Kabar Petang dari Indonesia : “When You Love Someone, Just be Brave to Say”

Membuka email sambil menikmati setiap laman perbincangan antar dua negara ini kembali menyenangkan. Bagi saya, di minggu pertama ini berita mengejutkan justru datang dari seorang sahabat semasa putih biru dongker yang tiba-tiba memproklamirkan keberanian heroik dalam menyatakan perasaan suka yang terpendam pada seseorang laki-laki yang juga tercatat sebagai pegawai akuntan di perusahaan otomotif tersohor di dunia.

Oca, panggilan akrab dari kami, merupakan perempuan yang menurut saya cukup berani. Semasa SMP, dia adalah teman sebangku yang menyenangkan. Perempuan berdarah Batak itu cukup khas jika dilihat dari perawakan wajah dan sikap bawaan yang spontanitas. Perbedaan agama antara kami tidak menjadi permasalahan selama satu tahun kami berteman. Kesukaan terhadap makanan, cukup menjadikan kami partner in crime solid dan penuh eksperimental kekonyolan.

Pertemanan kami berlanjut ketika melanjutkan sekolah menengah atas yang kebetulan satu sekolah yang sama. Namun takdir tidak menyatukan sebangku lagi, karena akhirnya kami terpisah dengan jarak kelas serta konsentrasi jurusan keilmuan. Jika saya di kelas IPA, Oca justru lebih menyukai IPS. Sekali lagi, intensitas komunikasi kami tidak menjadi terputus hanya karena takdir jarak kelas dan jurusan keilmuan, buktinya di luar kelas pun Saya dan Oca masih hang out dengan Teman sepermainan semasa SMP.

Pasca kelulusan, barulah kami benar-benar terpisah oleh perguruan tinggi, jurusan keilmuan, dan wilayah kota administratif. Namun demikian, setidaknya masih ada persamaan, yakni kami masih sama-sama kuliah di Provinsi Jawa Barat. Saya di Jatinangor, dan Oca di Depok.

Hari-hari bersama Oca, tidak terasa kami tumbuh di usia yang terbilang hampir sama. Usia 25 tahun yang menurut sebagian orang merupakan angka keramat bagi perempuan single. Usia yang sudah makan asam garam dengan kisah percintaan monyet (katanya), atau usia yang seharusnya sudah memiliki ‘gandengan’ untuk dikenalkan ke orang tua. Tapi sayang, keramat itu belum terasa mistis untuk saya dan Oca. Haha..

Memang nasib kami berdua cukup unik. Jika dibandingkan dengan empat teman kami lainnya, justru saya dan Oca adalah orang yang paling miskin pengalaman masalah percintaan monyet. Mudahnya sih, kalau naksir kiri kanan sih pernah. Tapi, untuk menjalin perasaan macem pacaran gitu, enggak minat. Jika Saya enggan berpacaran karena prinsip, Oca enggan karena dia merasa ketakutan untuk benar-benar menyukai laki-laki.

Saya ingat waktu itu, ia sempat mendeklrasikan perasaan suka dengan teman sekelas bernama Giri. Dengan, percaya dirinya ia membawa sekantong plastik bersisi cokelat ayam jago dan menyatakan perasaannya.

“Giri, pengen tau enggak, satu rahasia selama ini gue pendam?”. Tanya Oca yang sedang duduk sampingan dengan Giri sambil membawa sekantong pelastik berisi cokelat.

Saya dan keempat teman dan beberapa teman kelas menyaksikan keberanian Oca sambil berharap cemas. Bahkan ada teman kami bernama Taufan, yang menutup telinga. Entahlah menagapa dia menutup telinga. Ada lagi Ando, yang merupakan teman sebangku Giri. Ando justru mengumpat di kolong meja guru. Entahlah kenapa pula si Ando mengumpat. Ya..namanya juga kelakuan manusia cyin, tremornya beda-beda. 😀

Waktu Oca ingin menyampaikan perasaannya itu, tiba-tiba kelas 3.7 (Kelas 3 semasa SMP) berubah makin padat oleh murid-murid. Bahkan pintu kelas pun sengaja ditutup. Demi fenomena langka yang dipengaruhi oleh program televisi Katakan Cinta. Well, program Katakan Cinta itu program paling happening banget jaman SMP.

Seidkit ulasan mengenai program teve, Katakan Cinta di RCTI :

Program itu, bertujuan untuk mewujudkan seremonial demi mengungkapkan perasaan cinta atau suka seseorang kepada gebetannya. Cara mengungkapkannya pun terbilang unik. Ada yang terbang dari ketinggian 7 meter. Atau ada yang memakai kostum badut-badutan, dan masih banyak lagi yang intinya bagaimana meberikan kesan kepada gebetan betapa besar perjuangan untuk mencintai. Absurd sih, tapi bagi kami program teve itu cukup unik. Alhasil, motivasi itu akhirnya berdampak pada si Oca, yang nekat menyatakan perasaan ke Giri.

Dengan muka memerah, dan mulut yang melebar jelas mempertontokan kawat-kawat yang memageri gigi-giginya itu, Giri bertanya kepada Oca dengan nada menggoda, “Apa”

Tiba-tiba tidak lama, Oca memulai mengeja satu persatu kata ungkapan perasaan sukanya. “Gu..e, Gu..e..”

Tampak oleh mata, Oca yang akhirnya terlihat gugup. Raut wajah kami pun jadi ikutan gugup.  Dengan kegugupan luar biasa Oca berusaha berkata lagi, “Gu..e, suka Sa…ma, e..lo. Nih cokelat buat lo !”.

Dan, seluruh kelas menjadi gaduh dengan sorak sorai serta tepuk tangan. “Ciiiiiiiiieeeeeeee….. Oca Giri !!. Terima..!! Terima !! Terima !!”. Seluruh anak-anak sekelas kompak berteriak.Harapan teman-teman sekelas pupus ketika ternyata Oca hanya ingin menyampaikan perasaanya saja.

Tidak meminta imbalan. Dan, sekarang kejadian itu ternyata terjadi kembali di usianya yang mau menginjak seperempat abad. Ia bercerita bagaimana ia memendam perasaan kepada seseorang bergaris keturunan chinese yang menurutnya, laki-laki itu sangat mirip dengan artis korea, yang entah siapa.

Oca dan gebetannya itu satu ruangan dengan posisi meja kerja yang saling memunggungi. Bahkan, saking penderitaan rasa berbunga-bunga terhadap laki-laki itu, ia rela melakukan hal-hal kekonyolan. Ia membuat akun twitter dengan nama anonim yang sesuai dengan nama judul lagu. Semua kata-kata tweet yang ia buat, semua berbentuk pantun romantika. Seperti,

banjir di kemang, ngungsi ke melawai. pedekate gampang, ternyata doi melambai..

atau..

ada hujan, ada rindu. ngarep jadian, berujung sendu..

Semacam tweet kode yang ingin disampaikan kepada laki-laki berparas sipit yang biasa dipanggil “Koko”. Saya pun, terkekeh heran, sejak kapan si Oca bisa jadi doyan mantun??, padahal dulu kayaknya paling males belajar Bahasa Indonesia. Belum lagi, si Oca setiap kerja di kantornya, ia selalu menaruh cermin lipat berukuran kecil di meja, dengan tujuan, dapat melihat si Koko walau hanya tampak dari belakang.

Pernah suatu ketika, kami berbelanja di pusat perbelanjaan di daerah selatan Jakarta, tiba-tiba secara tidak sengaja bertemu dengan si Koko. Sekejap, Oca berubah menjadi gugup deg-degan dan tidak mau bertemu dengannya. Alasannya, “Duh, Troy si Koko ada di sini. Gue enggak make up an!!”.

Duaaar !. Mendengar alasan itu, asli lah saya langsung geleng-geleng kepala. Benar-benar cinta membuat kekonyolan si Oca. Oh satu lagi, saya pun pernah membantu Oca bermain manuver kepada si Koko dengan cara mencoba mention si Koko itu melalui twitter. “Hai, Tadi lo di H&M ya?. Oh iya, ada orang yang diam-diam suka loh sama lo :D” . Si Koko itu pun membalas mention saya.

Di sore tadi, Oca nyaris menceritakan kembali dengan kata-kata peristiwa itu. Selama itu mereka sekantor, jelas Koko tidak mengetahui siapa sosok yang menyukainya. Karena Oca ingin resign dari tempat kantornya, maka ia pun ingin sekali menyatakan perasaan yang ada selama di kantor itu.

“Koko, gue mau pamitan nih. Sekalian, mau ngomong sesuatu. Sibuk enggak?”

si Koko itu tanpa berkeberatan, ia pun berbicara saling berhadapan. Well. membayangkan agak romantis macem pilem kore-korean gitu..

“Gue cuman mau bilang, terimakasih udah jadi teman kantor selama ini. Satu hal yang pengen gue sampaikan secara jujur, bahwa gue selama ini, suka sama lo. Tapi, gue enggak minta apa-apa dari lo, gue cuman mau ngungkapin perasaan aja. Dan satu lagi, gue mau kasih kue buat lo”.

Begitulah Oca mengetik perkataan yang sudah ia katakan kepada obrolan sore kami. Tidak ada plastik cokelat, yang ada hanyalah dua topeles kue kering yang katanya dibeli dari toko kue paling enak se Jakarta. Peristiwa itu, disaksikan tidak hanya pegawai se ruangan, melainkan kamera CCTV yang menjadi saksi bisu keberanian Oca menyatakan perasaanya.

“Terus, pasca pengakuan dosa lo, progressnya gimana Ca?”, Tanya saya kemudian dengan penuh penasaran.

“Gue di WA sama temen deketnya dia. Katanya, satu topeles kue dibagi-bagiin ke anak-anak kantor. Satu topeles lagi, dibawa pulang”. Jawab Oca.

Membaca jawaban dari Oca, saya langsung ngakak. “Yaelah Ca, progresnya kue topeles dibawa gitu ke rumahnya dia?. Meteor Garden banget deh lo. Maksud gue, lo ada kontak-kontakan gitu gk?”.

“Sejauh ini sih, enggak. Tapi kan gue bilang, kalau gue enggak minta imbalan. Gue cuman mau ngungkapin aja. Jadi gue enggak mikirin banget kek gimana setelahnya”. Ujar Oca yang terbaca bijaksana laksana dewi sri yang konon katanya hanya tersenyum setelah menebar benih padi di sawah.

Sepertinya, Oca benar-benar tipe perempuan yang benar-benar hanya ingin mengurangi beban hidupnya dengan cara melepaskan perasaan yang sekian lama bergemuruh di sanu bari. Toh, baginya menjalin hubungan yang serius itu lebih menakutkan dibanding hanya sekedar memendam perasaan suka. Karena, perasaanya tidak akan menyakiti orang yang disukai. Pastinya, hanya dia seorang si pemendam rasa yang akan merasa bergejolak tanpa sebab.

Memang benar setiap orang memiliki karakteristik kepribadian yang berbeda-beda. Jika ada dari mereka yang sulit menyatakan perasaannya, di tempat yang lain, justru ada mereka yang sangat mudah untuk menyatakan perasaanya. Terlepas sebagai orang komunikasi, saya mengakui bahwa apa yang kita pikirkan berupa agagasan, ide, dan apa pun namanya tidak akan tersampaikan jika tidak dikomunikasikan.

Tapi untuk persoalan perasaan di hati, tentu fenomena perilaku manusialah yang kian menjadikan komunikasi menjadi simbol keunikan sikap seseorang. Menyatakan perasaan sebenarnya tidak menyoal kepada lawan jenis saja, kepada keluarga pun juga dapat di korelasikan. Tapi tidak ada yang semanis ketika perasaan dua insan diberikan fitrah yang satu itu bukan?.

Ada yang diam ketika sedang marah. Ada juga yang berapi-api ketika sedang terbakar amarah. Ada yang menulis, ketika lisan tidak mampu berdialektika. Atau ada juga yang menggambar demi me-ekspresikan perasaan jiwa. Setiap orang, memiliki cara tersendiri. Begitu juga dengan cerita Oca, yang tentu memiliki nilai tersendiri bagi yang membacanya.

Mungkin, bagi kamu yang terjebak kisah yang sama dengan teman saya yang satu itu, sedikit saran saja, jadilah dirimu sesuai apa yang ingin kamu sampaikan kepada orang itu. Mau atau tidak mau menyampaikan, Maju atau bahkan justru mundur, itu semua ada waktunya. Tinggal pilihan ada di tanganmu. Dan pilihanmu, adalah sikap takdir mu. Tentu takdir adalah hal yang terbaik dari Tuhan, hanya tinggal memaknai dengan perspektif terbaik sesuai dengan firman-Nya.

So, When You Love Someone, Just be Brave to Say…

*ps : Semua cerita, nama dan julukan, sudah disetujui oleh pihak yang bersangkutan untuk disebutkan dalam tulisan 😀

Adiooss..

Iklan

(Sesi Curhat Online ) Melipir pada 2 hati yang bertanya

Well, saya memiliki 30 menit untuk menulis pendapat saya mengenai cerita seseorang kepada saya melalui email maharani.kantry@yahoo.com 1 jam yang lalu.
Seorang gadis berusia 20-an, bertanya kepada saya, apakah salah jika kita masih berharap kepada keputusan orang lain tentang hal-hal yang belum pasti kejelasannya??.

Kemudian, ia menceritakan bagaimana saat ini ia bimbang, untuk memutuskan keputusan untuk memilih calon suami yang terbaik untuknya. Karena, di satu ruangan hatinya masih ada tanda tanya besar apakah masih ada laki-laki lain yang mencitainya?. dalam hal ini laki-laki itu adalah teman lamanya yang sampai saat ini tidak berjumpa dengannya. Lost contact lebih tepatnya. Kebimbangan ini semakin meruncing ketika suatu ketika ia bekerja di perusahaan yang sama, namun berbeda wilayah operasi kerja. Sekali lagi, ia belum bertemu dengannya. Hanya suara telepon yang tak sengaja ia dengar demi keperluan kantor.

Bagai keresahan yang tak menemui solusi, di hati yang lain, kini ia sudah mengenal laki-laki lain yang terbilang siap untuk merajut keseriusan hubungan dengannya. Lagi-lagi di ruang hati yang lain, ia masih bertanya kejelasan hati dari teman lamanya. Kondisinya saat ini, gadis ini sudah memiliki nomor telepon genggam laki-laki tersebut. Namun, setiap hari hanya melihat foto dan nomor yang tertera. ia tak kuasa menyapa duluan. Alhasil, sampai detik ini ia masih bimbang, apakah yang harus saya lakukan?.

Jawaban :
Wahai gadis yang sudah mengirimkan email kepada saya malam ini, sebelumnya saya ingin mengucapkan salam kenal. Entah ada angin apa saya mendapatkan email pertanyaan ini. Karena sesungguhnya saya bukanlah konsultan percintaan 😀 Tapi, karena dirimu sudah bertanya kepada saya, Bismillah saya akan mencoba menanggapi.

Pertama, cerita mu itu sungguh menginspirasikan saya dan mengingatkan saya tentang arti sebuah keberanian dan keikhlsan yang pernah saya alami. Perasaan suka dengan lawan jenis merupakan anugerah yang istimewa dari Tuhan. Tentu hati akan selalu peka untuk masalah yang satu ini. Artinya dalam kasus ini kamu sedang bermain asumsi dengan hati. Kamu masih meragukan dengan apa yang kamu lihat di depan mata, namun kamu masih mencari di luar panca indera mu untuk sesuatu yang pasti. Kata kuncinya adalah buktikan asumsi itu.

Berita bagusnya, kamu masih penasaran dengan orang yang pernah kamu kenal. Terlebih kamu memiliki nomor kontaknya. Ada kelemahan perempuan yakni bermain asumsi hati. Ada rasa segan, ada rasa takut, ada rasa malu, dan lain sebaginya. Kenapa muncul perasaan seperti itu, itu karena kamu belum siap menerima hal yang tidak mau kamu bayangkan. Padahal dalam kodrtanya, manusia hidup disuguhkan 2 pilihan take it or leave it.

Apakah itu lumrah?, aku jawab iya. Itu sangat lumrah. Waktu akan terus berputar, menguji keikhlasan kita. Semakin lama, kamu menunggu keberanian, maka semakin lama juga kamu menguji keikhlasan dirimu dan orang yang sudah menunggu mu di depan mu. Keikhlasan adalah fase manusia yang sedang berdiri di 2 posisi take it or leave it tadi. Jika kamu merasa menderita dengan asumsi dirimu, tentu laki-laki yang ada di depan mu merasakan hal yang sama dengan mu.

Ada teman ku yang mengatakan, Cintai orang yang engkau nikahi, bukan nikahi orang yang kau cintai. Artinya, bisa jadi orang yang bukan kita cintai dialah orang yang terbaik untuk hidup kita. Karena, sekali lagi, perasaan itu hanyalah manajemen hati yang bersifat subyektif. Menikah yang saya tahu, adalah hubungan suci yang bertujuan mendekatkan kita ke arah kebaikan. Menikah memang mengikutsertakan perasaan. Akan tetapi juga tidak salah untuk kita mengetahui makna pernikahan itu sendiri. Jadi kuncinya adalah, coba kita dekatkan ke Tuhan, bertanya kepada-Nya, dan teguhkan hati untuk menikah. Saya yakin, pasti ada jawaban terbaik untuk mu.

Hm.. mungkin itu yang bisa aku share. Sekali lagi, maaf ya kalau jawabannya belum memuaskan. Semoga hidup mu menyenangkan dalam kondisi apa pun..

Adioss..

By alwayskantry009 Posted in Ya Kali?

Belajar dari Asma’ Binti Umais ra – Beramal untuk Memenangkan Agama Allah

Asma’ binti Umais adalah isteri Ja’far bin Abu Thalib ra. Ia memeluk Islam bersama suaminya pada hari-hari pertama Islam yang penuh dengan kesulitan, kesedihan, kesempitan, dan cobaan. Ia juga tabah menghadapi kesusahan dan bahaya selama perjalanan Hijrah bersama suaminya ke negeri Habasyah. Semuanya ia lakukan sebagai wujud perjuangan di jalan Allah dan untuk menolong agama-Nya.

Tatkala Umar bin Khathtab ra. mencandainya seraya berkata, ‘Wahai wanita Habasyah, kami telah mendahuluimu hijrah ke Madinah’.

Ia menjawab, ‘Ya, kamu benar. Kalian bersama Rasulullah SAW. Memberi makan orang-orang yang kelaparan, mengajari orang-orang yang bodoh. Sementara kami terasing di tempat yang sangat jauh. Demi Allah, aku akan menemui Rasulullah SAW, untuk menceritakan hal ini kepadanya’.

Kemudian ia mendatangi Rasulullah SAW, seraya bertutut,’Wahai Rasulullah, ada beberapa orang yang mencandai kami. Mereka mengatakan bahwa kami bukan termasuk generasi pertama yang hijrah ke Madinah’.

Rasulullah SAW bersabda,’Justru, kalian melakukan hijrah dua kali. Klaian hijrah ke Habasyah, sementara kami tergadaikan di Mekah. Kemudian setelah itu, kalian hijrah menyusulku (ke Madinah)”.

Mereka juga Kita

Dear people.. assalamualaykum wr.wb

Masih syawal ya?. Eh gimana puasa syawalnya?, lancar dong ya.. Insya Allah..

Pasca Ramadhan berasa ada yang beda enggak ya?, Kalau kalian merasa ada yang beda, berarti kita sama ya. Kalau saya, nyaris bulan “Bukan Saya”. Lebih garang sama yang namanya tujuan hidup. *tsaaah

Semacam ada kekuatan baru untuk hidup lebih baik lagi. Perasaan baru sebenernya sih, cuman diri kita sama Allah yang tau. Yeaah semoga aja bertahan sampai 11 bulan ke depan sampai ketemu Ramadhan lagi merasakan diri yang baru ini terus ON.

Gimana mudiknya?, Ah pasti seru deh itu yang punya kampung jauh-jauh gitu. Mudik (Mulih ke Udik) emang udah jadi agenda tahunan yang selalu membawa cerita menarik. Beruntung deh pokoknya bagi yang mudik ke luar kota atau ke luar pulau. Selain sensasi kebersamaan dalam kesengsaraan panas di jalan, atau belum lagi kemacatan yang panjang, para mudikers tentunya bisa menambah value silaturahmi yang akan selalu dikenang terus. Mulai dari Bagi-bagi THR, mamer baju, sampai kepada banjir pertanyaan yang mungkin membuat muak, karena sering ditanya haberkali-kali kalau ketemu. Mulai dari, Kelas berapa sekarang?, Semester berapa?, Ranking berapa kemaren?, Udah wisuda belum?, Udah kerja belum?,atau bahkan mana calonnya kok enggak dibawa?. Daaaaan masih banyak lagi pertanyaan yang akan berulang kamu dapatin selagi kamu masih hidup. Apapun, yes apapun bisa jadi pertanyaan.

Eneug sih sebenernya. Tapi itulah hidup. Hidup yang harus kita lewatin dengan pahit atau manisnya mood kita dalam menjawab sebuah kenyataan yang ada. Tapi tenang, si ‘saya’ pemilik blog ini pun sama dengan kamu. Tapi percayalah pertanyaan mereka enggak se-getir pertanyaan malaikat di alam kubur atau di akhirat nanti. Anggap aja, ini salah satu test kesabaran dalam menjawab pertanyaan orang lain yang mungkin mereka sebenernya pengen banget ngobrol sama kamu. Ya itu tadi, apapun bisa jadi pertanyaan. Jadi berbanggalah kita yang punya jumlah pertanyaan paling banyak tentang diri kita. Coba bayangkan kalau tidak ada satupun pertanyaan yang meluncur untuk kamu. Itu tandanya kamu sudah tidak meiliki value dalam hidup dia. So, bersyukurlah.. *bawa pompom sambil salto*

Bicara masalah silaturahmi, ada satu hal yang ingin saya ceritakan bagaimana sebuah silaturahmi dapat mengubah hidup seseorang. Allah menjanjikan kalau kita bersilaturahmi Insya Allah usia kita akan diperpanjang dan keberkahan akan mengalir deras. Apalagi kalau udah salaman, weeess,,mantap kali itu dosa-dosa kesalahan dengan orang tersebut akan luntur. Subhanallah !

Pada suatu ketika saya ikut dengan Ibu saya untuk bersilaturhami dengan kerabat lamanya yang juga berprofesi sebagai guru. Tante Ani, namanya. Perempuan asal Bogor itu seusia ibu saya. Berjuang sebagai single parent, ia menghidupi kedua anaknya hingga sampai saat ini sudah dewasa semua. Awalnya saya tidak mengetahui, siapa perempuan yang namanya sering menggaung di rumah kami. Pada kesempatan lebaran ini, Ibu saya meminta saya untuk mengantarkan berkunjung ke sana.

 Sampai di sana, ukuran rumahnya cukup besar dilengkapi degan kolam ikan yang unik. Unik, karena tidak ada satu pun ikan yang wara wiri di sana. Saya sedikit bertanya, “Tante kenapa enggak ada ikannya?”. Sambil tertawa lepas dia menjawab ringan. “Enggak ada yang ngurus”.

Pertanyaan saya muncul layaknya detektif. Kok bisa enggak ada yang ngurus?, Loh bukannya dia punya 2 anak yang udah dewasa?, sesibuk itukah keluarga ini sampai-sampai elemen pendukung komposisi rumah mereka yang sudah mereka buat terbengkalai sudah?, Ah sudahlah kepo itu kebiasaan terburuk dalam diri imajiner seperti saya.

Tidak lama, Tante Ani mempersilahkan saya dan ibu untuk minum dan mencicipi kue kering yang persis banget di rumah kami. Maklum aja, doi beli kue lebaran yang keluarga kami buat. Hehe…

Pembicaraan pun dimulai. Karena ini adalah moment silaturahmi, jadinya lebih banyak yang berbincang adalah Ibu dan temannya itu. Saya?!, saya hanya bermain telepon genggam pintar sambil mendengarkan percakapan mereka dan sesekali tertawa kecil demi menghormati walau sebenernya “ngomongin apa sih mereka?”.

Ah tunggu dulu, di sela obrolan seputar teman-teman mereka, ternyata Tante Ani menceritakan anak-anaknya. Kebetulan dong?!. Dan inilah saatnya saya menyimak dengan seksama.

“Iya mih, ini rumah gue sepi banget. Si bungsu sering banget muter-muter eropa”. Ulas Tante Ani sambil mengusap-usap lengan tangan dengan pandangan senja.

Hm wuiih..enak banget deh itu kayaknya bisa muter-muter eropa, pikir saya. Emang kerjanya apa gitu ya bisa leluasa keliling eropa.

“Dia, kan sekarang punya bisnis travel, jadinya sibuk banget. Yah begini ini mih, sepi”. Tante Ani pun menjawab pertanyaan yang sama dengan pikiran saya.

Terus, kalau anak paling kecil sibuk ke Eropa, anak pertama kemana ya?, lagi-lagi saya berdialektika dalam interpersonal. Tiba-tiba Ibu saya bertanya serupa. “Si ‘besar’ ke mana, An?”.

*Nama anak pertamanya saya tidak sebut ya, demi kedamaian dunia akhirat. Jadinya pakai istilah aja dengan ‘besar’

Sambil menunjuk ke arah pintu yang ada kira-kira 3 meter dari kami duduk tante Ani menjawab, “Tuh di dalam”.

*Sekilas informasi anak pertamanya seorang laki-laki seusia kakak saya, 27 tahun.

Tidak lama ada suara gedor-gedor ramai dari arah pintu tersebut. Sontak, kami terkejut.

“Bentar ya mih”. Ucap Tante Ani sambil berjalan menuju pintu kamar tersebut.

“AA kenapa?”. Tanya Tante Ani di depan pintu tanpa membukanya.

Awo awoo awoo..per per per uka uka, itu dia jawaban yang saya dengar. Oemji, itu apaan ngomong macem gitu. Jangan-jangan monster pikir saya.  Selang beberapa menit, Ibu saya ikut menghampiri pintu itu. Dan bertanya dengan lembut.

“ ‘besar’ ini tante mimih. Halo ! “.

Ibu saya dan Tante Ani pun menempelkan telingan sambil berbisik satu sama lain. Melihat kelakuan mereka, jujur saya mulai tidak paham ada sih di balik pintu itu. Sekali lagi, saya semakin penasaran. Saya pun berusaha menyimak apa yang dilakukan mereka.

Tidak lama, pintu dibuka oleh Tante Ani. Kamu tau, betapa saya terkejutnya dengan apa yang saya lihat. Sosok bertubuh tinggi besar, berambut cepak, berkulit putih, dengan pandangan mata sayu mencoba memeluk Ibu saya. Itu kah anak pertama itu.

Orang itu seperti bertanya kepada Ibu saya. Namun, sepertinya bahasa yang digunakan saya tidak mengerti. Namun ibu saya menjawab, “ Oh apa kabar?, Kabar baik. Selamat lebaran ya”.

Tunggu sebentar, Ya Allah.. dia..!! dia ternyata mengalami kelainan syaraf yang dengan istilah umumnya adalah Idiot.

“Mah..mau ini mau ini !!”. ucap orang itu sambil menunjuk ke arah alat vitalnya. Kemudian, tanggannya menarik tangan ibu ku seraya mengajaknya masuk ke kamarnya. Ibu saya pun berusaha menahan agar tidak memasuki kamar itu.

Tidak lama, muuncul dari dalam kamar, seorang perempuan yang memiliki kondisi sama dengan ‘besar’ itu.

“Tidak-tidak..AA di sini saja. Tante mimih mau pulang. Oke!“. Dengan sigap, Tante Ani menutup pintu dan kembali ke tempat duduk. Saya yang semula mengernyit heran, harus memaksakan untuk stay cool berasa tidak ada apa-apa dalam pandangan yang saya lihat barusan.

Melihat kelakuan anaknya itu, Tante Ani pun meminta maaf kepada Ibu saya. “Maaf ya mih, emang suka gitu kalau ada tamu”.

Dalam benak saya, saya ingin memaksa “Ayo tante..ceritain anak tante yang tadi !! please…”

“Itu siapa ni, perempuan yang di dalam?”. Tanya ibu saya kemudian.

Sambil mengunyah kue nastar, Tante Ani menjawab, “ Isterinya”.

Ha? Isteri?, ini berasa enggak yakin dengan apa yang dilihat dan terjadi dalam kenyataan. Setelah mendengar penjelasan Tante Ani. Kamu tau, apa yang terjadi, Saya menangis.

Begini..

Dalam kenyataannya bahwa manusia memang tercipta dengan keadaan yang berbeda-beda dari Allah SWT. Mulai dari fisik, pemikiran, hingga kadar keimanan. Cerita tante Ani memberikan pemahaman saya, bahwa manusia tidak akan pernah putus diuji oleh Allah SWT, uji kesabaran tentunya. Terutama orang tua. Orang tua akan diberikan ujian kesabaran dengan diberikannya seorang anak. Anak dengan segala serba serbinya. Terlahir sebagai anak yang berbeda dari anak-anak lainnya membuat Tante Ani ikhlas dan pasrah dengan jalan takdir hidupnya. Walau ia terbilang mapan, namun ternyata saya sadar, orang tua sampai kapan pun akan tetap orang tua yang terus memikirkan anaknya walau dia sudah dewasa.

Secara logika, apa yang bisa dilakukan orang seperti itu dalam menjalankan survival hidup?!. Bahkan saya sebagai manusia utuh masih merasa cemas dengan jalannya hidup saya sendiri. Keluhan selalu terucap tanpa sadar. Walau pada kenyataanya, sebenarnya harusnya masih banyak yang bisa saya lakukan dengan keberkahan jasmani dan ruhani ini.

Saya di sini mencoba memposisikan diri saya sebagai Tante Ani yang juga sebagai single parent. Tentu ini sangat berat. Bagaimana ia mencoba mengurusi anak pertamanya. Menyekolahkannya, dan akhirnya menikahkan. Dimana Anak laki-lakinya sebagai tumpuan keluarga masa tuanya, ternyata masih menari-nari dalam kecemasan teramat dalam.

“Terus itu hamil gk Ni?”. Tanya Ibu saya penasaran.

Sambil tersenyum Ia menjawab, “Allahuu allam Mih, bisa hamil apa enggak. Bisa melampiaskan biologisnya si AA aja saya udah alhamdulilah”. Dan obrolan kami pun terhenti.

When I Was Your Man

Pagi ini saya mencoba membuka email yahoo yang udah beberapa bulan saya tinggal. Ternyata udah penuh banget. Ada kali ya, sekitar ribuan email masuk. Ya gitu deh, kesemua isi email adalah notifikasi dari akun-akun yang pernah saya ikuti selama ini. Mulai dari akun bisnis, pendidikan, keagamaan, sosialita, aktivis, bahkan sampai pada forum biro jodoh dunia maya numplek memenuhi inbox saya. Jangan salah ya, kalau saya tidak membaca semuanya. Saya gini-gini juga paling enggak ada kerjaan. Kalau iseng, ya apapun di inbox masuk pasti saya baca. Ya walaupun terkadang suka nemu email masuk dengan nama teman saya, tapi isinya “link” sebuah situs yang enggak jelas. Menurut teman saya sih itu biasanya adalah virus. Tapi entah kenapa, udah jelasin kalau itu adalah virus, teteeeeeeep aja saya buka. :-p

Satu persatu email saya buka, hingga pada satu email masuk dari teman saya berinisial B.M. Saya biasa menyebut dirinya dengan BEMO. Oke sebut saja lah ya, dirinya dengan BEMO. BEMO merupakan teman saya ketika les bahasa Inggris di LIA Pasar Minggu. Temen lama. Tapi masih tetep berkomunikasi walau benua, lautan, dan samudera memisahkan kita. Cowok kembar yang kini bekerja pada perusahaan asing di Belanda itu ternyata sedang galau gundah gulanda.

Dia menceritakan sebuah kisah hidupnya selama di Belanda. Kisah yang jarang sekali dia ceritakan ke saya. Yeeeap kisah percintaan di usia 25 tahunnya membuat pagi saya sangat antusias membaca curahan hati sang bujangan kincir angin itu. Pengen tau ceritanya?!, yuk siap-siap ambil tissuee. hehehe..

Begini ceritanya,

Di awal pembukaan email yang dia kirimkan kepada saya, BEMO memelas. “Entahlah, saat ini gue harus cerita sama siapa. Di saat gue sadar, kalau perempuan itu sangat berarti buat gue”.

Membaca tulisan itu, spontan banget, saya nyengir kuda. Cuman bisa bilang dalam hati, ” Heum..Mamam deh lo”. *Maaf ya BEMO, Gue bilang gitu. Eh tapi gue nyengir kudanya sebentar kok. Karena firasat gue, kisah lo ini pasti beda. Makanya, gue akhiri dalam kenyengiran kuda ini, dan menghayati tulisan lo :D*

“lo tau gue kan, gue enggak bisa menempatkan hati hanya ke satu perempuan. Dan lo tau kan, kenapa gue kayak gitu?!. Ternyata Tuhan memberikan gue jawaban saat ini. GUE MENEMUKAN PEREMPUAN UNTUK HIDUP GUE LEBIH BAIK LAGI. Dia adalah perempuan yang udah jadi temen gue selama 2 tahun di Belanda. Temen ngobrol apapun, temen diskusi enggak jelas, temen jalan-jalan, nonton film, dateng konser musik, sampe ngerjain project kantor bareng. Semula gue merasakan kenyamanan seperti dekat dengan perempuan yang lain. Karena awalnya gue kira, setiap perasaan nyaman yang gue rasakan adalah berkat diri gue sendiri. Diri gue yang pintar membawa hati gue, menempatkan hati gue, dan menciptakan suasana menjadi beda. Yeah itu karena gue, Bukan perempuan yang dekat dengan gue. Lo pikir aja kant, selama dua tahun itu gue akhirnya tau dia jauh  banget dari perempuan yang paling cantik di sekitar gue.  Dia perempuan sederhana, sedikit cuek, dia suka banget baca komik, dan enggak suka fashion. Lo masih inget Caroline kan?!. Nah, kalau dibandingin sama Caroline, jauh banget deh. Apalagi kalau disamain sama Jasmine atau Minie. Pokoknya diantara perempuan yang gue deketin, yang satu ini jauh banget. Hingga suatu ketika dia harus kembali ke negaranya, Japan. Ada kali ya, 5 bulan gue enggak ketemu dia. Sampai pada suatu ketika, gue merasakan hampa. Kosong. Dan entah kenapa ada hilang dalam diri gue. Itu gue rasakan ketika dia pergi selama 5 bulan. Selama ini, kalau Jasmine, Caroline, atau Minie pergi entah kemana tau, gue sama sekali enggak mencari dia. Kali ini, beda. Bahkan hampir semua temen kantor gue bilang wajah gue pucat. Enggak ceria seperti biasanya. Hingga pada suatu ketika gue inget obrolan gue sama lo yang  “A Half We, Is You”.  Gilak kant ! Gilak !! gue karma ini kayaknya. Kayaknya gue punya perasaan yang beda sama itu perempuan. Cuman sama dia !. Selama 2 bulan itu gue enggak komunikasi sama sekali. Sama sekali. Gue udah coba telepon, ternyata telponnya enggak aktif. Akhirnya gue kirim email. Ternyata enggak perna ada balesan dari dia. Ah..rasanya gue mau gila. Rasanya gue pengen banget ke Jepang nyariin dia. Atas pertimbangan ini itu akhirnya gue ke Jepang. terserah lo bilang gue enggak waras atau gimana. yang jelas gue cuman pengen deket dia. Karena gue merasa kehilangan dia. Pergilah gue ke sana. Gue cari alamat dia di Jepang lewat perusahaan di sana. Ternyata dia di Hokaido ( Rumah neneknya ). Asli, susah bener nyari alamat di sana. apalagi gue gk bisa bahasa jepang. Gue sewa tour guide untuk nemenin ke Hokaido. Sampe di sono. Lo tau apa yang terjadi, Dia MERIT !. dia udah nikah. dan gue lemes banget tau berita itu. Makanya gue langsung YM lo, bilang WHAT SHOULD I DO NOW?, AND IM IN LOVE !. Dan lo bilang, “Yaudah bilang ke dia dan nikahin dia. Simple!”. Akhirnya gue bilang itu ke dia. Gue sadar itu bodoh. Lo tau raut wajahnya gimana, dia nangis. Terus senyum. Dia bilang, Dia juga suka gue. Tapi itu dulu pas pertama ketemu gue. Asli kant, gue merasa bodoh banget denger itu. Kenapa gue harus menyadari sekarang kalau dia berarti buat gue. Sampe sekarang gue kirim email ke lo ini hati gue masih lemas. Gue cuman pengen waktu kembali di saat gue ketemu dia, di saat dia ketemu gue. Gue enggak tau harus gimana ini…!!.

 

 

Itu dia cerita BEMO yang dia kirim ke email saya. Saat itu juga, saya bilang sama BEMO, “CINTA LO BASI!”.

Kayaknya udah banyak kisah cinta terlambat kayak gitu. Entahlah, penyesalan emang datang terlambat. Terlepas dari bahwa, “dia bukan jodoh lo” saya yakin enggak semua orang bisa bangkit untu recovery perasaan. Namanya juga perasaan hati, pasti sedikit sulit tuh. Makanya jangan maen-maen sama hati. sedikit meleset, sakitnya ampun-ampunan. Enggak tau juga ini, gara-gara email dari si BEMO saya jadi seneng banget denger lagunya Bruno Mars yang When I Was Your Man. Ini liriknya sama persis ya, sama kisahnya dia.

Ada hal yang harus kita ketahui, bahwa laki-laki itu punya hak untuk memilih, dan perempuan mempunyai hak untuk menolak. Menurut sensei SMA saya dulu, perempuan asia ( khususnya ) memiliki kesamaan dalam menyikapi perasaan. Bahwa perempuan itu hakikatnya menunggu untuk menjawab ya atau tidak, Kalau berdasarkan cerita dari temen-temen saya sih, kebanyakan laki-laki yang pernah dia suka di waktu yg tepat sebelumnya, akan datang di waktu yang (akhirnya ) tidak tepat. Contohnya, di saat perempuan itu akan menikah beberapa hari lagi, ternyata laki-laki yang pernah ia suka datang menyatakan suka. Huwooooo.. petir banget enggak tuh?!. Padahal sebenernya perempuan itu pernah suka sama laki-laki itu. Tapi karena laki-lakinya enggak menyadari, yasudah perempuan akan memilih siapa yang berani berkomitmen lebih cepat dari siapa pun. Sekilas mirip cerita di Cintapucino ya?!. Dan emang itu nyata adanya. Ya..karena saya belum merasakannya, jadi masih tidak percaya, dan membayangkan kalau nanti saya akan menikah, jangan-jangan John Mayer akan datang sambil bilang, ” Kantri, frankly, realize that I feel love in you. Will you marry me ?? 😀

Adioss…