Mengenang Ginia Tepat 9 Tahun Berlalu

Tepat di Bulan ini dia, Almarhun Ginia R. Waluyo telah meninggalkan kisah selama 9 tahun di kehidupan dunia. Gingin begitu panggilannya yang saya ucap ketika bertemu dengannya. Kami saling kenal sewaktu masih kecil. Ia dulu tetangga saya, sewaktu di Jakarta. Semenjak pindah ke depok, kami tinggal berjauhan. Walau demikian, dia masih sangat ingat dengan nomor telepon rumah yang saya miliki ketika itu. Alhasil, dia selalu menghubungi ketika sedang iseng. Sejak kecil, kami itu saling bermusuhan. Almarhum sangat jail kepada saya, selalu menjadi korban kejailannya itu. Dulu, waktu saya bermain payung-payung  di sekitar komplek rumah, dia selalu meledeki saya dengan ucapan, “Heh Nenek-nenek kepansan ya?!”. kemudian dia mengumpat tidak mau terlihat oleh mata saya. Ketika saya bermain sepeda dengan teman-teman, dia selalu muncul mengikuti ke mana saya pergi. Terus menghilang. Terus meledekki baju yang saya pakai ketika itu. Dan segelintir kejailan lainnya.

Hingga suatu ketika kami tumbuh remaja. Keluarga kami berkunjung ke rumahnya, saat Idul Fitri. Spontan, saya melihat dia dengan beberapa kakak dan adiknya. Di sanalah kami mulai berbeda. Kejailannya sudah sedikit berkurang. Tapi, kami masih saling tegur sapa. Kami tukar nomor telepon genggam. Keesokannya, kami pun saling mengirimkan sms. Layaknya anak tumbuh remaja, saya yang ketika itu terbilang tomboy, sangat cuek dengan perilaku saya kepada teman laki-laki. Sehingga, bisa dikatakan kami berdua tumbuh menjadi sahabat baik yang unik. Mengapa unik, karena di tengah persahabatan selalu ada pertengkaran.  Kami cukup dekat, sampai-sampai kami saling mengetahui makanan kesukaan, komik kesukaan, hobbi yang kami miliki, bahkan hal yang tidak kami sukai pun kami saling mengetahui.

Masa Sekolah Menengah Pertama usai, datanglah masa abu-abu. Masa yang menurut kebanyakan orang, masa yang akan mengalami pubertas luar biasa. Ternyata, masa itu, dialami olehnya. Di kelas X, tepat sore hari sepulang sekolah, dia menunggu di depan komplek rumah saya, sambil membawa sekotak cokelat dan buku novel. Saya, terkejut, ternyata dia melakukan adegan layaknya sinetron remaja, yang menyatakan perasaan suka kepada teman perempuannya. Dia menembak saya. Jauh dari kesan romantis, saya malah berlari dan pergi cepat-cepat ke rumah. Marah semarah-marahnya saya. Bahkan 3 hari saya tidak pernah membalas pesan singkat dari Gingin. Tidak lama, kami pun lose contact selama 2 minggu. Kami sama-sama tidak pernah mengirimkan pesan singkat. Sampai pada akhirnya saya mengetahui keadaan sebenarnya.

September 2005, Keluarga kami mendapat kabar bahwa Gingin masuk rumah sakit. Saya pun bergegas menuju Rumah Sakit Darmais Jakarta. Sampai di sana, saya terkejut ternyata Gingin mengindap kanker otak stadium 4. Lemas dan tidak menyangka, bahwa Gingin yang saya kenal dengan tubuh yang sehat, ternyata kanker bersarang di tubuhnya. Saya melihat dia dengan banyak selang di tubuhnya. Setiap pulang sekolah saya selalu ke rumah sakit. Sudah banyak operasi yang ia lakukan demi stabilnya tubuh. Ternyata hasilnya tidak signifikan. Jujur, saya sangat menyesal apa yang saya lakukan ketika sore itu. Harusnya saya tidak berlari dan marah.

Ketika ia sadar, saya pun mulai dengan obrolan-obrolan ringan. Saya bacakan buku komik slam dunk kesukaannya. Dan dia meminta saya bercerita kisah-kisah di sekolah. Dia hanya mendengarkan semua cerita saya. Itu, saya lakukan selama ia terbaring di rumah sakit. Saya sempat mengucapkan maaf kepadanya, dan mengatakan bahwa “Lo tetap sahabat gue. Gue sayang sama lo. Selamanya!”. Kemudian dia pun menjawab, “Terimakasih”.

19 Oktober 2005, dia meninggal di rumah sakit. Seluruh keluarga menangis. Termasuk saya. Tidak ada pesan atau ucapan yang dia berikan kepada saya. Dia pergi begitu cepat. Lalu saya sadar bahwa ini memang takdir indah untuk Gingin. Dia akan lebih baik jika kembali kepada Sang Khalik, dan karena semua manusia akan kembali kepada Sang Khalik. Kesedihan tetap kesedihan. Cerita – cerita yang pernah kita lakukan itu terus teringat di pikiran. Sampai pada akhirnya saya menyadari, bahwa Gingin adalah sosok yang kuat. Kami semua tidak pernah mengetahui bahwa dia mengidap kanker otak selama ini. Penyakit itu, baru ter-deteksi setelah staidum tinggi. Dia adalah sosok yang baik, sosok menjaga kesehatan, sosok yang jail namun setia kawan. Jauh dari itu, dia sosok sahabat yang luar biasa menghibur hati saya di saat kesal.

Dan saya baru mengingat, bahwa dia belum pernah kesampaian pergi ke bukit halimun di Sukabumi, di tepat 9 tahun Gingin pergi, saya pun berkunjung ke sana, sambil mengingat apa-apa yang pernah ia katakan kepada saya. Bahkan kejailan-kejailan yang sering dia perbuat kepada saya.

Semoga kau tenang dan Allah meneduhkan kubur mu, wahai ginia sahabat saya yang paling jail …

aamiin.

Iklan