Andakar : Andalan Ice Tea Longan

Jakarta, 15 Nopember 2015 – Bagi pecinta kuliner steak and grill tentu sudah tidak asing dengan rumah makan Andakar bilangan Cilandak, Jakarta Selatan. Rumah makan bernuansa pedesaan ala Eropa ini ternyata tidak hanya memiliki menu utama steak yang menggugah selera, tetapi juga memiliki menu minuman khas yang menjadi favourite pelanggan setia Andakar

Benar saja, jenis menu Ice Tea Longan kini menjadi primadona para pelanggan Andakar.  Fathia (23) salah satu pelanggan mengatakan, Ice Tea Longan Andakar memiliki rasa yang berbeda dengan ice tea longan di rumah makan lainnya.

“Rasa manisnya pas, dan tidak ada pemanis yang menyengat di dalamnya. Buahnya juga segar, enak dilidah”. Tambah Fathia.

Selain rasa yang enak, harga ice tea longan Adakar sangat terjangkau. Porsi yang maksimum, sangat cocok menjadi solusi dahaga di tengah melahap steak and grill.

Lalu, bagaimana jika kita ingin membuat ice tea longan sendiri di rumah?

Mungkin, tips berikut yang dikutip dari resepkecilku.com bisa menjadi referensi kamu untuk membuat ice tea longan sendiri.

Resep Ice Tea Longan Jeli Yang Segar

Bahan-bahan/bumbu-bumbu antara lain:

  1. Bahan Jeli:

Siapkan 2 sendok makan gula pasir
Siapkan 1/2 bungkus jeli instan
Siapkan 400 ml air
Bahan Ice Tea:

Siapkan 300 ml air lengkeng kaleng
Siapkan 200 gram gula pasir
Siapkan 1.000 ml air
Siapkan 5 sachet teh celup

Bahan Pelengkap:

Siapkan 1 kaleng lengkeng, tiriskan
Siapkan 600 gram es batu
Siapkan 1 sendok teh selasih, rendam
Cara membuat ice tea longan jeli:

Pertama, rebus air, jeli instan, dan gula. Selanjutnya aduk rata. Lalu masak sampai matang. Kemudian tuang ke dalam loyang kotak 10 x 5 x 4 cm. dan biarkan beku. Dan serut dengan parutan kasar. Sisihkan.

Sedangkan untuk ice tea, rebus air dan gula pasir sampai gula larut. Lalu matikan api, dan Masukkan teh.

Diamkan 2 menit. Tambahkan air lengkeng. Aduk rata. Dinginkan. Sisihkan.
Dan sajikan Ice tea bersama jeli dan pelengkapnya.

Jadi, tunggu apa lagi?. Yuk, dicoba deh untuk weekend ini.

Master Chef Wanna Be !!

Pasti udah pada tau kan, acara reality show di RCTI tentang masak-masak itu?.

Yes, itu dia The Master Chef Indonesia udah tahun kedua acara itu menayangkan bagaimana kompetisi memasak dengan beragam cerita manis dan pahitnya menjadi koki. Bagi gue terlepas katanya itu “Reality Show” , acara ini paling edukatif dan passionate.

Kenapa?,

Dalam acara ini  secara total dititik beratkan kepada keahlian memasak, akan tetapi tidak hanya seputar teknik memasak, namun juga dilatih bagaiman etika memasak yang akan dijalankan oleh seorang Master Chef  . Makanya tidak heran program ini selalu menimbulkan konflik yang disusun secara testruktur ( red : Manajemen Konflik ).

Sekali lagi program ini cerdas. Belum lagi kesannya yang diperankan oleh para juri yang kridibel dalam hal kuliner. Memang harus diakui terkadang komentar yang disampaikan sangat pedas. Namun komentar itu memiliki nilai koreksi yang tidak hanya untuk kontestan, tetapi untuk para mereka yang menyaksikannya di televisi. Termasuk gue.

Korban dari program Master Chef Indonesia itu adalah diri gue sendiri. Lumayan mupeng kalau liat pada masak-masak. Kayaknya Gampang ye, masak itu !!
.

Atas dasar itulah, tiba-tiba aja gitu gue jadi senang melihat resep-resep makanan mulai dari western sampai asian, eiits enggak cuman liat doang, tapi langsung aksi kongrket loh, dengan kata lain Memasak.

Awalnya gue adalah perempuan yang tidak familiar dengan alat-alat dapaur dan sekumpulan bumbu-bumbu masakan itu. Maklumlah besar dengan kondisi tomboy. Jadi sedikit sensi sama yang namanya masak. Dulu gue masih mengira bahwa masak itu adalah kerjaan para perempuan lemah, yang enggak punya masa depan. Apalagi bau, kotor, and bla..bla..bla..

Ternyata jauh dari pemikiran kolot gue itu, Memasak itu adalah TASTE FULL. Jauh dari perspektif lahannya para perempuan lemah dan enggak punya masa depan, jauh dari yang namanya bau dan kotor yang sifatnya tidak melulu bau dan kotor. Itu semua dapat dilihat pada pesan yang disampaikan oleh MCI. Pesertanya enggak semua perempuan, enggak harus ibu rumah tangga,and most of them are camera face. Ya..walaupun itu faktor komersialisasi, tapi MCI sukses besar merubah sikap para penonton yang mungkin memiliki pemikiran yang sama dengan gue.

Dan bonusnya adalah, penonton bisa liat juri-juri MCI yang juga seorang Chef terkenal pun enak dipandang. Kurang cakep apa coba Chef Juna sama Chef Degan, terus kurang Imut apa coba Chef Marinka?.

Itu semua sampel icon pesan yang sukses besar diterima oleh penonton. Gara-gara itu semua, gue jadi sedikit obses mau ikut audisi Master Chef Indonesia loh.. hahhaa..

konyol sih, tapi inti dari segala inti adalah gue jadi seneng banget masak. Alhasil, gue pun membuat beberapa jenis makanan seperti Spaghetti, Scottel, Kwitiaw, Cumi Saus Nanas, balado kentang, Opor Ayam, sama bikin salad buah.  Sangat di luar dugaan lah, ternyata rasanya enak.

Setelah gue coba masak ini itu, akhirnya gue menemukan kebenaran dari teori para juri Master Chef Indonesi :

Memasak itu adalah seni, imajinasi dan kreatifitas yang sangat tinggi pada saat mengolah makanan..kali ini saya menantikan seorang kontestan yang mampu menciptakan master piece yang luar biasa..    – Chef Rinrin Marinka

 

Buat saya masak itu perlu keseriusan dan ketekunan, kita lihat saja siapa kontestan yang bisa menghasilkan masakan bercita rasa tinggi tanpa komentar pedas dari saya   – Chef Degan –

 

Cookery is Not Chemistry. It’s an Art. It Requires Instinct and Taste rather than Exact Measurements  – Chef Juna –

 

Dari Makanan kita bisa membuat orang sekitar menjadi sehat, tersenyum karena kenyang, dan yang paling penting ternyata ketika memasak, bisa langsing loh, kita jadi males banget makan makanan yang kita buat. Karena apa, kalo gue ngerasain sih, kepuasan itu sudah tertuang pada makanan itu sendiri. Bahkan makanannya harus di makan dengan bener, jangan sampe ada yang rusak, hahaha..agak lebay sih memang.

Frankly, Food Is One of Necessary For The Life, As well as We Made of Them As Possible,We have Save people for their Life.

Makanya salut deh sama orang Indonesia yang mau jadi koki. Itu profesi yang menyenangkan, menggairahkan, dan bermanfaat.