Mengupas Iklan Provider 3 “Based on Reality Life”

Pulang kantor di jumat Malam itu, rasanya lelah banget. Walaupun besok adalah weekend ternyata sulit juga merubah mood menjadi senang menjelang libur 2 hari. Lain halnya ketika saya mencoba menonton acara televisi di tengah malam di salah satu stasiun teve. Program teve yang mengupas kehidupan yang gemerlap di Kota Jakarta, membuat saya antusias menyimak pesan moral yang terbilang ringan.

Selang 3 menit, tiba-tiba program teve itu menyiarkan beberapa commercial break. Seperti biasa, saya cukup tertarik dengan setiap materi periklanan yang ada di Indonesia. Benar saja, kali ini ada yang membuat saya sangat tertarik untuk menyimak tiap detail kata, gambar, dan pesan dari sebuah commercial break.

Mungkin kamu pernah melihat iklan provider 3 yang terdiri dari 2 sesi, yang mana konsep dari iklan itu adalah berupa testimonial. Sinopsis singkatnya adalah, ada sekumpulan anak kecil yang tinggal diperkotaan dengan latar belakang sosial, RAS, dan karakteristik sifat yang berbeda. Mereka menyebutkan angan-angan mereka di masa depannya.

Bagi saya, iklan ini adalah pesan sosial yang terjadi di Kota Jakarta saat ini. Entah lah, ketika saya menyimak iklan ini, tanpa sadar bibir saya melebar, dan spontan tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala, “WOW SAKIT NIH ORANG !”

Di Iklan pertama, itu ada anak perempuan berbaju sekolah dasar yang bilang,“Cita-cita ku ingin menjadi executive muda”anak kecil itu duduk di ayunan usang, yang berada di tengah-tengah rumah susun yang tak terawat. Kemudian ada anak laki-laki bertubuh lusuh berada di rongga-rongga jalan sambil menolakkan tangan di pinggang sambil dan berkata, “Aku mau jadi Bos!” . Dan begitulah seterusnya.

Menurut saya, talent yang digunakan anak-anak memiliki makna masa depan yang terjadi saat ini. Artinya, gambaran kerasanya anak jaman sekarang, dengan tontotan profesi yang selalu digambarkan oleh orang banyak kota Jakarta, bahwa orang sukses adalah dia yang berdasi, berbicara inggris, hang out, yang semua itu tujuannya adalah gengsi.

“Enggak peduli pekerjaan lo cuman angkat kertas bekas, atau bawa-bawa laptop ke sana ke mari. Atau bisa jadi, enggak peduli dengan gaji yang enggak seberapa selagi masih ada penolong dalam kesulitan, yakni mi instan”

Jika tampilan kita berdasi dan berbaju necis, orang lain akan bilang kita adalah orang yang memiliki segudang kesibukan yang menghasilkan uang banyak. Padahal dalam kenyataannya, menurut saya iklan ini menggambarkan budaya konsumtif para warga Jakarta yang lebih mementingkan image luar dibanding kualitas itu sendiri. Talenta anak kecil menggambarkan betapa jujur/nyatanya fenomena yang disebutkan itu semua. Tidak ada kebohongan di sana.

Kebayang dong, kalau gaya hidup kita terus-terusan seperti itu. Wah, saya sebagai warga kota satelit yang juga mencari penghidupan di Jakarta, menyadari sekali bahwa orang-orang yang tadi disebutkan oleh talent iklan 3, sering sekali saya temukan di Jakarta. Bahkan saya pun pernah mengalami demikian. Harus saya akui, di Jakarta kehidupan individu cukup mencolok. Dan satu yang menyatukan tiap individu, yaitu kesamaan strata sosial. Akhirnya, mau tidak mau, warga Jakarta akan berpikir, “Gimana caranya kek, yang penting gue survive di kota ini.”

Pertanyaan besarnya adalah, ” Kenapa gaya hidup itu harus disebut cita-cita oleh talent?”

Jawabannya adalah, Karena gambaran itu merupakan satu-satunya pilihan hidup yang bisa dipilih saat ini, yang akhirnya disebut dengan sebuah kenormalan, sehingga di akhir iklan ada kesimpulan yang bisa kita ambil, bahwa “Menjadi orang gede menyenangkan. Tapi susah dijalanin”.

Konsep iklan ini menurut saya sangat cerdas. Kenapa, membuat semua orang tersentil dengan ungkapan-ungakapan jenaka yang sebenarnya menyakitkan. Yuk ah, move on dari budaya konsumtif. Dan mulai dari sekarang beralih kepada hal yang produktif dan memiliki kreatifitas tinggi.

*terlepas dari harus membeli provider 3 tentunya

adioss..

 

Iklan