Marhaban Yaa Ramadhan.. (Camkanlah !. Ini Ramadhan Terakhir Ku)

Masha Allah, Bulan keberkahan akan segera menghampiri. Cuaca dan suasana kian siap menyambut untuk segera berlomba dalam kebaikan selama satu bulan. Ramadhan tidak hanya untuk mereka yang tergolong kaya, atau miskin, atau menengah. Tetapi semua, semua ummat muslim di dunia. Rasa haru, bagai kerinduan tiada tara yang sulit terucap dalam lisan. Hanya mampu membayangkan bagaimana keteduhan hati dan usaha kekhusyukan ibadah terlihat jelas dalam bayang.

Ah, ingin rasanya segera Ramadhan. Mengingat begitu banyak dosa yang sudah dilakukan, dan kegundahan serta keresahan yang terpendam sebagai insan manusia yang lemah, Ramadhan waktu yang tepat untuk memperbaiki diri dan meraih kebaikan dalam beribadah setelah 11 bulan yang mungkin sudah terlupakan. Malam-malam istimewa yang Kau janjikan sebagai hadiah bagi umat yang mendirikan ibadah pada waktu tersebut, sudah menjadi incaran pada pencari Tuhan di mana pun. Begitu juga dengan saya.

Saya hanya berharap, semoga Ramadhan ini saya masih ada. Sudah banyak catatan targetan amalan yaumi yang saya azzamkan sebagai pedang saya menuju ampunan dan Rahmat-Nya. Rindu rasanya untuk bisa menangisi kesalahan dan dosa serta ketidak berdayaan saya sebagai manusia.

Entah bagaimana rasanya ketika semua targetan saya tidak ter-realisasikan, mungkin akan menyesal seumur hidup. Karena bisa jadi, Ramadhan ini adalah Ramadhan terkahir saya. Rasanya ingin benar-benar segera Ramadhan. Memang kesibukan kita dalam bekerja sangat terkuras. Bahkan hampir seluruh hidup digunakan untuk bekerja. Sedikit ada ketakutan kesibukan ini nantinya akan menjadi penghambat dari target amalan yaumi ketika Ramadhan. Namun, hanya orang naif yang merasa bahwa hidup akan berpusara pada 1 titik. Dan saya sungguh tidak ingin merugi. Biarlah Allah dan tulisan ini menjadi saksi bagaimana saya benar-benar ingin mengisi Ramadhan dengan sungguh-sungguh tanpa lalai.

Yeah, Lalai. Itu kata mujarab sekali untuk manusia di mana pun. Saking mujarabnya, jadi menyeramkan. Lalai menjadi buta akibat tidak sadar. Duh, jangan ampe deh ya Allah..

Usia sudah tidak muda lagi, kesempatan untuk menghirup Oksigen juga kian berkurang. Apalagi coba, kalau yang bikin kita takut adalah kematian. Saya takut mati di saat saya kotor akan dosa. Dan bayangkan, apabila saya mati setelah Ramadhan, atau jangkan Ramadhan, ketika Ramadhan (misalnya). Wah, rugi bandar boss !!

Naudzubillah..

Memang ketulusan niat yang tahu hanyalah Allah dan kita. Akan tetapi, apabila niat tidak didorong, mah sayang sekali. Walaupun sudah niat saja, Insya Allah dapat pahala. Akan tetapi, sayang enggak sih,kalau pahalanya hanya sekedar niat. Mending ngejar pahala yang besar karena direalisasikan. Bener enggak sih?.

Nah,dengan adanya tulisan ini, saya sebagai pemilik blog yang mengaku hidupnya udah abis sama hal-hal dunia, kepengen banget bikin cambukan untuk diri sendiri. Minimal, kalau tidak terealisasikan nanti yang super malu adalah saya sendiri. Enggak lucu lah, ketika buka tulisan ini ketika Syawal ternyata hasil target Ramadhannya tidak tercapai.

Btw, saya jadi kangen mengisi agenda rutin amalan yaumi di buku agenda Ramadhan. Itu buku sakti banget loh. Bisa bikin saya rajin sholat berjamaah, tadarus, mendengarkan kultum, tarawih berjamaah, bantuin mamah masak, bersih-bersih rumah, dan lain-lain. Jujur aja sih ini, semakin kita tuir, untuk tetap meistiqomahkan kesadaran itu tidak mudah. Hanya orang-orang yang inget mati yang akan istiqomah.

Korelasinya sih simple, ketika masa sekolah, agenda Ramadhan kita isi penuh supaya mendapat nilai bagus di kolom nilai mata pelajaran Agama Islam. Atau, karena kita kepengen banget dapet hadiah beruapa uang atau barang tertentu jikalau sholat, puasa, tadarus, kita enggak bolong-bolong. Artinya, ada reward di sana.

Sedangkan sekarang nih, usia-usia menuju akhir zaman, apa yang mau diinginkan secara kasat mata, apa juga bisa beli. Mau jodoh, tinggl nikah (sama siapa aja), Mau kuliah ke luar negeri (bisa nabung), Mau beli mobil (Bisa kredit), Mau Iphone 6 (Tinggal jual Iphone 5s terus tinggal nambahin), Mau jalan-jalan (tinggal cari tiket pesawat promo), So? What do you want more?!.

Ternyata hidup enggak seenak itu loh. Hidup enak itu, adalah hidup yang bisa senyum karena susah. Hidup yang bisa menangis karena senang, hidup yang bisa memberi karena lapang, dan yang paling penting hidup yang bisa membawa kita tenang. Tenang, tanpa harus risau untuk memikirkan pendapat orang lain atas hasil capaian mimpi kita, Tenang tanpa risau kesusahan, tenang tanpa harus berpikir mengapa/kenapa/kok bisa/kok gitu dan lain sebagainya.

Dan memang hanya kembali kepada Allah, hidup akan tenang. Dan Ramadhan ini, bulan bergengsi untuk meraih itu. Apa yang ditangisi adalah evaluasi diri sebelum masuk persidangan Allah yang sesungguhnya. Bayang-bayang tanggung jawab atas perbuatan selama hidup yang bisa jadi tidak bisa kita pertanggung jawabkan, sungguh tak terbayang ketika tubuh ini harus terhempas dalam golakan api neraka. Naudzubillahimindzalik..

“Makanya Kant, inget tuh!. Elo itu manusia lemah di Mata Allah. Jangan pede bakal masuk syurga. Lo lupa sama dosa lo yang banyak itu?. Hati-hati, manusia emang makhluk lupa, tapi Allah enggak punya sifat pelupa loh !. Apalagi ada malaikat. Itu catatan bisa jadi udah panjang macem gulungan kabel cipularang. Inget, umur lo udah 26 tahun. Lo akil Baligh di usia 10 tahun kan?. Nah, udah 16 tahun lo idup dengan catatan Malaikat. Bayangin, 16 tahun,  192 bulan, 70080 hari, 8409600 menit, dan 504576000 detik. Jadi, kebayangkan dosa lo seberapa banyak?. Mending taubatan Nasuha deh ya, mumpung ada waktu. Kalau lo nyampe nih Ramadhan ini, udah semestinya lo inget mati. Karena Mati, itu gerbang perhitungan dosa lo yang dikali 504576000 detik itu. Baek-baek deh ye..yuk cus!”. <Monologue sambil ngaca.

Dan tiba-tiba saya nangis. Whoooaaaa… begini amat endingnya. Jadi harus inget mati rupanya. Bismillah.. Semoga Ramadhan kali ini terbaik. Aamiin..aamiin aamiin aamiin..

Iklan