AKU LAH JAGOAN NEON

“ Pernahkah kamu paham dengan konsep diri ? “.

Pertanyaan itu, membuat saya berpikir lagi dan lagi. Berulang-ulang saya pahami pertanyaan dari seorang trainer, yang pernah mengisi acara “ Trainning Menatap Masa depan “. Acara itu,adalah acara ketika saya duduk di kelas tiga Sekolah Menengah Pertama ( SMP ). Acara yang diselenggarakan oleh kakak-kakak nurul fikri daerah depok, itu dibuat, untuk memberikan motivasi para murid SMP yang ketika itu, akan bersiap – siap menghadapai ujian akhir nasional.
Saya ingat sekali, di acara itu, saya datang terlambat. Namun, saya lupa, alasan apa yang membuat diri saya telat dalam acara tersebut, yang saya ketahui adalah, jujur saya sangat malas untuk datang ke acara tersebut. Kebetulan acara tersebut, diadakan pada hari Minggu. Hari dimana, setiap insan yang ada, merasa malas jika harus melakukan berpergian di hari libur. Karena ketika itu, saya memegang amanah sebagai ketua rohis SMP 85 jakarta, akhirnya seorang kakak alumni, membujuk saya dengan susah payah, untuk hadir pada acara tersebut. Akhirnya dengan langkah berat, saya menuju tempat pelatihan tersebut. Mungkin, alasan tadi yang menjadikan saya bisa telat mengahadiri training itu.
Ketika itu, semula saya kira, acara tersebut membosankan. Selain itu, peserta yang hadir pun, pasti sangat sedikit. Tentu, orang yang datang, tidak lain adalah mereka aktivis rohis di sekolah masing-masing. Gambaran tersebut,membuat saya merasa semakin tidak bergairah untuk mengikuti training. Sampai di sana, sontak, saya terkejut. Hipotesis yang sudah ada di angan-angan bayangan, terbang tanpa sisa. Keadaan yang ada, berbalik seratus enam puluh drajat. Peserta yang hadir sangat banyak. Peserta memang berasal dari berbagai macam jenis SMP Jakarta dan sekitarnya. Satu orang yang pertama kali saya temukan adalah, kak Ridwan. Kakak Alumni saya. Dan beliau lah, yang memberikan kode kepada saya, seraya berkata, “ Akhirnya Datang Juga!! “. Sedangkan saya, saya hanya tertawa kecil tidak ikhlas.
Setelah acara registrasi, saya segera memasuki ruangan yang penuh dengan peserta. Karena saya, peserta yang datang terlambat, saya duduk di tempat duduk paling belakang. Tidak lama, ketika saya ingin duduk, kakak trainer, menunjuk saya, dan mengajak saya untuk maju ke depan. Benar-benar terkejut saya dibuatnya. Mengapa harus saya yang maju, padahal kepala yang ada, sudah tidak bisa dihitung dengan jumlah jemari tangan. Akhirnya mau tidak mau,saya pun maju dengan langkah-langkah malu ala Anak Baru Gede ( ABG ).
Di depan audience, saya disuguhkan pertanyaan, “ Siapakah dirimu?? ‘. Mendengar pertanyaan si kakak manis bertubuh tinggi itu, saya hanya tersenyum, kemudian saya menjawab, nama saya dengan suara yang berusaha untuk tenang. Sok tenang tepatnya. Kemudian, kakak trainer itu, bertanya lagi, “ Siapakah dirimu? “. Mendengar kembali pertanyaan darinya, saya pun mengulang jawaban saya. Tidak lama, trainer itu, bertanya lagi pertanyaan yang sama. Benar-benar bingung dibuatnya, sayapun memandangi trainer itu, dengan mengernyitkan dahi, sambil berpikir, kakak ini, apakah Tuhan?, sok-sok nanya tiga kali, “ Siapa Tuhan Mu? “. Dan kali ini, saya menggaruk bingung. Melihat kebingungan yang dipancarkan wajah anak setengah ingusan di depannya, trainer itu, memberikan instruksi,
“ Jawab saja, yang ada dipikiranmu!! “ .
akhirnya saya, menjawab dengan sesuka hati saya. “ Saya, Kantry Maharani, kelas 3 di SMP 85 Jakarta. Saya, tinggal di depok, saya anak ke dua dari tiga bersaudara, hobi saya jalan-jalan, baca buku, dan nulis. Saya ke sini bareng papah saya. Tadinya saya malas sekali datang ke acara ini, tapi karena kak ridwan…”, saya menunjuk ke arah Kak Ridwan yang sedang duduk di samping.
“ Karena kak Ridwan, menyuruh saya untuk datang ke sini, saya nanti bisa dipanjamkan CD PS, jadi saya datang ke sini. Maaf ya kak!! “. Semua yang ada saat itu, tertawa geli mendengar perkataan saya. Trainer itupun, ketawa. Kemudian trainer itu, memberikan instruksi kembali.
“ Ada lagi yang mau dijawab? “.
Saya pun menjawab, “ Walaupun terpaksa datang ke sini, saya senang. Udah gitu aja “. Entah mengapa, yang datang, bertepuk tangan. Saya melihat ekspresi kak Ridwan, ia menggeleng mungkin merasa malu, dengan adek kelas yang lugu, berasa polos lebih tepatnya, berani membongkar rahasia dapur. Hahahaha..
Balik ke acara, trainer itu kemudian memberikan saya spidol. Ia menyuruh saya, untuk menggambarkan, sesuatu yang mencerminkan diri saya. Hitungan ketiga saya diharuskan untuk menggambar. Sama sekali tidak ada waktu untuk berpikir. Jujur, saya menjadi panik. Karena pada dasarnya, saya tidak bisa gambar. Gambar yang saya bisa adalah gunung, sawah, rumah, perahu, laut-lautan, pohon, ikan, dan gambar dasar lainnya. Akhirnya, saya gambar kotak, dari gambar itu, saya mengingat bahwa dahulu, papah saya mempunyai lampu neon, berbentuk kotak. Kemudian, saya pun menggambarkan lampu neon di papan tulis. Lengkap dengan kabel-kabelnya.
Selesai, menggambarkan lampu neon itu, saya ditanyakan kembali. “ Kantry, kenapa kamu gambar lampu neon? “.
Sesegera mungkin saya menjawab, “ Lampu neon itu, lampu kesayangan saya kalau mati lampu, lampu neon itu yang membantu saya ngerjain PR, belajar buat ulangan, makan, tidur, macem-macem kak “.
Kemudian, kakak trainer itu, menyuruh saya untuk kembali ke tempat duduk. Kakak itu, kemudian menjelaskan, apa itu konsep diri. Sebelumnya, kakak trainer itu, bertanya kepada salah satu peserta, “ Pernahkah kamu paham dengan konsep diri? “. Entah mengapa peserta yang ditanya, hanya celingak-celinguk, seraya mengepulkan sinyal S.O.S kepada teman yang duduk di sampingnya. Tidak lama, peserta yang panik itu, menggeleng, antara menjawab tidak pernah ataukah tidak paham dengan pertanyaan trainer tersebut hampir sama, yang penting biar cepet menggeleng saja dulu. Ckckckckc..( hahaha..itu mah gue..)
Balik ke cerita lagi. Kakak trainer melihat keputus asaan para pesertanya, ia pun mengakhiri sistem komunikatif dengan kami semua. mungkin dalam hatinya, ia berkata, “ Nih panitia salah kirim undangan kali ya??!!,,anak-anak kayak begini diundang “. ( Mulai deh, bayangan saya saat itu, mulai kacau, hehe..)
Kakak trainer segera menjelaskan arti sebuah konsep diri. Bla..bli..blu..ble..blo…dengan segala gambara visual yang mungkin menarik buat sebagian kalangan, trainer itu suguhkan. Namun sayang, saya justru menilai, kenapa harus ada teori gajah mulu yang ditonjolkan. Dari beberapa pelatihan yang saya ikuti, pasti saja, tidak jauh-jauh dengan visualisasi gajah. Hello..!!, We are not stupid kids, You Know..!!, Hippiew mengenal para binatang lagi..??!!, heran Deh..!!.
Tapi, yasudahlah, saya ketika itu, masih menjadi ABG yang labil ( Ababil ). Jadi apa yang dibicarakan trainer, tidak serta merta saya telan begitu saja, perlu penyaringan, namun sayangnya penyaringan yang salah besar. Hehehe..
Lanjut yaa..
Percaya atau tidak, sebenarnya, saya tidak begitu paham dengan apa yang dibicarakan trainer muda nan manis itu. Justru yang sedang saya pikirkan, “ Kok Bisa Saya, menggambar neon yang udah gag tau, sakarang ada di mana, itu? “. Kalau mendengar setengah-setengah dari kakak trainer itu, bahwa konsep diri, itu sangat penting untuk merefleksikan masa depan. Kok jadi horror juga ya, mendengar pernyataan kakak trainer tersebut. Artinya apa, bahwa konsep diri, itu benar-benar penting. Dan efek dari konsep diri itu, membawa pengaruh yang sangat jauh, yang nanti akan dilihat beberapa tahun kemudian. Alhasil, konsep diri dalam bentuk lampu neon, yang saya gambar, memiliki makna apa ya??. Itu dia, yang membuat saya berpikir sampai tidak bisa tidur, tidak bisa makan, tapi anehnya bisa maen playstation ( Nah loh?! ).
Akhirnya, saya menemukan, makna sebenarnya tentang lampu neon. ( Ehem..kali ini serius euy..)

Lampu Neon, jika kita amati, Lampu Neon, itu terdiri dari beberapa rakitan elemen-elemen listrik yang terangkai ke dalam sistem elektromanika dan unsur kimia. Lampu Neon, dibuat, Karena atas dasar, kebutuhan. Namun, jika diteliti, Neon terkadang dianggap sebelah oleh banyak orang, Neon hanya sebagai pengganti, karena Neon sewaktu-waktu dapat dinyalakan dan dapat juga dimatikan. Selalu kontra dengan malam, dan siang hari.

Akan tetapi…
Saya sadar itulah saya. Saya adalah makhluk yang diciptakan dari senyawa kimia dan tanah liat hingga membentuk sisem elektromanika dan unsur kimia yang membentuk metabolisme. Neon akan menjadi penerang bagi setiap kegelapan, namun, neon akan tetap menyala jika sudah tidak gelap. Saya pun demikian, saya ingin menjadi penerang dikala kegelapan, namun saya juga dapat diperlukan walaupun terang menderang. Saya ingin membantu orang dengan kapasitas daya yang saya miliki. Karena Neon dapat menyala dengan mencolokkan kabel ke pusat listrik. Sebuah tenaga besar di luar diri Neon. Ataukah Neon juga bisa dipasang baterei. Itu membuat saya semakin sadar, bahwa Neon adalah saya, saya tidak bisa berfungsi apabila tidak ada bantuan dari orang lain. Saya pikir, ini sangat penting untuk dipahami, bahwa tanpa orang tua, kakak, adik, saudara, guru, sahabat, suami, anak, bahkan yang sangat penting adalah Allah, karena saya, saya hanyalah manusia biasa, yang memiliki kemampuan terbatas.
Biarkan saya menjadi Neon. Walaupun dianggap sebelah mata, saya akan tetap menjadi Neon, tetap menyala dikala gelap ataupun terang, dan hanya dapat mati tak berfungsi jika kekuatan elemen saya rusak.

Iklan

Keterbatasan ku Sebagai Manusia

Kemarin, hari Rabu, tanggal 25 November 2009, saya mendapat teguran yang luar biasa. Teguran yang memiliki sejuta makna, tentang arti sebuah hidup. Siang hari yang entah mengapa, kota Jatinangor begitu teduh. Matahari yang katanya memancarkan kekuatan maha panas dari Sang Pencipta, ketika itu berubah menjadi damainya gumpalan awan, di sore hari. Begitu bersahabat.

Pukul 13.00 WIB, setelah menenunaikan amanah saya sebagai mahasiswa, saya mengingat bahwa ada agenda yang sama – sama memiliki bobot amanah luar biasa lainnya. Untuk itu, sesegera mungkin, saya menuju rumah rakyat. Saya sering menganggap rumah itu adalah rumah impian. Impian bagi semua jiwa yang peduli dengan nasib bangsa ini. Sekilas terdengar sangat idealis, akan tetapi saya yakin, impian kecil yang bermula di rumah itu, adalah impian untuk masa depan.

Sesampaianya di sana, rumah itu sepi oleh penghuninya. Hanya ada saya, dan seorang teman baik, Luthfan. Ada rasanya saya segan untuk menunggu hingga pukul 14.00 WIB, sehingga ada keinginan untuk menuju kosan dahulu. Namun, hati kecil saya, berkata, tidak ada salahnya saya menunggu di rumah itu, dan melakukan hal-hal yang bermanfaat. Ya, searching data untuk acara Sekolah Anti Korupsi.

Selang lima belas menit, Luthfan, berpamitan untuk kuliah. Akhirnya, hanya saya yang mengisi kekosongan di rumah itu. Ada beberapa kejadian, yang terjadi selama saya searching data di suatu ruang kerja di rumah itu. Pertama, datang dua orang bapak dengan kisaran umur empat puluhan, lebih muda dari Bapak saya tentunya. Kemudian, seorang dari mereka, menyatakan, untuk kesediaan agar dinding di rumah rakyat itu, dipoles kembali dengan cat berwarna krem. Mengetahui hal tersebut, saya bimbang. Akhirnya, saya berkata, bahwa polesan yang sudah terlihat, masih bagus, dan tidak usah kembalidipoles dengan warna yang berbeda. Kerendahan hati sang bapak, luar biasa, akhirnya mereka berdua, pun menerima pernyataan saya.

Setelah kedua bapak tadi menghilang dari pandangan saya, saya melanjutkan kembali duduk di depan layar komputer. Selang sepuluh menit, samar-sama saya,mendengar ada suara salam dari arah luar. suara itu, lama-lama menjadi jelas. Demi mengetahui kebenaran sapaan itu, saya menuju pintu. Benar saja, di hadapan saya, berdiri seorang bapak tua. Kali ini, saya yakin, bapak itu, lebih tau dari bapak saya. Kira-kira bapak itu berumur lebih dari setengah abad. Bapak itu, menggunakan pakaian layaknya seorang pegawai negeri. Berwarna hijau, dengan menggunakan sepatu pantofel, dan mengenakan topi.

Saya melihat, tangannya gemeteran. Kemudian saya pun, menanyakan keperluan beliau dating ke rumah rakyat tersebut. Dengan suara yang parau, bapak itu, berkata, “ Ada Neng Indri nya? “. Mendengar ucapan bapak itu, saya langsung mengingat seorang teteh baik hati, di organisasi yang saat ini saya jalani. Teteh itu, sudah lulus setahun yang lalu, tentu saja, sudah tidak memegang amanah lagi di rumah rakyat ini. Saya segera memberitahukan kabar bahwa teh iin yang dimaksud sudah tidak memegang amanah lagi di sini.

Mendengar kabar yang saya lontarkan, saya melihat ekspresi wajah sang bapak, pucat, lemas, dan tangannya semakin bergetar. Lalu saya, tanyakan kembali, apa gerangan yang membuat bapak itu mencari teh iin. Dengan rasa ragu-ragu, bapak itu, mengeluarkan dua kertas resep obat. Ada hipotesis di benak saya, “ apakah bapak ini akan meminta sumbangan??,,”, jawabannya bias jadi. Sebab, sudah beberapa kali ada orang yag datang ke rumah rakyat ini, untuk meminta belas kasihan, dengan dalih apapun.

Kembali ke bapak itu, bapak itu, kemudian cerita, bahwa beliau sering dibantu oleh anak-anak bem. Terutama teh Iin dan Jikun ( Baca : Jimmy Kuncoro ), Kemudian, bapak itu juga menceritakan, bahwa teh iin sering menebus obat istrinya. Kang Jikun, juga sempat datang ke rumah beliau, dan melihat kondisi istrinya. Suara bapak itu semakin parau. ada statement yang membuat saya semakin bertanya, “ Apakah benar dengan cerita yang diucapkan bapak itu? “, beliau berkata, bahwa, “ Biarkan saya, dianggap minta-minta, ini demi istri saya, saya sudah tahu harus bagaimana, untuk menebus obat spray asma, saya tidak mampu membayar obat itu, uang hasil saya kerja sebagai tukang bambu tidak cukup. Hanya Allah yang tahu. Dan bapak itu menunduk lesuh. Saya juga menanyakan, apakah beliau sudah melakukan advokasi dengan kartu kesehatan miskin?, bapak itu menjawab, pihak puskesmas tidak menerima kartu itu, dan ahrus membeli obat tersebut.

Jujur, ketika itu, saya bingung harus seperti apa, satu sisi berhati-hati dengan segala kejahatan dengan modus apapun. Namun di satu sisi, saya melihat ada kejujuran berujung harapan besar di mata bapak itu. Saya ingin membantu, saya menyadari bahwa uang di dompet saya, hanya ada dua puluh ribu. Saya yakin, untuk menembus obat itu, tentu ada hal urgensi yang melatarbelakangi bapak itu untuk mencari teh iin. Tak lama, bapak itu pergi dari pandagan saya.

Kejadian itu “menampar” diri saya. Pertama, ini menyadarkan saya bahwa, jumlahan rupiah, yang masih terkadang saya keluarkan untuk sesuatu hal yang tidak bermanfaat. Padahal dalam kenyataannya di belahan kehidupan lain, ada orang yang sangat susah mencari uang. Kedua, ini menyadarkan saya, tentang Kontribusi apa yang sudah saya lakukan selama ini?, artinya ketika itu juga, saya mempertanyakan apa yang sudah saya lakukan untuk orang lain.

Jika selama ini saya bangga dengan segala dinamika organisasi yang saya jalani, ternyata saya sebenernya, saya hanya melakukan sedikit untuk orang lain, sudah sedikit, tidak menyentuh mereka. Setiap aksi-aksi demonstrasi turun ke jalan, kerap kali saya lakukan dengan dalih “ Untuk Kaum Miskin “, apakah ini kontribusi saya??. Hingga hal sekecil ini, kejadian bapak tua itu datang, saya tidak bias melakukan apapun.

Ingin rasanya saya, mengejar bapak tua itu, kemudian saya menangis di telapak kaki beliau, dan mengucapkan maaf, dengan beribu kata maaf. Walaupun hanya maaf.

Semua kegiatan yang berusaha saya evaluasi. Di dunia politik, yang katanya benar-benar memperjuangkan kepentingan rakyat, itu harus di evaluasi. Percuman jika kita piawai dengan segala strategi dan retorika, jika itu bukan untuk rakyat miskin.

Ya, Rabb, saya ingin, menjadi orang yang dapat membangkitkan senyum mereka, yang selalu tertindas di atas tirani. Saya sadar, saya memang lemah, hanya itu yang saya dapatkan katakan.

Semoga apa yang saya dapatkan kali ini, menjadi bahan renungan utnuk diri saya, untuk perubahan masa depan yang lebih baik. Amin.

Opini, Agitasi Propaganda dan Pers Mahasiswa

“ We can’t not Communicate “, Wilbur Scrahmm.

Tentu manusia tidak dapat jika tidak berkomunikasi. Karena bagaiamanapun, komunikasi adalah kegiatan bagaimana manusia me-apresiasikan keinginannya kepada individu lain. Komunikasi tidak hanya berbentuk verbal, akan tetapi juga dalam bentuk non- verbal. Orang yang tidak mampu mengeluarkan keinginan dalam bentuk suara, ia masih bisa melakukan dengan memberikan simbol – simbol, logo, tulisan, bahkan gesture tubuh. Sebab, sadar atau tidak sadar, manusia berkomunikasi untuk menunjukan eksistensi dirinya di hadapan orang lain. Eksistensi jika dikaitkan dengan hasrat manusia, termasuk pada hasrat pengakuan. Dan ini jelas wajar, sebab merupakan sifat dasar manusia.

Dari sekian banyak mahasiswa Unpad, tentu sudah kebayang, bagaimana kegiatan komunikasi dimana sebagai wadah apresiasi dan eksistensi tersebut, berjalan hingga menyentuh grass root. Jika lembaga mahasiswa tersebut tidak memberikan wadah komunikasi antara Lembaga mahasiswa dengan konsituennya, bayangkan jika, tidak ada wadah untuk me-aspirasikan suara, dalam suatu pemerintahan?, tentu Blinded Government. Pemerintah sama sekali tidak mengetahui apakah keinginan dari rakyatnya, dan apakah sudah sampai kebijakan yang dikeluarkan berhasil atau tidak. Jawabannya, tentu tidak. Pemerintah bukanlah peramal yang dapat meraba-raba atau memprediksi sesuatu tanpa perhitungan. Utnuk mencari perhitungan yang dimaksud, salah satunya adalah Media.

Media,merupakan hasil proyeksi dari Komunikasi Massa, memiliki kekuatan sosial yang kuat. Hal tersebut dikarenakan, efek dari media adalah, dapat menggerakan proses sosial ke arah suatu tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Tentu, efek yang dihasilkan tidaks emudah itu, pada tahap media, kita harus dapat me-analisis psikologis dan analisis sosial. Analisis psikologis adalah, bagaimana kita dapat menimbang dan memperhatikan adanya kekuatan sosial yang meruapkan hasil kerja dari setiap watak serta kodrat manusia. Sedangkan analisis Sosial, adalah bagaimana kita dapat melihat sebuah peristiwa sosial yang dihasilkan dari komunikasi massa dengan penggunaan media massa yang sangat unik serta kompleks.

Apa yang sudah menjadi kinerja Media, idealnya kita sama-samamengetahui bahwa media sangat berpengaruh untuk merubah perilaku sesorang akibat dari terpaan media secara terus menerus. Terpaan Media dalam bentuk pesan yang disajikan oleh Media, menjadi modal utama kesuksesan dalam efek media. Dengan demikian, timbulah opini publik, yang tertanam dalam diri publik, yang diakibtkan pesan, sebagai referensi opini mereka dan opini publik itu sendiri sangat berpengaruh terhadap stabilitas regulasi pemerintahan. Untuk itulah, diperlukan Pers Mahasiswa di dalam suatu pemerintahan.

Pers sendiri, dalam kenyataanya, merupakan pilar keempat setelah eksekutif,legislatif, dan Yudikatif. Hal tersebut, diperkuat karena apa yang terjadi semua sejarah pergerakan perpolitikan Indonesia bahkan dunia, dapat dinamis akibat dari terpaan media, yang menjadi social controll pemerintahan. Bgitupula dengan Unpad. Unpad adalah replika negara Indoneseia, apakah mungkin sebuah itikad baik, serta social controll tersebut berjalan sehat?, jawabannya sudah pasti belum tentu.

Pers Mahasiswa Unpad adalah lembaga pers mahasiswa yang bersifat independen. Tidak dapat dikriminalisasi layakanya KPK, ataupun mendapat intervensi dari kalangan manapun. Karena secara strukturnya pun, pers mahasiswa memiliki undang-undang, dewan pers mahasiswa, dan kode etik jurnalis yang harus diakui oleh konstituen pemerintahan.

Peran dari pers mahasiswa, sama dengan peran dan fungsi pers pada umumnya. Propaganda, Agenda Setting, dan Agitasi sudah pasti taktik dari media untuk me-kontrol pemerintahan.

-Salam Gebrak Pers Mahasiswa Unpad-