Interlude : Maya

INTERLUDE1_final-1

Kau beri segenap hati di sela rasa ketidakpercaya dirian. Kau, juga memberi hangat di tengah dinginnya hati yang hampir beku. Kau juga tahu bagaimana beri senyum di tengah masam menusuk ingatan.

Kau membuka setiap lembaran yang kosong untuk ku isi. Bahkan Kau pun juga tak tahu mulai dari mana. Kau hanya bisa memberikan malam dan siang, terik dan hujan, senja dan terbit, bosan dan riang, sedih dan bahagia, sendiri dan bersama, Entah untuk siapa dan ke mana tinta ku menggores pemberian mu pada halaman mu yang kosong.

Terlalu singkat nama mu pagi ini. Memecah rindu yang kosong ditelan malam. Meski, langit tahu kau sudah mulai dengan kata yang tak akan pudar di setiap rotasi.

Kau tahu amarah ini tak akan membendung. Karena kau juga tahu, ini terlalu singkat.

Ruang kosong itu mendadu tanpa pilih, tanpa lihat, tanpa ucap, hanya harap yang membisikkan realita. Dalam realita, setiap senyum kian nyata. Dalam realita setiap doa adalah harap, dan dalam realita dunia bukan lagi maya.

Kau percaya sulap itu nyata. Bermain trik dan dinamika penonton akan terkagum. Dunia ini hiburan, yang akan memberikan tontontan yang mengagumkan. Akankah maya ini akan berkhir sorak sorai dan yang gemuruh?, ataukah berubah menjadi pupus yang membekas?.

Mata kau, ku tahu tak satupun bekas di sana. Setiap wujud bermula maya menuju realita, tanpa bekas yang berjejak satupun. Itu kan yang diinginkan. Hanya dunia kedua, awal cerita dimulai. Jadi biarlah terombang ambing pada waktu yang kau tetapkan setelah melihat langkah ku tiada.

Terimakasih Maya. Kau telah merubah semua menjadi hiburan dunia ku pada waktu yang cepat. Toh, kita saling percaya dunia ini luas, masih ada tempat yang belum disinggah oleh mimpi. Sampai bertemu di dunia kedua. Karena Maya mu akan selalu hadir dalam ingatan yang diiringi oleh senyum bahagia.