Jalan Duri Wanita Indonesia Menuju Syurga

Pagi sekali, Ibu paruh baya yang sering saya temui di halte busway Ragunan, tiba-tiba sudah berdiri mengantri menunggu Bus TransJakarta yang siap melaju pukul 6. Wajahnya kali ini sedikit pucat, tampak ada lingkaran hitam di kelopak matanya. Ia tepat berdiri di samping ku. Perjumpaan kami kali ini, bukan yang pertama. Dari sekian penumpang yang saya temui setiap pagi, hanya wanita ini. Wanita yang memiliki guratan wajah penuh makna. Wanita yang tanpa sadar, kini dunia sedang memeluknya erat. Mengapa?, Itu karena kali pertama saya bertemu dengannya, sontak seluruh pemikiran saya, terurai kepada sebuha lorong kehidupan bernama Perempuan Indonesia. Ia adalah perempuan Indonesia saat ini. Ia cermin, mungkin bagi kami yang bernasib sama.

Suatu ketika, di hari pertama dalam bulan Oktober, Ia sudah berdiri di paling depan dari deretan antrian bus Tj. Ia tidak sendiri. Tangan halus dengan tonjolan urat nadi yang begitu terlihat di jarak 3 jengkal dari mata, terlihat sedang menggandeng tangan mungil anak berseragam Kotak-kotak merah putih, dengan celana putih, lengkap dengan dasi dan topi berwarna putih yang selaras dengan warna celana. Anak itu, terlihat tenang, sesekali ia mengayun-ayunkan kakinya, atau menyender menopang tubuh mungilnya di kaki perempuan yang biasa ia sebut Bunda.

Udara dingin menyapu bulu halus di tangan dan kakinya. Tontonan kosong di matanya, tak urung memaksa sang hormon, memaksa untuk menguap karena kantuk.

“Adek ngantuk?”. Tanya Bunda, sambil mengayun genggaman tangan seraya membangunkan anaknya yang terlena dengan pemandangan yang membosankan setiap pagi itu.

Tanpa bicara, sambil terkejut, anak itu pun segera membuka mata, dan menegakkan kembali tubuh yang sempat menyender di kaki sang Bunda.

“Tidak boleh mengantuk ya, nanti aja di bus baru boleh tidur”. Ucap Bunda, dengan nada yang tegas, namun sarat kasih sayang.

“Bun, kapan sih dateng. lama banget busway nya?”. Sambil memandang arah datang bus, anak itu bertanya polos.

“Bentar lagi”. Jawab sang Bunda dengan santai. “Eh, lagu apa yang kemaren diajarin miss rina di sekolah?, Bunda lupa”. Tambahnya, dengan tujuan mengalihkan pembicaraan anaknya yang mulai mengeluh atas keterlambatan bus TJ. Tidak lama, anak itu, menyanyi. Sesekali sang Bunda pun ikut bernyanyi.

Perhatian saya, tertuju pada pemandangan pagi yang menarik kali ini. Dua orang manusia yang ditakdirkan sebagai Ibu dan Anak kini bermain peran sesuai kodratnya. Di antara mereka yang berdiri pun ikut memperhatikan. Sayang, hanya mereka. Mereka yang bergandengan dengan penuh sayang, dengan segala obrolan pagi yang sederhana. Kami yang berdiri, hanya dapat merangkul tas, dan sibuk dengan buku, atau telepon cerdas yang terus mengudara menerawang kehidupan maya yang entah sampai kapan nyatanya.

Ada kejadian lain, yang membuat saya kembali menyimak adegan Ibu dan Anak ini. Suatu ketika, di dalam bus, sesak dengan penumpang yang berdiri. Ibu dan Anak itu, kembali berdialog.

“Bun, nanti aku makan apa duyu, picang (red-pisang) duyu apa onet duyu (red-kornet dulu) ?” Tanya anak itu sambil menunjuk-tunjukkan tas kecil berwrana merah dengan tulisan Tupperware berwarna hijau, yang mungkin itu adalah makanan bekal sekolahnya.

Sambil memangku dan memeluk pinggang dari arah belakang sang anak, Ibu itu menjawab. “Menurut adek lebih enakan mana?, Pisang dulu apa Kornetnya dulu?”.

Mendengar pertanyaan dari Ibunya, anak itu berpikir, “Hmmm..hm…on..”

Tidak lama, telepon sang Ibu berbunyi. Perempuan itu melihat tulisan di layar telepon. Lalu apa yang terjadi, Ia tidak langsung mengangkat telepon. Tetapi Ia mendengarkan ucapan anaknya yang berbarengan dengan bunyi telepon. “Apa, Kornet dulu?. Oke deh, boleh juga. Eh iya, adek, bunda boleh ada angkat telepon?”.

Hm.. yeah !. ini yang jarang terjadi. Seorang Ibu meminta izin untuk mengangkat telepon kepada anaknya.

Dan anak itu menjawab dengan senang, “Boyeh”.

Pupil saya agak membesar melihat kejadian itu, kejadian yang luar biasa saya perhatikan. Seorang Ibu berseragam rapih layaknya wanita karier dengan segala kesibukan serta tuntutan pekerjaan yang mungkin memecutnya, dengan santai ia tepis hanya untuk menghormati sang anak.

Pernah dalam perjumpaan ke sekian kalinya, Perempuan itu mencoba meminta izin kepada anaknya, bahwa ia tidak bisa menjemput pulang sekolah sang anak. Ia menyampaikan, bahwa anak itu akan dijemput kakenya, dan menyampaikan pesan agar tidur siang, dan makan siang di rumah kakeknya. Tanpa menjawab, anak itu justru balik bertanya, mengapa Ibunya tidak bisa menjemputnya. Kembali, sang Ibu menyampaikan dengan santai, dengan menyebutkan alasan membeli susu, dan diakhiri dengan ucapan, “boleh bunda tidak bisa jemput adek?”. Anak itu menjawab, “Boyeh”. Dan seterusnya, di setiap percakapan mereka, ada ungkapan permohonan, ungkapan izin atau semacam meminta pendapat layaknya orang dewasa.

Lagi-lagi ada pesan dari mereka yang selalu saya temukan. Takdir yang indah sebagai seorang Ibu dan Anak, Saya jadi teringat, ada banyak hal peran wanita dalam dunia. Peran yang berbeda, dengan status yang berbeda. Ketika masih kecil, perempuan akan berperan layaknya perempuan kecil yang bermanja, bermain, dan belajar. Branjak remaja, perempuan akan tumbuh mengenal interaksi sosial, kompetisi,  dan mencari jati diri. Tumbuh dewasa, perempuan akan mengalami fase yang berbeda. Antara mencari jalan hidup atau menerima jalan hidup. Antara perasaan dan logika. Antara tuntutan dan keinginan. Semua kerap datang menguji mental sang kedewasaan perempuan.

Bagi saya, kedewasaan perempuan tidak diukur oleh usia. Dewasa adalah fase memposisikan diri atas apa yang terjadi di lingkungan. Tanpa paksaan dari luar. Muncul dari dirinya yang mencari sampai menemukan bahwa “inilah makna penciptaan perempuan oleh-Nya”. Banyak yang menilai bahwa perempuan itu adalah makhluk lemah dan tidak berdaya, tidak mampu melakukan ini itu, sulit meoptimalkan kemampuan intelejensia di banding yang lain, karena perempuan makhluk yang hanya memiliki peran di dapur. Hanya untuk keluarga. Sebagai pemuas nafsu sang suami. Sebagi juru masak di dapur, sebagi pencuci baju yang gesit, mengepel, dan serumit kegiatan rumah lainnya. Sehingga banyak yang berlari melepaskan citra perempuan dalam dirinya, dan berlomba menunjukkan ketegaran sebagai wanita dengan segelumit aktivitas kantor dengan posisi yang mencerminkan kehebatan langka pada diri seorang perempuan. Benarkah demikian?

Jawabannya, TIDAK untuk dogma lemah, IYA untuk peran, dan BISA JADI untuk fenomena perempuan yang terjadi saat ini.  Perempuan memang lemah secara ketahanan tubuh jika dibandingkan ketahanan tubuh yang dimiliki laki-laki. Fisiologi yang dimiliki antara dua makhluk Allah ini juga terlihat dari bagaimana Allah menciptakan seorang adam dan hawa, bagaimana komposisi yang terdapat pada otak. Jelas, perempuan memang jauh dari lemah. Dogma lemah menjadi tidak benar, karena manusia hanya menyorotu fisik saja, bukan mental. Berbicara mental perempuan mampu menghadapi segala permasalahan yang mungkin lebih sakit dari ancaman fisik yang ia hadapi. Keluhan lebih jarang keluar dari mulutnya. Hati yang lembut tercipta untuk menetralkan pandangan sinis dirinya dari dunia. Tidak ada perempuan di bumi ini yang tidak berhati lembut. Kecuali ada kelainan dalam psikologis jiwa dirinya.

Berbicara peran, setiap akan memiliki peran masing-masing pada kondisi dewasa. Islam mengajarkan jadilah wanita yang sholeha.

           “Kehidupan dunia adalah kesenangan. Kesenangan dunia yang terbaik adalah wanita yang shaliha” (H.R Muslim)

Wanita sholeha berperan sebagai tiang dalam keluarga muslim. Ia merupakan unsur terpenting dan sekaligus sebagai pondasi yang kokoh dalam keluarga. Ia adalah kenikmatan pertama bagi kehidupan suaminya. Bahkan, ia sebagai perhiasan terbaik bagi suaminya dalam kehidupan. Wanita sholeha merupakan karunia besar bagi laki-laki karena ia berperan sebagai tempat beristirahat bagi suaminya setelah menempuh kegetiran hidup dan kepenatan mencari penghidupan.

Islam sangat memuliakan seorang wanita. Karena di tangan wanita lah peradaban dapat berdiri kokoh dengan Rabbani. Saya sempat merinding menyelami makna tersebut. Saya membayangkan syurga atas pahala-pahala yang didapat dengan status perempuan. Bagaimana melahirkan dan membesarkan anak-anak yang dapat meneruskan tujuan islam secara kaffah. Begitu juga dengan mereka (anak-anak) yang memandang diri wanita (Ibu) sebagai pabrik pahala menuju syurga. Melalui sebuah pernikahan, maka tumbuhlah kemuliaan hakiki di sana.

Lalu bayangan syurga pun berubah ketika saya mengingat banyaknya fenomena wanita yang terjadi saat ini. Banyak persepsi, pola pikir, entah berasal dari mana aliran yang menggeser lokasi syurga menjadi neraka. Banyak wanita yang tidak menghargai dirinya sendiri.  Banyak menjunjung tinggi sebuah emansipasi semu.

“Aapabila seorang wanita melaksanakan shalatnya yang lima waktu berpuasa pada bulan (Ramadhan), taat kepada suaminya dan menjaga kemaluannya, akan dikatakan kepadanya, “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kamu sukai” (H.R Ahmad dan Thabrani)

Setidaknya, hadist itu menunjukkan bahwa sarat masuk syurga hanya itu.

Saya pernah mendengar perdebatan antara pro kontra perempuan menyetir di sebuah negara. Atau, wanita karir yang melanggar hukum islam. Terlepas dari aturan hukum islam, saya tidak bisa beragumentasi lebih. Karena pun saya, bukanlah ahli Fiqih. Tetapi saya mencoba menyelami makna dari hadist berikut ini :

“Setiap kalian adalah pemimpin. Setiap pemimpin akan dimintakan pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang pengusaha adalah pemimpin akan dimintakan pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang lelaki pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintakan pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintakan pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang pembantu adalah pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintakan pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintakan pertanggungjawaban atas kepemimpinannya”. (H.R Bukhari dan Muslim)

Mungkinkah setiap orang memiliki peran ganda?, peran yang tidak hanya satu?. Apakah perempuan akan berakhir dengan menikah, menjadi isteri, dan ibu?.

Menikah, menjadi isteri, dan menjadi Ibu adalah kemungkinan yang terjadi jika Allah SWT berkehendak”. Itulah ucapan guru ngaji saya ketika membahas adab wanita sholeha. Maka dari itu banyak kita menemukan di usia yang tidak lagi muda, terdapat perempuan yang belum menemukan jodoh mereka, atau hingga ajal menjemput, ia tidak bisa merasakan bertemu jodoh. Walau terkesan BISA JADI peran tersebut dapat dialami, tentu perlu diingat dengan menikah, menjadi isteri dan menjadi ibu adalah dapat kita pilih sebagai jalan menuju syurga.

Semula saya berpikir ketika sudah menikah maka peran perempuan akan berubah. Akan menjalankan apa yang disebutkan pada hadist-hadist sebelumnya. Saat ini, perempuan tidak lagi hanya berdiam di rumah. Banyak Ibu yang juga mengais rejeki. Berbagai profesi terdapat di sana. Mulai dari seorang presiden hingga penjual kue keliling, perempuan berperan sebagai manusia pengais rejeki. Dosaka mereka yang bekerja di luar rumah, sedang anak-anak mereka diasuh oleh pembantu rumah tangga?.

“Perempuan terbaik yang menunggang unta adalah wanita Quraisy. Mereka paling sayang terhadap anak kecil dan paling perhatian terhadap urusan suaminya” (H.R Bukhari dan Muslim)

Wanita muslimah yang benar-benar beriman senantiasa menyayangi anak-anaknya dan memelihara hak suaminya. Keduanya merupakan sifat terbaik yang menghiasi kepribadian wanita di setiap waktu dan tempat.

Ada peran dalam kegiatan yang dapat dijalankan wanita. Saya kedapatan alasan mengapa wanita bekerja mengais rejeki, hal itu dikarenakan pekerjaan suaminya belum cukup menafkahi keluarga. Ada lagi yang berpendapat, saya punya cita-cita sebagai seseorang, untuk itu saya kuliah tinggi.

Saya mendengar alasan itu, jadi bercermin pada diri saya sendiri. Saat ini saya bekerja, dan memiliki cita-cita menimba ilmu untuk menjadi seseorang yang dapat berkontribusi untuk negera dan agama. Bahkan penghargaan dari manusia terkadang merasuki angan yang menyenangkan. Tidak ada yang salah ketika setiap orang memiliki cita-cita. Memiliki ilmu pendidikan yang tinggi. Karena pada dasarnya, Allah akan meninggikan derajat manusia bagi yang berilmu. Meninggikan derajat sepertinya memiliki banyak makna. Bisa jadi, datang dari pintu mana saja, tanpa kita sadari. Bisa jadi derajat tinggi datang dari suami atau anak-anak. Derajat itu semacam kedudukan mulia, keududukan mulia dunia akhirat.

Menjadi pintar itu adalah untuk kita menjawab solusi, menilai sebuah norma yang membedakan kita dengan hewan. Menjawab segala pertanyaan prahara hidup, sekecil apa pun ada ilmu nya, untuk itu, Allah akan meminta pertanggung jawaban kelakuan kita selama di dunia walau sebesar biki zarah sekalipun. Tidak ada akibat tanpa sebab. Hanya dengan Ilmu kita mengetahui sebab kehidupan ini.

Saya mengingat istilah bahwa madrasah pertama bagi seorang anak adalah Ibu. Ibu yang pintar, akan memompa menyebarkan virus kepintaran untuk anak-anak mereka. Terlebih, pada masa golden age seorang anak akan mulai meniru sang Ibu dan Ayah mereka. Ada rekam jejak yang masih sangat kuat di dalam pikiran anak kecil.  Bayangkan jika kita bodoh?

Tidak menjadi keharusan bagi perempuan untuk bekerja dan berkarir. Selagi masih bisa memberikan porsi waktu lebih banyak untuk memberikan hak suami dan anak-anaknya. Tentu setiap keluarga memiliki model mendidik anak yang berbeda. Saya, terlahir dari seorang Ibu yang berprofesi sebagai guru. Dulu sering menangis karena ditinggal. Tumbuh di masa sekolah dasar, saya diajarkan mandiri. Akan tetapi ia tetap mengajari saya pelajaran, memasak, dan mengantarkan saya ke pada aktifitas positif. Dan jadilah saya seperti ini.

Ada teman saya pernah bilang, ” Pasti ada yang tidak beres secara psikologis oleh tumbuh kembang sang anak pada latar belakang anak yang Ibunya wanita karir”. Kemudian saya mulai berkaca pada diri saya sendiri. Kira-kira ada yang tidak beres dengan saya atau tidak?. Jawabannya iya.

Bagi saya, tidak ada hal yang perlu dianggap malu untuk kondisi sebenarnya. Justru, manusia akan belajar dari pengalaman dirinya. Begitu pula dengan Ibu saya yang memilih jalan untuk berkarir dan mendidik saya dan adik kakak saya seperti ini. Itu karena dirinya melihat orang tuanya. Bukan manusia jika mengalami tumbuh kembang. Semakin kita dewasa, semakin kita paham dan bijak memandang sebuah permasalahan. Walau tetap ada nilai benar atau salah di sana. Walau akhirnya saya menyimpulkan, “mungkin Ibu mu bukan yang sempurna dalam mendidik mu, tapi dia, dia orang yang sangat baik untuk mu”.

Jika dikorelasikan dengan adegan Anak dan Ibu yang saya temukan di bus TJ, kembali saya berkaca dengan kondisi pelik yang harus dipilih oleh seorang wanita. Menjadi wanita karier pun akan membentuk pola pikir seorang wanita, biasanya dia lebih manajerial dalam mengatur waktu, penuh pertimbangan di sana. Menghargai quality time. Akan tetapi sulit mengendalikan emosi. Sehingga ditakutkan akan melalaikan dalam memberi hak-hak dari suami dan anak-anak mereka.

Sedang ibu rumah tangga, pun tidak akan baik jika tidak bisa me-manajerial waktu. Sehingga banyak di antara mereka yang lebih banyak menghabiskan di mall dengan anak-anak mereka, atau sekedar berkumpul dengan ibu-ibu lainnya. Mungkin fenomena ini tidak asing kita temui di kota-kota besar. Sehingga terkesan, lebih mengahambur-hamburkan uang suami pada kegiatan yang jelas.

Menjawab itu semua, Islam memiliki solusinya. Memang sudah seharusnya kembali kepada aturan agama. Bukan aturan manusia yang sangat tidak adil dibanding aturan Allah SWT. Jika mengutip dari iklan minuman teh ringan, “Apa pun profesinya, dia tetap seorang Isteri dan Ibu”. 

Hm.. maaf jika terbaca seperti menggurui dan sok tau. Karena pemilik blog belum menikah. Tapi kamu tau, bagi saya ilmu membuat kita dewasa. Setiap fenomena yang saya lihat, akan saya cari ilmunya melalui buku atau berdiskusi dengan mereka yang sudah mengalami serupa. Dan menjadi tau, tidak harus menunggu sudah mengalami. Karena jika sudah mengalami namanya paham. Satu hal harapan saya untuk seluruh wanita di dunia. Jadilah wanita yang kreatif dalam kondisi apa pun. Selalu bisa membedakan peluang yang menjerumuskan kebaikan atau ke pada keburukan. Tentu harapan setiap insan yang hidup, adalah tempat akhir syurga yang abadi di sana. Maka tidak ada kata terlambat. Hidup itu proses kita mencari, menemukan, dan berubah. Mencari kebenaran, menemukan kebenaran, dan berubah menjadi benar. Maka tidak ada kata terlambat selagi niat masih tetap menancap kokoh dalam pondasi untuk lebih baik lagi sampai malaikat izrail menghampiri.

ps : “Dunia adalah perhiasan. Perhiasan dunia yang terbaik adalah wanita yang shaliha”

Adioss..

Iklan