Tomorrow is my own born day

100_4492

 

No words can’t describe about my 26 th years old. I have to thankful to Allah, for His blesses, for His Loves, and for His guards, those all for my best life. I wish my dream come true. That’s all.. ^^

 

 

By alwayskantry009 Posted in my soul

Media Relations : Fase Perencanaan

 

Ada kalanya sebuah perusahaan menginginkan berita bagus terkait citra perusahaan di mata publik. Melalui Public Relations Officer (PRO) perusahaan selalu ‘menuntut’ agar setiap pekan selalu ada branding yang menerpa mindset masyarakat. Jika sudah demikian, apa yang harus dilakukan oleh PRO, lalu bagaimana PRO menyikapi dalam pemilihan media yang akan menjadi saluran efektif dalam penyebaran pesan perusahaan?.

Tulisan ini sengaja saya tulisa, berdasrkan pengalaman yang saya korelasikan dengan ilmu pengetahuan yang saya kutip dari buku favorit saya mengenai Media Relations : Konsep, Pendekatan, dan Praktik yang ditulis oleh DR. Yosal Iriantara.

Media relations merupakan salah satu kegiatan yang menjadi bagian dari program PR. Pertama, ketika kita berpikir bahwa media relations adalah hal yang membingungkan, terlebih bagi pihak yang baru pertama kali berhubungan dengan pihak wartawan dan media massa. Intinya, media massa itu sangat melirik program-program yang memiliki kritria unik yang bisa dikatakan layak liput.

Ada 4 (empat) kriteria yang biasa disebut 4K yang digunakan dalam penyeleksian program PR, bahwa program tersebut harus :

1. Komitmen, yang berkenaan dengan kesungguhan dari setiap pihak yang terlibat dalam program untuk memberikan hasil terbaik.

2. Kejelasan, yang berkenaan dengan pesan yang hendak disampaikan itu jelas dan sederhana.

3. Konsistensi, yang berkaitan dengan konsistensi dalam maksud dan tujuan, serta konsistensi dalam citra yang hendak dikembangkan.

4. Kreativitas, yang berkaitan dengan cara-cara yang kita kembangkan untuk menjalin hubungan dengan media, penyusunan pesan, kegiatan yang dijalankan dalam program tersebut dan seterusnya.

Simple, but it’s not easy to do..

Benar banget. Simpel, tapi tidak mudah dilakukan. Untuk itu, menjawab dilematis seperti itu, PRO harus membuat perencanaan yang matang. Pada dasarnya perencanaan merupakan usaha untuk mewujudkan sesuatu agar terjadi atau tidak terjadi pada masa depan. Sama halnya, ketika kita ingin menuntut ilmu, maka hal yang harus diperhatikan adalah, definisi tujuan yang kita inginkan dan sampai kapan tujuan itu berlangsung. Artinya, perlu dirumuskan apakah program tersebut merupakan jangka panjang ataukah jangka pendek. Waktu jangka panjang bisanya dirumuskan kurun waktu selama 10-15 tahun. Sedangkan kurun waktu jangka pendek, dirumuskan selama 1 tahun. Namun, ada juga yang menempatkan jangka menengah. Hal ini biasanya, karena kurun waktu menengah, merupakan program yang bersifat tentatif yang perlu dievaluasi, dimana berkaitan dengan penjualan/marketing.

Pada fase ini PRO harus menjawab dari beberapa pertanyaan, sebagai berikut :

1. Di mana posisi organisasi kita saat ini?

2. Siapa khalayak sasaran kita?

3. Apa yang kita inginkan atau apa tujuan kita?

4. Bagaimana mencapai tujuan itu?

5. Taktik apa yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut?

6. Bagaimana kita mengevaluasinya?

Mudahnya, memang tujuan perusahaan dibuat dalam bentuk business plan yang divisualisasikan dengan bagan yang bisa dilihat komponen apa saja yang dikategorikan tujuan program jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek.

Pada pertanyaan nomor 1, erat kaitannya dengan kegiatan audit PR atau media relations. Pada audit PR dilakukan dengan melihat document trail dari beberapa program yang sudah pernah dibuat oleh perusahaan, atau bisa juga dengan melihat dari beberapa pemberitaan media massa, media online, media sosial, dan Search Engine Optimized. Intinya, semua yang muncul pada yang bersifat komersial – non komersial apabila brand/logo/nama perusahaan muncul pada media massa, maka harus dianalisis.

Tentu saja, kegiatan Audit menurut DR. Yosal, begitu berkaitan dengan kondisi internal organisasi atau bisa dilakukan sebagai wujud kajian lingkungan internal organisasi (internal scanning). Adapun tujuan dari internal scanning tadi adalah untuk memeriksa kemampuan dan kebutuhan organisasi atas kegiatan media relations dengan memperhitungkan apa yang dimiliki organisasi. Dengan audit ini dilakukan analisis pada kebutuhan, program, kebijakan, praktik dan kemampuan media relations organisasi sehingga memungkinkan manajemen puncak organisasi untuk memperoleh informasi yang memadai dalam memutuskan tujuan media relations tersebut.

Audit yang dilakukan untuk menganalisis lingkungan internal organisasi bisa dilakukan dengan visi misi perusahaan. Pada perusahaan yang berkembang dengan kondisi anomali peralihan manajemen, dari manajemen tradisional (bisnis keluarga) ke manajemen profesional terbuka (mencoba menerapkan sistem ISO dll), sangat sulit merumuskan visi misi. Bukan karena ketidak profesionalan tetapi merubah budaya kerja ternyata tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu ada landasan teori yang bersinergis dengan tradisi yang dirasa nyama oleh pemilik perusahaan. Namun, bagaimana kah nasib PRO yang diangkat dengan asa profesional?

PRO dapat melihat perkembangan dari penjualan serta kegiatan promosi yang dengan atau tanpa media komersil. Hasil pengamatan itu begitu bermanfaat untuk menunjukkan sebagai bahan evaluasi terdahulu. Tetapi jika perusahaan yang sudah jelas visi misi, kerangka kerja, dan bagan organisasi, maka sangat mudah mencari visi misi tadi. Kemudian, tinggal membuat kurun waktu yang harus mencakup keseluruhan visi. Setelah itu lakukan dengan identifikasi khalayak.  Khalayak dibagi menjadi dua, internal dan eksternal publik. Masing-masing khalayak memiliki kepentingan yang berbeda, maka perlakuan terhadap mereka pun berbeda dalam berkomunikasi.

Apabila identifikasi khalayak sudah dilakukan, kemudian pilihlah pihak yang siap secara kualitas dalam mengelola kegiatan medi relations tadi. Banyak pilihan yang dapat dilakukan, bisa dilakukan dengan staf organisasi perusahaan itu sendiri, atau menggunakan jasa PR. Biasanya, menggunakan jasa PR dilakukan dengan biaya yang bombastis. Tidak semua perusahaan mau mengerluarkn biaya tersebut. Tentu, ini tantangan bagi seorang PRO, jadilah PRO yang handal dalam mengemas kegiatan media relations dan segala aspek pendukungnya. Logikanya, buat apa perusahaan membayar mahal PRO sebagai staf promosi dan komunikasi tetapi masih juga membayar pihak agency untuk mengelola yang sifatnya strategis. Mubazir bukan?!

Posisi perusahaan di mata publik internal maupun eksternal dapat dilakukan dengan menganalisis secara SWOT. Anlisis SWOT dapat menujukkan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki serta bagaimana peluang dan ancaman yang berasal dari luar organisasi. Setelah memetakan posisi organisasi berdasarkan analsis SWOT itu, bisa segera dilakukan tujuan perusahaan secara terukur.

Lagi-lagi tujuan terukur berkaitan dengan tujuan perusahaan yang sifatnya menguntungkan (marketing). Biasanya perusahaan yang mengaitkan itu, pihak yang menguru kegiatan komperasi program tersebut adalah marketing PR, yang berarti dukungan kegiatan PR untuk pemasaran produk. Media relations juga bertujuan menjaga reputasi merek atau mengelola merek yang sudah memiliki nilai tinggi pada publik.

Membuat strategi dalam Media Relations juga bisa didesain menggunakan mode ROPE yang dicetuskan oleh John M. King, yang ditunjukkan dengan gambar di bawah ini :

Tabel ROPE

Harus diingat adalah, PRO dituntut harus kreatif adalah keniscayaan. Karena, apa pun upaya terbaik dari PRO adalah menunjukkan keberhasilan target perusahaan dalam bentuk kemasan yang menarik. Kemasan program yang unik, dan dapat menjadi daya tarik publik untuk lebih peduli dengan brand perusahaan maka disitulah PR berjalan.

Sampai jumpa, pada share tematik media relations lainnya..

Have Nice Weekend..

Media Relations : Edisi Alur Kerja

Harmonisasi dalam menjalin hubungan oleh suatu Perusahaan tidak hanya berlaku surut, itu memang benar. Terkadang, seorang Public Relations Officer harus mati-matian dalam membuat hubungan yang baik agar menghasilkan manfaat untuk kedua belah pihak.

Hal yang harus dipikirkan oleh suatu Perusahaan adalah menyadari bagaimana mengetahui karakteristik dari publik/mitra yang ada di sekitar kehidupan perusahaan. Secara umum kita mengenal terdapat dua jenis publik, yakni publik dalam (internal public) dan kedua, publik luar perusahaan (external public).  Namun, ada juga yang meklasifikasikan menjadi publik utama (primary public); publik kedua (secondary public); marginal public (publik marjinal) atau traditional dan future public (tradisional/potensial) ; proponent, opponent, uncommitted public (pendukung, penentang, tidak peduli) (Seitel, dalam Ardianto, 2012 :12).

Pada dunia praktisi, klasifikasi publik disederhanakan dengan dua klasifikasi menjadi publik dalam dan publik luar. Publik dalam adalah yang terdapat di dalam organisasi atau perusahaan, seperti supervisor (pengawas), clerks (pegawai), managers (manajer), stockholders (pemegang saham), dan board of directors (direktur pengelola). Sedangkan publik luar adalah publik yang tidak secara langsung terkait dengan organisasi atau perusahaan, seperti press (pers atau media massa), government (pemerintah), educators (pendidik), customers (pelanggan), the community (komunitas), suppliers (pemasok).

Setelah PRO sudah merancang program perusahaan pada determinasi jangka pendek ataupun panjang, tentu hal yang harus diperhatikan membuat strategi lengkap untuk menjangkau setiap elemen klasifikasi publik tadi. Tulisan ini akan menerangkan bagaiman membuat program Perusahaan dapat menyebar luas dan kekal. Selain membuat strategi penjualan, Perusahaan melalui PRO harus membuat strategi pemasaran yang sifanya komersial, dalam dunia komunikasi kita mengenal istilah Media Public Relations. 

Media Publi Relations (MPR) juga dikenal sebagai commercial press (pers atau media massa komersial). Media komersial ini merupakan mitra bagi PR karena melalui media yang bersifat massa, PR memperoleh publisitas atau  lebih dikenal. Media massa dewasa ini sudah sangat pesat. Berdasarkan perkembangannya, media massa dibagi menjadi dua jenis, pertama media massa konvensional dan kedua media online. Media massa konvensional seperti surat kabar umum, majalah umum, radio siaran, dan televisi siaran, berbeda dengan media massa kontemporer. Media konvensional memerlukan sebuah studio yang lengkap dengan pemancar yang menjulang tinggi. Sedangkan media kontemporer tidak memerlukan frekuensi siaran karena sistemnya mirip telepon seluler (Ibid:136).

Perkembangan media online pun tidak kalah pesat dan dinamis. Setelah melahirkan media sosial atau media jejaring dalam bentuk website, blog, facebook, dan twitter. Anehnya media online ini tidak disebut sebagai media massa online, tetapi media sosial online. Hal itu dikarenakan pengaruh dari media ini memiliki kekutan sosial yang dapat membentuk dan mengubah opini publik dalam masyarakat sehingga media sosial ini perlu menjadi perhatian bagi mereka yang bergelut di dunia PR.

Salah satu kegiatan PR dalam menjalin hubungan media, biasa dinamakan Media Relations. MedRel diartikan sebagai suatu usaha untuk mencapai pemuatan atau penyiaran yang maksimal atas suatu pesan atau informasi (dari PR) dalam membentuk pengetahuan dan pemahaman khalayak organisasi atau perusahaan yang bersangkutan (Jefkins, 2008:124).

Tujuan dari MedRel menciptakan pengetahuan dan pemahaman, bukan semata-mata untuk menyebarkan suatu pesan sesuai dengan keinginan perusahaan induk atau klien demi mendapatkan “suatu citra atau sosok yang lebih indah daripada aslinya di mata umum”.  

Ada hal yang menarik, tidak hanya mengenal definisi dan tujuan utama seorang PR melakukan MedRel. melainkan PRO juga harus mengetahui bahwa produksi sebuah media memegang teguh dengan prinsip kelima fungsi antara lain :

1. Fungsi Pengawasan

2. Fungsi Penafsiran

3. Fungsi Pertalian

4. Fungsi penyebaran nilai-nilai

5. Hiburan.

Kelima fungsi tersebut haruslah bertumpu pada tanggung jawab sosial yang menjadi teori pers menurut Siebert, Peterson, & Schramm. Artinya, pers melalui media massa sangat berpengaruh pada pergolakan di kehidupan sosial yang harus bebas dari nilai-nilai dan kepentingan sepihak. Untuk itu, PRO dituntut memegang kejujuran dan kenetralan. Baik burunya PRO diukur berdasarkan kejujuran dan sikat netralnya Kepentingan masyarakat, dalam hal ini pembaca, pendengar atau pemirsa harus senantiasa diutamakan. Jika hal ini diperhatikan sungguh-sungguh maka dengan sendirinya, publik akan peduli yang ditunjukan dengan hasil publisitas yang baik.

Hal-hal lain yang harus diperhatikan dalam hubungan media, adalah melihat cara kerja media massa dalam mengolah produksinya. Media massa juga merupakan sistem manajemen kerja yang terstruktur. Adapun alur kerja media sebagai berikut Alur Kerja Pers

Setelah mengetahui bagaimana alur kerja Pers, PRO harus membuat alur kerja pada kegiatan MedRel sendiri. ALUR MEDIA RELATIONS  yang tertera dilakukan pertama adalah bagaimana menyusun sasaran media yang diinginkan. Setelah melakukan analisis mendalam, barulah MedRel ini dijalankan. Setelah hubungan dilakukan, PRO juga harus sudah menyiapkan segala kebutuhan pers dalam pengembangan isi pada produk media massa. Hal ini tidak mudah, karena perlu berbasiskan riset, pemaparan secara internal dana eksternal.

Langkah selanjutnya adalah, membuat strategi kemasan yang ringkas, jelas, menarik, dan bernilai. Ringkas berarti tidak berbelit, mudah diakses. Jelas, berarti isi materi memiliki benang merah yang nyata apakah berbentuk berita, himbauan, informasi, peringatan, ataukah sarana edukasi. Menarik, indah dilihat, cukup eye catching. Sedangkan bernilai, memiliki artian isi materi memiliki nilai berita (News Value)  dalam menjawab 5W+1H.

Ada istilah yang mengatakan “Good News is a Bad News, But Bad News is a Good News” . Istilah tersebut tidak salah sepenuhnya. Karena, pada pasalnya apabila sebuah produk mengalami krisis, sedangkan pelanggan/penikmat produk tersebut berjumlah banyak, artinya menyangkut hajat hidup orang banyak, konsep tadi merupakan nilai berita yang bisa mencakup kesemua fungsi media massa.

Seorang PRO yang berkualitas adalah tahan banting dengan kondisi baik ataukah buruk pada perusahaan mereka. Oleh sebab itu, penting untuk PRO dalam mengawasi hasil produksi dari media massa (Monitoring/reporting). Dengan kata lain, kecepatan penyebaran berita menuntut seorang PRO mengawasi media dengan cepat pula.

Lalu bagaimana dengan alur kerja Social Media ?. Penting bagi kami para profesi PRO untuk membuat strategi social media dalam publikasi. Berikut alur sederhananya :

Social Media Flow Chart

Demikian, Media Relations edisi Alur Kerja yang sudah saya tulis, semoga dapat bermanfaat untuk perkembangan profesi PRO di Indonesia.

Adioss..

Ucapan Selamat Natal, Bagi ku

 

Harus saya tulis mengenai apa yang sudah saya lalui dua hari yang lalu. Ketika itu, sehari sebelum Hari Raya Natal bagi kaum Nasrani, 24 Agustus saya sudah ada di kantor tepat pukul 7.30. Menyeduh susu cokelat hangat dan segenggam roti tawar yang satu persatu saya celupkan ke dalam genangan kental dan manis di depan mata.

Belum ada siapa-siapa di pantry itu. Sambil membaca beberapa lembar kerja dan majalah, saya berusaha menangkis pemikiran yang beberapa hari lalu mengiang dengan liar. Rasa takut yang membara akan sesuatu yang bersifat prinsipil menjelma menjadi wujud nyata setelah pesan singkat sosial media saya bunyi dari bos saya. Pesan singkat yang membuat lemas dan berpusara di udara sanubari. Rasa susu cokelat berubah menjadi pahit, dan roti tidak lagi renyah disantap.

Pukul 08.00 seisi kantor sudah mula dipenuhi oleh seluruh karyawan office. Saya pun segera menyelesaikan pekerjaan saya. Tidak lama, seorang atasan saya datang dan mengunjungi ruangan saya sambil tersenyum dan berkata,

“Pagi !. Kantri, kamu jangan lupa ya bikin greetings card selamat natal dan tahun baru dong untuk semua customer kita”.

Tangan saya yang semula sibuk dengan menyelesaikan worksheet satu persatu, tiba-tiba terdiam. Ini benar nyata rasa takut itu hadir kala itu. Gejolak hati muncul sambil berkata, “Sudah lakukan saja”. Namun di sisi lain, hati saya berkata tolak.

Dengan berani saya pun berkata, ” Maaf pak, greetings card yang sudah saya buat untuk happy holiday 2015. Bukan untuk Natal”.

Mendengar jawaban saya, atasan saya langsung menimpali kalimat dengan, “Yasudah tambahkan saja dengan selamat natal dan tahun baru. Happy holiday”.

Entah mengapa, darah saya mengalir terasa deras di dalam tubuh. Dan dengan memaksakan keberanian serta tubuh yang bergetar hebat, saya pun mengatakan, “Sebelumnya mohon maaf pak, saya tidak bisa membuat kartu ucapan selamat natal, karena kepercayaan saya melarang untuk mengucapkan itu”.

Atasan saya terdiam, sambil berkata, “Tapi kamu kan tugasnya mengatur semua branding image perusahaan di mata customer. Bahkan segala konten website dan social media kamu yang buat. Kalau kamu tidak bersedia gimana jadinya?”.

Keberanian saya kian memuncak, dan mulut begitu mudah untuk memberikan solusi tanpa saya berpikir panjang.

“Endorse saja pak untuk desain kartu ucapan. Biar jasa endorse diganti dari gaji saya, dengan segala ketentuan”.

Jadilah solusi pemotongan gaji itu dilakukan. Bagi saya pun tidak begitu keberatan menerimanya. Toh saya yang menyarankan. Wahai sodara, polemik itu kian masih membara di Indonesia. Saya tidak menyalahkan siapa di belakang layarnya. Namun, tetap bagi saya, Bagi mu agama mu, dan bagi ku agama ku. Saya tetap menghormati mereka yang tidak satu kepercayaan dengan saya. Namun, saya tidak bisa melukai Maha Tuhan saya yang bagi saya adalah yang paling benar. Begitu juga dengan hari besar saya, saya pun tidak merasa terisnggung jika tidak menerima ucapan selamat dari mereka yang berbeda keyakinan.

Cukuplah kami melindungi mereka yang ingin beribadah di negeri ini. Sekali lagi tidak mengucapkan bukan berarti tidak menghormati. Namun jauh dari itu, kehormatan dari mereka kaum berbeda adalah melindungi. Ini sama halnya dengan ajaran kami yang telah diajarkan oleh para pemimpin sebelum kami.

Jika banyak dari kami yang masih mengucapkan selamat kepadamu, tolong jangan salahkan saya ataukah mereka. Ini semua adalah bagaian proses pembelajaran keyakinan kami yang hanya kami serahkan semuanya kepada Tuhan Allah. Cukup Allah menilai itu semua. Karena nanti, di akhir kami akan berpisah dan akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang sudah kami kerjakan masing-masing di dunia.

Bukankah doa lebih tinggi derajatnya sebagai kehormatan, dari hanya sekedar ucapan. Semoga kalian memahami ini..

 

 

By alwayskantry009 Posted in my soul

Celoteh Sang Utusan

 

Apa jadinya, bila diri seseorang sudah merasa paling hebat ?. Jika jadinya akan berkuasa, sudah pasti. Kekuasaan adalah hasil capaian di saat seseorang sudah merasa paling benar. Mungkin bagi sebagian pihak, kekuasaan adalah tirani. Namun, bagi ku tidak. Kekuasaan adalah pucuk atas usaha yang sudah dilalui setelah melihat permukaan bawah yang sudah diamati jauh-jauh hari. Artinya. dengan kata lain perjalanan penuh makna yang panjang.

Dulu, konsep kekuasaan adalah Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Sudut pandang lain jug mengatakan bahwa kekuasaan adalah kekal. Masih ingat di pikiran kita, bahwa kekuasaan seolah harus dimusnahkan di muka bumi ini, dengan cara pemberontakan membabi buta. Tragedi 98 memberikan pengalaman luar biasa untuk itu. Puncak dari segala pergolakan menentang tirani yang sudah dirintis sebelumnya itu, menjadi tonggal runtuhnya Sang Penguasa kala itu.

Harus diakui, pasca 98 otak orang Indonesia mulai terdoktrin dengan istilah kebebasan. Mulai dari bebas berpikir, bebas ber-Tuhan, bebas memilih, hingga bebas me-akhiri hidup. Bercokol ragam budaya dari belahan bumi yang lain menjadikan orang Indonesia berdikari dengan alasan bebas. Apakah manusia benar-benar membutuhkan kebebasan untuk menjalankan perannya di bumi?.

Pertanyaan inilah yang kemudian menjadikan tulisan ini dibuat. Hanya ingin menuangkan apa itu keresahan hati sebagai manusia di tengah-tengah gambaran mereka yang bebas dan merasa bahwa bebas itu akan membawa kebaikan untuk jiwa manusia sendiri.

Pemikiran ini, membawa sugesti khusus pada diri ku untuk merumuskan apa itu kebutuhan manusia. Harus ku syukuri, perjalanan ini cukup panjang, walau dengan keletihan hingga ke sendi, sepanjang hari tubuh ini tetap produktif. Tiga bulan harus pulang pergi Depok-Tangerang-Depok adalah perjalanan yang menyenangkan. Di mana setiap subuh harus segera bergegas mengejar kereta, hingga akhirnya akulah yang paling pagi tiba di kantor. Dan selalu pulang paling malam di antara yang lain. Bukan ingin sombong. Bukan!. Tapi hanya ingin merunut rasa syukur untuk hidup ku.

Jauh-jauh hari sudah kuredam omongan orang lain atas penilaian hidup ku. Karena ku tahu, hidup ku adalah tujuan. Tidak berlibur layaknya orang lain, bukan berarti aku tidak bahagia. Sekali lagi bukan!.

Harusku sampaikan kepada dunia, bahwa hidupku bahagia dalam bentuk apa pun. Ketika kepala mulai pusing berfikir untuk setumpuk program kerja dan target perusahaan, ketika punggung pegal karena harus berjam-jam duduk di depan laptop, atau ketika kaki ronta karena berdiri menempuh jarak yang tidak dekat, Aku memiliki hiburan yang tidak mereka miliki, tentunya. Semua pengamatan yang kutemui adalah hiburan ku.

Bisa melihat segerombol buruh pabrik yang meraut juang menerjang waktu, atau buruh berdasi yang hanya bisa termangu, itulah hiburan ku selama ini. Satu hal yang masih aku ingat, ketika libur panjang tidak diterapkan oleh perusahaanku, entahlah hatiku berdesir damai, dan mengganggap kewajaran. Apabila kami semua libur, tentu apa jadinya nasip bangsa ini. Bagaimana orang Indonesia bisa memenuhi kebutuhan sikat gigi, memenuhi pangan mereka. Bahkan tidak hanya bagi orang Indonesia, ini berlaku untuk semua orang di belahan bumi lain yang menjadi pasar eksport perusahaan kami.

Mungkin bagi sebagian orang, ini kejam. Tapi bayangkan, jika semua merasa bahwa ini adalah kekejaman yang harus ditindas. Mungkin negara ini akan kolaps. Maksimalkan apa yang kita punya, itu prinsip ku, dan berilah apa yang terbaik dari ku, itu tujuanku, dan lihatlah senyum dari mereka, itu harapanku.

Menjamin kualitas waktu dan sumber daya juga merupakan hal yang lazim dilakukan oleh mereka yang berkuasa. Mereka yang berkuasa akan memiliki visi besar yang hampir sama. Kuantiti tidak selalu menjamin kualitas, tapi efesiensi dan efektif adalah kunci kualitas. Dan, tidak urung memang mereka yang merasa tak miliki kuasa akan merasa ditindas oleh tirani. Lalu pertanyaan kedua muncul, mungkinkah ini hal biasa terjadi, dan sudah pasti terjadi?

Ibu ku juga seorang pemimpin, pernah berkata kita tidak bisa mengabulkan semua keinginan setiap orang. Sebagai seorang pemimpin, hal yang harus dilihat adalah arah dan tujuan kita berlabuh. Seorang pemimpin posisinya selalu tinggi, sebab dari tempat yang tinggi itulah, ia akan melihat lebih jauh dibanding pengikutnya. Tidak hanya melihat jauh atas tujuan ke mana armada ini akan berlabuh, tetapi juga dapat melihat pengikut di bawahnya. Artinya, pemimpin yang benar sudah pasti tidak akan diktator dan mendzhalimi pengikutnya. Karena dia serba tahu setiap kondisi pengikutnya, itulah sebabnya strategi dibutuhkan bagaimana mekolaborasikan kondisi sumber daya dengan tujuan bersama.

Aku percaya setiap orang dilahirkan menjadi seorang pemimpin. Tentu masing-masing memiliki ego tersendiri. Dan hirarki tetap menunjukkan tempat tertinggi adalah seorang pemimpin, hidup matinya sistem ditentukan oleh pemimpin. Bagus buruknya pengikut ditentukan oleh pemimpin. Sebab, pemimpin juga harus memberdayakan. Sulit memang menjadi pemimpin. Karena, amanah besar tentu resiko pun besar. Tidak hanya resiko dunia, tetapi resiko akhirat. Satu simpulannya, ketika amanah besar kau dapatkan, janganlah menimbang pahala yang akan didapat, tetapi godaan dosa yang tidak akan lelah menghampiri. Salah-salah jurang neraka di depan mata. Naudzubillah..

Pertimbangan itulah yang akhirnya meyakinkan saya bahwa diksi “Jika” “apabila” “bilamana” adalah sakti. Karena nanti, akan ketemu diksi “tentu” “sepertinya” dan “akan”. Hal ini serupa dengan, “Jika saya menjadi seorang CEO perusahaan, tentu saya akan melakukan hal yang sama dalam membentuk peraturan kerja yang tidak membolehkan karyawan membuka facebook di jam kerja”, misalnya.

Pemimpin bukanlah Allah, tapi pemimpin yang benar, adalah Allah yang bersama dia. Kedekatan spiritual seorang pemimpin akan kental dan taat. Apabila pemimpin senantiasa menjaga spiritualnya, sudah diyakinkah segala kebijakannya adalah restu Allah. Lalu, apabila pemimpin tidak memiliki spiritual yang benar, bagaimana sikap sebagai pengikutnya?.

Banyak pilihan yang dibisa dijalankan. Pertama, mengingatkan pemimpin. Apabila tidak ada perubahan setelah diingatkan, maka kedua mogoklah. Setelah mogok tidak berhasil, maka keluarlah menjadi pengikutnya. Konsep ini berlaku untuk semua kondisi. Pada dasarnya individu akan berjuang atas apa yang diyakini dalam hidupnya. Nilai-nilai kehidupan yang kuat tentu akan bergejolak jika diasingkan. Sedangkan nilai-nilai kehidupan yang lemah dia akan residu.

Untuk itu, dalam sebuah sistem perlu ada konsiliasi, koordinasi, evaluasi, dan rekonsiliasi. Empat tahap itulah harus dijalankan untuk merunut kembali kesepakatan kolektif tujuan organisasi. Seorang Steve Jobs mengatakan, jika dalam perannya belum menemukan gairah kerja, maka teruslah mencari. Percuma bertahan dengan kekopongan jiwa, itu sama halnya dengan hidup koma.

Berdasarkan dari apa yang sudah ku paparkan, akhirnya bisa ku temukan kebutuhan yang paling hakiki dalam hidup. Hidup bukan kebebasan. Tetapi peran yang harus dijalankan. Mungkin bebas pada awalnya, dan tidak untuk akhirnya. Karena hidup adalah proses berjuang. Hidup bukan partikel yang melaju bebas tanpa bersenyawa pada akhirnya. Pun jika fase itu bermula di sana, percayalah itu bukan tujuan sebenarnya.

Kebebasan bukanlah kebahagiaa. Tetapi bahagia adalah pandai memosisikan kita dalam kondisi apa pun. Sekalipun diri kita harus menjalankan peraturan, dan seketika dianggap tidak bahagia, sekali lagi itu tidak tepat. Mengapa?. Karena, dalam sebuah peraturan ada sebuah kesepakatan dan komitmen. Diri ku bukanlah paling hebat, hanya seorang yang ingin menunjukkan komitmen yang sudah dipikirkan jauh-jauh hari.

Sama halnya dengan pertanyaan, mengapa manusia dilahirkan?. Manusia tidak mungkin ada, jika bukan karena adanya perjanjian. Apa yang dijanjikan, itu semua akan tetuang dari petunjuk yang didapatkan di setiap episode kehidupan. Dimulai dari keseharian, itulah petunjuk perjanjiannmu.

Satu hal, jadilah manusia yang tidak merasa paling hebat, sehebat apa pun manusia dia tetap akan mati. Sekalipun kelebihan kian membanjiri, bukan lah itu kebahagiaan yang diperlukan. Ataupun keterbatasan merupakan kesedihan. Jadilah manusia yang pandai memposisikan dirinya dalam kondisi apa pun. Jadilah sahabat bagi dirimu sendiri.

Bersyukur adalah kondisi yang nikmat dan merupakan kebahagiaan paling indah. Serahkan kepada Allah yang Maha Mencukupkan. Semoga diri ini tetap mewarnai hidup, minimal untuk sendiri.

“Life always gives you what you need. Unless more than a thousand words that you want, it never give you for one on that you need”

 

By alwayskantry009 Posted in my soul

Selamat Hari Ibu, Mamah..

100_4357

Selamat hari Ibu, Mamah..

Terimakasih untuk setiap doa yang selalu terucap di sela ibadah mu. Terimakasih untuk kebaikan yang selalu engkau beri untuk diri ini. Terimakasih untuk setiap amarah yang kau tunjukkan dikala diri ini salah dan lalai. Terimakasih untuk semua perhatian tiada tara untuk diri ini yang selalu membutuhkan belaian kasih sayang. Terimakasih untuk kelapangan hati mu dikala diri ini khilaf. Terimakasih untuk waktu mu mendengarkan setiap setiap cerita tentang diri ini. Terimakasih untuk pembelaan mu untuk kelemahan diri ini. Terimakasih untuk gizi yang sudah engkau beri semasa kecil hingga sekarang. Terimakasih atas waktu subuh mu untuk membuatkan susu dan bekal siang untuk diri ini. Terimakasih untuk setiap kado disaat waktu hari jadi diri ini.

Mamah, jiwa mu bersama diri ini hingga sekarang. Wajah mu serupa dengan diri ini. Walau sifat kita berbeda, namu dapat melebur menjadi komposisi belahan jiwa yang tak tergantikan.

Mamah, setiap hari adalah hari mu. Karena setiap hari, diri ini bertekad untuk membahagiakan diri mu dan mengangkat derajat mu. Meski tak sebanding dengan apa yang engkau berikan untuk saya. Tapi Mamah engkau tahu apa yang ada di hati ini terhadap mu. Sayang ini sulit terucap dan hanya bisa saya tunjukkan dan membuktikan dengan perbuatan. Biarlah rasa sayang ini mencapai langit ke tujuh dan menggema bahwa sayang dan cinta saya begitu besar untuk mu, mamah..

Mamah, jangan pernah risau dengan masa tua mu. Karena anak mu akan selalu menjaga mu dan tidak akan pernah menelantarakan mu sampai kapan pun. Diri ini akan senantiasa berjanji akan membuat masa tua mu bahagia dan tenang. Dan tidak ada satu pun kurang dari mu.

Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan untuk mu. Karena amanah mu begitu besar, tidak hanya untuk keluarga mu, melainkan juga untuk anak bangsa. Kepemimpinan mu begitu meinsipirasikan diri ini untuk mengikuti jejak mu. Semoga Allah memberkahi peran mu saat ini.

Sekali lagi, selamat hari ibu, Mah..

I love you..

By alwayskantry009 Posted in my soul

“GAJAH” TULUS, KANTRI “GAJAH”

 

Harus saya akui, TULUS begitu renyah untuk dinikmati. Salah satu karyanya yang berjudul “Gajah” memberikan saya nilai luar biasa dalam mengingat masa kecil. Intinya, lagu ini mengingatkan akan masa kecil yang sama persisi dengan lirik lagu ini. Dulu, tubuh saya cukup besar. Ketika Sekolah dasar saya sempat naik motor berangkat ke sekolah dengan posisi duduk di paling depan. Karena tubuh yang besar, saya diketawakan sekelas karena menurut mereka saya seperti gajah mungkur.

Dulu sempat marah dan nangis, sayapun mengadu kepada kedua orang tua saya alhasil saya berontak tak mau naik motor lagi. Sedangkan kendaraan kami saat itu hanya ada motor. Ibu saya hanya bisa meredam emosi saya, sambil bilang, “Jangan sakit hati dengan perkataan orang lain. Biar gendut tapi sehat, cerdas, pintar, dan berpretasi. Tunjukkan itu ke temen-temen”. 

Walaupun dinasehati seperti itu tetap saja, hati rasanya sakit teriris. Bahkan Kakak dan adik saya pun sampai sekarang masih meledek dengan panggilan gajah.

Tapi, tidak berhenti di sana, Ibu ku masih meredam amarah dengan berucap, “Tubuh kita besar, hati kita juga besar”.

Sekarang tubuh saya sudah menyusut. Kurus dengan sendirinya. Bahkan, dahulu berpikir keras untuk diet. Tapi benar, diet itu musuh untuk kenikmatan dunia, karena yang benar adalah makanlah yang sehat, lakukan kegiatan sehat, dan berpikir sehat.

Lagu Tulus tuh saya banget lah. Oh..kenapa sama persisi dengan cerita saya. Jika mencerna setiap lirik “Gajah” ini tuh ternyata memiliki makna yang hampir sama dengan nasehat yang Ibu saya berikan kepada saya. Thanks Mom, you are my guardian angel.. 

“Kecil kita tak tahu apa-apa,

wajar bila terlalu cepat marah

kecil kita tak tahu apa-apa,

yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik..”

(TULUS)

Ketika Ikhlas dengan Ibu

Wahai hati,

Taukah engkau bahwa harus ku akui aku sudah melepas perasaan ku selama ini.

Perasaan yang membuat ku selalu sakit berkali lipat, atau hanya teriris tajam oleh belatinya.

Aku tidak menyalahkan siapa pun untuk ini.

Bukankah menyalahkan adalah remehan pahala mu?

Sayang bukan?!.

Aku tahu hidup ini adalah sementara.

Usah ku pikir apa yang bukan untuk ku nantinya.

Itu prinsip ku.

Aku ingin hidup ku ringan, walau ringkihku akan menjerit keras.

Di saat semua hampa dan putus, Aku tahu ada dia yang selalu ada dan melihat ku.

Hatinya tidak akan putus pada ku.

Walau ringkih ini meredam dalam.

Sonar ku menggetarkan intuisinya. Luar biasa bukan?

Ibu, tahukah engkau kini ku sangat percaya kepada mu.

Suka duka, gelak tawa, dan ritihan air mata sudah ku lalui bersama mu selama 25 tahun.

Kau sangat tahu mulus busuknya diri ini.

Mudah bagi mu, membaca angan, walau diam.

Mudah bagi mu, meraba watak, walau gelap.

Ibu.. sulit bagiku mencari dia yang akan menyayangi ku dan menyayangi dirimu.

Aku tak tahu mengapa begitu sulit melampaui ini.

Hasrat ku terlalu tinggi, bukan Tenang ku.

Jadilah Tenang bagi ku, Ibu.

Aku siap memulai hati yang baru untuk petunjuk mu.

Karena kebaikan bagi mu adalah kebaikan untuk ku.

Bahagian mu adalah bahagia untuk ku.

Aku ikhlas meredam cita ku, jika ini baik untuk mu.

Sungguh aku sudah ikhlas.

Aku punya Allah yang senantiasa membimbingku nanti.

Kini, harus ku siapkan mentalku menjelang masa depan baru ku.

Dengan siapa yang hanya aku ikhlaskan dengan keputusan-Nya.

Doakan..

By alwayskantry009 Posted in my soul

Penjahat itu Bernama Saya

 

Lama sudah saya menanti kebersamaan dengan ketiga teman semasa sekolah menengah atas. Tiga tahun kami bersama tertawa, menangis, berjalan, berlari, menuntut ilmu, dan merangkul satu sama lain, sehingga kami saling merasakan rasa perih dan pedih dari setiap prahara dalam hidup di rumah.

Hingga sore itu, hanya ada kami bertiga, bukan berempat seperti biasa. Satu di antara kami masih harus berjuang di Jogja untuk menyelesaikan studi strata satu. Di tempat bilangan Kota Depok, kami bertemu selepas menghadiri pernikahan salah satu sahabat yang jaraknya tidak jauh dari tempat kami berkumpul setelahnya.

Pertemuan kami siang itu, cukup durja. Harus saya akui, masa-masa seperti inilah yang menjadi ciri khas kami berempat. Ciri khas yang membuat kami kangen satu sama lain. Pertemuan yang selalu berisi percakapan suatu masalah yang sedang kami alami. Tidak urung waktu habis berjam-jam hanya untuk memecahkan masalah, mendengarkan dengan seksama segala curahan hati, atau tidak juga lantas percakapan hanya monoton itu-itu saja, terkadang lelucon ala MWAK pun pecah di tengah keseriusan obrolan.

Sebelum saya bercerita panjang lebar, harus saya ceritakan apa yang dimaksud dengan MWAK. Layaknya satu geng pertemanan biasanya tidak afdhol jika tidak memberikan nama sebagai identitas. Berpikir panjang, mutar kepala ke sana ke mari, akhirnya spontanitas kami labelkan dengan singkatan dari nama kami berempat, Maryanti, Wiwid, Arint, dan Saya (Kantri).

Terbentuknya keempat itu, berawal dari organisasi rohani islam di SMA kami, yang dimulai dengan mentoring mingguan. Kebetulan saya dan Wiwid adalah teman lama semasa kami di SMP. Sedangkan Maryanti dan Arint adalah teman semasa SMP. Yeah, tidak ada yang mustahil dan tidak ada yang serba kebetulan dalam perjalanan diri manusia. Kami pun percaya pertemuan dan pertemanan kami adalah takdir terbaik yang Allah hadiahkan untuk kami berempat.

Masih ingat dalam kenangan, kami sering bermalam bersama di salah satu rumah kami secara bergiliran. Banyak kegiatan yang kami lakukan, mulai dari bercand, tilawah berjamaah, qiyamulail bersama, curhat bersama, dan belajar bersama. Kebersamaan itu luar biasa tak akan pernah terlupakan dalam hidup.

Kebersamaan kami memang tidak selalu mulus. Layaknya sebuah hubungan manusia, hubungan kami pernah dilanda permusuhan dan perkelahian satu sama lain karena kesalah pahaman dan kecemburuan. Lucu memang, harus saya akui cemburu tidak melulu menyoal hubungan antara dua lawan jenis. Tetapi juga seperti pertemanan di MWAK. Tapi, alhamdulilah konflik memang membuat kami dewasa. Dan itu yang membuat kami menjadi makin dekat satu sama lain, dan akhirnya pun tahu bagaimana watak masing-masing. Ibarat kata, saya diam ketiga teman saya sudah bisa menebak perasaan saya saat itu.

Hubungan itu yang membuat kami kian dekat selepas lulus SMA. Di mana masing-masing tepisah, seperti saya dan Wiwid yang harus ke luar kota, sedangkan Maryanti dan Arint tetap di Jakarta. Bendera kampus yang berbeda satu sama lain, membuat kami tidak putus silaturahmi. Bahkan, di beberapa hari kami mulai perkuliahan, kelompok holaqoh kami tetap berjalan. Ini luar biasa bandelnya. :))

Atas dasar petimbangan ini itu, mau tidak mau kami pun harus mengikuti kaderisasi kampus masing-masing. Harus ku syukuri, pecah kelompok liqo tidak lantas membuat kami cerai begitu saja. Masih banyak fasilitas komunikasi yang membuat kami selalu rindu satu sama lain. Mulai dari hal perubahan kecil, sedikit demi sedikit begitu terlihat di penampilan kami. Jika dulu masih menggunakan celana jeans untuk berpergian, kami sudah tidak menggunakan celana seperti itu. Jilbab kian lebar menutupi dada dan bagian tubuh lainnya menunjukkan kami bangga akan pesan terbaik dari murobbi kami yang mengatakan, “terimalah perubahan jika nanti jilbab mu akan terurai panjang menutupi dada dan lekuk tubuhmu. Terimalah lurusnya kaki mu tanpa garis batas antara keduanya, dan yang paling penting berubah menjadi pribadi yang makin sholeha mempertahankan amalan yaumi. Berkontribusilah untuk ummat. Hingga nanti pertemuan selanjutnya kita bisa saling rangkul dengan air mata haru bahwa persaudaraan adalah takdir terindah untuk kita”.

Pesan itu benar akhirnya.

Sekarang, di saat sudah tujuh tahun kami berpisah, dan bertemu lagi di kota yang sama, rasa syukur itu akan ada di hati paling dalam. Ukhuwah kian dekat setelah apa yang kami lalui akan terus menjadi agenda pembahasan dalam gurp komunikasi. Baik salah satu di antara kami  ada yang sedang menjalani proses ta’aruf, masalah kerjaan, pendidikan, dan masalah keluarga akan menjadi agenda kami berempat. Keluarga kami boleh berbeda, tapi hati kami adalah satu. Bagi saya, keluarga mereka adalah keluarga saya juga, pun begitu sebaliknya.

Seperti saat ini, satu sahabat kami sedang memiliki masalah kami pun ikut memecahkan masalahnya. Sepulang menghadiri pernikahan Intan (teman baik kami) saya, arint, dan maryanti dikejutkan dengan curahan hati dari Ibunda sahabat kami, Wiwid. Wiwid ternyata sudah setahun lebih tidak menghubungi sang ibunda, walaupun hanya menelepon. Jujur melihar wajah ibunda Wiwid, ada rasa pedih membayangkan bahwa ada sesuatu yang sedang dialami Wiwid. Bahakan komunikasi saya dengannya menjadi terputus karena Ia tahu, bahwa saya sudah tahu semua cerita keluh kesah sang Ibunda Wiwid kepada kami bertiga. Walau sebelumnya, sempat saya berkomunikasi WA dengan Wiwid  dengan begitu hangat. Dan tiba-tiba saja Wiwid dingin tidak membalas pesan di WA untuknya. Padahal saya tahu, Ia pasti sudah membaca pesan saya itu.

Karena keluarga Wiwid satu persatu menghubungi saya melalui social media untuk meminta pertolongan untuk mencari dirinya, saya pun tergerak untuk mencari kondisi Wiwid dalam hal akademik dan personalnya. Saya tahu Ibunda dan Ayahnya sudah merindukan Wiwid untuk pulang dan tak sabar untuk melihat anak keduanya untuk mendapatkan gelar sarjana. Bagi mereka, Wiwid adalah kehormatan yang luar biasa. Bisa lulus tercatat sebagai mahasiswa UGM saja, kedua orang tuanya sudah begitu bangga apalagi jika Wiwid lulus dengan hasil baik dan bisa mengangkat martabat orang tua saya yakin hanya itu keinginan ornag tua di mana pun berada. Saya pun demikian. Orang tua Wiwid mengingatkan saya dengan kedua orang tua saya yang ketika itu memiliki asa yang sama dalam akademik saya.

Ternyata tidak hanya saya, Arint dana Maryanti pun memiliki benang merah yang sama. Intinya, setiap orang punya masalah. Namun berbeda pangkal permasalahannya. Bukankah, Allah tidak akan memberikan ujian kepada hambanya yang tidak mampu menghadapinya?.

Oh makasih Allah, air mata itu membuat saya sadar bahwa Allah Maha Adil. Ada rasa syukur mendalam bahwa Ia masih memberikan kemudahan akhirnya, walau harus dilalui dengan air mata yang sulit mengering. Kami bertiga sudah melewati fase itu, dan sekarang mungkin tantangan itu sedang menguji sahabat kami.

Tak putus asa, bagi saya untuk mencari Wiwid. Entahlah harus mengucap syukur ataukah apa. Semasa organisasi di Unpad, saya cukup banyak memiliki teman lintas kampus se-Indonesia. Hubungan itu yang membuat saya mencari jalan pintas untuk mencari kondisi Wiwid melalui social media. Namun amat sayang sekalin, upaya yang sudah saya jalani mungkin ada kesalahan yang tidak diterima oleh Wiwid. Saya sudah meminta bantuan akun bem UGM untuk mencari keberadaan Wiwid ke seluruh fakultas. Alhasil, beritanya cukup heboh. Dan Wiwid marah kepada saya.

Saya sadar saya salah. Saya pun tak urung meminta maaf berkali kali setiap hari pada pesan singkat WA. Bahkan, saya pun mengirimkan lagu untuk Wiwid sebagai ucapan maaf. Cukup lama Wiwid tidak merespon pesan WA saya. Mungkin Wiwid jengah juga dengan saya yang terus menerus mengirimkan kata maaf, ia pun membalas dengan emosi. Dan sedikit membocorkan apa yang sedang terjadi pada dirinya dan keluarganya selama ini. Saya pun membatasi diri saya untuk masuk terlalu jauh, akhirnya saya hanya mencoba menunjukkan bahwa saya siap menjadi tong sampah untuk Wiwid. Anytime, ia bisa bercerita dan menghubungi saya sesuka hatinya. Setelah itu, ia pun tak membalas WA saya di hari berikutnya. Well, ternyata pesan singkat pun juga diberikan oleh Maryanti dan Arint. Dan hasilnya pun sama.

Rencana kami bertiga pun sempat mencuat untuk menemui Wiwid ke Jogja. Tapi sangat disayangkan, saya tidak bisa karena waktu kerja yang sulit libur dan mengambil izin. Lalu apa yang harus kami lakukan untuk menolongnya?

Wahai Wiwid, saya memang penjahat yang sudah membuat porak porandakan dunia mu hingga sulit kau menyepi di area milikmu sendiri. Tapi Wid, harus berapa kali saya sampaikan, bahwa kami sayang Wiwid. Ingat ikrar kita Wid, jika kita sering mendoakan kebaikan untuk orang lain, maka kebaikan itu akan kembali menghampiri si pemohon tadi. Itu artinya, kebaikan mu adalah kebaikan saya juga. Keresahan mu adalah keresahan kami juga. Kesedihan mu adalah kesedihan kami juga. Maafkan saya yang sudah terlampai jauh menerobos pertahanan mu. Ingin sekali saya datang dam memeluknya dan mendengar segala pedih di benak mu. Dan sayangnya hanya ini, kebodohan ini yang saya lakukan. Maaf ya Wid. Beribu kali kata maaf akan terus menggema di bibir dan hati terdalam saya. Semoga Wiwid dimudahkan segala urusan dalam skripsi, dan Allah terus membanjiri rejeki hingga kau akan lapang.

Di sini, kami akan terus berharap ada kecerahan di balik durjanya langit mu. Bukankah persaudaraan jauh lebih berharga dari pada persahabatan. Coba terangkan bagaimana saya bisa menunjukkan bahwa kami di sini juga ada untuk mu.

Semoga Allah menyampaikan ini Wid..

Aamiin..

Maafkan penjahat ini telah melukai mu..

Catatan MAGER

 

Jakarta oh Jakarta.. Mengapa makin padat kau rupanya !.

Melihat jalanan sore pukul 17:30 WIB di Gatot Subroto yang penuh dengan warna warna lampu kendaraan yang makin hari makin kinclong membuat gusar hati seolah mager se-mager-nya. Sueerr lah !. Barang siapa yang mengalami hal yang sama seperti saya, tentu kegusaran itu bukan lagi konsumsi pribadi, melainkan sudah menjadi publik segenap bangsa dan negara Indonesia yang ada di Jakarta bagian Selatan.

Harusnya sih memang sebagai orang waras yang keprimanusiaan Pukul 5 sore itu adalah waktu surga, dimana langkah kaki semakin cepat semakin baik kau sampai rumah. Mandi, ganti baju, makan, dan nonton televisi sudah menunggu untuk dilalui sesampai di rumah bukan?!.

Tapi tidak berlaku untuk saya. Entahlah, hati malas sekali untuk pulang. Enggan untuk bergegas melangkah menuju halte busway dan berjuang di padatnya kereta listrik jabodetabek. Tidak ada asa yang ingin saya capai setiba di rumah. Apa mungkin ini karena kakak saya yang terkena cacar, sehingga saya malas sekali tiba di rumah cepat-cepat?.

Namun rasanya tidak. Bukan itu alasannya. Atau bisa jadi salah satunya itu. Tapi setidaknya bukan hal utama yang menjadi kegusaran minat saya hari ini. Namun hanya saja ada satu hal yang berbisik, “Nanti dulu kau pulang, tunggulah sebentar lagi”.

Kira-kira seperti itu bisikannya. Dan saya pun menuruti terpaku berdiri dengan pandangan lurus sambil menggigit ujung pulpen pilot berwarna hitam.  

Yaa.. Tuhan, rasanya mengapa hari ini tidak enak mengalun perasaan dalam benak sendiri?

Saya harap ini bukan galau sore yang biasa dilakukan sekumpulan anak muda yang memikirkan gebetan di seberang sana. Oh tentu tidak bukan. Yeaaah.. semoga seperti itu.

Oh Tidak Tuhan, jangan biarkan saya galau seperti mereka. Saya bukan mereka para pengumbar perasaan, atau mereka yang senang bermain kode. Jelas saya bukan mereka, karena saya bukan lah Khalil Gibran atau Dewi Lestari yang mudah sekali menipu perasaan dengan kalimat baku. Atau lebih parah, saya bukanlah pecinta Pramuka layaknya anak-anak sekolah dasar yang mencintai permainan jerit malam yang menebar kode-kode morse.

Tapi mengapa hati ini sangat gusar. Perasaan yang terselimuti kecemasan luar biasa yang masalahnya saja saya tidak tahu seperti apa. Tolonglah hati, jangan bikin saya bimbang dan bertanya ada apa dengan mu sore ini?.

Ingin rasanya menebak, bahwa kau kini mungkin sedang lelah bersama manusia ini?.

Atau jangan-jangan kau sedang berontak dengan logika saya?.

Apa hati? apa??!

Perasaan itu nyaman seperti rumah bukan, perasaan yang membuat kita nyaman dan senang tanpa harus risau. Perasaan yang selalu ingin singgah dan berteduh di saat ada ancaman mendera. Oh Tidaaaaak !. Saya kehilangan rumah itu. Rumah kenyamanan yang rasanya kini hilang menembus likuk labirin besi. Rasanya diri ini hanya berkomunikasi dengan persona tanpa peduli keberadaan sekitar.

Sekilas logika tetap berargumentasi, bahwa kenyamanan itu dapat diatur sesuai keinginan kita. Dan kehilangan hanya klise sementara. Dan memang kesementaraan tadi terjadi hanya di sore ini . Waktu yang hanya ingin diresapai oleh seluruh komponen diri ini. Ah, mungkin aku kelelahan. Tapi aku sudah menimbun beribu-ribu lelah dalam benak. Lagi-lagi tidak mungkin.

Hal yang sangat sulit adalah saat melalui fase kesendirian waktu yang mengingat tentang diri kita sendiri. Aku, dan segala tentang ku.

Memutar otak dan ingata tentang kesenangan lampau yang mungkin merubah mood saya kali ini. Sayang, tidak ada satu pun senyum dan tawa yang saya ingat saat ini. Bukankah belum lama saya masih tersenyum dan tertawa ?. Mengapa ini rasanya sulit sekali mengulang itu.

Tiba-tiba saya menjadi ingat bbm dari sahabat saya dari Paris, yang isinya ingin sekali bertemu saya karena ingin sekali bercerita banyak hal kepada saya. Tanpa sadar, saya pun menjawab “Ya, gue juga. Banyak hal yang pengen gue share”. 

Rupanya, tanpa sadar saya menyimpan sekelumit cerita yang ingin dikeluarkan. Oh sabar hati..!!. Lusa kau akan bertemu sehabat hati mu. Saya jamin itu, kau akan lega untuk menumpahkan isi perasaan mu. Biarlah logika kali ini memilih untuk diam. Mungkin, kali ini hati benar-benar lelah dengan logika. Dan akhirnya saya pun menjadi bersalah karena tidak bisa membagi porsi seadil-adilnya.

Dengan reflek, saya mengusap dada saya, dan memang baru kali ini saya mengusap dada sambil membayangkan bahwa ada jiwa di dalam sini yang hidup. Dia yang halus dan selalu jujur merasakan.

“Wahai hati, maaf ya, saya mungkin salah kepadamu telah berbohong. Tapi sampai waktu yang ditentukan biarlah saya hidup dengan logika yang terus meruncing tanpa memikirkan orang lain di sini. Biarlah logika menggerakkan kaki dan asertif yang saya miliki untuk terus berkembang tanpa harus merasakan tajam, perih, sakit, atau lelahnya laju. Kau memang membutuhkan kenyamanan, saya tahu itu. Tapi tolong tunggu lusa. Mungkin sahabat mu bisa menjadi penawar mu kemudian. Doakan sahabat mu sampai Indonesia dengan selamat. Biar kau tak kembali risau”.

Maafkan kisah ini menggantung. Karena saya harus menutup komputer ini, dan menikmati senja di lantai 13.

Adioos..

By alwayskantry009 Posted in my soul

Dear Nona..

 

Harus ku tulis, Nona untuk ku di sini. Di hati penuh kelapangan, tanpa syarat apa pun untuk mu.

Serius !. Kau manis, kau penuh warna, dan kau kenyamanan tiada tara.

Aku menulis untuk memberikan apa yang harus kau tanam dalam benak mu agar kau tahu mereka yang mencoba menahan tanya dalam benaknya selama ini.

Mereka, sudah bertahun menahan itu, Nona. Tak urung harus memandang rembulan atau jejak pepasiran yang akan membekas jika diinjak. Walaupun nantinya akan hilang oleh ombak.

Tapi itulah mereka.

Ku harap kau tidak menyalahkan mereka. Mereka hanya bunga dengan kemerekahan kelopak yang bervariasi.

Menunggu Matahari untuk merangsang kemerekahan dengan sempurna. Dan menolak untuk tangan jahil yang memetiknya.

Kau tahu Nona, pada hakikatnya, mereka menunggu kehangatan. Karena hangat membentuk diri mereka menjadi sempurna. Itu filosofi mereka.

Filosofi yang membingungkan, seolah berputar pada pusara yang sama. Mereka indah dalam lemah.

Bahkan, di antara mereka, ada yang rapuh jika disentuh. Harus menunggu lama hingga Sang Surya muncul di ufuk timur. Barulah mereka kembali dengan identitasnya.

Mereka tidak bisa sendiri, Nona.

Kesendirian hanya bisa mereka serahkan oleh alam. Alam tahu mana yang terbaik untuk mereka. Jika Alam memutuskan mereka tidak sendiri maka jadilah kesendirian hanyalah kenangan.

Namun, pabila alam memutuskan tidak, maka kesendirian abadi baginya.

Begitulah Nona maksud ku menempatkan mu paling mulia di sini. Karena kau adalah beda. Kau menang di antara yang kalah. Kau tidak gusar seperti apa yang biasa mereka lakukan di depan umum. Di saat mereka resah kau hanya tenang dan hanya tahu bahwa dirimu akan selalu terdepan dalam kondisi apa pun.

Terbukti bukan?!.

Wahai Nona, ku harap kau bisa jaga kemenangan mu sampai kapan pun. Kemenanganmu hanya milik mu. Dan jangan biarkan mereka mencoba merebutnya dari mu. Kau berhak mempertahankannya kali ini.

Kemampuan dan kekuatan mu adalah senjata yang tidak dimiliki oleh siapa pun. Walau ku tahu siapa pun memiliki kemampuan dan kekuatan, tapi tidak untuk kemenanganmu. Siapa pun mampu dan kuat atas kemenangan mereka sendiri.

Jadi, sekali lagi kau berhak mempertahankan itu.

Semoga Nona paham maksud ku.

 

By alwayskantry009 Posted in Apa sih?

Allah Bersama Engkau, Temanku

 

 

Pagi ini di Indonesia bagian tengah, saya mendapatkan broadcast dari seorang sahabat di Bandung. Isinya memberitahukan bahwa kawan seperjuangan kami sedang menunggu detik-detik persalinan sang isterinya di daerah Subang, Jawa Barat. Kira-kira selang 6 jam, sebaran pesan singkat itu sampai juga di telepon saya. Isinya menyenangkan, bahwa sahabat kami sudah melahirkan seorang puteri mungil. Namun di akhir paragraf, sedih terkoyak bahwa teman saya di  Bandung mengatakan bahwa sahabat kami di Subang sedang membutuhkan dana untuk biaya persalinan sang isterinya. Jumlah nominal yang tertera di pesan singkat itu menunjukkan biaya persalinan operasi caesar.

Membaca kabar itu, saya segera lemas dan entahlah mengapa saya seperti merasakan bagaimana perasaanya. Sahabat saya ini adalah sahabat seperjuangan semasa di kampus. Kami bersama dalam ceria, susah, dan lelah. Sulit sekali untuk menghubunginya melalui saluran telepon. Ia jarang sekali mengangkat telepon atau membalas WA atau bahkan jarang bergabung di group WA. Saya tahu betul dirinya. Dalam susah, ia pasti hanya terdiam. Tidak mau berbagi kepada yang lain. Walau pada kenyataannya, kami (sahabatnya) akan selalu ada untuk membantu sebisa kami.

Wahai sahabat, tahukah kamu, sampai detik ini, saya masih berharap kamu mengangkat telepon saya atau menunggu kamu membalas pesan singkat saya. Tahukah kamu, saya benar-benar belajar dalam hidup mu yang luar biasa. Bagi saya, kamu adalah inspirasi saya untuk mandiri, rendah hati, dan humoris seperti mu.

Masih ingat dalam pikiran, bahwa kamu membuat saya tertawa lepas ketika kita bertiga bermutar Jakarta untuk mencari dana untuk kegiatan organisasi kita. Semoga kau masih ingat, sunggug harap, kau masih ingat itu.

Ketika itu, kau sama sekali tidak tahu Jakarta, dan kau meminta ku untuk menemui mu di salah satu Kantor Kementrian di daerah Jakarta Pusat. Dengan wajah selalu ceria, bersih, dan senyum lebar kau berkata, “Kant, lo punya uang gk?. boleh pinjem dulu, buat pulang ke Bandung”.

Saya tahu betul kamu, sahabat. Bahkan hari itu pun kau belum makan, dan tidak tahun mau tinggal di mana. Akhirnya, saya ajak untuk menginap di rumah saya untuk semalam. Dan wajah kalian, terutama wajah mu, merah padam, dan dengan spontan kau bilang, “Aduh..belum siap nih kalau ditanya macem-macem sama orang tuanya kantri”. Mendengar spontanitas mu, sukses membuat saya tertawa lepas.

Di sepanjang jalan pun, kita bertiga semakin dekat karena sepanjang jalan menuju rumah saya yang lumayan jauh itu, kita berbincang, masa lalu, masa cinta monyet, rahasia kita tumpah ruah di mobil baleno. Pun akhirnya ku tahu, kau suka siapa. haha..

Rahasia itu semua ada di mobil itu, sahabat..

suara mu juga mungkin masih terekan jelas di karet jok belakang yang kau duduki ketika itu.

Wahai sahabat, jangan salahkan saya untuk menulis itu di laman ini. Dan sekali lagi, masih saya harap kau membalas pesan singkat saya. Kau tahu bukan, kalau saya begitu membenci kebohongan dan keberpura-pura-an?!.

Haruskah saya membenci mu saat ini?

DI langit ini, tepat pukul 23:11 WITA, saya harap dalam do’a bahwa kau dan isteri diberikan kemudahan. Anakmu tumbuh sehat. Lihat saja nanti, November saya akan mendatangimu ke Subang dan tak urung untuk memukuli mu dengan pelepah pisang hingga membiru. Kau harus menerima itu. Sungguh kau herus menerimanya.

Langit kita sama bukan?.

Adioos..

By alwayskantry009 Posted in my soul

What Kinda of Journal I’d Like To?

 

“You must to start  searching for locally cases, yeah of yours”.  -Berth’s Message-

Oh God, that was really make break of my head bone extremely. Beth and i have been known each other when we were do our job trainning in Singapore. She was wonderful woman. She’s perfect. She has brilliant every ideas for anything. It absolutely told every people to know that if she has the smart brain one.

Someday, we’re gotta be nice chit chat about our future hope. I don’t know, why we could to think that future hope never feel be bored. That was interesting topic ever. I sure that, if we have perfectly precious soul. We’re crazy bout dreams. haha..

Dream is people’s willing hope, and that is legitimate, isn’t it?

Everyone can have those imagines they would. So one more time, i should to consider that our conversation more be important than the other topic. But wait!. Unfair if i didn’t tell what is range on willing hope every woman ?

Well basically, every woman thought if they’re gonna be happily life with a handsome husband, and so much cutties baby breathe (red-bayi lucu). And lucky day, Berth and I are a woman. So, it must be thought for that. But not only would be a woman dream come true, but also another those preciouses willing hope. We’re talking about education dream.

Bert’s educational profile is one precious for her. After got the best master graduate level in Australia, she wanna study abroad forward. Oh My God, you can believe that, what a kind of her?!

She likes every knowledge in the universe life. Take a  Simple, when i told her about why indonesian use the right hand for the good things, Berth was exciting. She thought unusuall for her to use what indonesian custom. Let’s guess !. What did she do after that?

Berth was researching for informations actually. Well, i was surprise. So, unpredictable she could do anything.

One day, i told her what em willing hope of me. You know, what did she said?

She said, “Your country has many uniques custom. And i believe that so much kind of cases within. God Bless Yours!”.

Cases is begin from that you never heard before. And usually, people think that unique can bring knowledge discouvering for any part of their country. Such a combining system or collaboration life. That is why, God made the world are not the same. Berth’s eart, is not the same with mine.

So, what should i do for seacrh any problems here?

Remember that, if we’re gonna propose a scholarships, we must think what is a problem that is very important problem in society life. Indonesia has many islands, provinces, and ethnic groups.  That was scracthy !!.

Oh God, help me more please.. i would reach my dream come true. Open my mind widely.:(

 

By alwayskantry009 Posted in my soul

Ketika

 

 

Coretan spidol warna warni ada di halaman pertama buku hitam yang biasa saya bawa. Coretan itu memenuhi satu lembar hingga putihnya tidak terlihat. Ukurannya besar kecilnya coretan itu bervariasi. Ada yang paling besar, seukuran, dan ada yang paling kecil. Mungkin saya sedang membuat prioritas ketika itu.

Coretannya hanya berupa tulisan sifat atau kata motivasi yang mungkin bagi saya itu merupakan kata mujarab bagi seorang Kantri Maharani ketika itu.

Warnanya pun disesuaikan dengan makna dari kata tersebut. Jika sesuatu hal penting dan sangat prioritas, saya mewarnainya merah nyala. Entahlah mungkin ingin selalu dilihat pada pembukaan pertama di buku hitam, ketika itu.

Bisa jadi memang warna-warna teduh seperti hijau, biru, dan abu-abu hanya untuk makna kata yang hangat atau tidak terlalu prioritas bagi saya ketika itu.

Tunggu dulu, Lihat itu!. Tidak hanya warna yang ada di sana, tetapi ada ornamen likuk huruf yang merangkai menjadi kata. Ada bunga, ada batik, atau motiv bintang. Akankah ini suatu pertanda ketika itu?

Motif bunga begitu menjalar penuh sayang pada kata penuh cinta. Nun dekat di sampingnya ada motif batik pada sebuah kata keberanian. Dan bintang, terlalu begitu banyak hingga batas lembar itu berakhir. Ah, jelas terasa terus berkutat pada baris setelahnya ketika itu.

Lembaran itu sulit untuk dirobek dalam sadar. Sebab sulit untuk meninggalkan kesemua kata di tong sampah secara sia-sia. Ya, mungkin saya masih mengira ‘Aku’ di sana ketika itu.

Ketika itu..

Bahkan, saya bertekad akan terus menyimpan lembar itu untuk jadi teman, cermin, dan hati hingga saat ini terpampang di hadapan. Ada yang bilang, “kemarin adalah sejarah dan besok adalah misteri”. Ketika itu mungkin hanya ruang bertaut waktu. Tapi isi akan selalu ada pada massa kapan pun.

 Sungguh indah bukan ketika itu.. 

 

By alwayskantry009 Posted in my soul

Bekerja untuk Hidup, Bukan Sebaliknya !

 

Kira-kira, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat enggak ya?!.

Jawabannya, tentu iya.

Seminggu sudah, badai itu berlalu. Hari-hari muram terkapar lemah di rumah sakit akhirnya berlalu juga. Siapa sangka, saya yang begitu terkenal dengan pola hidup sehat di kalangan teman kantor, harus terdiagnosis demam berdarah dan harus mendapatkan penanganan khusus di rumah sakit (baca:opname). Jadi ketika itu, sepulang kantor pukul 21:00 wib saya tiba di rumah dengan konidisi lemah demam menggigil. Memang sebelumnya, sekitar tiga hari lalu saya sedang tidak enak badan diakibatkan datang bulan. Tapi, malam itu sungguh berbeda. Tubuh tiba-tiba meriang tanpa sebab, wajah saya pucat. Saya sempat bilang ke Ibu saya, bahwa ada yang tidak beres dengan tubuh saya malam itu. Namun Ibu saya hanya memberikan saya segelas susu dan menganggap hanya kelelahan.

Malam tiba, sekitar pukul 3 buta, saya menggigil dan mencoba berpindah tempat kamar tidur ke tempat adik saya, Nada. Tidak lama, adik saya terbangun dan terkejut karena tingginya suhu tubuh saya.

“Mamah !!. Mamah !. Ka Kantri badannya panas banget !”. Teriak adik saya dengan tidak santai.

Akibat ketidak santaian dari teriakan Nada, seluruh orang rumah menjadi panik. Orang tua saya langsung bangun, begitu juga dengan kakak saya. Tidak lama, Mamah langsung mengambil termometer dan mengukur suhu saya yang ketika itu, 39,5 celcius. Papah saya, segera mengambil kompres air dingin dan mengambil sebotol air hangat untuk disodorkan ke mulut saya.

Anehnya, keadaaan genting semacam itu, saya masih sempat membuka laptop untuk mengirimkan pekerjaan kepada bos saya dan me-update status di bbm tentunya. 😀

Pagi itu semua hampir panik, tanpa menunda apa pun, Ibu saya mencoba menanyakan kepada tetangga yang tidak lama dirawat karena demam berdarah. Kebetulan rumah beliau berhimpitan dengan rumah kami. Menunggu Ibu saya yang sedang bertanya ini itu, saya pun mencoba bertanya kepada teman saya yang seorang dokter. Ia bernama Yopi. Yopi teman semasa putih biru yang cukup dekat dengan saya. Ia salah satu lulusan pendidikan dokter di Universitas Diponegoro Semarang.

“Yop, gue demam. Tubuh gue panas, pusing, lidah pahit, badan gue greges-greges, kira-kira kenapa ya?”. Kira-kira begitulah isi percakapan bbm saya dengannya.

Yopi, yang biasanya sangat lama membalas bbm saya karena kesibukkan jaga di klinik, kali itu ia membalas dengan cepat, “Lo demam itu, kemungkinan tipus. Coba minum paracetamol 100mg saja. nanti kalau demamnya 5 hari enggak turun-turun baru cek darah”.

Yopi adalah dokter pribadi nan kilat di dalam hidup saya. beruntunglah, punya teman baik seperti Yopi, di saat saya sakit mulai dari cuman gatel-gatel sampai pada sakit karena PMS, Yopi teman yang cukup telaten memberikan saya rekomendasi tindakan pertama. Adiooss Yopi..:)

Kembali ke cerita..

Dengan sempoyongan saya mencoba mencari paracetamol di kotak obat, ternyata tidak ada. Ketika sedang sibuk mencari, Ibu saya datang bersama seorang Ibu-ibu di komplek saya. Beliau bernama Tante Hani. Tante Hani datang membawa bantuan untuk membuatkan saya BPJS.

“Insya Allah, kalau dibuat sekarang, BPJS bakalan jadi cepet”. Kata Tante Hani yang tiba-tiba menjanjikkan BPJS. Saya tidak berkomentar apa-apa, karena pada saat itu saya hanya melihat Ibu saya yang sedang memberikan beberapa lembar nominal rupiah kepada Tante Hani.

“Tolong ya Han, kali aja bisa gratis”. Ujar Ibu saya sambil menutup kembali dompet warna cokelat kulit itu.

Tidak lama, saya pun dipinta foto copy ktp dan foto 3X6 cm, lagi-lagi tanpa berbicara saya hanya mengikuti saja. Kira-kira 3 menit kemudian Tante Hani pun melaju dengan tergesa-gesa.

“Mah, tante Hani mau ngapain?”. Tanya saya kemudian setelah Tante Hani tak terlihat di depan pandangan.

“Itu, mamah suruh bikinin BPJS buat kamu. Absinya, dari kemaren mamah suruh kamu buat BPJS enggak di waro. Coba liat sekarang, udah sakit bingung kan?. Kali aja bisa gratis. Itu Ibu Tati katanya pake BPJS gratis, kan lumayan.”

Mendengar ucapan Ibu saya, saya hanya bisa tertegun diam. Diam karena tidak paham, dan diam karena pusing dan lemas tentunya. Tidak lama saya, Ayah dan Ibu saya ke rumah sakit negeri di daerah Jakarta Selatan. Rumah sakit yang terkenal dengan rumah sakit rujukan pasien-pasien BPJS atau KJS atau pelayanan gratis sejenisnya itu ternyata sangat penuh. Saya datang ke poli umum dengan antrean yang cukup panjang. Walau pada saat itu, saya tidak menggunakan BPJS.

Selang 1 jam menunggu, saya pun menghadap dokter umum dan diperiksa. Dokter itu, tidak mendiagnosis saya demam berdarah, beliau hanya bilang, “Ini karena virus”. Karena Ibu saya panik, jadilah keluarga kami lah yang meminta untuk cek darah di laboratorium. Menunggu hasil lab darah yang luar biasa lama sekali. Jadilah, hasil lab itu hanya dapat kami baw apulang tanpa melakukan konfirmasi ke dokter umum tadi.

Tiba di rumah, saya mulai demam. Suhu tubuh naik turun, dengan kepala yang pusing. Saya mencoba menanyakan kepada Yopi, dan Yopi masih menganggap saya tipus. Tapi tubuh saya makin hari makin tidak enak. Seluruh tubuh kian sakit bahkan disentuh sekali pun, saya bisa jerit-jerit layaknya digebukin orang se kampung.

Melihat penderitaan itu, Ayah saya mengompres saya, dan memberikan saya sari kurma. Ayah saya tidur di samping saya sambil mengusap-usap kepala saya. Begitu juga dengan Ibu saya. Ibu saya mengompres kepala saya, sedangkan Ayah saya mengompres kaki saya. Saya pun segera meminum obat yang diberikan dokter umum tadi. Dan tidak lama panas saya menurun hingga pagi hari.

Pagi hari saya masih di rumah dengan kondisi lemah, namun suhu tubuh menurun 37 drajat celcius. Ayah saya kini berperan sebagai perawat saya di rumah. Ia memasak bubur dan menyuapi saya dengan telaten. Pukul 15;00 keadaaan saya lemah lagi, Ayah saya panik dan menelpon Ibu saya untuk berkordinasi membawa saya ke IGD. Akhirnya, tidak lama Ayah saya mengeluarkan mobil dan kami pun melaju ke IGD di rumah sakit yang sama pada hari sebelumnya. Setiba di IGD saya terkejut banyak pasien di sana sini. Saya mulai pusing. Lagi-lagi saya harus mengambil darah di lab, dan hasilnya belum dipastikan DBD. Justru saya dianjurkan untuk cek lab lagi keesokan harinya. Keesokan harinya, saya kembali ke IGD rumah sakit itu, dan hasilnya sama.

Tiga kali berturut-turut saya datang kondisi yang sama, menunggu di IGD adalah hal yang memuakan bagi saya. Bayangkan saya harus menunggu 4 jam untuk mengetahui hasil lab darah saya, melihat keriuhan saya tak kuasa menahan sakit, saya pun memeluk Ayah saya.

“Pah, aku enggak kuat. Kantri enggak mau di rumah sakit ini”. Ujar saya sambil menangis. Melihat saya yang lemah tak berdaya, Ayah saya cukup terlihat pucat, Ibu saya terlihat panik. Akhirnya Ia menelpon kakaknya untuk meminta pendapat, dan jadilah saya dilarikan di rumah sakit lain di JMC.

Sampai JMC saya langsung ke IGD, mendapat infus. Di ruangan yang lagi-lagi berisi berbagai orang kecelakaan membuat saya harus rela merem sepanjang saya duduk di kursi roda. Tidak menunggu lama, saya dibawa ke kamar lantai 5, dan di ruangan itulah saya diputuskan untuk dirawat inap. Malamnya, saya hanya bersama Ibu saya, sedangkan Ayah saya harus pulang karena beliau ternyata tidak enak badan. Malam harinya saya mual, pusing, demam, dan muntah sangat dahsyat.

Perawat berkerumunan di kamar saya. Malam itu, dokter yang harus menangani saya sedang tidak ada. Akhirnya saya disuntik entah apa yang ada di dalam suntikan itu, yang saya ingat saya tertidur pulas hingga pagi hari.

Paginya, saya masih lemah, dan demam. Saya masih melihat Ibu saya yang juga lemah tertidur di sofa. Lengan saya sudah ada kapas dan plester, Oh rupanya saya sudah diambil darah oleh perawat. Hingga sore hari trombosit saya menurun. Setiap malam, saya harus keringat dingin dan muntah. Belum lagi menahan tubuh yang sangat sakit.

Saya bahkan mengingat mati saat itu. “Yaa.. Allah, jika hari ini saya harus mati, matikan saya dengan kondisi tidka menyedihkan seperti ini”.

Ketika itu, saya dijaga oleh bibi Neni (Adiknya Mamah). Sedangkan Mamah, harus menjaga Papah yang juga sednag demam tinggi di rumah. Terpikirkan oleh saya, kondisi Ayah saya. Karena sakit dan kondisi yang membuat saya pusing, saya pun menangis. Sampai-sampai Bi Neni pun ikut menangis.

“Sabar ya dek.. Allah lagi nguji adek”. Ucap Bi Neni sambil mengusap rambut saya.

“Bi, Kantri bisa sembuh kan?. Kantri enggak mau mati sekarang”. Ujar saya lirih.

Setiap hari saya harus mendengar trombosit saya yang selalu menurun. Walaupun lemah tak berdaya, setiap hari selalu ada mereka yang datang menjenguk. Mulai dari teman-teman kantor, teman main, sahabat, saudara-saudara, dan teman-temannya Ibu saya tidak pernah absen datang ke kamar 504 itu.

Bahkan, kedatangan mereka tidak henti-henti ketika saya sudah tidak di rumah sakit. Mereka menghibur saya, terlebih ketika sekumpulan sahabat-sahabat Ibu saya datang menjenguk, hingga satu orang di antara mereka ada yang tiba-tiba meramal saya. “Nih, ada nih yang serius sama elu 1 orang, tapi elunya masih belum yakin”.

Mendengar itu, saya tertawa lepas. Entahlah apa itu, saya hanya anggap hiburan saja, kedatangan mereka seolah mengajak saya untuk melupakan trombosit saya yang terus menurun. Mereka pun mendoakan saya secara berjamaah.

“Allah, terimakasih atas ukhuwah ini…..”

Saya harus mengucapkan syukur atas kesehatan yang sudah Allah kasih kepada saya hingga saat ini. Kemarin, mungkin saya memang benar-benar diuji. Rejeki Allah luas, kemarin saya tidak menggunakan BPJS. Saya menggunakan asuransi kesehatan saya lainnya, dan mungkin memang ini cara terbaik membersihkan diri ini dari dosa. Sedekah untuk tubuh sendiri.

Rasa syukur juga teramat karena memiliki keluarga yang sayang dan sangat baik kepada saya. Mereka tidak putus-putusnya menanyakan keadaan saya. Kedua orang tua yang masih sigap memapah anak gadisnya yang berusia 25 tahun. Atau Bi Neni yang luar biasa baiknya kepada saya. Doa dari teman-teman dan sahabat yang membuat saya sabar melewati masa suram itu.

Cukup sudah menyia-nyiakan tubuh sehat ini. Karena ternyata banyak banget kerugian selama seminggu yang sudah saya habiskan dengan percuma. Bahagia itu sangat mudah, hiduplah dengan sehat dan tidak menyia-nyiakan tubuh mu dengan hal yang sia-sia dan merugikan.

Kita mungkin lupa dengan hakikat dari hidup. Saya sadar, saya adalah orang yang mencintai pekerjaan saya dan profesi saya, namun ternyata mencintai pekerjaan berlebihan juga akan merusak kesehatan tubuh, karena pada hakikatnya bekerja untuk hidup, dan bukan hidup untuk bekerja.

Mulai dari sekarang, jangan lupa makan, jangan lupa air putih, jangan lupa buah, jangan lupa sayuran, jangan lupa olah raga, dan terus positif berpikir.

Badai pasti belalu, selamat datang hari baru….!!

Teringat Bongsan

 

Lagi, harus saya jumpa kota candi ini. Kota pertama yang selalu saya ingin kunjungi ketika lampau. Kota pertama yang bagi saya memberikan keramah tamahan dan kearifan lokal Indonesia. Atau Kota pertama yang mempertemukan dengan seorang kawan yang kini entah ada di mana.

Bongsan Naputulua, panggilan baginya yang hanya dia dan keluarganya yang paham tentang artinya. Namun, sebenarnya ia memiliki nama indah yang terpelosok jauh di Timur Indonesia. Tanah intan dan emas yang sangat kaya melahirkan anak putera bangsa yang harus rela berjuang hingga ke tanah Jawa untuk mewujudkan cita.

Bongsan, anggaplah ia saya panggil untuk mengenang dirinya pada cerita ini.

Ini sungguh perjalanan yang tidak lagi berkisah mengenai setumpuk riset pasar yang harus saya jalani, walau memang pada kenyataanya tanggung jawab itu lah yang akhirnya membawa saya pada Kota Kesultanan ini. Namun kota ini begitu banyak cerita. Penuh catatan yang dari awal terunut atas ingatan manis yang selalu ter-eja dalam langkah yang saya miliki. Begitu manis.

Harus saya syukuri, di Kota ini adalah awal pertemuan pertama terhadap orang lain dalam hidup saya. Mulai dari pengalaman perjalanan wisata semasa kecil yang diakomodasi oleh Kantor Ayah saya ketika itu, studi banding, pertemuan perkumpulan mahasiswa seluruh Indonesia, dan satu lagi pertemuan tak sengaja dengan Bongsan di sela-sela perjalanan dinas dari tempat kantor saya.

Bongsan laki-laki unik sedunia. Yeah, bagi saya ia adalah laki-laki unik sedunia. Boleh saya urut sekumpulan orang-orang uni semacam Robin Williams, The Chapline, Will Smith, Komedian Sule, Komedian Benyamin, atau Ashton Kutcher, Bongsan akan saya masukan ia paling akhir. Sebab, ia tidak begitu lucu jika dibandingkan rentetan unik bagi saya, tapi Bongsan memiliki keunikan perilaku yang langka bagi laki-laki sesusianya.

Ia berusia dua tahun lebih tua dari saya. Jika tahun ini saya berusia 25 tahun, maka Bongsan berusia 27 tahun. Tubuhnya gemuk, berisi dan kekar. Walaupun tubuhnya tidak terlalu tinggi bagi ukuran laki-laki, Bongsan memiliki mata yang tajam alis dan bibirnya tebal, kulit yang cokelat gelap, serta rambut yang keriting gimbal tidak terlalu panjang, dengan tegas ia begitu mencirikan produk 100% Indonesia Timur.

Siang tadi saya berjalan dari pasar Beringharjo, menyelusuri tepi jalan dengan sesekali menyigap bahu karena pikuknya pengunjung di sana. Harus diakui, tidak harus menunggu libur, Kota ini akan selalu ramai di hari-hari biasanya.

Kemudian, setelah menelusuri pasar dan beberapa kali melakukan riset observasi, saya pun langsung menuju daerah Sleman. Perjalanan ini mengingatkan saya ketika bertemu Bongsan yang ketika itu sedang duduk di sebuah taman, dengan menggunakan ransel dan memegang secarik kertas putih di tangan kanan, dan seplastik air teh dingin di tangan kirinya. Nampak begitu kelelahan dan kebingunan. Saya yang ketika itu sedang melakukan perjalanan dinas untuk survey dua tahun yang lalu, tidak disangka harus menoleh kepadanya atas panggilan yang ia lontarkan kepada saya.

“E..Ibu, Kita orang Timur, Mau tanya sebentar”. Ucap Bongsan kepada saya.

Langkah saya pun terhenti, dan memberikan respon ragu, “Iya, Saya?”.

Mendengar respon saya, Bongsan secepat kilat langsung mengiyakan sambil menunjuk ke arah saya. “Iya, Ibu”

Harus saya jujur kali ini, sempat ketika ia memanggil saya dengan sebutan Ibu, saya sedikit takut dan jengkel, seraya bergumam di hati dengan dongkol, “What Ibu?, setua itu kah gue?!”

Ah, tapi yasudahlah, belum saya sempat kabur atau menggeleng tak suka, Bongsan sudah melaju dekat ke arah saya sambil menyodorkan kertas tadi sambil berkata, “E..jalan stasiun kemanakah?”.

Di kertas itu, saya hanya melihat semacam gambar peta rute menuju suatu tempat. Berliuk-liuk bagaikan peta harta karun dengan simbol simbol yang tertuliskan nama yang entah bahasa apa, sebab tak ada di kamus saya. Tapi yang saya amti seksama adalah tulisan ujung pada awal dua garus di sebelah kiri, yakni Timika. Kemudian, setelah timikia, ada dua garis yang ditarik lurus ke kanan dan yang menariknya adalah di atasnya ada gambar perahu yang berlabuh pada tulisan Ketapang. Setelah itu, adalah lagi setelah Ketapang gambar yang masih saya ingat, adalah terdapat nama Stasiun Balapan, dan Stasiun Tugu.

Karena saking ribetnya baca petunjuk di kertas tersebut, saya akui, saya cukup kerepotan memahami tulisan dan simbol-simbol tadi. Mungkin terasa lama bagi Bongsan menunggu jawaban saya, ia pun menegur saya.

“Ibu tau tidak?”.

Asli, itu cukup mengejutkan saya. Logat yang tak biasa saya dengar, seakan laki-laki itu akan memukuli saya. “Ngh.. oh Maaf lama. Bapak mau ke mana memang?”.

“Stasiun Kereta”. Jawab tegasnya.

Lagi-lagi saya gelagapan. Pertama, saya bukan orang daerah setempat. Kedua, saya takut dipukuli. Sangat Shock Theraphy.

“Maaf bapak..”. Saya berbalik panggil ia Bapak, karena sepertinya ia lebih cocok saya panggil Bapak. “Sebenernya saya bukan orang sini saya tidak tahu harus ke arah mana dan naik apa ke sana, tapi stasiun berada di dekat hotel saya. Bapak bisa ikut saya nanti naik mobil ke sana”.

Laki-laki itu, Bongsan, hanya celingak celinguk tajam penuh curiga. “Apa benar?. Tak bohongi saya kah?”.

“Oh tidak. Saya tidak bohongin bapak”. Jawab saya sambil senyum dan menunjukkan ID Card saya.

Akhirnya tidak lama, kami beserta supir rental, melaju menuju Hotel di mana saya tinggal. Di perjalanan, kami berbincang, dan perbincangan itulah yang akhirnya saya tahu ia bernama Bongsan

Ketika ia bercerita bagaimana perjalanan hingga tiba di Jogjakarta, saya cukup terkejut karena pengalaman yang luar biasa panjangnya. Selama 10 hari ia jalani, Hingga ia tiba di Jogjakarta. Waktu yang selama itu, cukup tidak dipercayai di era serba canggih ini. Ternyata dalam perjalanan, ia menggunakan jalur darat dan laut. Bukan jalur udara. Belum lagi ia bercerita bagaimana ia ditipu oleh calo kapal yang menjanjikannya membawa dirinya hingga tiba di Ketapang. Namun apa daya, ia tertipu karena harus terdampar di Makassar.

Kemudian ia juga bercerita bagaimana ia harus menggadaikan jam tangan yang menurutnya bermereck rolex emas, hanya untuk naik kapal hingga sampai di Ketapang. Kemudian, ia melaju hingga tiba di Bali. Dari Bali barulah tiba di Jawa Timur. 

“Kemudian, kita lanjut e naek kereta api, tapi sayang.. kena tipu dua kali”. Ujar Bongsan.

“Loh, kok bisa?. Bukannya udah jelas tujuannya?”. Tanya saya heran.

“Bukan, kena tipu sama orang sebelah. Ada orang bilang, katanya ini kena sudah sampai setasiun Tugu”. Bongsan menjelaskan sambil memperagakan gesture tubuhnya.

Saya pun hanya bisa tertawa.

“E..tak usah ketawa. Tak lucu itu!”. Sanggah ia.

Oow !!. Mulutnya saya langsung mingkem semingkem mingkemnya. “Maaf Bongsan, saya lucu dengan gaya mu”.

Bongsan pun tersenyum sambil mengucap, “Terimakasih Ibu”.

“Bongsan, jangan panggil saya Ibu ya. Saya belum punya anak. Jadi cukup panggil nama saya Kantri”, Tawar saya kemudian.

Ia pun menerima tawaran saya, tapi sayang di sela-sela cerita selanjutnya ia masih memanggil saya dengan “Ibu”. Argh..

“Tujuan mu ke Jogja untuk apa Bongsan?”. Tanya saya.

Dengan santai, Bongsan menjawab, “Kuliah”.

“kuliah di UGM?. Oh.. tapi kok naek kereta lagi?. UGM kan di sini”

“Tidak, kita cari apa itu namanya, sekolah gratis”. Ucap Bongsan, sambil memainkan gantungan patung yang ada di tas ranselnya.

Saya langsung menangkap bahwa sekolah gratis yang dimaksud Bongsan adalah beasiswa. Peluang sekolah yang selalu diidam-idamkan anak bangsa untuk pintar dengan tanpa mengeluarkan uang sepeser pun dari dompet pribadi karena ketidak mampuan finansial.

“Oh maksudnya, tidak ada beasiswa gitu?”. Tanya saya dengan usaha memperjelas.

Bongsan pun memberi tanggapan anggukan kepala seraya menjawab tidak ada kesempatan sekolah gratis untuknya. “Tapi, masih ada jalan lagi ke Jakarta. A..mungkin ada di sana”.

Bongsan pun kembali bersemangat ketika pikirannya sedang bermain asumsi tebak-tebak berhadiah. Sosok Bongsan ini lah yang dapat dikatakan gigih dalam mencari kesempatan, walau tidak tahu apakah kesempatan itu benar-benar ada ataukah tidak ada sama sekali.

           “Kamu udah lihat websitenya?. Info sekolah gratis kau tau dari mana?”.

           “a.. Tidak tahu dari siapa-siapa keh. Kita tahu, sekolah gratis ada di kota”.

           “Jadi, Kau cari itu sekolah gratis sampai ke Jawa?”.

          “Memang, sulit sekolah di Timika sanah. Kami sulit pintar”.

          “Saya pernah ke Timika, Freeport.”

Mendengar pengalaman saya ke Timika, Bongsan pun terkejut. Terlebih ketika mendengar kata Freeport. Ia hanya menapis getir dalam mulutnya.

          “Pintar buat mereka bukan kami keh. Di sana emas itu sudah seperti sagu bagi mereka. Bukan kami”.

Kemudian, Bongsan pun menceritakan kehidupan masyarakat Timika yang tidak saya ketahui selama saya melakukan perjalanan ke sana. Pengununangan dengan penerangan lampu seadanya membuat mereka hidup dalam sunyi. Suara penambangan yang rutin mendengungkan telinga mereka, sudah menjadi hiburan kesunyian. Hanya bisa menyimak suara bising dan kepulan asap tambang yang jauh lebih mengebul dibandingkan kebulan asap dari dapur mereka.

Keberanian Bongsan yang melangkah jauh meninggalkan tanah kelahiran hanya mencari ‘Pintar’ patut saya acungkan jempol. Berbekal sebisanya, dan hanya mengandalkan asumsi keberanian dan keyakinan itu adalah modal utama seorang untuk sukses.

Mungkin tidak di Jogja, “Pintar” itu ada untuknya. Tapi di tempat lain, tempat yang jauh lebih baik “Pintar” itu akan ada nyata baginya. Bukankah, hanya mereka yang bisa sukses karena ada kemauan. Maka, ia pun akan sukses jika ia mau.

Langkah tegap serta keringat yang tak tuntas terbendung, akan menjadi tanda kemauan Bongsan untuk jauh lebih baik. Tidak untuk dirinya, tetapi untuk negara ini. Sudah sepatutnya negara ini bangga memiliki putera bangsa yang memiliki kemauan kuat untuk merubah nasib atas dirinya.

Dan Tugu, adalah batas kenangan itu berakhir. Saya dan Bongsan pun berpisah. pertemuan yang memberikan nilai terbaik dalam hidup saya. Lagi-lagi orang yang memiliki tekad dan kemauan melebihi tubuhnya itu sangat nyata. Bongsan, merupakan tipe anak bangsa yang patut dicontoh. Bongsan dan sejumlah orang-orang terbaik yang pernah saya jumpa, adalah tunas luhur dari Tuhan.

Bongsan, di mana kau berada, semoga tujuan mu akan selalu membumikan kesuburan negeri ini dengan air mata dan tetesan keringat sebagai bukti bahwa negara ini bukan negara yang dapat dipermainkan atas nama kesejahteraan.

Catatan terindah, Jogjakarta, 13 Agustus 2014.

Adioss.. 

Jimat Si Ibu

 

 

Sore itu, tepat di hari kedua lebaran, saya dan keluarga bersilaturahmi ke sanak saudara di daerah Cibatu, Garut Jawa Barat. Kebiasaan ini sudah sering dilakukan ketika masa-masa lebaran tiba. Maklumlah, Cibatu adalah kampung halaman Ibu Saya. Walaupun, saat ini orang tuanya (kakek nenek saya) sudah tidak ada, tapi tanah kelahiran sulit dilupakan. Tidak hanya bagi kami, bahkan saudara kami yang tinggal di Jakarta atau kota-kota lain sulit melupakan kampung kecil ini.

Kampung kecil yang memiliki cerita menarik masa kecil ke-20 cucu Aki Kosasih itu sungguh menarik untuk selalu kami ingat. Jika dahulu kami sering berkumpul di rumah panggung yang terbuat dari bilik bambu dengan air pancuran langsung dari gunung yang super dingin dan sejuk, atau bermain layang-layang di sawah dan rela berkotor-kotor karena harus berebutan layang-layang putus di lumpur sawah, mungkin ada lagi kebiasaan panjat pohon jambu kelutuk yang berdiri melengkung di depan rumah Aki, dan yang paling fenomenal kami ingat hingga saat ini adalah menunggu kereta delman Mang Enda (tukang delman langganan) semasa itu yang selalu kami cari ketika ingin muter-muter kampung kecil ini dengan kuda berwarna putihnya.

Bagaimana kami bisa lupa akan syahdunya pertemuan keluarga semasa kecil, pertemuan para sepupu yang segambreng itu, tumpah pada saat malam tiba. Kami semua tidur beralaskan tikar dan berubinkan bilik anyam bambu yang dingin dengan bau khas dari asap tungku dan corong bambu dari dapur. Saya ingat betul, ketika itu saya masih berusia 4 atau 5 tahun-nan tidur bersama di rumah panggung itu, dengan mengenakan jaket dan kaos kaki karena suhu yang sangat dingin. Maklumlah, depan rumah Aki adalah pegunungan yang jika dilihat cukup memberikan imajinasi menarik di pandangan anak kecil seusia saya ketika itu,

Pegunungan yang terlihat biru dengan bentukan liuk-liuk tubuh yang kekar serta ditumbuhin rimbunnya pepohonan seolah membentuk aneka bentuk liku tubuh binatang pada sisi tubuh pegunungan yang biasa disebut dengan Gunung Sawal dan Sancang. Bahkan saya masih ingat, saking polosnya, saya pernah berimaji setiap pagi, bahwa binantang-binantang itu akan berkumpul di Gunung itu dan mungkin akan berlari ke sana kemari, dan saya berdoa agar binatang itu tidak ke rumah Aki. 😀

Tidak hanya sampai di situ, jalur Kereta Api di Cibatu adalah tempat yang selalu saya rindukan. Dahulu, kami ketika ingin berkunjung ke Cibatu, kami selalu naek kereta api dan berhenti di Stasiun Cibatu. Kereta Api berlokomotiifkan senja utama itu, menawarkan gambaran menarik di kesan saya. Mulai dari terowongan panjang yang gelap, loko resto yang selalu saya kunjungi walau hanya membeli semangkok mie instan, dan angin semeriwing ketika kaca jendela pintu dibuka. Itu baru ketika menaiki kereta, bahkan setelah sampai di Cibatu pun, setiap sore saya selalu berlari menuju pinggir rel kereta api untuk melihat kereta api melewati dengan suara yang khas, dan apa yang terjadi, saya melambaikan tangan sambil bilang, “Dadah dadah dadah…”.

Aduh, rasanya ingin ketawa guling-guling kalau ingat masa kecil seperti itu.

Sekarang, kereta api menuju Cibatu sangat jarang. Terlebih moda transportasi kami sekarang sudah beroda empat, jadilah kami tidak pernah naik kereta api apabila ingin mudik. Padahal, masa kecil saya dan semua sepupu saya tumbuh dan berkembang dengan kesan menarik dari Kereta Api. Tapi, tidak apa. Apa pun yang berkembang saat ini harus disyukuri. 🙂

Perjalanan saya selanjutnya adalah melewati daerah yang awalnya saya tidak tahu. Tepatnya, kami mencari jalan alternatif untuk menghindari macet di daerah Wanaraja. Jalan ini berada di sebelah kiri ketika pertigaan persimpangan pertama jalan menuju terminal Guntur. Jalannya sudah beraspal, tidak terlalu lebar, namun sungguh indah apabila dilalui dengan sepeda. Di jalan sebelah kiri akan ada danau dengan beberapa rakit serta perahu sampan. Airnya jernih, banyak pepohonan di sepanjang sisi danau tersebut. Lanjut jalan lagi, tidak lama, di sebelah kanan saya, muncul lagi danau yang mirip dengan sebelumnya. Tak sadar saya mendecak kagum. Ternyata tidak hanya saya, tetapi seisi mobil kali ini juga terpana. Bahkan banyak juga yang berkata, “Kok kita baru tahu ada tempat seindah ini ya?!”.

Tidak ada sampah yang berserakan, dan cukup tertata rapih. Kendaraan kami pun masih melaju, hingga kami menemukan Situ, yang biasa disebut Situ Banggendit. Kali ini Situ yang terkenal dengan cerita rakyatnya adalah obyek wisata yang selalu ramai di hari libur. Sayang sekali kami belum bisa melimpir ke sana. Tapi suatu saat, saya akan menjelajahi tempat ini dengan sepeda. Hm..kayaknya seru.

Tidak lama, saya baru ingat dengan cerita di balik Situ Banggendit. Bukan cerita rakyatnya, tetapi cerita seorang Ibu yang tidak sengaja duduk sejajar di Bus Primajasa tujuan Jakarta-Garut denga saya. Kebetulan pada saat itu, saya sedang sibuk mengurusi skripsi di Unpad Jatinangor.

Sepanjang jalan, Ibu itu bercerita bagaimana kisah anak-anaknya yang berjuang mendapatkan beasiswa hingga S2 dan kini sudah sukses di Jakarta. Ia pun bertanya tempat tujuan saya, sekolah saya, pekerjaan saya, dan usia saya. Ketika Ia mendengar usia saya, ia langsung terkejut. Kira-kira responnya dengan Bahasa Indonesia seperti ini,

“Aduh Neng, anak ibu yang perempuan teh lebih muda dari Neng. Lahir tahun 90”.

Ia terkejut, karena saya belum menikah sedangkan anaknya sudah menikah dan sudah memiliki satu anak. Ya.. saya sih mesem-mesem aja.

Terus, Ibu itu bercerita bagaimana anak perempuannya pernah mendapat beasiswa kuliah ke Jepang dan bekerja di sana. Tetapi, Akhirnya anak perempuannya tidak jadi pergi ke sana.

“Pernah anak Ibu dapet beasiswa sekolah sama kerja di Jepang waktu itu. Anak Ibu mah pinter. Itu, padahal udah siap berangkat di bis Neng. Eh dasar Ibu mah ya, bodoh pisan. Tiba-tiba teh, nangis gogoleran ciga barudak hayang maenan (nangis di tanah kayak anak kecil minta maenan). Jadi weh, si Teteh teu jadi pergi. Ibu nyesel nya mah sekarang”.

Saya hanya mendengar dengan sambil mesem-mesem lagi.

“Sekarang anak Ibu kerja di mana?”, Tanya saya kemudian.

“Di carefour Lebak Bulus”. Jawabnya lirih. “Karena kerja di sana, eh dapet orang yang kerja di carefour juga”. Tambahnya.

Ia menanyakan kembali, jurusan kuliah yang saya sambil. Ketika saya menjawab dengan serius, tiba-tiba Ia menoleh ke arah saya sambil berkata, “Hm..ari Neng, teh geulis nyak, Manis ciga teh Dede (Hm.. Neng cantik ya, mirip teh Dede)”.

Widiww.. saya yang tadinya bercerita semangat tentang kuliah saya, saya langsung kaku karena dibilang manis. hahaha..

“Aduh, Ibu makasih pisan. Saya jadi dipuji gitu”. Ujar saya dengan pipi yang mungkin merah merona malu.

Dan benar saja, si Ibu itu bercerita tentang Teh Dede, ponakannya yang orang Cibatu yang tinggal di Qatar, dan menikah dengan orang Arab. Di sana, ia sangat kaya. Bahkan, memiliki beberapa rumah di daerah Garut.

Obrolan kami pun terus berlanjut hingga Ibu itu menceritakan pekerjaan dirinya yang sebagai penjual baju kredit keliling kampung di daerah Situbanggendit. “Rumah Ibu caket etha ti dinya (Rumah Ibu deket di situ). Mampir atuh Neng kapan-kapan”.

Di tengah perjalanan saya menuju Cibatu sore itu, saya kembali menahan geli ketka ingat, obrolan ketika saya dan Ibu itu di Bus Primajasa. Ia tiba-tiba mengeluarkan secarik kertas bertuliskan huruf Arab gundul yang membentuk suatu lambang yang saya tidak tahu lambang apa itu. Ibu itu kemudian, membuka sambil mengumpat kertas itu agar tidak terlihat oleh orang lain

“Neng, ini teh jimat (Neng, ini tuh jimat)”.

Mendengar ucapan Si Ibu saya langsung tertarik. “Jimat apaan bu?”

“Ini jimat agar dilancarkan segala urusan. Yang lagi buka usaha agar lancar, yang lagi bekerja di kantor agar banyak rejeki, atau nih kayak Neng, lagi skripsi, bisa nih agar dilancarakan. Agar dosennya jadi cepet ACC. Atau Neng cepet dapet jodoh. Agar bisa memikat”

Lagi-lagi ucapannya bikin saya tertarik, “Coba liat bu, itu doa apaan bu?.”

“Ini teh Jimat. Neng mau?!. nih, Ibu kasih ini asli dari Arab. Ibu mah, masih ada di rumah. Si AA juga simpen ini di tokonya, eh alhamdulilah laku. Dilipet aja neng, taro di dompet”.

Waduuh, syirik ini mah, gumam saya dalam hati. “Oh, kirain saya ini dibaca bu. Enggak deh bu, makasih. Saya takut musyrik”.

“Bener Neng enggak mau?”. Lagi, Ibu itu meyakinkan saya sekali lagi.

“Enggak bu, terimakasih”. Tolak saya, masih sambil mesem-mesem.

Aduh, sayangnya saya tidak tanya alamat si Ibu itu. Coba kalau saya tahu alamatnya, pasti saya akan tahu kisah-kisah lain yang biasa ia sebut jimat itu. hahaha..

Ternyata, masih ada loh yang seperti itu. Naudzubillah. Banyak hikmah yang didapat dari cerita itu. Banyak simpulan yang bisa diuntai satu persatu. Ternyata dakwah, itu perlu disebar hingga ke pelosok. Karena besar kemungkinan memang masih banyak masyarakat yang masih percaya dengan hal syirik tanpa paham ilmunya. Itu sebabnya mengapa Islam mengajarkan untuk menyampaikan kebenaran walau hanya 1 ayat.

Di balik keindahan alam yang telah Allah berikan kepada kita manusia, akan rusak dengan ketiadaan ilmu untuk mensyukurinya. Cara bersyukur adalah, tidak menjadi perusak bumi. Sangat disayangkan jika kita masih menduakan Dia yang jelas-jelas telah memberika keberkahan dalam hidup.

Semoga kita jauh lebih baik..

Adioss..

 

Romadhan Kali ini…

 

Sebulan sudah…

Dilalui dengan sekenario yang berbeda tiap tahunnya. Berbeda kisah, beda keadaan, dan beda pelajaran. Tidak untuk diri saya, tetapi juga untuk bangsa ini, Bangsa Indonesia. Perlu saya apresiasi untuk perjalanan selama sebulan ini. Bukan untuk diri saya, tetapi untuk keluarga besar saya. Kami memiliki cerita menarik yang ‘pertama’ kali untuk kami perankan.

Di Romadhon kali ini, Bapak saya berperan sebagai ketua DKM di masjid komplek, yang mana sebulan penuh, nyaris menggema di tengah-tengah para jamaah sholat tarawih. Ia berperan menjadi MC pembuka, yang mana belum pernah ia lakukan dalam sekup keagamaan. Bahkan, demi kelancaran berpidato, Ia sering berlatih bersama Ibu saya yang bersemangat membuat teks pidato. Dan, ketika waktu tarawih tiba, kami sekeluarga berbondong-bondong rajin sholat tarawih di masjid komplek untuk memberi semangat dan apresiasi keberaniannya itu.

Ini tidak biasa. Jika pada bulan sebelumnya, saya, adik, atau kakak  begitu jarang sholat tarawih di masjid komplek karena kesibukan, tidak untuk Romadhan kali ini. Entahlah, bagi saya ini memberikan keunikan sendiri.

Romadhon kali ini juga memberikan inspirasi untuk keluarga besar saya, untuk menghafal Al-Qur’an. Gegara tontonan Hafidz Indonesia di RCTI, keluarga kami berkali-kali menitikan air mata dan mendecak kagum dengan anak-anak kecil itu yang masih sangat muda sudah menghafal ayat Al-Qur’an dengan nada yang begitu indah di dengar. Hasilnya, sehabis subuh kami saling me-muroja’ah hafalan kami. Lagi-lagi ini langka bagi kebiasaan keluarga kami. Kebiasaan yang selalu saya jumpa pada saat masih menjadi mahasiswa kosan, ternyata sehabis subuh juga saya dapat meneruskann kebiasaan positif di keluarga kami.

“Tidak ada kata terlambat”, Kata Ibu saya ketika mengusap air mata ketika Musa, anak 5 tahun yang sudah menghafal sebanyak 29 Juz.

Allah, taukah Engkau, di situlah aku pun berucap syukur teramat dalam..

Keluarga kami adalah keluarga masa kini yang mungkin dapat dikategorikan sebagai keluarga penganut ‘biasa-biasa’ saja dalam kehidupan sehari-hari. Tapi, hidayah Allah akan datang di waktu dan keadaan yang tidak diduga-duga. Perubahan yang tidak langsung drastis, melainkan sama-sama memulai dengan menyadari bahwa tidak ada kata terlambat adalah hikmah yang harus dijalankan sedikit demi sedikit.

Romadhan akan meninggalkan kami sekeluarga, dan terus seperti ini. Walaupun demikian, hidup akan terus berjalan ke depan. Menguji kesadaran ruhaniah yang sudah ditarbiyahkan selama Bulan Romadhan. Mengutip dari Ust. Tanjung sewaktu mengisi tausyiah Subuh di Masjid Ukhuwah Islamiyah UI, mengatakan:

Kemenangan sesungguhnya adalah kemenangan yang senantiasa giat menjalankan Ibadah, dan melawan hawa nafsu di bulan-bulan yang bukan Bulan Romadhan

Berbaik sangkalah dengan kebaikan dari dan untuk diri kita di bulan selanjutnya. Selamat tinggal Romadhan, Berikan kesempatan diri kami untuk berjumpa di Bulan terbaik-Mu dengan jauh lebih baik lagi. Terimalah segala amal ibadah puasa kami, ibadah sholat kami, Taubatan nasuha kami, dan segala ikhtiar yang kami lakukan demi mendapatkan Rakhmat dan Ampunan-Mu.

Mudahkan kami dan luruskan hati serta jalan kami atas segala hajat dan keistiqomahan ruhiyah pada diri kami. Kekalkan tali persaudaraan ini, hingga kami akan sama-sama melangkah menuju syurga Mu yang kekal..

aamiin..

Depok, Malam 1 Syawal 1435

ps: Saya dan keluarga mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1435 H Taqobbalallahu Waminna Wamingkum, Mohon Maaf Lahir Bathin..

cropped-322769_10150294775738118_596673117_7782908_2400199_o.jpg

Misi Hampir Selesai

Di tengah pemberitaan pilpres, atau di tengah panasnya emosional gegara serangan Israel  terhadap Palestina di Jalur Gaza, saya harus mengucapkan rasa syukur atas segala hasil dan upaya mewujudkan misi-misi hidup yang semakin nyata.

Perjuangan yang membuahkan hasil (InSyaa Allah), itu semakin dekat semakin nyata. Pasalnya investasi bisnis yang sekarang saya rintis, dengan kumpulan uang pendapatan dari kerja per bulan, Ternyata berwujud juga. Berkat hidup prihatin, menahan godaan ini itu, akhirnya bisa juga nyicil rumah untuk dijadikan guest house. Awalnya, memang ditalangin dari uang orang tua, tapi alhamdulilah sudah bisa menyicil sedikit demi sedikit, hingga sekarang sudah cicilan kelima.

Ada hal yang membuat saya senang lagi adalah, satu persatu interior rumah, hampir jadi. Hm.. baru kitchen set, kamar mandi, dan tempat tidur sih, hihi..

Tapi tak apalah ya, untuk lemari , kulkas, televisi, sofa, kursi bar, Insyaa Allah menyusul. Ternyata, merintis dari nol itu luar biasa indahnya. Inget banget lah pesan dari orang tua, bahwa berinvestasilah selagi muda. Nah motivasi itu, yang membuat saya jadi getol banget ngumpulin uang untuk inves sana sini, dan bisnis penginapan adalah salah satunya.

Semoga segalanya dimudahkan Yaa Allah.. aamiin..

Hamasah kant !!

IMG-20140713-00581

Kitchen set yang hampir kelar.. 😀

IMG-20140713-00583

Dalam Rumah

IMG-20140713-00584

Kamar Mandi 1 (yang satu lagi jangan difoto, :-p)

IMG-20140713-00585

dalam rumah