Meneropong Ricoeur sebagai Acuan Tradisi Fenomenologi Ilmu Filsafat Komunikasi

Para ahli sepakat bahwa landasan ilmu komunikasi yang pertama adalah filsafat. Filsafat melandasi ilmu komunikasi dari domain ethos, pathos, dan logos dari teori Aristoteles dan Plato. Ethos merupakan komponen filsafat yang mengajarkan ilmuwan tentang pentingnya rambu-rambu normatif dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang kemudian menjadi kunci utama bagi hubungan antara ilmu dan masyarakat. Pathos merupakan komponen filsafat yang menyangkut aspek emosi atau rasa yang ada dalam diri manusia sebagai makhluk yang senantiasa mencintai keindahan, penghargaan, yang dengan ini manusia berpeluang untuk melakukan improvisasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Logos merupakan komponen filsafat yang membimbing para ilmuwan untuk mengambil suatu keputusan berdasarkan pada pemikiran yang bersifat nalar dan rasional, yang dicirikan oleh argument-argumen yang logis.

Komunikasi merupakan kegiatan yang selalu dilakukan oleh makhluk hidup, terlebih bagi manusia. Komunikasi dengan fungsinya dapat menyatukan persepsi dua insan yang bersitegang, atau dapat menghibur hati yang lara, dan yang paling terpenting mempermudah melakukan interaksi sosial yang saling menguntungkan.

Pada prosesnya, manusia berfilsafat. Filsafat bermula dari pertanyaan dan berakhir pada pertanyaan. Hakikat filsafat adalah bertanya terus-menerus, karenanya dikatakan bahwa filsafat adalah sikap bertanya itu sendiri. Dengan bertanya, filsafat mencari kebenaran. Namun, filsafat tidak menerima kebenaran apapun sebagai sesuatu yang sudah selesai. Adapaun yang muncul adalah sikap kritis, meragukan terus kebenaran yang ditemukan. Dengan bertanya, orang menghadapi realitas kehidupan sebagai suatu masalah, sebagai sebuah pertanyaan, tugas untuk digeluti, dicari tahu jawabannya.

Secara singkatnya, manusia akan berfilsafat dalam lingkaran frame of experince (foe) yang mana hasil dari pencarian tersebut akan diwujudkan dalam sebuah frame of reference (for) yakni asumsi, pemikiran, atau paradigma. Tentu saja, hasil bersilsafat seseorang akan menjadi dasar tindakan pada dirinya.

Banyak filsuf-flisuf ternama yang memberikan kontribusi pemikiran mereka dalam setiap kehidupan manusia yang akhirnya dijadikan sebagai pijakan hidup. Ricoeur salah satunnya. Ricoeur merupakan tokoh penyumbang pemikiran fenomenologi. Pemikiran fenomenologi cukup dikategorikan sebagai pemikiran serta pendekatan yang sering dilakukan pada penelitian komunikasi untuk masalah-masalah sosial. Makalah ini akan menjelaskan mengenai tokoh filsafat Ricoeur dan pemikiran-pemikiran yang sudah tertuang dalam karya-karyanya yang mendunia.
Didasari dari latar belakang masalah yang sudah dijelaskan, dapat dihasilkan sebuah rumusan masalah dalam makalah ini yakni Meneropong Ricoeur sebagai Acuan Fenomenologi Ilmu Filsafat Komunikasi.

Latar Belakang Kehidupan Ricoeur
Paul Ricoeur dilahirkan di Valence, Perancis Selatan pada tahun 1913. Dia menjadi yatim piatu pada saat usia 2 tahun. Ia berasal dari keluarga Kristen Protestan yang saleh dan dianggap sebagai salah satu seorang cendekiawan Protestan yang terkemuka di Prancis. Pada tahun 1913, Ricoeur yang bernama lengkapkan Jean Paul Gustav Ricoeur adalah seorang filsuf yang produktif dan multivalent sifat pemikirannya.

Ricoeur dibesarkan di Rennes. Di Lycee ia berkenalan dengan filsafat untuk pertama kalinya melalui R. Dalbiez, seorang filusuf beraliran thomistis yang terkenal karena dialah salah seorang Kristen pertama yang mengadakan suatu studi besar tentang Psikoanalisa Freud. Ricoeur mendapatkan licence de philosophie pada tahun 1933, lalu mendaftar pada Universitas Sorbonne di Paris guna mempersiapkan diri untuk agrégation de philosophie yang diperoleh pada tahun 1935. Di Paris inilah Ia berkenalan dengan Gabriel Marcel yang nantinya akan banyak mempengaruhi pemikirannya secara mendalam

Pada tahun 1937-1939 Ia memenuhi panggilan untuk bergabung dalam wajib militer. Pada waktu mobilisasi Ia masuk lagi ketentaraan Prancis dan dijadikan tahanan perang sampai akhir perang pada tahun 1945. dalam tahanan Jerman inilah Ia banyak mempelajari karya-karya Husserl, Heidegger dan Jaspers. Bersama teman semasa tahanannya, Mikel Dufrenne, ia menulis buku Karl Jaspers et la philosophie de l’existence (1947). Pada tahun yang sama diterbitkan lagi satu buku yang berjudul Gabriel Marcel et Karl Jaspers, studi perbandingan antara dua tokoh eksistensialisme yang menarik banyak perhatian pada waktu itu.

Setelah perang usai ia menjadi dosen pada Collège Cévenol, pusat Protestan internasional untuk pendidikan dan kebudayaan di Chambon-sur-Lignon. Pada tahun 1948 Ia menggantikan Jean Hyppolite sebagai professor filsafat di Universitas Starbourg.
Pada tahun 1950 Ricoeur memperoleh gelar Docteur ès lettres dan tesisnya dimasukkan ke dalam jilid pertama dari Philosophie de la volonté (Filsafat Kehendak) yang diberi anak judul Le volontaire et l’involontaire (1950) (yang dikehendaki dan yang tidak dikehendaki) dan sebagai tesis tambahan terjemahan karya Husserl Ideen I dengan pendahuluan dan komentar, yang sudah mulai Ia kerjaan saat masih menjadi tahanan di Jerman. Sejak inilah Paul Ricoeur dikenal sebagai ahli fenomenologi.

Sekitar tahun 1950an Ia juga mulai menyenangi membaca karya-karya filsaft dari mulai Plato hingga Kant, Hegel, dan Nietzsche yang membawanya mendapatkan pemahaman yang menyeluruh tentang perkambangan filsafat barat. Sehingga hal ini pula yang membuat dirinya tidak pernah terjebak pada satu aliran saja, bahkan pada suatu waktu Ia mempelajari filsafat Analitis yang merupakan aliran yang banyak berkembang di Inggris seperti Wittgenstein, Austin, Searly). Selain filsafat Ia juga memperhatikan masalah-masalah Politik, sosial, budaya, pendidikan dan teologi.

Ricoeur diangkat sebagai professor filsafat di Universitas Sorbonne pada tahun 1956. pada tahun 1960 Ia menerbitkan jilid kedua dari Philosophie de la volonté dengan anak judul Finitude et culpabilité (Keberhinggan dan Kebersalahan). Ia sempat menduduki Dekan Fakultas Sastra di Universitas Sorbonne, karena pada saat itu banyak kejadian dimana para mahasiswa memberontak di karenakan sistem pendidikan yang tidak memuaskan dan Dekan mengundurkan diri maka Ricoeur di angkat sebagai Dekan untuk 1 tahun. Namun karena terjadi kembali pemberontakan mahasiswa dan Ricoeur merasa tidak nyaman maka Ia mengundurkan diri. Ia kemudian banyak mengajar di Universitas Leuven, lalu kemudian kembali lagi ke Paris dan setiap beberapa bulan ia mengajar di Universitas Chicago. Perjalanan Ricoeur, dari seorang yang mengamati sebuah bahasa sedari kecil, berkahir pada tahun 2005.
Pemikiran-pemikiran Ricoeur dan Aliran yang Menyertainya

Bagi Ricoeur, filsafat tidak memulai memulai dari bukan apa-apa. Sebelum filsafat mulai, bahasa mendahuluinya; dan agaknya, bahasa mengatakan seglanya. Teori bahasa yang dijabarkan oleh Ricour didasarkan atas penilaian antara sistem dan wacana. Penilaian ini merupakan sumbangsih yang tidak diambil dari Saussure, tetapi diambil dari ahli bahasa Prancis, Benveniste (Thompson. 1986). Menurut Benveniste, bahasa ialah totalitas yang diartikulasikan ke dalam berbagai kondisi; tiap-tiap kondisi memiliki karakternya yang terdiri dan mendasar.

Riceoeur menulis beberapa studi penting mengenai hermeneutika, psikoanalisis, hubungan linguistik dan strukturalisme, serta berbagai masalah kemasyarakatan lainnya. Dikarenakan kesadarannya bahwa tanpa tradisi tiada hari depan, Ricoeur dalam berpikirkan selalu berangkat dari dalam tradisi filsafat reflektif yang bermula sejak Socrates, Plato, Descartes, Kant, Fichte, Hegel, kemudian Husserl, dan Jean Nabart.

Hemeneutika Fenomenologi
Adapun pemikiran-pemikiran lain yang dimiliki Ricoeur, yakni Hermeneutik Fenomenologis. Pada dasarnya hermeneutika bisa dianggap sebagai tradisi filsafat yang diciptakan melalui sintesis dari dua wawasan filsafat continental. Satu dari wawasan ini adalah hermeutika yang memiliki sejarah yang panjang dan tersendiri yang melibatkan karya tulis para sarjana seperti Schleiermacher dan Dilthey. Wawasan lainnya adalah fenomenologis yang sebagian besar berasal dari doktrin Husserl. Tokoh kunci yang melakukan sintesis ini adalah Martin Heidegger dan Hans-Georg Gadmer (Thomson, 1986).

Ricoeur menjelaskan bahwa proses okulasi antara metode dengan metafisika, dari teori ke ontology, dari hermeneutika ke fenomenologi, terdapat tiga tahapan yang harus dilalui. Pertama adalah tahap semantik, yaitu bahasa merupakan wahana utama bagi ekspresi ontologi. Karena itu poros yang tidak bisa ditinggalkan adalah kajian terhadap struktur bahasa dan kebahasaan-mencakup keseluruhan ini dalam tataran yang normal akan tercakup dalam kajian terhadap segala sistem bahasa. Lain halnya, dalam tataran abnormal menjadi kajian dari psikoanalisis, yaitu dalam usaha untuk mengungkapkan makna yang tiak terbahasakan karena terepresi atau pengungkapan makna yang terdeviasi, atau bahkan tereduksi karena kendala dalam sistem komunikasi.

Tahap semantik ini memiliki peran fundamental dalam menjaga hubungan antara hermeneutika dengan metode di satu sisi dan ontologi di sisi lain. Hermeneutika sebagai metode atau sebagai praktik yang dijalankan, akan menjaganya terhindar dari langkah untuk memisahkan konsep metode dan konsep kebenaran. Selanjutnya, Ia juga bermanfaat dalam hubungan dengan fenomenologi sebagai upaya untuk menangkap realitas. Ada manusia bukan sebagai entitas objektif dan statis, melainkan equivocal dan intentional. Akhirnya, dataran penampang semantic ini akan menjadi pintu penghubung antara hermeneutika dengan filsafat bahasa yang lain, dan bahkan filsafat secara keseluruhan.

Selanjutnya, tahap kedua adalah tahap refleksi, yaitu mengangkat lebih tinggi lagi posisi hermeneutika pada tingkat filosofis. Tahap semantic memungkinkan hermeneutika memijakan kakinya pada tingkat teknik aplikatif kebahasaan. Pada tahap ini, hermeneutika harus melalui tahap yang lebih tinggi untuk memperoleh posisi sebagai sebuah filsafat. Tujuan hermeneutika dalam hal ini adalah memahami diri sendiri melalui pemahaman orang lain, yaitu dengan mengatasi jarak waktu yang memisahkan antara kita dengan teks. Akan tetapi refleksi ini tidak terjadi dalam pola Cogito Cartesian di mana entitas diri adalah sesuatu yang statik dan objektif terkungkung dalam hubungan subjek-objek, melainkan dalam sebuah benturan langsung dalam realitas, sebagaimana diistilahkan Dilthey dengan ekspresi kehidupan. Dalam hal ini, yang kita gunakan bukan logika positivistik yang bisa dijungkirbalikkan, melainkan logika transendental yang berpijak pada perjumpaan langsung dengan realitas.

Kemudian, tahap yang ketiga adalah tahap eksistensial. Menurut Ricoeur, pada tahap ini hermeneutika memasuki tahapan paling kompleks, yaitu tahap ontology-membeberkan hakikat dari pemahaman, ontology of understanding melalui methodology of interpretation. Pada tahap ini akan tersingkap bahwa pemahaman dan makna bagi manusia ternyata berakar pada dorongan-dorongan yang lebih mendasar yang bersifat instingtif. Dari hasrat inilah kemudian lahir kehidupan dan selanjutnya lahir bahasa.

Menurut Ricoeur fakta atau produk itu dibaca sebagai suatu naskah. Pemahaman seperti itu terjadi, jikalau misalnya ada pemahaman mengenai, bahasa bukan sekedar sebagai bunyi-bunyian, tetapi sebagai komunikasi. Tarian tidak hanya sebagai gerak yang bersifat biotik, tetapi sebagai bagian dalam upacara ritual. Kurban tidak hanya sebagai pembakaran benda, atau penyembelihan binatang, tetapi sebagai tanda penyerahan. (Bakker,1998,42).

Bagi Ricoeur hidup ini merupakan interpretasi, terutama jika terdapat pluralitas makna, disaat itulah interpretasi dibutuhkan. Apalagi jika symbol-simbol dilibatkan, interpretasi menjadi penting, sebab disini terdapat makna yang mempunyai multi-lapisan. Menurutnya interpretasi adalah usaha untuk “membongkar” makna-makna yang masih terselubung atau usaha untuk membuka lipatan-lipatan dari tingkat-tingkat makna yang terkandung dalam makna kesusastraan.(Sumaryono, 1999,105)

Kata-kata adalah simbol yang menggambarkan makna lain yang sifatnya “tidak langsung, tidak begitu penting serta figuratif (berupa kiasan) dan hanya dapat dimengerti melalui simbol-simbol tersebut”.( Sumaryono, 1999,105). Kedudukan penafsir menurut Ricoeur harus mengambil jarak dengan obyek yang kita teliti supaya ia dapat membuat interpretasi dengan baik. Ricoeur sadar bahwa setiap manusia pasti dalam benaknya sudah membawa anggapan-anggapan atau gagasan-gagasan, oleh karenanya kita sama sekali tidak dapat menghindari diri dari prasangka. Dibalik itu pula Ricoeur sadar bahwa anggapan-anggapan dan gagasan-gagasan yang terdapat pada para penafsir itu turut mempengaruhi dalam mereka dalam memberi kritik. (Sumaryono, 1999,106-107) dan tugas dari seorang penafsir adalah menguraikan keseluruhan rantai kehidupan dan sejarah yang bersifat laten di dalam bahasa atau teks (Sumaryono, 1999,108)
Hermeneutika Simbol dan Mitos

Memahami suatu fenomena Ricoeur mengatakan bahwa semua yang ada ini harus dilihat atau di wakili oleh simbol-simbol. Dalam bukunya mengenai Filsafat Kehendak, Ia menerangkan tentang simbol-simbol kejahatan yang di tulis dalam bagian kedua yang berjudul Keberhinggaan dan Kebersalahan dalam suatu bagian yang berjudul Simbol-simbol tentang kejahatan. Dalam buku ini Ia menerangkan bahwa bagimana manusia mengalami kejahatan atau lebih tepat lagi bagaimana manusia ”mengakui” kejahatan. (Bertens,2001,263). Ada 3 macam simbol dalam mengungkapkan pengalamannya tentang kejahatan, diantaranya:
1. Noda, adalah bahwa disitu kejahatan dihayati sebagai sesuatu ”pada dirinya” (in itself). Kejahatan dilihat sebagai sesuatu yang merugikan yang datang dari luar dan dengan cara magis menimpa serta mencemarkan manusia. Kejahatan disini masih merupakan suatu kejadian obyektif. Jadi berbuat jahat berarti melanggar suatu orde atau tata susunan yang tetap harus dipertahankan perlu dipulihkan kembali (Bertens,2001, 263-264)
2. Dosa, manusia melakukan kejahatan ”dihadapan Tuhan”. Berbuat jahat tidak lagi berarti melanggar suatu tata susunan yang magis dan anonim, melainkan ketidaktaatan terhadap Tuhan yang telah mengadakan suatu perjanjian dengan manusia. Dosa merupakan ketidaksetiaan manusia terhadap Tuhan yang setia. (Bertens,2001,264)
3. Kebersalahan (guilt), cara penghayatan tentang kejahatan ini berkembang di Israel sesudah pengasingan di Babilonia selesai. Pada waktu itu kejahatan ditemukan sebagai kebersalahan pribadi. Simbol-simbol yang digunakan untuk mengungkapkan kebersalahan ini adalah terutama ”beban” dan :kesusahan” yang menkan dan memberatkan hati nurani manusia. Dalam konteks kebersalahan, kejahatan dihayati sebagai suatu penghianatan terhadap hakekat manusia yang sebenarnya, bukan seperti dosa sebagai suatu pemberontakan terhadap Tuhan. Kesempurnaan manusia tercapai dengan memenuhi peraturan-peraturan dan perintah-perintah Tuhan secara seksama, tetapi dengan menlanggar peraturan-peraturan dan perintah-perintah itu manusia tidak bersalah terhadap Tuhan, melainkan terhadap diri manusia sendiri. (Bertens,2001,265-266).
Setelah mengungkapkan simbol-simbol yang melambangkan kejahatan manusia, maka Ricoeur mengungkapkan mitos-mitos tentang kejahatan yang digunakannya untuk menerangkan dari mana asalnya kejahatan. Mitos tentang kejahatan menurut Ricoeur mempunyai 3 fungsi, diantaranya: (Bertens,2001,266)
Mitos menyediakan suatu universalitas konkret bagi pengalaman manusia tentang kejahatan. Dengan cerita tentang awal mula dan kesudahan kejahatan itu mitos membawa suatu orientasi dan ketegangan dramatis dalam hidup manusia. Dalam bentuk cerita mitos menjelaskan peralihan dari keadaan manusia tak berdosa, yang asli ke keadaannya sekarang yang penuh noda, dosa dan kebersalahan.
Mitos mempunyai suatu aspek ontologis: memandang hubungan antara keadaan manusia yang asli dengan keadaan historisnya sekarang yang ditandai alienasi. (Bertens,2001,266-267). Dalam hubungannya dengan simbol dan mitos ini Ricoeur membedakan 4 macam mitos, diantaranya:
1.  Mitos Kosmis, yaitu dilambangkan dengan mitos-mitos Babilonia yang bernama Enuma Elish. Dalam mitos ini kejahatan disamakan dengan ”khaos” yang terdapat pada awal mula. Dan sebaliknya, keselamatan atau pembebaan dari kejahatan disamakan dengan penciptaan dunia. (Bertens,2001,267)
2.  Mitos Tragis, menurutnya banyak dijumpai dalam tragedi-tragedi Yunani, khususnya tragedi yang ditulis oleh Aiskhylos. Menurut pandangan tragis tentang manusia, dewa merupakan asal-usul kejahatan; dewa yang tidak berwujud persona, yang disebut Moira (suratan nasib, takdir), Theos (tanpa kata sandang: ketuhanan) kakos daimôn (roh jahat). Dewa mengakibatkan pahlawan (artinya manusia) menjadi bersalah dan terkutuk karena bersalah. Kejahatan adalah takdir yang menimpa seseorang karena ketidaktahuan atau kebutaan. Orang yang melakukan kejahatan lebih mirip dengan korban daripada dengan penjahat.(Bertens,2001,268)
3. Mitos tentang Adam, yang diceritakan dalam kitab suci, yang pertama milik Yahudi, manusia sendirilah ditunjukkan sebagai asal-usul kejahatan. Semua hal yang tidak beres masuk dunia karena manusia (Adam berarti ”manusia”). Di sini kita menjumpai suatu mitos antropologis tentang kejahatan. Kejahatan berasal dari lubuk hati manusia; kejahatan disebabkan karena manusia tidak setia, karena Ia ”jatuh”. Penciptaan Tuhan itu sendiri baik dan sempurna, hanya manusia bertanggung jawab atas segala ketidakberesan dalam dunia.(Bertens,2001,268-269)
4. Mitos Orfis, mitos ini menerangkan tentang mitos jiwa yang diasingkan. Karena berasal dari tradisi keagamaan Yunani yang dikenal sebagai Orfisme. Suatu aliran keagamaan yang menjalankan pengaruh mendalam atas perkembangan filsafat Yunani, khususnyaPlatonisme dan Neoplatonisme. Mitos ini memecahkan manusia ke dalam jiwa dan tubuh. Jiwa datang dari tempat lain dan mempunyai status ilahi tetapi sekarang terkurung dalam tubuh. Jadi, manusia telah ”jatuh” karena jiwanya dikaitkan dengan tubuh dan dalam keadaan itu kejahatannya semakin bertambah dan semakin bertambah pula kerinduan akan pembebasan. Pembebasan itu diperoleh melalui jalan pengetahuan, khususnya pengetahuan bahwa tubuh itu hanya hawa nafsu dan bahwa jika harus menentangnnya untuk sekali lagi dapat mencapai ”taraf ilahi”.

Menurut Ricoeur tugas dari Hermeneutik adalah disatu pihak mencari dinamika internal yang mengatur struktural kerja didalam teks, dilain pihak mencari daya yang dimikili kerja teks itu untuk memproyeksikan diri ke luar dan memungkinkan “hal”-nya teks itu muncul ke permukaan.( Sumaryono, 1999,107). Peran bahasa dalam interpretasi sangatlah penting, karena pengungkapan gagasan, emosi, kesusastraan dan filsafat semua melalui bahasa, bahkan Ricoeur berpendapat bahwa manusia adalah bahasa dan bahasa merupakan syarat utama bagi semua pengalaman manusia. (Sumaryono, 1999,107-108).

Ricoeur berpendapat bahwa setiap teks yang hadir dihadapan kita selalu berhubungan dengan masyarakat, tradisi maupun aliran yang hidup dari macam-macam gagasan.( Sumaryono, 1999,108). Dalam melakukan interpretasi, menurut Ricoeur, terdapat dua kegiatan yaitu kegiatan Dekontekstualisasi (proses ‘pembebasan’ diri dari konteks) dan kegiatan Rekontekstualisasi (proses masuk kembali ke dalam konteks). Dari penjelasan ini maka telihat bahwa tugas dari penafsir sangat berat, karena ia harus dapat membaca “dari dalam” teks tanpa masuk atau menempatkan diri dalam teks tersebut dan cara pemahamannya pun tidak dapat lepas dari kerangka kebudayaan dan sejarahnya sendiri.

Maka untuk dapat berhasil dalam usahanya, ia harus dapat menyingkirkan distansi yang asing, harus dapat mengatasi situasi dikotomis, serta harus dapat memecahkan pertentangan tajam antara aspek-aspek subyektif dan obyektif. Penafsir pada suatu saat harus dapat membuka diri terhadap teks yang hadir dihadapannya. Membuka diri disini maksudnya adalah mengizinkan teks memberikan kepercayaan kepada diri kita dengan cara yang obyektif. Maksudnya adalah proses meringankan dan mempermudah isi teks dengan cara menghayatinya. (Sumaryono, 1999,109-110). Setiap teks mempunyai 3 macam otonomi, yaitu, intensi atau maksud pengarang, situasi cultural dan kondisi sosial pengadaan teks, serta untuk siapa teks itu dimaksudkan.( Sumaryono, 1999,109)

Tokoh-tokoh yang mempengaruhi Ricoeur
Dikarenakan kesadarannya bahwa tanpa tradisi tiada hari depan, Ricoeur dalam berpikirnya selalu berangkat dari dalam tradisi filsafat reflektif yang bermula sejak Socrates, Plato, Descartes, Kant, Fichte, Hegal, kemudian Husserl dan Jean Nabert.
Jean Nabert membuat Ricoeur menyadari bahwa refleksi haruslah berupa interpretasi (Poespoprodho, 2004:109); bahwa memahami tidak bisa dipisahkan dari memahami dirinya sendiri. Dunia simbolik adalah milieu eksploitasi diri. Masalah arti tampil karena tanda-tanda adalah cara, milieu, medium, manusia mencoba meletakkan diri, memproyeksikan diri, memahami diri. Oleh karena itu, refleksi bukan intuisi. Refleksi harus melalui jalan panjang, yakni membuat interpretasi tanda-tanda. Cogito harus dimediasi oleh seluruh dunia tanda-tanda.

Pada tahun 1950-an, Ricoeur dianggap salah seorang ahli terbesar di Prancis tentang fenomenologi. Pada waktu itu, Ricoeur di Prancis tentang fenomenologi. Pada waktu itu, Ricoeur menerjemahkan karya Husserl : Ideen zu einer reinen Phanomenologie (Jilid I) dan menyatakan pula komentarnya. Secara eidetic, Husserl sampai pada suatu egologi, transendentalitas dari ego. Dalam pandangan Ricoeur, di sini kurang dipikirkan bahwa bukan aku yang memikirkan kenyataan, tetapi kenyataan yang diberikan pada pikiran. Keberatan kedua, karena Husserl mencari kebenaran terlalu dalam perenungannya dan tidak konkret.

Namun senantiasa berpikir berupa berpikir yangs ecara intensional ditentukan, yakni berupa kesadaran senantiasa merupakan kesadaran akan suatu objek, reduksi fenomenologis (tidak tanpa kritik), penolakan pada semua metafisika, mencari suatu struktur dasar transedental dari pikiran, semua itu diperoleh Ricoeur dari Husserl. Gurunya, Marcel juga Husserl memikatnya, terlebih karena mereka meletakkan masalah arti fenomena semasalah sentral, dan Husserl juga mengarahkan perhatian pada kenyataan itu sendiri serta menggarap metode-metode yang saksama dalam mendekati masalah arti.
Sewaktu di Sorbonne, Ricoeur bertemu dengan filsuf Gabriel Marcel, yang ide-idenya kemudian memengaruhi karya-karyanya.
Impelemtasi Karya-karya Ricoeur

Sewaktu di Sorbonne, Ricoeur bertemu dengan filsuf Gabriel Marcel, yang ide-idenya kemudian memengaruhi karya-karyanya. Ketika perang pecah, Ricoeur dipanggil untuk bergabung dengan infantry ke-47. Pada 1940, dia ditangkap di Dormans, sebuah desa kecil di lembah Marne. Saat sebagai tahanan, Ricoeur membaca, menulis, dan mengajarkan filsafat. Dia menyusun draf yang lantas menjadi tesis doktornya Volunteire et l’infoluntaire (1950, terj. Freedom and Nature : the Voluntary and the Involuntary) serta sebuah terjemahan dan syarat dari Ideen I (1950) Karya Husserl.
Sekurangnya ada sebelas karya penting Ricoeur yang sudah diterjemahkan, yaitu History and Truth (1965); The Symbolism of Evil (1967); Freud and Philosophy: an Essay on Interpretation (1970); The Conflict of Interpretation; Essay in Hermeneutics (1974); Interpretation Theory; Discourse and Surpuls of Meaning (1976); The Philosophy of Paul Ricoeur: an Anthology of his work (1978); The Rule of Metaphor; Multy-Disciplinary Studies of the Creation of Meaning in Languange (1978); Hermaneutics and the Human Science (1981); Time and Narrative (3jilid, 1984-1988); From Text to Action: Essay in Hermeneutics II (1986); Lectures on Ideology and Utopia (1986); Oneself as Other (1992).

Dalam The Rule of Metaphore (1978), Ricoeur membahas metafora secara komprehensif. Di dalam karyanya itu, Ricoeur membahas metafora pada tiga tataran; metafora pada tatanan kata adalah kajian bidang retorik; pada tataran kalimat adalah bidang kajian semantic; dan pada tataran wacana adalah bidang kajian hermeneutik. Ia juga mengkritik pandangan para positivis yang membuang metafora dari filsafat karena tidak mempunyai makna kognitif. Ricoeur berpendapat bahwa metafora mempunyai lebih dari nilai emotif belaka karena ia menciptakan realitas fiktif yang bersumber pada imajinasi. Dalam konteks tertentu, imajinasi bersifat produktif, bukan hanya karena ia menciptakan objek yang tidak nyata, melainkan juga memperluas penglihatan manusia atas realitas. Imajinasi menciptakan sebuah dunia yang membantu manusia memandang realitas.

Pada karya yang lain, Hermeneurtics and the Human Science (1981), Ricoeur mengajukan dua tesis untuk diperdebatkan. Pertama, yang dihancurkan oleh hermeneutika bukanlah fenomenologi, melainkan salah satu tafsiran atasnya, yaitu tafsiran idealistis yang digagas oleh Husserl sendiri. Kedua, dibalik oposisi sederhana antara fenomenologi dan hermeneutika, terdapat hubungan timbal-balik yang sangat penting untuk dijernihkan.

Ia juga menimba gagasan para pemikir seperti Kant, Fichte, dan Heidegger untuk menunjukkan bahwa penyebab pada taraf penting tertentu soal-soal kemanusiaan adalah soal-soal bahasa, dan ketika kita menemukan prinsip-prinsip makna bahasa, kita mengerti sesuatu tentang diri kita sendiri.    Karya-karyanya menunjukkan bahwa dirinya tampak memiliki perspektif kefilsafatan yang beralih dari analisis ‘eidentik’ (pengamatan yang rinci), fenomenologis, historis, hermeneutics, hingga berakhir di semantik.

Inti tulisan-tulisan Ricoeur sebenarnya adalah ‘hermeneutika’. Sebelum abad ke-19, perhatian hermeneutic diarahkan pada penafsiran teks tertentu, seperti injil. Namun, setelah masa itu, keyakinan bahwa ide dan tindakan dibentuk oleh konteks sejarah tertentu, mendorong para penulis seperti Schleiermacher dan Dilthey untuk mempersoalkan apakah pemahaman yang langsung dan tak terdistorsi terhadap keduanya adalah mungkin. Mereka memilih berasumsi bahwa pemahaman-yang-keliru (misunderstanding) adalah sebuah keniscayaan dan bahwa pemahaman hanya bisa dicapai lewat penafsiran.
Bagi Paul Ricoeur kenyataan selalu tidak akan pernah lepas dari simbol-simbol yang harus di tafsirkan. Seperti halnya bahasa yang diterjemahkan dalam kata-kata, itu semua harus diterjemahkan agar manusia menemukan makna sesungguhnya. Ricoeur menjelaskan tentang simbol-simbol dengan menggunakan simbol kejahatan dan juga menerangkan asal-usul dari kejahatan itu dengan menggunakan mitos-mitos. Dari sini Ia menerangkan tentang betapa pentingnya memperhatikan simbol-simbol yang hidup dalam masyarakat.

Ricoeur juga tertarik untuk mengamati kondisi-kondisi yang memungkinkah penafsiran. Hal ini adalah pencarian epistemologis karena ia mempertanyakan bagaimana akhirnya mengetahui sesuatu (Hughes-Warington,2000). Berdasarkan penjelasan Bleicher (2003), pemikiran Ricouer bisa dianggap menjembatani perdebatan sengit dalam peta hermeneutika antara tradisi metodologis dan tradisi filosofis, yang masing-masing diwakili oleh Emilio Betti dan Hans-Georg Gadamer. Di satu sisi Ricoeur berpijak pada titik berangkat yang sama dengan Betti bahwa Hermeneutika adalah kajian untuk menyingkapkan makna objektif dari teks-teks yang memiliki jarak ruang dan waktu dari pembaca. Namun, dari sisi lain, ia juga menganggap bahwa seiring perjalanan waktu, niat awal dari penulis sudah tidak lagi digunakan sebagai acuan utama dalam memahami teks.

Daftar Referensi :

Bertens, Kees. 2001. “Filsafat barat Kontemporer Perancis”.
Jakarta : PT. Gramedia.
Sobur,Alex, M.Si. 2013. “Filsafat Komunikasi : Tradisi dan Metode Fenomenologi”.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Link Internet :

http://staff.blog.ui.ac.id/arif51/2008/06/05/paul-ricoeur-hermeneutik-simbol-dan-mitos/

Iklan