Bermalam Menjadi Manula

Sabtu malam ini entah mengapa sunyi ku gapai. Walau di tengah keramaian penyambutan sekembalinya penugasan ku menjadi Tenaga Kerja Indonesia di ZOM Singapura. Mereka memberika senyum, peluk, dan kata-kata hangat yang menggambarkan kerinduan tiada tara.

Perasaan ini sungguh berbeda ketika terakhir ku tahu, Ibu ku sedang dirawat di rumah sakit, dengan penyakit yang belum aku ketahui. Perasaan ini cukup membelengu hati yang berdenyut kencang. Segala impian menjadi sirna seketika, pada saat wajah Ibu membekas dengan jejak.

Aku baru saja tiba di Singapura pada jumat pagi. Dan, mau tidak mau aku pun harus memutuskan mengambil cuti untuk ke Indonesia. Walau Ayahku sebenarnya tidak menyuruhku untuk datang ke Indonesia. Tapi, entah mengapa hati kecil selalu berbisik seolah mendesirkan angin tanah air di mana tetes air mata Ibu ku berada.

Minggu, pukul 11.00 WIB Aku pun tiba di Rumah Sakit Jakarta Medical Center (JMC). Barulah ketika bergegas menuju kamar, aku menghubungi Ayah untuk mengetahui keberadaan kamar inap. “Lantai 5, kamar 503”. Itulah kamar di mana Ibu ku menjalani perawatan opname. Bagian kelima dari bangunan ini sangat bersih, dengan taman atas “roof top” yang mengahadap ke jantung ibu kota bagian selatan.

Kamar ibu ku tepat berada di ujung lorong dekat lift. Sangat mudah ditemukan. Terlihat oleh ku, hanya ada sepatu usang berwarna hitam milik Ayah terjejer rapih dekat pintu masuk. Ku rasa Ayahku sedang berada di dalam. Benar saja, ketika ku buka pintu, aku melihat Ayah sedang menyuapi Ibu bubur sumsum yang diberikan oleh rumah sakit.

“Assalamualaykum..”. Salam ku pelan.

Mereka dengan bersamaan menoleh senyum hangat sambil membalas salam, “Waalaikum salam”

Ku raih telapak tangan Ibu ku yang hangat, lalu menciumnya. Tangan Ibu cukup bersih walau ku tahu, rasa sakit harus mendera karena selang infus dan sejumlah anti biotik. Begitu juga dengan Ayah, tangan Ayah seperti biasa keras dan berurat. Wajahnya yang lelah, sangat melihatkan bahwa ia kurang tidur akhir-akhir malam ini.

Suasana kamar ini cukup nyaman. Hembusan angin dari pendingin udara yang sejuk membawa ketenangan bagi siapa pun yang masuk. Ada juga televisi plasma berukuran 42 inci, dan sejumlah fasilitas rumahan lainnya, seperti wetafel, sofa, kamar mandi, dan kulkas. Akan tetapi, kenyamanan itu tidak memberi kenyamanan sesungguhnya bagi Ibu ku. Setelah ku tahu, baginya setiap malam-malam yang dilalui begitu sepi.

1959729_734454023243484_1479504395_n

“Infeksi hati”. Ucap Ayah memberitahuku kondisi penyakit yang diderita oleh Ibu. “Besok harus di USG, Kata dokter karena takut ada bermasalah di saluran pencernaannya”.

Itulah yang Ayah sampaikan kepada ku, di depan Ibu secara langsung.

“Kok bisa?!. Emang kemaren gimana?. pingsan atau gimana?”. Tanya ku penasaran. Maklum, karena sebelumnya aku tidak diberitahu kronologis gejala awal penyakit Ibu.

Kali ini Ibu ku mencoba menjelaskan kondisinya ketika itu. “Jadi, tuh kemaren mamah pusing, perut sakit, buang air terus. Dilalah, mamah takut kenapa-kenapa, langsung aja masuk IGD sini”.

Aku mencoba duduk di samping Ibu sambil menyuapi buah-buahan yang sudah disiapkan oleh rumah sakit. Sambil mengobrol beberapa alasan bagaimana kerjaanku di SG, dan sesekali mengobrol seputar isi berita yang kali ini sering dipertontokan oleh kami, yakni keputusan majunya Jokowi menjadi Capres RI. Ruangan ini, tidak lagi seperti berada di rumah sakit. Canda tawa serta obronlan ringan membuat hangat saya, ibu dan ayah.

“Jadi, belum ada yang nengok ke sini mah?”. Tanya ku heran.

Ibu meghela nafas berat, bayangnya seolah menunjukkan kesedihan, ia pun menjawab “Belum”.

“Dari sekolahan mamah, orang-orang komplek, saudara-saudara juga enggak pada nengok?”. Tanya ku sekali lagi, demi memastikan.

Dengan raut wajah yang benar-benar lusuh, Ibu hanya menggeleng pasrah. Seolah mengalihkan suasana, Ibu menyuruhku mencharge blackberry di dekat kulkas. Telepon genggam Ibu dalam kondisi mati tak bersisa energi. Aku pun mencoba menghidupkan kembali.

Iseng ketika ku buka lemari es di ruangan ini, yang ternyata sangat kosong. Tak berisi. Bahkan di meja samping Ibu, tidak ada makanan atau minuman yang sewaktu-waktu diperlukan Ibu. Begitu juga dengan kondisi kamar mandi. Tidak ada sendal jepit di sana, dan bau kamar mandi yang tidak enak dicium oleh siapa pun yang masuk ke dalamnya.

Aku sadar, tentu Ayahku cukup sibuk untuk masalah administrasi dan mengurusi ibuku, sehingga untuk urusan yang lain, tidak sempat ia jamah. Sekilas, sempat berfikir, ke mana kakak dan adik saya?!. Argh, ternyata mereka berdiam di rumah. tidak ikut bermalam di sini. Akhirnya ku putuskan untuk berjalan menuju mini market dekat rumah sakit sambil membeli beberapa makanan, minuman, dan perlengkapan lainnya. Tidak lama aku kembali di kamar Ibu, sudah terlihat kakak dan adikku, yang datang menengok.

“Di kulkas itu harus ada makanan ringan, minuman. Minimal kalau enggak buat yang jaga, bisa dikasih ke tamu yg dateng”. Ucapku, sambil memasuki satu persatu beberapa manakan ringan dan minuman.

Akhirnya ku putuskan untuk bergantian bermalam untuk menjaga. Aku biarkan Ayah, kakak, dan adik pulang istirahat di rumah. Biarlah esok pagi, Ayahku bisa datang dengan kondisi yang segar bugar.

Dan cerita bermalam menjadi manula itu, dimulai dari sini…

Menjelang petang, Ibu menyuruhku untuk membacakan Almatsurat di dekatnya setelah ia sholat dengan berbaring. Mulutnya mengikuti kalimat doa yang ku ucapkan. Suasana ini cukup hening, ketika menjelang menunggu sholat Isya, kembali ia meminta ku untuk mengaji di dekatnya. “Tri, Mamah suka kalau denger kantri ngaji. Ngajiin deket mamah ya”.

Hingga kurang lebih lima belas menit, dokter dan suster memasuki ruangan dengan ramah. Ibu ku diperiksa sambil mengingatkan untuk esok menjalankan periksa USG.

Ketika waktu makan tiba, aku menyuapi mamah menyantap makan malamnya. Satu persatu lauk, dan sayuran aku suap hingga habis ia lahap. Harus bersyukur, nafsu makan Ibu ku bagus. Sehingga ia tidak terlalu menyedihkan. Sesekali, ia juga ingin aku menyupai kue-kue kering yang aku beli tadi sore.

Di sela-sela itu, Ibu mengungkapkan bahwa ia tidak memberitahu kepada siapa pun mengenai kondisinya yang dirawat. Tapi, sungguh ia bercerita cukup sendu. Entah apa yang ada dipikirnya. Ia ingin dijenguk oleh saudara dan kerabat, sedan ia tidak memberitahukan kepada mereka tentang kondisinya. Ini lucu.

Akhirnya mendengar rintihan itu, aku berusaha membuka blackberry ibu kemudian aku kirim bebrapa pesan di BBM ke saudara dan kerabat. Bahkan, saya mengambil fotonya untuk diunggah di facebook, tanpa sepengetahuannya.

Hari menjelang larut, Ibu dan aku pun berusaha untuk istrahat. Namun apa yang terjadi, Ibu ku tidak bisa terlelap. Aku yang berusaha tidur di sofa, harus berkali-kali terbangun karena berkali-kali itu juga Ibuku memanggil aku, baik minta tolong untuk membuang air, atau hanya memanggil nama saja. Pernah ketika aku mulai terlelap, ibu ku meringis kesakitan di perut.

Aku tersigap bangun, dan segera menanyakan kondisinya. Dengan lemas, ia meminta ku untuk membasuhi minyak kayu putih di perutnya.

“Di sini, tempat kamu waktu masih kecil. Di perut yang kamu usap”. Ibu berkata dengan lembut.

Aku hanya terdiam.

“Mamah, tenang kali ya, bisa lihat kantri menikah sama laki-laki yang baik, yang sesuai sama cita-cita kamu dan hati kamu”. Kembali Ibu berucap yang membuat ku cukup terkejut.

Aku hanya tersenyum seolah mengamini. Lalu, mencium keningnya. “Sekarang mamah tidur”.

Ruangan ini, hanya terdengar detakan jarum jam yang menunjukkan pukul 03.00 WIB. Aku segera mengambil air wudhu kemudian bergegas sholat sunnah 2 rakaat. Namun, lagi-lagi aku harus memenuhi permintaan ibu ku. Hingga kedua kalinya aku mengambil air wudhu dan ku lihat Ibu mulai bisa tertidur pulas.  Aku pun tenang untuk beribadah.

Di waktu-waktu seperempat malam ini, aku mencoba mengamati raut wajah Ibu dengan dengkuran hebat di tenggoroknya. Tiba-tiba aku teringat dengan kondisi Kakek ku yang saat ini juga sedang sakit dirawat di rumahnya. Kakek ku sudah manula. Tubuhnya kurus kering, dengan kondisi lumpuh. Kini, yang menjaganya adalah keluarga besar di sana. Ada tente-tante dan om-om ku. Bahkan terakhir ku berbincang melalui BBM dengan sepupu ku yang juga ikut menjaga Engkong di sana. Ada satu pesan yang ia sampaikan kepada ku, “Jika sudah tua, pasti akan kembali mejadi anak kecil”.

Bagaimana Engkong yang tempramen, keras kepala, dan selalu merongrong kesakitan. Sedang anak-anak dan cucu-cucunya harus juga memikirkan tanggung jawab lain demi keberlangsungan hidupnya.

Bayang itu kini tertuju kepada Ibu ku. Ibu ku memang belum manula.  Tapi ia tentu akan manula. Belum begitu sangat manula pun, ia sudah sangat sensitif. Seperti kelakukan anak kecil yang ingin diperhatikan. Diberikan kejutan-kejutan yang membuat dirinya tersenyum dan menangis haru biru.

Kesepian, itulah masa manula itu. Seperti siang tadi, hanya ada Ayah yang menemani Ibu di rumah sakit. Bahkan sesekali mereka bertengkar konyol karena berbeda pendapat. Dan Ayah yang berusaha sabar menahan desakan keras kepala sang Ibu yang selalu ingin pulang. Untung Ayah ku orang yang sabar dan baik hati.

Di saat anak-anaknya, aku, kakak dan adik sibuk dengan urusannya, hanya Ayah yang bisa menjadi dahaga di keringnya kasih sayang.

Ah… Mamah.. maafkan anakmu..
Mungkin dulu, aku pernah meminta perhatian mamah dari segelumit kesibukannya.
Mungkin dulu, aku pernah protes karena ketiadaan mu di saat pembagian rapot sekolah.
Mungkin dulu, aku pernah menangis karena siang itu, kau harus meninggalkan ku untuk bekerja.
Tapi.. Hati ku sungguh tak kuasa membayangkan ketelantaran mu di masa tua oleh ku. Sungguh..
Aku mau, sampai kapan pun engkau bersedia mengeluh beban mu kepada ku.
Maafkan aku..

Pagi tiba waktu Ibu ku untuk di USG. Satu persatu, saudara dan kerabat berdatangan menjenguk. Ibu ku sempat terkejut. Hingga akhirnya ia mengetahui, itu karena inisiatif dari ku untuk memberitahui mereka. Untunglah, Ibu tidak marah. Ia hanya tersenyum, merekah bagai bunga yang kembali menyongsong mentari.

Mungkin, memang ada hal yang tidak lumrah menjadi lumrah dalam hidup.Mungkin, kita terlalu sibuk dengan kelumrahan yang berjalan dengan linear.

Hingga, kebahagiaan itu datang bukan dari seharusnya.

Tapi kita, tidak hanya otak, namun ada hati.
yang selalu menyentuh begitu melihat cinta yang seharusnya ada.

*Doaku.. untuk seluruh orang tersayang dalam hidup agar senantiasa sehat selalu..

 

Iklan