Dokter, Tolong yakinkan saya.

November itu bulan pancaroba yang sangat sensitif untuk stamina tubuh. Saya, adalah orang yang mendapat kesempatan untuk sakit. Udara yang tidak menentu ditimpa rutinitas kegiatan dan pikiran yang memuncak, sontak membuat saya terkapar di Unit Gawat Darurat di sebuah rumah sakit di Jakarta. Di hari Jumat, pada malam hari, tiba-tiba badan saya sedingin air es. Pusing. Muka memucat, Perut mual. Dan nyaris semua makanan yang saya konsumsi terbuang sudah di pelimbahan. Itu berlangsung secara radikal dan saporadis. Pandangan menjadi samar. Dan saya pun lemah tak berdaya.

Melihat keadaan saya yang memprihatinkan, akhirnya saya dilarikan pada ruangan UGD. Di sana, saya mendapat pertolongan pertama. Termasuk cairan infus, yang ternyata sudah dua botol dihabiskan. Tukak lambung itulah nama penyakitnya. Mendengar itu, jujur tidak terkejut. Karena, sejarahnya, tubuh ini sangat berlangganan dengan penyakit satu itu. Lambung saya sangat sensitif. Pola makanan yang tidak teratur, Jenis makanan yang tidak disorter, dan tingkat stress yang tanpa sadar tergolong meningkat merupakan penyebab dari asam lambung meningkat. Menyebabkan nyeri yang luar biasa. Saking luar biasa sakitnya, memejamkan imaji dalam sokhratul maut.  Sangat sakit. Namun, berkat pertolongan Allah melalui dokter, saya pulih hingga saat ini.

Keesokan harinya, ketika menjalani masa-masa pemulihan, saya merasa gatel di kaki sebelah kanan. Semula saya kira hanya gatal akibat serangga nyamuk atau semut. Alhasil garukan nikmat dari kuku membuat saya melakukan berkali-kali tindakan tersebut. Tidak lama, pusat garukan saya berubah. Semula hanya bentol kecil. Namun, karena garukan yang semakin kerasa, membuat bulatan bentol merah itu berubah membesar dan mengembung seperti ada selaput berisi air. Sentuh sebagian sisi, ternyata di sekitar gelembungan itu, muncul 2 bentol merah berisi cairan juga. Saya mulai panik.

Saya perhatikan baik-baik bentuknya. Tindakan pertama saya lakukan adalah tidak menggaruknya lagi. Mengatasi gatal adalah dengan menaburkan bedak salicyl dan relakan mengeram grasak gurusk menahan gatal. Tidak hanya gatal ternyata perih, dan sakit. Asumsi saya, mungkinkan ini bisul?. Karena penasaran, saya menelisik kembali rupa fenomena ini. Oh tidak ada mata bisul di situ. Tidak lama saya, langsung merinding gatal seluruh kujur tubuh. Ketika berasumsi, jangan-jangan ini cacar. Karena saya belum pernah cacar sebelumnya.

Parno setengah mati, iya itu yang saya rasakan. Saya tidak mandi. Saya hanya menaburkan bedak di sekujur tubuh. Kemudian saya mencoba mengambil foto yang bertujuan untuk saya share ke tema-teman yang pernah terkena cacar. Sebagian dari mereka menilai mungkin bisa jadi cacar. Saya mulai panas dingin. Kebetulan hari itu adalah hari Minggu. Dokter spesialis yang sering menangani penyakit kulit saya tidak membuka praktek di hari Minggu. Kocar kacir saya dibuatnya.

Tanpa putus asa, saya mencoba browsing asal usul penyakit cacar yang biasa disebut chicken pox atau varicella itu membuat saya makin merinding. Sekilas gambarnya sama. Namun ada yang aneh, cacar dimulai dengan demam tinggi. Sedangkan saya, dingin es. Gambar-gambar yang disajikan di google membuat saya HAMPIR membeli salep cacar dari rekomendasi teman saya. Tapi sekali lagi, saya pikir kita enggak boleh gegabah dengan penyakit yang ilmunya kita tidak tau. Akhirnya saya menahan bulu kuduk yang berdiri, dan gatal yang tiba-tiba datang bak sugesti.

Keesokan harinya, tepat Senin, hari ini. Saya putuskan segera ke rumah sakit. Langsung pada dokter spesialis kulit dan kelamin. Setiba di sana dan berkonsultasi kepada dokter, saya menunjukkan fenomena pusara gatel di kaki saya kepadanya. Dengan santai, beliau melihat dan segera menulis di data pasien sembari bertanya “Sudah dari kapan?, gimana rasanya?, punya alergi atau tidak?”.

Mendengar pertanyaan darinya, saya langsung menjawab. “Infeksi” itulah yang ia utarakan. Jadi penyakit saya katanya itu adalah infeksi. Infeksi dari garukan, beliau menambahkan. Tidak lama beliau mengambil foto di telepon canggihnya. Entah buat dokumentasi atau untuk riset pendidikan, so what ever..

Karena saya tidak puas, dengan jawaban, saya kembali bertanya, “Apakah ini menular?, Apakah ini turunan?, Apakah ini karena serangga?”

Beliau menjawab,”Tidak menular ke orang lain, tapi kalau kamu garuk dia akan melebar. Tidak turunan. Bisa jadi karena serangga”.

Tidak lama, saya ditanya “Mau obat generik atau bukan?”.

Sekali lagi, saya bingung harus jawab apa, saya kembali bertanya. “Apa bedanya obat generik dan obat lain untuk kulit saya dok?”

Beliau menjawab,”Kalau obat generik sembuh bisa 2 minggu, kalau obat lain bisa cepat 5 hari atau seminggu. lebih cepat”.

Mendegar itu, saya tidak menjawab, saya hanya menjawab, “Saya ikutin saran terbaik dokter yang terbaik untuk kesembuhan kulit saya”

Dan resep pun saya dapat. Sampai pada di depo obat, saya iseng bertanya, apa bedanya obat generik dan obat lain?, Kamu tau dengan jutek petugas farmasi itu menjawab “Harganya murah”.

Well, kejadian saya berobat hari ini sangat berharga bagi pengetahuan saya. Bahwa kesehatan adalah hal yang tidak main-main. Kesehatan adalah hal yang harus dijaga secara kuratif atau preventif. Mengobati dan mencegah adalah saling berkaitan dengan satu sama lain karena pengetahuan kita yang mendorong kita untuk peduli. Orang sakit adalah hanya pihak yang berharap untuk sembuh. Mungkin pada saat itu berita baik dengan singkat serta penjelasan tanpa bertele-tele adalah surga bagi kami untuk melanjutkan istirahat . Tapi itu hanya mengobati, bukan mencegah. Karena tidak ada transfer pengetahuan di sana. Saya kira komunikasi terapeutik sangat dibutuhkan untuk kalangan medis. Mau itu dokter, suster, farmasi, bidan, tabib, mantri, dan lain-lain.

Setidaknya yakinkan kami, bahwa segala penyakit adalah musuh raga yang sehat. Dan kami tidak akan mengulangi kembali. Tidak bisa disandingkan dengan murah, singkat, dan cepat. Tapi jauh dari itu semua, edukatif yang baik sangat dibutuhkan dalam kondisi ini.

Dulu, saya kenal sekali dengan dokter spesialis kulit dan kelamin Almarhum Dokter Kuswaji. Beliau memerika penyakit kulit saya dengan kaca pembesar, dengan lampu penerangan yang cukup sorot. Tidak hanya itu, Almarhum menjelaskan kepada saya penyakit saya, mulai dengan nama latin, sampai kepada musabab penyakit ini. Ia juga sedikit humor di sana. Sangat hangat. Beliau memberikan saya pesan, “Dokter terbaik adalah diri kita sendiri”. Pulang dari sana, jiwa saya sangat termotivasi untuk sembuh dan menjaga tubuh sebaik-baiknya.

Bayangkan, jika dunia kesehatan di negeri kita ini demikian?!.

Satu lagi, bagi pasien pun wajib kritis bertanya hal-hal yang berkaitan dengan tubuh kita. Apa pun. Ilmu kesehatan juga bisa diakses melalui buku atau internet. Bukan lagi yang hanya mematung menerima resep ataukah hasil analisis penyakit. Karena tubuh kita adalah aset kesatuan utama sebagai media menuju kehidupan yang hakiki.

Semoga Indonesia makin sehat…

adioss..

Iklan