Ulasan Film TKVDW : Cinta Mati di Kapal Van Der Wijk

tenggelamnya-kapal-van-der-wijck

Pertama, sekilas melihat poster film itu, bagi saya seperti membelah ingatan terhadap film Titanic yang sempat merajai box office jaman saya sekolah dasar kala itu. Kedua, menonton trailer di awal masuk bioskop, saya membayangkan kisah romi and juliet. Ketiga, akhirnya saya putuskan untuk menonton film yang katanya didasari karya sastra novel Buya Hamka. Sebenarnya saya belum membaca novel itu. Namun, aktor dan aktris yang tengah naik daun itulah yang membuat saya yakin ingin menyimak cerita tersebut. Dengan tulisan ini, saya mencoba membahas isi film dengan konsep pendekatan value atau nilai yang dominan ditunjukkan sebagai wujud pesan sang sutradara untuk penonton.

Film ini luar biasa kental dengan isu sosial budaya yang terjadi di Indonesia. Dua suku yang begitu kuat dengan karakteristiknya membawa penonton untuk bertanya, ada apa dengan budaya Minangkabau dan Makassar?.

Pertanyaan itulah yang saya catat sebagai asumsi dasar pertama. Kemudian, cerita mulai mengalir dengan begitu syahdu dan romantis. Bahasa Minangkabau yang halus dan sarat dengan aroma kesastraan tinggi tertangkap jelas, hingga mulut saya atau bahkan orang di kiri kanan saya dengan tanpa sengaja mengikuti setiap ucapan yang dilontarkan oleh sang pelaku peran.

Sampai kepada kisah perjalanan tokoh Zainuddin yang diperankan oleh Herjunot Ali, dimana Zainuddin ingin belajar agama, ini terlihat konflik yang kedua yang ingin saya garis bawahi. Tanah minangkabau merupakan tanah bagian Indonesia yang sangat menjunjung tinggi nilai keislaman. Penduduknya terkenal taat dalam menjalankan ajaran agama.

Konfliknya adalah, ternyata tanah yang ditujukan sebagai penimbaan ilmu agama bagi Zainuddin justru membawa perubahan dua hidup anak manusia yang saling mencintai. Mencintai karena kebaikan masing-masing. Mencintai karena, kesholehan dari Zainuddin. Begitu juga bagi Zainuddin yang sangat terkesan dengan kecantikan serta kesederhanaan tokoh Hayati yang diperankan oleh Pevita Pearce. Cinta mereka jauh dari kesan materi dan garis keturunan.

Namun, kondisi adat istiadat Minangkabau berkata sebaliknya, yang menjadikan mereka terpisah. Zainuddin dianggap sebagai orang seberang bahkan buangan yang akan membawa keburukan bagai Hayati sebagai ponakan ketua adat setempat. Scene berduanya Hayati bersama Zainuddin itulah scene yang romantis bak film-film Eropa klasik.  Mereka saling menegaskan kecintaan masing-masing. Bahkan saling berjanji untuk setia menunggu “walaupun bukan jodoh di dunia, tapi jodoh di akhirat”. Kemudian, Hayati meminta semacam jimat dari Hayati, dan Hayati memberikan kerudungnya. Dan merekapun berpisah.

Dalam waktu dan jarak yang jauh, mereka tetap mengirimkan kabar melalui untaian kata pada sepucuk surat. Kekuatan sastra yang indah lagi-lagi terlantun begitu nyaman di dengar.

Pada kesempatan lain, akhirnya Hayati dan Zainuddin bertemu dalam sebuah pacuan kuda. Sebelumnya, Hayati pergi bersama keluarga sahabatnya, yang ternyata jauh dari kesan budaya konvensional. Lebih trendi. Akulturasi budaya Belanda sangat terlihat. Mulai dari cara berpakaian, cara berbicara, hingga kebiasaan negatif seperti berjudi, mabuk-mabukan, dan bermain perempuan penghibur. Hayati yang datang dengan keluguan sontak mengalami perubahan yang dipaksakan. Baju kurung lengkap dengan kerudung lepas begitu saja. Berganti dengan baju renda transparan putih serta terbuka. Sedangkan Zainuddin masih menggunakan pakaian kesholehan ala orang melayu.

Di pertengahan cerita, ternyata ada tokoh lain bernama Aziz yang diperankan oleh Reza Rahardian yang ternyata menyukai Hayati. Menyukai Hayati dengan wujud berbudaya Londo.

Akhirnya dengan kekuatan materi serta status sosial Aziz yang terpandang menjadi pertimbangan kelompok suku lingkungan Hayati. Di waktu yang bersamaan, Zainuddin pun mengajukan lamaran terjadap Hayati. Namun sekali lagi, Zainuddin ini masih kalah saing dalam hal materi dan status sosial (garis keturunan).  Atas petimbangan asumsi yang terkesan paksaan itu, Hayati tidak ada pilihan lain, kecuali memilih Aziz untuk dijadikan suami.

Aziz sendiri digambarkan sebagai sosok yang gemar berjudi, gemar mabuk, gemar bermain perempuan, dan hura-hura. Mengetahui latar belakang Aziz yang jauh dari kesan baik, Zainuddin pun memberitahukan kepada Hayati, bahwa pernikahan yang akan dijalanin semata-mata implementasi Uang dan Kecantikan saja. Namun entahlah dalam film itu, Hayati terlihat menerima dengan ikhlas sosok lelaki yang akan menjadi suaminya itu.

Tidak lama, Hayati dan Aziz pun menikah. Sedangkan, Zainuddin jatuh sakit dan depresi. Melihat kondisi itu, Zainuddin mencoba bangkit memperbaiki diri ke pulau Jawa untuk mengembangkan bakat sebagai penulis beberapa hikayat dan karya sastra lainnya. Benar saja, setiba di Jakarta sosok Zainuddin berubah 180 derajat. Ia tumbuh menjadi penulis yang hebat, seniman ulung, dan pengusaha yang hebat. Pakaian yang dahulu hanya katun kurung panjang dan sarung serta kopiah, berubah menjadi safari blazzer lengkap dengan topi.

Tulisan serta hikayat-hikayat yang dituliskan merupakan kisah yang menceritakan sosok Hayati. Berkat tulisan itulah, yang membawa Hayati dan Zainuddin bertemu. Ketika bertemu, kondisi berbalik. Aziz yang dahulu dikenal sebagai orang kaya, merongrong lemah di hadapan Zainuddin karena terlilit hutang akibat berjudi.

Kebaikan Zainuddin dalam menolong orang lemah, patut diacungkan jempol. Tidak ada kebencian di hatinya. Di kondisi lain, di hati Hayati terpancarkan kebersalahan diri atas yang dialami Zainuddin. Dibalik keangkuhan Aziz, terpesankan sosok lemah di balik uang dan kekuasaan. Ia memilih mengakhiri hidupnya dengan meminum racun, karena merasa malu oleh orang-orang di kampungnya.

Pada kondisi itulah Hayati yang merasa bersalah dan kesedihan atas jalan hidup yang sudah dipilihnya itu harus mengakui bahwa pernikahan yang dialami dirinya hanyalah pernikahan Uang dan Kecantikan saja. Walaupun di hati paling dalam, Hayati masih merasakan cinta terhadap Zainuddin. Namun sayang sekali perasaan itu ditepis tegas oleh Zainuddin sendiri. Zainuddin sendiri yang mengantarkan kematian kekasihnya pada sebuah jalan takdir. Jalan takdir itu digambarkan dengan tenggelamnya kapal besar buatan belanda bernama Van Der Wijk. Kapal yang terkenal dengan kemegahan tiada tara itu, tenggelam ketika menuju Padang.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk ini jauh dari kesan Titanic atau kisah julie and romeo. Menurut saya, jika dilihat dari filosofi cerita, Kapal Van Der Wijk lebih kepada pesan kemegahan yang kasat mata, kekokohan luar yang ternyata dapat tenggelam dengan gelombang laut yang begitu luas.

Saya sepakat dengan pesan film ini, bahwa kisah cerita ini bukanlah cerita kisah percintaan dua manusia. Tetapi satu manusia yang berjuang bangkit dari segala ketidak mungkinan serta intimidasi hidup oleh kondisi sosial. Zainuddin sosok yang tidak mati karena cinta duniawi. Hati yang lapang, menjadi modal untuk mengalahkan keangkuhan dunia, kesombongan materialistis, dan peliknya hukum adat.

Tetapi jauh dari itu, sebenarnya saya tidak begitu mencium perjalanan sisi relijius. Padahal, makna pertama yang penonton tangkat sebagai simultan alur cerita. Jika dilihat hanya pada aspek film saja, tentu secara tidak langsung pesan bahwa moder-isasi akan mengalahkan kultur lokal yang sarat dengan sisi keagamaan. 

*Sepertinya memang harus, membaca buku yang bersangkutan untuk lebih komprehensif. 

Walau demikian, ada yang sangat menggelitik jika kita mengamati akting pemeran pertama. Herjunot Ali dapat dikatakan berhasil menirukan gaya bahasa orang bugis. Buktinya, ketika saya melihat gaya bicaranya, saya jadi teringat gaya bicara bapakak Yusuf Kalla. 😀

Tetapi, sangat disayangkan, mimik atau ekspresi wajah justru membuat penonton tertawa. Mengapa, karena penonton masih terngiang-ngiang dengan akting Herjunot Ali pada film 5 cm yang memerankan Zafran yang sangat kocak. Penonton yang semula menangis, berubah menjadi meledak berbahak-bahak dibuatnya (Termasuk saya).

Latar pada film ini secara visual, cukup memberikan kesan tanah Minang di era jaman dulu. Terlebih beberapa pelaku yang berucap khas Minang, menjadikan film ini menambah wawasan budaya bagi penonton. Soundtrack film sebagai pengiring pun nyaris menambah nuansa tidak kantuk ketika menyaksikan film yang berdurasi kurang lebih 3 jam itu.

Jadi jika boleh saya memberika rate untuk film ini, saya akan kasih 4 Bintang untuk Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk.

Adiooss..!!

Iklan