The Raid 2 (Berandal) : “Hati-hati Wacana Kriminalitas”

The raid2

 

Apa yang membuat untuk segera kembali mengantri tiket film The Raid, jika bukan karena lakon laga yang nyaris tanpa jeda napas. Itulah The Raid, sebuah film laga yang sukses besar menoreh prestasi sebagai film action Indonesia yang berhasil masuk deretan 10 besar Box Office Amerika kembali hadir dengan sekuel keduanya, yang berjudul ‘Berandal’. Seperti biasa, setelah menyaksikkan film itu, penulis bersikeras menganalisis pesan, sebagai makna yang didapatkan oleh penulis sendiri.

Ada yang menarik ketika 1 menit menjelang pemutaran film di ruang bioskop. Ada rasa penasaran, “Kira-kira apakah The Raid 2 kali ini benar-benar akan kembali menyuguhkan laga tanpa jeda napas”. Benar saja, di awal pemutaran film yang berjarak tidak lebih 10 menit itu, penonton sudah ditunjukkan adegan pembunuhan sadis. Dan beberapa menit kemudian, semua adegan nyaris tanpa jeda.

The beranda

Bagi penonton yang ekstorvert, biasanya ia langsung menutup mata dan berteriak. Lain halnya tipe penonton yang introvert. Tipe penonton ini lebih sering meringis, atau hanya bisa memalingkan wajah dari layar.

Di sebuah bioskop di Jakarta Selatan, saya mencoba menonton film di waktu-waktu siang. Karena kebetulan, hari itu saya day off, dan sekiranya menonton sendiri di waktu siang, adalah waktu di mana yang mungkin menyenangkan. Namun, jauh dari prediksi, ternyata Berandal sukses sekali menarik minat anak berseragam putih abu-abu (red-SMA) menonton secara bergerombol.

Ini yang menarik bagi saya. Jenre film laga yang sarat dengan kekerasan fisik itu, sangat digandrungin oleh anak-anak muda yang mungkin belum genap 17 tahun. Pola pikir yang bisa jadi masih terbilang labil, akan berdampak buruk bagi psikologis mereka. Ada istilah menarik, bahwa pada saat menonton sebuah film, indera tidak lagi hanya berperan sebagai media penglihatan. Tetapi, setiap media indera tersebut meneruskan pesan yang interpretasikan oleh otak secara personal yang akhirnya menjadi sebuah pradigma dan berujung pada kebiasaan. Ini sebabnya, mengapa film-film berjenre kekerasan sudah selayaknya memperketat pengawasan terhadap nasib psikologis konsumen (red:penonton)

The Raid 2, tidak lagi menyoal pada pesan khalayak bahwasanya sebuah kekuasaan identik dengan kriminalitas, akan tetapi sudah kepada penyampaian unsur budaya kelompok minoritas di perkotaan besar. Kehidupan di lapas penjara misalnya. Pada fillm ini, sedikit dipertontokan bagaimana kondisi penjara yang justru menjadi ladang kriminalitas. Hukum tidak benar-benar ditegakkan di dalam sana. Tetapi, hukum sudah menjadi barang nepotisme untuk mencapai sesuatu keinginan politis.

Kebebasan, untuk dewasa ini seolah bukan lagi pada menyampaikan pendapat dan berkumpul. Tetapi sudah terintegrasi dengan menunjukkan suatu tindakan. Kebebasan bertindak yang dipertontokan pada film ini memberikan makna bahwa melalui kriminalitaslah persoalan baik amarah, ketidak sukaan, dan kebencian  akan cepat ter-atasi. Karena, kriminal cenderung tindakan yang melukai, sehingga ketakutan dan kelemahan adalah kekalahan yang nyata dalam kehidupan.

Tidak ada akal kejernihan dan hati nurani, yang ada hanyalah berpikir bagaimana bisa untuk bertahan hidup. Ini gilak !.

Bayangkan, jika benar-benar kehidupan sudah legal mempertontokan senjata tajam, sedang nyawa adalah tujuan pelampiasan amarah. Tentu kita sangat merinding membayangkannya, bukan.

Kembali pada film the Raid 2, yang dilihat dalam hal adegan aksi di setiap scene. Film ini patut diapresiasi sebagai film laga yang bernuansa hollywood. Ada unsur keseriusan sutradara dalam hal pemberian effect seolah-olah benar di dalamnya. Belum lagi, akting lakon peran pemain yang killer, bisa menunjukkan bahwa film ini berisi aktor dan aktris kawakan yang patut mendapatkan penghargaan. Sebut saja, Arifin Putra, yang memerankan sebagai Uco. Atau bisa juga Julie Estele, yang lakonnya dapat dilihat oke, walaupun hanya beberapa scene. Terakhir, harus diakui bahwa sound efek yang membuat penonton makin tenggelam dalam kekejaman cerita pada film The Raid 2 ini, sangat baik.

Dengan demikian, secara hasil kreatifitas film ini memberikan hasil karya yang baik dalam sinematografi. Namun untuk perspektif pesan yang terkandung di dalamnya, sepertinya film ini bukanlah film yang dapat ditonton begitu saja. Seakan menjadi media kritik sosial, bahwa politik-kekuasaan-dan kriminalitas adalah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

 

Iklan

Inspirasi dari Film 99 Cahaya di Langit Eropa : Perjalanan Romantis Mencari Cahaya Ilahi

99 cahaya

 

Hidayah itu memang kehedak-Nya. Apa pun kondisinya, tempatnya, dan siapa orangnya itulah target-Nya. Film 99 Cahaya di Langit Eropa yang diambil dari judul buku yang sama karya Hanum Salsabiela Rais dan Suaminya itu benar-benar memberikan inspirasi bagi siapa pun yang menontonnya. Pesan cerita yang nyaris membuat bulu berdiri karena merinding menyimak setiap perjalanan yang simple namun sangat luar biasa bermakna memang patut ditonton oleh siapa pun.

Bagi saya, film ini sangat memberikan inspirasi kepada saya. Pertama, dari film ini saya bisa mengambil bagaimana sebuah niat yang baik akan menghasilkan sesuatu jauh lebih baik. Bagi sebagian orang mendapatkan kesempatan belajar ke luar negeri terkadang hanya menjadi target adu gengsi semata. Namun berbeda dari cerita ini, di film ini menceritakan bagaimana niat mengemban ilmu ke luar negeri itu hanyalah untuk berjihad. Ya, sebut saja demikian. Istilah jihad yang selalu identik dengan kekerasan dan pertumahan darah, namun ternyata ada yang bisa kita sebut sebagai jihad juga, yakni berjuang menuntut ilmu dengan tujuan membangun sebuah peradaban yang lebih baik.

Benar jika segala sesuatu diawali dengan niat yang baik maka hasilnya baik. Di cerita ini juga menceritakan bagaimana perjalanan seorang Hanum Salsabiela Rais ketika mengenal fenomena sebuah keberanian dari kondisi minoritas sebagai umat muslim di Eropa. Ia juga menceritakan bentuk-bentuk lain berupa jihad dengan cara yang elegan yang biasa disebut dengan “Agen Muslim yang baik”, hingga akhirnya ia pun memutuskan menggunakan hijab. Kondisi yang benar-benar tidak disangka. Di tengah-tengah kondisi bukan mayoritas muslim, ia diberikan hidayah untuk memutuskan menutup aurat.

Selain cerita yang bagus, film ini juga menyuguhkan tampilan-tampilan pemandangan di Eropa. Ini jelas menjadi tambah plus yang membuat seluruh penonton takjub untuk bermimpi lebih tinggi lagi. Bagi kamu yang sedang bermimpi mengejar beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri tentu ini menjadi roda pendorong adrenalin kepercayaan serta turut menjadi kompas yang kian mengingatkan hati nurani untuk meluruskan niat.

Ada hal yang begitu menarik lagi bagi saya, entahlah mengapa perjalanan Hanum dan suaminya, adalah perjalanan yang sangat romantis. Film ini tergolong sangat romantis di antara alur cerita dari film-film islami yang ada. Atau apa karena penokohan yang tepat dari akting yang bagus Acha Septriasa dan Abimana, ya bisa jadi. Berarti akting mereka sukses menyampaikan sisi romantika seolah nyata.

Jika dikorelasikan untuk negeri ini (Indonesia) tentu sarat dengan makna yang luar biasa. Indonesia negara mayoritas muslim terbanyak di Dunia. Namun, sayangnya jauh dikatakan rasa syukur. Bayangkan, seandainya kita berada pada kondisi minoritas. Di mana kamu tidak bisa lagi sering mendengar kumandang adzan, memakan makanan yang halal, mudahnya sholat di masjid-masjid yang megah.

Kondisi itulah yang sempat saya rasakan. Walaupun masih berada di sekitar asia tenggara, Singapura. Kondisi-kondisi itu cukup dirasa sangat signifikan. Cara-cara memposisikan pribadi sebagai cerminan Islam yang baik harus dimiliki oleh muslimin dalam bungkusan keberanian. Berani menunjukkan kebaikan versi diri kita, dan keburukan menurut versi kita. Tidak mudah?. Jelas tidak mudah. Karena setiap situasi memiliki konsekuensi kekuasaan, dalam hal ini peraturan.

Akhirnya saya menyimpulkan bahwa, setiap situasi juga memiliki ujian masing-masing. Ujian bagi mereka yang mayoritas adalah toleransi, sedangkan ujian bagi mereka yang minoritas adalah keberanian. Bentuk sederhananya adalah, dalam sebuah rumah makan, jika satu atau dua orang datang menyantap makanan pasti tidak akan berisik. Karena hanya mengobrol santai dan lain sebagainya. Tapi bayangkan, jika yang datang bergerombol semacam arisan atau reunia akbar, tentu pengunjung berjumlah sedikit akan tersingkir secara tidak langsung. Karena geromobolan itu akan lebih ramai lebih ricuh, pecah gelak tawa, yang artinya adalah menguasai suasana. Pemilik toko pun tentu akan memilih memprioritaskan gerombolan yang lebih banyak tadi dibanding pengunjung berjumlah satu dua orang.

Tapi Islam, seharusnya tidak mendiskriminasikan mana mayoritas mana minoritas. Semua diperlakukan sesuai takarannya. Nah itu apabila Islam benar-benar berdiri tegak di suatu negara. Jika kondisi kita berada di negara naungan bukan Islam yang berdaulat, maka cara keberanian yang elgen lah yang harus kita tunjukkan. Dan film 99 Cahaya di Langit Eropa menunjukkan sisi elegansi Islam dalam kondisi yang minoritas. Sangat meinspirasi.

Dengan bangga, saya sangat merekomendasikan untuk menonton film 99 Cahaya di Langi Eropa baik sekuel pertama dan kedua. 5 bintang untuk film ini..

Miracle in Cell No.7 : Makna Cinta untuk Ayah

Cinta, kata yang begitu indah, begitu menyentuh hati yang teramat dalam. Semacam lirik lagu dangdut A.Rafiq, bahwa Hidup Tanpa Cinta, bagai Taman Tak Berbunga. Atau seperti pepatah Cina Kuno, yang mengatakan bahwa Hidup dan Cinta adalah rantai mata yang tidak bisa dipisahkan. Saya yakin, kita semua pasti merasakan perasaan cinta yang luar biasa dalam kehidupan kita. Terlebih perasaan yang tidak mungkin tergantikan kepada kedua orang tua kita sendiri. Ibu dan Ayah adalah manusia berhati malaikat pelindung. Ibu, seorang bidadari yang teramat cantik dan baik hati tiada tergantikan oleh apa pun. Begitu pun dengan Ayah. Ayah adalah sosok pahlawan yang senantiasa berjuang untuk keberlangsungan hidup diri kita. Entahlah perasaan itu kembali kini bergelora melambung secara melankolis di malam ini. Hanya karena, setelah menonton film korea yang sangat bagus dan mengharukan.

Film itu berjudul, Miracle in Cell No.7. Film yang ditayangkan pada tahun 2013 itu bercerita mengenai kisah seorang Ayah dengan anaknya yang berpisah karena ketidakadilan hukum menimpa mereka.

Miracle

Sedikit sinopsis cerita film ini adalah, pada suatu kota di Korea Selatan hiduplah seorang Ayah dengan kondisi memiliki mental yang berbeda dari orang-orang normal lainnya. Ia memiliki anak perempuan yang sangat cantik, lucu, dan pintar. Mereka hanya hidup berdua saja pada rumah berukuran kira-kira 4 x 3 meter. Sang Ayah hanya bekerja sebagai tukang parkir di sebuah perbelanjaan.

Suatu hari, Ayah dan puterinya menonton acara Sailor moon di sebuah televisi di depan toko. Anak perempuannya sangat menyukai Sailormoon. Bahkan ia pun pandai menirukan gerakan Sailormoon sambil berkata, “Dengan Kekuatan Bulan, Akan Menghukumu”. Melihat tiruan tarian yang diperagakan sang anaknya, Ayahnya pun ikut menirukan. Dan akhirnya mereka terlihat kompak menirukan bersama.

Setelah meniru dan menyimak tayangan Sailormoon, mata Ayah dan puterinya itu tertuju pada tas bergambar Sailormoon bergambar kuning yang dipajang di etalase toko di depan mereka. Sang Ayah berjanji akan membelikan tas itu apabila gajian, sebagai hadiahdi hari pertama masuk sekolah. Namun, tidak lama, tas itu dibeli oleh seorang kepala kepolisian untuk anak perempuannya. Sang Ayah mencoba memasuki toko seolah ingin merebut tas sailor moon. Kepala polisi itu kemudian, mencoba menarik tas dan memukul sang Ayah hingga jatuh.

Permasalahan itulah yang akhirnya membawa ketidak adilan baginya. Siang hari setelah sang Ayah mendapat gaji, ia didatangi oleh seroang gadis perempuan seusia dengan anak perempuannya, yang ternyata anak dari Kepala polisi yang sudah memukuli dirinya hingga terjatuh.

Dengan memakai tas bergambar Sailor moon, gadis perempuan kecil itu mencoba ingin memberitahukan toko yang menjual tas yang sama dengan miliknya. Sang Ayah dengan semangat mengikuti gadis kecil itu hingga ke pelosok pasar. Pada kondisi itu, gang pasar sangat kecil. Mereka pun berlari kecil, hingga akhirnya gadis itu terpelset dan jatuh terkena batu bata. Namun, Sang Ayah tokoh pemeran utama ini, menemukan gadis kecil yang mengajaknya itu sudah tergeletak berlumuran darah. Ia mencium, membuka celananya sang gadis kecil. Tiba-tiba datang seorang ibu-ibu yang berteriak melihat kejadian itu, dan berlari meminta tolong.

Kondisi lain, menggambarkan bahwa Sang Ayah dituduh telah menculik, membunuh serta memperkosa gadis kecil itu. Hingga akhirnya dijebloskan ke dalam penjara.

Miracle_1

Sang Ayah dipenjara di sel no.7 selama menunggu persidangan putusan pengadilan. Anak perempuannya bersedih karena mengetahui sang Ayah masuk penjara. Dalam cerita ini, semasa sang ayah dipenjara, ada kejadian lucu dan penuh makna mengharukan. Bagaimana, sang Ayah dapat merubah kondisi keadaan penjara yang menyeramkan dan penuh kekejaman menjadi penuh cinta dan kerja sama.

Anak perempuannya pun hidup bersama di sel itu secara diam-diam. Kemudian, melihat ada kejanggalan dalam kasus itu, kelima teman satu sel sang ayah, mencoba membantu memecahkan kasus sang ayah dengan bergotong royong. Mulai pada reka ulang kejadian, hingga membuat pernyataan dalam simulasi persidangan.

Persidangan pun akhirnya digelar. Namun, sayang sekali, sang ayah menyatakan mengaku bahwa dirinya melakukan pembunuhan, pemerkosaan dan penculikan. Pengakuan yang keluar dari mulut sang ayah dikarenakan ia didesak oleh pengacaranya dan ketua kepolisian (ayah sang korban) bahwa, apabila ia tidak mengaku maka hal yang serupa akan terjadi kepada anak perempuannya. Desakan itu juga disertai pemukulan oleh ketua kepolisian demi menekan psikologis sang ayah. Hingga akhirnya, putusan hakim memutuskan hukuman mati untuk sang ayah.

Anak perempuannya menangis melihat hujan ayahnya. Walau sebenarnya ia belum paham mengenai putusan hakim. Ia hanya menangis. Tepat tanggal 24 Desember, anak perempuannya berulang tahun. Mereka pun merayakan kecil-kecilan sambil memberikan hadiah di dalam sel tahanan. Sang ayah memberikan kado tas sailormoon kuning yang sama dengan tas yang diinginkan sebelumnya.

“Terimakasih Ayah, sudah menjadi ayah yang baik untuk ku”. Sambil memberikan hormat pengagungan tinggi di depan sang ayah, anak perempuannya mengucapkan terimakasih dengan santun.

Melihat kesantunan anak perempuan itu, membuat kelima penghuni sel tahanan no.7 itu menangis terharu jika harus membayangkan bahwa hari ini adalah hari terakhir sang ayah di dunia. Dengan kata lain, sang ayah harus dieksekusi mati sesuai keputusan pengadilan.

Sang ayah dan puterinya berpamitan dan berjalan menelusuri lorong penjara. Wajah sang anak dan ayahnya begitu mesra seolah memberikan isyarat ketulusan hati masing-masing. Ketika diujung pintu sel keluar, anak perempuannya dititipkan oleh ketua penjaga sipir, sedangkan sang ayah berjalan menuju tempat eksekusi mati. Scene ini yang mengharukan. Pasalnya takdir kematian ini seolah-olah memang harus terjadi. Karena sehari sebelumnya, kelima teman satu sel dan penjaga sipir bekerja sama untuk meloloskan sang ayah dan puterinya dari penjara dengan menggunakan balon udara. Tapi sayang, ternyata tali tambangnya menyangkut di kawat duri dinding pembatas penjara antara dunia penjara dan dunia luar.

Seolah paham dengan takdir yang akan ia alami, sang ayah merasa panik dan menyesal bahwa keputusannya salah di hadapan hakim. Ia pun menangis, begitu juga dengan sang anak.

“Tolong saya..!!. Tolong saya…!!”. Teriak sang ayah sambil memohon di hadapan penjaga penjara. Dan mereka hanya tertegun kosong, seolah tak berdaya sama sekali. Walaupun mereka tahu, bahwa sang ayah merupakan orang baik dan korban ketidakadilan hukum.

Waktu kian berjalan hingga sang anak puterinya beranjak dewasa dan tumbuh menjadi seorang pengacara. Ia dibesarkan oleh ketua penjaga sipir yang sudah dianggap menjadi ayahnya. Di tanggal yang sama juga, anak perempuannya mencoba mengangkat kasus hukum ayahnya di pengadilan dengan tujuan membebaskan dan menghapus nama baik sang Ayah di depan hukum Korea Selatan. Dengan gigih, sang anak berjuang hingga akhirnya putusan hakim membebaskan ayahnya dari kesalahan.

Cerita itu sungguh membuat haru bagi yang menontonnya. Bagaimanapun ketidakadilan dunia, tidak memutuskan perasaan cinta terhadap Ayah sendiri, walau sang ayah sudah tiada. Film ini memberikan pesan moral untuk seluruh anak agar senantiasa menyangi sang ayah dengan cara apa pun.

Papah saya pernah berkata, “Tidak ada orang tua yang jahat dan tidak sayang terhadap anaknya. Mereka akan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk membuat anaknya bahagia”.

Segalak apa pun Ayah kita, dan sesibuk apa pun Ayah kita, atau sebesar apa pun kesalahan yang pernah ia perbuat, ia bukan orang lain yang dapat kita tinggalkan atau benci. Tapi ia adalah Ayah kita, ia adalah orang yang berjuang sampai darah penghabisan. Ia yang menerjang cemooh dunia demi diri kita. Dengan keringat dan dahi yang selalu berkerut dikala harus berfikir mencari nafkah di situlah ujiannya untuk masuk syurga.

Dear, papah di dunia..

apa pun cinta akan kami kasih untuk mu. Tidak ada laki-laki dunia ini yang sebaik papah dan yang rela meredakan tangis di tengah keputus-asaan karena asa yang gagal. Engkau adalah laki-laki yang  mengajari bagaimana seorang pemimpin yang baik adalah memimpin dirinya dahulu baru kepada orang lain. Engkau yang selalu memberikan makna perubahan harus dimulai pada diri sendiri. Engkau juga yang mengajari untuk lebih banyak bertindak dari pada berbicara. Engkau juga mengajari bahwa kepentingan keluarga di atas segala-galanya. Ikhlas tanpa pamrih. Dan kebaikan itu adalah membuat mereka tersenyum, bukan sebaliknya..

Engkau..ya engkau.. hanya engkau Papah terbaik untuk kami.

 

 

 

Inspirasi Film The Queen’s Classroom : Indonesia dan Pendidikan Berkarakter

The Queen's Classroom

Kembali rekomendasi drama series yang meinspirasikan datang dari negeri gingseng, Korea Selatan. Drama series  yang terdiri dari 16 episode itu, menceritakan mengenai kehidupan murid-murid sekolah dasar kelas 6 dengan seorang guru wali kelas yang terkenal dengan sosok misterius dan menyeramkan. Sosok guru yang dingin tanpa senyum canda itu diperankan oleh aktris Go Hyun-Jung yang terkenal juga sebagai pemain kawakan pada Drama Queen Seondoek.

Ibu Guru baru pindahan dari sekolah lain membuat sejumlah murid ketakutan. Pasalnya, sang guru membuat berbagai macam peraturan yang belum pernah terjadi pada tradisi sekolah mereka, seperti pemilihan ketua kelas dan punish and rewardness.

 

Namun, ternyata dibalik serba misterius kebijakan kelas itu, akhirnya diketahui sang guru memiliki tujuan mulia, yakni membentuk karakter murid-murid dengan dinamika kelas yang mereka buat sendiri. Sang guru sengaja membuat kelas seolah-olah chaos, namun berakhir dengan pembentukan karakter murid jauh lebih baik dari perilaku sebelumnya.

Jika menonton di setiap episodenya, kita akan disuguhkan pertanyaan, ‘kenapa begini kenapa begitu’ dan akan berakhir dengan decakan kagum tanpa disangka akan berujung makna yang luar biasa. Cerita ini juga mengisahkan bagaimana kisah keluarga masing-masing murid. Sang guru tanpa lelah ia ternyata sudah mengenal setiap seluk beluk muridnya, mulai karakter dan kondisi keluargnya. Sehingga, eduacation treatment disesuaikan dengan karakter dan kondisi murid-muridnya.

Cerita ini menjadikan saya berpikir, bagaimana mulia peran seorang guru di sekolah. Jika kita merujuk pada falsafah pendidikan hakiki menurut Redja Mudyahardjo, yakni pendidikan adalah pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Atau pemahaman pendidikan secara sempit, pendidikan adalah segala pengaruh yang diupayakan sekolah melalui pengajaran terhadap anak atau sekolah melalui pengajaran terhadap anak atau remaja yang sempurna dan kesadaran penuh terhadap hubungan-hubungan dan tugas-tugas sosial mereka. Begitu juga pemahaman pendidikan secara luas, yakni pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan / atau latihan yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara di masa yang akan datang.

Dari definisi tersebut secara sadar bahwa pendidikan bahwasanya akan sama di belahan negara mana pun. Perlu ada kerjasama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah.

Gambaran di Indonesia justru, akhirnya kita (masih) menganggap bahwa pendidikan itu adalah sarana mendapatkan ijazah penunjang perekonomian. Sehingga, makna dasarnya yang seharusnya adalah pembentukan karakter yang berpendidikan pun, seolah hanya jargon semata.

Sehingga, produk-produk didik yang ada justru merusak nilai-nilai kebaikan yang seharusnya. Persoalan pendidikan di negeri ini tidak harus hanya untuk orang-orang yang paham mengenai pendidikan saja, tetapi untuk semua yang peduli dengan tunas-tunas bangsa di masa depan. Bagi saya yang seorang berlatar belakang komunikasi, tentu sangat miris ketika menemukan adik-adik wajib belajar sembilan tahun, sudah malas untuk datang ke sekolah, malas untuk membaca, dan lebih senang menjadi ‘budak’ iptek ketimbang harus tahu bagaimana membuatnya.

Sekiranya, sistem pendidikan formal menurut saya sudah cukup sistematis dan terlihat terukur logis. Namun, permasalahannya ternyata bukan sistem, melainkan proses pengajaran oleh tenaga didik yang masih dirasa jauh dari harapan. Bayangkan, jika seluruh guru-guru di Indonesia memiliki pola didikan yang sama dengan sosok guru pada cerita The Queen’s Classroom itu?. Sedihnya, masih ada guru-guru yang hanya meoptimalkan tatap muka pada jam mengajar di kelas saja. Itu pun hanya dianggap sebagai pemenuhan kewajiban seorang guru yang berimbas pada penilaian kinerja. Menyedihkan !

Saya bisa berbicara seperti ini, pun karena saya besar di kalangan dari keluarga guru. Ibu, Kakak, Tante, Uwak, Sepupu, yang kebanyakan itu adalah tenaga didik di sekolah formal. Bagaimana Ibu saya yang seorang Kepala Sekolah menceritakan kondisi guru-guru di sekolahnya, yang terbilang kurang memiliki ethos kerja pendidik yang bersifat berkorban. Anak dibiarkan lulus tanpa bisa menjawab pertanyaan dasar yang seharusnya sudah dikuasai oleh sesusianya.

Atau seperti pendapat kakak saya, yang akhirnya memilih untuk menjadi guru Sekolah Dasar karena ia merasa sangat puas jika membuat anak orang lain pintar dan mahir melakukan ketrampilan. Lembar ijazah yang bukan dari pendidikan sekolah dasar itu, kini hanya pemanis di rak penyimpan dokumentasi di rumah kami. Kini ia memilih untuk menjadi guru honorer di sekolah dasar negeri dengan gaji yang tidak terlalu besar. Walau dia tercatat menjadi guru honorer, agenda kerjanya terbilang padat. Bisa dikatakan sudah sangat cocok untuk menjadi guru bergelar Pegawai Negeri Sipil. Sedangkan, guru yang sudah ber-plat merah masih ada yang jauh dari optimal.

Mengutip dari nama buku M. Natsir, “Perguruan Kita Kurang Guru!” mungkin dapat menjadi alasan fenomena saat ini. Seandainya, setiap guru-guru berjiwa seperti pemimpin India bernama Gokhale yang meraih gelar Doktor dalam Ilmu Hitung mungkin anak-anak Indonesia akan berkarakter maju semua. Gokhale menolak tawaran pemerintah Inggris meski dengan tawaran penghasilan yang besar, demi memenuhi panggilan bangsa untuk mengajar.

Sungguh pengorbanan adalah kata yang sangat indah di telinga ini. Karena dengan berkorban, kita sudah menunjukkan kualitas jiwa berani untuk kepentingan masayarakat.

Walau hari ini bukanlah hari pendidikan nasional dan hari guru nasional, saya ingin mengucapkan Selamat menempuh perubahan pendidikan yang jauh lebih baik..

Adioss..

“127 Hours” : Pengakuan, Penyesalan, dan Pengorbanan

Sore itu, di salah satu kediaman rumah sahabat saya di daerah Pondok Indah, kami bertemu setelah sekian lama tidak berjumpa. Nana, sebutan teman kecil sewaktu sama-sama masih menari tarian tradisional Bali itu saat ini tumbuh di usia yang penuh dunia petualangan. Begitulah, ia menceritakan bagaimana hidupnya dapat berubah 180 drajat menjadi lebih baik dari sebelumnya. Cerita yang jauh lebih dalam dan meratap itu, ia ceritakan dengan percaya diri. Tanpa disadari, Nana yang saya kenal, kini sudah lebih dewasa dari pada saya.

Pada kesempatan itu, pertukaran cerita yang mungkin sama-sama memiliki persamaan masalah dengan model yang berbeda di antara kami berlangsung hampir seharian. Kediaman miliknya, yang memberikan nuansa klasik, mensemaikan kerinduan akan kejujuran problematika yang sudah lama tidak kami bagikan. Begitu juga dengan saya, entah bagaimana bisa, dapat begitu ringan meloceh sangat fasih menceritakan ambisius diri kepadanya. Dan, seperti biasa, dengan sifat yang sedikit bipolar disorder itu, ia mendengarkan secara seksama.

Sifat ia yang satu itu, seolah membuat saya tiba-tiba menjadikan seorang terdakwa dalam sebuah konspirasi. Tapi, itulah yang selalu menagih untuk bercerita kembali dengannya. Cara nya memang frontal, straight to do point tapi cukup masuk akal untuk dicerna dalam-dalam. Hingga di tengah sebuah cerita, ia menceritakan kisahnya lebih tepatnya, ia menyodorkan sebuah film dari kisah nyata yang mengisahkan pengakuan, penyesalan, dan pengorbanan dari seorang yang berjiwa petualang.

one_hundred_twenty_seven_hours

Film dengan nama yang membuat sejuta tanya yakni “127 Hours” ini menekankan waktu selama 127 jam yang mengisahkan usaha perjuangan seorang anak muda untuk keluar dari himpitan batu pada sebuah pegununang Grand Canyon di Amerika Serikat. Himpitan batu itu mengenai tangan kanannya. Hingga, sama sekalitidak bisa dilepaskan, ia berusaha untuk tetap hidup dengan segala cara. Mulai degan meminum air seni sendiri karena persediaan air yang ia bawa sudah habis. Kemudian, cara bertahan hidup yang lain ia lakukan seperti membuat video-video yang dibuat sendiri sebagai dokumenter yang sifatnya untuk hiburan.

Behari-hari mencoba berpikir mencari solusi. Sampai pada kondisi titik kepasrahan, pemeran utama pada film itu mencoba membayangkan perjalanan hidupnya satu jam, satu hari, seminggu, setahun, lima tahun, dan bahkan hingga pada membayangkan masa kecilnya yang diisi dengan kisah hubungan tidak harmonis dengan orang tuanya terutama Ibu. Tidak ketinggalan bayang-bayang percintaan yang buruk pun melintas dalam pikirannya.

Kesemua flash backyang muncul dalam benaknya, akhirnya menimbulkan rasa penyesalan yang teramat dalam. Penyesalan atas waktu yang terbuang sia-sia. Atas kesenangan pribadi yang melupakan mereka yang begitu amat menyayangi, menghasilkan penyesalan yang sulit dibayangkan dapat memiliki kondisi terhimpit dan tidak bisa keluar dari derita kehausan serta kelaparan.

“Siapa sangka, hidup mu akan berakhir di angan mu sendiri yang akhirnya berjuang untuk hidup dan mati”, Ucap pemeran utama ketika merekam video dirinya yang mencoba untuk mencurahkan penyesalan.

Pengakuan dan penyesalan yang menyelimuti kepasrahan dan ketidakmampuan itu menorehkan resolusi perubahan yang ingin ia lakukan. Menurut saya, di titik Nol yang mungkin dapat ditakdirkan akhir untuk segalanya, ternyata berubah menjadi awal dari perubahan itu sendiri. Pemeran utama, memikirkan dan membayangkan sosok dirinya semasa kecil, yang jika ingin merubah semua takdir, ia sama sekali tidak terpikirkan seperti itu.

Dengan tekad yang kuat ia merelakan untuk memotong tangannya sendiri demi lolos dari himpitan batu yang sama sekali tak bergeser. Susah payah, dan rasa sakit yang luar biasa ia tahan demi keluar dari goa itu. Benar saja, usaha menyeramkan itu, memotong tangan kanannya, dan ia berhasil lolos dari goa dengan lunglai karena darah yang terus mentes .

Kondisi yang menyakitkan itu, lantas tidak membuat ia lemah. Ia tetap melangkah untuk menuju pertolongan. Hingga akhirnya ia menemukan pendaki lain yang menolongnya. Ada kutipan yang kembali membuat saya tersentak ketika pemeran utama dicoba ditolong untuk dipapah oleh pendaki lain sambil mengatakan, “Seharusnya kau berhenti berjalan dan istirahat saja”

Tetapi pemeran utama mengatakan, ” Saya tidak akan berhenti berjalan, kalau perlu saya siap berlari”

Film 127 Hours memberikan saya pelajaran berharga. Bahwa, ketika masalah tersulit apapun yang sifatnya subyektif, akan memiliki solusi yang subyektif pula. Pengorbanan memang menyakitkan, tapi yakin sakitnya hanya untuk hari itu saja, bukan untuk lima, sepuluh, dan puluhan tahun yang dapat kita jangkau.

Ambisius tinggi yang dimiliki kaum muda biasanya membutakan atas realita dari segala kemungkinan yang bisa jadi membuat perubahan lebih baik. Mungkin masalah impian mu, harus terhianati karena sesuatu kegagalan, bisa menjadikan diri kita terpuruk dan menyalahkan diri atas pilihan-pilihan hidup yang sudah dibuat.

Entahlah, momen pertemuan dengan Nana yang merekomendasikan film inspirasi itu menjadikan keyakinan yang bahwa manusia akan memiliki halte kehidupan yang masing-masing saling berkorelasi sebab akibat. Semoga hidup mu, saya, dan kita jauh lebih baik.

Adiooss..

Ulasan Film TKVDW : Cinta Mati di Kapal Van Der Wijk

tenggelamnya-kapal-van-der-wijck

Pertama, sekilas melihat poster film itu, bagi saya seperti membelah ingatan terhadap film Titanic yang sempat merajai box office jaman saya sekolah dasar kala itu. Kedua, menonton trailer di awal masuk bioskop, saya membayangkan kisah romi and juliet. Ketiga, akhirnya saya putuskan untuk menonton film yang katanya didasari karya sastra novel Buya Hamka. Sebenarnya saya belum membaca novel itu. Namun, aktor dan aktris yang tengah naik daun itulah yang membuat saya yakin ingin menyimak cerita tersebut. Dengan tulisan ini, saya mencoba membahas isi film dengan konsep pendekatan value atau nilai yang dominan ditunjukkan sebagai wujud pesan sang sutradara untuk penonton.

Film ini luar biasa kental dengan isu sosial budaya yang terjadi di Indonesia. Dua suku yang begitu kuat dengan karakteristiknya membawa penonton untuk bertanya, ada apa dengan budaya Minangkabau dan Makassar?.

Pertanyaan itulah yang saya catat sebagai asumsi dasar pertama. Kemudian, cerita mulai mengalir dengan begitu syahdu dan romantis. Bahasa Minangkabau yang halus dan sarat dengan aroma kesastraan tinggi tertangkap jelas, hingga mulut saya atau bahkan orang di kiri kanan saya dengan tanpa sengaja mengikuti setiap ucapan yang dilontarkan oleh sang pelaku peran.

Sampai kepada kisah perjalanan tokoh Zainuddin yang diperankan oleh Herjunot Ali, dimana Zainuddin ingin belajar agama, ini terlihat konflik yang kedua yang ingin saya garis bawahi. Tanah minangkabau merupakan tanah bagian Indonesia yang sangat menjunjung tinggi nilai keislaman. Penduduknya terkenal taat dalam menjalankan ajaran agama.

Konfliknya adalah, ternyata tanah yang ditujukan sebagai penimbaan ilmu agama bagi Zainuddin justru membawa perubahan dua hidup anak manusia yang saling mencintai. Mencintai karena kebaikan masing-masing. Mencintai karena, kesholehan dari Zainuddin. Begitu juga bagi Zainuddin yang sangat terkesan dengan kecantikan serta kesederhanaan tokoh Hayati yang diperankan oleh Pevita Pearce. Cinta mereka jauh dari kesan materi dan garis keturunan.

Namun, kondisi adat istiadat Minangkabau berkata sebaliknya, yang menjadikan mereka terpisah. Zainuddin dianggap sebagai orang seberang bahkan buangan yang akan membawa keburukan bagai Hayati sebagai ponakan ketua adat setempat. Scene berduanya Hayati bersama Zainuddin itulah scene yang romantis bak film-film Eropa klasik.  Mereka saling menegaskan kecintaan masing-masing. Bahkan saling berjanji untuk setia menunggu “walaupun bukan jodoh di dunia, tapi jodoh di akhirat”. Kemudian, Hayati meminta semacam jimat dari Hayati, dan Hayati memberikan kerudungnya. Dan merekapun berpisah.

Dalam waktu dan jarak yang jauh, mereka tetap mengirimkan kabar melalui untaian kata pada sepucuk surat. Kekuatan sastra yang indah lagi-lagi terlantun begitu nyaman di dengar.

Pada kesempatan lain, akhirnya Hayati dan Zainuddin bertemu dalam sebuah pacuan kuda. Sebelumnya, Hayati pergi bersama keluarga sahabatnya, yang ternyata jauh dari kesan budaya konvensional. Lebih trendi. Akulturasi budaya Belanda sangat terlihat. Mulai dari cara berpakaian, cara berbicara, hingga kebiasaan negatif seperti berjudi, mabuk-mabukan, dan bermain perempuan penghibur. Hayati yang datang dengan keluguan sontak mengalami perubahan yang dipaksakan. Baju kurung lengkap dengan kerudung lepas begitu saja. Berganti dengan baju renda transparan putih serta terbuka. Sedangkan Zainuddin masih menggunakan pakaian kesholehan ala orang melayu.

Di pertengahan cerita, ternyata ada tokoh lain bernama Aziz yang diperankan oleh Reza Rahardian yang ternyata menyukai Hayati. Menyukai Hayati dengan wujud berbudaya Londo.

Akhirnya dengan kekuatan materi serta status sosial Aziz yang terpandang menjadi pertimbangan kelompok suku lingkungan Hayati. Di waktu yang bersamaan, Zainuddin pun mengajukan lamaran terjadap Hayati. Namun sekali lagi, Zainuddin ini masih kalah saing dalam hal materi dan status sosial (garis keturunan).  Atas petimbangan asumsi yang terkesan paksaan itu, Hayati tidak ada pilihan lain, kecuali memilih Aziz untuk dijadikan suami.

Aziz sendiri digambarkan sebagai sosok yang gemar berjudi, gemar mabuk, gemar bermain perempuan, dan hura-hura. Mengetahui latar belakang Aziz yang jauh dari kesan baik, Zainuddin pun memberitahukan kepada Hayati, bahwa pernikahan yang akan dijalanin semata-mata implementasi Uang dan Kecantikan saja. Namun entahlah dalam film itu, Hayati terlihat menerima dengan ikhlas sosok lelaki yang akan menjadi suaminya itu.

Tidak lama, Hayati dan Aziz pun menikah. Sedangkan, Zainuddin jatuh sakit dan depresi. Melihat kondisi itu, Zainuddin mencoba bangkit memperbaiki diri ke pulau Jawa untuk mengembangkan bakat sebagai penulis beberapa hikayat dan karya sastra lainnya. Benar saja, setiba di Jakarta sosok Zainuddin berubah 180 derajat. Ia tumbuh menjadi penulis yang hebat, seniman ulung, dan pengusaha yang hebat. Pakaian yang dahulu hanya katun kurung panjang dan sarung serta kopiah, berubah menjadi safari blazzer lengkap dengan topi.

Tulisan serta hikayat-hikayat yang dituliskan merupakan kisah yang menceritakan sosok Hayati. Berkat tulisan itulah, yang membawa Hayati dan Zainuddin bertemu. Ketika bertemu, kondisi berbalik. Aziz yang dahulu dikenal sebagai orang kaya, merongrong lemah di hadapan Zainuddin karena terlilit hutang akibat berjudi.

Kebaikan Zainuddin dalam menolong orang lemah, patut diacungkan jempol. Tidak ada kebencian di hatinya. Di kondisi lain, di hati Hayati terpancarkan kebersalahan diri atas yang dialami Zainuddin. Dibalik keangkuhan Aziz, terpesankan sosok lemah di balik uang dan kekuasaan. Ia memilih mengakhiri hidupnya dengan meminum racun, karena merasa malu oleh orang-orang di kampungnya.

Pada kondisi itulah Hayati yang merasa bersalah dan kesedihan atas jalan hidup yang sudah dipilihnya itu harus mengakui bahwa pernikahan yang dialami dirinya hanyalah pernikahan Uang dan Kecantikan saja. Walaupun di hati paling dalam, Hayati masih merasakan cinta terhadap Zainuddin. Namun sayang sekali perasaan itu ditepis tegas oleh Zainuddin sendiri. Zainuddin sendiri yang mengantarkan kematian kekasihnya pada sebuah jalan takdir. Jalan takdir itu digambarkan dengan tenggelamnya kapal besar buatan belanda bernama Van Der Wijk. Kapal yang terkenal dengan kemegahan tiada tara itu, tenggelam ketika menuju Padang.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk ini jauh dari kesan Titanic atau kisah julie and romeo. Menurut saya, jika dilihat dari filosofi cerita, Kapal Van Der Wijk lebih kepada pesan kemegahan yang kasat mata, kekokohan luar yang ternyata dapat tenggelam dengan gelombang laut yang begitu luas.

Saya sepakat dengan pesan film ini, bahwa kisah cerita ini bukanlah cerita kisah percintaan dua manusia. Tetapi satu manusia yang berjuang bangkit dari segala ketidak mungkinan serta intimidasi hidup oleh kondisi sosial. Zainuddin sosok yang tidak mati karena cinta duniawi. Hati yang lapang, menjadi modal untuk mengalahkan keangkuhan dunia, kesombongan materialistis, dan peliknya hukum adat.

Tetapi jauh dari itu, sebenarnya saya tidak begitu mencium perjalanan sisi relijius. Padahal, makna pertama yang penonton tangkat sebagai simultan alur cerita. Jika dilihat hanya pada aspek film saja, tentu secara tidak langsung pesan bahwa moder-isasi akan mengalahkan kultur lokal yang sarat dengan sisi keagamaan. 

*Sepertinya memang harus, membaca buku yang bersangkutan untuk lebih komprehensif. 

Walau demikian, ada yang sangat menggelitik jika kita mengamati akting pemeran pertama. Herjunot Ali dapat dikatakan berhasil menirukan gaya bahasa orang bugis. Buktinya, ketika saya melihat gaya bicaranya, saya jadi teringat gaya bicara bapakak Yusuf Kalla. 😀

Tetapi, sangat disayangkan, mimik atau ekspresi wajah justru membuat penonton tertawa. Mengapa, karena penonton masih terngiang-ngiang dengan akting Herjunot Ali pada film 5 cm yang memerankan Zafran yang sangat kocak. Penonton yang semula menangis, berubah menjadi meledak berbahak-bahak dibuatnya (Termasuk saya).

Latar pada film ini secara visual, cukup memberikan kesan tanah Minang di era jaman dulu. Terlebih beberapa pelaku yang berucap khas Minang, menjadikan film ini menambah wawasan budaya bagi penonton. Soundtrack film sebagai pengiring pun nyaris menambah nuansa tidak kantuk ketika menyaksikan film yang berdurasi kurang lebih 3 jam itu.

Jadi jika boleh saya memberika rate untuk film ini, saya akan kasih 4 Bintang untuk Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk.

Adiooss..!!

Hey, Ini adalah ‘Sokola Rimba’

Sokola Rimba

Sudahkah kamu menonton film Sokola Rimba?, Atau masih ada yang menimbang-nimbang, memikir ulang, untuk mencari dorongan apa yang bisa membuat tertarik untuk menonton?.

Ya, kali ini saya mencoba berbagi pandangan saya terkait film garapan Riri Riza ini. Jadi bagi kamu yang belum menonton, yuk disimak.

Pernahkah kita berpikir bahwa ada kehidupan di dalam rimba belantara sana?, kalau saya sih, tidak terpikirkan bahwa ada kehidupan manusia di dalam sana. Karena, tanpa cahaya lampu atau bahkan bangunan semi permanen yang dapat melindungi dirinya (manusia) tentu menjadi alasan utama, manusia enggan hidup di sana. Namun, setelah menonton film ‘Sokola Rimba’ saya menjadi terkekeh bahwasanya memang sebenarnya ada kehidupan di dalam rimba.

Film yang juga diambil dan didasari dari buku ‘Sokola Rimba’ yang dituliskan oleh Butet Manurung, menceritakan kisah sekelompok anak-anak Rimba Hutan di Jambi yang hidup secara nomaden, namun bertekad kuat untuk menuntut ilmu pendidikan. Butet Manurung yang diperankan oleh Prisia Nasution begitu apik memerankan untuk sebagai Ibu Guru Butet yang bersahaja dan beridialisme tinggi. Selain Prisia Nasution, para pemain Sokola Rimba ini juga diperankan oleh sebagian kelompok rimba sesungguhnya.

Konsep penyampaian film ini cukup provokatif. Karena, pada beberapa adegan, Riri Riza selaku Sutradara dan Mira Lesmana sebagai produser membuat seolah-olah penonton merasa tersulut realita menyedihkan atas kondisi penjajahan yang nyata di negeri sendiri dengan orang pribumi sendiri. Terlihat ada beberapa aksen ‘jawa’ yang mencerminkan sebagai penduduk pendatang yang berburu nasib di tanah Sumatera dengan merelakan penduduk aseli itu sendiri. Namun, bukan Miles namanya jika tidak mengemas amarah menjadi pesan moral atas pentingnya pendidikan untuk semua kalangan, terutama di kalangan Hutan Belantara. Seperti, sosok seorang penduduk Rimba bernama Nyungsang Bungo yang mengikuti sosok Ibu Guru Butet walau dengan jarak yang begitu jauh dari kediamannya. Hal itu dilakukan demi belajar membaca, menulis, dan berhitung. Melihat kegigihan Bungo, sang Ibu Guru Butet mencoba membujuk keluarga Bungo untuk membolehkan mengikuti belajar bersamanya.

Cerita ini juga memiliki konflik yang sangat menyentuh sisi emosional. Kamu harus tau, bagaimana alasan seorang anak rimba ingin pintar membaca, menulis, dan berhitung. Di adegan itulah, Miles mencoba memberi pesan moral bahwa ada kepintaran untuk sebuah makna keberlangsungan hidup sebuha komunitas. Kebutuhan pendidikan yang hampir punah karena kerakusan feodal kota yang tanpa batas puas, akan tersingkirkan dengan kegigihan niat kepeduliaan dari seorang Ibu Guru Butet. Pesan yang disampaikan dengan gaya bahasa Jambi Dalam dan musik latar yang dikemas oleh Wong Aksan pada film ini , membuat cerita begitu kental dengan nuansa etnik Indonesia.

Jadi, tunggu apa lagi, kamu harus nonton film ini bersama keluarga. Saya rekomendasi 4 bintang untuk film ini. Selamat menonton…

Adioossss..

A.W.A.K.E ( THE MOVIE )

awake_poster-2 Nama Movie : AWAKE

Directer : Joby Harold

Pemain : Jessica Alba, Hayden Christensen, Terrence Howard

” Mal Praktek “

mungkin kita sudah tidak asing dengan, istilah mal praktek. kejadian mal praktek, merupakan kejadian yang lima tahun silam, sangat popular, sehingga membawa dampak, yang menampar dunia kesehatan. Itulah yang terjadi, pada film ” AWAKE “. film yang akan diramalkan meraih piala oscar itu, ternyata memberikan nuansa baru. Dalam film tersebut, diceritakan, bagaimana seorang anak tunggal, yang sangat kaya raya, berjuang untuk survive dari maut, akibat rivalnya dalam dunia bisnis. Tokoh utama diperankan oleh Hayden Christensen. Memang pada mulanya, dia mengalami penyakit gagal jantung, yang mana diharuskan mencangkok jantung. Dalam film itu, ditunjukan bagaimana seorang dokter yang ternyata, memiliki niat jahat, ketika ingin membedah dada Hayden, yang seharusnya pembiusan dilakukan dengan total, akan tetapi, pasien yang ingin dibedah, dapat merasakan bagaimana dia dibedah, kalo melihat itu, rasanya ngilu dan nyeri setengah gila..

jantung yang akan didonor, disengaja disuntikan cairan yang pada kenyataannya dapat menggangu kerja jantung, awalnya penonton, tidak menyangka bahwa itu adalah jebakan dari seorang wanita yang dekat dengan Hayden, tokoh itu diperankan oleh Jessica Alba, Tidak disangka, ternyata Jessica Alba adalah otak dari kejahatan tersebut, dia bermuka dua, di depan Hayden, Hayden mengetahui itu, ketika dia mengalami koma,  sang Ibu nya Hayden, memiliki insting yang kuat dengan keadaan yang mengancam anaknya, yang membuat haru, ialah ketika Hayden, sudah dinyatakan meninggal, kemudian sang Ibu meminum obat yang dapat menhentikan peredaran darah. Demi membantu sang anak agar dapat hidup kembali. Ternyata cara itu, berhasil membantu sang anak, kejahatan pun terbongkar, Hayden pun hidup kembali..

ada pelajaran yang dapat gw tangkep :

1. Harta bisa membuat semua menjadi gila.

2. ternyata omongan nyokap tuh selalu benar..

3. Terjadinya Mal Prakter di indikasikan berasal dari motiv kejahatan..

4. ” Don’t Judge People From Its Cover “