Interlude : Maya

INTERLUDE1_final-1

Kau beri segenap hati di sela rasa ketidakpercaya dirian. Kau, juga memberi hangat di tengah dinginnya hati yang hampir beku. Kau juga tahu bagaimana beri senyum di tengah masam menusuk ingatan.

Kau membuka setiap lembaran yang kosong untuk ku isi. Bahkan Kau pun juga tak tahu mulai dari mana. Kau hanya bisa memberikan malam dan siang, terik dan hujan, senja dan terbit, bosan dan riang, sedih dan bahagia, sendiri dan bersama, Entah untuk siapa dan ke mana tinta ku menggores pemberian mu pada halaman mu yang kosong.

Terlalu singkat nama mu pagi ini. Memecah rindu yang kosong ditelan malam. Meski, langit tahu kau sudah mulai dengan kata yang tak akan pudar di setiap rotasi.

Kau tahu amarah ini tak akan membendung. Karena kau juga tahu, ini terlalu singkat.

Ruang kosong itu mendadu tanpa pilih, tanpa lihat, tanpa ucap, hanya harap yang membisikkan realita. Dalam realita, setiap senyum kian nyata. Dalam realita setiap doa adalah harap, dan dalam realita dunia bukan lagi maya.

Kau percaya sulap itu nyata. Bermain trik dan dinamika penonton akan terkagum. Dunia ini hiburan, yang akan memberikan tontontan yang mengagumkan. Akankah maya ini akan berkhir sorak sorai dan yang gemuruh?, ataukah berubah menjadi pupus yang membekas?.

Mata kau, ku tahu tak satupun bekas di sana. Setiap wujud bermula maya menuju realita, tanpa bekas yang berjejak satupun. Itu kan yang diinginkan. Hanya dunia kedua, awal cerita dimulai. Jadi biarlah terombang ambing pada waktu yang kau tetapkan setelah melihat langkah ku tiada.

Terimakasih Maya. Kau telah merubah semua menjadi hiburan dunia ku pada waktu yang cepat. Toh, kita saling percaya dunia ini luas, masih ada tempat yang belum disinggah oleh mimpi. Sampai bertemu di dunia kedua. Karena Maya mu akan selalu hadir dalam ingatan yang diiringi oleh senyum bahagia.

Jimat Si Ibu

 

 

Sore itu, tepat di hari kedua lebaran, saya dan keluarga bersilaturahmi ke sanak saudara di daerah Cibatu, Garut Jawa Barat. Kebiasaan ini sudah sering dilakukan ketika masa-masa lebaran tiba. Maklumlah, Cibatu adalah kampung halaman Ibu Saya. Walaupun, saat ini orang tuanya (kakek nenek saya) sudah tidak ada, tapi tanah kelahiran sulit dilupakan. Tidak hanya bagi kami, bahkan saudara kami yang tinggal di Jakarta atau kota-kota lain sulit melupakan kampung kecil ini.

Kampung kecil yang memiliki cerita menarik masa kecil ke-20 cucu Aki Kosasih itu sungguh menarik untuk selalu kami ingat. Jika dahulu kami sering berkumpul di rumah panggung yang terbuat dari bilik bambu dengan air pancuran langsung dari gunung yang super dingin dan sejuk, atau bermain layang-layang di sawah dan rela berkotor-kotor karena harus berebutan layang-layang putus di lumpur sawah, mungkin ada lagi kebiasaan panjat pohon jambu kelutuk yang berdiri melengkung di depan rumah Aki, dan yang paling fenomenal kami ingat hingga saat ini adalah menunggu kereta delman Mang Enda (tukang delman langganan) semasa itu yang selalu kami cari ketika ingin muter-muter kampung kecil ini dengan kuda berwarna putihnya.

Bagaimana kami bisa lupa akan syahdunya pertemuan keluarga semasa kecil, pertemuan para sepupu yang segambreng itu, tumpah pada saat malam tiba. Kami semua tidur beralaskan tikar dan berubinkan bilik anyam bambu yang dingin dengan bau khas dari asap tungku dan corong bambu dari dapur. Saya ingat betul, ketika itu saya masih berusia 4 atau 5 tahun-nan tidur bersama di rumah panggung itu, dengan mengenakan jaket dan kaos kaki karena suhu yang sangat dingin. Maklumlah, depan rumah Aki adalah pegunungan yang jika dilihat cukup memberikan imajinasi menarik di pandangan anak kecil seusia saya ketika itu,

Pegunungan yang terlihat biru dengan bentukan liuk-liuk tubuh yang kekar serta ditumbuhin rimbunnya pepohonan seolah membentuk aneka bentuk liku tubuh binatang pada sisi tubuh pegunungan yang biasa disebut dengan Gunung Sawal dan Sancang. Bahkan saya masih ingat, saking polosnya, saya pernah berimaji setiap pagi, bahwa binantang-binantang itu akan berkumpul di Gunung itu dan mungkin akan berlari ke sana kemari, dan saya berdoa agar binatang itu tidak ke rumah Aki. πŸ˜€

Tidak hanya sampai di situ, jalur Kereta Api di Cibatu adalah tempat yang selalu saya rindukan. Dahulu, kami ketika ingin berkunjung ke Cibatu, kami selalu naek kereta api dan berhenti di Stasiun Cibatu. Kereta Api berlokomotiifkan senja utama itu, menawarkan gambaran menarik di kesan saya. Mulai dari terowongan panjang yang gelap, loko resto yang selalu saya kunjungi walau hanya membeli semangkok mie instan, dan angin semeriwing ketika kaca jendela pintu dibuka. Itu baru ketika menaiki kereta, bahkan setelah sampai di Cibatu pun, setiap sore saya selalu berlari menuju pinggir rel kereta api untuk melihat kereta api melewati dengan suara yang khas, dan apa yang terjadi, saya melambaikan tangan sambil bilang, “Dadah dadah dadah…”.

Aduh, rasanya ingin ketawa guling-guling kalau ingat masa kecil seperti itu.

Sekarang, kereta api menuju Cibatu sangat jarang. Terlebih moda transportasi kami sekarang sudah beroda empat, jadilah kami tidak pernah naik kereta api apabila ingin mudik. Padahal, masa kecil saya dan semua sepupu saya tumbuh dan berkembang dengan kesan menarik dari Kereta Api. Tapi, tidak apa. Apa pun yang berkembang saat ini harus disyukuri. πŸ™‚

Perjalanan saya selanjutnya adalah melewati daerah yang awalnya saya tidak tahu. Tepatnya, kami mencari jalan alternatif untuk menghindari macet di daerah Wanaraja. Jalan ini berada di sebelah kiri ketika pertigaan persimpangan pertama jalan menuju terminal Guntur. Jalannya sudah beraspal, tidak terlalu lebar, namun sungguh indah apabila dilalui dengan sepeda. Di jalan sebelah kiri akan ada danau dengan beberapa rakit serta perahu sampan. Airnya jernih, banyak pepohonan di sepanjang sisi danau tersebut. Lanjut jalan lagi, tidak lama, di sebelah kanan saya, muncul lagi danau yang mirip dengan sebelumnya. Tak sadar saya mendecak kagum. Ternyata tidak hanya saya, tetapi seisi mobil kali ini juga terpana. Bahkan banyak juga yang berkata, “Kok kita baru tahu ada tempat seindah ini ya?!”.

Tidak ada sampah yang berserakan, dan cukup tertata rapih. Kendaraan kami pun masih melaju, hingga kami menemukan Situ, yang biasa disebut Situ Banggendit. Kali ini Situ yang terkenal dengan cerita rakyatnya adalah obyek wisata yang selalu ramai di hari libur. Sayang sekali kami belum bisa melimpir ke sana. Tapi suatu saat, saya akan menjelajahi tempat ini dengan sepeda. Hm..kayaknya seru.

Tidak lama, saya baru ingat dengan cerita di balik Situ Banggendit. Bukan cerita rakyatnya, tetapi cerita seorang Ibu yang tidak sengaja duduk sejajar di Bus Primajasa tujuan Jakarta-Garut denga saya. Kebetulan pada saat itu, saya sedang sibuk mengurusi skripsi di Unpad Jatinangor.

Sepanjang jalan, Ibu itu bercerita bagaimana kisah anak-anaknya yang berjuang mendapatkan beasiswa hingga S2 dan kini sudah sukses di Jakarta. Ia pun bertanya tempat tujuan saya, sekolah saya, pekerjaan saya, dan usia saya. Ketika Ia mendengar usia saya, ia langsung terkejut. Kira-kira responnya dengan Bahasa Indonesia seperti ini,

“Aduh Neng, anak ibu yang perempuan teh lebih muda dari Neng. Lahir tahun 90”.

Ia terkejut, karena saya belum menikah sedangkan anaknya sudah menikah dan sudah memiliki satu anak. Ya.. saya sih mesem-mesem aja.

Terus, Ibu itu bercerita bagaimana anak perempuannya pernah mendapat beasiswa kuliah ke Jepang dan bekerja di sana. Tetapi, Akhirnya anak perempuannya tidak jadi pergi ke sana.

“Pernah anak Ibu dapet beasiswa sekolah sama kerja di Jepang waktu itu. Anak Ibu mah pinter. Itu, padahal udah siap berangkat di bis Neng. Eh dasar Ibu mah ya, bodoh pisan. Tiba-tiba teh, nangis gogoleran ciga barudak hayang maenan (nangis di tanah kayak anak kecil minta maenan). Jadi weh, si Teteh teu jadi pergi. Ibu nyesel nya mah sekarang”.

Saya hanya mendengar dengan sambil mesem-mesem lagi.

“Sekarang anak Ibu kerja di mana?”, Tanya saya kemudian.

“Di carefour Lebak Bulus”. Jawabnya lirih. “Karena kerja di sana, eh dapet orang yang kerja di carefour juga”. Tambahnya.

Ia menanyakan kembali, jurusan kuliah yang saya sambil. Ketika saya menjawab dengan serius, tiba-tiba Ia menoleh ke arah saya sambil berkata, “Hm..ari Neng, teh geulis nyak, Manis ciga teh Dede (Hm.. Neng cantik ya, mirip teh Dede)”.

Widiww.. saya yang tadinya bercerita semangat tentang kuliah saya, saya langsung kaku karena dibilang manis. hahaha..

“Aduh, Ibu makasih pisan. Saya jadi dipuji gitu”. Ujar saya dengan pipi yang mungkin merah merona malu.

Dan benar saja, si Ibu itu bercerita tentang Teh Dede, ponakannya yang orang Cibatu yang tinggal di Qatar, dan menikah dengan orang Arab. Di sana, ia sangat kaya. Bahkan, memiliki beberapa rumah di daerah Garut.

Obrolan kami pun terus berlanjut hingga Ibu itu menceritakan pekerjaan dirinya yang sebagai penjual baju kredit keliling kampung di daerah Situbanggendit. “Rumah Ibu caket etha ti dinya (Rumah Ibu deket di situ). Mampir atuh Neng kapan-kapan”.

Di tengah perjalanan saya menuju Cibatu sore itu, saya kembali menahan geli ketka ingat, obrolan ketika saya dan Ibu itu di Bus Primajasa. Ia tiba-tiba mengeluarkan secarik kertas bertuliskan huruf Arab gundul yang membentuk suatu lambang yang saya tidak tahu lambang apa itu. Ibu itu kemudian, membuka sambil mengumpat kertas itu agar tidak terlihat oleh orang lain

“Neng, ini teh jimat (Neng, ini tuh jimat)”.

Mendengar ucapan Si Ibu saya langsung tertarik. “Jimat apaan bu?”

“Ini jimat agar dilancarkan segala urusan. Yang lagi buka usaha agar lancar, yang lagi bekerja di kantor agar banyak rejeki, atau nih kayak Neng, lagi skripsi, bisa nih agar dilancarakan. Agar dosennya jadi cepet ACC. Atau Neng cepet dapet jodoh. Agar bisa memikat”

Lagi-lagi ucapannya bikin saya tertarik, “Coba liat bu, itu doa apaan bu?.”

“Ini teh Jimat. Neng mau?!. nih, Ibu kasih ini asli dari Arab. Ibu mah, masih ada di rumah. Si AA juga simpen ini di tokonya, eh alhamdulilah laku. Dilipet aja neng, taro di dompet”.

Waduuh, syirik ini mah, gumam saya dalam hati. “Oh, kirain saya ini dibaca bu. Enggak deh bu, makasih. Saya takut musyrik”.

“Bener Neng enggak mau?”. Lagi, Ibu itu meyakinkan saya sekali lagi.

“Enggak bu, terimakasih”. Tolak saya, masih sambil mesem-mesem.

Aduh, sayangnya saya tidak tanya alamat si Ibu itu. Coba kalau saya tahu alamatnya, pasti saya akan tahu kisah-kisah lain yang biasa ia sebut jimat itu. hahaha..

Ternyata, masih ada loh yang seperti itu. Naudzubillah. Banyak hikmah yang didapat dari cerita itu. Banyak simpulan yang bisa diuntai satu persatu. Ternyata dakwah, itu perlu disebar hingga ke pelosok. Karena besar kemungkinan memang masih banyak masyarakat yang masih percaya dengan hal syirik tanpa paham ilmunya. Itu sebabnya mengapa Islam mengajarkan untuk menyampaikan kebenaran walau hanya 1 ayat.

Di balik keindahan alam yang telah Allah berikan kepada kita manusia, akan rusak dengan ketiadaan ilmu untuk mensyukurinya. Cara bersyukur adalah, tidak menjadi perusak bumi. Sangat disayangkan jika kita masih menduakan Dia yang jelas-jelas telah memberika keberkahan dalam hidup.

Semoga kita jauh lebih baik..

Adioss..