Itu Asap. Asap(?). Asap(!)

Indonesia kini berduka.
Untuk asa yang sia-sia.

Indonesia kini sengsara.
untuk marah yang membara.

Indonesia kini menderita.
untuk nasib yang nestapa.

Indonesia kini menjerit.
untuk hidup yang selalu irit.

Indonesia kini mengadah.
untuk esok yang indah.

Indah.

Ya esok yang indah. Berjuta harapan untuk kelangsungan hidup yang indah, masih tersisa oleh wajah-wajah pencari lembaran rupiah. Bukan lagi dia, melainkan aku dan kamu. Kita !

Jam tangan ku menunjukkan pukul 19.00 WIB menanti cemas kedatangan bos yang sebelumnya sudah pesimis akan sulit mendapatkan penerbangan ke Jakarta, demi membawa hasil penjualan kerjasama dengan pihak Denmark yang sudah berjalan hampir 4 bulan. Sungguh ini di luar dugaan pikiran manusia. Ratusan juta bahkan nyaris menyentuh angka milyaran itu, kini hanya menunggu mukjizat dari Tuhan akan datangnya Hujan untuk menghalau asap.

Asap tidak lagi hanya sekedar kebulan berwarna pekat yang mengganggu, tetapi sudah membunuh jiwa yang tak berdosa. Bukan lagi soal membunuh raga, tetapi sudah membunuh stabilitas perekonomian yang sudah dirancang dalam program kerja.

Lalu, harus bagaimana kita?

Sungguh pelik bangsa ini. Menyoal solusi bersama harus dipikirkan kewenangan yang seharusnya dijalankan. Tapi memang benar. Asap bukan lagi masalah individu, tetapi masalah bersama. Baik pemerintah dan masyarakat, yang terintegrasi di tingkat nasional dan daerah bahkan wilayah setempat.

Presiden kita memang harusnya yang paling utama menjadi problem solver. Tapi apa daya, bukankah ia manusia juga?, yang punya kekurangan, dan ketidakberdayaan?.

Tunggu sebentar. Aku bukanlah pro presiden ataukah haters presiden. Tetapi tulisan ini sengaja dibuat hanya untuk bangsa Indonesia. Bagaimana Asap bukan lagi sekian menit, tetapi sudah berminggu-minggu terjadi. Sebenarnya kejadian ini sudah terjadi setiap tahun, hanya saja memang ‘apesnya’ ini yang paling parah, tepat rezim pemerintahan berganti.

Sudah seharusnya bangsa ini meminta maaf kepada bumi, dan bukan meminta maaf kepada mereka. Toh, bangsa ini jauh lebih pedih kondisinya. Namun, coba lihat sudah berapa lebar lapisan ozon yang melebar akibat pemanasan global yang diakibatkan oleh pembakaran liar. Bukan lagi urusan dia, tapi urusan bersama.

Tulisan ini bukan lagi masalah menyangkut isi rekening ku. Tetapi masalah nyawa ku. Nyawa ku yang masih belom bisa membahagiakan kedu orang tuaku. Atau belum mampu mengisi kemerdekaan untuk orang banyak. Sungguh-sungguh aku harap kau juga dapat merasakan.

Lelah rasanya menyalahkan Pemerintah. Toh nasi juga sudah menjadi bubur. Toh, nyawa sudah ada yang melayang karena asap. Lalu apa??.

Pemerintah sudah tidak lagi mampu menjalankan kondisi pelik ini sendirian. Perlu ada masyarakat yang peduli. Apresiasi besar harus diberikan kepada lembaga zakat di Indonesia yang sudah cepat turun ke lapangan untuk membantu bencana ini. Bagaimana rasa haru ku tidak pecah, saat membaca kabar mereka yang terisak meminta hujan kepada Sang Khalik. Sungguh di sini, hati terdalam pun terisak memohon ampun. Jangan-jangan ini salah ku juga hingga Allah Murka. 😦

Manusia sungguh lemah. Tiada upaya selain meminta pertolongan dari Maha Perkasa. Bangsa ini, negara ini, kecil Wahai kawan. Dan ku harap kau mau merendah dan mengerti itu. Bukan lagi tertawa lepas karena hura-hura yang mudah digapai. Apalagi menyalahkan kepada siapa dan siapa. Itu sudah lewat. Lebih baik kita mulai berpikir bagaimana cara mengobati kondisi ini, selain masih berharap datangnya hujan dari Allah.

Menolong mereka itu sama halnya dengan menolong diri sendiri bukan?. Karena hakikatnya kebahagian itu adalah perasaan yang selalu ada atas restu dan ridha dari-Nya.  Dan semoga kejadian ini memberikan banyak keasadaran bagai kita semua.

Iklan