan kesuburan negeri ini dengan air mata dan tetesan keringat sebagai bukti bahwa negara ini bukan negara yang dapat dipermainkan atas nama kesejahteraan.

Catatan terindah, Jogjakarta, 13 Agustus 2014.

Adioss.. 

Kabar Petang dari Indonesia : “When You Love Someone, Just be Brave to Say”

Membuka email sambil menikmati setiap laman perbincangan antar dua negara ini kembali menyenangkan. Bagi saya, di minggu pertama ini berita mengejutkan justru datang dari seorang sahabat semasa putih biru dongker yang tiba-tiba memproklamirkan keberanian heroik dalam menyatakan perasaan suka yang terpendam pada seseorang laki-laki yang juga tercatat sebagai pegawai akuntan di perusahaan otomotif tersohor di dunia.

Oca, panggilan akrab dari kami, merupakan perempuan yang menurut saya cukup berani. Semasa SMP, dia adalah teman sebangku yang menyenangkan. Perempuan berdarah Batak itu cukup khas jika dilihat dari perawakan wajah dan sikap bawaan yang spontanitas. Perbedaan agama antara kami tidak menjadi permasalahan selama satu tahun kami berteman. Kesukaan terhadap makanan, cukup menjadikan kami partner in crime solid dan penuh eksperimental kekonyolan.

Pertemanan kami berlanjut ketika melanjutkan sekolah menengah atas yang kebetulan satu sekolah yang sama. Namun takdir tidak menyatukan sebangku lagi, karena akhirnya kami terpisah dengan jarak kelas serta konsentrasi jurusan keilmuan. Jika saya di kelas IPA, Oca justru lebih menyukai IPS. Sekali lagi, intensitas komunikasi kami tidak menjadi terputus hanya karena takdir jarak kelas dan jurusan keilmuan, buktinya di luar kelas pun Saya dan Oca masih hang out dengan Teman sepermainan semasa SMP.

Pasca kelulusan, barulah kami benar-benar terpisah oleh perguruan tinggi, jurusan keilmuan, dan wilayah kota administratif. Namun demikian, setidaknya masih ada persamaan, yakni kami masih sama-sama kuliah di Provinsi Jawa Barat. Saya di Jatinangor, dan Oca di Depok.

Hari-hari bersama Oca, tidak terasa kami tumbuh di usia yang terbilang hampir sama. Usia 25 tahun yang menurut sebagian orang merupakan angka keramat bagi perempuan single. Usia yang sudah makan asam garam dengan kisah percintaan monyet (katanya), atau usia yang seharusnya sudah memiliki ‘gandengan’ untuk dikenalkan ke orang tua. Tapi sayang, keramat itu belum terasa mistis untuk saya dan Oca. Haha..

Memang nasib kami berdua cukup unik. Jika dibandingkan dengan empat teman kami lainnya, justru saya dan Oca adalah orang yang paling miskin pengalaman masalah percintaan monyet. Mudahnya sih, kalau naksir kiri kanan sih pernah. Tapi, untuk menjalin perasaan macem pacaran gitu, enggak minat. Jika Saya enggan berpacaran karena prinsip, Oca enggan karena dia merasa ketakutan untuk benar-benar menyukai laki-laki.

Saya ingat waktu itu, ia sempat mendeklrasikan perasaan suka dengan teman sekelas bernama Giri. Dengan, percaya dirinya ia membawa sekantong plastik bersisi cokelat ayam jago dan menyatakan perasaannya.

“Giri, pengen tau enggak, satu rahasia selama ini gue pendam?”. Tanya Oca yang sedang duduk sampingan dengan Giri sambil membawa sekantong pelastik berisi cokelat.

Saya dan keempat teman dan beberapa teman kelas menyaksikan keberanian Oca sambil berharap cemas. Bahkan ada teman kami bernama Taufan, yang menutup telinga. Entahlah menagapa dia menutup telinga. Ada lagi Ando, yang merupakan teman sebangku Giri. Ando justru mengumpat di kolong meja guru. Entahlah kenapa pula si Ando mengumpat. Ya..namanya juga kelakuan manusia cyin, tremornya beda-beda. 😀

Waktu Oca ingin menyampaikan perasaannya itu, tiba-tiba kelas 3.7 (Kelas 3 semasa SMP) berubah makin padat oleh murid-murid. Bahkan pintu kelas pun sengaja ditutup. Demi fenomena langka yang dipengaruhi oleh program televisi Katakan Cinta. Well, program Katakan Cinta itu program paling happening banget jaman SMP.

Seidkit ulasan mengenai program teve, Katakan Cinta di RCTI :

Program itu, bertujuan untuk mewujudkan seremonial demi mengungkapkan perasaan cinta atau suka seseorang kepada gebetannya. Cara mengungkapkannya pun terbilang unik. Ada yang terbang dari ketinggian 7 meter. Atau ada yang memakai kostum badut-badutan, dan masih banyak lagi yang intinya bagaimana meberikan kesan kepada gebetan betapa besar perjuangan untuk mencintai. Absurd sih, tapi bagi kami program teve itu cukup unik. Alhasil, motivasi itu akhirnya berdampak pada si Oca, yang nekat menyatakan perasaan ke Giri.

Dengan muka memerah, dan mulut yang melebar jelas mempertontokan kawat-kawat yang memageri gigi-giginya itu, Giri bertanya kepada Oca dengan nada menggoda, “Apa”

Tiba-tiba tidak lama, Oca memulai mengeja satu persatu kata ungkapan perasaan sukanya. “Gu..e, Gu..e..”

Tampak oleh mata, Oca yang akhirnya terlihat gugup. Raut wajah kami pun jadi ikutan gugup.  Dengan kegugupan luar biasa Oca berusaha berkata lagi, “Gu..e, suka Sa…ma, e..lo. Nih cokelat buat lo !”.

Dan, seluruh kelas menjadi gaduh dengan sorak sorai serta tepuk tangan. “Ciiiiiiiiieeeeeeee….. Oca Giri !!. Terima..!! Terima !! Terima !!”. Seluruh anak-anak sekelas kompak berteriak.Harapan teman-teman sekelas pupus ketika ternyata Oca hanya ingin menyampaikan perasaanya saja.

Tidak meminta imbalan. Dan, sekarang kejadian itu ternyata terjadi kembali di usianya yang mau menginjak seperempat abad. Ia bercerita bagaimana ia memendam perasaan kepada seseorang bergaris keturunan chinese yang menurutnya, laki-laki itu sangat mirip dengan artis korea, yang entah siapa.

Oca dan gebetannya itu satu ruangan dengan posisi meja kerja yang saling memunggungi. Bahkan, saking penderitaan rasa berbunga-bunga terhadap laki-laki itu, ia rela melakukan hal-hal kekonyolan. Ia membuat akun twitter dengan nama anonim yang sesuai dengan nama judul lagu. Semua kata-kata tweet yang ia buat, semua berbentuk pantun romantika. Seperti,

banjir di kemang, ngungsi ke melawai. pedekate gampang, ternyata doi melambai..

atau..

ada hujan, ada rindu. ngarep jadian, berujung sendu..

Semacam tweet kode yang ingin disampaikan kepada laki-laki berparas sipit yang biasa dipanggil “Koko”. Saya pun, terkekeh heran, sejak kapan si Oca bisa jadi doyan mantun??, padahal dulu kayaknya paling males belajar Bahasa Indonesia. Belum lagi, si Oca setiap kerja di kantornya, ia selalu menaruh cermin lipat berukuran kecil di meja, dengan tujuan, dapat melihat si Koko walau hanya tampak dari belakang.

Pernah suatu ketika, kami berbelanja di pusat perbelanjaan di daerah selatan Jakarta, tiba-tiba secara tidak sengaja bertemu dengan si Koko. Sekejap, Oca berubah menjadi gugup deg-degan dan tidak mau bertemu dengannya. Alasannya, “Duh, Troy si Koko ada di sini. Gue enggak make up an!!”.

Duaaar !. Mendengar alasan itu, asli lah saya langsung geleng-geleng kepala. Benar-benar cinta membuat kekonyolan si Oca. Oh satu lagi, saya pun pernah membantu Oca bermain manuver kepada si Koko dengan cara mencoba mention si Koko itu melalui twitter. “Hai, Tadi lo di H&M ya?. Oh iya, ada orang yang diam-diam suka loh sama lo :D” . Si Koko itu pun membalas mention saya.

Di sore tadi, Oca nyaris menceritakan kembali dengan kata-kata peristiwa itu. Selama itu mereka sekantor, jelas Koko tidak mengetahui siapa sosok yang menyukainya. Karena Oca ingin resign dari tempat kantornya, maka ia pun ingin sekali menyatakan perasaan yang ada selama di kantor itu.

“Koko, gue mau pamitan nih. Sekalian, mau ngomong sesuatu. Sibuk enggak?”

si Koko itu tanpa berkeberatan, ia pun berbicara saling berhadapan. Well. membayangkan agak romantis macem pilem kore-korean gitu..

“Gue cuman mau bilang, terimakasih udah jadi teman kantor selama ini. Satu hal yang pengen gue sampaikan secara jujur, bahwa gue selama ini, suka sama lo. Tapi, gue enggak minta apa-apa dari lo, gue cuman mau ngungkapin perasaan aja. Dan satu lagi, gue mau kasih kue buat lo”.

Begitulah Oca mengetik perkataan yang sudah ia katakan kepada obrolan sore kami. Tidak ada plastik cokelat, yang ada hanyalah dua topeles kue kering yang katanya dibeli dari toko kue paling enak se Jakarta. Peristiwa itu, disaksikan tidak hanya pegawai se ruangan, melainkan kamera CCTV yang menjadi saksi bisu keberanian Oca menyatakan perasaanya.

“Terus, pasca pengakuan dosa lo, progressnya gimana Ca?”, Tanya saya kemudian dengan penuh penasaran.

“Gue di WA sama temen deketnya dia. Katanya, satu topeles kue dibagi-bagiin ke anak-anak kantor. Satu topeles lagi, dibawa pulang”. Jawab Oca.

Membaca jawaban dari Oca, saya langsung ngakak. “Yaelah Ca, progresnya kue topeles dibawa gitu ke rumahnya dia?. Meteor Garden banget deh lo. Maksud gue, lo ada kontak-kontakan gitu gk?”.

“Sejauh ini sih, enggak. Tapi kan gue bilang, kalau gue enggak minta imbalan. Gue cuman mau ngungkapin aja. Jadi gue enggak mikirin banget kek gimana setelahnya”. Ujar Oca yang terbaca bijaksana laksana dewi sri yang konon katanya hanya tersenyum setelah menebar benih padi di sawah.

Sepertinya, Oca benar-benar tipe perempuan yang benar-benar hanya ingin mengurangi beban hidupnya dengan cara melepaskan perasaan yang sekian lama bergemuruh di sanu bari. Toh, baginya menjalin hubungan yang serius itu lebih menakutkan dibanding hanya sekedar memendam perasaan suka. Karena, perasaanya tidak akan menyakiti orang yang disukai. Pastinya, hanya dia seorang si pemendam rasa yang akan merasa bergejolak tanpa sebab.

Memang benar setiap orang memiliki karakteristik kepribadian yang berbeda-beda. Jika ada dari mereka yang sulit menyatakan perasaannya, di tempat yang lain, justru ada mereka yang sangat mudah untuk menyatakan perasaanya. Terlepas sebagai orang komunikasi, saya mengakui bahwa apa yang kita pikirkan berupa agagasan, ide, dan apa pun namanya tidak akan tersampaikan jika tidak dikomunikasikan.

Tapi untuk persoalan perasaan di hati, tentu fenomena perilaku manusialah yang kian menjadikan komunikasi menjadi simbol keunikan sikap seseorang. Menyatakan perasaan sebenarnya tidak menyoal kepada lawan jenis saja, kepada keluarga pun juga dapat di korelasikan. Tapi tidak ada yang semanis ketika perasaan dua insan diberikan fitrah yang satu itu bukan?.

Ada yang diam ketika sedang marah. Ada juga yang berapi-api ketika sedang terbakar amarah. Ada yang menulis, ketika lisan tidak mampu berdialektika. Atau ada juga yang menggambar demi me-ekspresikan perasaan jiwa. Setiap orang, memiliki cara tersendiri. Begitu juga dengan cerita Oca, yang tentu memiliki nilai tersendiri bagi yang membacanya.

Mungkin, bagi kamu yang terjebak kisah yang sama dengan teman saya yang satu itu, sedikit saran saja, jadilah dirimu sesuai apa yang ingin kamu sampaikan kepada orang itu. Mau atau tidak mau menyampaikan, Maju atau bahkan justru mundur, itu semua ada waktunya. Tinggal pilihan ada di tanganmu. Dan pilihanmu, adalah sikap takdir mu. Tentu takdir adalah hal yang terbaik dari Tuhan, hanya tinggal memaknai dengan perspektif terbaik sesuai dengan firman-Nya.

So, When You Love Someone, Just be Brave to Say…

*ps : Semua cerita, nama dan julukan, sudah disetujui oleh pihak yang bersangkutan untuk disebutkan dalam tulisan 😀

Adiooss..

Cahaya Remang

Sungguh saya, tidak bisa menghakimi perempuan itu atas perbuatan yang sudah dilakukan.  Begitu pun, sangat sulit untuk memberikan solusi demi menjawab segelumit dosa yang ia buat. Dosa. Sekali lagi itu dosa. Memiliki anak di luar pernikahan, dan tidak mengakui anak itu sebagai anaknya, sungguh dosa hidupnya. Bagai lidah tidak bertulang, dan nurani yang berdinding tebal nyaris tidak bersahabat di saat kondisi yang sulit seperti ini.

Jelas, bagi saya ini sulit, jika menjadikan saya pihak yang engkau ajak untuk bertukar cerita. Bagaimana mungkin kau suruh saya membela mu  dari anak kecil itu, yang tuna rungu dan tak bersuara selama hidupnya, Tidak kamu, juga bukan untuk keluarga mu yang menjunjung kehormatan keluarga tinggi. Jika ini adalah aib bagi mu, sungguh tidak kau pikir tentang prahara aib ketika kau lakukan zinah dengan laki-laki tak beriman itu?

Lengkap sudah, malam ini pecah dengan tangis seorang perempuan dalam mata dan telinga saya. Ada penyesalan mendalam dalam hatinya ketika harus memberikan anak bayi yang ia kandung selama delapan bulan kepada orang lain, bukan dirinya. Kasihan anak itu. Anak yang ditakdirkan dengan kondisi yang tidak diinginkan. Bagi keluarganya, anak kecil itu hanya aib keluarga.

Pantas, ketika saya lihat anak itu dengan wajah memelas memandang, sambil menjematkan jari mungil di bibir, aku merasa kenal dengan wajah dan sorot matanya. Ia seperti sosok perempuan yang dekat dengan saya. Setelah empat tahun, ini pun akhirnya terbongkar tanpa sengaja. Mungkin ketidaksengajaan ini, adalah takdir bagimu yang menjunjung tinggi kehormatan keluarga di mata orang lain di atas kehormatan Allah atas dirinya.

Yaa.. Allah, apakah akhir dari takdir ini atas diri saya?. Saya yang mengetahui ini, haruskah turut serta menutupi aib dunia yang menyingkirkan nasib anak empat tahun itu dengan kekurangan fisik yang diderita?. Haruskan saya marah dengan perempuan itu yang meminta mohon untuk tidak menceritakan hal ini kepada siapa pun?.

Sungguh, adzab akhirat lebih kejam daripada ocehan penduduk bumi yang semu. Sungguh, zina adalah dosa besar. Saya hanyalah manusia yang harus bisa membedakan mana dosa mana pahala. Mungkin, hanya taubatan nasuha yang bisa saya sampaikan kepadanya. Hanya baginya, Maha Pngampun dan Maha Mengetahui.

Seluruh perempuan di mana pun, terlebih perempuan muslim Indonesia, sudah seharunya kita terus mencoba belajar tentang nilai agama untuk bisa membedakan mana kebaikan dan keburukan. Keburukan bukanlah takdir. Tetapi hasil sikap yang sudah kita pilih karena ketidakpahaman akan Islam untuk kehidupan sehari-hari. Biarlah dianggap paling alim seplanet ini, setidaknya kita masih bisa membedakan mana baik mana yang buruk. Dan tingakatan hidup selanjutnya adalah ke-istiqomahaan perilaku yang kita anggap baik untuk diterapkan sehari-hari.

Perempuan adalah perhiasan dunia akhirat yang derajatnya sangat dimuliakan oleh siapa pun, Hindari dunia gemerlap dan dunia bebas pergaulan antara perempuan dan laki-laki yang tidak semuhrim. Kehormatan perempuan selalu menjadi rendah jika kaki kita menginjak tempat-tempat seperti itu. Adapun fakta kehamilan di luar nikah, pelecehan seksual terlebih timbul dari tempat-tempat seperti itu.

Semoga Allah memaafkan segala dosa-dosa yang sudah kita lakukan. Aamiin..

 

Perfekto : “Perjodohan Tanpa Batas Waktu” – Part 2

Lantunan lagu dengan sedikit sentuhan country soul melambaikan perasaan sang Ibu dalam dekapan sore. Tumpukan kertas penilaian urung ia koreksi, walau sebenarnya ingin ia lakukan demi sebuah akreditasi perusahaan konsultan pendidikan yang sudah berdiri selama 3 tahun itu.

“Haruskan Aku mencarikan jodoh untuk anak ku?”, pikirnya dalam-dalam tentang niat perjodohan yang ingin ia lakukan untuk ankanya. Dengan pandangan lurus memecah kemelut hatinya yang begitu mempedulikan nasib sang anak yang tak kunjung menikah di usia mapannya.

Sorot mata yang tajam, tiba-tiba mengendur seolah menunjukkan kelelahan atas aktifitas kali itu. Segera ia lepas tangkai kacamata rabun dekat yang kerap ia pakai selama beraktifitas. Sesekali tangannya memijit pangkal hidup mancungnya sambil terus berpikir.

“Ah, Yona.. mau mu apa nak?”, Ucapnya seraya menghembuskan nafas berat sambil membasuh wajahnya dengan kedua tangannya. Pikirnya, anak perempuan pertamanya sudah begitu dewasa. Sudah layak baginya untuk menentukan suami yang terbaik untuk masa depannya. Namun, apa daya, bayangan atas  masa lalu serta bawaan kisah sang anak kian menjelma roh makhluk halus yang meminta pertanggung jawaban dari dirinya.

“Oh Ya.. Tuhan.. dia tidak metahu, tentang masalah itu”. Ucapnya dengan lirih sambil memandang ke atas seolah berharap dengan keberadaan Tuhan di ruangan itu.

Keesokan harinya, Yona dan Ibunya bertemu dalam sebuah kebiasaan pagi, olah raga yoga. Ibu dan anak ini, kerap menjaga kesehatan tubuh dengan kebiasaan sehat, yang rutin mereka lakukan. Kebiasaan yang kian membuat mereka begitu dekat. Karena dengan beryoga, mereka dapat santai atas kepenatan hari-hari yang sudah mereka lalui di kantor. Satu lagi, berdialog menjadikan ajang tukar pikiran, yang terkadang menimbulkan sebuah inspirasi ataukah hanya sekedar melaps tawa karena cerita lucu dari pengalaman satu sama lain. Komplit roti gandum isi dan secangkir teh hijau kian mengisi pagi yang manis.

“Yona, mamah ingin kasih sesuatu untuk kau pertimbangkan”.  Ucap sang mamah setelah menyerumput teh dalam cangkir porselain hitam.

“Lelaki itu?”. Tanya Yona seolah menebak ajuan sang Mamah untuk dirinya. Yona melihat sang Mamah berjalan menuju kamarnya. Tidak lama, kembali menuju dirinya sambil membawa map surat berwarna cokelat. “Is He The Lucky One?”, Tambahnya dengan tersenyum sinis.

“Kamu baca dulu biodatanya. Mamah, enggak akan nge-intervensi-kan kamu atas keputusan mu selanjutnya”, Sekiranya perkataan sang Mamah kali ini cukup serius dan tegas, bahwa ini pilihan hanya ada di tangan Yona, bukan dirinya.

“Oke, Mam.. Yona akan baca lelaki ini dengan teropong colombus”. Ledek Yona sambil memperagakan jenaka ala bajak laut. Dan tawa mereka pun pecah di tengah susana pagi.

Bersambung..

Perfekto : “Perjodohan Tanpa Batas Waktu” – Part 1

Perempuan setengah baya itu terus membujuk anak perempuan pertamanya di tiap waktu senggang antara dia dan anaknya. Baginya waktu adalah kesempatan, kesempatan yang harus digunakan sebaik-baiknya. Keinginan untuk memiliki seroang menantu dan menimang cucu, menjadi pertimbangan baginya untuk terus membujuk sang anak untuk menikah sesegera mungkin. Lingkungan yang mendorong dirinya untuk bergegas menyongsong takdir Tuhan yang sudah tertuang dalam kitab Lauh Mahfudz untuk anak perempuannya itu.

Perjodohan ini, bukan keli pertama dilakukan oleh sang Ibu. Mungkin bukan dikatakan sebagai perjodohan, hanya perkenalan, akan tetapi sang anak mempercayai bahwa tindakan itu adalah tendensius perjodohan secara tidak langsung. Mungkin sang Ibu cemas dan khawatir karena sang anak tidak menunjukkan ketertarikan dengan seorang pria manapun. Layaknya kehidupan abad 21 ke atas, seorang Ibu akan senang, jika anaknya sudah memperkenalkan lawan jenis kepada Ibunya. Kemudian, dipertegas dengan label “Calon Suami”  sang anak. Ah, namun sayang, sang anak jauh dari sterotype tersebut. Baginya, jodoh sudah diatur oleh Tuhan. Cara membawa dan memperkenalkan seorang laki-laki yang bukan suaminya, adalah cara yang kurang baik di benaknya. Itulah prinsip yang terus ia pegang.

Usia 24 tahun untuk saat ini masih tergolong muda. Dengan sejumlah target-target impian dan cita-cita masih sangat jauh untuk diraih dengan kerja keras. Kerja keras identik dengan pribadi mandiri yang menjunjung tinggi sebuah idialisme, yang mungkin acap kali bergeseran dengan keinginan orang tua. Terlebih adalah anak perempuan, yang mana budaya mengatakan bahwa jika sudah gadis jangan disimpan lama-lama. enggak baek. Mungkin maksudnya adalah baik untuk menunaikan ibadah, namun sang anak lagi-lagi masih menganggap bahwa jodoh akan datang di waktu yang tepat tanpa dikejar.

Hingga pada suatu ketika, sang anak mengajukan keinginan untuk melanjutkan sekolah strata 2 di luar negeri tahun depan, namun sang Ibu tidak memberikan izin jika harus berada di negara asing dengan waktu lama tanpa berstatus sudah menikah. Ini yang kemudian menjadikan sang anak begitu galau gulanda. Pada suatu malam sang Ibu dan anak perempuan pergi makan malam bersama di sebuah rumah makan sunda di daerah Jakarta. Mereka berdialog dari hati ke hati dengan model komunikasi horizontal antara Ibu dan anak. Persahabat lebih tepatnya.

Tidak lama, sang Ibu menjelaskan maksud untuk memperkenalkan seorang laki-laki yang ternyata anak dari temannya. Laki-laki itu berusia 27 tahun. Sudah mapan. Pengusaha muda. Dan lulusan dari sebuah jurusan Teknik Informatika di sebuah perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia. Menurutnya, laki-laki itu sangat cocok untuk anaknya. Jiwa entrepreneur yang menjadi dominan, terbilang cocok untuk anaknya dan laki-laki tersebut. Terlebih, ternyata sang laki-laki itu memiliki prinsip yang sama dengan anak perempuannya, yakni tidak mau berpacaran. Dengan kata lain, seumur hidup mereka belum pernah berpacaran. Prinsip yang menganggap bahwa jodoh terbaik akan datang di waktu yang tepat menjadi persamaan antara laki-laki yang akan dikenalkan dengan anak perempuannya.

Mendengar penjelasn sang Ibu, ternyata membuat anak perempuannya berpikir dewasa. Kali ini ia tidak memberontak atau nyinyir jika mendengar maksud baik Ibunya. Akhirnya, dengan lapang, anak perempuannya menyetujui untuk mengikuti keinginan Ibunya itu. Sang anak menyatakan bahwa ia akan membalas mengirim biodata dirinya setelah laki-laki yang ingin dikenalkan sudah  mengirimkan biodatanya kepada dia melalui Ibunya. Tidak ada pertemuan, sebelum ada persetujuan dari anak perempuannya.

Anak perempuan itu menyadari dunia ini cukup luas. Mudah dijangkau dengan sebuah sistem media sosial yang menyelimuti hari-hari manusia kapan pun. Dengan demikian, sangat mudah untuk melacak atau stalking seorang yang ingin kita ketahui. Ada yang berbeda dengan anak perempuan kali ini. Semual dia berpikir bahwa media sosial sangat bersifat personal. Untuk itu, semenjak ia mengetahui akan ada kejadian perkenalan maka ia semakin menjadikan media sosial lebih personal. Karena ia tau, kapan pun dirinya akan di stalking oleh laki-laki tersebut. Maka dengan prinsip menjadi diri sendiri, ia mencoba menunjukkan bahwa dirinya adalah sosok perempuan yang akan dilihat sebagai sosok media sosial sebenarnya.

Malam menyudahi obrolan Ibu dan anak yang sarat dengan bumbu pendewasaan. Di akhir obrolan, sang Ibu bertanya dengan berbisik, Apakah kamu sudah menyukai seseorang ?

Dengan santai anak perempuannya menjawab, Sudah.

*bersambung*

Jalan Duri Wanita Indonesia Menuju Syurga

Pagi sekali, Ibu paruh baya yang sering saya temui di halte busway Ragunan, tiba-tiba sudah berdiri mengantri menunggu Bus TransJakarta yang siap melaju pukul 6. Wajahnya kali ini sedikit pucat, tampak ada lingkaran hitam di kelopak matanya. Ia tepat berdiri di samping ku. Perjumpaan kami kali ini, bukan yang pertama. Dari sekian penumpang yang saya temui setiap pagi, hanya wanita ini. Wanita yang memiliki guratan wajah penuh makna. Wanita yang tanpa sadar, kini dunia sedang memeluknya erat. Mengapa?, Itu karena kali pertama saya bertemu dengannya, sontak seluruh pemikiran saya, terurai kepada sebuha lorong kehidupan bernama Perempuan Indonesia. Ia adalah perempuan Indonesia saat ini. Ia cermin, mungkin bagi kami yang bernasib sama.

Suatu ketika, di hari pertama dalam bulan Oktober, Ia sudah berdiri di paling depan dari deretan antrian bus Tj. Ia tidak sendiri. Tangan halus dengan tonjolan urat nadi yang begitu terlihat di jarak 3 jengkal dari mata, terlihat sedang menggandeng tangan mungil anak berseragam Kotak-kotak merah putih, dengan celana putih, lengkap dengan dasi dan topi berwarna putih yang selaras dengan warna celana. Anak itu, terlihat tenang, sesekali ia mengayun-ayunkan kakinya, atau menyender menopang tubuh mungilnya di kaki perempuan yang biasa ia sebut Bunda.

Udara dingin menyapu bulu halus di tangan dan kakinya. Tontonan kosong di matanya, tak urung memaksa sang hormon, memaksa untuk menguap karena kantuk.

“Adek ngantuk?”. Tanya Bunda, sambil mengayun genggaman tangan seraya membangunkan anaknya yang terlena dengan pemandangan yang membosankan setiap pagi itu.

Tanpa bicara, sambil terkejut, anak itu pun segera membuka mata, dan menegakkan kembali tubuh yang sempat menyender di kaki sang Bunda.

“Tidak boleh mengantuk ya, nanti aja di bus baru boleh tidur”. Ucap Bunda, dengan nada yang tegas, namun sarat kasih sayang.

“Bun, kapan sih dateng. lama banget busway nya?”. Sambil memandang arah datang bus, anak itu bertanya polos.

“Bentar lagi”. Jawab sang Bunda dengan santai. “Eh, lagu apa yang kemaren diajarin miss rina di sekolah?, Bunda lupa”. Tambahnya, dengan tujuan mengalihkan pembicaraan anaknya yang mulai mengeluh atas keterlambatan bus TJ. Tidak lama, anak itu, menyanyi. Sesekali sang Bunda pun ikut bernyanyi.

Perhatian saya, tertuju pada pemandangan pagi yang menarik kali ini. Dua orang manusia yang ditakdirkan sebagai Ibu dan Anak kini bermain peran sesuai kodratnya. Di antara mereka yang berdiri pun ikut memperhatikan. Sayang, hanya mereka. Mereka yang bergandengan dengan penuh sayang, dengan segala obrolan pagi yang sederhana. Kami yang berdiri, hanya dapat merangkul tas, dan sibuk dengan buku, atau telepon cerdas yang terus mengudara menerawang kehidupan maya yang entah sampai kapan nyatanya.

Ada kejadian lain, yang membuat saya kembali menyimak adegan Ibu dan Anak ini. Suatu ketika, di dalam bus, sesak dengan penumpang yang berdiri. Ibu dan Anak itu, kembali berdialog.

“Bun, nanti aku makan apa duyu, picang (red-pisang) duyu apa onet duyu (red-kornet dulu) ?” Tanya anak itu sambil menunjuk-tunjukkan tas kecil berwrana merah dengan tulisan Tupperware berwarna hijau, yang mungkin itu adalah makanan bekal sekolahnya.

Sambil memangku dan memeluk pinggang dari arah belakang sang anak, Ibu itu menjawab. “Menurut adek lebih enakan mana?, Pisang dulu apa Kornetnya dulu?”.

Mendengar pertanyaan dari Ibunya, anak itu berpikir, “Hmmm..hm…on..”

Tidak lama, telepon sang Ibu berbunyi. Perempuan itu melihat tulisan di layar telepon. Lalu apa yang terjadi, Ia tidak langsung mengangkat telepon. Tetapi Ia mendengarkan ucapan anaknya yang berbarengan dengan bunyi telepon. “Apa, Kornet dulu?. Oke deh, boleh juga. Eh iya, adek, bunda boleh ada angkat telepon?”.

Hm.. yeah !. ini yang jarang terjadi. Seorang Ibu meminta izin untuk mengangkat telepon kepada anaknya.

Dan anak itu menjawab dengan senang, “Boyeh”.

Pupil saya agak membesar melihat kejadian itu, kejadian yang luar biasa saya perhatikan. Seorang Ibu berseragam rapih layaknya wanita karier dengan segala kesibukan serta tuntutan pekerjaan yang mungkin memecutnya, dengan santai ia tepis hanya untuk menghormati sang anak.

Pernah dalam perjumpaan ke sekian kalinya, Perempuan itu mencoba meminta izin kepada anaknya, bahwa ia tidak bisa menjemput pulang sekolah sang anak. Ia menyampaikan, bahwa anak itu akan dijemput kakenya, dan menyampaikan pesan agar tidur siang, dan makan siang di rumah kakeknya. Tanpa menjawab, anak itu justru balik bertanya, mengapa Ibunya tidak bisa menjemputnya. Kembali, sang Ibu menyampaikan dengan santai, dengan menyebutkan alasan membeli susu, dan diakhiri dengan ucapan, “boleh bunda tidak bisa jemput adek?”. Anak itu menjawab, “Boyeh”. Dan seterusnya, di setiap percakapan mereka, ada ungkapan permohonan, ungkapan izin atau semacam meminta pendapat layaknya orang dewasa.

Lagi-lagi ada pesan dari mereka yang selalu saya temukan. Takdir yang indah sebagai seorang Ibu dan Anak, Saya jadi teringat, ada banyak hal peran wanita dalam dunia. Peran yang berbeda, dengan status yang berbeda. Ketika masih kecil, perempuan akan berperan layaknya perempuan kecil yang bermanja, bermain, dan belajar. Branjak remaja, perempuan akan tumbuh mengenal interaksi sosial, kompetisi,  dan mencari jati diri. Tumbuh dewasa, perempuan akan mengalami fase yang berbeda. Antara mencari jalan hidup atau menerima jalan hidup. Antara perasaan dan logika. Antara tuntutan dan keinginan. Semua kerap datang menguji mental sang kedewasaan perempuan.

Bagi saya, kedewasaan perempuan tidak diukur oleh usia. Dewasa adalah fase memposisikan diri atas apa yang terjadi di lingkungan. Tanpa paksaan dari luar. Muncul dari dirinya yang mencari sampai menemukan bahwa “inilah makna penciptaan perempuan oleh-Nya”. Banyak yang menilai bahwa perempuan itu adalah makhluk lemah dan tidak berdaya, tidak mampu melakukan ini itu, sulit meoptimalkan kemampuan intelejensia di banding yang lain, karena perempuan makhluk yang hanya memiliki peran di dapur. Hanya untuk keluarga. Sebagai pemuas nafsu sang suami. Sebagi juru masak di dapur, sebagi pencuci baju yang gesit, mengepel, dan serumit kegiatan rumah lainnya. Sehingga banyak yang berlari melepaskan citra perempuan dalam dirinya, dan berlomba menunjukkan ketegaran sebagai wanita dengan segelumit aktivitas kantor dengan posisi yang mencerminkan kehebatan langka pada diri seorang perempuan. Benarkah demikian?

Jawabannya, TIDAK untuk dogma lemah, IYA untuk peran, dan BISA JADI untuk fenomena perempuan yang terjadi saat ini.  Perempuan memang lemah secara ketahanan tubuh jika dibandingkan ketahanan tubuh yang dimiliki laki-laki. Fisiologi yang dimiliki antara dua makhluk Allah ini juga terlihat dari bagaimana Allah menciptakan seorang adam dan hawa, bagaimana komposisi yang terdapat pada otak. Jelas, perempuan memang jauh dari lemah. Dogma lemah menjadi tidak benar, karena manusia hanya menyorotu fisik saja, bukan mental. Berbicara mental perempuan mampu menghadapi segala permasalahan yang mungkin lebih sakit dari ancaman fisik yang ia hadapi. Keluhan lebih jarang keluar dari mulutnya. Hati yang lembut tercipta untuk menetralkan pandangan sinis dirinya dari dunia. Tidak ada perempuan di bumi ini yang tidak berhati lembut. Kecuali ada kelainan dalam psikologis jiwa dirinya.

Berbicara peran, setiap akan memiliki peran masing-masing pada kondisi dewasa. Islam mengajarkan jadilah wanita yang sholeha.

           “Kehidupan dunia adalah kesenangan. Kesenangan dunia yang terbaik adalah wanita yang shaliha” (H.R Muslim)

Wanita sholeha berperan sebagai tiang dalam keluarga muslim. Ia merupakan unsur terpenting dan sekaligus sebagai pondasi yang kokoh dalam keluarga. Ia adalah kenikmatan pertama bagi kehidupan suaminya. Bahkan, ia sebagai perhiasan terbaik bagi suaminya dalam kehidupan. Wanita sholeha merupakan karunia besar bagi laki-laki karena ia berperan sebagai tempat beristirahat bagi suaminya setelah menempuh kegetiran hidup dan kepenatan mencari penghidupan.

Islam sangat memuliakan seorang wanita. Karena di tangan wanita lah peradaban dapat berdiri kokoh dengan Rabbani. Saya sempat merinding menyelami makna tersebut. Saya membayangkan syurga atas pahala-pahala yang didapat dengan status perempuan. Bagaimana melahirkan dan membesarkan anak-anak yang dapat meneruskan tujuan islam secara kaffah. Begitu juga dengan mereka (anak-anak) yang memandang diri wanita (Ibu) sebagai pabrik pahala menuju syurga. Melalui sebuah pernikahan, maka tumbuhlah kemuliaan hakiki di sana.

Lalu bayangan syurga pun berubah ketika saya mengingat banyaknya fenomena wanita yang terjadi saat ini. Banyak persepsi, pola pikir, entah berasal dari mana aliran yang menggeser lokasi syurga menjadi neraka. Banyak wanita yang tidak menghargai dirinya sendiri.  Banyak menjunjung tinggi sebuah emansipasi semu.

“Aapabila seorang wanita melaksanakan shalatnya yang lima waktu berpuasa pada bulan (Ramadhan), taat kepada suaminya dan menjaga kemaluannya, akan dikatakan kepadanya, “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kamu sukai” (H.R Ahmad dan Thabrani)

Setidaknya, hadist itu menunjukkan bahwa sarat masuk syurga hanya itu.

Saya pernah mendengar perdebatan antara pro kontra perempuan menyetir di sebuah negara. Atau, wanita karir yang melanggar hukum islam. Terlepas dari aturan hukum islam, saya tidak bisa beragumentasi lebih. Karena pun saya, bukanlah ahli Fiqih. Tetapi saya mencoba menyelami makna dari hadist berikut ini :

“Setiap kalian adalah pemimpin. Setiap pemimpin akan dimintakan pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang pengusaha adalah pemimpin akan dimintakan pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang lelaki pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintakan pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintakan pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang pembantu adalah pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintakan pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintakan pertanggungjawaban atas kepemimpinannya”. (H.R Bukhari dan Muslim)

Mungkinkah setiap orang memiliki peran ganda?, peran yang tidak hanya satu?. Apakah perempuan akan berakhir dengan menikah, menjadi isteri, dan ibu?.

Menikah, menjadi isteri, dan menjadi Ibu adalah kemungkinan yang terjadi jika Allah SWT berkehendak”. Itulah ucapan guru ngaji saya ketika membahas adab wanita sholeha. Maka dari itu banyak kita menemukan di usia yang tidak lagi muda, terdapat perempuan yang belum menemukan jodoh mereka, atau hingga ajal menjemput, ia tidak bisa merasakan bertemu jodoh. Walau terkesan BISA JADI peran tersebut dapat dialami, tentu perlu diingat dengan menikah, menjadi isteri dan menjadi ibu adalah dapat kita pilih sebagai jalan menuju syurga.

Semula saya berpikir ketika sudah menikah maka peran perempuan akan berubah. Akan menjalankan apa yang disebutkan pada hadist-hadist sebelumnya. Saat ini, perempuan tidak lagi hanya berdiam di rumah. Banyak Ibu yang juga mengais rejeki. Berbagai profesi terdapat di sana. Mulai dari seorang presiden hingga penjual kue keliling, perempuan berperan sebagai manusia pengais rejeki. Dosaka mereka yang bekerja di luar rumah, sedang anak-anak mereka diasuh oleh pembantu rumah tangga?.

“Perempuan terbaik yang menunggang unta adalah wanita Quraisy. Mereka paling sayang terhadap anak kecil dan paling perhatian terhadap urusan suaminya” (H.R Bukhari dan Muslim)

Wanita muslimah yang benar-benar beriman senantiasa menyayangi anak-anaknya dan memelihara hak suaminya. Keduanya merupakan sifat terbaik yang menghiasi kepribadian wanita di setiap waktu dan tempat.

Ada peran dalam kegiatan yang dapat dijalankan wanita. Saya kedapatan alasan mengapa wanita bekerja mengais rejeki, hal itu dikarenakan pekerjaan suaminya belum cukup menafkahi keluarga. Ada lagi yang berpendapat, saya punya cita-cita sebagai seseorang, untuk itu saya kuliah tinggi.

Saya mendengar alasan itu, jadi bercermin pada diri saya sendiri. Saat ini saya bekerja, dan memiliki cita-cita menimba ilmu untuk menjadi seseorang yang dapat berkontribusi untuk negera dan agama. Bahkan penghargaan dari manusia terkadang merasuki angan yang menyenangkan. Tidak ada yang salah ketika setiap orang memiliki cita-cita. Memiliki ilmu pendidikan yang tinggi. Karena pada dasarnya, Allah akan meninggikan derajat manusia bagi yang berilmu. Meninggikan derajat sepertinya memiliki banyak makna. Bisa jadi, datang dari pintu mana saja, tanpa kita sadari. Bisa jadi derajat tinggi datang dari suami atau anak-anak. Derajat itu semacam kedudukan mulia, keududukan mulia dunia akhirat.

Menjadi pintar itu adalah untuk kita menjawab solusi, menilai sebuah norma yang membedakan kita dengan hewan. Menjawab segala pertanyaan prahara hidup, sekecil apa pun ada ilmu nya, untuk itu, Allah akan meminta pertanggung jawaban kelakuan kita selama di dunia walau sebesar biki zarah sekalipun. Tidak ada akibat tanpa sebab. Hanya dengan Ilmu kita mengetahui sebab kehidupan ini.

Saya mengingat istilah bahwa madrasah pertama bagi seorang anak adalah Ibu. Ibu yang pintar, akan memompa menyebarkan virus kepintaran untuk anak-anak mereka. Terlebih, pada masa golden age seorang anak akan mulai meniru sang Ibu dan Ayah mereka. Ada rekam jejak yang masih sangat kuat di dalam pikiran anak kecil.  Bayangkan jika kita bodoh?

Tidak menjadi keharusan bagi perempuan untuk bekerja dan berkarir. Selagi masih bisa memberikan porsi waktu lebih banyak untuk memberikan hak suami dan anak-anaknya. Tentu setiap keluarga memiliki model mendidik anak yang berbeda. Saya, terlahir dari seorang Ibu yang berprofesi sebagai guru. Dulu sering menangis karena ditinggal. Tumbuh di masa sekolah dasar, saya diajarkan mandiri. Akan tetapi ia tetap mengajari saya pelajaran, memasak, dan mengantarkan saya ke pada aktifitas positif. Dan jadilah saya seperti ini.

Ada teman saya pernah bilang, ” Pasti ada yang tidak beres secara psikologis oleh tumbuh kembang sang anak pada latar belakang anak yang Ibunya wanita karir”. Kemudian saya mulai berkaca pada diri saya sendiri. Kira-kira ada yang tidak beres dengan saya atau tidak?. Jawabannya iya.

Bagi saya, tidak ada hal yang perlu dianggap malu untuk kondisi sebenarnya. Justru, manusia akan belajar dari pengalaman dirinya. Begitu pula dengan Ibu saya yang memilih jalan untuk berkarir dan mendidik saya dan adik kakak saya seperti ini. Itu karena dirinya melihat orang tuanya. Bukan manusia jika mengalami tumbuh kembang. Semakin kita dewasa, semakin kita paham dan bijak memandang sebuah permasalahan. Walau tetap ada nilai benar atau salah di sana. Walau akhirnya saya menyimpulkan, “mungkin Ibu mu bukan yang sempurna dalam mendidik mu, tapi dia, dia orang yang sangat baik untuk mu”.

Jika dikorelasikan dengan adegan Anak dan Ibu yang saya temukan di bus TJ, kembali saya berkaca dengan kondisi pelik yang harus dipilih oleh seorang wanita. Menjadi wanita karier pun akan membentuk pola pikir seorang wanita, biasanya dia lebih manajerial dalam mengatur waktu, penuh pertimbangan di sana. Menghargai quality time. Akan tetapi sulit mengendalikan emosi. Sehingga ditakutkan akan melalaikan dalam memberi hak-hak dari suami dan anak-anak mereka.

Sedang ibu rumah tangga, pun tidak akan baik jika tidak bisa me-manajerial waktu. Sehingga banyak di antara mereka yang lebih banyak menghabiskan di mall dengan anak-anak mereka, atau sekedar berkumpul dengan ibu-ibu lainnya. Mungkin fenomena ini tidak asing kita temui di kota-kota besar. Sehingga terkesan, lebih mengahambur-hamburkan uang suami pada kegiatan yang jelas.

Menjawab itu semua, Islam memiliki solusinya. Memang sudah seharusnya kembali kepada aturan agama. Bukan aturan manusia yang sangat tidak adil dibanding aturan Allah SWT. Jika mengutip dari iklan minuman teh ringan, “Apa pun profesinya, dia tetap seorang Isteri dan Ibu”. 

Hm.. maaf jika terbaca seperti menggurui dan sok tau. Karena pemilik blog belum menikah. Tapi kamu tau, bagi saya ilmu membuat kita dewasa. Setiap fenomena yang saya lihat, akan saya cari ilmunya melalui buku atau berdiskusi dengan mereka yang sudah mengalami serupa. Dan menjadi tau, tidak harus menunggu sudah mengalami. Karena jika sudah mengalami namanya paham. Satu hal harapan saya untuk seluruh wanita di dunia. Jadilah wanita yang kreatif dalam kondisi apa pun. Selalu bisa membedakan peluang yang menjerumuskan kebaikan atau ke pada keburukan. Tentu harapan setiap insan yang hidup, adalah tempat akhir syurga yang abadi di sana. Maka tidak ada kata terlambat. Hidup itu proses kita mencari, menemukan, dan berubah. Mencari kebenaran, menemukan kebenaran, dan berubah menjadi benar. Maka tidak ada kata terlambat selagi niat masih tetap menancap kokoh dalam pondasi untuk lebih baik lagi sampai malaikat izrail menghampiri.

ps : “Dunia adalah perhiasan. Perhiasan dunia yang terbaik adalah wanita yang shaliha”

Adioss..

Mereka juga Kita

Dear people.. assalamualaykum wr.wb

Masih syawal ya?. Eh gimana puasa syawalnya?, lancar dong ya.. Insya Allah..

Pasca Ramadhan berasa ada yang beda enggak ya?, Kalau kalian merasa ada yang beda, berarti kita sama ya. Kalau saya, nyaris bulan “Bukan Saya”. Lebih garang sama yang namanya tujuan hidup. *tsaaah

Semacam ada kekuatan baru untuk hidup lebih baik lagi. Perasaan baru sebenernya sih, cuman diri kita sama Allah yang tau. Yeaah semoga aja bertahan sampai 11 bulan ke depan sampai ketemu Ramadhan lagi merasakan diri yang baru ini terus ON.

Gimana mudiknya?, Ah pasti seru deh itu yang punya kampung jauh-jauh gitu. Mudik (Mulih ke Udik) emang udah jadi agenda tahunan yang selalu membawa cerita menarik. Beruntung deh pokoknya bagi yang mudik ke luar kota atau ke luar pulau. Selain sensasi kebersamaan dalam kesengsaraan panas di jalan, atau belum lagi kemacatan yang panjang, para mudikers tentunya bisa menambah value silaturahmi yang akan selalu dikenang terus. Mulai dari Bagi-bagi THR, mamer baju, sampai kepada banjir pertanyaan yang mungkin membuat muak, karena sering ditanya haberkali-kali kalau ketemu. Mulai dari, Kelas berapa sekarang?, Semester berapa?, Ranking berapa kemaren?, Udah wisuda belum?, Udah kerja belum?,atau bahkan mana calonnya kok enggak dibawa?. Daaaaan masih banyak lagi pertanyaan yang akan berulang kamu dapatin selagi kamu masih hidup. Apapun, yes apapun bisa jadi pertanyaan.

Eneug sih sebenernya. Tapi itulah hidup. Hidup yang harus kita lewatin dengan pahit atau manisnya mood kita dalam menjawab sebuah kenyataan yang ada. Tapi tenang, si ‘saya’ pemilik blog ini pun sama dengan kamu. Tapi percayalah pertanyaan mereka enggak se-getir pertanyaan malaikat di alam kubur atau di akhirat nanti. Anggap aja, ini salah satu test kesabaran dalam menjawab pertanyaan orang lain yang mungkin mereka sebenernya pengen banget ngobrol sama kamu. Ya itu tadi, apapun bisa jadi pertanyaan. Jadi berbanggalah kita yang punya jumlah pertanyaan paling banyak tentang diri kita. Coba bayangkan kalau tidak ada satupun pertanyaan yang meluncur untuk kamu. Itu tandanya kamu sudah tidak meiliki value dalam hidup dia. So, bersyukurlah.. *bawa pompom sambil salto*

Bicara masalah silaturahmi, ada satu hal yang ingin saya ceritakan bagaimana sebuah silaturahmi dapat mengubah hidup seseorang. Allah menjanjikan kalau kita bersilaturahmi Insya Allah usia kita akan diperpanjang dan keberkahan akan mengalir deras. Apalagi kalau udah salaman, weeess,,mantap kali itu dosa-dosa kesalahan dengan orang tersebut akan luntur. Subhanallah !

Pada suatu ketika saya ikut dengan Ibu saya untuk bersilaturhami dengan kerabat lamanya yang juga berprofesi sebagai guru. Tante Ani, namanya. Perempuan asal Bogor itu seusia ibu saya. Berjuang sebagai single parent, ia menghidupi kedua anaknya hingga sampai saat ini sudah dewasa semua. Awalnya saya tidak mengetahui, siapa perempuan yang namanya sering menggaung di rumah kami. Pada kesempatan lebaran ini, Ibu saya meminta saya untuk mengantarkan berkunjung ke sana.

 Sampai di sana, ukuran rumahnya cukup besar dilengkapi degan kolam ikan yang unik. Unik, karena tidak ada satu pun ikan yang wara wiri di sana. Saya sedikit bertanya, “Tante kenapa enggak ada ikannya?”. Sambil tertawa lepas dia menjawab ringan. “Enggak ada yang ngurus”.

Pertanyaan saya muncul layaknya detektif. Kok bisa enggak ada yang ngurus?, Loh bukannya dia punya 2 anak yang udah dewasa?, sesibuk itukah keluarga ini sampai-sampai elemen pendukung komposisi rumah mereka yang sudah mereka buat terbengkalai sudah?, Ah sudahlah kepo itu kebiasaan terburuk dalam diri imajiner seperti saya.

Tidak lama, Tante Ani mempersilahkan saya dan ibu untuk minum dan mencicipi kue kering yang persis banget di rumah kami. Maklum aja, doi beli kue lebaran yang keluarga kami buat. Hehe…

Pembicaraan pun dimulai. Karena ini adalah moment silaturahmi, jadinya lebih banyak yang berbincang adalah Ibu dan temannya itu. Saya?!, saya hanya bermain telepon genggam pintar sambil mendengarkan percakapan mereka dan sesekali tertawa kecil demi menghormati walau sebenernya “ngomongin apa sih mereka?”.

Ah tunggu dulu, di sela obrolan seputar teman-teman mereka, ternyata Tante Ani menceritakan anak-anaknya. Kebetulan dong?!. Dan inilah saatnya saya menyimak dengan seksama.

“Iya mih, ini rumah gue sepi banget. Si bungsu sering banget muter-muter eropa”. Ulas Tante Ani sambil mengusap-usap lengan tangan dengan pandangan senja.

Hm wuiih..enak banget deh itu kayaknya bisa muter-muter eropa, pikir saya. Emang kerjanya apa gitu ya bisa leluasa keliling eropa.

“Dia, kan sekarang punya bisnis travel, jadinya sibuk banget. Yah begini ini mih, sepi”. Tante Ani pun menjawab pertanyaan yang sama dengan pikiran saya.

Terus, kalau anak paling kecil sibuk ke Eropa, anak pertama kemana ya?, lagi-lagi saya berdialektika dalam interpersonal. Tiba-tiba Ibu saya bertanya serupa. “Si ‘besar’ ke mana, An?”.

*Nama anak pertamanya saya tidak sebut ya, demi kedamaian dunia akhirat. Jadinya pakai istilah aja dengan ‘besar’

Sambil menunjuk ke arah pintu yang ada kira-kira 3 meter dari kami duduk tante Ani menjawab, “Tuh di dalam”.

*Sekilas informasi anak pertamanya seorang laki-laki seusia kakak saya, 27 tahun.

Tidak lama ada suara gedor-gedor ramai dari arah pintu tersebut. Sontak, kami terkejut.

“Bentar ya mih”. Ucap Tante Ani sambil berjalan menuju pintu kamar tersebut.

“AA kenapa?”. Tanya Tante Ani di depan pintu tanpa membukanya.

Awo awoo awoo..per per per uka uka, itu dia jawaban yang saya dengar. Oemji, itu apaan ngomong macem gitu. Jangan-jangan monster pikir saya.  Selang beberapa menit, Ibu saya ikut menghampiri pintu itu. Dan bertanya dengan lembut.

“ ‘besar’ ini tante mimih. Halo ! “.

Ibu saya dan Tante Ani pun menempelkan telingan sambil berbisik satu sama lain. Melihat kelakuan mereka, jujur saya mulai tidak paham ada sih di balik pintu itu. Sekali lagi, saya semakin penasaran. Saya pun berusaha menyimak apa yang dilakukan mereka.

Tidak lama, pintu dibuka oleh Tante Ani. Kamu tau, betapa saya terkejutnya dengan apa yang saya lihat. Sosok bertubuh tinggi besar, berambut cepak, berkulit putih, dengan pandangan mata sayu mencoba memeluk Ibu saya. Itu kah anak pertama itu.

Orang itu seperti bertanya kepada Ibu saya. Namun, sepertinya bahasa yang digunakan saya tidak mengerti. Namun ibu saya menjawab, “ Oh apa kabar?, Kabar baik. Selamat lebaran ya”.

Tunggu sebentar, Ya Allah.. dia..!! dia ternyata mengalami kelainan syaraf yang dengan istilah umumnya adalah Idiot.

“Mah..mau ini mau ini !!”. ucap orang itu sambil menunjuk ke arah alat vitalnya. Kemudian, tanggannya menarik tangan ibu ku seraya mengajaknya masuk ke kamarnya. Ibu saya pun berusaha menahan agar tidak memasuki kamar itu.

Tidak lama, muuncul dari dalam kamar, seorang perempuan yang memiliki kondisi sama dengan ‘besar’ itu.

“Tidak-tidak..AA di sini saja. Tante mimih mau pulang. Oke!“. Dengan sigap, Tante Ani menutup pintu dan kembali ke tempat duduk. Saya yang semula mengernyit heran, harus memaksakan untuk stay cool berasa tidak ada apa-apa dalam pandangan yang saya lihat barusan.

Melihat kelakuan anaknya itu, Tante Ani pun meminta maaf kepada Ibu saya. “Maaf ya mih, emang suka gitu kalau ada tamu”.

Dalam benak saya, saya ingin memaksa “Ayo tante..ceritain anak tante yang tadi !! please…”

“Itu siapa ni, perempuan yang di dalam?”. Tanya ibu saya kemudian.

Sambil mengunyah kue nastar, Tante Ani menjawab, “ Isterinya”.

Ha? Isteri?, ini berasa enggak yakin dengan apa yang dilihat dan terjadi dalam kenyataan. Setelah mendengar penjelasan Tante Ani. Kamu tau, apa yang terjadi, Saya menangis.

Begini..

Dalam kenyataannya bahwa manusia memang tercipta dengan keadaan yang berbeda-beda dari Allah SWT. Mulai dari fisik, pemikiran, hingga kadar keimanan. Cerita tante Ani memberikan pemahaman saya, bahwa manusia tidak akan pernah putus diuji oleh Allah SWT, uji kesabaran tentunya. Terutama orang tua. Orang tua akan diberikan ujian kesabaran dengan diberikannya seorang anak. Anak dengan segala serba serbinya. Terlahir sebagai anak yang berbeda dari anak-anak lainnya membuat Tante Ani ikhlas dan pasrah dengan jalan takdir hidupnya. Walau ia terbilang mapan, namun ternyata saya sadar, orang tua sampai kapan pun akan tetap orang tua yang terus memikirkan anaknya walau dia sudah dewasa.

Secara logika, apa yang bisa dilakukan orang seperti itu dalam menjalankan survival hidup?!. Bahkan saya sebagai manusia utuh masih merasa cemas dengan jalannya hidup saya sendiri. Keluhan selalu terucap tanpa sadar. Walau pada kenyataanya, sebenarnya harusnya masih banyak yang bisa saya lakukan dengan keberkahan jasmani dan ruhani ini.

Saya di sini mencoba memposisikan diri saya sebagai Tante Ani yang juga sebagai single parent. Tentu ini sangat berat. Bagaimana ia mencoba mengurusi anak pertamanya. Menyekolahkannya, dan akhirnya menikahkan. Dimana Anak laki-lakinya sebagai tumpuan keluarga masa tuanya, ternyata masih menari-nari dalam kecemasan teramat dalam.

“Terus itu hamil gk Ni?”. Tanya Ibu saya penasaran.

Sambil tersenyum Ia menjawab, “Allahuu allam Mih, bisa hamil apa enggak. Bisa melampiaskan biologisnya si AA aja saya udah alhamdulilah”. Dan obrolan kami pun terhenti.

When I Was Your Man

Pagi ini saya mencoba membuka email yahoo yang udah beberapa bulan saya tinggal. Ternyata udah penuh banget. Ada kali ya, sekitar ribuan email masuk. Ya gitu deh, kesemua isi email adalah notifikasi dari akun-akun yang pernah saya ikuti selama ini. Mulai dari akun bisnis, pendidikan, keagamaan, sosialita, aktivis, bahkan sampai pada forum biro jodoh dunia maya numplek memenuhi inbox saya. Jangan salah ya, kalau saya tidak membaca semuanya. Saya gini-gini juga paling enggak ada kerjaan. Kalau iseng, ya apapun di inbox masuk pasti saya baca. Ya walaupun terkadang suka nemu email masuk dengan nama teman saya, tapi isinya “link” sebuah situs yang enggak jelas. Menurut teman saya sih itu biasanya adalah virus. Tapi entah kenapa, udah jelasin kalau itu adalah virus, teteeeeeeep aja saya buka. :-p

Satu persatu email saya buka, hingga pada satu email masuk dari teman saya berinisial B.M. Saya biasa menyebut dirinya dengan BEMO. Oke sebut saja lah ya, dirinya dengan BEMO. BEMO merupakan teman saya ketika les bahasa Inggris di LIA Pasar Minggu. Temen lama. Tapi masih tetep berkomunikasi walau benua, lautan, dan samudera memisahkan kita. Cowok kembar yang kini bekerja pada perusahaan asing di Belanda itu ternyata sedang galau gundah gulanda.

Dia menceritakan sebuah kisah hidupnya selama di Belanda. Kisah yang jarang sekali dia ceritakan ke saya. Yeeeap kisah percintaan di usia 25 tahunnya membuat pagi saya sangat antusias membaca curahan hati sang bujangan kincir angin itu. Pengen tau ceritanya?!, yuk siap-siap ambil tissuee. hehehe..

Begini ceritanya,

Di awal pembukaan email yang dia kirimkan kepada saya, BEMO memelas. “Entahlah, saat ini gue harus cerita sama siapa. Di saat gue sadar, kalau perempuan itu sangat berarti buat gue”.

Membaca tulisan itu, spontan banget, saya nyengir kuda. Cuman bisa bilang dalam hati, ” Heum..Mamam deh lo”. *Maaf ya BEMO, Gue bilang gitu. Eh tapi gue nyengir kudanya sebentar kok. Karena firasat gue, kisah lo ini pasti beda. Makanya, gue akhiri dalam kenyengiran kuda ini, dan menghayati tulisan lo :D*

“lo tau gue kan, gue enggak bisa menempatkan hati hanya ke satu perempuan. Dan lo tau kan, kenapa gue kayak gitu?!. Ternyata Tuhan memberikan gue jawaban saat ini. GUE MENEMUKAN PEREMPUAN UNTUK HIDUP GUE LEBIH BAIK LAGI. Dia adalah perempuan yang udah jadi temen gue selama 2 tahun di Belanda. Temen ngobrol apapun, temen diskusi enggak jelas, temen jalan-jalan, nonton film, dateng konser musik, sampe ngerjain project kantor bareng. Semula gue merasakan kenyamanan seperti dekat dengan perempuan yang lain. Karena awalnya gue kira, setiap perasaan nyaman yang gue rasakan adalah berkat diri gue sendiri. Diri gue yang pintar membawa hati gue, menempatkan hati gue, dan menciptakan suasana menjadi beda. Yeah itu karena gue, Bukan perempuan yang dekat dengan gue. Lo pikir aja kant, selama dua tahun itu gue akhirnya tau dia jauh  banget dari perempuan yang paling cantik di sekitar gue.  Dia perempuan sederhana, sedikit cuek, dia suka banget baca komik, dan enggak suka fashion. Lo masih inget Caroline kan?!. Nah, kalau dibandingin sama Caroline, jauh banget deh. Apalagi kalau disamain sama Jasmine atau Minie. Pokoknya diantara perempuan yang gue deketin, yang satu ini jauh banget. Hingga suatu ketika dia harus kembali ke negaranya, Japan. Ada kali ya, 5 bulan gue enggak ketemu dia. Sampai pada suatu ketika, gue merasakan hampa. Kosong. Dan entah kenapa ada hilang dalam diri gue. Itu gue rasakan ketika dia pergi selama 5 bulan. Selama ini, kalau Jasmine, Caroline, atau Minie pergi entah kemana tau, gue sama sekali enggak mencari dia. Kali ini, beda. Bahkan hampir semua temen kantor gue bilang wajah gue pucat. Enggak ceria seperti biasanya. Hingga pada suatu ketika gue inget obrolan gue sama lo yang  “A Half We, Is You”.  Gilak kant ! Gilak !! gue karma ini kayaknya. Kayaknya gue punya perasaan yang beda sama itu perempuan. Cuman sama dia !. Selama 2 bulan itu gue enggak komunikasi sama sekali. Sama sekali. Gue udah coba telepon, ternyata telponnya enggak aktif. Akhirnya gue kirim email. Ternyata enggak perna ada balesan dari dia. Ah..rasanya gue mau gila. Rasanya gue pengen banget ke Jepang nyariin dia. Atas pertimbangan ini itu akhirnya gue ke Jepang. terserah lo bilang gue enggak waras atau gimana. yang jelas gue cuman pengen deket dia. Karena gue merasa kehilangan dia. Pergilah gue ke sana. Gue cari alamat dia di Jepang lewat perusahaan di sana. Ternyata dia di Hokaido ( Rumah neneknya ). Asli, susah bener nyari alamat di sana. apalagi gue gk bisa bahasa jepang. Gue sewa tour guide untuk nemenin ke Hokaido. Sampe di sono. Lo tau apa yang terjadi, Dia MERIT !. dia udah nikah. dan gue lemes banget tau berita itu. Makanya gue langsung YM lo, bilang WHAT SHOULD I DO NOW?, AND IM IN LOVE !. Dan lo bilang, “Yaudah bilang ke dia dan nikahin dia. Simple!”. Akhirnya gue bilang itu ke dia. Gue sadar itu bodoh. Lo tau raut wajahnya gimana, dia nangis. Terus senyum. Dia bilang, Dia juga suka gue. Tapi itu dulu pas pertama ketemu gue. Asli kant, gue merasa bodoh banget denger itu. Kenapa gue harus menyadari sekarang kalau dia berarti buat gue. Sampe sekarang gue kirim email ke lo ini hati gue masih lemas. Gue cuman pengen waktu kembali di saat gue ketemu dia, di saat dia ketemu gue. Gue enggak tau harus gimana ini…!!.

 

 

Itu dia cerita BEMO yang dia kirim ke email saya. Saat itu juga, saya bilang sama BEMO, “CINTA LO BASI!”.

Kayaknya udah banyak kisah cinta terlambat kayak gitu. Entahlah, penyesalan emang datang terlambat. Terlepas dari bahwa, “dia bukan jodoh lo” saya yakin enggak semua orang bisa bangkit untu recovery perasaan. Namanya juga perasaan hati, pasti sedikit sulit tuh. Makanya jangan maen-maen sama hati. sedikit meleset, sakitnya ampun-ampunan. Enggak tau juga ini, gara-gara email dari si BEMO saya jadi seneng banget denger lagunya Bruno Mars yang When I Was Your Man. Ini liriknya sama persis ya, sama kisahnya dia.

Ada hal yang harus kita ketahui, bahwa laki-laki itu punya hak untuk memilih, dan perempuan mempunyai hak untuk menolak. Menurut sensei SMA saya dulu, perempuan asia ( khususnya ) memiliki kesamaan dalam menyikapi perasaan. Bahwa perempuan itu hakikatnya menunggu untuk menjawab ya atau tidak, Kalau berdasarkan cerita dari temen-temen saya sih, kebanyakan laki-laki yang pernah dia suka di waktu yg tepat sebelumnya, akan datang di waktu yang (akhirnya ) tidak tepat. Contohnya, di saat perempuan itu akan menikah beberapa hari lagi, ternyata laki-laki yang pernah ia suka datang menyatakan suka. Huwooooo.. petir banget enggak tuh?!. Padahal sebenernya perempuan itu pernah suka sama laki-laki itu. Tapi karena laki-lakinya enggak menyadari, yasudah perempuan akan memilih siapa yang berani berkomitmen lebih cepat dari siapa pun. Sekilas mirip cerita di Cintapucino ya?!. Dan emang itu nyata adanya. Ya..karena saya belum merasakannya, jadi masih tidak percaya, dan membayangkan kalau nanti saya akan menikah, jangan-jangan John Mayer akan datang sambil bilang, ” Kantri, frankly, realize that I feel love in you. Will you marry me ?? 😀

Adioss…