Antara Darwis Tere Liye dan PKS (Padi Keapit Sibulan)

Sosial media kian ramai di tengahnya hingar bingar panggung politik menjelang pemilu 2014. Memang tidak dipungkiri, jelas sosial media telah dinobatkan menjadi media gratis untuk kampanye, propaganda, dan yang paling penting huru-hara pro dan kontra dalam kerumunan masyarakat yang butuh informasi dan hiburan. Terlepas dengan fungsi nyata sebagai media komunikasi, sosial media ternyata kembali menimbulkan dampak huru-hara pro kontra, sehingga timbul sebuah opini publik yang dapat diukur sebagai strategi dalam pemilu.

Kembali, pada pembahasan yang sesuai judul tulisan ini. Darwis Tere Liye (DTL) merupakan novelis yang sudah menerbitkan novel-novel dengan penjualan terbaik di antara deretan nama-nama novel ber-jenre islami Indonesia. Penulis ini, sungguh lihai merangkai kata-kata sehingga dengan sekejap dapat menyihir setiap qolbu pembaca. Tidak hanya itu, karya DTL juga nyaris membuat inspriasi bagi kalangan muslim di Indonesia.

Kata-kata berjubah pujangga itu terkadang menyentil keadaan sosial politik yang terjadi. Maka tidak heran, banyak pembaca yang mengambil beberapa kutipan-kutipan yang sudah ia tintakan.Jika diperhatikan, penikmat tulisan beliau justru merupakan pembaca yang senang dengan pemikiran-pemikiran agamis melankolis. Anak-anak muda yang ‘paham’ dengan Islam pun, berlomba-lomba membeli novel dan saling memamerkan kutipan pemikiran dalam novel pada beberapa akun sosial media mereka. Sungguh luar biasa DTL itu membakar jiwa kaum muda relijius negeri ini.

Selain karya-karya novel yang sudah diterbitkan, DTL juga membuat Fan Page pada sebuah akun sosial media, facebook. Kini fan page itu memiliki 470.000 penyuka. Fan page itu jelas merupakan alat sosial bagi DTL yang ingin mempopulerkan karya-karyanya kepada penikmat gagasan-gagasan idealisme miliknya. Namun, kondisi itu kini berbalik 180 derajat. Karena sebuah status yang ia buat dinilai kontroversial oleh sebagian pembaca langganannya. Berikut berita yang terkait Tere Liye Sentil PKS. 

Menyimak kalimat pada status itu, sontak membuat geli setengah sadar. Mengapa, pasalanya DTL kali ini menorehkan tulisan yang menukik tajam pada sebuah partai besar Islam yang harusnya memiliki satu pemikiran dengan karya-karyanya. Partai Keadilan Sejahteran yang dilambangkan dengan gambar padi yang diapit oleh dua bulan itu, merupakan partai lima besar sekaligus parati koalisi pemerintah pada Kabinet Indonesia Jilid II. Ketua partai PKS itu saat ini adalah Anis Matta yang menggantikan Luthfi Hassan Ishak, tersangka kasus suap sapi.

Jika kita mengamati tulisan status DTL, dapat dikategorikan curahan hati yang sifatnya pribadi. Mengapa, karena dalam kondisinya, ia berusaha untuk mencoba menyampaikan sesuatu yang mungkin bersifat amniah bagi sebagian kalangan, terlebih untuk simpatisan grass root partai itu.  Ia begitu paham dengan pelanggan karyanya yang nyaris semua adalah aktivis dakwah. Tentu, kalimat status itu membakar jenggot pembaca yang semula kagum dengan karya-karya idealisme DTL, berubah menjadi pandangan sinsime terhadap DTL.

Sinisme ini, ditunjukkan dengan banyaknya komentar mengenai, ketidak layaknya seorang DTL menutup akses untuk mengomentari status miliknya oleh para pembaca/penyuka fan page  atau bahkan dinyatakan bahwa penulis ulung itu memblokir beberapa pemilik akun anggota fan page yang sudah mengomentari status milik DTL.

Bagi mereka yang merasa kontra, DTL tidak seharusnya memposting hal yang bertentangan dengan idealisme Islam sesungguhnya dan tidak seharusnya, antipati dengan komentar orang lain terhadap status miliknya. Bahkan, para kontra itu meanalogikan sifat agung Rasulullah SAW yang senantiasa menerima kritik dari para pengikutnya. DTL begitu habis di nilai sangat kontradiktif dengan kutipan-kutipan karyanya yang telah menghipnotis para pembaca dengan adanya tidakan ditutupnya akses mengomentari status milknya. Berikut info lebih lanjut terkait pada kontra Surat Cinta untuk DTL

Lalu bagaimana dengan yang setuju dengan pernyataan DTL?, dalam status tersebut, dapat dilihat terdapat 337 orang yang menyukai. Tidak ada setengah jumlah dari penyuka Fan Page itu, jelas menunjukkan bahwa kontradiktif lebih dominan.

Dalam kasus seperti ini sosial media, memang bersifat pribadi. Namun, bagi para tokoh tersohor dengan segala profesinya, justru sosial media bukanlah privasi, terlebih fan page yang sengaja dibuat oleh pemiliknya untuk menjadi ajang komunikasi antara tokoh dan para pengagumnya. Karena, dengan adanya sosial media tersebut, justru dapat menjadi bumerang bagi tokoh itu sendiri. Karena, bagi mereka yang dapat mengedalikan opini di sosial media, maka dia lah menang. Hal ini mengingatkan saya dengan penelitian dari Amerika Serikat yang menyatakan bahwa, dampak Sosial Media merupakan pembunuh karakter yang sangat ampuh. Maka, tidak heran jika bullying yang dilakukan sebagian orang dapat menyebabkan kematian satu orang.

Dan mungkin, bagi para kontra untuk status DTL, coba dilihat tidak dengan sesubjektif dan se-reaktif mungkin. Karena jika kita lihat dari karakteristik sosial media yang beda itu, bisa jadi lebih banyak mudhoratnya/keburukannya dibandingkan kebaikkannya. Bagi yang sangat paham jenis sosial media yang populer saat ini, seperti instagram dan twitter, sudah banyak yang saling ejek satu sama lain. Emosi memuncak hanya karena keterbatasan kemampuan persamaan perspektif di sosial media antara satu individu dengan lainnya. Persamaan persepktif yang efektif adalah dilakukan pada tatap muka. Terlebih bukan pada media sosial yang jelas menyita waktu produktif kita di dunia nyata.

Terkait isi dari pesan DTL pada status itu, biarlah itu menjadi rahasia dunia nirwana yang menjadi tanggung jawab orang-orang yang dianggap sebagai pemimpin di antara kaum-mu. Tugas kita adalah, berbaik sangka. Berbaik sangka, adalah upaya dari ciri-ciri hati yang lapang untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Jika kalian adalah simpatisan partai tersebut, tentu hal yang mungkin diterima selama ini adalah citra yang tampak dari luar, yakni kesamaan ideologi/platform dari sebuah partai tertentu. Atau bahkan sosok figuritas yang ada pada organisasi tersebut.

Perlu diingat, alangkah baiknya jika kita melakukan sesuatu kebaikan tidak karena sosok seseroang/figuritas. Karena, jika sudah terbentur dengan figuritas seseroang akan membela mati-matian figur itu dengan cara apa pun. Ketika figur itu tidak sesempurna apa yang digambarkan selama ini, maka dirinyalah yang akan mati tenggelam dengan kebutaan dari figuritas.

Dunia politik tentu sarat dengan lawan politik. Maka ada yang suka, tentu ada juga yang tidak suka. Sangat sulit mengendalikan pandangan orang melalui sosial media. Terlebih, bagi mereka yang tidak menyukai. Kita pun demikian. Bisa sangat kemungkinan, diri kita adalah bagian yang mengambil andil dalam peran pro dan haters. Tergantung kondisinya, sesuai selera. Kali ini mungkin PKS yang disentil, para pembenci  kian bersorak dan mencemooh. Hati-hati, jangan-jangan kita pun demikian. Dengar kabar buruk dari partai lain, sorak sorai dan kata-kata mencibir tertulis tajam di jejaring sosial media dari tangan kita.

Idealnya memang, sudah selayaknya pasal kebebasan menyampaikan pendapat yang baik, benar, dan tidak menyinggung SARA itu juga diterapkan dalam kehidupan dunia sosial media. Torang tidak lucu bukan, masalah dunia maya dibawa-bawa di dunia nyata?!

Kejadian ini pun, bukan kali pertama yang terjadi melanda sebuah partai politik. Di negara maju, justru sosial media dijadikan alat untuk membongkar kasus yang dinilai kontroversial. Sebut saja, Wikileaks.

lagi-lagi 2014 panas. Semoga, hati mu tidak panas ya..

Salam damai.,!!

Adiooss..

Iklan